.
.
.
.
.
Sungmin menatap langit-langit kamarnya hampa. Semalaman, dia tidak bisa tidur lagi, belum bisa menerima kenyataan bahwa Kyuhyun adalah seorang gay. Sungmin masih sulit mempercayainya. Sungmin setengah mati berharap Kyuhyun hanya berbohong, tetapi yang Sungmin lihat kemarin terlalu meyakinkan. Bahkan, Kyuhyun memanggil namanya dan memeluknya.
Sungmin terduduk lemah. Sungmin merasa terlalu lemah dengan semua ini, tetapi Sungmin tidak pernah menyesal telah menyukai Kyuhyun. Sampai sekarang pun, Sungmin masih menyukai Kyuhyun walaupun Kyuhyun tidak mungkin menyukainya.
Sungmin tidak tahu harus melakukan apa dan bersikap bagaimana di depan Kyuhyun. Sungmin tidak jijik padanya karena dia seorang gay, tetapi Sungmin terlalu menyukainya sampai tidak mampu menatapnya.
Sungmin membentur-benturkan kepalanya ke lututnya, berharap bahwa semalam tidak pernah terjadi apa-apa. Mendadak semua kenangannya bersama Kyuhyun terputar di otaknya Sungmin benar-benar tidak mau percaya.
Tiba-tiba ponsel Sungmin berdering. Ryeowook meneleponnya. Sungmin cepat mengangkatnya.
"Min? Kenapa kau tidak kuliah hari ini?" seru Ryeowook dari seberang. "Ada apa, Min? Kau sakit?"Belum sempat menjawab, Sungmin sudah terisak.
"Sungmin? Kau kenapa? Ada apa?" tanya Ryeowook panik sementara isakan Sungmin semakin menjadijadi.
"Ryeowook..." gumam Sungmin, dan selanjutnya cerita semalam mengalir seperti air. Di ujung sana, Ryeowook terdiam, tidak bisa berkata apa-apa.
"Dia... gay?" kata Ryeowook lambat-lambat, tak percaya. Sungmin semakin terisak. "Sungmin! Kau tunggu aku! Aku akan ke flat-mu sekarang!"
Ryeowook memutuskan sambungan sementara Sungmin kembali tersuruk di antara bantal bantalnya.
.
.
.
.
.
Ryeowook sekarang sudah berada di flat Sungmin, memegang tangannya erat-erat.
Ryeowook benar-benar tidak habis pikir dengan cobaan yang dialami Sungmin tanpa berkesudahan. Sudah cukup Kyuhyun adalah seorang HIV positif, sekarang ditambah kenyataan bahwa Kyuhyun menderita penyakit itu gara-gara hubungan sesama jenis. Ryeowook jadi semakin menyesal kenapa kemarin-kemarin dia malah memberi semangat pada sahabatnya itu.
"Min... Maafkan aku." sesal Ryeowook membuat Sungmin menatapnya.
"Kenapa, Wook? Memang kau salah apa?" tanya Sungmin dengan suara serak.
"Karena kemarin aku bicara yang tidak-tidak. Soal takdir itu," jawab Ryeowook hati-hati. Sungmin tersenyum menatap sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa, Wook. Bukan salahmu," balas Sungmin pelan.
Ryeowook menatap Sungmin lama. Ryeowook tahu kesedihan Sungmin hanya dengan melihatnuya. Hati Sungmin sudah hancur, tetapi gadis itu berusaha mati-matian untuk tegar.
"Lalu... kau ingin bagaimana?" tanya Ryeowook.
Sungmin terdiam sejenak, lalu tersenyum dengan sisa-sisa kekuatannya.
"Aku tidak bisa menjauhinya, Wook. Perasaanku masih sama, bahkan setelah tahu dia gay. Aku tidak bisa membencinya," ujar Sungmin lirih.
"Jangan memaksakan diri, Min," kata Ryeowook. "Dia pasti mengerti."
Sungmin menggeleng. "Aku ingin menemaninya sampai dia pergi. Itu sudah keputusanku."
Ryeowook menatap Sungmin sedih. "Tapi, Min, dia bisa saja menyakitimu lagi," katanya membuat Sungmin menggeleng.
