SWAN
.
By. Zahra Amelia
.
Rate : M
.
Length : Chaptered
.
Cast : Cho Kyuhyun x Lee Sungmin
Other Cast : Kim Ryeowook, Kim Jongwoon, Kim Bub Rae, Lee Sooman.
.
Genre : Romance/Hurt/Comfort
.
Disclaimer : KyuMin is Destiny
.
Warning : Boys Love, Yaoi, Absurd, Monotone story, Failed Romance, OOC,
OC, miss typo(s) etc
.
Chapter 9
.
Don't Like Don't Read
Happy Reading n enJOY!
.
.
.
Kyuhyun masih betah merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya. Sesekali dia mencium pucuk kepala pemuda manis yang lebih pendek darinya itu, menghirup aroma menyenangkan yang menguar dari helaian lembut milik pemuda itu. Wangi manis vanilla berbaur lembutnya bunga lavender. Dia terbiasa menghirup beragam wangi dari perfume mahal milik para wanita yang pernah dikencaninya, namun tidak ada yang mempunyai wangi yang begitu menggelitik dan menenangkan seperti wangi milik Sungmin. Membuatnya candu akan wangi alami milik pemuda manis dalam dekapannya ini.
Kyuhyun melonggarkan pelukannya, black diamondnya menatap Sungmin dalam. "Kau sudah makan, Ming?" suara bassnya mengalun lembut.
Sungmin menggelengkan kepalanya pelan. "Belum." Dia mendongak, penglihatannya disuguhi senyum tampan Kyuhyun, "Kau sendiri sudah makan, Kyuhyun?"
Wajah cantik bak Dewi Afrodit di hadapannya tampak datar. "Sama sepertimu. Aku mau mengajakmu makan di luar, kau mau?" jemari Kyuhyun mengelus lembut pipi sehalus pualam itu.
"Sebenarnya aku mau memasak tadi, sebelum seorang pria arogan datang, dan secara tiba-tiba menyerangku dengan buas," gumamnya kesal.
Tawa ringan terlontar dari mulut Kyuhyun. "Kau juga menikmatinya, sayang." Sebelah alisnya terangkat, "Kau yakin mau memasak? Kau tidak lelah?"
Sungmin memutar bola matanya malas. "Tidak, aku baik-baik saja."
"Kau yakin? Kita bisa memesan saja jika kau mau." Jemarinya memainkan helaian sewarna guguran daun mapple milik Sungmin.
"Kita akan mati kelaparan jika kau terus memelukku seperti ini." Sungmin tanpa sadar menggembungkan kedua pipinya.
Kyuhyun seketika terpesona, bibirnya kembali mengklaim bibir Sungmin, melumatnya singkat. "Manis dan lembut." Lidahnya membelai bibir mungil yang berwarna semakin pekat, "Seperti madu yang dihasilkan lebah. Begitu menggoda. Membuat ketagihan. Sulit untuk ditolak."
Sungmin terkesiap. Matanya mengerjap polos. Rona cantik menghiasi pipinya. Dadanya berdesir, menghentak kuat debar jantungnya.
Kyuhyun menebarkan senyum mempesonanya, berdiri dengan tenang di hadapan Sungmin. "Kalau begitu aku ingin mencoba masakanmu." Dengan enggan dia melepaskan pelukannya.
Rasa panas yang perlahan menjauh itu menyentak kesadaran Sungmin. "B-berhenti melakukannya, Kyuhyun!" ujarnya gugup, "atau aku berubah pikiran dan berniat untuk memasakmu!" dengusnya samar.
Salah satu sudut bibir Kyuhyun terangkat. "Aku siap kau makan mentah-mentah kapanpun kau mau. Kau tidak perlu repot-repot untuk memasakku," ucapnya menggoda.
Sungmin menatap Kyuhyun malas, berjalan dengan angkuh menuju lemari es, kemudian mengeluarkan beberapa bahan makanan dan sekaleng jus buah dari sana. Dia lebih memilih diam daripada memedulikan ucapan sarat akan godaan yang Kyuhyun lontarkan untuknya.
'Dasar perayu ulung. Dia pikir aku pria murahan dan semudah itu bisa termakan ucapannya. Dia memang pintar sekali memanipulasi pikiran wanita-wanita bodoh di luar sana agar mengikuti semua keinginannya, dan tentu saja semuanya berakhir di atas ranjang. Memakannya dia bilang, ck... yang benar saja!' maki Sungmin dalam hati.
Kyuhyun tersenyum geli mendapati tingkah Sungmin. Menggoda Sungmin terasa begitu menyenangkan, meski seringkali pemuda manis itu memilih untuk mengabaikannya. Sungmin memang bukan seorang wanita yang akan luluh dan bertingkah malu-malu begitu mendengar rayuannya. Namun, tetap saja sifat jahilnya tanpa sengaja akan menyeruak keluar begitu berhadapan dengan Sungmin.
