Harry Potter belongs to JK. Rowlings


-OoOoO-

E.N.J.O.E.Y

-OoOoO-

Malam itu Severus Snape merenung. Haruskah aku ?

Setengah membatin Severus membayangkan Harry. Anak itu sama sekali tak memiliki sifat seorang James Potter, kecuali tindakan Griffindiotnya tadi. Lain dari itu malah menampilkan sosok Lily bagi Severus. Sosok polos, sirat mata hijaunya, mata Lily ...

"Lils, ku harap kau mau memaafkanku lewat jalan yang kupilih" Severus bergumam sembari membenamkan wajah pada telapak tangannya.

.

.

Ketukan pintu terdengar di ruangan Dumbledore, "masuk" kepala sekolah itu berujar.

Severus melangkah menemui atasan sekaligus mentornya itu.

"Nah ada kabar yang akan kau sampaikan Severus ?" Dumbledore tersenyum sembari mempersilahkan koleganya itu duduk.

"ini tentang Potter" Ujar Severus .

"Yaa .. kita belum menemukan titik terang tentang Merynne Riddle. Kenalanku di kementrianpun tak memungkinkan untuk bisa menerima Harry,Severus. Keluarga Weasley punya terlalu banyak anak, aku tidak yakin dengan keluarga penyihir yang lain. Bagimanapun bicara tentang Harry Potter sama artinya dengan perlindungan ekstra, kau tahu apa yang dibawa anak itu bersama takdirnya." Dumbledore menatap lekat stafnya tersebut.

"Aku bersedia mengasuh Potter. Dengan beberapa syarat." Sedatar mungkin Severus melempar ucapannya.

Dumbledore tersenyum samar "Sebutkan kalau begitu" lanjutnya.

"Aku tak mau ada yang tahu jika aku merawat Harry Potter. Jika kementrian harus mengetahui, aku ingin itu adalah orang yang tepat. Kau tentu mengerti Albus." Severus memandang tajam Dumbledore.

"Kau memilih itu ?" Dumbledore membalas tenang.

"Tidak peduli pandangan orang. Aku paham dengan pilihanku" Severus membuang muka

"Tidak bisa tidak ku akui bahwa aku senang mendengar ini Severus, aku yakin Harry pun akan senang. Nah jika itu keputusanmu biar aku yang mengurus keperluan di kementrian. Apa rencanamu Severus ?" Dumbledore beralih pada Fawkes si phoenix.

"Aku punya pikiran untuk beberapa waktu ke depan, setidaknya hingga awal tahun ajaran berikutnya. Tidak masalah bukan jika kita tetap mencoba mencari wanita itu ? Jika tidak, mungkin ada rencana lainnya setelah ini" Severus berujar datar.

"Aku setuju. Semoga kau menjadi wali yang baik bagi Harry" Dumbledore terseyum menepuk pelan pundak mantan muridnya itu.

Severus undur diri untuk kembali mengajar, ia punya rencana untuk sore ini...

.

.

Cahaya matahari mulai meninggi dan menyusup lewat jendela di Hogwarts. Seberkas cahaya timbul terang pada salah satu kamar Hospital Wings.

Harry membuka matanya, agak berat dan susah karena matanya itu kini cukup bengkak. Perlahan ia duduk, mengusap wajahnya dan sedikit menggeliat. Ingatannya mulai berkumpul dan ia sepenuhnya sadar dari tidur.

Mata hijau itu kini beralih pada jendela di sisi kamar, sedikit merenung ia memikirkan kembali apa yang terjadi tadi malam. Sebersit sesal masih bergelayut dalam otaknya saat kebodohan itu kembali ia sadari, tetapi seiring nafas ingatan yang lain membuatnya sedikit lega. Severus Snape mau mengunjunginya, bahkan juga dengan liontin itu.

"Sudah bangun Harry ? kau agak pucat" Madam Pomfrey masuk dan sejenak memandanginya.

"Aku baik baik saja ma'am .. malah terasa lebih baik" Harry bangkit berdiri dan tersenyum.

"Yah itu bisa kulihat. Apa kau berpikir dengan kabur tadi malam bisa membuat kau lebih baik dan sehat ?" Matron itu tampak serius menatap Harry.

