REMAKE DYING EXHORTATION DOCUMENT
By Ifu Uchiha
Disclaimer : Masashi Khisimoto
Rate : T
Pair : SasuxNaru
Genre : Romance
Warning : YAOI, M-preg, Lime(?), OOC, Geje, Abal, typos berterbangan.
.
.
Chapter 10
.
.
Minggu ini adalah minggu tersibuk yang pernah dialami baik oleh Sasuke maupun Naruto. Sejak Mikoto dan Fugaku mengatakan jika pernikahan mereka dipercepat, tepat Hari Sabtu minggu ini.
Naruto masih ingat bagaimana teriakannya yang memekakkan telinga. Bahkan ia masih ingat jawaban Mikoto waktu itu. Dengan polosnya Mikoto berkata. "Kenapa? Apakah kurang cepat?" Naruto ingin sekali menjedukkan kepalanya ke tembok waktu itu.
"Tapi, Kaa-chan. Naru masih sekolah." Naruto mewek. Kyuubi sedang tidak ada di sini, jadi ia tidak bisa bermanja-manja dengan kakaknya dan mengadu pada Kyuubi agar membujuk Mikoto untuk tidak mempercepat pernikahannya dengan Sasuke.
Sebenarnya Naruto senang-senang saja karena akan menikah dengan Sasuke. Tapi, selain masalah sekolah yang ia pikirkan, ia punya masalah lain.
Malam pertama.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada malam pertamanya nanti. Ia tidak tahu seperti apa perasaan Sasuke padanya. Yang ia tahu Sasuke itu sama sekali tidak menyukainya. Bahkan, sekali lihat pun orang pasti tahu kalau mereka saling membenci.
Naruto terlalu takut membayangkannya. Karena itulah ia melayangkan protes ke arah Mikoto. Tapi sepertinya Mikoto tidak mengambil pusing pendapat Naruto.
"Kan bisa ditahan kalau mau melakukan 'itu'. Tapi kalau kalian mau melakukan itu malam harinya juga gak papa kok." Ujar Mikoto dengan santainya. Fugaku hanya memperhatikan interaksi istri dan calon menantunya itu.
Sasuke dan Itachi mendadak tersedak ludahnya sendiri. Sedangkan Naruto tampak bertanya-tanya apa maksud dari 'itu' nya Mikoto.
"Pokoknya kalian akan menikah Hari Sabtu nanti." Fugaku menyela dengan tegas. Tidak ingin mendengar debat lebih jauh dari ini. Lagipula keputusannya mutlak. Jadi tidak akan ada yang bisa membantah perkataannya.
"Tap-tapi Tou-..." Naruto ingin menyela. Tapi melihat death glare Fugaku, nyali Naruto menciut. Ia memilih mengangguk patuh seperti anjing daripada mati di tangan Fugaku.
"Tou-san, kenapa mendadak begini?" tanya Itachi. Ia memang tidak tahu detail rencana pernikahan Naruto dan Sasuke. Oleh karena itulah, hal semacam ini membuatnya penasaran. Sasuke pun tampaknya setuju ingin mendengar penjelasan ayahnya.
"Tidak ada maksud apapun. Pokoknya kalian akan menikah Hari Sabtu nanti. Tidak ada bantahan." Suara Fugaku yang tegas mengisi kekosongan. Itachi merasa tidak puas dengan jawaban ayahnya begitu pula Sasuke. Namun mereka sadar diri, bertanya pada Fugaku di saat seperti ini bukanlah hal yang baik.
"Naru-chan akan izin seminggu dari sekolahnya. Ia harus mempersiapkan acara pernikahan kalian nanti. Tentunya bersama dengan Sasuke." Lanjut Mikoto.
"Kaa-san. Bukankah satu minggu waktu yang sangat singkat?" tanya Sasuke. Bukan bermaksud kalau ia ingin memperlambat pernikahannya. Kan ia ada rasa sama Naruto, jadi pengen cepet-cepet nikahnya. Cuma, satu minggu untuk mempersiapkan sebuah pernikahan? Bukankah terlalu singkat.
