Disclaimer: Yoshihiro Togashi

Title: Kisah Hunter di Luar Sekolah

Chapter Ten: Pukul Saja!

Warning: AU, OOC, typo(s), don't like don't read. Satu lagi, yang sabar ya...

XxX

Heningnya suasana di dalam situ, begitu jauh dari kebisingan dunia luar. Riuh-rendah suara dan derap langkah kaki yang menghentak lantai hampir teredam sempurna. Di dalam sini, suasana begitu tenang dan tentram. Hanya terdengar alunan musik klasik yang dimainkan dan bunyi langkah pelan-pelan para pengunjung. Juga sayup-sayup terdengar suara lembaran kertas yang dibolak-balik.

Jari –jemarinya meneliti buku-buku yang tersusun rapi satu persatu. Kadang ditariknya sebuah buku, dibalik-balikkannya lembaran buku itu. Merasa tidak puas dengan isi lembarannya, buku itu dikembalikan dan ia mulai melirik rak buku yang lainnya. Gadis itu tampak bersemangat meneliti buku-buku yang berjejer di rak-rak yang berdiri tegak. Tak bosan-bosannya ia pandangi sampul demi sampul yang membungkus lembaran buku.

Laki-laki itu, dengan tenang memandanginya. Memerhatikan gadis itu yang tampaknya senang berhadapan dengan para buku. Dibiarkannya gadis itu menikmati buku-buku itu sampai ia puas, sementara dirinya, hanya diam mengamati. Ketimbang buku-buku bisu ini, gadis di depannya yang tampak berbinar-binar itu terlihat jauh lebih menarik.

"Kuroro!"

Laki-laki itu menegakkan kepala. Dijawabnya panggilan itu. "Ya?"

"Jangan diam saja, dong. Kan kamu yang mau cari buku," kata gadis itu sambil berkacak pinggang. "Pergilah cari buku latihan soalnya. Buku-buku pelajaran ada di sebelah sana," lanjutnya sambil menunjuk suatu bagian dari toko buku itu.

Laki-laki itu memandang malas, mengangguk pendek lalu ia berjalan ke arah yang ditunjuk dengan tidak semangat.

Kurapika menghela napas. 'Padahal dia yang ngajak ke toko buku, sampai disini malah dia yang nggak ngapa-ngapain.' Pikirnya dalam hati sambil memandangi muridnya yang berjalan gontai.

Gadis berambut pirang itu membalikkan badan dan kembali menekuni buku satu persatu. Ia tampak bersenang hati membaca judul buku-buku yang ada satu-persatu, dan membaca sinopsis buku yang kelihatannya menarik. Hingga jari-jari kurus itu berhenti di satu judul, Kurapika menarik satu buku yang tebal pelan-pelan. Awalnya, gadis itu tertarik dengan judulnya. Setelah membaca sekilas ringkasan buku di sampul belakang, gadis itu kembali membaca judulnya. Sekarang ia benar-benar tertarik melihat huruf-huruf itu.

The World without Us

"Sensei!"

Kurapika mendongak. Ia mendapati Kuroro berjalan menghampirinya.

Kuroro melihat buku yang dipegang Kurapika dan bertanya. "Sensei mau beli buku itu?"

Kurapika menunduk. Dilihatnya buku itu kembali. Seperti menimbang-nimbang sekejap, tapi kemudian dia kembali memandang Kuroro. Ia menggeleng pelan.

"Tidak kok," sahutnya sambil mengembalikan buku itu kembali ke raknya dengan perlahan.

Kuroro memerhatikan gurunya. Kurapika tampak menginginkan buku itu, atau setidaknya, itulah yang dipikirkan Kuroro.

"Sudah ketemu bukunya?" Tanya Kurapika.

"Eh, oh iya. Aku ketemu buku bagus loh, sensei. Nih, sensei baca ya!" jawab Kuroro riang sambil menyerahkan beberapa buku ke tangan Kurapika.

