Ogenki desuka, minna-san? Fi mempersembahkan bagian terakhir dari cerita ini. Nggak terasa kita sudah semakin mendekati akhir cerita (atau cuma perasaan Fi saja?) haha. ^^

Balasan review dari chapter sebelumnya:

Honoki shipperr: Oh ya? Wah terima kasih banyak, syukurlah kalau terasa. ^^ Waa Kiba nggak tahu apa-apa kok, jangan ditonjok dulu, ya... Hhe. Buat obat kangen, di chapter ini ada Hinata, kok. :) Siip ini apdetannya... Terima kasih RnR dan semangatnya! Mind to RnR again? ^^

Soputan: Okay, ini lanjutannya, semoga menghibur... Terima kasih sudah RnR! Mind to RnR again? ^^

Review login Fi balas via message, ya. ^^

Bagian terakhir ini berisi konflik utama sekaligus penyelesaiannya. Dan untuk memenuhi request, chapter ini ada banyak Naruhina. :)

Okay then, happy reading minna-san, hope you like it! ^^


.

~Hinata no Tame no Aijou~

ヒナタのための愛情

A Naruto Fanfic by FiDhysta

Rated: T

Genre: Drama, Hurt/Comfort, Romance

Pairing: Lots of Naruhina in this chapter, slight Kibahina

Warning: Newbie, OOC, Typo(s), Canon

Disclaimer: I don't own Naruto. Kishimoto Masashi does.

.

If you don't like, just click the 'back' button, okay? ^^

.

Summary: Penolakan Naruto berdampak berat bagi hati Hinata. Meskipun diliputi rasa ragu, Hinata mencoba untuk menghargai keputusan tersebut, kemudian membuka hatinya untuk orang lain—orang yang tanpa disadarinya selalu ada kapanpun tanpa ia minta. Hinata dan yang lainnya pun harus belajar untuk memahami apa yang sebenarnya hati mereka inginkan, sebelum kesempatan itu terlewat dan menyisakan sebuah penyesalan. "Aku sudah muak. Bisa kau hentikan kebiasaanmu itu?"

.

Part IV: Resolution Part

.

Chapter 10

On A Rainy Day Like This

.

Awal Bulan Desember, akhir dari musim gugur—dan jika diperkirakan dari keadaan cuaca, musim dingin akan segera datang. Meskipun begitu suasana musim gugur masih cukup kental di desa Konohagakure. Pepohonan yang sudah menggugurkan sebagian besar daun yang menyelimutinya, masih meninggalkan sekelompok kecil dedaunan berwarna keemasan atau kemerahan di rantingnya—warna khas musim gugur.

Perubahan yang semakin kentara mungkin adalah suhu udara yang mulai merendah, membuat beberapa orang yang tak tahan dingin harus mengenakan syal atau jaket tebal saat pergi keluar rumah. Kendatipun demikian, Uzumaki Naruto bukan termasuk satu dari antara orang-orang lemah tersebut. Mengenakan jaket oranye-hitam favoritnya, ia berjalan santai menyusuri keramaian desa kelahirannya.

Sesekali ia mengamati tingkah orang-orang yang kedinginan tengah merapatkan syal hingga menutupi mulut, atau memasukkan tangan dalam-dalam ke saku mantel tebal mereka. Seringai tipis tak ayal muncul di sudut bibirnya.

Maaf-maaf saja ya, aku tak bergabung dengan kalian. Tubuhku jauh dari rasa dingin, tuh, batinnya sombong.

"Naruto!"

Panggilan suara feminin itu menolehkan kepala Naruto. Dilihatnya kedua kawan setimnya yang kini mengenakan baju lengan panjang, plus sebuah syal melingkar di leher pemuda yang berkulit pucat.

"Habis dari mana?" tanya si gadis berambut merah muda setelah menurunkan lambaiannya. Sebelum yang ditanya sempat menjawab, suara bersin sontak mengambil alih perhatian dua orang itu pada pemuda pucat yang tengah menggosok-gosok hidungnya.

"Kena flu, Sai?" tanya Naruto tanpa menjawab pertanyaan Sakura tadi. Sai hanya mengangkat bahu menanggapinya.