"Tenang saja, Kaa-san dan Tou-san sudah menyiapkan hotel tempat resepsi, undangan, catering, dan keperluan lainnya. Kalian hanya perlu fiting baju saja." Jelas Mikoto. Itachi menganga mendengarnya. Ia tidak menyangka jika ibunya sudah menyiapkan hal ini semenjak lama.
"Ita-nii kenapa melongo seperti itu?" bisik Naruto ke arah Sasuke. Sasuke hanya mendengus. Tebakannya, Itachi tidak tahu apa-apa.
"Jangan tanya padaku." Balas Sasuke.
Naruto hanya diam. Kemudian menatap Mikoto dengan wajah memelasnya.
"Tapi, Naru belum siap Kaa-chan." Naruto mewek. Tidak tahu harus berbuat apa agar setidaknya pernikahannya dengan Sasuke ditunda sebulan lagi.
"Tidak bisa Naru-chan. Undangannya sudah disebar." Mikoto menolak secara tegas. Tatapan Naruto sangat berbahaya.
"Apa?! Sudah disebar?!" Naruto berseru kaget. Itachi pun tampak membelalakkan matanya. Pertanyaan yang ada di kepala Sasuke, Naruto dan Itachi adalah, siapa saja yang sudah menerima undangan?
"Kenapa kaget begitu?" kali ini Fugaku yang berbicara.
"Siapa saja yang sudah menerima undangannya?" tanay Itachi. Naruto dan Sasuke mengiyakkan.
"Tentu saja teman-teman Naru-chan, rekan kerja Sasuke, dan kolega Fugaku." Mikoto yang menjawab. Ia terkikik geli melihat wajah Sasuke dan Naruto yang melongo. Tampaknya Itachi sudah bisa menguasai dirinya sendiri.
"APA?!"
Naruto juga masih ingat bahwa ia berteriak paling keras saat itu. Hingga Sasuke dengan teganya menjitak kepala pirang Naruto. Itachi hanya bisa meringis saat Sasuke mengarahkan death glare nya ke arah Naruto. Semoga adik iparnya itu selamat.
Hari ini Naruto dan Sasuke baru saja selesai fiting baju pengantin. Awalnya Naruto ingin protes saat Mikoto mengatakan jika ia harus memakai gaun. Mikoto beralibi bahwa ini adalah permintaan mendiang ibunya dulu. Secara tidak langsung Mikoto telah mengancam Naruto. Naruto tidak bisa menolak jika sudah menyangkut ibunya. Membayangkan ibunya menangis di surga sana, Naruto tidak tega.
Sejak tadi ia tidak berhenti bertengkar dengan Sasuke. Pemuda itu cuek bebek saja menanggapi ocehan Naruto. Mereka mampir ke cafe untuk makan siang. Seperti biasa, Naruto memeras Sasuke dengan memesan banyak makanan. Pemuda emo itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Naruto.
Masih kekanakan.
"Dobe. Makan pelan-pelan. Nanti kau mati tersedak." Ujar Sasuke sok menasehati.
Naruto menelan kunyahannya. Meminum jus jeruk yang tadi ia pesan kemudian menatap Sasuke sewot.
"Secara tidak langsung, kau menyumpahiku mati Teme."
"Siapa juga yang mau menyumpahi orang bodoh sepertimu. Membuang-buang waktu saja." Balas Sasuke cuek. Meminum jus tomatnya tanpa merasa bersalah pada Naruto. Lihatlah pemuda pirang itu, wajahnya sudah memerah karena malu.
"Teme! Aku tidak bodoh." Seperti biasa, Naruto selalu membalas ejekan Sasuke.
"Ya, kau bodoh."
"Aku tidak bodoh."
"Ya, kau bodoh."
"Aku tidak bodoh, Teme!"
"Orang bodoh mana mau ngaku."
"Sudah berapa kali aku harus bilang. Aku tidak bodoh."
"Hn."
"Teme!"
Setelah membalas ejekan Sasuke untuk terakhir kalinya dan tidak berniat membalas lagi, Naruto melanjutkan acara makannya dengan brutal. Sedangkan Sasuke, entah sejak kapan, makan siangnya telah kandas.
.
.
.
