By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Others
Pairing: HunHan, slight!HunKai, ninja!ChanBaek n SuDo
Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort
Rate: T
Lenght: 10 of ?
Disclaimer: Semua cast milik orang tuanya masing-masing. Saya hanya meminjam namanya saja. Cerita murni dari hasil imajinajis(?) saya ^^).
Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje
HAPPY READING^^
Preview Chapter:
Everything makes sense now. Semuanya jadi masuk akal. Mengapa Luhan sangat lama di kamar mandi. Mengapa dia kembali ke kantin dengan mata yang sedikit merah. Mengapa tiba-tiba Luhan yang selalu ceria berubah menjadi murung. 'Oh Sehun BODOOOH!' Sehun memukul kepalanya sendiri. Bagaimana mungkin dia membuat Luhan bersedih bahkan dihari pertama mereka jadian?
~O.O~
CKLEK
"Hyuuung!" Baekhyun langsung menyambutnya dengan pelukan erat saat Luhan masuk ke dalam rumah. "B-Baekhyun-aahh, se-sakh," ucap Luhan berusaha melepaskan pelukan Baekhyun yang menurutnya terlalu erat itu.
"Baekkie Hyung! Kau membuat Luhan Hyung sulit bernafas!" Kyungsoo menepuk punggung Baekhyun dan membantu Luhan melepaskan pelukannya. "Mianhae, Hyung. Aku hanya khawatir. Hyung gwaenchanna?" tanya Baekhyun sambil menarik Luhan duduk di sofa.
"Eum," Luhan mengangguk. "Why shouldn't I?" Luhan balik bertanya. "Aiiisshh Hyung! Tadi kan Se—"
"Aniya Hyung, Baekkie Hyung hanya terlalu senang saat melihatmu datang." Kyungsoo memotong ucapan Baekhyun dan memberikan glare nya pada Baekhyun, membuat Baekhyun bungkam seketika. Dia tahu kalau Baekhyun khawatir karena kejadian di kantin tadi, tapi dia juga tahu kalau membahas hal itu akan membuat Luhan semakin sedih. Siapa yang bisa menyalahkan Luhan yang kecewa. Tapi Sehun juga tidak bisa disalahkan. Natal memang acara yang seharusnya dirayakan bersama keluarga. Hanya saja, seandainya Sehun bisa sedikit lebih peka, seharusnya dia bisa sedikit mengatur kata-katanya. Sedikit memikirkan perasaan Luhan mungkin.
"Hehehe, syukurlah kalau kau baik-baik saja Hyung," ucap Baekhyun akhirnya. "Nah, sekarang makanlah Hyung, aku akan menyiapkan air hangat untuk Hyung mandi setelah makan nanti," lanjutnya kemudian menarik Luhan menuju dapur dan berlalu ke kamar Luhan untuk menyiapkan air hangat.
"Makanlah Hyung. Kau pasti lapar!" ujar Kyungsoo. Luhan mengangguk dan tersenyum manis pada Kyungsoo. "Gomawo Kyungsoo-ya." Luhan pun memakan makanannya dalam diam. Sebenarnya dia tidak terlalu bernafsu untuk makan saat ini. Dia ingin segera mandi dan tidur. Mengistirahatkan pikirannya yang terasa sangat lelah hari ini. Namun, dia tidak ingin membuat kedua dongsaengnya lebih khawatir lagi. Dia sangat berterima kasih dalam hatinya karena mereka tidak membahas kejadian tadi siang lagi.
Usai makan, Luhan segera beranjak ke kamarnya. Dia tidak melewatkan tatapan khawatir dari BaekSoo saat melewati mereka tadi. Tapi dia terlalu lelah sekarang. Terlalu lelah bahkan untuk tersenyum dan mengucapkan 'aku baik-baik saja' sekalipun.
Luhan tahu, dia sedikit egois. Tidak ada yang salah dengan rencana Sehun yang akan merayakan moment penting ini dengan keluarganya. Dia egois karena menginginkan Sehun bersamanya. Dia egois karena membuat BaekSoo khawatir padanya, padahal mereka sudah memiliki banyak hal yang perlu dikhawatirkan. Dia egois karena hampir saja membuat rencana Natal SuDo dan ChanBaek berantakan.
Tapi untuk malam ini saja, tidak bolehkah dia sedikit kekanakan? Luhan berjanji, besok dia akan kembali menjadi Luhan yang ceria lagi. Dia akan melupakan kejadian yang terjadi tadi siang. Besok, saat dia menyambut hari yang baru, Luhan yang egois pasti sudah hilang.
Luhan tersenyum miris dan merebahkan tubuh mungilnya di atas kasur. 'Sepertinya, Natal kali ini pun, aku akan sendiri lagi,' batinnya. Luhan pun tertidur bersama dengan kesedihnnya. Dia bahkan melewatkan pesan 'selamat tidur' dari Sehun yang tidak pernah dilewatkannya sebelumnya. Dia hanya berharap, saat bangun nanti, semua kesedihan hari ini tidak akan ikut bangun bersamanya.
~O.O~
Paginya, saat Luhan bangun, Baekhyun dan Kyungsoo sedang sibuk menghias ruang tamu dan pohon Natal mereka. Luhan seketika tersenyum saat melihat pemandangan BaekSoo yang mondar-mandir di ruang tamu dan Baekhyun yang diomeli oleh Kyungsoo setiap kali dia merusak hiasan yang sudah dikerjakan Kyungsoo dengan sepenuh hati.
"Nae dongsaaaeeeennnggg!" panggil Luhan sambil berlari memeluk BaekSoo. "Kenapa tidak membangunkanku dan memulai acara serunya tanpaku?" Luhan mem-pout-kan bibirnya imut, membuat BaekSoo terheran-heran karenanya. Luhan tiba-tiba menjadi ceria lagi? Apa kejadian kemarin benar-benar membuat mentalnya tidak stabil? Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Baekhyun pabbo! Bagaimana mungkin kau berpikiran kalau Luhan Hyung seperti itu!
"Hyung, gwaenchanna?" tanya Baekhyun. Jangan salahkan dia karena tidak bisa menahan diri untuk bertanya seperti itu. "Iya Hyung. Apa kau benar-benar baik-baik saja?" tanya Kyungsoo. Bahkan Kyungsoo yang paling tenang pun bertanya.
"Kenapa kalian bertanya seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" Luhan kembali mem-pout-kan bibirnya.
"A-aniya Hyung, hehehe," jawab Kyungsoo cepat. "Hyung mau ikut kami menghias pohon Natalnya?" tanya Baekhyun mengalihkan pembicaraan. "Eum..." Luhan tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya senang.
Luhan pun mulai memasang segala pernak-pernik yang mereka beli beberapa hari yang lalu pada pohon Natal yang mereka letakkan di ruang tamu. Dia terus tersenyum sambil bersenandung kecil saat melakukannya. "Kalian hanya akan melihatku? Tidak ingin ikut menghiasnya? Aku tahu kalau aku kelihatan sangat imut dan menggemaskan sekarang. Tapi tidak perlu melihatku seperti itu kan," ujar Luhan PeDe sambil terus melakukan pekerjaannya.
"Aeeeyyyy, Luhan Hyung mulai PeDe mode ON!" Baekhyun memukul lengan Luhan lembut dan memeluknya dari belakang, disusul dengan Kyungsoo. "Yaaaakkk! Kalian membuatku tidak bisa bernafas! Cihh," omel Luhan, namun setelah itu dia tersenyum sangat manis.
