;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;

Abnormally Bautiful Days

;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;

.

.

.

Sejak malam di mana para Fantasinian menampakkan diri di depanku. Kabar bahwa Hatsune Miku telah tewas pada saat penyerangan segerombolan Gargoyle di siarkan. Sebagai kamuflase agar media benar-benar percaya, sisa dari pakaian pasien tercabik-cabik mereka tinggalkan di ruang rawat yang sebelumnya ku tinggali. Lily juga telah menyelinap ke ruang sekuriti dan mengganti rekaman CCTV dengan hasil editan Gumiya. Jadi semua, kurang lebih, hilang. Sidik jari? Tak satupun tersisa setelah Kaito membersihkan ruangan itu. Hadirkan embun, basahi semua tempat, dinginkan, uapkan. Jika bisa menguasai es, kenapa tidak dengan air?

Sekarang aku tinggal bersama para makhluk antar dimensi ini di persembunyian mereka, rumah pohon Yggdrasil. Dari pada di sebut rumah pohon, tempat ini lebih seperti kompleks apartemen raksasa yang menampung para Fantasinian yang ikut terseret Titan Gate. Wujud asli rumah pohon ini sebenarnya adalah batang utama dari tubuh asli paman Big Al, seorang Treant, ras Titan namun masih berkerabat dengan Gumiya. Jika mau, paman Big Al bisa menggerakkan seluruh "apartemen" dan berpindah tempat dari satu zona mati ke zona mati yang lain. di sebut zona mati, karena tempat tempat tersebut telah lama terbengkalai karena hancur di serang para lesser demon dan corrupted.

Mungkin aneh jika membayangkan tubuh asli paman tidak bisa di temukan selama sepuluh tahun. Ternyata itu karena efek sihir kamuflase yang ia kuasai sebagai salah satu Forest Guardian.

Jika membandingkan antara orang dan tubuhnya, siapa pun pasti tercengang. Jujur, tubuh asli paman sangatlah besar, berkulit keras bagai baja dan terdapat wajah yang sangat menyeramkan di batang utama. namun jika melihat orangnya secara langsung…

"Paman! Ayo main!" seru Ryuuto yang sekarang menindih lelaki paruh baya yang tertidur pulas tertelungkup di sofa. Bocah berpakaian hampir serba hijau dengan telinga runcing seperti Luki itu adalah seorang kurcaci, sama seperti halnya dengan Yuki. Anak perempuan sebaya Ryuuto.

Bocah itu memainkan wajah paman yang tampak polos, memasukkan kedua ujung telunjuk tangannya ke dalam mulut lelaki malang itu lalu menariknya kesana kemari sehingga Yuki yang berjongkok di ujung sofa tertawa melihat wajah konyol paman karena ulah jahil si Ryuuto. Ajaibnya, paman sama sekali tidak terusik bahkan suara dengkuran semakin keras terdengar. Di tambah gelembung ingus kembang kempis di hidungnya, aku sendiri harus bersusah payah menahan rasa geli di perutku melihat tingkah mereka.

Hingga akhirnya Lenka datang dan kedua anak kecil tadi berhamburan kearahnya, "Lenka nee!" gadis itu tersenyum lembut, berjongkok menyambut pelukan dua monster kecil hiperaktif di rumah kami.

"Lenka nee, ajak aku terbang dong!" rengek Yuki, Ryuuto di sampingnya yang tidak mau kalah juga melakukan hal yang sama.

"Aku juga! Aku juga!"

"Ugh! Ryuuto kun, kemarin sore kan sudah, sekarang giliran Yuki" protes gadis kecil berambut hitam berkuncir dua sambil menggembungkan pipi dan membentuk angka tiga di bibirnya.

