Ponselku berdering nyaring di meja nakasku, langsung membangunkan tidurku. Aku melepas lenganku dari sekeliling punggung Chanyeol dan meraih ponselku. Aku melirik layar dan jantungku langsung merosot.
"Boah?"
"Hei Baekhyun," dia terdengar tegang dan aku langsung waspada.
"Ada apa?" Mendengar nadaku dan tubuhku tiba-tiba menegang, Chanyeol mengangkat kepalanya. Alisnya berkerut dan dia melihatku dengan penuh perhatian. Semua jejak tidur telah hilang dari wajahnya.
"Aku sudah lama ingin menghubungimu," keluhnya. "Aku hanya tidak tahu bagaimana."
"Apa yang terjadi?" Aku menahan napas.
"Aku bertemu dengan makelar hipotek orang tuamu,"
Aku mengangguk pada diriku sendiri. Cukup masuk akal kalau Boah memiliki kontak dengan makelar itu. Aku menandatangani namanya untuk semua masalah peninggalan orang tuaku karena aku tinggal terlalu jauh untuk berurusan dengan semua itu. Dia telah membantuku menangani semuanya.
"Tidak ada uang yang tersisa untuk menutupi hipotek dan jika rumah tidak laku dalam waktu tiga bulan, bank terpaksa akan menyitanya."
Tenggorokanku terasa sesak karena emosi. "Mereka tidak bisa," kataku serak. "Mereka tidak bisa melakukan itu."
Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Melakukan apa?" Bisiknya. "Apa yang terjadi?"
Aku mendorong dadanya, tetapi ia menolak pindah dan aku menjatuhkan diri di atas bantalku, merasa putus asa dan terpukul saat Boah berbicara.
"Maafkan aku, Baekhyun. Sebenarnya aku tidak ingin memberitahumu. Aku tahu kau sudah begitu tertekan."
"Tidak apa-apa." Suaraku bergetar. "Aku akan mencari jalan. Terima kasih banyak kau telah menangani itu dan melakukan semua yang kau bisa. Aku sangat menghargainya."
"Kau tahu aku akan selalu membantumu, baby girl." Suaranya begitu lembut dan itulah gelombang yang memecahkan bendungan.
Air mata bergulir jatuh di wajahku dan Chanyeol tampak ngeri. Tangannya menyelinap di bawah punggungku dan aku tahu dia melakukan semua yang dia bisa untuk menunggu sampai aku menutup telepon. Aku bisa mendengar suara otot di rahangnya karena ia kesulitan menahan diri.
"Aku akan bicara lagi nanti." Aku menutup telepon dan mendorong dada Chanyeol lagi, tapi dia memelukku erat-erat.
Penolakannya untuk melepaskan aku, akhirnya mengirimku ke ketepian dan aku jatuh ke dalam semburan air mata. Dia membenamkan wajahku di dadanya dan mencium puncak kepalaku saat dia memelukku.
"Ceritakan apa yang terjadi."
"Bank akan menyita rumah orang tuaku dalam tiga bulan. Uang orang tuaku untuk membayar hipotek telah habis." Aku menghirup napas dalam-dalam. "Aku harus mencari tempat tinggal. Aku tidak bisa membiarkan mereka menyita rumah. Hanya itu peninggalan orang tuaku yang aku miliki. Aku tidak bisa,"
"Dimana kau akan tinggal?"
"Aku tidak tahu. Aku akan mencari satu kamar sewa." Pikiranku bergerak tak karuan. "Aku tidak mampu membayar tempat ini dan hipotek rumah. Tidak mungkin."
Dia mengangguk dengan tenang. "Aku punya ide."
"Apa?" Aku bertanya. "Aku tidak bisa menambah shift lagi. Aku akan gagal sekolah."
"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil shift lagi." Dia menggelengkan kepalanya. "Tapi kau bisa pindah denganku."
"Apa?" Aku mengerutkan kening sebelum menggelengkan kepalaku. "Tidak, aku tidak bisa pindah ke tempatmu."
Dia duduk ketika aku mendorong dadanya, akhirnya dia mengalah. "Kenapa tidak?"
"Karena," Aku berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir dengan mengenakan pakaian dalamku. "Ini akan merusak persahabatan kita."
"Tidak, tidak akan."
Dia melipat tangan bertato di dadanya dan aku melihat untuk pertama kalinya, lekuk-lekuk warna gelap di lengannya membentang ke atas bahunya yang berotot tebal dan turun ke punggungnya. Aku belum pernah melihat dia tanpa kemeja dan tiba-tiba aku punya keinginan untuk menelusuri dengan ujung jariku di sepanjang karya seninya itu.
Melihat ekspresi tajam Chanyeol saat menatapku, aku membuyarkan lamunanku untuk fokus pada percakapan yang ada.
"Kita tidak bisa tinggal, bekerja dan nongkrong bersama. Kita akan bosan satu sama lain."
"Tidak, kita tidak akan bosan." Dia berargumen dengan penuh tekad. "Kemasi barang-barangmu. Kau akan pindah hari ini."
"Tidak!" Aku berteriak, berharap bisa menanamkan tekadku ke tengkorak kepalanya.
Chanyeol berdiri, memegang bahuku dengan tangannya. "Ini adalah satu-satunya cara, Baekhyun." Dia mengguncangkan tubuhku. "Kau butuh bantuan dan aku menawarkan tempat yang murah dan aman. Ambil saja."
Aku menggigit bibir bawahku dengan marah. Tekadku melemah. "Berapa sewanya?"
"Dua ratus."
"Rata-rata sewa kamar lima ratus." Aku merengut.
"Kamar ini kecil."
"Empat." Debatku.
Dia memutar matanya. "Tiga."
"Tiga ratus lima puluh."
"Tiga ratus. Ambil atau tidak jadi, Angel." Matanya keras dan aku tahu aku tidak akan memenangkan perdebatan ini.
"Bukankah saudaramu tinggal denganmu?"
"Ya." Dia mengangguk dengan pasti.
"Bukankah seharusnya kau menanyakan padanya terlebih dahulu?"
Dia mengangkat bahu. "Mengapa? Itu rumahku."
"Kau memilikinya?" Mulutku menganga.
"Yeah," dia mengangguk. "Kris sewa padaku."
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu." Dia mengusap rambutnya. "Karena aku mengelola uangku lebih baik daripada dia."
Aku menatap jari kakiku yang bercat merah muda. "Aku tidak tahu."
"Aku tidak memberikanmu satu pilihan, Angel." Dia mengangkat bahu. "Kau pindah hari ini. Lagipula kamar itu kosong."
Aku menatapnya. "Janji ini tidak akan mengubah apa-apa?"
"Apa ada yang bisa dirubah?" Dia memiringkan kepalanya dan aku mengangkat bahu.
