"Aku mengerti kenapa kau bersikap seperti ini. Aku juga tidak bisa menyalahkanmu, karena memang semua yang telah kulakukan dalam beberapa tahun ini hanyalah menyakitimu. Tapi aku hanya ingin kau memberiku satu kali kesempatan. Kau harus percaya padaku, Hermione."
"Kau percaya padaku kan, Hermione?" tanya Draco pelan.
Disclaimer: Harry Potter always belongs to J.K Rowling
Warning: Sedikit OOC, terdapat unsur kegajean dalam cerita ini. Don't like, don't read. Don't forget to leave a review.
Hermione berdiri dari bangkunya sesaat setelah Prof. Horace Slughorn menutup sesi pembelajaran hari ini. Gadis berambut coklat ikal itu mengalungkan tasnya dan berjalan meninggalkan ruang kelas.
"Hei, Nona-gigi-besar." Hermione memutar kedua bola matanya, tanpa perlu menoleh, dia tahu persis siapa orang yang berani memanggilnya dengan sebutan laknat itu.
"Ada apa, Ferret?" tanya Hermione asal kepada seorang pemuda berpostur tubuh tinggi yang kini sudah berjalan disebelahnya. Draco Malfoy menyeringai, dia mengalungkan tangannya pada bahu Hermione.
"Hari Sabtu ini kau tidak akan pergi bersama Pothead dan Weaselbee, 'kan?" tanya Draco dengan seringai yang masih menghiasi wajah tampannya.
Beberapa orang yang melihat Draco dan Hermione berjalan bersama, menatap keduanya dengan aneh. Ditambah lagi dengan tangan Draco yang setia berada dibahu gadis terpintar di Hogwarts itu.
Hermione berdehem ketika melihat sekumpulan anak perempuan tahun kelima menatapnya tanpa berkedip, mereka semua langsung mengalihkan pandangannya, tidak berani lagi menatap wajah Hermione.
"Aku tidak tahu." Jawab Hermione seraya menyingkirkan tangan Draco dari bahunya, mata coklat miliknya menatap tajam kedua bola mata Draco. "Dan nama mereka adalah Harry Potter dan Ronald Weasley, bukan Pothead dan Weaselbee." Lanjut Hermione, dia merasa sedikit kesal. Sudah berulang kali dia memberitahu Draco untuk memanggil Harry dan Ron dengan nama yang benar, tetap saja pemuda Malfoy itu tidak mau menurut.
Draco hanya menganggukkan kepalanya mendengar Hermione yang kembali menyuruhnya memanggil Pothead dan Weaselbee dengan Potter dan Weasley. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Mau sampai kapan pun, Draco tidak akan memanggil dua orang menyebalkan itu dengan nama asli mereka.
"Kau ikut pergi ke Hogsmeade, 'kan?" Draco kembali melayangkan pertanyaan. Hermione mengangguk pelan. Gadis itu berjalan memasuki perpustakaan, tempat favoritnya saat waktunya sedang lenggang.
Draco mengikuti Hermione dari belakang, layaknya seekor anak anjing yang mengikuti majikannya. Well, dalam kasus ini adalah seekor ferret putih yang mengikuti Hermione kemana-mana.
Hermione mengambil sebuah buku dan duduk disalah satu bangku yang ada di perpustakaan. Draco? Tentu saja pemuda itu ikut duduk disebelah Hermione. Tapi tidak ada satu buku pun yang terdapat ditangannya.
Hermione membuka bukunya dan mulai membaca kalimat-kalimat yang tercetak disana. Sementara Draco hanya terdiam, mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja. Menatap langit-langit perpustakaan atau sesekali mengerjai siswa tahun pertama yang duduk dihadapannya.
"Apa kau tidak mempunyai hal lain untuk dikerjakan, Malfoy?" Hermione akhirnya mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap Draco dengan sebelah alis terangkat.
Draco mengedikkan bahu, "Entahlah, kurasa tidak." Jawabnya pendek dan dia kembali mengerjai siswa tahun pertama dengan melayangkan buku yang sedang dibaca siswa itu menggunakan mantra sampai hampir menyentuh langit-langit.
Hermione menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka seorang Draco Malfoy yang mendapat predikat laki-laki terdingin di Hogwarts itu ternyata sangat kekanak-kanakan. Hermione memukul lengan Draco, "Turunkan bukunya!"
Draco mendengus pelan dan langsung menurunkan buku itu dan menyimpannya di atas meja. Tanpa membuang-buang waktu, siswa tahun pertama yang sejak tadi dikerjai Draco langsung berlari keluar dari perpustakaan.
Hermione melotot, "Dasar bodoh! Kenapa kau tidak pergi dan bermain-main bersama Blaise atau Theo?" tanya Hermione. Draco menghela napas dan menarik buku yang sedang Hermione baca lalu membolak-balik buku tersebut, membaca cover bukunya lalu bagian belakang bukunya.
