Kembali bersama saya sang author magang yang bernama tatang geprek.. Mungkin ini chap udah pernah anda baca di WATTPAD, maaf sebelumnya atas keabstrutan fic gaje saya, kelakuan bocah saya yang membuat pair war, dan atau mungkin untuk selamanya, saya mungkin akan berhenti menulis, sebab mulai 4 september saya akan melanjutkan kuliah saya yang sempat tertunda dan saya juga sedang dalam keadaan bekerja, Kuliah sambil kerja, klau gk kerja gk ada biaya bayar kuliah.. kwkwkwkw
thx untuk semua raider, dari yg suka mencaci dan ada juga yang mendukung, pen ketawa sendiri klau baca komen2 kalian.
1 hal lagi, keluh kesal saya sengaja letak di awal, biar semua pada baca, klau di letak di akhir chap, mungkin gk ada yang baca keluh kesal saya ini.. TY
Naruto dan teman-teman hanya milik MK sensei
saya selaku author hanya meminjam saja
Fic ini mengandung konflik yang lumayan berat dan ada beberapa adegan Lime and Lemon di dalamnya
Bagi pembaca yang masih usia dibawah umur, saya harap agar tidak membaca Fic ini
Genre: Romance, Hurt, NTR tingkat tinggi :v
Pair: NHL
Sudah hampir 45 menit Naruto tidak menampakkan wajahnya, dan itu membuat Minato bertanya-tanya.
"Hiashi, apa tidak sebaiknya kita melihat keadaan Naruto, aku merasa dia sudah terlalu lama."
Tampak raut kekhawatiran di wajah Minato.
Yang sebenarnya di takutkan Minato adalah putri cantik Hiashi yang juga tidak terlihat melewati mereka.
Minato sebagai ayah sangat tau bagaimana watak anaknya, apa lagi tadi Hinata terlihat sangat menggoda.
Bisa gawat bila bertemu rubah lapar seperti Naruto.
Mungkin hal-hal aneh sudah terbayang di benaknya.
"Kau benar Minato, sepertinya kita harus mengecek keadaan anakmu"
Hiashi juga menyetujui perkataan Minato.
Beda dengan pikiran Minato, Hiashi berfikir mungkin Naruto tersasar atau pingsan di Toilet rumahnya.
Akhirnya Minato dan Hiashi pergi kearah dimana Naruto lalui tadi.
Langkah Minato dan Hiashi sedikit terhenti ketika mendengar suara yang menurut mereka janggal (khususnya bagi Minato).
Minato sangat mengetahui watak dari anak tunggalnya yang satu ini, di tambah sedari tadi dia tidak melihat Hinata melewati meja ruang tamu untuk kembali ke kamarnya.
"Na-naruto-kun pelan-pelan"
Suara yang semangkin terdengar jelas membuat Minato segera berlari menuju arah suara tersebut dan meninggalkan Hiashi yang sedikit terbengong di koridor rumah miliknya.
"NARUTOOO! APA YANG KAU LAKU-"
Ucapan Minato terhenti, pikiran buruk yang sempat bersarangn di kepalanya lenyap seketika.
Ternyata anaknya tidak melakukan apa yang dia pikirkan tadi, walau ada sedikit rasa malu saat memandang wajah cengok putranya dan wajah polos Hinata.
"ehkk, maafkan paman karena mengagetkan kalian"
Minato berkata kikuk sambil menggaruk tengkuknya karena malu.
Hiashi yg sempat mendengar teriakn Minato, hanya bisa tersenyum.
"Hinata, kalian saling mengenal?"
tanya Hiashi pada putrinya.
"Ya Tou-sama, Naruto senpaiku di Universitas."
Hinata menjawab pelan.
"Maaf Oji-san, aku sangat lapar, dan Hinata membantuku untuk mengisi perut."
Ucap Naruto sopan
Ternyata teriakan Hinata tadi hanya untuk menegur Naruto agar makan secara perlahan, bukan seperti babi kelaparan.
"Tidak masalah, Jii-san suka kalau anak teman Jii-san akrab dengan Hinata"
Hiashi membalasnya dengan ramah, lalu mengalihkan pandanyannya kearah Hinata.
"Naik keatas dan berpakayanlah lebih sopan Hinata"
Hiashi juga terlihat sedikit risih, sebab ada 2 Pria asing dan pakayan Hinata sangat terbuka.
"Baik Tou-sama. Naruto-senpai, Jii-san, Hinata permisi dulu"
Hinata membngkuk sopan lalu pergi ke kamar pribadinya di lantai atas.
RzOneNHL
Setelah kepergian Hinata, Hiashi besrta Minato dan kloningnya kembali keruang tamu. Sedikit mengobrol dan akhirnya Kedua Namikaze itu pulang ke rumah mereka.