"Maafkan saya ma'am. Saya tahu saya bodoh bertindak begitu" Harry menunduk.

"Baik. Kalau begitu tetaplah disini. Sekarang bersiaplah Harry, kau harus sarapan." Madam Pomfrey mengusap pelan rambut berantakan Harry dan bocah itu mendongak tersenyum.

"terimakasih Ma'am" Harry membalas.

Harry menghabiskan sebagian besar hari di kamarnya. Jauh di luar sana ia melihat hamparan hutan hijau. Dan hari beranjak sore, Madam Pomfrey sibuk di meja kerjanya. Tak ada teman bicara, Harry hanya di temani sang boneka singa dan buku-buku ceritanya. Harry duduk bersila di ranjangnya sembari membuat garis garis hayalan dengan jarinya di seprai dan menerawang jauh, salah satunya tentang siapa yang akan merawatnya kelak.

Sejujurnya Harry tidak tahu mengapa ia punya jalan hidup rumit. Ia tidak tahu bagaimana orangtuanya, kenapa ia harus bersama paman dan bibinya dan sekarang ada dunia baru yang harus ia terima. Dunia dimana ia kini berada di Sekolah Sihir Hogwarts dan orang orang baru dalam hidupnya. Jadi bagaimana dengan kelanjutan hidupnya ? Jika ia memang akan diberikan pada orang yang tepat , siapakah orang itu ? Harry tak mau menaruh harapan yang lebih dalam hatinya karena ia takut jika nantinya harus kecewa.

Pintu kamar Harry terbuka dan bocah itu menoleh, mendapati sosok berjubah hitam di ambangnya.

"Halo sir ! Apa kabar ?" Harry senyum lebar menatap Severus dan duduk di tepi ranjangnya.

"Poppy bilang kau sedikit demam" Severus menarik sebuah kursi di samping tempat tidur Harry.

"Tidak sir, aku tak apa. Hanya saja sedikit bosan." Harry cemberut.

Severus sejenak tersenyum seraya membawa sebuah kalung dengan liontin segilima keluar dari balik jubah hitamnya dan mengulurkannya pada Harry.

Senyum bocah itu tergelar saat ia menerima liontin tersebut.

"Apa yang membuat mu begitu senang?" Severus sedikit heran dengan wajah Harry yang tampak begitu gembira.

"Ma'am Rynne pernah menolongku sir, dia .. dia baik padaku" Harry tersenyum malu saat ungkapan itu ia utarakan.

"Baik ? Seperti apa dia padamu ?" Severus menegakkan posisi duduknya.

"Saat itu ma'am Rynne membantuku sir, dia datang menolongku saat.. saat aku diusir oleh Aunt Petunia" Harry berpaling menatap Severus "Dia membawaku pergi sir, ke rumahnya dan dia merawatku, tapi .." Harry buru buru berpaling menghindar di tatapan itu.

"Tapi ?" Severus menyelidik .

"Tapi aku baru bisa mengingatnya kembali setelah .. setelah aku menerima liontin ini sir, sebelum itu... aku tak pernah mengingat siapa dia" Harry berucap lirih

Snape mengerutkan dahi menanggapi ucapan Harry.

"Aku.. aku tidak mengerti, hanya saja dia .. dia baik saja menurutku.." tatapan sendu bocah itu beralih memandang sisi dalam liontin yang terisi potret di hadapannya.

"Bagaimana tanggapanmu jika kukatakan bahwa aku berpikir dia orang yang akan merawatmu ?" Severus membalas.

Harry mengangkat wajahnya dengan raut tak percaya.

"Apa itu benar sir ? aku .. aku" Harry merangkai kata tanggapannya.

"Ya .. aku dan Dumbledore setidaknya punya pikiran yang sama. Sayangnya tidak ada yang tahu sekarang dia ada dimana. Jadi kau tidak mungkin dalam perawatannya untuk saat ini."

Harry kembali menunduk, kecewa ...

"Apakah anda mengenal dia, sir ? Bisakah anda ceritakan padaku tentang dia ?"

"aku tak begitu mengenalnya. Dumbledore yang lebih mengenalnya. Dia sama seperti kita, dia juga seorang penyihir." Severus mencoba menerangkan.