Setelah acara makan siang di cafe itu, Naruto sudah ingin pulang. Sasuke menyetujuinya karena ia juga lelah. Mereka ada di cafe cukup lama karena Naruto kembali memesan banyak makanan. Dan butuh waktu untuk menghabiskannya.
Naruto kesal pada Sasuke karena lagi-lagi pemuda itu mengejeknya. Dengan wajah memerah Naruto keluar dari cafe diikuti Sasuke dibelakangnya. Tanpa memperhatikan jalan yang sedang ramai, Naruto menyebrang.
Mobil yang mereka tumpangi memang ada di seberang jalan. Karena cafe ini tidak menyediakan lapangan parkir. Daripada kena tilang polisi karena parkir sembarangan, Sasuke memilih memarkirkan mobilnya di seberang jalan. Agak jauh dari cafe, sehingga mereka perlu menyebrang untuk sampai ke mobil.
Sasuke yang melihat Naruto tidak fokus segera menyusul. Apalagi saat ia melihat ada mobil yang melintas di depan pemuda pirang itu. Dengan reflek yang bagus, Sasuke segera melingkarkan lengannya di pinggang Naruto dan menariknya menjauhi jalan raya.
Sasuke bernafas lega. Naruto tidak jadi tertabrak.
"Apa yang kau lakukan bodoh. Kau bisa mati!" seru Sasuke terdengar penuh kemarahan. Padahal terselip kekhawatiran di dalamnya. Tubuh Naruto bergetar. Sasuke bisa merasakan itu. Oleh karenanya, Sasuke segera membalikkan tubuh Naruto dan mendekapnya erat. Pemuda pirang itu terisak-isak di dadanya.
Sasuke mengelus kepala Naruto. Mendekatkan wajahnya ke telinga pemuda itu dan membisikkan kata-kata penenang. Mencoba menghibur Naruto.
"Ssstt... tidak apa-apa." Bisik Sasuke. Naruto yang mendengarnya balas mendekap Sasuke. Lengannya melingkar di leher Sasuke dan isakannya semakin keras.
"Sasu.. hisk..." Naruto mendekap Sasuke semakin erat. Menyembunyikan wajahnya di dada pemuda itu. Tinggi Naruto memang lebih pendek dari Sasuke. Hal itu memudahkan Sasuke untuk memeluknya.
"Kau aman sekarang." Sasuke berulang kali menenangkan Naruto. Tapi isakan pemuda itu tidak kunjung berhenti. Sasuke pun melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Naruto. Kemudian menuntunnya ke mobil. Sasuke mendudukkan Naruto di kursi penumpang sebelah kemudi. Sasuke segera masuk melalui sisi lainnya. Kemudian memasangkan safety belt Naruto. Pemuda itu masih terisak.
Sasuke tidak tega melihat Naruto se-syok ini.
Sasuke pun menagkup pipi Naruto. Mengelusnya. Menepis lelehan air mata yang membasahi pipi chubby itu.
Naruto terus saja terisak. Sasuke yang tidak ingin melihat tangisan itu segera membungkam bibir Naruto.
"Mmph-.." Naruto mendesah di sela-sela panggutan Sasuke. Matanya terbelalak lebar saat sadar bahwa Sasuke baru saja menciumnya. Lelehan air mata tidak lagi turun dari kedua iris shappire itu.
Sasuke, dengan lembut memanggut bibir Naruto. Menghisap bibir bawah dan atas pemuda pirang itu secara bergantian. Lidahnya sesekali terjulur untuk menjilat bibir Naruto. Menekan-nekannya agar bibir itu terbuka.
Naruto masih tidak merespon. Selain ia masih syok dengan kejadian tadi. Sasuke menambah ke-syok-annya dengan mencium Naruto. Pemuda itu tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Saat sadar Sasuke memindahkan tangan Naruto yang meremas kemejanya beralih melingkarkan lengan itu di leher Sasuke. Sementara pemuda raven itu memeluk pinggang Naruto semakin erat. Lidahnya berusaha masuk ke dalam mulut Naruto.
Karena tak kunjung membuka bibirnya, akhirnya Sasuke menggigit bibir Naruto hingga ada celah agar lidahnya bisa masuk.