Kurapika menerima buku-buku itu. Mata gadis itu mulai mencerna huruf-huruf judul yang tertera.

Kiat Menjadikan Rumah Tangga Anda Senantiasa Indah

Bagaimana Agar Suami Betah di Rumah

100 Cara Menjadi Istri yang Baik

Kurapika mengerinyit. Kuroro nyengir.

"Atau yang ini, sensei?" kata Kuroro menyodorkan satu buku lagi ke Kurapika.

Nama-Nama untuk Si Buah Hati

BUGH!

Tanpa sempat dielak, wajah tampan Kuroro sukses kena tamparan buku dari Kurapika.

"Adaw!" Kuroro menjerit. "Sensei! Modal ini, modal! Muka gantengku rusak ntar!" protesnya.

Tanpa memedulikan kata modal itu, Kurapika membalas dengan suara rendah.

"Darimana kau dapatkan buku ini?"

Kuroro mengelus-elus pipinya, sambil menunjuk arah rak buku tempat ditemukannya buku pemicu masalah itu.

Secepat kilat, Kurapika mengembalikan buku yang baginya konyol itu kembali terbaring manis di tempatnya lalu gadis itu berjalan tegas kembali ke tempat Kuroro berada. Raut wajahnya kesal.

"Sudahlah, kalau tidak ku temani nanti urusanmu tidak selesai-selesai." Kata Kurapika gusar pada Kuroro yang menahan senyum. Tiba-tiba, tangan Kurapika memegang lengan Kuroro dan menarik laki-laki itu bersamanya. "Ayo, biar ku temani cari buku latihan soalnya."

Kuroro terkejut. Bingung antara heran dan kaget. Tiba-tiba saja gadis itu menyentuhnya, memeluk lengannya meski dengan maksud menyeretnya ke bagian buku pelajaran.

"Sensei..."

Tanpa menoleh, Kurapika menyahut. "Apa? Candaanmu tidak lucu!"

"Bukan itu..."

"Jadi?"

Kurapika terus saja berjalan bersama Kuroro yang ia tarik lengannya. Kuroro menatap Kurapika yang memandang lurus ke depan. Sepertinya, gadis itu tidak sadar apa efek dari perbuatan yang ia lakukan. Kuroro tersenyum. Sudahlah, ia tak peduli apapun lagi. Asalkan gadis itu berada di dekatnya, dan tangan hangat gadis itu bisa disentuhnya.

"Tidak ada apa-apa," kata Kuroro sambil tersenyum senang.

Kurapika berhasil menyeret Kuroro sampai di bagian buku pelajaran. Berbagai macam buku berjudulkan mata pelajaran anak sekolah berjejer rapi di rak. Buku-buku itu bersusun berdasarkan tingkatan. Mulai dari buku bergambar untuk anak balita sampai buku pelajaran untuk sekolah menengah atas.

Hingga sampailah Kurapika dan Kuroro di rak yang bersusunkan buku-buku latihan soal persiapan ujian.

"Tuh, pilih sana," kata Kurapika.

"Yaaah, kalau cuma pilih sendiri ngapain ngajak sensei coba. Sensei bantu pilihin, dong." Sungut Kuroro.

Kurapika menggelengkan kepala. "Ya sudah." Gadis itu melepaskan genggamannya di lengan Kuroro untuk memudahkan tangannya bergerak bebas. Menyadari hal itu, Kuroro refleks menahan tangan Kurapika. Kurapika jadi heran.

"Eh?"

Kuroro memutar otak. "Hmm, sudahlah. Biar aku saja." Diambilnya satu buah buku dan disodorkannya pada Kurapika. "Kalau yang ini?"

Kurapika agak merasa aneh, tapi hal itu tak jadi soal untuknya. Gadis itu memusatkan perhatiannya pada buku di tangan Kuroro.

"Hmmm, materi di bukunya kurang lengkap. Lagipula coba penerbit yang lain saja," sarannya.