"Entahlah. Perubahan suhu mulai terasa awal bulan ini, dan hidungku rasanya berair terus," jawabnya seraya menarik syalnya ke atas dagu.

Naruto menyipitkan matanya aneh. "Salahmu sendiri, sih. Siapa suruh tiap hari memakai baju seksi yang kelihatan pusar itu, tak heran kalau kau akan jadi orang pertama yang masuk angin di musim dingin. Dan lagi kulit pucat itu katanya gampang sakit, lho," jabarnya menyebalkan, berbuah lirikan tak setuju dari Sai.

Sakura mendengus sebal, lalu mendekat pada Sai agar dapat berbisik padanya. "Jangan dipikirkan, Sai. Naruto hanya berlagak sombong karena dia yang paling kuat dingin di antara kita. Yah, kita tak bisa mengalahkannya, sih. Bagaimanapun juga orang bodoh tak akan bisa kena flu," katanya dengan suara yang terlalu keras untuk disebut bisikan.

"Sakura-chan, aku dengar jelas! Apa maksudmu berkata seperti itu?" protes Naruto menimpali kekehan jahil Sakura.

"Hmm, benar juga. Aku memang pernah baca di buku, disebutkan bahwa peri pembawa flu tak bisa melihat orang-orang bodoh, sehingga mereka tak akan terkena flu," ujar Sai serius sambil mengelus dagunya, membuat tawa Sakura semakin meledak.

Rupanya bacaan Sai juga meliputi dongeng untuk anak kecil.

"Aku tak butuh pendapat darimu juga!" teriak Naruto kesal. Tangannya yang terangkat tampak gatal ingin mencakar wajah putih mulus pria di depannya itu.

Beberapa saat kemudian tawa Sakura mereda, lalu dia kembali pada topik awal yang sempat tersisih. "Jadi, kamu dari mana, Naruto? Menghabiskan dua hari terakhir liburanmu dengan berkeliling desa?"

Naruto melepaskan raut kesalnya lalu tersenyum kecil. "A-ah... Yah, begitulah. Tak ada agenda khusus, sih," jawabnya simpel.

Sakura dan Sai berpandangan sekilas sebelum tersenyum, kemudian kembali menatap remaja hiperaktif itu. "Setelah ini kami berencana mau makan di kedai soba langgananku. Kamu mau ikut juga?"

Naruto menimbang-nimbang ajakan gadis itu, sebenarnya tak ada salahnya juga bergabung bersama kawan-kawan setimnya ini. Toh, selama beberapa hari ke belakang mereka selalu menghabiskan waktu makan dan latihan bersama-sama. Dan saat-saat bersama mereka adalah saat-saat yang menyenangkan. Namun, pada akhirnya Naruto berpikiran lain untuk hari ini.

"Tidak, terima kasih. Tadi aku sudah makan siang di Ichiraku, jadi aku masih kenyang," tolaknya halus, mengusap helaian kuning di kepalanya. Tanpa menunggu waktu lebih lama, pemuda itu melangkah lebar, meninggalkan kedua rekannya yang tak lepas menatapnya. "Aku duluan, Sakura-chan, Sai!"

"Tumben sekali. Biasanya Naruto senang makan bersama kita, meskipun hanya sekedar menemani kalau memang dia masih kenyang," pemuda berambut hitam yang tengah merapikan syalnya itu tetap pada muka datarnya, namun nada heran tak luput dari kalimatnya.

Lain dengan Sakura, ekspresi herannya kini berganti dengan tatapan penuh arti mengikuti punggung Naruto yang menjauh.

"Mungkin hari ini dia ingin pengalih perhatian yang berbeda..."

.

.

.

Bagi Naruto, udara dingin memang bukan masalah. Sesekali angin bersuhu rendah bertiup di tengkuknya dan membuatnya menggigil sekilas, namun itu tak berlangsung lama. Ia cukup memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dan dalam sekejap rasa dingin itu akan hilang.

"Tapi...harus kuakui, hari ini memang lebih dingin daripada kemarin-kemarin. Musim dingin benar-benar sudah di depan mata rupanya," gumam Naruto yang kembali merasakan tiupan angin dingin.