"Wook, apa lagi yang tersisa untuk disakiti?" Sungmin tersenyun getir. "Dia tidak mungkin menyukaiku. Tapi, aku tidak pernah menyesal pernah menyukainya. Dia... sedikit banyak telah memberiku pelajaran hidup. Dia sangat menghargai orang lain sampai dia ingin hidup sendirian. Itu yang membuatku tidak bisa meninggalkannya."
Ryeowook menatap Sungmin, matanya masih menyiratkan ketidakpercayaan. Sebenarnya, Ryeowook ingin berteriak pada Sungmin agar tidak berhubungan lagi dengan Kyuhyun. Sungmin menghela nafas melihat kekhawatiran Ryeowook.
"Wook, di luar dia HIV positif dan seorang gay, dia butuh seseorang. Kita semua butuh seseorang," kata Sungmin.
"Tapi, kenapa harus kau, Min?" tanya Ryeowook lagi membuat Sungmin tersenyum lembut.
"Mungkin karena ini takdir. Seperti yang kau katakan," jawab Sungmin membuat Ryeowook terkesiap.
Sungmin sudah mengambil keputusan. Sungmin tidak akan menjauhi Kyuhyun. Sungmin akan menerima Kyuhyun apa adanya walaupun itu berarti cinta Sungmin tidak akan terbalas. Sungmin akan berusaha semampunya untuk mendukung Kyuhyun.
Ryeowook mempererat genggamannya pada tangan Sungmin, mengangumi kekuatan hati sahabatnya itu. Sungmin juga sudah tidak menangis lagi. Dia berjanji dalam hati untuk menjadi lebih kuat, agar bisa menemani Kyuhyun tanpa membebaninya.
.
.
.
.
.
Kyuhyun menatap kosong langit penuh bintang di atasnya. Pikiran Kyuhyun melayang ke mana-mana, dari kenangan masa SMA-nya sampai kejadian beberapa malam lalu saat dia mengaku gay pada Sungmin. Dan, sekarang, wajah sedih Sungmin memenuhi kepalanya.
Mendadak, terdengar suara seperti pintu yang ditendang paksa. Kyuhyun menoleh dan mendapati Sungmin sudah berdiri di sana dengan kedua tangan memegang mug yang mengepul. Di wajahnya, terpasang cengiran nakal.
Kyuhyun menatapnya nanar. Perempuan itu masih saja mau mencarinya, bahkan setelah tahu dia gay. Kali ini, Kyuhyun benar-benar tak habis pikir. Kyuhyun menyerah untuk mengerti perempuan yang satu ini.
Sungmin menghampiri Kyuhyun, lalu duduk di sebelahnya. Dia menyodorkan mug plastik berisi susu coklat pada Kyuhyun. Kyuhyun menerimanya dan mengangguk kecil sambil mengucapkan terima kasih.
"Wah, bintangnya banyak, ya?" ujar Sungmin sambil mendongak. Kyuhyun tak mejawabnya. Dia pura-pura sibuk menyeruput susu cokelatnya. Sungmin menatap Kyuhyun.
"Bagaimana, Kyuhyun, sudah ketemu?" tanya Sungmin membuat Kyuhyun menatapnya heran. "Jungmo. Sudah ketemu belum?"
Kyuhyun melotot mendengar pertanyaan Sungmin. Kyuhyun sama sekali tidak menyangka Sungmin akan membahas masalah ini dengannya. Dia pikir Sungmin akan jijik padanya dan menghindar, tapi perkiraannya salah. Perempuan ini ternyata benar-benar ingin mencampuri hidupnya.
"Belum," jawab Kyuhyun setelah terdiam beberapa detik. Sungmin mengangguk-angguk.
"Eh Kyuhyun, aku punya ide bagus," kata Sungmin membuat Kyuhyun kembali menatapnya. "Bagaimana kalau aku membantumu mencarinya di kampusku? Aku akan mencoba bertanya di semua jurusan. Bagaimana?"
Kyuhyun hampir saja menganga. Dia bahkan sudah melakukannya, tetapi untungnya Sungmin sibuk menghirup susu cokelatnya, jadi tidak sempat menyadarinya. Kyuhyun mengatupkan mulutnya. Gelas di tangannya sudah hampir remuk.