Sungmin menyerahkan sekaleng jus buah itu kepada Kyuhyun, setelah meletakan bahan makanannya di atas konter dapur. "Minumlah, kau pasti haus. Sebaiknya kau tunggu aku di meja makan atau di ruang tamu, nanti aku akan memanggilmu jika makanannya sudah matang."
Kyuhyun lebih memilih menyandarkan tubuh tinggi tegapnya di konter dapur. "Aku ingin melihatmu memasak, Ming." Dia membuka tutup kaleng jus buah itu lalu meneguk isinya perlahan.
"Terserah kau saja, asal diam di situ dan jangan mengganguku!" ucap Sungmin datar, namun tersirat ketegasan dalam nada suaranya.
Kyuhyun mengangkat bahunya dan memilih kembali meneguk jus buahnya.
Aroma harum sup perlahan menyeruak ke seluruh dapur. Sungmin terlihat fokus dengan masakannya, sebisa mungkin mengabaikan tatapan tajam yang Kyuhyun layangkan disetiap gerak-gerik tubuhnya. Tangan Sungmin begitu lihai memotong wortel menjadi potongan dadu kecil. Dia bahkan tidak menyadari jika Kyuhyun kini berdiri dekat di belakangnya.
"Baunya enak sekali. Kau sedang memasak apa?" tanya Kyuhyun sambil menengok ke arah panci.
Suara itu terdengar begitu tiba-tiba dan mengejutkan Sungmin. "Astaga!" Sungmin seketika menoleh dan menatap Kyuhyun tajam, "Aku bilang jangan mengangguku, Kyuhyun!" untung saja dia sudah selesai memotong wortelnya, jika tidak... mungkin jarinya bisa terpotong tadi. Sungmin bergidik ngeri membayangkannya.
"Aku hanya penasaran," ucap Kyuhyun, dia merasa tertarik melihat masakan yang Sungmin buat.
Helaan nafas pelan terdengar dari mulut Sungmin, dia bisa melihat rasa penasaran dari raut wajah pria itu. Ekspresi Kyuhyun seperti anak kecil yang baru menemukan sesuatu yang belum pernah dia temui sebelumnya. Dia tidak menyangka ekspresi semacam itu bisa terlukis di wajah aristokrat Kyuhyun.
"Aku hanya memasak cream soup, aku harap kau menyukainya." Raut wajah Sungmin melembut.
"Ah, cream soup ternyata! Kelihatannya enak. Aku jadi tidak sabar ingin mencobanya," gumam Kyuhyun, antusiasme begitu kentara di dalam suaranya.
Sungmin mengambil sendok bersih, kemudian mengambil sedikit sup dari panci. Meniupnya pelan, sebelum menyodorkannya kepada Kyuhyun. "Cobalah."
Kyuhyun dengan senang hati menerima suapan itu.
"Bagaimana?" tanya Sungmin penasaran.
"Enak," ujar Kyuhyun tulus. Dia tak menyangka jika Sungmin pintar memasak.
Sungmin hanya tersenyum tipis, sebelum kembali mengaduk supnya perlahan. Kyuhyun masih betah berdiri di belakangnya, terpaan nafas hangat milik pria itu bahkan terasa di puncak kepalanya. Membuyarkan fokusnya.
"Kau sebaiknya tunggu aku di meja makan. Supnya sebentar lagi matang." Sungmin berhenti mengaduk dan menutup panci tersebut. Dia mencoba bersikap sewajar mungkin.
Kyuhyun mengabaikan ucapan Sungmin, dia meletakan tangannya di pinggang Sungmin, mencengkramnya lembut, kemudian melingkarkannya perlahan, dia menarik tubuh Sungmin lebih dekat ke tubuhnya. Kyuhyun menurunkan kepalanya ke leher Sungmin, kemudian mengecup leher Sungmin dari samping, kecupan itu selembut butiran salju namun terasa panas layaknya bara api, membuat tubuh Sungmin seketika meremang dengan aliran darah yang memompa cepat ke seluruh tubuhnya.
Kyuhyun melanjutkan jelajahannya, bibirnya perlahan naik ke atas, menggigit daun telinga Sungmin lembut. "Baiklah, aku tunggu di meja makan ya," bisiknya pelan, sebelum melepaskan pelukannya dan meninggalkan Sungmin yang masih terpaku di tempatnya.
.
.
.
Sungmin sesekali melirik ke arah Kyuhyun, pria di hadapannya terlihat begitu menikmati makanannya, meski gaya elegannya tidak menghilang ketika dia sedang makan sekalipun.
"Ada apa?" Kyuhyun menghentikan suapannya. Dia sadar sedari tadi Sungmin mencuri pandang ke arahnya.
"Eh... tidak apa-apa." Sungmin mengerjapkan matanya, "Kau menyukai masakanku?"
"Tentu, aku sudah bilang 'kan jika masakanmu enak. Aku tidak menyangka kau bisa membuat makanan seenak ini." Kyuhyun tersenyum lembut sambil menatap Sungmin.