"Hyung!" panggil Baekhyun, masih memeluk Luhan. "Eum?" sahut Luhan. "Jangan bersedih lagi," ucap Baekhyun mengeratkan pelukannya. Luhan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Mianhae, sudah membuat kalian khawatir," jawabnya sambil mengacak rambut Baekhyun.
"Kau tahu Hyung? Smiling Luhan is the best Luhan. Jadi, jangan bersedih lagi, karena kau akan terlihat jelek saat sedih." Kyungsoo mencubit pipi Luhan gemas. "Yaaaaaaakk! Appo!" Luhan memanyunkan bibir dan mengelus-elus pipinya. Namun detik berikutnya, mereka bertiga tertawa bersama dan melanjutkan acara 'mari menghias pohon Natal' mereka yang sempat tertunda.
~O.O~
Sehun merapikan penampilannya di cermin. Memang malam ini dia hanya akan menghabiskan waktu di rumah Luhan, namun penampilan saat di depan Luhan tetaplah nomor 1 baginya. Setelah dirasa cukup eerrrmmm keren, Sehun mengambil ponsel dan tasnya. Tidak lupa dengan hadiah Natal yang sudah disiapkannya untuk Luhan yang kemudian dimasukkannya ke saku jaketnya. Dia berjalan keluar dari kamarnya dan menguncinya.
Sehun bergegas menuju rumah Luhan. Memang ini masih sore, tapi dia tidak ingin terlambat. Dia sudah cukup mengacaukan segalanya kemarin, dan tidak mungkin Sehun mau membuatnya semakin kacau karena keterlambatannya. God knows bagaimana takutnya dia saat Luhan tidak membalas pesannya semalam. Untung saja hari ini sepertinya Luhan sudah ceria kembali.
Yang Sehun tidak sangka adalah, saat dia tiba di pintu asramanya, seorang namja mungil nan manis telah menunggunya di sana. Namja mungil yang belakangan ini selalu mengisi pikirannya. Namja mungil yang membuatnya benar-benar tidak bisa berpikiran jernih dan kadang justru membuatnya sedih karena kebodohannya. Namja mungil itu tersenyum lebar dan melambaikan tangannya saat melihat Sehun keluar dari dorm.
"Luhan? Kenapa di sini?" tanya Sehun bergegas menghampiri Luhan. Sehun lalu melepaskan syal yang dipakainya dan mengalungkannya di leher Luhan. "Mengapa kau tidak masuk? Kau akan membeku kalau berada di luar dalam cuaca yang seperti ini dengan hanya menganakan jaket saja! Kau bahkan tidak memakai syal. Lihatlah, pipimu memerah karena kedinginan!" ujar Sehun khawatir dan menangkup pipi Luhan dengan telapak tangannya. Mencoba menyalurkan sedikit saja kehangatan yang dimilikinya.
"Apa kau dari kampus? Mengapa tidak memintaku menjempumu? Tapi bukankah mahasiswa Fakultas Musik sudah libur mulai hari ini? Mengapa kau ada di sini, Lu?" tanya Sehun lagi. "Apa kau kedinginan? Kalau kau sakit bagaimana? Apa kau menungguku? Mengapa tidak menungguku di dalam? Atau—" ucapan Sehun terputus saat Luhan tiba-tiba menenggelamkan kepalanya di dada Sehun. Memeluknya erat.
"Begini lebih hangat," ujarnya pelan. "Bogosipheo Sehun-ah!" lanjutnya menempelkan pipinya di jaket Sehun. Sehun tersenyum dan balas memeluk Luhan dengan tak kalah eratnya. "Nado! Aku juga merindukanmu Hannie. Saaaaaangaaatt merindukanmu," balas Sehun. "Tapi bukankah aku sebentar lagi akan ke rumahmu. Mengapa kau kesini, eum?" tanya nya melepas pelukannya dan mengelus pipi Luhan.
"Aku bosan di rumah. ChanBaek dan SuDo terus bermesraan di depanku. Aku jadi seperti obat nyamuk di sana." Luhan mem-pout-kan bibirnya. Sehun terkekeh melihat tingkah Luhan. Luhan yang manja jauh lebih baik daripada Luhan yang murung.
"Tapi kan seharusnya kau mengirimiku pesan kalau mau ke sini. Atau langsung masuk saja," ucap Sehun. "Aku tidak membawa ponselku. Soalnya tadi aku langsung pergi begitu saja!" jawab Luhan. "Pasti sekarang BaekSoo lagi sibuk mencariku yang tiba-tiba hilang. Biarkan saja! siapa suruh mereka menjadikanku obat nyamuk. Hehehehe," Luhan tertawa geli membayangkan kepanikan BaekSoo saat ini.
Tepat saat Luhan selesai bicara, ponsel Sehun berbunyi. Sehun segera mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya. Tanpa melihatnya pun, Sehun sudah tahu siapa yang menelfon.
"Yeob-"
"Sehun-aaaaaaahhhh! LUHAN HYUNG HILANG! Dia juga tidak membawa ponselnya!" Sehun menjauhkan ponselnya dari telinganya saat mendengar suara 5 oktav Baekhyun. 'Apa Luhan itu anaknya? Mengapa begitu panik? Luhan kan sudah besar. Dia bahkan lebih tua dari BaekSoo,' batin Sehun.
"Luhan Hyung is perfectly FINE, Hyung. Dia berdiri di depanku sekarang. Kami akan segera kesana, jadi tidak perlu khawatir, oke!" Sehun memutuskan sambungan telponnya bahkan sebelum Baekhyun sempat meresponnya. "Kau benar-benar berbakat untuk membuat semua orang khawatir, Lu!" ucap Sehun pada Luhan.
"Hehehe, itu tandanya mereka sayang padaku." Luhan tersenyum manis. "Kita pergi sekarang?" tanya nya yang diangguki Sehun. "Eum, kajja!" jawab Sehun kemudian menautkan jemarinya dengan jemari Luhan dan berjalan meninggalkan dorm Sehun.
"Whoaaaaa! Sehun-ah! Saljunya mulai turun!" pekik Luhan senang saat melihat butiran-butiran salju di depannya. Dia menghentikan langkahnya dan menengadahkan tangannya mencoba merasakan serpihan lembut itu. "Karena besok sudah Natal, aku kira Natal kali ini akan tanpa salju. Ternyata saljunya turun."
"Kau menyukai salju?" tanya Sehun memandangi Luhan yang masih sibuk dengan salju di yang perlahan mulai turun dengan sedikit lebat. "Eum," Luhan mengangguk. "Neomu Joayo." Luhan tersenyum manis sambil terus memainkan salju yang terkumpul di tangannya.
Tiba-tiba saja, Sehun membalikkan tubuk Luhan menghadapnya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Luhan. Membuat Luhan kaget dan refleks menjatuhkan semua salju yang ada di tangannya. Rona merah yang sangat familiar itu mulai menjalari pipinya. Sehun menatap mata Luhan dalam-dalam dan melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Luhan. Dia tersenyum tipis sebelum akhirnya memusnahkan jarak sempit diantara wajah mereka dan mencium bibir Luhan.
Awalnya hanya sekedar menempelkannya saja, namun semakin lama, rasanya Sehun tidak ingin melepaskan bibir manis Luhan. Perlahan Sehun mulai melumat bibir Luhan dengan sangat lembut. Melumatnya lagi, lagi, dan lagi. Seolah-olah dia tidak akan pernah puas dengan bibir cherry itu.