"Dia juga penyihir ? Apa .. apa menurut anda dia orang baik sir ?"

"Ya setidaknya kita bisa menilai dia begitu dari sikapnya padamu.." Severus mengangkat bahu sembari menatap Harry. "Kau bersedia di asuh olehnya ?"

"aku .. tak tahu sir. Maksudku aku nyaman saat ma'am Rynne bersamaku waktu itu, dia menolongku ! sama seperti anda menjemputku dari paman dan bibi" Harry bergumam lirih.

"Bisa dimengerti. Menurut madam Pomfrey kau sudah pulih dengan arti kau sudah bisa keluar dari sini" Severus menanggapi.

"Lalu kemana aku akan pergi sir ?" Harry melempar pandangan cemas pada lawan bicaranya.

"Pada tempat dan orang yang tepat" ujar Severus.

"Apa maksud anda Ma'am Rynne sir ? tapi anda mengatakan tidak tahu dimana ia sekarang." Harry berujar dengan tatapan bertanya dan cemas.

"Kau akan ikut dengan ku. Tapi jika kau tidak ingin, tak ada paksaan" balas Severus tenang.

Emerald itu membulat diliputi harapan, "Benarkah sir ? aku.. aku mau !" Harry berujar dengan tiap kegembiraan didalamnya dan tersenyum malu saat sadar ia setengah berteriak.

"Bagus, tapi sebelum itu aku punya syarat" Severus bergumam serius.

Harry terdiam ..

"Ini bukanlah sesuatu yang berat, aku hanya ingin kau tidak membicarakan hal ini pada orang lain. Tidak ada yang perlu tahu bahwa kini kau berada dalam pengasuhanku kecuali Albus Dumbledore. Kau paham ?" Severus menatap Harry lekat.

"Aku mengerti sir, tapi kenapa ?" Harry memberi tatapan bertanya.

"Untuk sekarang cukup itu yang perlu kau pahami dan sekarang berkemas, aku menunggumu segera. Aku perlu bicara dengan Poppy sebelum kita pergi" Severus bangkit berdiri sembari menjentikan tongkatnya dan sebuah tas mucul di udara.

"Baik sir" Harry melompat dari ranjangnya dan segera mengumpulkan setiap barang ia punya pada tas barunya.

Severus menutup pintu kamar tersebut dan Madam Pomfrey bergegas menemuinya.

"Baik sekali kau mau datang Severus, dia sering menanyakanmu" sang matron berujar.

"Kau menjaganya dengan baik Poppy, dia sudah pulih bukan ? Ini sudah akhir semester dan dia harus segera kembali" Profesor ramuan itu menanggapi.

"Ya dia sudah pulih, yang paling dibutuhkannya adalah kasih sayang dan perhatian, siapa yang akan merawatnya Severus ? Maksudku, dia anak yang .."

"Albus punya rencana Poppy, dia pasti tahu" potong Severus diikuti oleh langkah Harry yang terdengar mendekat.

Severus menoleh "Kau siap ?" ujarnya seraya menatap bocah itu menurunkan tas yang dijinjingnya.

"Ya sir" Harry menanggapi dan beralih pada sang matron yang selama ini menjaganya.

"Ah ya, tunggu sebentar Harry" Madam Pomfrey bergegas melangkah ke kantornya dan kembali dengan membawa sepasang pakaian.. kemeja biru dengan celana bermuda gelap dari Merynne membuat Harry tersenyum menerimanya.

"Terimakasih ma'am selama ini sudah mau menjagaku. Kau dokter hebat yang pernah kutemui" Harry meraih sebelah tangan Madam Pomfrey

"Dokter ? ah ya aku mengerti maksudmu" matron itu berlutut membuat wajahnya sejajar dengan anak itu "berjanjilah kau akan jadi anak baik jika nanti kita berjumpa lagi" Healer itu berujar serak

"Ya ma'am, aku berjanji. Terimakasih madam Pomfrey" Harry memeluk matron Hogwarts yang matanya mulai berkaca tersebut.

"Sama-sama nak. aku akan merindukanmu" Pomina Pomfrey berujar tulus mengusap punggung mungil itu.

Harry melepas pelukannya dan menyiapkan tasnya, sesaat kemudian tas tersebut hilang ketika Severus menjentikan tongkatnya.