"Oke,"
Dia mencium keningku. "Gadis baik. Hubungi Luhan dan mintai tolong untuk membantumu mengemasi barang-barangmu. Apa kau perlu melunasi sewamu?"
"Aku tidak punya tunggakan sewa. Aku hanya harus membayar satu bulan untuk pemberitahuan pindah apartemen."
"Aku akan membayar sewa bulan lalumu. Hubungi pemiliknya dan beri tahu dia." Chanyeol berbicara dengan penuh otoritas dan aku meringis.
"Aku bisa membayar sewaku sendiri bulan lalu."
Matanya yang keras menatap padaku. "Tidak jika kau berencana untuk membayar hipotek."
Aku mendesah dengan suara gemetar. "Aku akan membayarmu kembali." Aku berjanji dan sungguh-sungguh dengan perkataanku.
Dia mengangkat bahu. "Telepon Luhan."
.
.
.
Luhan menempatkan satu tangannya ke pinggul, yang satunya menenggak air dengan membalikan botolnya. Berkemas biasanya berat. Mengemas semua yang aku miliki dalam hitungan jam sangat melelahkan. Dengan kalori yang keluar saat kami berkemas, tidak perlu lagi mengunjungi gym hari ini—atau bahkan besok.
"Apakah kau yakin tentang hal ini, Baekhyun?" Tanya Luhan untuk kesekian kalinya. "Maksudku, apa kau benar-benar sudah memikirkannya?"
"Tidak." Aku menggelengkan kepalaku, sambil mendorong lebih dalam beberapa pakaianku ke kantong sampah. "Aku tidak tahu apa yang kulakukan."
"Kau tidak perlu melakukan ini." Dia menetapkan kedua tangannya di pinggul. "Kau bisa menemukan tempat lain."
"Dimana?" Aku menjatuhkan tanganku dan menghela napas karena merasa seperti sudah kalah. "Aku tidak akan menemukan kamar yang murah." Aku menggelengkan kepalaku. "Dan aku mempercayai Chanyeol. Aku lebih suka pindah dengan dia daripada seseorang yang tidak aku kenal."
"Apa kau masih berpikir dia hanya ingin bersahabat dengan kau?" Dia bertanya dengan tegas. Matanya tampak begitu menginterogasi sehingga tatapannya bisa membakar sampai melubangi kepalaku.
"Well, karena ia menginap dan tidur di tempat tidurku tadi malam dan tidak mencoba sesuatu," Aku menggigit bibirku. "Aku cukup yakin dia serius tentang menjaga hal itu tetap jelas di antara kami."
Mata Luhan melotot. "Kau tidur dengan Park Chanyeol?"
Aku memutar mataku. "Dan semua yang kami lakukan hanyalah tidur. Ia tidak mencoba melakukan apapun."
"Bagaimana bisa?" Dia tampak lebih bingung dengan pemberitahuan ini daripada dia melihat dari sisi masalah fisik. Jelas itu menghina. "Kau seksi! Apakah dia tidak melihat itu?"
Aku berdehem. "Aku tidak berpikir Chanyeol melihatku seperti itu."
"Apa kau menginginkan dia?" Dia bertanya dengan tulus. Di matanya, kurasa aku bisa melihat sekilas rasa kasihan dan hal itu membuatku marah.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang kuinginkan." Aku mengakui meskipun kemarahanku muncul. "Chanyeol membuatku bingung."
"Kurasa dia akan mematahkan hatimu." Katanya dengan sedih. "Ada begitu banyak hal tentang dia yang belum kau tahu."
"Rupanya kau tahu," kataku sambil melemparkan baju lain ke dalam kantung. "Jadi kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"
"Ini bukan tempatku untuk memberitahumu."
"Benar." Aku mendesah, sambil mengikat kantung. Aku mengisinya sampai penuh. "Kalau begitu tidak usah diteruskan. Aku akan pindah ke tempatnya. Kami hanya berteman dan semuanya akan baik-baik saja."
"Jika kau mengatakan begitu."
"Berhentilah bersikap seolah kau menyembunyikan sesuatu." Aku merengut. "Ini membuatku resah."
"Kau pikir aku menyembunyikan sesuatu?" Dia menjerit, menusukkan ibu jarinya ke dadanya. "Apa kau tidak melihat pria itu ketika kau memutuskan pindah ke rumahnya?"
"Pria yang menyewakan sebuah kamarnya untukku." Aku mengoreksinya. "Setidaknya dia langsung menawarkan padaku."
"Dan aku tidak?" Dia tampak tersinggung dan aku berharap aku bisa menarik kembali kata-kata itu.
Aku menarik kuncir rambutku sebelum membentuk cepol asal-asalan lagi.
"Dengar Luhan," Aku mendesah. "Aku tidak ingin bertengkar denganmu tentang Chanyeol. Apa yang kami miliki itu membuatku bahagia. Ia membuatku merasa aman dan sekarang dia menawarkan semua yang aku butuhkan untuk menjaga kepalaku agar tetap berada di atas air (bertahan hidup)." Aku merasa tenggorokanku menyempit dan suaraku bertambah kasar karena emosi. "Aku sedang berusaha keras disini dan dia mencoba mengambil begitu banyak beban berat di pundakku. Apakah kau tidak melihat itu?"
Dia menarik kantug hitam lain dari kotak.
"Aku mengerti apa yang kau katakan, Baekhyun." Dia duduk di sampingku di lantai tempat aku sedang melemparkan setiap artikel baju yang kumiliki menjadi tumpukan segunung. "Tapi sepertinya kau tidak mendengarkan apa yang kukatakan."
"Tidak," kataku meyakinkan. "Aku mendengarkan apa yang kau katakan. Kau berpikir Chanyeol buruk bagiku. Kau berpikir,"
Dia memotong pembicaraanku. "Aku berpikir kau sedang jatuh cinta padanya."
Aku langsung menutup mulutku. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Hanya tadi malam aku memberitahu Chanyeol kalau aku mencintainya. Tapi maksudku tidak seperti cara yang diyakini Luhan terhadap diriku—atau aku memang begitu? Apakah aku jatuh cinta dengan Chanyeol? Tidak, aku tidak boleh. Dia bertindak seperti kakak bagiku lebih dari saudara kandung yang ingin kumiliki. Dia tidak menginginkan aku. Jika dia iya, pasti dia akan mengungkapkan perasaannya kepadaku. Dia tidak akan bersembunyi di balik persahabatan ini—tetapi apakah itu yang kulakukan? Apakah aku yang menyembunyikan cintaku untuk dirinya di balik persahabatan yang samar-samar ini?