"Aku sedang tidak ingin bermain besama mereka." Jawab Draco acuh. Hermione menarik napas panjang dan menghembuskannya. Baiklah, Hermione, kau harus sabar, pikirnya.
"Kalau begitu pergilah, kemana saja. Kau seperti tidak ada kerjaan lain saja!" Hermione berkata dengan kesal seraya mengambil bukunya dari tangan Draco dengan kasar.
Hermione berdehem pelan, dia mencoba untuk kembali fokus dalam membaca bukunya. Namun, baru beberapa kalimat, Hermione kembali menatap Draco yang kini juga sedang menatapnya.
"Kau ini kenapa? Ada yang salah denganmu?" tanya Hermione, kali ini dia benar-benar kesal. Dalam hati Hermione bertanya-tanya, kenapa Draco sejak tadi mengikutinya.
"Kau akan pergi ke Hogsmeade, 'kan?" Draco malah balik bertanya, bukannya menjawab pertanyaan Hermione sebelumnya.
"Iya, aku akan pergi. Memangnya ada apa?" tanya Hermione tanpa menatap wajah Draco. Kedua mata gadis itu kembali terpaku pada lembaran-lembaran kertas usang dalam buku yang ada dihadapannya.
"Tanpa Santo Potter dan Weaselbee?"
"Astaga, Malfoy, ada apa denganmu?! Iya, aku tidak akan pergi ke Hogsmeade bersama Harry dan Ron!" ujar Hermione keras, membuatnya dipandangi oleh beberapa pasang mata. Dan juga dipelototi oleh Madam Pince—penjaga perpustakaan.
Draco menyeringai, pemuda itu langsung berdiri dari posisi duduknya dan berjalan keluar dari perpustakaan seperti tidak terjadi apa-apa. Hermione menatap punggung pemuda itu dengan dahi berkerut dan mulut sedikit terbuka.
"Dasar aneh!" cibir Hermione pelan.
Hermione POV
Ah, tak terasa sekarang aku sudah berada di tahun ketujuh ku. Rasanya baru kemarin aku menginjakkan diri di Hogwarts. Segala sesuatu yang terjadi disekolah ini sangat berarti untukku. Semua orang yang berada disini sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Aku tidak bisa membayangkan jika suatu hari aku harus meninggalkan sekolah ini.
Aku melihat beberapa orang berada dilapangan, lengkap dengan pakaian hangat mereka. Beberapa anak tahun pertama dan kedua sedang bermain lempar-lemparan bola salju, beberapa sedang bermain kejar-kejaran.
Hari ini adalah hari kunjungan ke Hogsmeade. Semua orang pasti sudah tidak sabar untuk datang ke desa itu untuk membeli butterbeer di Three Broomsticks, berkunjung ke Honeydukes dan membeli beberapa makanan manis disana, atau untuk melihat-lihat Shrieking Shack.
Aku merapatkan jaket abu-abuku dan mengenakan syal merah muda milikku. Setelah menyisir rambut dan mengenakan sepatu, aku langsung keluar dari dalam kamar.
"Kenapa lama sekali?" Aku membalikkan badan, menatap sosok Draco Malfoy yang sudah mengenakan pakaian kebesarannya, jas hitam dan celana panjang hitam.
"Untuk apa kau menungguku?" tanyaku bingung. Tidak biasanya seorang Draco Malfoy mau menungguku. Setiap pagi saja kami masih sering berebut kamar mandi.
Dapat kulihat Draco mendengus, "Dasar bodoh, kau lupa kalau sekarang kita akan pergi ke Hogsmeade?" tanyanya dengan nada bicara mengejek.
Aku ikut mendengus setelah mendengar kata bodoh terlontar dari mulutnya. Enak saja dia bicara! Memangnya dia pikir siapa yang bodoh disini?!
"Tentu saja tidak!" jawabku cepat. "Aku baru saja hendak menemui Harry, Ron dan Ginny." Lanjutku.
Draco terlihat memasang ekspresi aneh, "Kau bilang kau tidak akan pergi ke Hogsmeade bersama mereka?" Aku terdiam sesaat. Benarkah? Kapan aku mengatakannya?
Aku menatap Draco dengan polos, "Benarkah? Aku rasa, aku tidak pernah mengatakannya." Ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Ah, dasar berang-berang pelupa, ayo cepat!"
Normal POV
Hal yang tidak pernah dibayangkan Hermione sebelumnya baru saja terjadi. Draco Malfoy, sang pemuja darah murni, kecoak jelek, jelmaan musang dan musuh abadinya baru saja menarik tangannya dan mengajaknya pergi ke Hogsmeade bersama!