"Kami pergi Poppy. Terimakasih" Severus melangkah diikuti Harry yang melambaikan tangan pada sang matron.

.

.

Severus membawa Harry lebih dekat ke sisinya saat berjalan, kastil nyaris sepi mengingat siswa yang saat ini sedang menikmati makan malam di Great Hall. Harry terus mengimbangi langkah dari Severus, menuju ruangan profesor ramuan tersebut yang ternyata ada di bagian bawah tanah. Lorong gelap dan dingin itu berakhir pada pada pintu kayu yang besar dan mengayun terbuka saat mereka melangkah mendekat. Harry kembali teringat akan petualangan kecilnya saat berusaha mencari Snape, membuat sedikit bergidik jika mengingat akhirnya.

Harry masuk terlebih dahulu diikuti Severus. Di ruangan depan yang berbentuk persegi itu ada satu set meja kerja, sebuah sofa panjang, kursi berlengan tunggal dan rak buku yang padat, Harry melihat ada dua lorong menuju bagian ruangan lain dan dua pintu kamar di sisi lain. Ruangan itu memiliki penerangan yang minim karena perapiannya tidak menyala, tetapi nuansa hijau lebih banyak tergambar. Harry masih bertukar pandangan pada ruangan tersebut saat Severus menjentikan tongkatnya sehingga perapian menyala menyebarkan kehangatan.

Harry melihat tas yang dikemasinya di Hospital Wings telah berada di atas sofa dan ia berbalik menatap Severus yang meraih tas tersebut sembari membawanya pada salah satu pintu kamar, Harry mengikutinya.

"Ini kamarmu dan di sebelahnya kamar saya, kamar mandi sudah ada di dalam kamarmu" Severus menerangkan tetapi dahinya berkerut melihat mata Harry yang membulat sempurna .

"Kenapa wajahmu seperti itu ?" Severus menatap selidik

"Aku punya kamar sir ?" ada sirat tak percaya disana

"Tentu ! aku tidak punya lemari bawah tangga dan aku tak tertarik mengikuti cara paman dan bibimu" Severus membalas datar membuat Harry sedikit tersipu.

"Lorong itu menuju ke dapur dan yang satunya lab pribadiku, aku tidak mau kau masuk kesana tanpa izin karena akan berbahaya jika tanpa pengawasanku. Kau paham ?" Severus menatap emerald yang berbinar itu.

"Ya sir. aku mengerti" Harry membalas tersenyum

"Ayo masuk" ujar Severus sembari membuka pintu kamar Harry, didalamnya ada sebuah ranjang ukuran anak, lemari pakaian dan rak serta meja kerja. Lantainya dilapisi permadani hijau dan wallpaper dindingnya berwarna perak dan hijau.

"Kau suka ?" Severus memandang wajah mungil yang masih melongo disampingnya.

"Ini .. ini sangat bagus sir" Harry membalas masih menatapi kamar barunya.

Severus melangkah masuk dan meninggalkan tas Harry di atas ranjang, bocah itu mengikutinya sembari mengeluarkan liontin berat dari saku celana jeansnya dan menaruhnya di sisi tas tersebut.

"Liontin itu akan kusimpan dan sekarang tata barangmu disini, kita akan makan malam" Severus menerangkan dan melangkah keluar kamar.

"Baik sir" Harry bersemangat dengan kamar barunya, hingga akhirnya selesai dan ia keluar menyusul untuk makan malam yang telah terhidang.

"Duduk" perintah Severus yang telah lebih ambil tempat di sisi meja kerjanya "disini tidak ada meja makan karena biasanya semua staff makan di Great Hall" lanjutnya.

Harry mengambil tempat di seberang pria itu dan mereka menyelesaikan makan malam dalam diam. Setelah puding coklat Harry habis semua piring lenyap. Harry beralih menatap Severus di hadapannya dan pria itu balas menatapnya.

"Kau masih butuh beberapa barang lain, kita cari waktu yang tepat" kata Severus.

"Tapi bagaimana aku membayarnya sir ? aku bisa bekerja untukmu dengan begitu aku bisa membayar semua hidupku denganmu" Harry membalas dengan sedikit kaku.

"Membayar hidup ? apa maksudmu ?" Severus memasang tampang serius.