Sekali lagi, aku tidak melihatnya seperti itu. Aku jelas mengatakan kepadanya bahwa aku mencintainya. Aku mengatakan kepadanya apa arti dia bagiku semalam ketika ia tampak begitu putus asa menunjukkan kasih sayang itu, aku merasa perlu untuk melawannya. Hanya dalam beberapa minggu, Chanyeol telah menjadi seseorang yang sangat berarti bagiku. Dia adalah teman terbaikku. Dia adalah orang kepercayaanku dan sekarang dia adalah penyelamatku. Dia tidak bisa menjadi kekasihku juga. Ini tidak akan berhasil. Itu akan menjadi sebuah hubungan yang pasti berakhir menjadi bencana. Kami akan menjalin hubungan yang pasti berakhir menjadi bencana. Hubungan kami pun tidak akan berhasil.
Suara Luhan membanjiri pikiranku. "Kau tahu kau terlihat seperti seseorang yang sudah menyadari kalau dia sudah jatuh cinta dengan sahabatnya."
Aku menatap setajam baja padanya. "Tidak. Dan aku tidak ingin membicarakan hal ini lagi." Aku mengusap mataku dan bersyukur aku tidak memakai make up. "Aku ingin kau mendukungku, Luhan."
"Aku mendukungmu. Aku hanya ingin kau jujur dengan dirimu sendiri."
"Ya." Aku mengangguk dengan tegas. "Aku tahu apa yang kurasakan pada Chanyeol dan itu bukan apa yang kau pikirkan. Tapi yang paling penting, aku tahu apa yang dia rasakan untukku. Dan aku tahu pasti bahwa itu tidak lebih dari persahabatan. Percayalah Luhan," Aku duduk kembali di atas tumitku, menatap langsung ke matanya. "Aku sudah siap memberikan keperawananku kepadanya tadi malam tapi ia tidak mengambilnya."
"Kau apa?" Matanya begitu besar, seketika aku takut matanya akan keluar dari kepalanya. "Kau akan memberikan keperawananmu pada Park Chanyeol?"
Aku memutar mataku. "Ia memelukku sepanjang malam dan tangannya tidak pernah berpindah dari tempat yang seharusnya."
Dia mengangguk, tampak tidak yakin. "Apakah kau menginginkan dia untuk melakukan sesuatu?"
"Sekali lagi, aku tidak tahu." Aku jelas stres dan dia seakan menusuk satu-satu setiap luka yang terbuka. "Aku hanya ingin sebuah hubungan. Ketika saat itu datang, aku tidak ingin hal itu hanya menjadi momen hasrat yang akan aku sesali."
"Apakah Chanyeol tahu?" Aku tahu dia bertanya apakah dia tahu betapa polosnya aku.
Aku menggeleng saat Chanyeol masuk ke apartemen.
"Apa maksudnya Chanyeol tahu?" Dia bertanya.
Aku melompat mendengar suaranya dan aku tahu wajahku pucat. "Bukan apa-apa."
Dia mengerutkan kening dan mata lelahnya berpindah-pindah antara aku dan Luhan. Aku mengkerut di bawah tatapannya tapi Luhan bertindak seperti dia tidak merasakan itu sama sekali. Entah dia kebal terhadap mata cokelatnya yang tajam, atau dia adalah aktris sialan yang pandai berakting. Aku iri padanya dalam kedua hal itu.
.
.
.
"Apa kalian butuh bantuan atau apa?" Tanya Sehun, sambil menyeka keringat dari dahinya meskipun faktanya saat ini sedang turun salju. Melihat serpihan putih berputar-putar di luar jendela, aku bisa mengatakan di luar tampaknya seperti terjadi badai salju.
"Kami memiliki banyak kantong pakaian yang dapat kau ambil. Dan tempat tidur sebaiknya di angkat." Luhan melihat ke arah Chanyeol. "Apa kau punya tempat agar dia bisa menyimpan piring dan semua barang-barangnya yang masih bagus? Dia seharusnya tidak membuangnya. Dia mungkin tidak akan tinggal lama denganmu, jadi dia akan segera membutuhkan barang-barangnya."
Suaranya tenang dan terkendali, tapi aku bisa melihat kemarahan di matanya. "Mengapa dia tidak akan tinggal lama?"
"Well, dia akan menemukan tempat tinggalnya sendiri secepat dia bisa." Luhan menggelengkan kepalanya seakan Chanyeol orang yang bodoh dan aku ingin menemukan tempat tidur dan bersembunyi di bawah selimut. Hari ini sudah menjadi hari yang buruk dan semakin diperparah dengan keadaan ini lagi.
"Dia akan tinggal denganku selama yang ia butuhkan. Dia tidak akan ditekan untuk mencari tempat tinggal lagi dan setidaknya dia harus tinggal sampai kuliahnya selesai. Tidak ada gunanya mencari apartemen lain dan akan menambah stres-nya pada saat ini."
"Orangtuanya,"
"Cukup!" Geram Chanyeol. Telapak tangannya mengepal dan lengannya terlipat di dadanya. Dengan jaket kulit hitam dan sepatu botnya yang berat, ia tampak seksi. "Dia pindah ke tempatku sekarang dan hanya itu yang paling penting."
"Luhan," Sehun memperingatkan ketika Luhan membuka mulutnya untuk melanjutkan kata-katanya.
Dengan memutar matanya, Luhan bergumam. "Aku hanya ingin tahu dia punya tempat untuk menyimpan barang-barang ekstra-nya."
"Dia memiliki semua yang dia butuhkan di rumahku."
"Tepat," kata Luhan dengan tajam. "Itu rumahmu."
"Dan setelah hari ini akan menjadi miliknya juga." Kata Chanyeol dengan pelan-pelan dan datar. Kata-katanya terdengar tajam cukup untuk memotong kayu yang paling tebal.
Aku menatap Luhan. "Aku menghargai kekhawatiranmu yang sangat jelas itu, tapi aku sendiri yang membuat semua keputusan ini dan aku berpegang teguh pada hal itu."
Saat aku mengatakan kata-kata itu, aku merasa mata cokelat Chanyeol tertuju padaku. Aku tahu dia tanpa ragu mengingat permintaannya yang meyakinkan aku bahwa aku harus pindah ke rumahnya untuk meringankan keuanganku yang membuat aku stres tadi pagi. Chanyeol praktis menginformasikan bahwa aku akan pindah ke rumahnya, daripada membiarkan aku membuat keputusan sendirian, tapi aku tidak keberatan. Jadi aku tidak harus jujur menjawabnya, siapa peduli?
"Baiklah," Luhan mengangkat tangannya menerima kekalahannya. "Jika kau merasa nyaman dengan hal ini maka aku akan mendukungmu. Tapi kami masih melakukan acara menginap dan semua hal yang menyenangkan."