Setitik rasa hangat menelusup ke relung hati Sungmin. "Bagaimanapun kita baru mengenal sehingga aku tidak tau seperti apa seleramu. Tapi, aku senang jika ternyata kau menyukainya." Senyum manis terulas di bibir mungilnya.
Kyuhyun kembali terpana, sejenak terjerat dengan senyum yang Sungmin berikan untuknya. "Kau indah, Ming," gumamnya lirih.
"Huh?" Sungmin mengerutkan dahinya, "kau mengatakan apa tadi?"
"Aku bilang kau indah. Benar-benar indah." Kyuhyun menatap Sungmin sungguh-sungguh.
Rasa hangat nyaris seketika mengaliri tubuh Sungmin, kemudian berkumpul membentuk rona sewarana mawar merah jambu di pipi berisinya. Kyuhyun jauh lebih baik menggodanya dengan rayuannya, dibandingkan dengan ucapan sederhana yang terdengar tulus dan diiringi tatapan lembut yang menghanyutkan. Namun, tak bisa Sungmin pungkiri jika Kyuhyun dengan sikap lembutnya mampu membuatnya merasa nyaman dibanding Kyuhyun yang biasanya, keras kepala dan arogan.
Sungmin menunudukan kepalanya. "Terima kasih."
Senyum tulus terukir di bibir Kyuhyun. "Sama-sama. Terima kasih juga untuk makan malamnya."
"Hmm..." gumam Sungmin singkat, sebelum dengan anggun meminum air putih di hadapannya.
"Aku boleh menginap malam ini?" dengan santai Kyuhyun bertanya kepada Sungmin.
Sungmin nyaris tersedak minumannya ketika mendengar pertanyaan Kyuhyun. "Apa?" dia terkesiap dengan mata membelalak.
Kyuhyun tersenyum miring melihat ekspresi Sungmin. "Apa aku boleh menginap malam ini?" ulangnya kemudian.
"Apartmentku bukan panti sosial, Kyuhyun." Sungmin terdiam sejenak, "lagi pula, aku belum membereskan kamar tamu."
Senyum menggoda terlukis di bibir penuh Kyuhyun. "Baguslah, aku juga tidak mau tidur sendirian di kamar tamu."
"Bukan itu maksudku," ujar Sungmin ketus.
"Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak menginginkannya. Aku hanya terlalu lelah untuk kembali ke apartmentku. Jadi kau tidak perlu khawatir aku akan menyerangmu ketika kau tidur nanti." Matanya mengerjap angkuh.
"Kau yakin?" tanya Sungmin ragu.
Kyuhyun mengerutkan keningnya. "Hey, kau pikir aku seberengsek itu?"
Sungmin mengangkat bahunya acuh. "Hanya berjaga-jaga. Lagi pula, isi hati orang siapa yang tahu."
"Kau benar, kita tak akan bisa menebak apa sebenarnya yang ada di hati dan pikiran orang lain." Kyuhyun meneguk air putihnya dan menatap Sungmin penuh arti.
.
.
.
Dengan santai Kim Bub Rae berdiri lalu menuang cairan merah pekat itu ke dalam gelas Burgundy yang tengah dipegang oleh sosok di hadapannya, sebelum menuangkan cairan merah pekat itu ke gelasnya sendiri.
"Terima kasih karena anda mau repot-repot datang memenuhi undanganku, Sooman-ssi," ucap Bub Rae, setelah kembali duduk di kursinya.
"Sama-sama, Bub Rae-ssi. Terima kasih juga untuk jamuannya."
Kim Bub Rae tertawa pelan. "Sama-sama, Sooman-ssi. Tidak perlu sesungkan itu padaku. Lagi pula, sudah lama kita tak bertemu."
Sooman ikut tertawa. "Anda terlalu sibuk mengelilingi dunia, Bub Rae-ssi."
"Dan anda terlalu sibuk mengenalkan Korea Selatan ke seluruh dunia, Sooman-ssi."
Suara gelak tawa terlontar dari mulut keduanya, merambat melalui ruang hampa hingga mengisi ke setiap sudut ruangan itu. Menggantikan keheningan yang semula merajai.
"Jadi, hal penting apa yang ingin anda bicarakan kepada saya?" Sooman memfokuskan pandangannya ke sosok di hadapannya.
Kim Bub Rae tersenyum, sudah cukup acara basa-basinya. "Dalam waktu dekat ini saya berencana akan kembali menggarap sebuah drama musical, dan saya sangat berharap salah satu artis anda bersedia memerankannya nanti."
"Memangnya siapa yang anda inginkan?" tanya Sooman heran.
"Lee Sungmin," jawabnya cepat.
"Ah, Lee Sungmin!" Sooman menyesap red winenya perlahan, pandangannya menerawang, "Saya tidak bisa menjanjikan apapun kepada anda jika menyangkut anak itu."