Sebenarnya akan lebih nyaman jika ia ikut dengan Sakura dan Sai saja tadi. Yang pasti, kedai soba jauh lebih hangat daripada jalanan sepi seperti ini. Tapi Naruto ingin mengunjungi suatu tempat hari ini. Dan ia pikir dirinya sudah cukup menghabiskan waktu bersama mereka selama empat hari belakangan.

Mata Naruto menyipit memandang jalan yang tengah dilaluinya, kedua iris birunya meredup tatkala otaknya memutar ulang lima hari terakhir. Setelah menyadari perasaannya pada Hinata, ia bingung dan tak tahu harus berbuat apa—semakin dipikirkan, semakin ia takut hatinya akan meledak karena emosi yang kian menumpuk. Rasa penyesalan dan nyeri di dadanya tiap kali mengingat gadis itu tak mau hilang jika ia tak segera mencari kegiatan lain.

Karena itulah Naruto memilih untuk membunuh waktu bersama rekan setimnya. Frekuensi mereka bersama-sama semakin meningkat sejak tiga hari yang lalu, dan Sakura tampaknya tak menganggap ini semua adalah kebetulan. Tanpa harus diutarakan, gadis musim semi itu sudah mengerti maksud Naruto menempel terus pada dirinya dan Sai.

Karena Hinata keluar dari rumah sakit pada hari itu.

Mati-matian Naruto mencari alasan untuk terus menghabiskan waktu dalam tim. Semua itu semata-mata untuk menghindari kesempatan bertemu Hinata yang kini sudah sehat. Ia tak ingin berpapasan dengan gadis—yang rupanya telah merebut hatinya itu—tengah bergandengan dengan kekasihnya. Mentalnya masih jauh dari siap untuk menghadapi berbagai tusukan yang mungkin akan tertuju langsung pada hatinya jika hal itu benar-benar terjadi.

Remaja pirang itu menggigit bibirnya, mendongak untuk menatap langit yang ditutupi warna kelabu. Tanpa menghentikan langkahnya yang lambat, ia tersenyum miris atas tindakannya sendiri.

Heh, menyedihkan... Setelah aku menemukan orang yang berarti bagiku, bukannya menghadapi dia, aku malah mencari berbagai kesibukan untuk menghindarinya. Laki-laki pengecut macam apa aku ini...?

Menghela nafas, ia memejamkan mata sejenak sebelum kembali terfokus pada jalan berbatu yang ia pijak.

Tapi aku tak bisa seterusnya begini. Cepat atau lambat aku pasti akan bertemu dengannya, dan aku tak boleh membiarkannya melihatku dalam keadaan menyedihkan begini.

Mengatur nafasnya agar teratur melalui mulutnya, Naruto mulai mengangkat wajah untuk melihat pemandangan di depan. Baru ia sadari bahwa dirinya sudah hampir sampai di tempat tujuan yang ingin dikunjunginya.

Ditatapnya barisan pohon yang daunnya sudah tak lagi lebat menghiasi pinggir jalan. Sepanjang trotoar tepat di bawah pepohonan itu, tumpukan dedaunan berwarna kuning berserakan—tampaknya petugas kebersihan belum sempat membereskannya—menambah kesan sendu dan muram yang kian memperkuat aura dari area di belakangnya.

Kepala Naruto bergerak mengikuti jalan masuk kecil di balik barisan pohon itu. Puluhan batu mengkilat yang berjejer rapi di atas rumput menyambut pandangannya. Naruto tersenyum tipis, memperhatikan beberapa batu dihiasi dengan bunga berbagai warna.

Ia sudah sampai.

Belum tiba di batu yang menjadi tujuannya, langkah Naruto terhenti tiba-tiba. Seseorang sudah terlebih dulu berdiri di depan pusara yang ingin ia kunjungi. Tingginya tak seberapa, dan punggungnya—yang menghadap Naruto—tertutup oleh rambut panjang berwarna gelap yang terayun perlahan karena hembusan angin.

Seketika kedua mata Naruto membulat.

Aku memang memperkirakan cepat atau lambat akan bertemu dengannya, tapi tak kusangka akan secepat ini.