Naruto mengantarkan Ayahnya, tak berapa lama di kediaman Namikaze, Naruto kembali keluar Rumah sebab ada urusan yang harus dia selesaikan.
Pertemuan dengan Kabuto, itulah acara Naruto selanjutnya.
Di sebuah Cafe kecil di pinggiran Pusat kota, Naruto duduk dengan seorang pria berkacamata yang kita ketahui sebagai Kabuto.
Raut tegang terlihat di wajah Naruto, sebab kasus yang dia jalani saat ini bisa membawanya ke balik jeruji besi. Kabuto selaku eksekutor terlihat tidak terlalu gugup, sepertinya pria mantan Interpol ini sudah sangat terbiasa dengan yang namanya kejahatan.
"Aku bisa menghabisinya sekarang, pemuda itu tidak mempunyai pengamanan saat ini, jika kau minta aku melakukannya saat Resepsi pernikahan meraka, itu tidak mungkin. Uchiha Itachi sangat mengenali wajahku, dan kuharap dia tidak melihatmu bersamaku, atau rencana ini Hancur."
Naruto sedikit terteguh setelah mendengar kalimat panjang dari Kabuto barusan.
Dia tidak ingin membunuh seseorang, dia hanya ingin membuat Sasuke cedera, tidak lebih.
"Kita tidak akan membunuhnya, walaupun dia Hidup, Hinata akan tetap memilihku, Cukup cederai dia setelah resepsi pernikahan, tanggal 11 mereka melakukan resepsi, dan 2 hari berikutnya akan ada pesta perayaan, menurut berita yang aku dengar, setelah Menikah mereka akan tinggal di satu atap. Cari tau dimana tempat itu, setelah kau menemukan tempatnya, segera susun strategimu agar mereka tidak sampai ke rumah tersebut."
Naruto membuang nafasnya kasar, emosinya cukup terkuras setelah mengatakan itu. mengingat, Hari resepsi pernikahan Hinata tepat setelah Hari lahirnya.
"Baiklah jika itu maumu. Membunuh lebih mudah, akan tetapi, akan akau usahakan agar Misi ini sukses. Satu hal lagi... Kau sangat takut Hinata-mu di sentuh olehnya bukan?"
Mendengar sindiran dari Kabuto, Naruto hanya tersenyum sinis.
"Kau tidak perlu tau itu"
Balas Naruto, setelah itu, dirinya pergi meninggalkan Kabuto yang masih menatapnya.
'Ini akan sedikit sulit, selama ini akau menghindari berurusan dengan Itachi, tapi kali ini akau menantangnya, walaupun rencanaku Sukses, aku tidak yakin apa aku akan bebas atau malah tertangkap.' Batin Kabuto sedikit khawatir .
RzOneNHL
Naruto melajukan mobilnya meninggalkan tempat pertemuannya dengan Kabuto, wajahnya tampak sedikit suram, sebab informasi tempat tinggal Hinata harus segera temukan.
Ada niat untuk bertanya langsung dengan Hinata, akan tetapi, ketika bertemu dengan pujaan hatinya, Naruto selalu lupa.
Lancer Evo X merah milik Naruto berhenti di sebuah minimarket di pinggir jalan.
Pemuda pirang itu lalu turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu masuk, mungkin ada sesuatu yang ingin dia beli.
Naruto berjalan kearah tempat minuman Ber-Alkohol bejejer rapi. Dia tampak memilih beberapa minuman berkadar Alkohol rendah, Mengambil beberapa botol Champagne dan beberapa bir kaleng mungkin cukup untuk malam ini baginya.
Berjalan menuju kasir lalu membayar belanjaannya dan tidak lupa membeli sebngkus Rokok untuk menemani Alkohol yang barusan dia beli.
Seoarang gadis berambut pink tanpa sengaja melihat Naruto, terlihat ada sedikit senyuman di bibir merah gadis pink tersebut.
"Naruto"
Mendengar seseorang menyebut namanya, Naruto menghentikan kegiatannya yang tadi terlihat akan membuka pintu Lancer miliknya.
"Sakura, Sedang apa malam-malam disini?"
Pertanyaan bodoh meluncur dari pemuda jabrik tersebut.
Sakura hanya tersenyum kecil, tentu saja dirinya ingim membeli barang yang dia perlukan di dalam Minimarket di depan mereka.
"Aku hanya ingin membeli sesuatu, apa kau habis berbelanja?"
tanya sakura.
Naruto memamerkan belanjaannya yang saat ini masih dia pegang.