Aku tertawa dan Chanyeol mendesah. Aku melihat Chanyeol memberikan pandangan tidak percaya pada Sehun dan aku tahu dia bertanya-tanya bagaimana Sehun bisa tahan dengan Luhan. Yang membuatku tertawa lebih keras dan aku mengangguk.
"Kita pasti akan melakukan girl nights kita."
"Sebaiknya ketika aku sedang bekerja." Chanyeol bergumam.
Luhan membentaknya dengan tampilan memperingatkan. "Pekerjaan apa?"
Chanyeol tampak tegang dan aku mengerutkan kening saat Sehun stres sambil mengacak-acak rambutnya.
"Luhan, berhentilah mengusik pria itu."
Dengan matanya yang dingin Chanyeol menatap Luhan dan untuk pertama kalinya sejak bertemu Chanyeol, aku takut padanya. Aku ingin bersembunyi dari kemarahan yang membakar matanya. Aku tidak tahu bagaimana Luhan mempertahankan punggungnya tetap tegak dan juga kontak matanya.
Akhirnya, Chanyeol berbicara. "Apa kau benar-benar ingin membahas hal itu?"
Bibir bawah Luhan berkedut. "Aku akan memberimu lebih banyak waktu, Chanyeol. Tapi lebih baik kau segera mengungkapkan semuanya."
"Atau apa?" Alisnya terangkat dan Chanyeol melangkah dengan mantap kearahnya. Aku melihat Luhan langsung menggerakkan kakinya dan Sehun melangkah di antara mereka.
"Tunggu dulu, bung," matanya liar dan aku merasa getaran menjalar di sepanjang tulang belakangku.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Aku berteriak. Tanganku gemetar di pangkuanku dimana aku sedang duduk di atas lantai di depan tumpukan pakaian. Aku tidak bisa berdiri. "Apa yang kalian bicarakan?"
Luhan dan Chanyeol akhirnya saling membuang muka dan keringat Sehun jelas begitu banyak. Ketakutannya sangat jelas dan mungkin itu sebabnya aku merasakan ketakutanku sendiri melonjak.
Bahu Luhan tekulai. "Kau tahu aku menyayanginya seperti seorang saudara,"
"Bisakah aku berbicara denganmu secara pribadi?" Chanyeol menggeram saat mengajukan pertanyaannya dan Luhan mengangguk, harga dirinya jelas tidak mau telihat ketakutan.
"Tentu." Dia mengambil langkah menuju lorong dan aku langsung bergegas berdiri.
"Apa yang kalian bicarakan? Jika seseorang tidak membiarkan aku mengetahui hal ini, aku tidak akan kemana-mana." Aku berteriak pada Chanyeol saat ia berjalan menuju pintu, dan mengabaikan aku. "Aku tidak akan pindah ke tempatmu kecuali kau menjelaskan kekacauan ini padaku!"
Chanyeol membeku. Dia menoleh sambil menatapku dingin dan ketika dia berbicara, nadanya rendah. "Aku tidak ingin membahas hal ini, Angel." Dia mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. "Kau tidak bisa mundur sekarang. Sekarang sudah terlambat."
Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak sekarang belum begitu terlambat."
Dia berbalik ke arahku. "Ada hal-hal yang kau tidak perlu tahu. Dimana aku lebih suka kau tidak mengetahuinya—untuk melindungimu. Kemaslah sisa barang-barangmu." Dia memandang sekeliling ruangan kecil ini. "Kami hanya memiliki satu masalah lain yang perlu kami selesaikan dan kau sudah resmi pindah denganku."
"Aku tidak suka ada rahasia, Chanyeol." Suaraku rendah dan gemetar.
"Aku tahu," dia menarik kerah kemejanya di balik jaketnya, menekankan kainnya. "Suatu hari kau akan tahu semuanya." Matanya berkedip-kedip ke Sehun. "Itu akan menjadi hari dimana aku harus berjuang lebih keras daripada yang pernah kulakukan sebelumnya."
"Apa maksudnya?" Aku bertanya dengan gigi terkatup. Jantungku meronta-ronta di dadaku dan kejengkelanku dalam keadaan siaga tinggi.
"Kau tahu pada hari itu aku akan kehilangan dirimu." Suara Chanyeol terdengar sedih dan muram.
Aku tidak suka mendengar dia berbicara seperti itu. Jika dia berpikir dia akan kehilangan aku, maka dia tidak mengenal siapa aku. Bukankah ia sudah mendengarnya tadi malam—ketika aku mengatakan kepadanya bahwa aku mencintainya?
Aku menggelengkan kepalaku, mempertahankan kontak mataku. "Apakah kau tidak pernah mendengar bahwa kebenaran akan membuatmu bebas?" Aku bertanya dengan tulus. "Aku tidak akan meninggalkanmu jika kau mengatakan kebenaran itu."
"Kita lihat saja nanti." Dengan kata-katanya yang samar-samar, ia melangkah ke lorong dimana Luhan sudah menunggunya. Pintu tertutup di belakangnya dan aku menatap kearah Sehun yang berdiri dengan canggung di depan lemari es.
Pandanganku tertuju pada dirinya. "Berapa lama kita saling mengenal?"
"Belum cukup lama bagiku untuk memberitahumu apa yang ingin kau ketahui." Dia menggelengkan kepalanya dan aku tahu bibirnya tertutup rapat.
"Apakah memang seburuk itu yang mereka perdebatkan?" Aku meremas-remas tanganku.
Sehun berpikir sejenak, sambil menggigit bagian dalam pipinya. "Tidak, aku benar-benar tidak berpikir yang mereka perdebatkan seburuk itu. Luhan overprotektif terhadapmu. Dia selalu saja seperti itu dan Chanyeol hanya," Dia mengangkat bahu. "Well, kurasa dia merasa malu."
"Kenapa dia malu?"
"Karena kau orang yang lebih baik dari dia dan dia tahu itu." Dia menjawab dengan jujur.
"Aku tidak lebih baik dari dia." Aku mengerutkan kening. "Hal ini tidak benar atau adil karena seperti menghakimi."
Sehun menunjuk jarinya, kearahku. "Sudah terbukti. Kau orang yang baik, Baekhyun."
"Begitu juga Chanyeol."
"Dia tidak pantas untukmu." Dia menyatakan soal fakta. "Bahkan aku tahu itu."
"Pantasnya aku dengan siapa?"
"Kau pantasnya menikah dengan seorang dokter. Seorang warga patuh akan hukum yang menghabiskan akhir pekan mereka menjadi sukarelawan di tempat penampungan hewan dan semacam itu." Dia terkekeh, mungkin saat melihat penampilan wajahku yang kacau. "Bukan pemilik klub bertato yang menguasai malam."
"Kau konyol. Kalian sangat konyol."