Kuroro mengembalikan buku itu dan menawarkan buku yang lain dengan hanya menggunakan sebelah tangannya. Sementara sebelah tangan yang lain dibiarkan terjalin dengan tangan Kurapika. Agak menghambat gerakan memang, tapi sepertinya, apapun tak jadi masalah asalkan tangan Kurapika tetap ada di pelukan lengannya.


"Heboh ya, tadi."

"Tapi kasihan juga Killua-sensei."

"Terlalu ganteng sih."

Shalnark tertegun.

"Jadi menurutmu... Killua-sensei ganteng?"

"Yah, memang kenyataannya begitu kan?" jawab Shizuku tanpa dosa.

Shalnark menghela napas. Rasanya sedih juga kan kalau gadis yang kau sukai memuji lelaki lain di hadapanmu sendiri?

Shalnark terlihat lesu.

Menyadari hal itu, Shizuku mempererat genggamannya, dan tersenyum pada Shalnark. Awalnya, Shalnark hanya diam. Tapi akhirnya ia membalas tersenyum juga.

Tak peduli setampan apapun lelaki lain, tapi kalau hatiku ada padamu, maka kesitulah mataku tertuju... Kira-kira begitulah arti senyuman Shizuku. Syahdu.

Bukannya mampu membaca hati, tapi isyarat semacam itu tak perlu ucapan untuk diutarakan agar mampu dimengerti oleh Shalnark. Bahasa yang hanya dapat dipahami oleh dua pasang mata yang bertemu... Syahduuu...

DUAK!

Segala fantasi indah buyar seketika. Kepala Shalnark berdenyut-denyut seperti habis kejatuhan genteng.

"Adaw!"

"Ops, maaf. Tanganku licin."

Shalnark dan Shizuku yang terkejut melihat ke asal suara. Mereka tambah kaget begitu sadar yang memukul Shalnark dengan buku setebal tiga jari itu adalah... Kuroro.

"Da... Da... Da..." tenggorokan Shalnark tercekat. "Danchou...?"

"Hai, Shalnark. Kamu tahu buku setebal empat ratus halaman ini isinya latihan soal dan pembahasannya? Siapa tahu ada yang nyangkut di kepalamu." Kata Kuroro sarkastis.

"Kakak ngapain sih!" protes Shizuku tak terima.

Kuroro memandang adiknya. "Hai, dik. Justru kalian yang sedang ngapain..." katanya dengan suara rendah sambil memandang tajam tangan Shizuku dan Shalnark yang saling terpaut.

Shalnark cepat-cepat melepaskannya. "Tidak ada, kok!"

Kuroro tetap mendelik tajam. Shalnark kebingungan. Shizuku menatap kesal.

Di tengah ketegangan suasana yang mencekam itu, tiba-tiba sebuah suara lembut memecah semua itu.

"Anak-anak, yang tenang!"

Semua mata tertuju padanya. Kurapika malah jadi bingung. Dikumpulkannya segala harga diri dan pamornya sebagai seorang guru. Dalam sekejap, sikap lembutnya langsung sirna.

"Kalian sadar sedang diliatin orang? Jangan bertengkar di tempat umum, bikin malu saja! Dan kamu, Kuroro. Kenapa kamu tiba-tiba mukul temen kamu?" katanya tegas laksana hakim sambil merebut buku senjata itu dari Kuroro.

Kuroro bertindak sebagai penuntut umum. "Habis, si tengik ini mau macam-macam sama adik saya, sensei," katanya sambil menunjuk Shalnark.

"Eh? Saya tidak macam-macam! Sumpah!" sergah Shalnark sebagai terdakwa karena dituduh tidak-tidak.

"Kuroro, apa salahnya adikmu jalan-jalan sama temanmu?" kata Kurapika kembali menjalankan tugas kehakiman.

"Bukan gitu, sensei. Ngapain coba mereka berduaan doang. Kenapa nggak ajak temen-temen yang lain. Makin rame kan makin seru. Nah, ini berdua doang. Gimana saya nggak curiga," tuntut Kuroro.