"iya, Ryuuto kan sudah, gantian dong" rayu Kaito yang muncul dari belakang Lenka. Mereka bertiga menoleh ke arah pemuda yang identik dengan es, syal biru, dan pakaian berjubah putih yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. "nanti Kaito nii kasih es krim loh"

Ryuuto melenguh, "Ah ga mau, Kaito nii bisanya Cuma kasih es krim" sungut bocah berambut hijau ini, sambil berpaling muka. "paling-paling rasa vanilla"

"Oh, kali ini tidak. Kaito nii bisa membuat ice cake" ucap lelaki itu sembari menyulap sebuah ice cake dengan sekali sapuan syal biru di lehernya pada telapak tangan yang terbuka "rasa black forest" ketiga penonton seketika terkesima dengan keajaiban di depan mereka. Sepasang mata mereka berbinar-binar dan mulut mereka membulat.

Yah, keseharian di sini sangat damai dan menyenangkan. Semua seolah tidak terjadi apa-apa, padahal sebenarnya mereka harus menghadapi para manusia yang menganggap mereka ancaman karena kesalahan paham atau antek-antek Cardinal Seven yang tersisa.

"Rinto awas kamu ya!" suara ini adalah Gakupo Kamui. Di kenal playboy, entah karena dia suka sekali bermain game atau memang suka genit pada perempuan.

"Tch! Hei lihat! Lily nee baru keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk saja!" ah, ini… yah, Rinto. Sebenarnya dia tidak lah memiliki sifat kurang ajar seperti itu hanya saja itu…

"Ha?! Mana?! Mana?!" mengalihkan konsentrasi lawan. Sepertinya lelaki berambut ungu ala samurai kolot itu memang seorang playboy sejati.

"Kena kau Kamui nii! Rasakan serangan kombo maut Reiji the Crow milikku!" seru Rinto yang segera menekan tombol secepat mengocok adonan telur di Loyang. Karakter manusia gagak yang di kendalikannya segera melakukan tendangan untuk mementalkan lawan ke udara dan begitu jatuh segera di sambut tendangan bertubi-tubi. Memojokkan lawan ke dinding kasat mata sebelum kembali ke bentuk manusia dan membanting karakter milik Kamui nii yang dalam kondisi tercekik oleh telapak kaki ke belakang. KO.

"Nooo! Xion!" Kali ini dia berpura-pura menangis setelah karakter game fighting yang ia gunakan berhasil di kalahkan Rinto.

"SAMPAI KAPAN KALIAN AKAN MAIN TERUS?! HAH!" suara menggelegar, wajah garang, rambut pirang caramel, telinga rubah merah. Dialah SeeU. Wanita paling disegani di kediaman ini. Berani membantah sama dengan mati. Atau setidaknya semua korbannya akan memohon untuk itu. SeeU adalah Gumiho, siluman rubah. Sebenarnya dia sangat baik seperti Lily, hanya saja jangan sampai memancing sisi yandere lycan penguasa sihir ini jika tidak ingin berakhir menjadi arang. Berdasarkan cerita Lily, dia masih memiliki garis keturunan dengan kyuubi.

Untuk Gumiya dan Luki, mereka berdua lebih suka menyendiri sebenarnya. Mengarang lagu dan segala macam yang berhubungan dengan semua itu. Sedangkan si tuan sadis… dia tidak terlalu banyak tingkah. Mungkin awal perjumpaanku dengannya tidak berjalan baik, tapi setidaknya aku tidak terlalu terganggu dengan keberadaannya.

Makhluk itu lebih sering keluar entah kemana dan bertingkah sesuka hati. Menakut-nakuti Ryuuto dan Yuki adalah salah satu kegemarannya. Aku? Masih, dia masih berusaha menakuti-nakutiku. Meninggalkan bagian tubuhnya di mana-mana sekiranya aku akan menemukan benda-benda itu menggeliat penuh darah. Paling sering, toilet.