"Hmmph!—Mpphh!—Nghmphh!" Naruto mendesah keras saat lidah Sasuke memasuki mulutnya. Berputar-putar dari atas ke bawah dan menjilati apa saja yang bisa diraihnya. Naruto mengeratkan pelukannya di leher Sasuke. Nafasnya tersendat-sendat. Akhirnya, Sasuke melepaskan ciumannya dengan Naruto. Kemudian beralih mengecupi leher bening si pirang.
Naruto melenguh. Berulang kali Sasuke mengecup, menjilat, dan mengigiti lehernya. Menimbulkan bercak merah terang yang tidak akan hilang dalam beberapa hari. Menyadari Naruto sudah berhenti menangis, Sasuke melepaskan hisapannya di leher Naruto dan beralis untuk memeluknya saja.
"Jangan menangis lagi, oke?!" bisik Sasuke di telinga Naruto. Wajah Naruto sudah sangat merah sekarang. Ia tidak tahu harus membalas seperti apa perbuatan Sasuke. Maka dari itu, Naruto hanya mengencangkan pelukannya.
Untuk beberapa menit, mereka masih berpelukan. Sampai Sasuke sadar bahwa pelukan Naruto mengendur. Ternyata Naruto tertidur, mungkin lelah menangis. Sasuke pun merebahkan tubuh Naruto agar senyaman mungkin bersandar di kursi.
Sasuke bisa merasakan wajahnya memanas. Ia baru saja mencium Naruto. Bahkan membubuhkan kissmarsk di leher calon istrinya itu. Memang, Naruto nanti akan sah menjadi istrinya yang artinya, Sasuke berhak melakukan apapun pada Naruto. Tapi apa jadinya, jika pemuda pirang itu mengamuk?
Mungkin sekarang tidak, karena pikiran Naruto tidak terfokus padanya. Tapi nanti? Sasuke berharap Naruto tidak akan mengingat apa-apa.
Berusaha menetralkan rona wajahnya, Sasuke menghidupkan mesin mobil dan mulai meninggalkan arena parkir itu.
.
.
.
Kyuubi kembali ke taman tempat ia bertemu dengan Pein. Pemuda bersurai orange yang nyaris sama dengannya itu membuat Kyuubi harus kembali teringat masa lalu. Masa lalu pahit yang ingin ia lupakan.
Kyuubi mendudukkan dirinya di kursi taman tempat ia kembali bertemu dengan Pein. Tapi ia tidak menyangka jika Pein juga mengunjungi taman itu lagi. Dan akhirnya mereka bertemu.
Pein mengajak Kyuubi ke cafe. Kyuubi tidak banyak membantah. Ia tahu, menolak Pein adalah kesalahan besar. Tapi Kyuubi terlanjur sakit hati.
Mereka duduk di cafe dekat taman. Cuacanya sedang cerah, tetapi hati Kyuubi terlihat mendung. Ia pura-pura sibuk mengotak-atik ponselnya. Siapa tahu ada e-mail dari Itachi.
"Kau mau apa Kyuu?" tanya Pein. Pemuda orange tersebut bersikap sangat lembut. Tapi, bagi kyuubi yang sudah tahu Pein luar dalam, tidak akan pernah jatuh ke lubang yang sama.
"Terserah!" balas Kyuubi ketus. Mood nya sangat buruk saat ini. Andai Itachi ada di sini. Mungking mood Kyuubi bisa naik.
"Mattaku.. tetap ketus seperti dulu."
Kyuubi memutuskan untuk tidak menjawab. Ia merasakan getaran yang berasal dari ponselnya. Ternyata ada e-mail dari Itachi. aura suram Kyuubi sedikit berkurang. Membuat Pein yang merasakannya menaikkan alis.
Hai Kyuu.
U kirim e-mail hnya utk blang gt?! Ck, keriput.
Gk boleh? :/
Sp yg nglarang?! :/
Ya.. sp tahu kan Kyuu. U kan grang. :P
Klo gk ad yg pnting gk usah kirim e-mail baka!
Pnting kok!
Klo gt gk usah bertele-tele keriput!
Naruto kyknya syok.
Syok?! Np sama Naruto?! *tear*
Gk usah nangis Kyuu. Dy pingsan. Sasuke bilang, tadi nyaris ketabrak.