Aku mendorong masuk sisa pakaianku ke dalam kantong tanpa melipatnya. Bagaimanapun tidak ada gunanya. Karena nantinya aku hanya akan menggantungnya saja.
"Hei," Sehun berjalan beberapa langkah kearahku. "Jangan marah, Baek."
"Aku tidak marah." Aku mengusap dahiku. "Aku lelah. Aku ingin pergi ke suatu tempat yang kupikir seperti lantainya tidak akan runtuh dan keluar dari bawah untuk sekali ini. Aku hanya ingin tidur dan memiliki malam tanpa mimpi. Aku ingin bangun tanpa mengkhawatirkan masalah uang, rumah, tempat dimana aku akan tinggal dalam seminggu. Aku hanya ingin ketenangan." Ketika aku selesai meluapkan isi hatiku, wajahku memerah dan aku menundukkan kepalaku ke tanganku. "Maafkan aku."
"Hei," Sehun mengusap punggungku. "Jangan begitu. Itulah gunanya teman."
"Terima kasih." Aku menatapnya. "Maukah kau membantu agar Luhan tidak begitu mengkhawatirkan aku?"
Dia meringis "Aku tidak berpikir siapapun bisa melakukannya."
Aku mengerang. "Dia terlalu berlebihan."
"Dia mencintaimu."
"Aku tahu." Aku mengangguk. "Aku mencintai kegilaannya juga."
Pintu terbuka dan Luhan masuk, tampak marah saat Chanyeol mengikutinya. Tidak diragukan lagi mereka bertengkar tentang Chanyeol yang belum siap memberitahuku mengenai apapun itu, tapi aku tidak peduli. Aku tidak ingin tahu. Ketika ia sudah siap dia akan memberitahuku, sampai tiba saatnya, itu bukan urusanku.
"Apa kalian sudah siap?" Aku bertanya sambil mengambil napas dengan suka cita. Aku merasa kelelahan.
Luhan menatapku seolah-olah kepalaku tumbuh bercabang sebelum melirik Sehun yang sedang menyeringai sambil mengangkat bahu. "Aku siap jika kau siap, girl."
"Oke." Aku menjatuhkan tangan di pinggulku. "Aku sudah mengemas semuanya."
Chanyeol menghela napas lega saat matanya tertuju pada sisa barang-barangku yang berserakan di lantai. Dia berjalan melintasi ruangan, menyenggol punggung Sehun saat ia melangkah.
"Mari kita angkat tempat tidurnya."
"Yap," Sehun setuju.
Aku menonton anak laki-laki memindahkan tempat tidur dari ruang kecil yang aku sebut rumahku tapi jauh dari arti rumah yang sebenarnya. Sekarang aku tidak memiliki rumah lagi. Aku akan pindah ke tempat baru dan aku hanya bisa berdoa semoga tempat itu rasanya seperti rumah bagiku. Aku membutuhkan rumah lebih daripada aku memerlukan udara untuk bernapas.
"Well, mari kita memulai suatu kegiatan yang telah direncanakan." Luhan tersenyum tapi aku mengenal dia cukup baik untuk mengetahui hal itu tidak benar.
"Jangan pura-pura denganku, Luhan." Aku menariknya ke dalam pelukanku. "Aku tahu kau berusaha melindungiku dari apa yang kau pikirkan tentang Chanyeol, tapi aku tahu siapa dia."
"Kau tidak mengenalnya." Dia menggelengkan kepalanya, tapi dia memelukku erat-erat.
"Aku tahu." Aku berpendapat. "Aku tahu siapa Chanyeol ketika dia denganku dan itulah yang terpenting."
"Benarkah?"
"Ya. Aku tidak ingin tahu rahasianya sampai dia memutuskan untuk memberitahuku. Aku tahu hubungan kami sangat rumit," aku tertawa sambil menarik napas. "Hampir terlalu banyak bagiku untuk memahami hal ini, tapi aku mencintainya. Aku mencintainya sebagai sahabat. Aku tidak tahu semuanya tentang dia, tapi aku tahu semua yang perlu aku tahu bahwa dia seorang pria mengagumkan yang mampu membuat hal-hal luar biasa. Dia tidak sempurna, tapi itulah karakternya."
Dia tersenyum kagum. "Aku tidak pernah membayangkan kau sebagai seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang bad boy."
"Aku tidak jatuh cinta padanya. Dia temanku."
"Kau benar-benar harus membuka matamu, Baekhyun." Dia berbicara dengan lembut. "Tapi aku tidak bisa memaksamu untuk melihat sesuatu yang belum kau terima sebagai hal yang nyata. Jadi, aku akan menunggu karena aku tahu itu hanya masalah waktu saja."
Aku tertawa. "Terserah apa katamu."
"Kita harus membawa tas ini ke bawah atau mereka akan menuduh kita terlalu feminin untuk membantu mengangkat tas itu ke bawah."
Aku pura-pura terkejut. "Kita tidak menginginkan hal itu, kan?"
"Tentu saja tidak." Dia tertawa, dia kembali menjadi Luhan yang kucintai. "Kita perempuan independen! Kita tidak butuh laki-laki, kita seperti mereka jadi kita membiarkan mereka untuk mengikuti."
"Benarkah?" Sehun bertanya dan Luhan melompat, menutup mulutnya dengan tangannya. Matanya berkedip.
"Kau tahu aku mencintaimu, sayang." Luhan melompat ke arahnya dan Sehun merentangkan tangannya—selalu siap menangkapnya.
Aku mendesah, senyum kecil di wajahku ketika aku melihat mereka. Aku membiarkan mataku berkedip ke arah pintu dimana aku tahu Chanyeol berdiri. Jantungku melompat saat melihat raut wajahnya.
Dia menatapku dengan mata yang intens dan rahangnya terkunci sambil berpikir. Bahunya bersandar ke kusen pintu dan tangannya di masukkan ke kantong celana jinsnya. Jaketnya tidak di kancingkan, memperlihatkan bagian depan kaus hitamnya. Cukup untuk melihat bagian depannya yang memberiku pemandangan nyata dari gesper perak sabuk yang dia kenakan.
"Kau siap, Angel?" Dia bertanya, mengganggu inspeksiku tentang dia.
Aku mengangguk, dengan wajah memerah. "Selalu."
.
.
.
Secara mengejutkan rumah Chanyeol bersih. Tidak besar, tapi bukan berarti kecil. Dua lantai dan masih baru. Aku tidak tahu bagaimana ia bisa membeli ini dan kuliah, tapi aku tidak mau menanyakannya. Jelas ia menghasilkan uang lebih banyak saat mengelola club daripada yang aku pikir. Bagian depan pintu membawa kami memasuki sebuah mudroom kecil hingga sepanjang lorong. Di ujung lorong adalah ruang tamu.