Dada Naruto berdesir aneh, debaran jantungnya mengencang. Berbagai pertanyaan muncul bersamaan di otaknya—Kenapa dia ada di sini? Apa yang harus kulakukan? Menyapanya atau kabur diam-diam?

Pada akhirnya Naruto memilih untuk melawan segala kegugupannya. Ia menelan ludah sebelum kembali melangkah maju, berdehem pelan agar suaranya tak terdengar serak.

"Hinata...?" usahanya berhasil. Tak ada masalah dengan suaranya. "Sedang apa kau di sini?"

Gadis yang dipanggil menoleh dengan anggunnya dan menampakkan bola mata yang sempat dirindukan Naruto. Ia tampak terkejut mendapati sosok pemuda di belakangnya.

"Na-Naruto-kun..." terdengar suara yang sudah beberapa hari ini tak Naruto dengar, "Aku mengunjungi makam Neji-nii-san," jawabnya dengan suara kecil.

Dalam hati Naruto merutuki pertanyaan bodohnya.

Untuk apa aku bertanya begitu? Jelas-jelas dia berdiri di depan makam Neji, apa lagi yang dia lakukan? Mencari lokasi strategis untuk menyembunyikan tabungan rahasianya?!

Rutukan itu tak berlangsung lama, segera hilang ketika ia mendengar suara lembut Hinata lagi. "N-Naruto-kun juga...ingin berziarah?"

Si pemuda tersadar dari lamunan singkatnya dan kembali menatap gadis pemalu itu. Sebelah tangannya tergerak menggaruk kepalanya dengan refleks. "A-ah, iya... Hari ini aku tiba-tiba ingin datang ke sini," cengirnya kikuk. Tak mungkin aku bilang terus terang bahwa aku ingin bercerita pada Neji tentang aku yang sudah jatuh cinta pada sepupunya yang sudah pernah kutolak.

"Kau sudah lama di sini, Hinata?" tanya Naruto membalas basa-basi Hinata. Gadis itu tersenyum sendu seraya menatap tempat peristirahatan terakhir kakak sepupunya.

"Tidak terlalu. A-aku datang ke sini tanpa direncanakan, aku hanya ingin menceritakan misi terakhir kita pada Neji-nii-san. Dia selalu menjadi pendengar yang baik tiap kali aku menceritakan misiku."

Naruto ikut tersenyum perih. Kalau boleh jujur, dirinya pun mengaku merindukan jounin berbakat itu. Neji memang pendiam dan kadang bertingkah sombong, tapi dia selalu menjadi teman yang baik dan sungguh-sungguh dalam melindungi orang-orang yang dikasihinya.

Sekonyong-konyong setetes air jatuh menimpa ujung hidung mancung Naruto. Tersentak, ia mendongak dan segera disambut tetesan lainnya yang membasahi pipinya. Suara gemuruh yang berasal dari langit turut menyadarkannya tentang situasi saat ini.

"Hinata, hujan mulai turun. Sebaiknya kita cepat pergi dari sini," ajak Naruto yang langsung disetujui Hinata. Tanpa menunggu lama, mereka segera beranjak menuju jalan utama.

Rupanya cuaca tak berpihak pada mereka hari ini. Pasalnya, baru beberapa langkah meninggalkan arena pemakaman, hujan turun dengan lebat tanpa peringatan membuat Hinata memekik kaget. Kelabakan, Naruto segera merangkul bahu Hinata dan menggunakan tangannya yang lain untuk memayungi kepala gadis itu seadanya.

"Ayo, kita harus cepat mencari tempat berteduh sebelum kita dibuat basah kuyup," seru Naruto seraya mempercepat langkahnya. Hinata hanya mengangguk tanpa suara sambil terus berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah-langkah besar Naruto, membiarkan pemuda itu menggiringnya ke tempat yang aman.

Tak jauh dari arena pemakaman, Naruto melihat sebuah kuil yang berukuran sedang. Tanpa pikir panjang ia pun membawa Hinata ke sana.

Sesampainya di bawah atap kuil, Naruto segera menepuk-nepuk bahunya untuk menyingkirkan air yang belum menyerap ke serat kain jaketnya. Ia pun melepaskan hitai-ate-nya yang basah dan meletakkannya di pendopo panggung berbahan kayu itu.