Bub Rae menatap serius sosok di hadapannya. "Anda terlihat begitu mengistimewakan Lee Sungmin."
'Karena aku sudah berjanji pada seseorang untuk menjaga anak itu.' Bathin Sooman.
Sooman menghedikan bahunya. "Dia salah satu aset berharga milik perusahaan, wajar bukan jika saya mengistimewakannya," ujarnya diplomatis.
"Tentu, saya bisa melihat kemampuannya. Itulah sebabnya mengapa saya merasa dialah yang paling pantas untuk memerankan tokoh utama dalam musical yang hendak saya garap." Bub Rae menatap Sooman lekat.
Sooman tersenyum tipis. "Saya akan mencoba membujuknya agar menerima tawaran yang anda berikan. Namun, jika dia bersikeras menolak maka saya sama sekali tidak bisa membantu anda. Sebaiknya anda cari aktor lain, masih banyak aktor di luar sana yang kemampuannya melebihi Sungmin."
"Ya, memang masih banyak yang melebihi kemampuannya. Namun, saya sangat berharap Lee Sungmin tidak menolak tawaran saya kali ini." Bub Rae memutar gelas Burgundynya pelan.
"Saya juga berharap demikian. Akan sangat menguntungkan jika anak itu bisa bekerja sama dengan orang sehebat anda, Bub Rae-ssi."
"Anda terlalu berlebihan, Sooman-ssi."
"Tentu saja tidak." Sooman melirik jam tangannya sejenak, "Ah! Maaf, saya sepertinya harus segera pamit, Bub Rae-ssi."
Kim Bub Rae bangkit dari kursinya. "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena anda mau meluangkan waktu anda untuk bertemu dengan saya. Semoga lain kali kita bisa bertukar pikiran lebih lama, Sooman-ssi," ucapnya sambil tersenyum tulus.
"Saya juga mengucapkan terima kasih untuk jamuannya. Saya sangat menunggu saat-saat seperti itu. Senang bertemu dengan anda, Bub Rae-ssi." Sooman ikut berdiri kemudian balas tersenyum, dia membungkuk sekilas, sebelum pergi dari sana. Meninggalkan Kim Bub Rae yang kembali duduk merenung sambil menatap cairan merah pekat di tangannya.
.
.
.
Sungmin masih bisa merasakan rasa hangat yang tertinggal di kening serta kedua kelopak matanya. Sebelum terlelap tadi Kyuhyun menciumnya di sana, begitu lembut dan hangat. Dia mencoba kembali memejamkan matanya, menghela nafas dalam, berusaha menetralkan detak jantungnya. Ini pertama kalinya dia tidur dengan seseorang dalam keadaan yang cukup intim. Awalnya dia merasa tidak nyaman, meski Kyuhyun benar-benar memegang ucapannya. Pria itu kini sudah tertidur lelap, sepertinya Kyuhyun memang benar-benar kelelahan. Lengan milik Kyuhyun merengkuh pinggangnya dari belakang, dia bahkan bisa merasakan desah nafas hangat milik pria itu menerpa tengkuknya.
Sungmin membuka matanya perlahan kemudian dengan gerakan teramat pelan dia memutar posisi tubuhnya menghadap Kyuhyun, dia tidak mau mengganggu tidur pria itu. Dia memandang lekat wajah terlelap Kyuhyun yang tampak polos, terlihat kekanak-kanakan dan menenangkan, namun semua itu tak sedikitpun mengurangi kadar ketampanan pria itu.
"Tampan."
Dari jarak sedekat ini Sungmin bisa melihat dengan jelas pahatan sempurna milik Kyuhyun, dari alis tegas, bulu mata lentik, hidung bangir, hingga bibir penuh dan rahang yang cukup tegas. Jemarinya dengan hati-hati mengelus pipi itu lembut, merasakan kehangatan yang tiba-tiba mengalir ke seluruh tubuhnya ketika jemarinya bersentuhan dengan kulit putih pucat itu. Setiap jengkal pahatan yang membentuk wajah Kyuhyun membuatnya kagum. Desah nafas mereka terasa menyatu. Sungmin kembali terpesona. Dia terjerat dan tak akan bisa melarikan diri.
"Pantas saja banyak yang terjatuh dalam pesonamu."
Sungmin memandang Kyuhyun sendu. "Jika aku yang terjatuh lebih dulu, bersediakah kau menangkapku?" gumamnya lirih.
"Aku tidak mau terjatuh sendirian." Sungmin memejamkan matanya lalu meringkuk ke dalam pelukan Kyuhyun, "Aku takut, Kyuhyun. Aku takut tak sanggup berdiri lagi."
Sungmin menarik nafas panjang, sebelum perlahan terlelap menyusul Kyuhyun, hingga tak menyadari satu tetes liquid bening perlahan jatuh mengotori pipi sehalus pualam miliknya.
.
.
.
