Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: OOC, OC(s), typo(s), shonen-ai, semi canon / canon modified, less-dialogue.

~Art~

.

.

Deidara tak sanggup merangkai kata-kata untuk mengungkapkan rasa terkejutnya atas apa yang Sasori tunjukan padanya. Matanya terbuka lebar, mulutnya juga terbuka namun tanpa suara yang mengiringi, dan tubuhnya berdiri mematung di dekat pintu. Kondisi yang sangat bertolak belakang melihat bagaimana raut wajah Sasori yang sangat jauh berbeda dengan Deidara.

Pria berambut merah ini berdiri di dekat meja, dengan membawa sebuah boneka kayu di tangannya dan menunjukkannya kepada Deidara. Wajahnya begitu tenang bahkan dapat dikatakan datar tanpa ekspresi. Namun jika diperhatikan dengan seksama, dapat terlihat emosi di matanya. Emosi yang menggambarkan betapa ia benci menunggu. Dan menunggu reaksi Deidara, sepertinya sudah cukup membuatnya tak sabar.

Sedangkan Deidara, masih tak tahu apa yang harus ia katakan melihat Sasori membawa sebuah boneka kayu seukuran manusia dengan bentuk fisik yang benar-benar menyerupai dirinya. Rambut pirang yang sama, segala lekuk tubuh yang lama, bahkan mata dengan bentuk dan warna yang sama pula.

Sasori telah membuat replika Deidara, benar memang. Namun yang membuat Deidara tak habis pikir adalah mengapa sang partner harus membuat replika dirinya. Apa kegunaan dan apa alasan Sasori membuat boneka kayu berbentuk Deidara itu merupakan sesuatu yang sedang Deidara cari jawabnya.

Setelah cukup lama terbelenggu dalam keterkejutannya, Deidara akhirnya mengusahakan tubuhnya untuk bergerak. Walau tidak keseluruhan tubuhnya bergerak, setidaknya mulutnya dapat bergerak untuk bertanya, "Untuk apa Danna membuat boneka itu?"

Sekilas—hanya sepersekian detik—mata Sasori menunjukkan kelegaan karena akhirnya Deidara membuka suara. Namun sinar matanya berubah seketika saat mendengar pertanyaan yang Deidara lontarkan. Diliriknya boneka replika Deidara yang kini dibawanya untuk sesaat kemudian kembali menatap sang partner yang berdiri di hadapannya.

"Untuk mengabadikan keindahanmu," sahut Sasori tanpa perubahan sedikitpun di raut wajahnya yang datar.

Mata Deidara melebar kembali setelah mendengar jawaban Sasori. Ia bisa menangkap kejujuran tanpa kebohongan sedikitpun dari jawaban Sasori. Dari nada yang Sasori gunakan, juga dari tatapan matanya, Deidara bisa membaca dengan baik kejujuran yang ingin Sasori tunjukan.

"Bukankah keindahan tidak seharusnya diabadikan, Danna?" tanya Deidara, menyeringai tipis. "Jika keindahan itu memang sepantasnya berlalu secara alami, untuk apa memaksakan diri untuk mengabadikannya, un?"

Sasori menautkan kedua alis merahnya. "Kau tidak mengerti," ucapnya pelan seraya perlahan meletakkan boneka replika Deidara itu di atas meja, memposisikanya dengan posisi berbaring. "Untuk bisa dikenang selamanya, agar tak pernah terlupakan, keindahan yang sebenarnya haruslah abadi. Keindahan yang kau maksud, yang hanya bisa dinikmati dalam waktu singkat, hanya sebuah keindahan semu."

"Danna." Deidara berbisik, ia melangkah pelan mendekati Sasori yang berdiri memunggunginya. "Seni adalah keindahan sesaat yang pada akhirnya lenyap, habis tak bersisa. Sama seperti hidup. Hidup yang sesungguhnya hanya berlangsung dengan singkat, bukan?"

Masih memunggungi Deidara, Sasori meletakkan kedua tangannya di atas meja. Kedua matanya ia pejamkan guna menahan emosi yang mulai bergejolak di dadanya. Sasori sangat membenci kata-kata yang mengingatkannya tentang betapa singkatnya hidup yang sebenarnya. Sasori menjadikan dirinya sendiri sebuah benda abadi merupakan langkah yang ia lakukan untuk melupakan betapa pahitnya hidup yang singkat.

"Hidup memang singkat," sahut Sasori pada akhirnya. "Sebuah kehidupan pada umumnya memang berlangsung secara singkat, Deidara. Seorang manusia bisa mati dengan cepat, dengan mudahnya, dalam hidupnya yang singkat. Saat ia mati, jelas ia tak akan merasakan apa-apa. Akan tetapi, kepedihan atas kematiannya akan dirasakan oleh orang-orang terdekatnya. Kepedihan, yang mungkin, akan tetap tertanam di hati mereka sepanjang hidup mereka."

Tatapan Deidara melembut. Ia tahu ia tengah menggali titik terdalam Sasori yang jarang terjamah.

"Untuk itu, selama hidup bisa diabadikan, selama kematian dapat dihindari, untuk apa tetap hidup dalam waktu yang terbatas? Jika kau bisa menentukan skenario kehidupanmu sendiri, untuk apa tetap menjalani skenario yang sudah ditentukan?" lanjut Sasori.

"Karena itu, sudah kukatakan, hidup ini sama halnya dengan seni. Sama-sama berlangsung singkat dan terjadi berulang kali dengan skala keindahan yang tidak konstan, un. Apa Danna percaya pada reinkarnasi? Aku percaya, karena proses singkat yang berulang adalah sesuatu yang benar-benar indah."