Si pembela terdakwa, Shizuku, tidak tahan berdiam diri. "Kakak sendiri malah berduaan pacaran ama sensei!"

DUAK!

"Adaw!" Shalnark kembali mengaduh. Kali ini kepalanya dipukul kembali oleh buku setebal tiga jari itu, tapi bedanya, kini Kurapika yang memukulnya.

"Kenapa aku yang kenaaaaa...?" rintihnya.

"Wuaaaa! Maaf, Shalnark!" Kurapika panik melihat hasil perbuatan diluar kesadarannya itu. Secara naluriah tangannya mengelus kepala Shalnark yang terkena pukulannya.

Sebuah buku melayang lagi.

DUAK!

"Kuroro! Apa yang kau lakukan!" seru Kurapika melihat Kuroro memukul temannya itu, lagi.

Setitik air mata timbul di pelupuk mata Shalnark. "Demi Tuhan, apa dosaku..."

Kuroro menarik kerah baju Shalnark. "Dosamu adalah karena kepalamu dielus Kurapika. Kau kira aku rela, HAH?" katanya dengan suara sedemikian pelan dan tajam hingga hanya dapat didengar oleh mereka berdua.

Shalnark yang serasa melihat iblis, berkeringat dingin. "Ampun, danchou. Ampun..."

"Kuroro! Hentikan!" perintah dari mulut Kurapika langsung melepaskan genggaman Kuroro pada kerah baju Shalnark.

"Kakak, ini bukan di rumah. Jangan berantem dong!" sela Shizuku. "Maaf ya, sensei. Kakakku dan Shalnark-senpai memang sering begitu. Apalagi kalau di rumah, dan ada Nobunaga-senpai, kerjanya saling hantam di kamar." Lanjutnya sambil menghela napas.

Seketika semuanya saling diam. Saling mencerna tingkah laku masing-masing. Akhirnya, pertengkaran singkat yang akar permasalahannya tidak jelas itu mulai reda.

Begitu suasana kembali damai dan semuanya lebih tenang, seorang lelaki bertubuh gempal dan berseragam gagah mendatangi mereka.

"Kalian semua, ikut saya."


Setelah diceramahi satu jam penuh dengan petugas keamanan, Kurapika, Kuroro, Shalnark dan Shizuku sukses terusir keluar dari toko buku atas tuduhan membuat keributan. Mereka berempat duduk berjejer di kursi panjang dekat eskalator. Di tengah pengusiran itu, Kuroro sempat-sempatnya menyelinap ke kasir dan membayar buku yang dibelinya. Kini, bungkusan buku itu ada di pangkuan Kurapika yang berkata pelan,

"Maaf ya."

Semuanya menoleh pada Kurapika. Shizuku membalas,

"Kenapa sensei meminta maaf?"

"Yah, kalau seandainya aku menenangkan kalian lebih cepat, kita kan tidak perlu diceramahi sama petugas itu," kata Kurapika pelan.

"Sensei, yang salah bukan sensei. Yang salah itu kan kakak, nggak ada angin nggak ada ujan tiba-tiba pukul kepala orang sembarangan," kata Shizuku membela Kurapika. Kuroro yang jelas mendengar, memutar bola matanya.

"Tapi waktu itu kan aku sedang bersama Kuroro saat dia mau memukul Shalnark. Sebagai guru aku jadi malu," desah Kurapika. Ternyata, sifat-sifat seorang guru terlalu melekat pada dirinya.

Shizuku mencari kata-kata yang pas agar senseinya tidak lagi merasa bersalah. Shalnark membantunya.

"Sudahlah sensei, saya juga tidak apa-apa, kok. Sudah biasa," kata Shalnark sambil tertawa untuk membuktikan dirinya baik-baik saja.

"Lagipula, kami anak-anak SMA kan memang hobi bikin ribut, sensei," lanjut Kuroro. Rupanya, dia juga tak mau membiarkan Kurapika menyalahkan dirinya.