Kim Jongwoon melirik sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukan tepat pukul sebelas malam. Dia menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya. Semua berkas laporan milik pasiennya telah selesai dia pelajari, dia memang memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, setelah takdir secara tak sengaja mempertemukannya dengan Cho Kyuhyun.
"Kenapa rasanya lelah sekali?"
Jongwoon menyandarkan tubuh lelahnya ke kursi, kepalanya mendongak, menatap langit-langit ruang kerja miliknya, meski kedua manik mata kelam itu kini telah tertutup sempurna. Dia membutuhkan tempat untuk melarikan diri, dan ruangan yang saat ini dia tempati adalah satu-satunya pilihan yang paling tepat untuk saat ini.
"Benar-benar melelahkan."
Tubuh Jongwoon tersentak kaget ketika mendengar suara nyaring yang berasal dari handphonenya. Sebuah pesan masuk dari kekasihnya, Kim Ryeowook. Dia menatap nanar layar handphonenya, sebelum membuka dan membalas pesan yang Ryeowook tujukan untuknya.
"Bisakah waktu berhenti sejenak?"
Jongwoon menghela nafas dalam, kemudian beranjak dari kursinya menuju westafel. Dia menyalakan kran westafel, sebelum membasuh mukanya perlahan. Senyum sinis terukir di bibirnya ketika melihat pantulan dirinya sendiri di cermin yang berada tepat di hadapannya. Pantulan itu seolah tengah mengejek dirinya. Benaknya menggelap, manik matanya berkilat tajam. Wajahnya sebeku danau di musim dingin.
"Pecundang," ucapnya tak kalah sinis.
Pegangan tangannya pada westafel mengerat, dia kembali menutup kedua kelopak matanya, mencoba menetralisir segala bentuk emosi yang tengah berkecamuk dibenaknya. Dan ketika tubuhnya perlahan tenang, dia memutuskan untuk segera angkat kaki dari ruangannya. Meninggalkan segalanya di belakang sana. Menutupnya rapat-rapat.
.
.
.
Kyuhyun terbangun ketika merasakan sinar hangat matahari pagi menerpanya, dia menautkan alisnya, kemudian membuka kedua kelopak matanya perlahan. Sinar matahari memang sudah mengintip malu-malu dari balik gorden. Senyum lembut terpatri di bibir penuhnya ketika mendapati Sungmin yang masih terlelap di sampingnya. Hela nafas hangat milik pemuda manis itu terasa teratur menerpa permukaan wajahnya. Wajah Sungmin tampak semakin bersinar diterpa cahaya matahari pagi. Dia tak bisa memalingkan pandangannya, jatuh terperosok ke dalam indahnya paras milik Sungmin. Dan sebuah perasaan asing perlahan menelusup ke hatinya.
Dahi Kyuhyun mengernyit, terlalu lama memandang wajah tidur Sungmin membuatnya merasa aneh. Dengan gerakan selembut mungkin Kyuhyun perlahan bangkit dari tidurnya. Dia harus bergegas ke apartmentnya, salahkan meeting mendadak pagi ini dan tentu saja berkas penting yang harus dia bawa masih tersimpan rapi di dalam ruang kerja di apartmentnya.
Kecupan sehangat cahaya mentari pagi mendarat di kening Sungmin. "Selamat pagi, sayang," bisiknya lembut, sebelum kedua kakinya menginjak dinginnya lantai dan perlahan melangkah menuju kamar mandi.
.
.
.
Sungmin menggeliatkan tubuhnya pelan, sebelum membuka foxy eyesnya perlahan. Alisnya bertaut heran ketika mendapati dirinya terbaring sendirian di atas ranjang. Dia mendudukan dirinya, mengedarkan pandangannya, dan bersandar dengan nyaman di headboard.
"Pergi ke mana pria itu?" gumamnya lirih, "Semalam itu bukan mimpi, kan?" matanya kembali terpejam.
"Kau sudah bangun?"
Sapaan itu begitu mengejutkan, menembus kesadarannya yang masih terselimuti kabut, hingga manik mata itu kembali terbuka sempurna. Matanya langsung bertatapan dengan Kyuhyun yang masih mengenakan bathrobenya.
"Kau sudah mau pergi?" Sungmin melirik seklias jam di dinding kamarnya, "Sudah hampir pukul setengah tujuh pagi ternyata."
Senyum menawan terlukis di wajah Kyuhyun. "Aku harus menghadiri meeting pagi ini. Tidurmu terlihat nyenyak sekali, aku jadi tidak tega membangunkanmu."
Sungmin perlahan bangkit dan berjalan dengan tenang ke arah lemari. "Aku rasa setelan ini muat untukmu." Dia melangkah ke arah Kyuhyun, "Gantilah setelanmu dengan ini, yang kemarin biar nanti aku kirim ke laundry," ucapnya sambil menyodorkan satu setel jas kepada Kyuhyun.