Kyuhyun tidak tahu mengapa dia bisa sebegini kesal, tetapi perkataan Sungmin barusan membuat darahnya naik ke kepala. Bisa-bisanya perempuan itu mengatakan akan membantu Kyuhyun mencari Jungmo, padahal kemarin-kemarin dia mengaku sayang dan sebagainya.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Kyuhyun kemudian, membuat Sungmin menatapnya. Kyuhyun balas menatap Sungmin tajam. "Kenapa kau ingin membatuku?"
"Kyuhyun, dulu aku pernah bilang kan, kalau aku ingin menemanimu?" Sungmin berkata lembut.
"Sekarang, mungkin kita sudah tidak bisa bersama, tapi aku tetap ingin membantumu. Sebagai teman. Boleh, kan?"
Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari Sungmin. Tentu saja. Perasaan Sungmin kemarin memang hanya simpati, makanya sekarang dia sudah melupakannya dan memutuskan untuk membantunya. Kyuhyun menertawai kebodohannnya sendiri dalam hati. Sekarang, Kyuhyun hanya harus berhati-hati untuk tidak terbawa oleh perasaannya sendiri. Kyuhyun harus meneruskan perannya.
"Kyuhyun," ujar Sungmin membuat Kyuhyun menoleh. "Jangan mengkhawatirkan perasaanku. Aku baik-baik saja."
Mata Kyuhyun melebar setelah mendengar perkataan Sungmin. Pikiran Kyuhyun ternyata salah besar. Perempuan itu masih menyukainya, hanya saja dia berusaha untuk kelihatan tegar. Perasaan Sungmin untuknya ternyata tulus. Hati Kyuhyun terasa sakit mengetahui ini. Tidak seharusnya dia berbohong pada perempuan ini, tetapi Kyuhyun tidak ingin mengambil resiko. Menyelamatkan Sungmin dari masa depan suram bersamanya adalah tugas utamnaya sekarang.
"Boleh saja," kata Kyuhyun akhirnya, kemudian tersenyum pada Sungmin. "Terimakasih, kau sudah sangat baik padaku selama ini."
Sungmin balas tersenyum, lalu mengangguk. Kalau saja Kyuhyun tidak bisa menahan diri, dia pasti sudah menangis di depan Sungmin. Kyuhyun mengalihkan pandangannya, sebisa mungkin tidak melihat perempuan itu.
"Kyuhyun, karena sekarang kita teman, kau bisa kan bercerita padaku?" tanya Sungmin ceria. Sungmin tak mau terlihat sedih di depan Kyuhyun.
"Hm, cerita apa?" kata Kyuhyun. "Bagaimana kalau...Cinderella?"
Sungmin tertawa lepas mendengar gurauan Kyuhyun, tetapi di dalam hatinya dia sedih baru kali ini Kyuhyun mau bercanda dengannya. Kyuhyun sendiri menolak untuk melirik Sungmin. Selama beberapa saat, Sungmin dan Kyuhyun sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masingmasing. Sungmin tiba-tiba bergidik.
"Kau tidak kedinginan, Kyuhyun?" tanya Sungmin.
"Tidak," jawab Kyuhyun.
"Aku kedinginan. Aku turun dulu ya?" Sungmin bangkit dan membersihkan celananya, lalu bergerak ke pintu.
"Sungmin," panggil Kyuhyun membuat Sungmin menoleh. Kyuhyun mengangkat mug plastik yang dipegangya. "Ini, terimakasih ya."
Sungmin mengangguk, lalu meneruskan berjalan. Beberapa langkah kemudian, dia kembali menoleh.
"Kyuhyun," kata Sungmin membuat Kyuhyun menatapnya. "Kalau ada apa-apa, kau boleh cerita padaku. Kala aku bisa, aku pasti membantumu."
"Ya, terimakasih," kata Kyuhyun, dan Sungmin menghilang di balik pintu.
Kyuhyun menatap pintu itu lama dan setelah yakin Sungmin sudah tidak ada di sana, air matanya mulai mengalir tanpa bisa dihentikannya. Dari sekian banyak penderitaan yang pernah dilaluinya, inilah yang paling menyakitkan. Sebelumnya, Kyuhyun sudah parah menerima penyakitnya dan siap mati, tetapi semenjak bertemu Sungmin, Kyuhyun menjadi sangat marah pada Tuhan.
"Kenapa..." gumam Kyuhyun geram. Matanya menatap langit yang berbintang. "Kenapa harus dipertemukan dengannya kalau harus dipisahkan lagi?"