Kamui kun pernah bercerita, dia hanyalah makhluk yang berusaha menambal lubang menganga di hatinya. Berdasarkan kisah kuno tentang makhluk dari dunia cahaya dan kegelapan yang membawa perubahan besar di dunia mereka berasal. "Dia memang gila. Menurutku, selain sifat aslinya yang memang dingin dan usil, dia memang ingin semua menjaga jarak darinya. meski dia tidak akan mengusirmu secara langsung saat kau berada di dekatnya"

Soal tangan yang berbalut gips, kemarin sudah boleh ku buka. Awalnya, aku bernapas lega karena aku bisa kembali menggunakan tangan ini, namun begitu aku tahu bahwa ada yang aneh dan ganjil.

"Maaf ya Miku chan, Lily nee terpaksa berbohong. Cacing parasit di lengan kiri sama sekali tidak bisa di angkat, ia seperti tersambung langsung dengan syaraf jantung" wajahku memucat seketika.

"lalu aku harus bagaimana?! Apa makhluk itu akan memakan tubuhku perlahan-lahan?!" aku panik dan putus asa, Lily memandangku khawatir. Lalu makhluk itu melintas di hadapan kami.

"Tidak. Ia hanya bersimbiosis dengan tubuhmu. Aku tidak bisa mengeluarkannya karena ia tak mau, jadi tunggu saja hingga aku mati, atau setidaknya nikmati sepanjang hidup dengan teman baru mu itu" dan pergi entah kemana setelah sekilas menunjukkan wajah aslinya padaku, tertawa sinis.

Aku terdiam tak tahu harus berkata apa. Sekarang bentuk tangan ini sedikit berubah. Kuku meruncing, ruas-ruasnya lebih besar jika di bandingkan tangan kananku, bahkan warna kulit jauh lebih pucat hingga pangkal siku. Seperti…

'monster'.

x-X-x

Fantasinian, Dark Being, Titan Gate… ah, semua itu membuat kepalaku pusing. Makhluk yang terlahir kurang lebih karena daya imajinasi manusia. Berada di dunia yang berbeda hingga ayah secara tidak sengaja menemukan kunci pemisah dunia kami. Lalu apa hubungannya denganku, dan mengapa mereka begitu senang saat aku bersama mereka? Malam di mana makhluk itu mendatangiku pertama kali, ia berkata bahwa aku telah di gadaikan untuk menjadi korban persembahan pasukan abadi oleh ayahku sendiri. Aku sama sekali tidak mengerti. Ayah sangat sayang padaku, hal tentang dia menghardikku dari ruang kerjanya memang benar adanya. Namun aku seperti tidak melihat ayahku sendiri di sana waktu itu. Dia… seperti orang lain yang tak ku kenal.

Aku termenung memandang jendela. Memperhatikan langit jingga menjelang senja menaungi hamparan bangunan kosong di bawah kaki Yggdrasil. Di salah satu ujung cabang yang menjulur di dekat jendela, aku melihat siluet bertuxedo yang tak lain adalah dia. Duduk bersila tanpa melakukakan apapun.

Seperti tahu bahwa aku diam-diam memperhatikannya, dia pun menoleh seratus delapan puluh derajat kearahku. Topeng porselen dan hal lainnya ia tampakkan, namun percuma, dari jarak sejauh ini ia tidak akan menakutiku. Kecuali tarantula hitam yang tiba-tiba merayap di ujung pundakku.

"Kyaaa~aaa!"

"Stab!"

Makhluk itu terbelah menjadi dua. Mata dan badan terpisah. Ia menggeliat sebentar, lalu menyambung diri sebelum pergi menyelinap di antara rak-rak buku. Kemudian aku rasakan seseorang menepuk pundakku, membuatku kembali panik sebelum tahu bahwa orang itu adalah Rinto. "Kamu tidak apa-apa Hatsune san?" tanyanya. Jemarinya berpendar kehijauan karena baru saja menggunakan zephyr. Berbeda dengan waktu itu, sayap putih di punggungnya tidak ku lihat lagi. Tapi seperti biasa, ia enggan mengenakan baju, membuatku sedikit risih dan malu jika dia terlalu dekat. Ia beralasan baju hanya membuatnya gerah, selain itu lebih merepotkan saat harus mengeluarkan sepasang sayap yang sekarang berupa tato putih di balik punggungnya.