Kyuhyun tersenyum tipis, manik matanya menatap Sungmin dalam. "Terima kasih, sayang." Tangannya terulur guna mengelus pipi lembut itu pelan.
Sungmin tersenyum manis. "Sama-sama. Aku akan membuat sarapan untukmu."
"Tidak usah, Ming. Aku harus kembali ke apartmentku. Ada berkas yang harus aku ambil di sana," gumamnya lembut.
"Hanya roti dengan selai dan segelas susu hangat. Aku tidak mau kau sampai melupakan sarapanmu."
"Tapi..." ucapan Kyuhyun terhenti ketika Sungmin tiba-tiba memotongnya.
"Akan aku buat bekal kalau begitu. Tapi kau berjanji harus memakannya nanti. Tunggulah sebentar saja sambil kau memakai bajumu. Tidak ada penolakan! Atau kita semakin membuang waktu dengan percuma." Sungmin berujar dengan tegas.
Dada Kyuhyun seketika terasa hangat. "Baiklah, Nyonya Cho."
Sungmin menatap Kyuhyun kesal. "Aku seorang pria, Tuan Cho," ucapnya sebelum meninggalkan Kyuhyun. Tidak cukupkah semalam Kyuhyun membuat detak jantungnya berpacu.
Kyuhyun tengah merapikan penampilannya ketika pintu kamar milik Sungmin terbuka. Mematut tubuhnya di depan cermin. Sungmin membawa satu kotak bekal dengan segelas susu putih.
"Minumlah selagi hangat." Sungmin menatap Kyuhyun, pria itu terlihat elegan dengan setelan kemeja milik Leeteuk yang sengaja pemiliknya tinggalkan di sini.
Kyuhyun menerima segelas susu itu dan meneguknya perlahan. "Wangi dan rasanya enak, kau benar-benar seorang suami idaman."
Rona merah jambu menodai pipi Sungmin. "Aku menambahkan bubuk kayu manis di dalamnya. Cha... ini bekal untukmu, jangan lupa untuk memakannya." Kedua tangannya terulur merapikan dasi di leher Kyuhyun, setelah Kyuhyun menerima bekalnya. "Kau sudah benar-benar rapi sekarang."
Kyuhyun kembali meminum susunya, sebelum dia meletakan gelas yang telah kosong beserta kotak bekal itu ke atas meja rias.
Kedua tangan Kyuhyun melingkar di pinggang Sungmin dan dengan gesit sebelah tangannya meraih tengkuk Sungmin, kemudian mencium bibir mungil itu. Menyapa untuk yang kesekian kali belahan menggoda itu.
Sungmin terbelalak karena gerakan tiba-tiba yang Kyuhyun lakukan, sebelum kedua kelopak matanya menutup perlahan. Tangan Kyuhyun yang mengelus tengkuk dan punggungnya pelan membuatnya merasa nyaman, hingga perlahan dia kembali terbuai. Mengikuti alur permaianan yang Kyuhyun buat.
Kyuhyun menggerakan bibirnya sensual. Ketika bibir yang berada dalam kuasanya perlahan terbuka, dengan lembut dia menyalurkan cairan putih pekat yang sengaja dia sisakan di dalam mulutnya ke dalam mulut Sungmin. Membaginya kepada pemuda manis dalam dekapannya.
Sungmin perlahan menyesap cairan berwarna putih pekat itu, bibir dan lidahnya ikut bergerak sesuai ritme yang Kyuhyun buat. Dia melenguh pelan, rasa manis khas susu melebur dengan kenyalnya bibir Kyuhyun. Sungmin seketika kehilangan akal sehatnya. Seluruh sendi di tubuhnya melemah. Tubuhnya bertumpu sepenuhnya kepada Kyuhyun.
Lengan Kyuhyun merengkuh tubuh Sungmin kuat. Bibirnya terus menjajah bibir Sungmin, lidahnya terus bergerliya di dalam mulut Sungmin. Lenguhan pelan lolos dari mulutnya. Dia benar-benar ketagihan. Tubuhnya seolah candu akan rasa yang ditawarkan oleh mulut Sungmin. Terus bergerak seirama. Saling memagut dan melumat hingga dia merasakan pemuda manis dalam dekapannya berontak lemah, nyaris kehabisan oksigen. Dengan enggan dia melepaskan tautan bibirnya. Benang tipis saliva terlihat menghubungkan kedua bibir mereka.
Desah nafas keduanya memburu. Detak jantung keduanya menghentak liar. Tubuh keduanya masih menempel erat.
Kyuhyun perlahan membuka kelopak matanya. Seketika terpaku akan sosok di hadapannya. Matanya yang masih terutup, helaian gold yang berantakan, bibir basah sewarna buah apel, pipi merona cantik. Dan ketika kedua kelopak itu terbuka, manik mata sewarna seduhan daun teh itu menatapnya sayu. Begitu menjerat, namun tak tersentuh.