Yang bener?!
Ya iyalah. Masak boong. U ada di mana? Kujemput.
Di cafe dket taman.
Oke *smirk* tunggu ya. XD
Kyuubi bingung dengar emot smirk di e-mail terakhir Itachi. karena terlalu asyik berkirim e-mail dengan pemuda raven itu. Ia mengabaikan Pein yang tampak marah karena ucapannya dari tadi tidak ditanggapi Kyuubi.
"Kamu kenapa sih Kyuu?! Dari tadi nyuekin aku." Tanya Pein.
"Bukan urusanmu." Balas Kyuubi ketus.
"Silahkan dinikmati." Ujar seorang pelayan wanita yang mengantarkan pesanan Pein. Kyuubi tidak memesan tadi, tapi ia yakin jika Pein memesankannya makanan.
"Ini pie apel mu Kyuu." Pein menyodorkan pie apel ke arah Kyuubi. Meskipun itu makanan kesukaannya karena mengandung apel. Tapi, Kyuubi sama sekali tidak berselera. Ia berdoa semoga Itachi segera datang.
Pein mulai menyantap makan siangnya. Ia memperhatikan Kyuubi yang tampak tidak berniat untuk memakan makan siangnya.
"Kenapa tidak dimakan?" tanya Pein.
"Aku tidak lapar!"
"Ayo dimakan Kyuu, nanti kamu sakit." Ujar Pein sok perhatian. Kyuubi mendecih. Mengingat pasti setiap penghianatan Pein padanya.
"Jangan sok perhatian."
"Aku kan masih sayang kamu Kyuu."
"Tapi aku nggak."
"Kenapa?!" tanya Pein dengan polosnya. Tidak menyadari Kyuubi yang ingin meledak. Pemuda itu dengan gamblang mengatakan kenapa setelah apa yang ia perbuat dulu pada Kyuubi. Bagaimana hal semacam itu mudah dimaafkan.
"Kau tanya kenapa?! Tanyakan pada dirimu sendiri. Aku pergi!" Kyuubi mendorong kursinya ke belakang. Hendak pergi saat ia mendengar suara 'cring' dari pintu cafe. Ternyata Itachi sudah datang. Ingatkan dia untuk berterima kasih pada Itachi nanti.
Itachi tampak kebingungan, matanya mengedar ke seluruh ruangan di kafe. Kemudian terpaku pada sosok Kyuubi yang sedang berdiri. Tersenyum tipis, Itachi menghampiri wanita orange itu.
"Kyuu." Panggilnya.
"Kita pergi Itachi." Kyuubi menlingkarkan lengannya di lengan Itachi. Memeluk lengan itu. Itachi tampak kebingungan namun senang lengannya dipeluk oleh Kyuubi.
"Tunggu Kyuu, siapa dia?!" Pein menyela. Tidak rela jika acara makan siangnya dengan Kyuubi diganggu oleh pria asing.
"Dia Itachi. Kekasihku. Dan tidak ada urusannya denganmu. Kita pergi, Itachi." Sahut Kyuubi dengan nada ketusnya.
Itachi tersentak. Tidak menyangka bahwa Kyuubi akan mengatakan hal semacam itu. Ia memandangi pemuda berambut orange dengan banyak piercing di wajahnya. Tidak mungkin jia pemuda ini adlaah pacarnya Kyuubi dan Kyuubi hendak membuatnya cemburu. Karena dari awal ia datang, Kyuubi bukannya bersikap menggoda malah berkata ketus padanya.
Jadi, otak jenius Itachi menyimpulkan jika pemuda itu ada hubungannya dengan masa lalu Kyuubi.
Itachi pun melepaskan rangkulan Kyuubi di lengannya. Kyuubi yang awalnya hendak memanfaatkan Itachi agar Pein tidak mengganggunya sekaligus modus memeluk Itachi merasa kecewa. Tapi sedetik kemudian kekecewaan itu memudar kala Itachi merangkulkan lengannya ke bahu milik Kyuubi.
"Ada masalah apa dengan kekasihku?" tanya Kyuubi dengan seringai angkuhnya. Kyuubi terpana. Tidak menyangka Itachi dengan gamblangnya mengiyakkan apa yang diucapkan Kyuubi tadi.