Luhan menutup matanya dan membalas ciuman Sehun. Tanpa sadar, dia mengalungkan tangan dinginnya pada leher Sehun. Mencari pegangan agar tidak ambruk karena tubuh dan kakinya yang tiba-tiba terasa lemas saat Sehun menciumnya.
"Kau tahu, Lu?" tanya Sehun saat melepaskan ciumannya. "Kata mereka, saat salju pertama turun, jika sepasang kekasih berciuman di bawah nya, itu tandanya mereka ditakdirkan untuk bersama." Luhan menatap Sehun dan menurunkan tangannya dari leher Sehun.
"Jeongmalyeo?" tanya Luhan. "Apakah itu berarti kita juga ditakdirkan untuk bersama?" tanya nya lagi.
"Entahlah," jawab Sehun kemudian membawa Luhan dalam pelukan hangatnya. "Aku harap begitu," lanjutnya sambil mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Luhan.
Luhan tersenyum dalam pelukan Sehun. Bukankah ini pertanda baik untuknya? Sehun berharap agar ditakdirkan dengannya. "Sehun-ah. Saranghae!" ucapnya.
Sehun semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar kata itu. "Aku tahu, Lu!" jawab Sehun. "Aku sangat menyayangimu." Bukan jawaban yang diharapkan Luhan memang. Namun Luhan tetap tersenyum. Tidak apa kalau Sehun masih belum bisa membalas kata cintanya. Mungkin Sehun belum siap. Luhan tidak akan berkecil hati lagi. Kalau memang Sehun masih belum bisa, Luhan akan membuat Sehun mengatakannya. Karena Luhan tahu, perasaan Sehun padanya saat ini lebih dari sekedar suka. "Gomawo," ucap Luhan menyamankan posisinya dalam pelukan Sehun. Setidaknya, mereka selangkah lebih maju sekarang.
~O.O~
Christmas Eve. Semua sudah berkumpul di ruang tamu rumah LuBaekSoo. Mereka merayakannya dengan mengadakan pesta kecil-kecilan. Makan malam, nonton film, bercanda, berbagi cerita Natal paling berkesan yang pernah mereka lalui dan saling bertukar hadiah. Karena besok pagi-pagi sekali mereka akan berpisah dan merayakan Natal dengan planning masing-masing, jadi mereka memutuskan untuk bertukar hadiah malam itu juga.
Pukul 01.15 pagi. HunHan, ChanBaek, dan SuD.O sudah sangat bosan dengan kegiatan mereka sebelumnya, namun masih terlalu malas kalau harus tidur saat itu juga. Karena tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya Chanyeol memberi ide.
"Mau bermain 'Truth or Dare'?" tanya nya pada kelima namja yang sedang duduk bersamanya di ruang tamu. Baekhyun tanpa berfikir panjang langsung mengiyakan ajakan kekasihnya. Sedangkan yang lain masih sedikit ragu. Bukannya apa, tapi Chanyeol dan ide briliant nya biasanya bukanlah perpaduan yang baik untuk diikuti.
"Oh ayolaaaahhh! Permainannya pasti seru. Hukumanya hanya meminum satu gelas Soju saja." Chanyeol masih berusaha meyakinkan teman-temannya saat melihat wajah ragu mereka.
"MWO?!" teriak Luhan tiba-tiba, membuat semua mata memandang ke arahnya dengan tatapan 'mengapa tiba-tiba berteriak' mereka. "Yaaaaakkk! Kalian membeli Soju? Siapa yang membelinya? Siapa yang mengijinkannya, eoh?!" tanya Luhan marah. Oops! Sepertinya Chanyeol lupa kalau Luhan SANGAT tidak suka kalau dongsaengnya meminum Soju. Dia dan Suho membelinya tadi saat BaekSoo menyuruhnya mencari Luhan.
"Andwaeee! Kalau menggunakan Soju, lebih baik tidak usah bermain saja!" ucap Luhan tegas. "Tapi Hyuuuung, kali ini saja! Jebal! Lagipula kalau memang tidak mau meminumnya, maka berusahalah untuk menjawab truth yang ditanyakan atau mengerjakan dare yang diberikan supaya terbebas dari punishment. Ayolah Hyuuuung. Ini kan malam Natal. Kita bersenang-senang sedikit. Lagipula hanya satu gelas kecil tidak akan membuatmu mabuk Hyung. Please! Ne, ne, ne!" mohon Chanyeol yang sepertinya masih tidak menyerah dengan idenya.
"Chanyeol benar, Hyung. Sekali-kali tidak ada salahnya kan. Toh itu hanya sebagai hukuman, bukan inti permainan." Suho ikut membantu Chanyeol yang langsung mengangguk-angguk setuju.
Well, kalau Suho yang always bijaksana yang berkata seperti itu, sepertinya tidak masalah kan? "Arasseo. Tapi lain kali aku tidak mau melihat ada Soju di sini. Apapun alasannya!" ucap Luhan. Chanyeol langsung berlari ke dapur dan kembali dengan 2 botol Soju yang dibelinya tadi. Sedangkan yang lain langsung duduk melingkar di samping pasangannya masing-masing. Chanyeol – Baekhyun – Luhan – Sehun – Kyungsoo – Suho.
Permainan pun dimulai dengan memutar salah satu botol Soju yang sudah dikosongkan isinya di tengah-tengah mereka. Siapa sangka kalau ide Chanyeol kali ini benar-benar briliant. Mereka terlihat sangat menikmati permainan yang mereka mainkan sekarang. Apalagi tiap kali ada yang melakukan 'dare-dare' aneh yang diberikan.
Chanyeol yang melakukan girl dance dengan senang hati yang membuat Sehun menyesal karena menyuruhnya melakukan itu. Kyungsoo yang mengesampingkan wajahnya yang merona karena harus mencium Suho tepat di bibir di hadapan teman-temannya. Baekhyun yang memilih untuk meminum hukumannya karena tidak mau kalau harus berpisah dengan eyelinernya walaupun hanya satu minggu. Sehun yang harus menerima jitakan manis dari Chanyeol di dahinya. Suho yang mengikuti jejak Baekhyun karena mendapatkan 'dare' untuk mencium Chanyeol dari Luhan. Bahkan Luhan yang dengan sangat terpaksa harus melakukan sexy dance yang berakhir dengan cute dance menurut ChanBaekSuDoHun. Walaupun sedikit memalukan, tapi mereka sangat menikmatinya, karena itu akan menjadi kenangan indah di masa yang akan datang.
Sekarang giliran Chanyeol yang memutar botol Soju. Botol tersebut terus berputar dan berputar hingga akhirnya berhenti tepat di depan Sehun yang langsung menundukkan wajahnya. 'Mengapa harus aku lagi?' Chanyeol tersenyum evil dengan sebuah ide yang tak jauh evil pula dan menatap Sehun yang sedang menimbang-nimbang untuk memilih 'truth' atau 'dare'. Namun senyum evilnya langsung sirna saat Sehun memilih. "Truth!" ucap Sehun. Dia tidak akan memilih dare lagi kali ini. Tidak dengan seringaian menakutkan di wajah Chanyeol.
"Hhhhhh!" Chanyeol menghela nafasnya kecewa, namun kemudian dia kembali mengeluarkan smirk nya. Kalau tidak mendapatkan Sehun, Luhan juga tidak masalah, kan? Kekekeke. "Arrasseo," ucapnya. "Tell us, Oh Sehun. Seberapa besar kau mencintai Luhan Hyung?" tanya nya.