Gelas di tangan Kyuhyun sudah remuk, isinya tumpah. Tangannya terkepal keras dan gemetar hebat. Dia menunduk, dan tetesan air matanya dengan segera membasahi lantai yang dingin.
.
.
.
.
.
Sungmin tersaruk menuju kamarnya. Air mata sudah menetes di pipinya. Dia masuk dan menutup pintu, lalu merosot ke lantai.
Ternyata, perasaan Sungmin terhadap Kyuhyun masih sama besarnya seperti sebelum Kyuhyun berkata dia gay. Sungmin masih belum bisa sepenuhnya merelakan Kyuhyun. Sungmin masih saja berharap Kyuhyun akan berkata bahwa dia berbohong soal perkataannya itu.
Namun, kemudian Sungmin tersadar. Sekarang sudah tidak ada gunanya lagi memikirkan itu. Sungmin harus mengesampingkan perasaannya untuk membantu Kyuhyun. Kyuhyun membutuhkan teman, dan hal itulah yang akan dilakukan Sungmin. Sungmin akan menjadi kuat untuk menolong Kyuhyun.
Sungmin menghapus air matanya, dan tanpa sengaja dia melirik komputernya. Tiba-tiba, dia
mendapatkan ide. Sungmin menyalakan komputernya, lalu mulai mengetik.
.
.
.
.
.
Kyuhyun menyalakan korek api dan membakar rokok yang sudah terselip di bibirnya. Dia mengisap rokok itu, dan mengembusakan kepulan asap putih. Hari ini, Kyuhyun sedang mencari Jungmo di INU Fakultas Olahraga. Namun, tampaknya orang itu tidak berkuliah di sini.
Kyuhyun menghela nafas, lalu membuka handycam-nya. Di dalam handycam-nya itu, terdapat kaset yang selalu dihindarinya. Kaset dengan judul "Anyang 2000". Kyuhyun menggigit bibirnya ragu, tetapi dinyalakannya juga handycam itu.
Mata Kyuhyun terasa panas karena tidak berkedip saat menonton film yang terputar di sana. Rahangya mengeras. Mungkin seharusnya dia tidak pernah menonton film ini lagi. Mungkin seharusnya Kyuhyun membuangnya.
Film ini mengingatkan pada semua hal yang telah hilang darinya. Keluarganya. Sahabatnya. Kekasihnya. Mimpinya. Hidupnya.
Setetes air jatuh di layar handycam itu. Tetes air yang berasal dari mata Kyuhyun.
.
.
.
.
.
Sungmin mengendarai motornya tanpa semangat. Tadi di dekat kampus, dia hampir menabrak seseorang karena melamun. Barusan di dekat flat-nya, dia juga hampir menabrak Gary yang baru pulang dari supermarket.
Sungmin mematikan mesinnya dan mendorongnya masuk ke garasi. Dia membuka helm dan menyangkutkannya di spion tanpa semangat. Gary menatap wajah Sungmin yang kusut.
"Ada apa, Min?" tanyanya bingung.
"Tidak ada, oppa," jawab Sungmin lesu sambil naik ke tingkat dua.
Tadi di kampus, Sungmin mencari orang yang sedang dicari Kyuhyun selama ini, Jungmo. Namun, tak satupun dari orang-orang yang ditanyainya bernama Jungmo, ataupun mengenalnya. Sungmin merasa tak akan pernah menemukan oramg itu kalau caranya seperti ini.
Sungmin menghela nafas lagi, lalu menggeleng-geleng. Sungmin akan melakukan apa pun untuk membantu Kyuhyun, tak peduli yang sedang dicarinya itu pasangan sejenis atau siapapun. Sungmin mengangguk semangat, tidak ingin terlihat sedih di depan Kyuhyun. Ketika sampai di lantai dua, Sungmin terpaku melihat seorang perempuan yang sedang berdiri di depan kamar Kyuhyun. Perempuan itu menoleh dengan wajah cemas, lalu tersenyum dan mengangguk pada Sungmin. Sungmin balas mengangguk, tapi masih heran.
"Hai," sapa perempuan itu ramah. "Ng... Kau tinggaldi sini?"
"Iya," jawab Sungmin. Ekspresi perempuan itu segera berubah ceria. Sungmin mengamati perempuan yang cantik dan semampai itu.