Ia melirik Hinata, dilihatnya gadis itu tengah melakukan hal yang sama. Setelah menepuk-nepuk bahu jaket dan melepaskan hitai-ate yang tersampir di lehernya—lalu memasukkannya ke saku jaket, Hinata sedikit mengibaskan rambutnya, mengenyahkan butiran air yang tersisa di sana.

Naruto yang sempat terpana segera tersadar dan mengacak-acak rambut kuningnya—selain untuk mengibaskan air di helaian rambutnya, juga untuk mengembalikan akal sehatnya kembali pada dunia.

"Kau baik-baik saja, Hinata? Nggak kedinginan?" tanyanya berusaha membuka percakapan. Hinata menoleh dan menyunggingkan senyum lembut.

"I-iya, terima kasih. Jaketku tak terlalu basah, kok, dibiarkan sebentar juga kering," rautnya lalu berubah khawatir, "N-Naruto-kun sendiri bagaimana? M-melindungiku dari hujan seperti itu, nanti masuk angin..."

Naruto memberikan cengiran khasnya—yang tak ia sadari membuat Hinata memalingkan mukanya yang mulai bersemu merah. "Jangan khawatir. Kata orang, orang bodoh tak akan masuk angin," ujarnya berbuah tawa tertahan dari Hinata.

Memang aneh kalimat yang diucapkan oleh Naruto tadi. Padahal sebelumnya ia tak suka saat orang lain mengatainya bodoh dan tak akan sakit, tapi kenyataannya sekarang ia justru menggunakan guyonan itu untuk menghibur Hinata yang mencemaskan dirinya.

Mata pemuda itu mengamati sekeliling kuil untuk beberapa saat, kemudian duduk di sebelah Hinata yang sudah terlebih dulu duduk di pendopo dengan kaki menjuntai. Naruto mendesah lalu kembali mengacak rambutnya perlahan.

"Sepertinya kita harus menunggu di sini sampai hujan reda. Tampaknya pengurus kuil sedang tidak ada, kau tak apa menunggu bersamaku di sini?"

Hinata tak mengangkat wajahnya, diam-diam jemarinya memainkan ujung jaket ungunya yang masih kering. "I-iya... U-untukku tak masalah."

Naruto tersenyum ke arah gadis itu.

.

.

.

Selang beberapa waktu kemudian, tak ada pertukaran percakapan di antara mereka. Bahkan seorang Uzumaki Naruto yang terkenal selalu berisik pun untuk saat ini kehilangan kemampuan andalannya itu. Hanya gemericik air hujan yang menjadi satu-satunya sumber suara di sana.

Sekilas Naruto melirik gadis di sebelahnya, gadis yang tengah mengisi hatinya, gadis penyebab segala kegalauannya. Manik khas sang Hyuuga tengah terarah lurus pada rinai hujan yang tak juga mengurangi intensitasnya. Naruto mendesah sepelan mungkin. Dalam hati ia memutuskan untuk mengesampingkan perasaan gusarnya.

Daripada canggung seperti ini, lebih baik gunakan saja kesempatan yang sudah diberikan Tuhan dan nikmati saja momen ini selagi ada.

Selagi Naruto memikirkan topik untuk dibuka, Hinata sudah lebih dulu memecah kesunyian dengan sebuah tawa kecil. Naruto yang heran segera menoleh pada gadis di sebelah kanannya itu.

"M-maaf. A-aku cuma tiba-tiba teringat mitos yang dulu diceritakan ibuku di hari hujan seperti ini," cicit Hinata cepat menyadari tatapan aneh pemuda itu.

"Ooh..." ekspresi Naruto berubah agak sendu. Kalau aku... Di hari hujan seperti ini teringat malam di dalam pondok di tengah hutan waktu itu, pikirnya.

Naruto memutar ulang saat-saat di mana ia merawat Hinata yang demam, sampai akhirnya ia menyadari kedatangan perasaan asing di hatinya. Saat itu juga hujan turun deras, dan mereka beristirahat di pondok yang merupakan kuil tak terpakai. Yang membedakannya dengan saat ini adalah kuil tempat mereka berteduh sekarang masih terawat, serta Hinata yang sehat dan menyadari keberadaannya di sini.