Namun yang terjadi selanjutnya sangatlah berbeda dengan apa yang dipikirkannya. Well, dia mengharapkan 'the blushing Deer' saat Sehun mengungkapkannya, tapi sekarang, suasanya justru menjadi canggung. Tidak hanya pada Luhan dan Sehun, namun juga Baekhyun dan Kyungsoo yang menatapnya dengan tatapan seolah-lah ingin membunuhnya. Apa ada yang salah dengan pertanyaannya?
"Emmm, uuhh, oohh," Sehun tidak tahu harus berkata apa saat itu. Dia benar-benar bingung. Apa yang harus diucapkannya?
"Yaaakkk! Mengapa bingung? Kalau aku ditanya seperti itu, aku pasti akan tanpa ragu mengatakan kalau aku mencintai my Baekkie melebihi diriku sendiri. Tidak perlu malu-malu Sehun-ah, kekekeke," Ucap Chanyeol bangga, mengharapkan ciuman manis dari Baekhyun sebagai hadiah, namun yang didapatkannya lagi-lagi tatapan yang lebih membunuh lagi dari BaekSoo dan Luhan yang tertunduk, diam seribu bahasa. 'Sebenarnya apa yang salah sih?' pikirnya.
"Oh Se—" Chanyeol baru saja akan menegur Sehun lagi saat apa yang dilakukan Luhan membuatnya dan BaekSuDo membelalakkan matanya kaget. Luhan meraih gelas berisi Soju yang berada di tengah dan langsung meneguk habis isinya. Luhan minum Soju? Untuk Sehun? 'Oke, kali ini sepertinya benar-benar ada yang salah. Aku akan menanyakannya pada Baekkie nanti,' batin Chanyeol.
"Jangan paksa Sehun untuk menjawabnya lagi. Aku sudah mengambil hukumannya. So, could we please melanjutkan permainan kita?" pinta Luhan setelah meletakkan gelas yang tadinya berisi Soju di tempat semula. "Karena aku yang mengambil hukumannya, berarti aku yang memutar botolnya. Tidak apa-apa kan, Sehunnie?" tanya Luhan tersenyum manis pada Sehun. Sehun hanya mengangguk pelan, tidak berani untuk membalas tatapan Luhan.
"Baiklah," ucap Luhan kemudian memutar botol yang kemudian berhenti dan mengarah pada Baekhyun. "Truth," Baekhyun langsung memilih bahkan sebelum Luhan sempat bertanya.
"Hhhmmm," Luhan terlihat berfikir sejenak. "Tell me. Chanyeol atau aku?" tanya Luhan.
Baekhyun menatap Chanyeol dan Luhan bergantian. "Aku mencintai Chanyeol lebih dari apapun. Aku juga menyayangi Luhan Hyung lebih dari apapun. Dan kalau disuruh memilih salah satu, aku memilih Luhan Hyung!" jawab Baekhyun mantap. Membuat semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatapnya bingung, meminta penjelasan. Terlebih lagi Chanyeol dan Luhan.
"Tentu saja Chanyeol adalah kekasihku, seseorang yang aku inginkan untuk menghabiskan waktu bersamanya setiap saat. Tapi aku sangat menyayangi Luhan Hyung. Kalau Chanyeol adalah namjachinguku, Luhan Hyung adalah temanku, sahabatku, Hyungku, keluargaku. Aku akan melakukan apapun untuknya. Aku akan melakukan apapun yang menurutnya baik untukku. Karena Luhan Hyung selalu memilihkan yang terbaik untukku. Karena Luhan Hyung selalu memikirkan kebahagiaanku sebelum kebahagiannya sendiri. Karena Luhan Hyung hanya membagi kebahagiaannya padaku tanpa mau membagi kesedihannya. Karena Luhan Hyung adalah sosok yang paling mendekati orang tuaku. Yang selalu ada di sampingku saat aku merindukan Appaku yang sudah tiada. Karena itu, aku memilih Luhan Hyung," lanjut Baekhyun.
"Mianhae Yeollie. Tapi aku benar-benar sangat mencintai Yeollie. Cinta yang berbeda dengan cinta yang aku punya untuk Luhan Hyung." Baekhyun menatap Chanyeol, merasa sangat bersalah saat itu. Takut kalau Chanyeol akan marah padanya.
Namun Chanyeol justru tersenyum. Tentu saja dia sedikit kecewa, namun dia salut dengan kejujuran Baekhyun. "Gwaenchanna. Aku juga saaaaangat mencintaimu. Kalau kau berkata seperti ini, itu membuatku semakin bersemangat untuk membuatmu jatuh cinta terus menerus padaku. Agar aku tidak semakin tertinggal oleh Luhan Hyung! Kekekeke," ucap Chanyeol kemudian mencium bibir Baekhyun kilat.
Luhan hanya terdiam menatap ChanBaek. Memang niat awalnya ingin menggoda Chanyeol. Luhan tahu kalau Baekhyun akan memilihnya. Yang dia tidak tahu adalah, Baekhyun benar-benar serius memilihnya, bukan bercanda untuk mengerjai Chanyeol seperti dugaannya. Baekhyun, benar-benar berfikiran seperti itu tentangnya? Luhan langsung menarik Chanyeol dan berhambur memeluk Baekhyun setelah itu. "Gomawo, Baekkie-yaaaaa! Nae dongsaeng. Aku juga saaaaaangat menyayangi Baekkie!" ucap Luhan. "Nadooooo! Aku saaaaangat menyayangi kalian berdua, Hyung!" sahut Kyungsoo yang tiba-tiba ikut memeluk Baekhyun dan Luhan.
"Yaaaahhh! Kalau kalian terus beradegan teletubbies begitu, kapan kita akan melanjutkan permainan?" Chanyeol menyingkirkan HanSoo dari kekasihnya dan memeluk Baekhyun posesif. Membuat SeHo tertawa dan HanSoo memutar bola mata mereka malas. 'Cih, dasar pacar posesif!' batin mereka.
"Hehehehe, arrasseo. Kalau begitu sekarang giliranku yang memutar botolnya!" ucap Baekhyun. Botol tersebut kemudian berhenti berputar dan mengarah ke arah Luhan.
"Dare!" ucap Luhan. "Kau benar-benar memilih 'dare' Hyung? Tidak mau menggantinya?" tanya Baekhyun dengan senyum evilnya.
Untuk sesaat, Luhan terlihat ragu. Walaupun Baekhyun berkata kalau dia sangat menyayanginya, tapi Luhan juga paling tahu seberapa evil isi pikiran Baekhyun kalau sudah berhubungan dengannya. "Dare!" ucap Luhan tegas.
"Okay then. Kiss me!" ucap Baekhyun santai membuat ChanHun membelalak kaget di samping BaekHan. "MWO?! Yaaaaakk, Baekkie-yaaaaa!" Chanyeol menatap Baekhyun tak percaya. Bagaimana mungkin kekasihnya meminta Luhan untuk menciumnya di depannya? Namun Baekhyun sama sekali tidak menggubrisnya, masih menatap Luhan.
"Why not?" jawab Luhan kemudian mendekatkan wajahnya pada Baekhyun. Kali ini giliran Sehun yang menatapnya tidak percaya. Namun tidak seperti Chanyeol, Sehun tidak mengatakan apa-apa. Dia merasa tidak berhak. Dia bahkan tidak bisa mengatakan kalau dia mencintai Luhan.