Aku menggeleng cepat-cepat sebelum rona pipiku terlihat, mengucap terima kasih dan sedikit melangkah mundur menghindarinya. Dia sama sekali tidak menyadari tingkahku barusan, berpaling ke arah terakhir tarantula itu bersembunyi dan hanya menggerutu tentang makhluk di luar jendela tadi, sebelum meninggalkanku menuju refrigerator. "Bagus! Ice cake Kaito masih ada!" seru Rinto seraya mengambil sepotong makanan itu. Ia menoleh sejenak padaku. "Hatsune san mau?" tawarnya.

Hmm, mungkin. Aku mengangguk, berjalan menghampirinya. Sepotong ice cake setidaknya bisa menenangkan keruwetan isi kepalaku, apalagi dengan coklat sebagai bahan dasarnya. Bukankah coklat bisa menghilangkan stress? Atau aku salah baca? Bocah laki-laki yang tampak seusia denganku ini memberiku satu potongan di atas piring kecil, dan sekarang kami duduk menikmatinya di kursi sofa.

Rupanya Ice cake buatan manusia salju tak jauh beda dengan aslinya. Sama-sama enak dan manis. "Aku baru tahu kalau Kaito bisa membuat makanan seperti ini" celetukku. Rinto yang baru menyuap sepotong kecil ke dalam mulutnya menatapku. Kedua alis terangkat dengan sendok masih tergigit di mulut.

"Yah, di dunia kami tidak ada hal semacam ini. sejak makhluk itu datang kemari dan mengenal variasi es krim buatan manusia, ia mulai mencoba-coba" Rinto melahap sesendok lagi "meski sedikit bodoh tapi dia memang bisa di andalkan. Tidak hanya membuat es krim saja" Memang. Kaito mungkin seperti bocah maniak es krim. Tapi sebagai Yuki Otoko, dia bisa berubah sifat dengan sangat cepat jika dalam kondisi terjepit atau karena faktor lain yang sama sekali tidak di ketahui teman-temannya.

"Hei, Hatsune san, Rin itu seperti apa orangnya?" ucapnya tiba-tiba mengubah topik pembicaraan. Sontak aku hampir tersedak es krim di mulutku. Bocah itu terkejut dan secara reflek menepuk-nepuk punggungku. Ugh… mengapa menjadi seperti ini? Rin ku adalah gadis cantik, lucu dan ceria. Sangat mudah bergaul, hiperaktif terkadang paling suka mengatur layaknya pemimpin dalam kelompok kecil kami. Namun sejak Rin berganti sosok dengan mu…

"Hatsune san, kau demam?" punggung tangan maskulin lainnya kali ini menempel di dahi ku setelah menyibak tiga rumpun poni yang menghalangi "wajahmu sedikit merah" sambungnya.

"Ah tidak! Kamu hanya salah lihat!" sanggahku segera seraya menyambar kembali potongan ice cake yang tadi ku letakkan di meja lalu memunggungi Rinto. Tahukah kamu, mungkin karena mu sekarang aku seperti terkena demam sungguhan. Sekujur tubuhku terasa hangat, "Uuuu…"

Untunglah tidak terjadi suasana sepi berkepanjangan seperti dalam beragam cerita roman yang dulu ku baca. Sungguh aku tak tahu lagi harus bagaimana. Terima kasih tarantula, eh? Tarantula?! Ya, tarantula! Makhluk itu sekarang merambat di lengan sofa. Memandangiku dengan bola mata bulat berwarna crimson bercincin azure di belakang tubuhnya.

"Kyaaa~aaa ! ! !" spontan aku menjerit, di susul suara berat di luar jendela tertawa terbahak-bahak mengoyak langit.

.

.

.


A/N : Update terlalu cepat? XD, mumpung ada sedikit ide yang bisa di tulis. Terima kasih sudah meluangkan waktunya. n_n