"Mitos tentang apa itu?" tanya Naruto mengikuti topik yang dibuka Hinata. Sesekali ia ingin mendengar gadis itu yang bercerita panjang lebar, sementara dirinya mendengarkan seksama lantunan suara merdunya.

Hinata kembali memperhatikan butiran-butiran air yang jatuh dari atap. "K-katanya, kalau tetesan hujan yang pertama jatuh menimpa ujung hidungmu, maka p-perasaanmu akan dibalas oleh o-orang yang kau sukai," ucapnya lalu menunduk malu. "W-waktu itu aku dengan mudahnya percaya dan hampir setiap hari berdiri di halaman sambil menatap langit, berharap ada air hujan yang jatuh ke hidungku. P-padahal cuaca sedang cerah sekali," ia tertawa kikuk.

Naruto tersentak dan mengingat air hujan yang menetes di hidungnya ketika di makam tadi. Namun ia cepat-cepat mengusir pemikirannya yang menghubungkan kejadian tadi dengan sebuah mitos lama.

Mitos tak pernah masuk akal.

"Hahaha, ibumu itu lucu sekali. Aku bahkan tak mengerti apa hubungannya hidung dengan perasaan seseorang," Naruto tertawa garing.

Hinata pun turut tersenyum malu. "Be-begitulah. Saat itu aku bahkan belum mengerti dengan istilah 'orang yang disukai'. Tapi kupikir itu adalah sesuatu yang menyenangkan, makanya a-aku langsung mempercayainya," tanggap Hinata memutar-mutar kedua jari telunjuknya. "T-tapi itu sudah lama sekali, bahkan sebelum Hanabi lahir."

"Oh iya, kau 'kan punya adik, ya..." Naruto mengingat adik Hinata yang lebih muda lima tahun darinya.

Putri sulung Hyuuga itu mengangguk. "I-iya. Bertolak belakang denganku, dia tegas dan kuat. B-bahkan dia sering berkelakuan jahil, beberapa kali d-dia menggodaku bersama Kiba-kun."

Senyum ramah Naruto lenyap bersamaan dengan dadanya yang berdenyit. Namun Naruto masih mampu mengabaikannya, ia lantas mengganti topik untuk menghindari pembicaraan tentang Kiba berlanjut.

"Ngomong-ngomong, apa sekarang kau sudah benar-benar sehat, Hinata? Apa ada efek samping yang muncul setelah keluar dari rumah sakit?"

Hinata yang rupanya tak sadar dengan upaya pembelokan topik Naruto tersenyum. "Iya, aku sudah sehat sepenuhnya. I-ini semua berkat Naruto-kun yang sudah lelah menjagaku," jawabnya tulus.

Naruto tak bisa menahan kedua sudut bibirnya terangkat. Ungkapan tulus itu terdengar begitu meneduhkan.

Apa yang kulakukan masih belum ada apa-apanya dibandingkan yang telah kaulakukan selama ini untukku.

"S-sebenarnya, Kiba-kun juga ingin berterima kasih padamu. Tapi, k-karena belum juga bertemu dengan Naruto-kun, j-jadinya niat itu belum kesampaian," lanjut Hinata yang segera memutar-balikkan mood Naruto.

Segala ekspresi kembali lenyap dari wajah Naruto. Untuk sesaat ia terdiam, tak segera membalas ucapan Hinata.

"Aku sudah muak..." bisik Naruto akhirnya yang terlalu pelan, sehingga hanya terdengar sebagai gumaman tak jelas yang berbaur dengan suara hujan di telinga Hinata.

"Eh?" Hinata menoleh heran, namun ia tak dapat menatap jelas air muka Naruto yang tengah menundukkan kepala dengan poni pirang menutupi kedua matanya.

"Bisa kau hentikan kebiasaanmu itu?" tanya Naruto lebih jelas sekarang, namun masih dengan nada rendah yang asing bagi Hinata.

Gadis itu sedikit mundur karena merasakan aura berbeda dari pemuda di sebelahnya. "K-kebiasaan apa?"

"Terus membicarakan Kiba di depanku," jawab Naruto cepat. Hinata terkesiap dan segera menundukkan kepala dalam-dalam.