"Ada apa dengan ekspresi wajahmu itu, Granger?" tanya Draco yang berhasil membuat Hermione kembali ke alam sadarnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat-cepat.
"Ti-tidak, tidak ada apa-apa. Kita mau kemana sekarang?" tanya Hermione seraya menutupi kedua pipinya yang memerah dengan telapak tangannya. Hermione tiba-tiba merasa malu sendiri.
"Kau kedinginan? Kita ke Three Broomsticks saja, membeli butterbeer." Ujar Draco. Hermione melirik sekilas lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya, terserah saja."
Keduanya akhirnya berjalan beriringan menuju Three Broomsticks. Dalam hati Hermione mulai berharap semoga dia tidak bertemu dengan Harry, Ron, Ginny dan Luna. Dia tidak mau teman-temannya itu mengejeknya habis-habisan karena berjalan-jalan di Hogsmeade bersama Draco.
Saat masuk ke dalam Three Broomsticks, mata Hermione langsung beredar mengelilingi tempat itu, mencari keberadaan teman-temannya. Nihil. Tidak ada sosok Harry, Ron, Ginny ataupun Luna Lovegood disana.
Hermione tersenyum lega dan berjalan mengikuti Draco yang memilih tempat didekat jendela. Keduanya duduk berhadapan dalam diam sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Hei, kau ini kenapa?" tanya Draco tiba-tiba. Hermione menatap Draco dengan sebelah alis terangkat.
"Kenapa apanya? Aku baik-baik saja." Jawab Hermione. Namun Draco masih saja memasang ekspresi sok detektif miliknya.
"Ah, kau pasti sangat senang bisa pergi ke Hogsmeade bersamaku, iya, 'kan?" Draco mulai mengeluarkan seringai menyebalkan miliknya untuk mengejek Hermione. Wajah gadis itu kini mulai dihiasi semburat merah. Meskipun apa yang dikatakan Draco benar, Hermione tidak akan mau mengakuinya.
"Apa? Jangan bermimpi, Malfoy!"
"Ah, mengaku saja, Granger. Tidak usah malu-malu," Draco berkata dengan nada menggoda, membuat wajah Hermione semakin memerah.
"Sudah kubilang tidak, Malfoy!"
Keduanya terus beradu argumen, padahal sebenarnya topik yang mereka bicarakan tidak terlalu penting. Hermione terus menerus mengelak segala sesuatu yang diucapkan oleh Draco. Dan pemuda berambut pirang platina itu terus-terusan menggoda Hermione. Hingga sebuah suara mengagetkan keduanya.
"Hermione, Malfoy, sedang apa kalian disini?" Hermione mendongak, mulutnya langsung terbuka lebar ketika melihat Ronald Weasley berdiri dihadapannya dengan muka menyelidik.
"Err, kami sedang—"
"Tentu saja kami kesini untuk meminum butterbeer, Weaselbee. Memangnya untuk apa lagi?" ujar Draco angkuh. Wajah Ron langsung memerah karena kesal, dia baru saja hendak mencaci maki Draco saat Ginny dan Harry datang menyusulnya.
"Tidak baik mengganggu orang yang sedang berkencan, Ron!" ujar Ginny seraya menahan Ron yang sudah siap menerkam Draco kapan saja. Adik kandung Ron itu melirik Hermione dan mengedipkan sebelah matanya, membuat Hermione malu.
"Benar. Cukup kami saja yang merasakannya, Ron." sahut Harry asal, membuat Ginny tertawa.
"Jadi maksud kalian aku mengganggu, begitu?" tanya Ron dengan ekspresi kesal. Harry mengangguk pelan.
"Bagus kalau kau sadar."
"Hei!" Ron berteriak, kali ini siap menerkam Harry yang masih bertahan dengan ekspresi datarnya.
"Jadi sekarang kalian berdua sudah resmi bersama, eh?" tanya Ginny dengan seringai menggoda. Hermione gelagapan, dia menatap Draco kemudian kembali menatap Ginny, menatap Draco lagi dan beralih ke Ginny, terus seperti itu.
Tapi tatapannya hanya terpaku pada sosok Draco Malfoy saat pemuda itu membuka suaranya.
"Iya, kami sudah bersama."
To Be Continued
Ohohohoho, gimana-gimana? Chapter ini mungkin rada pendek dari sebelumnya ya? Oh iya, soal syal yang dipake Hermione dichapter ini, bayangin aja syal yang dipake di Deathly Hallows.
Nah, sekarang author mau ngucapin terimakasih banyak bagi yang udah baca dan mereview chapter sebelumnya. Makasih banyak banget ya :D /bows.
Jangan lupa tinggalkan reviewnya ya!
Sampai bertemu dichapter selanjutnya!
Neko~