"Kau juga jangan lupa sarapan," ucapnya parau, jemarinya menyeka saliva yang tertinggal di bibir Sungmin.
"Hmm..." gumamnya singkat.
"Aku terlihat kacau, dan itu karena kau." Kyuhyun melepasakan pelukannya.
"Kau yang menyerangku, Tuan Cho." Tangan Sungmin perlahan merapikan helaian milik Kyuhyun.
Kyuhyun terkekeh pelan. "Kau terlalu menggoda."
"Kau akan benar-benar terlambat jika kau tidak bergegas, Kyuhyun."
"Ah! Kau benar. Sebaiknya aku bergegas pergi, sebelum aku berbuat lebih kepadamu." Dia mengambil bekal, kemudian dompet dan handphonenya di atas nakas, lalu menyusul Sungmin yang sudah lebih dulu keluar kamar. Tidak memedulikan ucapannya barusan.
"Hati-hati di jalan!" Sungmin berdiri di depan pintu yang telah terbuka.
"Tunggu sebentar!" Kyuhyun mengeluarkan isi dompetnya, "Ini kunci cadangan kamar milikku, simpanlah. Passwordnya 880203." Dia menyodorkan sebuah key cards berwarna kuning keemasan kepada Sungmin.
"Tapi... Kyuhyun, kau yakin?" tanya Sungmin ragu.
"Kau orang pertama, Ming. Orang asing pertama yang masuk ke apartmentku, orang pertama yang tidur di atas ranjangku, orang pertama yang membuatku sangat bergairah." Kyuhyun menatap Sungmin dalam, "Aku menyukaimu dan aku serius soal itu. Aku harap kau mempercayaiku."
"Aku percaya padamu, tapi aku tidak mempercayai sesuatu dibalik celanamu. Aku harap kau gunakan sabukmu dengan benar saat bersamaku." Tawa ringan terlontar dari mulut Sungmin.
"Aku bahkan sudah lama tidak melakukan seks karena terlalu menginginkanmu." Tatapan Kyuhyun berubah tajam, ada kilatan gairah di dalamnya.
Rasa panas nyaris seketika merambati punggung Sungmin. "S-sebaiknya kau segera berangkat, kau tidak mau terlambat, bukan?"
Kyuhyun mengangkat bahu. "Aku pergi dulu, jangan terlalu lelah, aku tidak mau kau sampai jatuh sakit." Dia mencium kening Sungmin hangat, sebelum melangkahkan kakinya.
"Tunggu! Ini key cards miliku, dan passwordnya 1307137."
Senyum tampan tercetak di wajah Kyuhyun, ada binar kebahagian di manik matanya. "Aku pergi dulu. Ah! Jangan lupa sarapan nanti."
"Hati-hati di jalan!" Sungmin mengecup pipi Kyuhyun seklilas.
Kyuhyun terperangah, senyum lebar menghiasi wajahnya, dia mengangguk penuh semangat, sebelum meninggalkan Sungmin dengan wajah merona merah.
Sungmin menutup pintu apartmentnya, dia menyandarkan tubuhnya pada daun pintu.
"Astaga, aku seperti gadis remaja yang tengah jatuh cinta! Ck, sungguh memalukan." Kedua tangannya menutupi wajah cantiknya yang terlihat semakin cantik bak bunga mawar merah.
Indah namun berduri.
Memikat dan berbahaya.
.
.
.
Sungmin kini tengah berada di dalam ruangan CEO S.M. Entertaiment, Lee Sooman. Setelah Kyuhyun pergi, Leeteuk menghubunginya, mengabarkan bahwa dia diminta untuk menghadap secara langsung ke pria paling berkuasa di dunia hiburan Korea Selatan ini. Pria yang dia hormati itu duduk tenang di atas sofa hitam mengkilap sambil menghirup nikmat kopinya.
"Bagaimana kabarmu, Sungmin-ssi?" Sooman meletakan cangkir putih gading itu ke atas meja.
"Aku baik-baik saja, sajangnim. Saya harap sajangnimpun demikian." Sungmin tersenyum tipis sambil menatap serius pria paruh baya di hadapannya.
"Syukurlah. Seperti yang kau lihat, aku masih sanggup menangani agensi ini dengan tanganku sendiri," ucapnya tenang, namun penuh dengan wibawa.
"Anda yang terbaik, sajangnim. Jadi, ada hal penting apa yang hendak sajangnim bicarakan dengan saya?"
Sooman bangkit dari duduknya, berjalan ke arah meja kerjanya. "Ada tawaran drama musical untukmu." Dia kembali duduk di sofa, kemudian menyerahkan sebuah map kepada Sungmin.
Sungmin menerima map itu, membukanya perlahan, lembar pertama bertulisakan sebuah kata yang di cetak tebal 'SWAN'. Jemarinya kemudian membuka lembar berikutnya, dia membaca kata per kata yang tertulis di sana.