"Ma-maaf..." ujarnya menyesal. Ia tak tahu apa yang terjadi, tapi tampaknya Naruto sedang agak marah saat ini. Lebih baik dirinya tidak menekan pemuda itu lebih jauh.

Setelah hening beberapa saat, Naruto memanggil namanya. Gadis itu berjengit, takut ia akan kembali marah.

"Hinata... Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu," nada suara Naruto tak berubah, tetap rendah dan datar. Ia bahkan tak menatap lawan bicaranya.

Hinata mengangkat kepalanya takut-takut, dan melihat Naruto merogoh saku celananya. Ia mengambil sesuatu dari sana, kemudian menyodorkannya ke arah Hinata. Mata bulan gadis itu melebar melihat benda yang tergantung di jemari Naruto, lalu menerimanya perlahan.

"B-bel ini...bagaimana bisa...?" tanyanya tak percaya. Pandangannya masih tak kunjung meninggalkan jimat berharga pemberian ayahnya itu.

"Aku kebetulan menemukannya ketika sedang mencari tanaman obat untukmu di hutan. Bel itu tersangkut pada akar pohon besar yang terjuntai ke sungai. Mungkin bel itu jatuh ke sungai setelah terlepas dari bajumu, lalu terbawa arus sampai ke hilir sungai hingga akhirnya tersangkut di akar pohon yang kulihat," jelas Naruto datar.

Hinata tak langsung menanggapi penjelasan sang pemuda. Kedua tangannya menggenggam erat bel cantik itu, membawanya ke depan dada sembari menunduk dalam-dalam dan memejamkan matanya yang mulai berkaca-kaca.

"T-terima kasih... Terima kasih b-banyak, N-Naruto-kun..." ucap Hinata sepenuh hati.

Naruto melirik gadis yang tengah mendekap benda kecil itu bagaikan memeluk nyawanya sendiri. Meskipun sejumput rasa kesal masih tersisa dalam dirinya, ia pun agaknya merasa luluh dengan Hinata yang setulus itu. Ia menghela nafas lelah.

"Bel itu...mirip dengan milik salah satu kenalanku di Negara Oni," Naruto memulai percakapan baru, membuat Hinata kembali mengangkat wajahnya dan mengarahkan perhatian penuh pada si pemuda.

"Hanya saja bel miliknya tak ada rumbai talinya seperti punyamu, dan warnanya pink transparan," lanjut Naruto melihat Hinata dari sudut matanya, memberikan senyuman tipis ke arah gadis itu.

Sebentuk senyum terulas di bibir Hinata, rasa lega datang dengan sikap Naruto yang kembali bersahabat. "A-ano... Sebenarnya chichi-ue juga membeli bel ini di Negara Oni."

Naruto mengangguk singkat. "Oh, begitu. Wajar saja," timpalnya seraya melirik bel ungu transparan yang tengah dipasang Hinata di jaketnya.

Hinata tersenyum senang menatap jimat kesayangannya yang kini sudah kembali tersampir di dekat kerah jaketnya. Ini adalah hadiah berharga dari ayahnya, kembali mendapatkannya setelah mengira benda ini hilang sungguh tak terduga dan membahagiakan. Ditambah lagi, cinta pertamanyalah yang menemukan benda ini.

"Etto...kenalan Naruto-kun yang memiliki bel yang mirip dengan ini...?" tanya Hinata, memutar kepalanya menghadap Naruto.

"Dia miko Negara Oni, namanya Shion. Yah, sekarang bel itu sudah hancur, sih, karena aku menggunakannya untuk menggabungkan chakra kami berdua untuk mengalahkan Moryou," jawab Naruto yang ditanggapi anggukan Hinata. Ia ingat peristiwa kebangkitan Moryou yang sempat mengguncangkan desa itu.

Naruto terkekeh setelahnya. "Sebenarnya setelah misi itu usai, aku sempat dengan bodohnya menyetujui ajakan Shion untuk memberikan keturunan untuknya. Tapi beberapa menit kemudian, aku tersadar apa yang sudah kuucapkan, lalu segera menarik kata-kataku dengan panik dan gelagapan. Rupanya sifat bodohku ini bisa kumat di mana saja," ia menggaruk rambut kuningnya dengan gugup.