"Err.. maksudku aku bisa menyelesaikan pekerjaan rumah dengan begitu akan imbang dengan semua yang aku terima darimu sir, menurut Paman Vernon itu lebih baik" Harry gugup menjelaskan

Severus mencondongkan badannya sedikit ke depan agar bisa lebih jelas berhadapan dengan Harry.

"Dengarkan aku Mr Potter, aku bukanlah orang seperti paman dan bibimu dan aku harap kau tidak akan memberiku pandangan yang sama dengan mereka. Saat ini kau berada dalam tanggung jawabku dan sudah menjadi tugasku untuk semua kebutuhanmu dan tugasmu adalah mendengarkan semua yang aku katakan dan bertingkahlah seperti seorang anak !" semua kata itu dilontarkan dengan serius oleh Severus dan Harry bersumpah ada kilatan lain di matanya.

"Tapi sir .."

"untuk kau ketahui Mr Potter, aku adalah seorang guru dan potion master dan tidak ada pekerjaan rumah yang harus di selesaikan karena ada peri rumah yang bisa membantu"

"peri rumah ?" Harry melempar tanya.

"mereka makhluk gaib yang membantu penyihir. Aku mau kau ingat semua yang ku katakan ini dan sekarang kau bisa tidur di kamarmu" Severus menyudahi.

"baik sir" Harry begumam

"Tidak perlu pakai sir ! kau bisa panggil namaku Severus" ujar Severus

"em.. tapi .. tapi aku juga ingin kau memanggilku Harry" sangat pelan Harry membalas

"Tentu, nah selamat tidur Harry" ucap Severus dengan senyum tipis membentuk seringai.

Harry mendongak dan membalas senyum malu.

"Selamat malam Se.. Uncle Sev" ujar bocah itu sembari melangkah menuju kamar.

Harry bernafas lega di kamarnya dan beralih meraih piyama untuk bersiap tidur. Harry melepas pandang pada langit-langit, mencoba merangkai setiap ingatan terbarunya. Saat ia tak perlu lagi kembali pada keluarga Dursley yang membencinya, saat ia mengenali dirinya ternyata seorang penyihir walau ia tidak paham kenapa bisa begitu, Harry merasa dirinya biasa saja. Apa orang tuanya juga penyihir ? Kemudian ia juga pernah bertemu dengan seorang penyihir sebelum itu semua, Merynne. Tapi ia tak tampak seperti penyihir bagi Harry, dan kini Harry di rawat oleh penyihir yang lain Severus Snape. Semua ingatan itu berenang dan mengantarnya dalam lelap tidur.

.

.

Severus melangkah dalam kamarnya, mengganti jubah dengan piyama. Sudah larut tapi matanya tidak kunjung dalam kantuk. Ia beringsut menuju salah satu laci di meja kecil sisi ranjang dan mengeluarkan sebingkang foto. Foto seorang gadis dengan rambut merah gelap dalam balutan jubah hogwarts, melambai dan tersenyum cantik padanya.

"Lils, anakmu kini denganku. Matanya mengingatkanku padamu. Lils .. maafkan aku" Ujarnya lirih dengan suara tercekat.

Foto itu ia kembalikan dalam laci dan setelah memastikan matanya tidak jatuh pada hasrat untuk tidur ia melangkah keluar kamar. Severus berhenti pada pintu kamar Harry, membukanya dan beralih masuk.

Severus duduk di tepi ranjang menatap wajah itu, sungguh replika James Potter ada di hadapannya walau tidak di tenggeri kacamata. Sesaat ia tidak yakin dengan keputusannya, mengambil Harry Potter dalam hidupnya tetapi saat bayangan Lily hadir ia mendapat kekuatan . Anak itu tersiakan oleh bibinya sendiri jika mengingat ucapannya saat makan malam tadi. Membayar hidup ? Severus tak membayangkan hal itu bisa terjadi.

Setelah mengusap pelan rambut hitam berantakan itu, Severus melangkah keluar menuju lab pribadinya. Menyeduh ramuan lebih menenangkannya dibanding tidur.


Selesai juga chap ini, tapi gatau deh kalau yang ini ngegalau T_T .. whooaaaaa ..

but Reviews please ! ^_^