"Bagaimana menurutmu?" Chanyeol bertanya dari sampingku saat Luhan dan Sehun berjalan tertatih-tatih menaiki jalan setapak di belakang kami.
"Sejauh ini bagus." Aku mengangguk. "Bisa menunjukkan sekelilingnya?"
"Dengan senang hati." Matanya gelap dan aku bergidik.
Kami berada di wilayahnya sekarang. Begitu pikiran itu melintas di benakku, aku membuangnya dari kepalaku. Aku tidak boleh terus berpikir seperti itu. Ini adalah tempat yang aku setujui untuk tinggal. Bukan wilayah siapapun. Ini adalah daerah netral. Pastinya atau tidak akan berhasil.
Chanyeol mengarahkan aku dari pintu dengan tangannya di bawah punggungku. Bagian rumahnya terlihat setelah kami melewati lorong. Lantainya dari kayu warna terang dan mebelnya semuanya dari kulit warna hitam.
Rumahnya berkonsep terbuka dan dapurnya besar. Mejanya terbuat dari kuarsa yang berkilauan dan area makan sangat besar dan tampak mengundang. Hampir tidak kuduga rumah Chanyeol terlihat seperti ini. Aku pikir itu lebih dari tempat keren seorang bujangan, tapi ini adalah rumah keluarga harmonis.
"Wow," aku menarik napas.
"Kurasa kau menyukainya?" Tanya Chanyeol dengan suara serak. Dia menatapku dengan mengamati mataku. Dia melihat setiap perubahan emosi di wajahku.
"Ini indah." Aku mengamati dapur lagi dan melihat lemari yang membentang sampai ke atap. Tidak ada ruang kosong.
"Ini bukan seperti yang kau harapkan, kan?" Dia memiringkan kepalanya ke samping, jelas tertarik dengan jawabanku.
Aku menggelengkan kepalaku. "Sama sekali tidak."
"Apa yang kau harapkan?"
"Well, sesuatu yang gelap dan berantakan."
Dia tertawa. "Aku bukan seorang pria yang suka berantakan."
Aku tersenyum ke arahnya. "Kesalahpahaman yang umum dari spesies laki-laki. Karena alasan yang tepat."
"Sok pintar." Dia menampilkan senyum sialannya saat Luhan dan Sehun melangkah di samping kami.
"Astaga!" Luhan menarik napas, saat melihat pemandangan di dalam rumah. "Kau benar-benar tahu bagaimana cara mengejutkan seorang gadis, Chanyeol."
Aku tertawa. "Lihat , aku bukan satu-satunya yang terkejut."
Dia menggelengkan kepalanya, lalu mengangkat kantong pakaianku." Aku akan menunjukkan kamarmu."
Aku mengangguk, mengikutinya menaiki tangga. Karpetnya tampak mewah. Warnanya coklat tua sekali dan kakiku tenggelam ke dalam karpet di setiap langkahku. Tangga terpisah menjadi dua arah, yang satu ke ruang keluarga lain dengan televisi dan permainan game dan yang lainnya masuk ke dalam apa yang tampaknya menjadi area untuk kamar tidur.
"Berapa banyak kamar tidur di rumah ini?" Luhan bertanya dari belakangku.
"Lima." Chanyeol menjawab dengan singkat. Bahunya menegang. "Tiga di atas sini dan dua di lantai dasar."
"Di mana kamar Kris?" Aku bertanya.
"Di lantai dasar." Chanyeol menjawab secara faktual. "Aku biasanya tidak mengijinkan siapapun berada di atas sini."
"Oh," rasa ketidaknyamananku langsung melonjak. "Aku suka tidur di lantai bawah. Aku tidak akan keberatan jika kau ingin menempatkan aku disana."
Chanyeol berbalik di puncak tangga dan aku berhenti seketika. Matanya cerah dan nada suaranya bersikeras. Dia tampak agak kesal. "Kau tidak akan berada di lantai bawah dengan Kris."
"Oke," Aku mengangguk dan ia berbalik, berjalan dengan kasar melintasi ruang kecil sampai ke kamar tidur di samping kamar mandi.
"Yang ini kamarmu." Dia menunjuk ke kamar tidur berukuran layak. Tidak kecil tapi tidak besar juga." Kamar mandi disini adalah milikmu. Kau bisa menempatkan apapun yang kau inginkan di dalam situ. Aku sudah punya sendiri di kamar tidurku, jadi aku benar-benar tidak peduli barang-barang feminin yang kau masukkan di dalam sana. Kamar tidur lainnya adalah kantorku. Kau bisa menggunakannya untuk menyimpan apapun yang kau inginkan."
Aku menggeser kakiku dengan canggung. Nadanya dalam sekejap telah berubah dari hangat menjadi dingin. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan atau bagaimana untuk meresponnya.
"Terima kasih Chanyeol."
"Ya," ia melihat Sehun dari atas kepalaku. "Kau mau membantuku mengangkat tempat tidurnya?"
Sehun mengangguk. "Ya."
Aku memandang tanpa berbicara saat mereka berdua berjalan cepat menuruni tangga sebelum melihat ke Luhan. Wajahnya sangat sengit dan matanya waspada.
"Kau baik-baik saja?" Dia bertanya. Jelas dia juga melihat perubahan Chanyeol.
Aku mengangguk. "Apakah kau berpikir dia berubah pikiran?"
Dia menggelengkan kepalanya. "Kurasa dia baru menyadari kenyataan dari situasi ini. Aku tidak berpikir sekalipun dia ingin mundur."
"Oke." Aku bergidik membayangkannya. Aku sudah mengatakan kepada pemilik apartemenku kalau aku akan pindah. "Aku berharap dia tidak berubah pikiran."
"Dia tidak akan begitu." Kata Luhan meyakinkan. "Aku pikir dia tidak tahu bagaimana menangani seseorang di dalam rumahnya. Kau akan baik-baik saja. Tinggal saja di kamar tidurmu untuk sementara waktu dan dia akan terbiasa dengan keberadaanmu di sekitarnya. Kau juga bisa hang out denganku di asrama."
"Aku mungkin akan menghabiskan lebih banyak waktu di sana daripada yang kau inginkan." Aku tertawa, tapi itu lebih ke gugup daripada merasa senang. Aku melihat ke dalam kamar tidur. "Kurasa aku akan mengatur kamarku."
"Kedengarannya bagus." Dia meringis dan aku mengerutkan kening.
"Ada apa?"
"Apa kau akan baik-baik saja disini sendirian?" Dia menggeser tubuhnya dengan canggung dan aku mengangguk.
"Mengapa tidak?"
"Well, ini tempat baru dan," dia mengangkat bahu. "Kau tahu itu."