"Iya, sensei. Justru kami yang minta maaf karena menyeret sensei dalam masalah kami," tambah Shizuku dengan tertawa pula.

Kurapika tersentuh dengan murid-muridnya yang mencoba membesarkan hatinya. Akhirnya ia tersenyum. "Ya, tapi jangan sampai menganggu orang lain ya."

"Ya, sensei!" mereka bertiga kompak menjawab.

Seketika suasana jadi ceria. Mereka berempat kembali bersemangat. Shizuku berkata,

"Oke deh, sensei. Kami duluan, ya. Tidak enak menganggu sensei," godanya.

"Eh? Kenapa buru-buru? Tidak menganggu, kok." Sergah Kurapika.

"Tidak apa. Mari, sensei." Katanya sambil tersenyum pada Kurapika. Begitu melihat Kuroro, senyumnya hilang. "Dah, kakak resek." Katanya sambil memeletkan lidah.

"Dah, adik jelek." Balas Kuroro.

Shizuku dan Shalnark berlalu pergi.

Kurapika dan Kuroro saling diam. Mereka berdua masih duduk manis di kursi panjang itu. Membiarkan orang-orang yang lalu-lalang melewati mereka begitu saja.

"Sensei, mukanya jangan sedih gitu dong." Kata Kuroro.

"Siapa yang sedih? Nggak kok!" elak Kurapika.

"Masih kepikiran soal tadi? Duh, orang dewasa pemikirannya ribet bener sih."

"Jangan samain ama kamu dong, dasar anak muda." Desah Kurapika.

"Sensei, coba jangan ngeluarin kata-kata yang menekankan aku ini JAUH lebih muda darimu." Protes Kuroro kesal. Tampaknya satu hal yang paling dibencinya di dunia ini hanya satu: dianggap anak kecil oleh Kurapika.

"Memang kenyataannya, begitu kan?" kata Kurapika dengan polosnya. Kenyataan yang menohok perasaan Kuroro.

Meskipun sedih, tak jadi penghalang untuk Kuroro mengatakan hal ini,

"Sensei, coba buka bungkusan buku yang yang kubeli."

Tanpa pikir panjang, Kurapika menurut saja. Dibukanya perekat bungkusan itu hingga buku yang di dalamnya dapat terlihat.

"Loh, kamu beli dua buku?" kata Kurapika saat memegang buku-buku itu rasanya berjumlah dua. Tapi karena di tumpukan atas adalah buku latihan soalnya Kuroro, ia tidak tahu buku yang ada dibaliknya.

"Coba lihat satunya lagi." Kata Kuroro.

Kurapika menggeser buku pertama dan betapa terkejutnya ia melihat buku yang ada di baliknya. Buku bersampul kuning dengan beberapa hiasan pohon hijau dan sedikit goresan biru membentuk danau. Buku yang baru dikenalnya. Buku yang sempat menarik perhatiannya. Buku yang tidak jadi dibelinya tadi!

"Ini..."

"Itu untuk sensei."

Kurapika bingung harus bersikap seperti apa. "Tapi ini...?"

Kuroro menoleh pada Kurapika. "Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena sudah menemaniku."

Kurapika terdiam. Akhirnya ia memutuskan untuk berterima kasih pada Kuroro.

"Kuroro, terima kasih ya."

Kurapika tersenyum dengan sangat, sangat manis. Kentara sekali dia senang diberikan buku itu. Kuroro, sekali lagi, terpana melihat senyuman yang melelehkan hatinya itu. Rasanya, buku itu tidak ada harganya sama sekali jika dibandingkan dengan kebahagiaan gadis itu.

Tangan Kuroro terangkat dan jari-jarinya menyentuh pipi Kurapika. Hangat. Jari-jari itu semakin melekat hingga pipi kiri Kurapika sepenuhnya berada di telapak tangan Kuroro. Dielusnya pipi itu perlahan. Halus. Bola mata biru Kurapika berada dalam satu garis dengan kedua bola mata hitam Kuroro. Tangan Kuroro seakan bergerak sendiri menarik pipi itu semakin dekat dengannya. Semakin dekat, semakin dekat... Dan...