"Kau... mengenal Kyuhyun?" tanya perempuan itu lagi.
"Ya. Itu kamarnya," jawab Sungmin lagi, tapi entah mengapa firasatnya terhadap perempuan ini tidak bagus.
Perempuan itu sendiri masih tersenyum penuh semangat. " Dia sedang keluar?"
"Mungkin," jawab Sungmin. "Kau... siapa?"
Ketika perempuan itu akan baru menjawab, terdengar suara orang sedang menaiki tangga. Kyuhyun muncul dari tangga dengan wajah lelah. Dia sedang memijati lehernya dan segera terpaku saat melihat sosok perempuan di depan kamarnya.
Kyuhyun serasa tidak bisa melakukan apa-apa, baik bernafas maupun bergerak, saat melihat perempuan itu. Perempuan itu sendiri mekap mulut, lalu berlari ke arah Kyuhyun dan memeluknya erat. Kyuhyun terlalu kaget sampai tidak bisa menghindari.
"Kyuhyun!" sahut perempuan itu, air matanya mengalir. "Aku pikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi!"
"Vic—victoria...?" gumam Kyuhyun, masih terlalu terkejut. Victoria mempererat pelukannya.
"Maafkan aku, Kyuhyun. Maafkan aku. Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi..." Victoria sudah terisak. "Aku menyesal telah meninggalkanmu. Maafkan aku, Kyuhyun..."
Kyuhyun merasa seluruh tubuhnya membeku, termasuk lidahnya. Dia sama sekali tidak menyangka Victoria akan menyusulnya dan meminta maaf. Kyuhyun berusaha mengambil nafas, dan saat itulah, dia menyadari keberadaan Sungmin yang sedang menatapnya marah.
Kedua tangan Sungmin gemetar di samping pahanya. Sungmin sangat marah sampai ingin meninju Kyuhyun di tempat, tetapi tidak dilakukannya. Entah mengapa, Sungmin hanya bisa terdiam menonton adegan romantis si pembohong Kyuhyun dan mungkin pacarnya.
Kyuhyun balas menatap Sungmin sambil berpikir keras sementara Victoria masih terisak di pelukannya. Kyuhyun akhirnya balas memluk Victoria, membuat Sungmin memalingkan pandangannya.
Kyuhyun berusaha untuk tidak melihat bagaimana Sungmin menangis. Kyuhyun juga menahan segala keinginannya untuk menahan Sungmin saat perempuan itu melewatinya dan berderap turun. Yang sekarang Kyuhyun pikirkan hanyalah, bagaimana Sungmin bisa menjauhinya, apa pun caranya.
.
.
.
.
.
"Apa kabar, Kyuhyun?" tanya Victoria.
Kyuhyun menghisap rokonya, lalu mengembuskanya sekarang. Sekarang, mereka ada di lantai tiga. Victoria menatap punggung Kyuhyun yang tampak jauh lebih kurus dari yang pernah diingatnya.
"Begitu saja," jawab Kyuhyun pendek. "Jadi tahu dari mana alamat ini?"
"Aku menelfon Donghae, lalu aku mengancamnya. Akhirnya, dia memberitahuku alamatmu," kata Victoria.
Kyuhyun mendengus. Tentu saja, Donghae. Hanya Donghae satu-satunya orang yang tahu di mana Kyuhyun tinggal.
"Lalu kenapa kau ke sini?" tanya Kyuhyun lagi.
"Aku... maafkan aku, Kyuhyun," kata Victoria pelan. "Dulu, kita masih muda. Dulu, aku tidak pernah berpikir kalau aku akan sangat kehilanganmu." Kyuhyun tak berkomentar. Dia menatap langit yang berwarna kemerahan. Angin Ilsan yang sejuk membawa wangi bunga sakura yang ditanam ahjumma pemilik flat di taman bawah. Mendadak, Kyuhyun merasa melankolis.
"Kyuhyun, aku benar-benar bodoh sudah meninggalkanmu," kata Victoria lagi. "Sekarang, aku sadar kalau aku..."
"Vict, kau sudah benar," potong Kyuhyun membuat Victoria menatapnya. "Kau dulu sudah membuat keputusan yang benar, meninggalkanku. Jangan berpikir macam-macam lagi. Aku baik-baik saja."
"Tapi Kyuhyun, aku masih sa..."