"Singkat dan terjadi berulang kali? Tidak ada yang bisa menjamin keindahannya tetap sama seperti sebelumnya. Bagaimana jika penikmatnya kecewa?" tanya Sasori yang belum memiliki keinginan untuk menatap wajah sang partner yang berdiri tepat di belakangnya.

"Contoh sederhana saja, Danna. Matahari terbenam. Singkat dan berulang-ulang, bukan? Bahkan Danna pun menyukainya."

"Yang hanya bisa kau lihat di sore hari? Bukankah lebih baik kau mengabadikannya agar kau bisa menikmati keindahannya kapan pun kau menginginkannya?"

"Sepertinya tidak. Karena aku akan merasa bosan, un."

Sesaat setelah Deidara menyelesaikan kalimatnya, baik mata Sasori maupun mata Deidara sendiri melebar karenanya. Deidara terkejut karena ia telah memilih kata yang salah, tak mengherankan mengingat ia memang sering bicara tanpa menimbang-nimbang terlebih dahulu. Sedangkan Sasori, satu kata yang Deidara ucapkan berhasil memancing amarahnya.

Brak!

Deidara tersentak saat Sasori menggebrak meja di hadapannya, membuat benda-benda di atasnya termasuk replika Deidara bergeser posisi. Keterkejutannya kian bertambah saat Sasori berbalik dan menatapnya dengan mata penuh kilat amarah.

"Bosan?! Keabadian membuatmu bosan, Deidara?!"

Dengan panik Deidara segera menjawab, "Tidak semua keindahan abadi membuatku—"

"Apa kau juga ingin mengatakan suatu saat kau akan bosan padaku?" pertanyaan Sasori memotong kalimat Deidara.

Nada yang Sasori gunakan untuk pertanyaan ini jauh berbeda dengan nada penuh amarah yang ia gunakan tadi. Kali ini ia terdengar berbisik, dengan suara pelan, dan nada kecewa. Sekilas Sasori menatap Deidara dengan mata yang menunjukkan emosi yang sama dengan nada bicaranya; kecewa. Kemudian, ia kembali berbalik untuk memunggungi Deidara. Mata Hazel-nya kini menatap replika Deidara yang sudah ia buat dengan susah payah, dengan meluangkan waktu dan pikiran, tenaga dan perasaan. Apa usahanya sia-sia karena Deidara sama sekali tak menghargainya?

Deidara merasa jantungnya diremas oleh pertanyaan dan tatapan kecewa yang Sasori berikan padanya. Sungguh ia tak bermaksud untuk mengatakan keabadian itu membosankan. Terlebih lagi, mustahil baginya untuk merasa bosan pada Sasori, pada seseorang yang menjaga jiwa, raga, dan hatinya.

Memejamkan mata sesaat, Deidara mencoba menenangkan diri. Karena dalam situasi panik, ia tak akan bisa membuat Sasori percaya.

"Danna," bisiknya seraya membuka mata. "Perasaanku padamu tidak akan pernah berubah. Kita bisa mengatakan perasaan ini abadi, un."

Tatapan mata Sasori melembut perlahan.

"Maafkan aku yang salah memilih kata sehingga membuat Danna salah paham. Aku tidak akan pernah bosan, karena Danna selalu bisa membuat perasaanku meledak-ledak tetapi tidak mengurangi perasaan itu sendiri, un." Deidara melangkah pelan mendekati Sasori. "Jangan pikir aku membenci prinsip senimu, un. Aku sangat menghargainya, karena terkadang aku berpikir untuk menemani Danna mencapai keabadian yang Danna inginkan. Aku tidak ingin Danna terpuruk dalam kesendirian lagi walaupun aku tahu suatu saat aku akan pergi."

Sasori memejamkan matanya, menghayati kata demi kata yang Deidara ucapkan dengan tulus. Ya, Sasori bisa membaca ketulusan Deidara hanya dari mendengar suaranya. Tetapi saat mendengar kalimat terakhir Deidara, Sasori bisa merasakan tusukan tak nyata di jantungnya.

"Karena alasan itulah, aku membuat replika dirimu agar aku bisa selalu mengenangmu, Deidara," bisik Sasori. "Bukan hanya aku, semua orang di dunia ini tak boleh melupakan dirimu," lanjutnya seraya mengelus rambut pirang bonekanya.

"Terima kasih." Deidara berbisik seraya memeluk Sasori dari belakang.

Mengetahui Deidara memeluknya, Sasori bisa merasakan kehangatan di satu-satunya organ tubuh manusia yang masih ia miliki.

"Seni adalah sebuah impian karena rumus-rumus tidak dapat mengihtiarkan kenyataan," ucap Sasori seraya berbalik untuk membalas pelukan Deidara. "Seni adalah ungkapan perasaan yang ingin disampaikan kepada orang lain oleh penciptanya."

Deidara mengangguk. Ia mengerti Sasori membuat replika dirinya untuk mengungkapkan perasaan Sasori yang terdalam kepada Deidara.

Seraya mengeratkan pelukannya pada Sang Danna, Deidara berucap, "Di dalam diriku, kedua prinsip kita berpadu. Hidupku singkat dan rapuh, namun perasaanku padamu abadi, un."

Aku pun begitu, Deidara, batin Sasori seraya tersenyum dan memejamkan sepasang mata yang dipenuhi sinar kebahagiaan.

_TBC_

1217 words.