"Kau tidak harus tinggal denganku, Luhan. Aku baik-baik saja." Kataku meyakinkan.
"Aku semacam memiliki rencana kencan nanti malam dengan Sehun." Dia tersenyum dengan jenaka. "Aku sudah membuat reservasi dan segala sesuatunya."
Aku tersenyum padanya. "Pergilah. Kalian bersenang-senanglah."
"Terima kasih, Baek." Dia menarikku untuk memelukku. "Kau bisa meneleponku jika kau membutuhkan sesuatu."
"Yap."
Aku berjanji dan aku tahu dia tahu kalau aku tidak akan pernah berani meneleponnya saat dia keluar kencan dengan Sehun. Itu bukan gayaku. Dan mereka pantas menikmati malam tanpa drama Baekhyun. Mereka berdua sudah begitu banyak menolongku sejak orang tuaku meninggal. Aku merasa berhutang pada mereka.
Anak laki-laki mendengus saat mereka mengarahkan tempat tidurku menaiki lantai atas. Kasurku sudah bersandar di dinding, menunggu tempat tidurnya.
"Jangan membentur dinding." Chanyeol memperingatkan saat mereka berputar ke arah kamar tidur dan Sehun mendengus.
"Aku tidak akan membenturkannya." Dia menjawab dengan sengit dan aku tertawa, membungkus lenganku di perutku saat aku bersandar ke dinding. "Dimana kau ingin menempatkannya, Baek?" Tanya Sehun.
"Uh," aku tidak memikirkan itu. Aku menunjuk ke satu-satunya dinding yang kosong. Aku akan berhadapan dengan dinding itu saat aku berjalan masuk ke kamar tidur. Ini sangat tepat. "Disitu."
Aku menonton mereka berdua menggeser tempat tidur ke posisi menempel dinding sebelum menjatuhkan kasur diatasnya. Chanyeol mengusap tangannya di celana jinsnya, menggeser-gesernya di situ saat ia menatapku dengan mata kobalt-nya.
Luhan menyela keheningan ini. "Kami harus pergi." Dia meyelipkan jarinya ke jari Sehun. "Aku sudah reservasi tempatnya."
Sehun menatapnya dengan penuh kasih sayang dan aku tersenyum. Mereka membuatku bahagia. Melihat mereka saling mencintai memberiku harapan.
"Sampai jumpa nanti. Dan terima kasih buat kalian berdua untuk semua ini."
"Kami mencintaimu, Baek." Kata Luhan saat ia dipandu Sehun keluar kamar.
"Aku juga mencintaimu." Aku berteriak, tapi mereka sudah berjalan menuruni tangga.
Aku sendirian dengan Chanyeol dan aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.
Aku melihat ke tempat ia berdiri dan jantungku berdegup di dalam dadaku saat aku menatap matanya yang sedang melihat barang-barang yang berantakan di lantai. Aku menggeser tubuhku,
"Jadi," Dia mengusap rambutnya. "Aku harus bekerja malam ini selama beberapa jam."
Dia memasukkan tangannya ke sakunya lalu mengeluarkan kumpulan kunci. Aku melihat dia menarik satu dari gantungan kunci sebelum menyerahkannya kepadaku.
"Ini kunci rumah. Kunci pintu jika kau memutuskan untuk pergi keluar."
"Terima kasih." Aku mengangguk.
Aku ingin bertanya kapan ia pulang, tapi aku tidak punya nyali. Aku tidak ingin dia berpikir aku turut campur dalam kehidupannya dimana aku tidak menginginkan hal itu. Aku sudah cukup gelisah. Aku tidak perlu membuat keadaan menjadi lebih buruk.
"Sampai nanti."
Chanyeol mengangguk, berjalan menuju pintu kamar tidur sebelum keluar ia berhenti. "Apa yang akan kau lakukan?"
Aku menunjuk ke kamar. "Aku akan membongkar barang-barangku."
"Kedengarannya sangat tepat. Dia berhenti sejenak. "Ada makanan di lemari es. Ambil saja apapun yang kau inginkan."
"Ya." Aku mengangguk.
Aku tahu aku tidak akan melakukan hal itu. Hal itu merupakan daftar yang harus kulakukan malam ini diantara banyak kegiatanku yang lainnya. Aku harus pergi berbelanja. Tidak mungkin aku tinggal di rumahnya dengan membayar begitu murah tanpa membeli bahan makananku sendiri.
Dia mengangguk. "Sampai nanti."
Setelah itu, ia berbalik dan berlari ke tangga. Jika aku tidak sangat mengenal Chanyeol, aku akan berpikir dia melarikan diri dari aku. Tapi Chanyeol tidak melarikan diri dari apapun atau siapapun.
.
.
.
Hampir empat jam telah berlalu dan aku sudah cukup merapikan seluruh ruanganku. Tempat tidur sudah rapi, pakaianku sudah aku simpan dan semua 'produk feminin'-ku sudah kutempatkan di kamar mandi yang telah dikosongkan untukku, atau selalu kosong.
Aku meletakkan kotak piring dan barang-barang lain yang tidak perlu aku bongkar di kantornya di sudut yang jauh dimana mereka tidak akan mengganggu. Ketika tidak ada hal lain yang harus aku kerjakan, aku mendorong tanganku masuk ke jaket, memasukkan kunci ke dalam sakuku dan mematikan lampu.
Aku berjalan dengan langkah ringan menuju pintu. Aku tidak tahu apakah Kris berada di rumah atau tidak dan aku belum pernah bertemu dengannya.
Entah bagaimana, setiap kali aku bekerja Kris tidak ada. Aku tahu dia dan Chanyeol memiliki shift yang berlawanan di klub dan aku hanya bisa berasumsi bahwa itu karena Chanyeol tidak mengijinkan aku bekerja tanpa dia disana, itu sebabnya aku belum pernah bertemu dengan Kris. Terlepas dari itu, aku tidak tahu apa yang diharapkan dari kakak Chanyeol, jadi aku tidak ingin bertemu dengannya di atas kaki yang salah. Ketika aku bertemu Kris, aku berharap aku bertemu dia dengan langkah kaki terus melangkah kedepan. Jika tidak, hal ini akan menjadi situasi yang sangat canggung dalam satu rumah.
Aku menghembuskan napas, aku bahkan tidak tahu kalau aku menahan napas saat aku melangkah keluar dari pintu depan dan merasakan udara malam yang kering. Aku punya waktu dua jam sebelum toko belanjaan tutup karena sudah malam. Aku membuka kunci Mazzy dan melesat menyusuri jalan.