"Vict, kalau kau memang masih sayang padaku, tolong bantu aku. Kau mengerti, kan?" desak Kyuhyun, kemudian duduk di samping Victoria.
"Kyuhyun..."
"Vict, aku telah memaafkanmu," kata Kyuhyun. "Dulu mungkin aku tidak bisa menerima alasan kau meninggalkanku, tapi sekarang aku sudah merelakanmu."
Victoria menatap Kyuhyun yang menolak menatapnya balik. Air mata Victoria sudah jatuh.
"Kyuhyun, benar kau sudah memaafkanku?" tanya Victoria. Kyuhyun mengangguk, lalu menepuk kepala Victoria, membuat perempuan itu langsung terisak.
"Jangan menangis," Kyuhyun mengacak rambut Victoria. "Terimakasih, sudah datang ke sini." Victoria mengangguk di sela-sela tangisannya. Victoria benar-benar menyesal telah meninggalkan Kyuhyun dulu. Sampai sekarang Victoria masih tidak mengerti, kenapa Tuhan memilih Kyuhyun untuk menerima penyakit ini, penyakit yang merenggut semua kebahagiaannya.
"Kyuhun..." kata Victoria sambil menatap Kyuhyun. "Jangan mencarinya lagi."
Kyuhyun menatap Victoria sebentar, lalu mengalihakn pandangannya. "Tidak, Vict. Aku harus mencarinya sampa ketemu. Setelah itu, aku tidak peduli."
"Kyuhyun, kau harus peduli! Kau masih mempunyai eommamu, kau masih mempunyaiku! Jangan mencari Jungmo lagi, Kyuhyun, aku mohon!" seru Victoria sambil menarik tangan Kyuhyun.
"Vict, sampai sekarang, dia yang membuaku tetap hidup. Tidak ada siapa pun yang bisa menghentikanku," ujar Kyuhyun tegas. "Karena dia, aku terkena penyakit sialan ini. Kau mengerti, kan?"
Victoria menatap khawatir Kyuhyun yang tampak emosi. "Kyuhyunn, berjanjilah, jangan melakukan hal bodoh. Janji, Kyuhyun."
"Vict, kalau tentang itu, aku tidak bisa menjanjikan apa pun," balas Kyuhyun keras kepala.
"Terimakasih sudah memikirkanku."
Victoria terisak lagi, memikirkan Kyuhyun yang sudah berada jauh di luar jangkauannya. Donghae memang sudah memperingatkannya, tetapi dia tidak menyangka Kyuhyun akan menjadi seperti ini. Benar-benar bukan Kyuhyun yang dulu pernah dikenalnya.
"Vict," kata Kyuhyun kemudian. "Jangan pernah memikirkanku lagi. Kau juga harus meneruskan hidupmu. Kau sudah memiliki pacar, kan?"
Victoria menyeka air matanya sambil melirik Kyuhyun marah.
Kyuhyun nyengir. "Yah, bagaimana mungkin kau single selama enam tahun."
"Hatiku sangat sakit mendengarmu berbicara seperti itu," tukas Victoria membuat cengiran Kyuhyun lenyap. "Mendengarmu bisa bertanya seperti itu kepadaku seolah kau sudah benar-benar melupakanku, hatiku sangat sakit."
Kyuhyun terdiam. "Maaf," katanya kemudian.
Victoria mengamati Kyuhyun yang sudah kemblai menatap lurus. "Kyuhyun," kata Victoria. "Kau... menyukai perempuan itu, ya?"
Kyuhyun menoleh pada Victoria yang tampak serius, lalu segera mengalihkan pandangannya. Tak lama kemudian, Kyuhyun mengangguk. Victoria menghela nafas.
"Sudah aku duga," kata Victoria. "Apa dia...sudah tahu?"
Kyuhyun mengangguk lagi. "Dari awal dia sudah tahu dan dia bisa menerima," kata Kyuhyun membuat Victoria mengangguk-angguk.
"Aku kagum padanya," ujar Victoria, matanya menerawang. "Aku dulu... bodoh, ya?"
"Vict," tegur Kyuhyun membuat Victoria tersenyum pahit.
"Kyuhyun, aku benar-benar minta maaf," kata Victoria lagi. "Aku tahu ini mungkin sudah sangat terlambat, tapi kapan pun kau membutuhkanku, aku tidak akan lari lagi."