Luhan semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Baekhyun, mengabaikan tatapan horor dan shock yang ditujukan Chanyeol padanya. Saat bibir mereka nyaris bersentuhan, Luhan menyeringai tipis kemudian—
CHU~
—dia mencium pipi Baekhyun sekilas lalu menatap Chanyeol yang masih setia dengan ekspresi O.O nya. Pletakk. Luhan menyentil jidat Chanyeol. "Yaaaakk, Baekkie kan tidak memintaku untuk mencium bibirnya. Lagipula, aku juga tidak mau kalau harus menciumnya di sana." Luhan terkekeh geli dan kembali ke posisi nya semula.
"Ahahahaha, Yeollie! Wajahmu terlihat jelek sekali kalau melongo begitu. Ahahaha," Baekhyun tertawa puas dan ber-high five dengan Luhan karena berhasil mengerjai Chanyeol.
Saat akhirnya sadar kalau dia dikerjai, Chanyeol langsung menangkup wajah Baekhyun dan mencium seluruh wajah Baekhyun. "Yaaaakkk! Apa yang kau lakukan Yeollie?"
"Wae? Aku hanya ingin menghapus jejak Luhan Hyung dari wajahmu saja," jawab Chanyeol kembali mencium Baekhyun. Tidak memperdulikan tatapan malas dari HunHanSuDo.
"Well. Aku rasa ini saat nya menghentikan permainan. Aku takut kalau diteruskan, bisa-bisa mereka akan melakukan lebih dari ini," ucap Suho menghentikan kegiatan ChanBaek. "Kau benar Suho-ya. Lagipula, sekarang sudah hampir jam 2. Bukankah kalian harus berangkat pagi-pagi sekali besok? Sebaiknya kita istirahat sekarang!" sahut Luhan setuju.
Sehun langsung memeluk Luhan dari belakang saat mereka sudah berada di kamar Luhan. "Mianhae," ucap Sehun. Luhan tersenyum dan membalikkan tubuhnya untuk menatap Sehun. "Gwaenchanna. Tidak ada yang salah," jawab nya sambil mengusap pipi Sehun.
"Ah, aku hampir lupa. Aku punya sesuatu untukmu, Sehun-ah." Luhan melepas pelukannya dan berjalan menuju lemarinya untuk mengambil sesuatu. Kemudian dia kembali ke tempat Sehun berdiri dan memberikan gift nya pada Sehun. "Merry Christmas Sehun-ah. Bukalah."
Sehun pun membuka kado dari Luhan. Sebuah syal berwarna putih dengan inisial S & L di ujung nya. "Selama musim dingin, aku tidak mungkin bersamamu setiap saat kan. Jadi, saat kau kedinginan dan aku tidak ada di sana, aku harap syal ini bisa sedikit membantu," ujar Luhan sambil tersenyum manis pada Sehun.
"Kau membuatnya sendiri, Lu?" tanya Sehun. "Eum, mianhae kalau jelek," jawab Luhan. Sehun langsung menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Aniya. This is perfect. Aku sangat menyukainya. Gomawo!" ucap Sehun. "Aku juga punya sesuatu!" ucapnya lagi.
"Jeongmal? Aku kira Sehunnie melupakan hadiah Natalmu untukku."
"Tentu saja tidak. Sekarang tutup matamu." Luhan menuruti perkataan Sehun dan menutup matanya. Sehun mengambil sesuatu yang disembunyikan di saku jaketnya sedari tadi, kemudian memakaikannya pada Luhan dan menyuruh Luhan untuk membuka matanya.
Luhan menatap benda yang kini melingkar manis di lehernya. Sebuah kalung dengan inisial H. "Mengapa 'H'?" tanya Luhan penasaran. Sehun tersenyum, "Itu dari inisial nama kita. Hun dan Han. Aku juga memakainya," jawab Sehun kemudian menunjukkan kalung yang sama yang melingkar di lehernya. "Agar kita selalu mengingat satu sama lain," tambahnya.
'Omoooooo! Aku memakai kalung couple dengan Sehun!' pekik Luhan dalam hati. Dia merasa sangat senang saat itu.
"Kau suka?" tanya Sehun. "Tentu saja. Aku sangat menyukainya, Sehun-ah," jawab Luhan tersenyum lebar. Sehun kemudian mendekatkan wajahnya pada Luhan dan mencium bibirnya. Melumatnya sedikit kemudian melepaskannya. "Itu untuk menghapus jejak Baekhyun Hyung dari bibirmu," ujar Sehun membuat Luhan tersipu.
"Sehun-ah" panggil Luhan. Saat ini mereka sudah berada di atas kasur. Berbaring dan saling berhadapan, dengan Sehun yang melingkarkan satu tangannya di pinggang Luhan dan tangan lainnya dipakai Luhan, yang menenggelamkan wajahnya di dada Sehun, sebagai bantalnya. "Hhmm?" gumam Sehun. "Apa besok kau harus pergi pagi-pagi sekali?" tanya Luhan.
Sehun tersenyum tipis saat mendengar pertanyaan Luhan. Dia memang belum mengatakan Christmas planning terbarunya pada Luhan. Dia ingin memberi kejutan.
"Eum," Sehun mengangguk dan mencium puncak kepala Luhan. "Kau mau mengantarku ke terminal?" tanya Sehun.
"Boleh. Lagipula aku tidak ada acara besok," jawab Luhan berusaha agar suaranya terdengar normal. "Arrasseo. Kalau begitu, sekarang istirahatlah. Kita harus bangun pagi-pagi sekali besok." Luhan mengangguk dan menyamankan posisinya di pelukan Sehun. Luhan tersenyum manis yang sayangnya tidak bisa dilihat oleh Sehun dan memejamkan matanya. Cuaca musim dingin saat itu benar-benar tidak dirasakannya. Tidak saat Sehun memeluknya erat seperti ini.
"Jaljayo, my Little Deer!"
Itu adalah hal terakhir yang masih sempat di dengarnya sebelum akhirnya terlelap dalam pelukan Sehun.
~O.O~
"Sehun-ah, bukankan kau bilang kita akan ke terminal?" tanya Luhan bingung. Pasalnya dia dan Sehun saat ini sedang berada dalam sebuah Bis yang sangat bisa dipastikan bukan Bis yang menuju ke terminal, tempat yang seharusnya mereka tuju. Apalagi Luhan ingat sekali semalam Sehun mengatakan kalau mereka harus pergi pagi-pagi sekali. tapi sekarang sudah jam 9 pagi, dan Sehun sama sekali tidak terlihat panik karena terlambat.
"Sebenarnya, aku ingin menemui seseorang dulu sebelum pergi," jawab Sehun menggenggam tangan Luhan erat. "Seseorang? Nugu?" tanya Luhan lagi. "Rahasia. Nanti juga kau akan tahu sendiri." Sehun mengerlingkan matanya.
Ketika mereka sampai di tempat tujuan, Luhan merasa lebih bingung lagi. Siapa yang akan ditemui Sehun di restoran mewah seperti ini? Apa mereka tidak salah tempat?
"Sehun-ah, mengapa kita di sini? Kalau kau ketinggalan Bis mu bagaimana?" Luhan kembali bertanya. "Kita sarapan dulu. Aku lapar." Sehun tersenyum dan membawa Luhan masuk ke dalam restoran mewah itu.