Buk!

Sebuah buku menepuk dan menempel tepat di muka Kuroro.

"Kamu ngapain?" Tanya Kurapika yang memegang buku itu.

Kuroro mundur perlahan. Hampir tertawa dengan tingkah lakunya sendiri. Dikit lagi!

"Tidak ada," katanya sambil tertawa kecil. Tangannya mengelus-elus wajahnya yang kena pukul buku. Sekalian memastikan hidungnya masih mancung.

"Cabut, yuk." Ajaknya sambil beranjak berdiri dan mulai berjalan.

"Eh, tunggu!" Kurapika langsung berdiri dan menyusul Kuroro.

Sepertinya, teman kita yang super pintar ini memang lemotnya kebangetan untuk hal ini. Dalam kepalanya ia masih berpikir ngapain Kuroro mendekatkan wajahnya dengan wajah Kuroro. Akhirnya ia sampai pada paradigma bahwa dirinya dan Kuroro hampir...

Seketika wajahnya semerah kepiting. Langkahnya terhenti.

Kuroro sedang mengirim pesan melalui ponselnya ketika ia menoleh ke belakang dan melihat senseinya diam di tempat, hingga ia menghampirinya.

"Sensei? Ngapin diam di–"

DUAK!

"Auw!"

Refleks Kurapika memukul Kuroro lagi dengan buku di tangannya. Tapi kali ini, jelas lebih bertenaga dan menyakitkan.

"Sensei! Kok tiba-tiba mukul sih!"

"Tanya pada dirimu sendiri!"

Kurapika berjalan mendahului Kuroro. Dibiarkannya muridnya itu terheran-heran di belakang. Perasannya campur aduk. Bahkan dia tidak tahu lagi campurannya apa saja!


Trit ~ Trit ~ Trit ~

Shalnark merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya yang berdering. Satu pesan masuk.

"Dari siapa, senpai?" Tanya Shizuku.

"Ancaman pembunuhan," balas Shalnark sambil tertawa.

"Hah?"

From: Danchou Kuro

Berani macam-macam dengan adikku, kubunuh kau. Jaga dia baik-baik ya, bodoh.

XxX

Author Note:

Ehem. Sekarang ngaretnya ga kebangetan kan? Nggak nyampe sebulan, cuma tiga minggu doang. Nyehehe *nyengir #dibakarhiduphidup

Ngomong-ngomong, ngomong-ngomong, ngomong-ngomong, uda panjang belom? yihaaaa akhirnya setelah beberapa kali boros chapter, untuk chapter 10 wordsnya lebih dari 2000! padahal niatnya mau di pisah jadi dua chapter, tapi ga apa deh, sekali2 hemat. hahaha xD

balesan review! arigatou very much! xD

uchiha kurapika : lanjutkan! xD

KuroPika X : welcome ~ :)

dindaadsari : ehehe keliatan banget ya pendek ^_^

MikaShiki : uda 2000 lebih nih! ape looooo hahahah *banjir keringat*

aimiera : okeee :D

rin nara seasui : diusahain panjang2 lagi deh :D

no name : tadaaaa tu kuro kura nya xD

aika-san : emang gila ._. wohohoho. uda pernah diselipin sih, tapi di KHDS. ntar deh coba diselipin lagi yaa ^^

LucaBlightIsPuca : hisomachi nya ngantri dulu yaa :)

snowlady : jangan mati dulu! jangaaaaaaaan! *heboh*

besok UN SMA kan ya? Wah kacau, si Kuroro sama Shalnark kok malah asik2an dia pacaran (?) #ambigu

untuk kakak-kakak yang mau UN besok, selamat berjuang yaaa :D aku mendukung kalian dari sini!

UN SMP kapan ya? o_O tapi pokoknya, semuanya ganbatte neee! :DD

Kritikan/masukan? Klik review! ;)