Kyuhyun menatap Victoria lama, lalu tersenyum tulus. "Thanks."
Mereka kemudian menghabiskan petang itu dalam diam.
.
.
.
.
.
Sungmin melangkahkan kakinya menuju tangga, berharap kalau Kyuhyun tidak ada. Mata Sungmin sudah bengkak karena terlalu banyak menangis di flat Ryeowook tadi, dan Kyuhyun adalah makhluk terakhir yang ingin dilihatnya.
Ketika Sungmin muncul dari tangga, Kyuhyun baru kembali dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahunya. Sungmin menatap Kyuhyun marah, lalu berderap menuju kamarnya. Kyuhyun menatap Sungmin yang tampak enggan menatapnya balik.
"Jadi, itu yang namanya Jungmo, ya?" sindir Sungmin sebelum masuk kamar, tak tahan untuk bertanya.
Kyuhyun malah bersandar di dinding sambil memandang Sungmin malas. "Namanya Victoria."
Jawaban Kyuhyun membuat Sungmin melotot. Sungmin mengambil sepatu dan melempar Kyuhyun dengan sepatu itu. Kyuhyun bahkan tidak mengelak dan membiarkan dadanya terpukul. Air mata Sungmin sekarang sudah jatuh lagi.
"Kau kejam! Aku bahkan tidak ingin tahu namanya!" sahut Sungmin emosi. Kyuhyun hanya menatapnya datar.
Sementara Sungmin berusaha untuk menenangkan diri, Kyuhyun mengambil sepatu yang tadi dilempar Sungmin dan meletakkannya kembali ke rak sepatu. Dia lalu menghela nafas, berusaha menatap ke arah lain selain Sungmin yang masih menatapnya marah.
"Kenapa kau selalu berbohong?" tanya Sungmin lagi, hampir menjerit. "Kenapa kau harus sekejam ini padaku? Kenapa, Kyuhyun?"
"Maaf," kata Kyuhyun membuat alis mata Sungmin terangkat tinggi. "Aku tidak bermaksud menyakiti..."
"Tidak bermaksud?" teriak Sungmin tak percaya. "Tidak bermaksud kau bilang? Kau mamakai segala cara untuk menjauhkanku darimu!"
Kyuhyun terdiam, sementara Sungmin sudah memukul-mukul dadanya sambil terisak.
"Kenapa kau harus mengatakan kau gay? Kenapa kau sangat senang menyakitiku?" seru Sungmin lagi. "Kalau kau memang sangat tidak menyukaiku, kenapa tidak jujur saja?"
"Aku tidak menyukaimu!" sahut Kyuhyun membuat Sungmin terdiam dan berhenti memukulinya. Kyuhyun menatap Sungmin serius. "Kau ingin aku mengatakan itu, bukan? Aku katakan sekarang, aku tidak menyukaimu. Aku sudah memberi peringatan dari awal, kan? Tapi, kau masih ingin tahu urusanku. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya agar kau menjauh dariku, dan jujur saja aku tidak tega berbicara langsung kalau aku tidak menyukai perempuan desa sepertimu!"
Kyuhyun tersengal setelah mengatakan semua itu pada Sungmin. Sungmin hanya menatap Kyuhyun tanpa berkedip, membuat air matanya mengalir semakin deras.
"Kyuhyun," ujar Sungmin kemudian. "Kau bisa lebih kejam lagi dari ini?"
Kyuhyun terdiam menatap Sungmin yang sudah gemetar hebat.
"Maaf, Sungmin. Tapi, Victoria adalah satu-satunya perempuan untukku. Dari dulu sampai sekarang, hanya dia yang ada di hatiku. Tidak akan ada yang bisa menggantikannya," kata Kyuhyun membuat Sungmin tersenyum miris.
"Kyuhyun... Bisakah kau membunuhku sekalian?" kata Sungmin getir. "Kenapa Kyuhyun... Kenapa kau datang ke sini? Kenapa? Kenapa aku bisa mengenalmu?"
Sungmin berderap menuju kamarnya, bergerak masuk dan membanting pintunya. Kyuhyun menatapnya tanpa bisa berbuat banyak. Misi berhasil. Sekarang yang harus Kyuhyun lakukan adalah pergi secepatnya dari flat ini.
.
.
.
-ToBeContinue-
.
.
.