MWO? Sarapan katanya? Di sini? Apa Luhan tidak salah dengar? Kalau cuma lapar, mengapa tidak makan di rumah saja tadi? Kyungsoo sudah menyiapkan makanan untuk Luhan di dalam kulkas.
Luhan menatap Sehun yang terlihat seperti sedang mencari-cari sesuatu, atau seseorang mungkin?
"Sehunnie! Di sini!" panggilan itu menyadarkan Luhan dari lamunannya. Seseorang memanggil Sehun dengan sebutan 'Sehunnie'? Dan itu suara wanita?
Sebelum sempat bertanya ataupun mencari asal suara, Luhan sudah terlebih dulu ditarik oleh Sehun menuju salah satu meja di restoran tersebut. Di sana, Luhan melihat seorang wanita paruh baya, yang sangat cantik menurut Luhan, yang melambaikan tangannya dan tersenyum pada Sehun. Dia kah yang memanggil Sehun tadi?
Saat tiba di sana, Sehun langsung melepaskan genggaman tangannya pada Luhan dan memeluk wanita itu. "Eomma! Bogosipheoyo!" ucap Sehun.
'Ooooh, jadi itu Eomma Sehun!' Luhan megangguk-anggukkan kepalanya. 'MWO!? Eo-Eomma? Eommanya Sehun?' pekik Luhan dalam hati. Luhan menatap kedua orang yang tengah berpelukan di depannya tak percaya. Mengapa Eomma Sehun ada di Seoul? Bukankah seharusnya dia sedang menunggu kedatangan Sehun di rumahnya? Tiba-tiba saja pipi Luhan memanas. Dia bertemu dengan Eomma nya Sehun!
"Aigooo. Kenapa rasanya anak Eomma jadi makin tinggi, eoh?" ucap ibunya Sehun. "Kekeke. Oh ya, mengapa Eomma sendirian? Dimana Appa?" tanya Sehun. "Appa sedang ke kamar kecil," jawab Nyonya Oh. "Bukankah Sehunnie bilang kalau ingin mengenalkan seseorang pada Eomma?"
"Ah iya," Sehun lalu menarik Luhan agar berdiri di sampingnya. "Luhan, ini Eomma ku. Dan Eomma, ini Luhan, eeerrrmmm, namjachingu ku," ucap Sehun memperkenalkan keduanya. Keluarga Sehun memang sudah tahu mengenai orientasi sex anak mereka, dan mereka tidak keberatan. Awalnya dulu memang keberatan, namun sekarang mereka sudah bisa menerimanya. Selama Sehun bahagia, itu yang lebih penting.
"Annyeonghaseyo Nyonya Oh, Luhan imnida!" ucap Luhan memperkenalkan diri dan membungkuk sopan 90° di depan Eomma Sehun.
"Omooooo! Dia manis sekaliii! Sehun-ah, dimana kau menemukannya? Aigooo, dia benar-benar cute!" Nyonya Oh mencubit pipi Luhan gemas. 'Satu orang lagi yang masuk dalam daftar orang-orang yang suka mencubit pipiku,' batin Luhan.
"Eommaaa! Jangan mencubit pipinya seperti itu. Aku mengajaknya ke sini bukan untuk dicubiti!" ucap Sehun menarik Luhan ke dalam pelukannya. Melindunginya dari serangan sang Eomma. Membuat pipi Luhan yang sudah merah semakin merah lagi.
"Aeeyyy, tidak usah seprotektif itu. Eomma kan hanya gemas saja. Kenalkan, aku Eommanya Sehun. Tidak perlu terlalu formal saat bicara denganku. Dan satu lagi, jangan memanggilku dengan sebutan Nyonya Oh. Panggil aku Eomma. Arachi?!" tutur Nyonya Oh pada Luhan yang hanya bisa menganggukkan kepalanya. "Ne, Nyo— ah, Eo-Eomma," jawab Luhan sedikit tersipu membuat Nyonya Oh tersenyum. Kalau saja bukan karena Sehun yang masih memeluk Luhan dengan sangat posesif, pasti Nyonya Oh sudah menyerangnya(?) lagi.
"Sudah kumpul semua ternyata?" ucap Tuan Oh yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Sehun melepaskan pelukannya dari Luhan dan memeluk Appanya. Nyonya Oh yang melihat kesempatannya pun langsung menarik tangan Luhan agar berdiri disampingnya.
"Annyeonghaseyo, Luhan imnida!" lagi-lagi Luhan membungkukkan badannya dan memperkenalkan dirinya. "Aigooo, dia sopan sekali. Bangapta Luhan-ah. Kau bisa memanggilku Appa, seperti Sehun!" ucap Tuan Oh.
Setelah acara perkenalan, mereka pun duduk dan mulai makan sambil bercerita. Sehun duduk di sebelah Appa nya karena Nyonya Oh bersikeras untuk duduk di samping Luhan.
"Aaaah, Eomma mengerti sekarang mengapa uri Sehunnie tidak ingin pulang. Kalau Eomma jadi Sehun, Eomma juga tidak akan mungkin meninggalkanmu sendirian di Seoul. Eomma justru akan memarahi Sehun kalau ternyata dia meninggalkanmu sendirian."
"Eh?" Luhan merasa bingung. Bukankah kemarin Sehun bilang akan pulang ke Busan? Mengapa sekarang Nyonya Oh berkata seperti ini?
"Omoo! Sehun tidak bilang padamu?" tanya Nyonya Oh saat melihat ekspresi bingung Luhan. "A-aniyo," jawab Luhan, masih bingung.
"Sehun menelfon kemarin. Meminta maaf karena tidak bisa pulang. Tidak bisa atau lebih tepatnya tidak ingin meninggalkan seseorang. Jadi, karena Sehun tidak bisa pulang ke Busan, Eomma dan Appa memutuskan untuk datang ke Seoul. Natal kan tidak harus di rumah, yang penting kita berkumpul!" tutur Nyonya Oh.
Luhan mengalihkan pandangannya pada Sehun. Sehun melakukan itu untuknya? Sehun bilang kalau dia tidak ingin meninggalkannya sendirian? Luhan mati-matian menahan dirinya untuk tidak tersenyum atau melonpat-lompat seperti orang gila dan berhambur ke pelukan Sehun saat itu juga. Apa kata Tuan dan Nyonya Oh nanti kalau dia melakukannya?
Setelah selesai sarapan, Tuan dan Nyonya Oh mengajak Luhan dan Sehun untuk berbelanja. Sepanjang perjalanan, Nyonya Oh terus menarik Luhan kesana kemari dan Sehun yang berjalan dengan Tuan Oh hanya bisa menatapnya. Dia merasa dejavu dengan kejadian ini. Hanya saja, kali ini dia tidak cemburu. Sedikit kesal mungkin, tapi dia merasa senang melihat wajah tersipu Luhan yang dengan pasrah nya mengikuti kemanapun Eomma membawanya. Sesekali Luhan akan menoleh padanya dan tersenyum manis.
Mereka membeli banyak sekali barang di pusat perbelanjaan tadi. Lebih tepatnya, Eomma Sehun membelikan Sehun baju dan jaket mengingat kalau ini musim dingin, dan banyak pakaian untuk Luhan. Baju, jaket, jeans, beannie (Nyonya Oh bahkan menyuruh Luhan untuk langsung memakai salah satunya, karena Luhan terlihat sangat imut saat memakainya), dan kaos couple untuk HunHan.