"Tentu, kau lihat ini"
"Baiklah, Maaf mengganggumu, aku pergi masuk dulu, banyak yang harus aku beli soalnya"
Sakura tersenyum singkat lalu segera berlalu dari hadapan Naruto.
Masih beberpa langkah, Sakura merasakan cengkraman di pergelangan Tangannya.
Hangat, dan terasa nyaman, mungkin itu yang dirasakan Sakura saat ini, tampak dari wajahnya yang memerah.
"A-ada apa?" tanya Sakura sedikit gugup.
Hatinya sedikit DagDigDug saat ini.
"Hari sudah semangkin larut, Kau membawa kendaraan atau kau di antar seseorang?"
Naruto bertanya sambil memperhatikan Area di sekitar parkiran Minimarket, dan dia sama sekali tidak menemukan siapa-siapa selain mereka berdua.
"Ti-tidak, aku sendirian"
Wajah Sakura semangkin memerah sebab Naruto semangkin dekat dengannya.
"Kau akan aku antar pulang, Cepat selesaikan acara berbelanjamu, aku tunggu di sini!"
Ucapan Naruto terdengar seperti perintah di telinga Sakura.
Mencoba menolaknya dan hasilnya juga sama. Naruto tetap akan menunggunya di area parkiran.
Tidak lebih dari 15 Menit, Akhirnya Sakura keluar dari dalam Minimarket yang tadi dia masuki. Pandangan Sakura tertuju pada Naruto yang masi menduduki Cap depan mobil merah milik pemuda itu.
"Husss" hembusan Asap ROKOK terbawa angin dari bibir Naruto menambah kesan ketampanan bagi pandangan Sakura.
"Kenapa tidak menungguku didalam saja?"
Sakura menatap benda di tangan Naruto, ocehan gadis Pink ini tidak berhenti sampai disitu.
"Matikan ROKOK'mu, itu tidak sehat"
"Jangan mengguruiku, aku sudah tau itu, dan tidak mungkin aku merokok di dalam mobilku."
balas Naruto sedikit marah.
"Tapi kau masih menghisapnya, apa enaknyasih menghisap benda bernikotin itu?"
Merasa terganggu dengan ocehan Sakura, Naruto segera menarik gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya. Dia tidak ingin kebiasaan merokoknya di usik, bahkan Hinata tidak bisa melarangnya.
Perjalanan menuju rumah Sakura telihat sedikit sunyi, Naruto bersyukur menemukan gasdis itu, dia sedikit khawatir bila ada gadis pulang sendirian dimalam hari walau dengan taksi sekalipun.
"Kau peminum"
Sakura mulai membuka percakapan, dirinya terlihat memperhatikan sebotol Champagne dan beberapa bir kaleng dari dalam pelastik Putih yang membungkus belanjaan Naruto.
"Hnn, jadi kau baru menyadarinya?"
Ucap Naruto sambil mengemudikan Mobilnya.
"Ya, aku tadi tidak terlalu memperhatikan belanjaanmu."
Jawab sakura pelan, bibir sakura tampak sedikit bergetar, mungkin gadis ini sedikit kedinginan di dalam mobil Naruto.
"Bisa kurangi sedikit Ac mobil ini?"
Naruto menatap Sakura yang terlihat sedikit menggigil, tangan tan-nya menggapai pengatur Suhu didalam mobilnya.
Naruto memutar benda tersebut ke anggka 1.
"Pakai ini"
Naruto membuka Jaket miliknya dan memberinya kepada Sakura.
Tangan Sakura menerima Jaket pemberian Naruto. Jujur saja, dia memang tidak tahan dengan Ac mobil bila berkendara di malam hari.
"Terimakasih."
Naruto hanya tersenyum kecil menerima ucapan terimakasih dari Sakura.
Walau hanya senyuman kecil, akan tetapi Senyuman itu berhasil menghangatkan Hati dan tubuh miliknya.
'Andai aku duluan menemukanmu, bukan Hinata. Pasti kau akan jadi milikku'
batin Sakura pilu.
Sakura terasa sesak saat sekilas membayangkan wajah Hinata. Apalagi saat dirinya mengingat tigkah manja Hinata pada Naruto saat dia tanpa sengaja melihat pasangan sejoli itu di sebuah Restoran di dalam sebuah Mall.
Sakit, tapi Sakura berusaha tersenyum. Ini cinta pertamanya, dirinya tau, setiap Cinta pertama akan sangat menyakitkan bila berpisah, dan akan sangat membahagiakan ketika menyatu.
Dia ingin pilihan yang kedua. Menyatu dengan cinta pertamanya, tapi! Apakah itu bisa terwujud, kala seorang bidadari Hyuga telah mengisi hati pria pujaan Hatinya..
RzOneNHL Off