Pein hanya diam.
"Jika tidak ada urusan lagi. Kami permisi." Masih dengan merangkul bahu Kyuubi, Itachi menuntun wanita itu keluar dari Cafe. Meninggalkan Pein yang menatap kepergian Kyuubi.
"Kau milikku Kyuu. Baik sekarang ataupun nanti." Bisik Pein dengan aura mengancam.
.
.
.
Sasuke sempat panik tadi. Setelah mereka sampai di kediaman Uchiha, Sasuke yang menyangka bahwa Naruto sedang tidur seperti di mobil tadi. Tapi saat hendak menggendong Naruto, Sasuke merasakan nafas Naruto terputus. Pemuda itu sempat tidak bernafas.
Dengan panik yang berlebihan, Sasuke segera melakukan CPR. Tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Naruto. Ia berulang kali menekan dada Naruto dan memberikan nafas buatan. Hingga ia merasakan Naruto terbatuk-batuk. Pemuda itu terlihat sangat rapuh tadi.
Setelah nyakin Naruto telah sadar, Sasuke segera menggendongnya menuju kamar mereka. Merebahkan tubuh lemah Naruto di atas kasur.
"Sasu-hhh.." suara Naruto terdengar begitu lirih di telinga Sasuke.
"Sudah. Jangan bicara dan istirahat saja. Oke?!" ujar Sasuke lembut. Mengelus surai pirang Naruto. Sedangkan pemuda pirang itu kembali memejamkan matanya. Fisik dan batinnya lelah.
Setelah mengecup kening Naruto, Sasuke keluar dari kamar. Ia disambut oleh Mikoto yang berdiri di depan pintu.
"Ada apa dengan Naru-chan?!" tanya Mikoto khawatir. Naruto lebih dari sekedar menantunya. Wanita itu begitu sayang pada Naruto.
"Dia sedang tidur. Mungkin masih syok." Balas Sasuke.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Naruto nyaris tertabrak mobil. Tapi sudah tidak apa-apa Kaa-san."
"Benar sudah tidak apa-apa?"
"Ya. Tadi sempat berhenti bernafas. Tapi aku sudah memberi pertolongan pertama."
"Kalau begitu kamu tungguin Naru-chan ya."
"Ha'i. Tapi Kaa-san. Ambilkan kompres dan sebaskom air."
"Untuk apa?"
"Mengelap keringat Naruto. Dari tadi dia berkeringat dingin."
"Baiklah. Akan Kaa-san ambilkan." Kemudian Mikoto meninggalkan Sasuke yang kembali masuk ke kamarnya. Mengenggam telapak tangan Naruto yang terasa dingin.
'segera bangun Dobe.'
.
.
.
TBC
.
.
Huaaaaa! GOMEN! SasuNaru gak jadi nikah di chapter ini...
Jangan marah ya para readers... *Sujud-sujud mohon ampun*
Di sini juga ada SasuNaru kissing scene. Cukup gak untuk meredam amarah para readers?
.
.
Thanks buat yang masih berkenan baca and review fic ini. Ifu terharu hisk... #PLAK
Yah... meski entah mengapa reviewnya gak sebanyak dulu. Tapi gak papa. Inilah resikonya jadi Author.. ah... hatiku tersayat... #PLAK
Malam pertamanya SasuNaru? Rahasia... biarkan rumput yang bergoyang menjawab pertanyaan para readers #DUAG *Sok misterius lu Thor*
Ifu setuju. Fujoshi kayak kita-kita, tanpa rate M hidup terasa hampa... *Kayak apa ee...*
Kiba ama Shika?! Ah... Ifu males ngetiknya... soalnya Ifu fokus pair SasuNaru and ItaKyuu... gini aja udah ribet... gomen.
Naruto putus sekolah? Enggak lah... meskipun Naruto benci di rape sama Sasuke. Dia sadar kalo sekolah itu penting. Wkwkwk...
SuzyOnyx : yang mecum bukan Naru. Tapi Ifu.. Hihihi... XD
.
.
.
Oke...
Tinggalkan review.
Fic ini bakal discontinued kalo reviewnya macet!
.
.
Dadah... ^_^