Luhan ingin sekali menolak semua pemberian Nyonya Oh, namun melihat wajah senang Nyonya Oh setiap kali dia merasa cocok dengan baju yang dicoba Luhan, dan memutuskan untuk membelinya, Luhan tidak bisa menolaknya. Lagipula, dia takut Nyonya Oh akan marah jika menolak.
Selesai berbelanja, mereka melanjutkan pejalanan menuju Bearstown Ski Resort yang terletak di Pocheon. Jaraknya hanya satu setengah jam dari Seoul. Kali ini Nyonya Oh memberikan Luhan berada dibawah tanggung jawab Sehun, karena Nyonya Oh sendiri tidak bisa bermain Ski.
"KYAAAAA! Sehun-aaahhh! AKU TIDAK BISA!" teriak Luhan saat dia mulai meluncur si atas papan ski nya. Dan—
Brukk
Luhan terduduk di atas salju yang lembut dan dingin itu. Dia mencoba untuk berdiri dan berjalan lagi, namun papan ski di kakinya membuatnya segalanya menjadi semakin sulit. Dan parahnya, dia tidak bisa melepas papan itu dari kakinya. Huft. Luhan menggembungkan pipinya dan mem-pout-kan bibirnya saat dia tidak kunjung berhasil melepasnya.
"Butuh bantuan?" tanya Sehun ketika dia berhenti di depan Luhan dan mengulurkan tangannya. "Aku tidak bisa melepasnya, Sehun-ah," adu Luhan menerima uluran tangan Sehun, masih mempoutkan bibirnya.
"Mengapa dilepas? Kau tidak ingin bermain lagi?" tanya Sehun kemudian melepas papan ski Luhan.
"Aiissshhh! Aku tidak bisa. Apa kau tidak melihat aku terjatuh tadi? Lihat saja, aku bahkan tidak bisa bangun sendiri."
"Kekekeke. Mana mungkin aku tidak melihatnya. Kau terjatuh dengan tidak elit begitu. Ahahaha!" Sehun tertawa mengingat bagaimana Luhan terjatuh tadi. "Yaaaakkkk!" Luhan mengambil segenggam salju dan melemparnya pada Sehun, membuat Sehun menghentikan tawanya.
"Kau mengajakku perang, eoh?" tanya Sehun dan menatap Luhan dengan smirk nya. "Andwaaaaeeee!" Luhan berlari menjauhi Sehun saat dia melihat Sehun mengambil segenggam salju di tangannya. Akhirnya, niat untuk bermain Ski terlupakan, dan perang salju antara HunHan pun tidak bisa terelakkan. Lebih tepatnya, Luhan yang berlarian kesana kemari sambil terus berteriak demi menghindari kejaran Sehun dan bola saljunya.
~O.O~
"Hati-hati di jalan, Eomma, Appa!" ucap Sehun pada kedua orang tuanya. Setelah jalan-jalan, makan, berbelanja, dan bermain salju seharian, Tuan Oh mengantar Sehun dan Luhan ke rumah Luhan. Rencananya malam ini Sehun akan menginap lagi. Karena Baekhyun dan Kyungsoo bilang kalau mereka tidak akan pulang hari ini saat mengetahui kalau Sehun tidak jadi pulang ke Busan.
"Sampai jumpa Luhannie. Eomma senang sekali bisa menghabiskan waktu bersama Luhannie hari ini," ucap Nyonya Oh tersenyum pada Luhan saat berpamitan karena harus kembali ke Busan. Mereka tidak bisa menginap di Seoul. "Kalau anak ini macam-macam padamu dan membuatmu sedih, laporkan pada Eomma, biar Eomma yang menghukumnya, arrachi!"
"Ne, Eomma. Luhan juga sangat senang hari ini," jawab Luhan tersenyum manis. "Aigoooo. Neomu kyeopta!" Nyonya Oh lagi-lagi mencubit pipi Luhan gemas. "Eomma! Kau tidak masuk ke mobil?" tanya Sehun. Nyonya Oh langsung menghentikan kegiatan 'mari mencubit pipi Luhan' nya dan menatap Sehun.
"Yaaaakk, Oh Sehun! Kau mengusir Eomma mu, eoh?"
"Eommaaaa, tidak usah overacting." Sehun memutar bola matanya dan memeluk Eommanya. "Hati-hati di jalan Eomma. Bilang pada Appa jangan mengantuk saat menyetir. Kalau capek, lebih baik cari penginapan saja," ucap Sehun.
"Ne, ne, Eomma akan bilang pada Appamu. Kau juga baik-baik di sini, ne. Jaga Luhannie, jangan buat dia bersedih, arrasseo!"
"Ne, Eomma. Aku tidak akan membuatnya bersedih," jawab Sehun kemudian mencium pipi Nyonya Oh. "Kalau begitu, Eomma pulang dulu, ne? jaga diri kalian baik-baik!" ucap Nyonya Oh kemudian masuk ke dalam mobil.
"Eomma baik sekali!" ucap Luhan saat mobil yang membawa Eomma dan Appa Sehun telah menjauh. "Dia menyukaimu, Lu!" ujar Sehun.
"Jeongmal?" tanya Luhan tak percaya. "Eum," Sehun mengangguk. "Tentu saja. Tidak ada yang bisa untuk tidak menyukaimu. Kau tahu, kau seperti magnet yang menarik orang-orang di sekitarmu untuk menyukaimu dengan mudahnya."
"Cih. Kau mulai menggombal Tuan Oh!" ucap Luhan beralih menatap Sehun. "Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau tidak lihat? Eomma bahkan sepertinya melupakanku. Padahal yang anaknya kan aku. Kekeke," Sehun terkekeh dan mengusap pipi Luhan. "Apa Luhannie merasa bahagia hari ini? Apa kau senang? Kau menyukai acara kita hari ini?"
"Tentu saja. This is the best Christmas ever. Gomawo." Luhan memeluk Sehun erat. "Gomawo karena melakukan ini semua untukku. Sebenarnya Sehunnie tidak perlu melakukannya. Tidak ada yang akan menyalahkan Sehunnie karena merayakan Natal bersama keluarga. Semua orang begitu kan?!"
"Aku memang tidak harus melakukannya. Tapi aku ingin melakukannya. Aku ingin membuat namjachinguku bahagia. Apa aku salah? Mianhae kemarin aku sempat membuatmu sedih karena ketidak pekaanku."
"Aniyaaaa. Aku sudah melupakannya. Aku kan sudah bilang kalau Sehunnie tidak salah. Lagipula, aku merasa sangat senang hari ini. Dan itu karena Sehunnie."
"Syukurlah. Aku juga merasa senang kalau Luhannie senang."
"Kalau begitu, haruskah aku memberikanmu hadiah?" Luhan melepaskan pelukannya dan menatap Sehun dengan senyum menggodanya. Sehun hanya menatapnya bingung. "Hadiah?" tanya nya. Luhan mengangguk dan sedikit meninjitkan kakinya untuk mensejajarkan wajahnya dengan Sehun, kemudian—
CHU~
Luhan mencium bibir Sehun dengan sangat kilat dan berlari ke dalam rumah. Wajahnya sudah benar-benar merah seperti kepiting rebus. Dia sendiri tidak percaya dengan apa yang dilakukannya. Dia mencium Sehun! Aaaahhhh! Luhan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena malu.