Aku membeli semua yang kupikir aku akan memerlukannya sampai minggu depan. Untuk sarapan, kopi, teh dan makan siang. Aku membeli beberapa bahan untuk memasak makanan rumahan dan juga beberapa kebutuhan untuk membuat roti. Aku punya keinginan untuk membuat brownies karena tidak puas saat membeli di toko yang cuma dua gigitan. Aku butuh sesuatu yang nyata—aroma akan menyebar di dalam rumah dan rasa hangat meleleh dalam mulutku.
Aku telah selesai berbelanja dan melaju kembali ke rumah Chanyeol. Aku tidak bisa melupakan fakta bahwa sekarang itu rumahku juga. Aku tahu itu akan memakan waktu yang cukup lama dan aku tidak membantah untuk memberiku waktu beradaptasi.
Aku menempatkan belanjaan di tanganku dan berjalan menuju pintu depan. Truk Chanyeol tidak ada di depan rumah, jadi kupikir dia masih di club. Aku baik-baik saja dengan hal itu. Dia bersikap sangat aneh pada saat sebelum ia meninggalkan rumah. Aku khawatir ia menyesal aku pindah ke rumahnya. Aku tidak ingin menjadi beban dirinya dan aku berharap tidak begitu.
Aku mendorong kunci ke lubang kunci dan membuka pintu, berhati-hati agar tidak menjatuhkan salah satu kantungku. Aku melepaskan sepatu bootku dan berjalan memasuki dapur, berhenti sejenak saat aku tahu ada seseorang sedang duduk di kursi bar di meja dapur.
Dia berbalik dan jantungku mencuat di dadaku melihat kemiripan yang luar biasa antara dia dan Chanyeol. Dia terlihat hanya lebih tua beberapa tahun, dan aku tahu pasti yang aku lihat itu adalah Kris.
"Halo." Aku tersenyum," Aku pergi berbelanja bahan makanan."
"Kau Baekhyun." Suaranya dingin.
Sial. Dia sudah memusuhi aku. Sama sekali tidak baik. Aku berharap dengan pasti memulai perkenalan agar menjadi lebih baik.
"Ya. Dan aku asumsikan kau adalah Kris."
Dia mengangguk, mata cokelatnya mempelajari setiap gerakanku. Dengan percaya diri, aku menempatkan kantong belanjaan di atas meja, membuka setiap item saat aku mengeluarkannya dari kantong.
"Apa yang kau lakukan dengan adikku?"
Aku merasa mataku semakin lebar saat mendengar komentarnya yang terus terang itu. "Um," aku tergagap. "Kami berteman."
Dia tertawa, kulit di sekitar matanya berkerut sama seperti Chanyeol ketika ia tertawa. Aku berharap dia berada disini. "Chanyeol tidak pernah berteman dengan siapapun—apalagi perempuan."
"Well," aku mengangkat bahu, langsung merasa defensif. "Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadamu. Kami hanya berteman. Itu saja."
Dia menyandarkan sikunya di meja. "Huh," dia menatapku dan aku merasa seperti sepotong daging. " Apa yang kau tahu tentang dia?"
"Aku tahu semua yang dia ingin aku ketahui dan itu sudah cukup."
"Benarkah?"
"Benar." Kataku tanpa ekspresi. "Chanyeol temanku. Dia telah membantuku dengan memberikan aku tempat tinggal untuk sementara waktu."
"Bagaimana kau bertemu?"
"Aku bertemu dengannya di tempat parkir Universitas."
"Lari mendekatinya, huh?"
"Secara harfiah begitu." Aku tersenyum dengan memori itu sebelum aku ingat aku sedang diinterogasi Kris.
"Apa yang kau inginkan dari dia?"
"Aku tidak tahu apa yang kau maksud." Aku mulai membuka-buka lemari, menempatkan bahan makanan.
"Apakah kau ingin menjalin hubungan dengan dia?"
Aku mengangkat bahu. "Aku sudah punya satu."
"Maksudku asmara." Dia berbicara dengan kasar. "Karena jika kau melakukannya, lupakan tentang hal itu sekarang. Chanyeol tidak ingin berhubungan asmara."
"Itu adalah hal terbaik bahwa aku tidak tertarik dengan cara seperti itu pada Chanyeol. Bukankah itu maksudmu?"
"Kau baik-baik saja kalau dia meniduri wanita lain?"
Jantungku mencelos, tapi aku tetap menahan emosiku. "Kenapa tidak? Itukan yang selalu dia lakukan. Mengapa aku mengharapkan hal itu berubah?"
"Menarik." Matanya mempelajari aku dan aku menggeser tubuhku, merasa tidak nyaman.
"Dengar, jelas kau tidak menyukaiku. Itu tidak masalah. Aku akan menjauh darimu."
Aku menaruh bahan makanan yang terakhir dan langsung menuju tangga. Aku ingin sekali menyelamatkan diri ke kamar tidurku.
"Ini bukan berarti aku tidak menyukai kau." Kris mengatakannya dengan tegas, menarik perhatianku. Aku berhenti di anak tangga terbawah. "Aku hanya tidak mengerti."
"Kau tidak mengerti apa?" Aku benci bagaimana lemah lembutnya suaraku terdengar dan aku menegakkan bahuku, berharap untuk mengimbanginya.
Kris memiringkan kepalanya ke samping. "Aku tidak mengerti mengapa dia memilihmu."
Aku mengusap dahiku. "Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan."
"Dan itulah setengah dari apa yang begitu mengejutkan." Dia berdiri dari bangkunya dan berjalan ke arahku. "Chanyeol adalah adikku. Dia memiliki reputasi sebagai bad boy dan entah kenapa hal itu menarik para wanita. Mereka ingin mengubahnya. Mereka semua tertarik padanya, dan mereka berharap akan menjadi satu-satunya orang yang membuat Chanyeol berubah namun disinilah kau dan kau bahkan tidak peduli siapa dia atau apa yang dia lakukan. Kau pikir hanya persahabatan yang dia inginkan." Dia tertawa. "Kau salah. Dia ingin lebih dari persahabatan."
"Tidak," aku mulai membela hubungan kami, perasaan sepertilah yang selalu aku butuhkan.
Kris menginterupsiku. "Jika kau menyakitinya, aku akan menghancurkanmu. Ini adalah pertama kalinya aku melihat dia membuka diri pada seseorang sejak," ia berhenti sejenak, bibirnya bergetar karena emosi terpendam. Aku mulai tidak bisa memahami kata-katanya. "Aku memperingatkanmu. Jangan menyakitinya atau kau akan berhadapan denganku untuk menjelaskannya. Paham?"
Aku mengangguk, menahan napasku. "Aku mengerti."
.
-c-
.
note: [1] girl nights; acara bersenang-senang khusus untuk gadis. [2] mudroom; ruangan di pintu masuk sebuah rumah dimana orang dapat menempatkan sepatu basah atau kotor dan pakaian dingin.