Hinata tersentak dan tubuhnya membeku.

Naruto-kun...nyaris menyetujui lamaran miko Negara Oni? Kalau saja dia tak segera menarik kata-katanya...mungkin saja sekarang mereka sudah...

"Tapi itu semua sudah lewat lama sekali. Syukurlah Shion mengerti dan mengijinkanku kembali ke Konoha," tutur Naruto disertai tawa kikuk di akhir kalimat. Menyadari tak ada tanggapan datang dari Hinata, pemuda itu menoleh dan melihat Hinata yang tertunduk tak bergerak, air mukanya sulit ditebak.

Barulah Naruto menyadari topik apa yang diungkitnya. Ia melarang Hinata membicarakan pemuda lain, sedangkan ia sendiri justru menceritakan pengalaman bodohnya yang nyaris menerima lamaran Shion. Ia segera merasa bersalah dan merutuki kebodohannya yang tak tahu situasi—lagi.

Bingung harus mengatakan apa pada gadis yang tak bersuara itu, Naruto hanya mendesah panjang, menatap rinai hujan dengan alis bertaut.

Padahal aku sudah bisa kembali mendekat padanya, tapi aku kembali merusak suasana dengan topik bodohku...

"Maaf..." ucap Naruto setelah beberapa saat. Dari ujung matanya ia melihat pergerakan Hinata yang menggeleng dan tersenyum maklum.

Hati Naruto menghangat, bersyukur bahwa gadis yang merebut hatinya itu begitu pengertian dan sabar. Tapi ia tak mau gadis itu salah paham, mengira bahwa dirinya menaruh hati pada sang miko yang bahkan sudah lama tak dijumpainya. Yang sekarang ada di hatinya hanya Hinata, dan Naruto ingin gadis itu mengetahuinya.

Mereka kembali terdiam setelahnya, menikmati gemericik air yang tumpah dari langit menuju bumi. Masing-masing terlalu terpaku pada pikirannya sendiri-sendiri, tak memberatkan kesunyian yang kembali tercipta di antara mereka.

"Imbalannya..." bisik Naruto memecah keheningan. Hinata yang mendengarnya menoleh, menatap pemuda di sampingnya yang masih menatap hujan.

"Eh...?"

"Kiba yang tak berhasil menemukan bel itu saja bisa menerima ciumanmu. Berarti..." Naruto menggantung kallimatnya, memutar kepala untuk menatap sang gadis yang terkejut dan bertanya-tanya dalam hati mengapa Naruto bisa mengetahui hal itu. "...seharusnya aku yang menemukannya bisa mendapatkan lebih, 'kan...?"

Hinata membulatkan mata atas kata-kata Naruto. Jantungnya mulai berdegup kencang tatkala menangkap sorotan serius dari mata biru pemuda itu.

"A...apa m-maksudmu?" pertanyaan bodoh itu terlontar dengan sendirinya dari mulut Hinata. Bukan untuk mengetahui jawaban Naruto, namun semata-mata untuk mengurangi kegugupan yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Aku yakin kau mengerti maksudku..." Naruto menggeser duduknya mendekat. Hinata tak bergeming, dirinya terlalu terpaku pada hal yang tiba-tiba ini. "...Hinata."

Sebelum Hinata mendapat kekuatan untuk menjauh, Naruto sudah terlebih dulu meraih pundaknya, menariknya mendekat sebelum ia dengan cepat mendaratkan bibirnya ke bibir gadis itu.

.

.

.

TBC

.

.

A/N: Cliffhanger? Maaf, maafkan Fi yang memotong di tengah-tengah! Let's save the best for later, okay? Hhe. ^^

Chapter depan akan masuk konflik utama. Tinggal 2-3 chapter lagi sampai tamat, semoga minna-san nggak bosan dengan cerita ini, ya. Bersedia meninggalkan review? Fi akan menerimanya dengan tangan terbuka. ^^

Flame tidak akan Fi anggap, karena Fi percaya selalu ada cara yang lebih baik daripada menggunakan kata-kata kasar dan makian tak berdasar.

See you later! ^^

Arigatou gozaimashita—FiDhysta, 2014