Sehun sendiri tidak jauh berbeda keadaannya dengan Luhan. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Apakah Luhan baru saja menciumnya? Luhan yang selalu tersipu setiap kali Sehun menggoda apalagi menciumnya tiba-tiba menciumnya di bibir? 'Oh Deer! Kau benar-benar membuatku gilaaaa!' pekik Sehun dalam hatinya.
Sehun tersenyum lebar sebelum menyusul Luhan masuk ke dalam rumah.
~O.O~
TeBeCe
A/N:
Annyeooooooooong! *tebar foto HunHan kissing di tengah hujan salju*
Liyya balik lagi membawa chapter baru yang mungkin feelnya bakal nyangkut di awing-awang dan tidak bisa masuk ke hati readerdeul semua -_-
Karena chap kemarin Liyya meninggalkan readers semua dengan TeBeCe yang tidak elit dan sedikit sedih mungkin, jadi, chap ini Liyya bawa HunHan yang maniiiissss banget kalau bacanya sambil ngemilin gula. Hehehehehe. FYI, itu kata-katanya Sehun yang ditengah hujan salju, itu legenda karangannya Liyya aja. Biar masuk gitu ke ceritanya. Mian kalo sedikit maksa :'(
Satu lagi, yang menunggu kedatangan Jongin, harap bersabar yaaaaa. Kurang satu chapter lagi buat kemesraan pengantin baru kita ;) Setelah itu, baru Jongin akan muncul dengan segala rencananya, muahahahaha #ketawaepilbarengJongin
Tidak henti-hentinya Liyya ucapin BIG THANKS to eonnie, Saeng, n Chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow
Balasan Review:
sofia ningsih: he em, betul banget tuh. Jadi sebenarnya Sehun gak salah juga :) Liyya ngaka baca eyang kencur sama dedi dispenser nya, muahahaha, gokil, ini udah lanjut, moga gak mengecawakan :)
Makasih udah ngereview^^
riniehun: emang Sehun tuh agak LOLA ya #dilemparpanci
Makasih udah ngereview^^
jengsora: tuh Luhan udah bahagia banget noooh #toel2Luhan, Jongin masih belom keluar, mianhae :'(
Makasih udah ngereview^^
dian deer: muehehehe, poppo Chen yang udah menyadarkan Thehun #dipetirChen* tuh Luhan udah bahagia kan sama Sehun. Ketemu camer juga loooh ;)
Makasih udah ngereview^^
hunhanshipper: chap ne dah banyak HunHan moment kan? Masih kurang? Yeeeeyyy,, Congrats to EXO yaaa, eon ikut terharu gitu pas liat appa nangis :'(
Makasih udah ngereview^^
fieeloving13: BaekSoo emang paling gokil deeehhh (y) ini udah lanjut, lengkap dengan HunHan moment :) moga gak mengecewakan ya
Makasih udah ngereview^^
kyungkyungie: Sehunnie emang lola *ikutan gigit Sehun* penasarannya udah kejawab kan ya,, *wink*
Makasih udah ngereview^^
Lee MingKyu: Hehehe, itu kemaren temen-temen di fb yang kena PHP #nyengir, HunKai kan udah ada penjelasannya di chap berapa kemaren ntu saeng. Kai Uke, yaaa walaupun agak gimana gitu ya, tp diterima aja deh ya, kekekeke. Punya pacar yang g peka emang bikin pengen asah golok *nah loh(?)*
Makasih udah ngereview^^
RirinSekarini: Apaaaa,,,? Sampek masuk mimpi? Wkwkwkwkwkwk, ini udah lanjut, makasih buat semangatnya ya, FIGHTING,,!
Makasih udah ngereview^^
Kiela Yue: Telmi telmi te-te-te-te-te-telmi *nyanyibarengWonderGirls* senyam senyum unjungnya kok jadi jiwa ksatria Riiinn,,,? O.O Iya neh si Thehun, udah cium sana sini, eeeeehhh, gak peka #ditopanSehun, huwaaa . makasih udah dibilang keren Riiinnnn,,, :D
Makasih udah ngereview^^
ThegorgeousLu: Udah tahu kan surprise nya Sehun. Mian kalo g supres sama sekali :'( Liyya juga mau kalo bayi rusa nya kaya' Luhan, kekekeke
Makasih udah ngereview^^
Little Deer: Baru nemu? Gpp kok walaupun baru sempe review di chap 9 :) Sehunnie gak pabbo kok, cuma sedikit telmi aja -_- Sebenarnya Luhannie gak dijadikan pelarian kok, Cuma Luhan aja yang ngerasa begitu, karena Sehun bilangnya masih mengharap Jongin :'( kemaren mau update hari Sabtu pagi saeng, tapi karena sesuatu dan lain hal, eon update nya molor jadi malam Senin, mian yaaa
Makasih udah ngereview^^
Aileen Xiao: Omooo, gpp kok, udah berkenan baca n review aja Liyya udah senang banget. Waaaah kita satu prinsip *tos* Kai harus muncul chingu, Liyya udah terlanjur tanda tangan kontrak sama dia o.O Tanda koma nya mengganggu ya? Mianhae, Liyya kurang suka aja kalo tiap akhir percakapan cuma ada koma satu, kurang greget gitu rasanya #nyengir# gomawo buat sarannya ya, ini udah Liyya coba untuk kurangin, tapi dibeberapa part tetep aja ada. Kaya' nya itu udah stylenya Liyya. hehehe
Makasih udah ngereview^^
Winter Heaven: Reader baru? Bangapta yaaa,, Bisa panggil nama aja, atau chingu, atau saeng, atau noona, atau eonnie mungkin? Liyya 90L, sama kaya' Lulu ^_^ Yang sabar ya menghadapi ke-telmi-annya Sehun di sini :)
Makasih udah ngereview^^
chyshinji0204: Yups betul sekali. Sehun gak salah lah kalo dia emang pengen merayakan bareng keluarganya. Dia cuma sedikit kurang bisa mengerti hati Lulu aja kali ya. :)
Makasih udah ngereview^^
weeeee: Siiipp, ini udah lanjut kok ^_^
Makasih udah ngereview^^
ferinaref: Baby don't Keraaayyy tonaiit *konsecbarengBaekSoo* Jongin segera masuk(?) kok, tenang aja *winkwink*
Makasih udah ngereview^^
Ryu Que: Tenang aja, Sehun sudah menebus ketidak pekaannya kok ^_^ Kkamjong belom bisa keluar, sepertinya chap 12 nanti dia bakal muncul, mungkin chap depan bakal ada penampakan(?)nya #Kai: Lu kira gue hantu..!
Makasih udah ngereview^^
Riyoung Kim: Ini udah lanjut chingu ^_^
Makasih udah ngereview^^
ChickenKID: Huwaaaaaaaaaaaaaaa,,, Liyya senang banget baca komennya yang super panjaaaang :D Baru baca ya? Gpp kok, gomawo udah baca ya,,, :) Liyya juga paling favorit sama persahabatannya BaekSooHan, mereka berdua emang paling care sama Luhan deh pokoknya. Udah kaya' sodara gitu. Liyya juga sempet mengalami HunHan sick kemaren n hamper menghiatuskan ff ini, tapi karena dukungan dari readers semua, Liyya jadi semangat lagi :) Ini udah lanjut, moga masih suka ya,, :), o iya, Liyya 90L kaya' Lulu, jadi bisa panggil chingu, eonnie, ato saeng, ato nama juga gpp. Hehehehe
Makasih udah ngereview^^
Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi?
So, see U next chapter?
#Kiss N Hug readers satu-satu ^_^