Sungmin menatap pria di hadapannya. "S-sajangnim ini..." suaranya bergetar, wajahnya mendadak pias, tangannya gemetar dengan keringat dingin yang perlahan membasahi tubuhnya.
Tidak! Tidak mungkin!
Ya Tuhan! Apa yang harus dia lakukan? Kenapa semuanya kembali mengejarnya?
Dia lelah. Sungguh lelah.
.
.
.
TBC
Annyeong, Alhamdulillah meski sedang dalam keadaan yang kurang baik saya bisa menyelesaikan chap ini. Maaf jika masih banyak kekurangan dan typo. ^^
Kyuhyun dan Sungmin mencoba untuk saling mempercayai, akhirnya saya bisa membuat mereka seperti pasangan normal(?) pada umumnya.
Bagi yang mempunyai akun saya sudah balas, silakan cek PM ^^
Bagi yang mereview drabble saya dan ff kolab saya bersama Litta saya ucapkan banyak terima kasih. ^^
Banyak yang dukung Sungmin, tapi kenapa tidak ada yang mendukung saya dengan Sungmin #KyuhyunLemparPSP
Sissy : Iya Kyu maen nyosor aja kekekeke, makasih untuk reviewnya yah ^^
Adelia Santi : Iya makasih nunna buat masukannya, udah aku perbaiki ko. Hot yah O.O, aku aja gemetaran ko pas buatnya. Kalo marah Sungmin bakalan disekap nun #Plakkk. Makasih buat reviewnya yah nun ^^
Puspita Lee : dasar si ade pervert kekekeke. Andweee bunda Cuma mau dicium sama Sungmin XD
makasih yah de buat reviewnya ^^
endah . kyumin137 : Itulah Cho Kyuhyun, dia tidak suka apa yang jadi milik dia dilirik sama yang lain XD. Kalo sampe cinta gimana hayo? Kekekeke. Hot yah asdfghjkl O.O. Makasih buat reviewnya yah de ^^
5351 : Iya Kyu cemburu tuh, katanya tertarik tapi segitunya XD. Makasih yah buat reviewnya ^^
anakyumin : Iya pelan-pelan Kyu udah mulai lebih dari sekedar tertarik. Makasih yah buat reviewnya ^^
AWDJoy13 : Itu Kyu lagi nyium Min kekekeke. Iya sabar yah semua ada porsinya chinggu. Makasih yah buat reviewnya ^^
Chikyumin : Beneren hot yah , iya biar Kyu kapok #plakk. Makasih yah buat reviewnya ^^
Amyjoy kyuminie : Eonnie pervert ah #plakkk, nanti sabar yah eon kekekeke. Kyu kan emang ganas eon. Iya yang kemeren gitu eon entahlah mengapa kekekek. Makasih yah eon buat reviewnya ^^
Guest : Iya Kyu udah keluar posesifnya. Makasih yah buat reviewnya ^^
KyuMin ELF : Iya Cuma belom sadar tuh Kyu. Makasih buat reviewnya yah de ^^
sary nayolla : iya. Makasih untuk reviewnya yah ^^
taraaa : Bingung yah T.T saya juga ko #plakkk. Wah masa? Syukurlah kalo sampe terbius kekeke. Makasih buat reviewnya yah ^^
Guest : Hot yah .. Makasih buat reviewnya yah ^^
fairny : Iya. Makasih buat reviewnya yah ^^
zee : Syukurlah kalo suka apalagi sampai terhanyut kekeke. Makasih buat reviewnya yah ^^
Lee'90 : Iya begono kekeke. Bukan itu punya Kyu sebenernya, Kyu tidak suka berbagi apa yang jadi milik dia bahkan hal remeh seperti botol air minum, tapi beda kalo itu sama Ming kan ciuman ga langsung XD. Ada alasan kenapa Kyu milih kerja di belakang layar chinggu. Dia lemot kalo urusan perasaan #diTabokKyu.. hahaha iya banyak yg dikubu Ming. Oke makasih yah buat koreksinya saya sangat terbantu loh, saya juga pemula ko kekekeke, nado hwaiting. Makasih buat reviewnya yah ^^
kyuboss : Saya ga bisa kirim PM ke akun kamu chinggu, jadi saya jawab di sini saja yah. Menafikan itu bukan typo, menafikan sama dengan menolak, mengingkari,menyangkal, dsb. hanya mungkin jarang yah yang memakai kata ini seringnya memakai kata menolak sih. Tapi saya lebih suka kata menafikan lebih berkesan saja. Iya saya memang suka mempersulit diri sendiri sepertinya kekekeke. Bukan ko kayanya, saya hanya merindukan Kim Kibum. Makasih buat reviewnya yah ^^
fairny : ini sudah saya lanjut . Makasih buat reviewnya ^^.
aiueooo : Nanti ko dia bakalan di apa2in Kyu, tunggu aja tanggal mainnya XD. Makasih buat reviewnya ^^.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk reviewnya ^^
RnR?
