KETERIKATAN
Disclaimer's: Ichie Ishibumi & Masashi Kisimoto
Warning : OOC, AU, AT, CHARA DEATH, TYPO.
KETERIKATAN
Chapter 10 :
Final Arc : New Life and Next Beginning
0o0o0o0
Naruto's PoV
Aku menghembuskan nafas lelah saat merasakan rasa sakit di seluruh tubuhku. Darah yang mengalir keluar dari tubuhku tak aku hiraukan. Walau sudah akan mencapai batas, aku masih berjuang untuk bertarung dan memegang pedangku dengan tangan bergetar.
Sebenarnya, ini semua berawal saat aku semakin memasuki kuil Hades dan bergerak menuju tempat penyegelan dimana Samael sebelumnya berada. Saat aku melihat ke dalam tempat itu, yang kulihat adalah Hades dengan tubuh lemah yang seperti disiksa oleh seseorang.
Melihat lebih jelas lagi…
Aku mulai membelalakkan mata dan menyadari siapa orang yang telah membuat Hades sekarat itu!
Dia adalah Rizevim Livan Lucifer dan tiruan Ophis yang membuatku muak saat melihatnya, Lilith.
"Astaga~ anak yang mengintip dari belakang itu… bisakah kau menunjukkan diri, Naruto Uzumaki-kyun~?" Rizevim menyeringai sambil melirik ke arahku. Jujur saja, sikapnya yang seperti itu membuatku muak.
Aku pun langsung memunculkan diri dan menjulurkan pedang Muramasa milikku. "Kalian memanfaatkan Hades demi penggunaan Samael sendiri, benar, 'kan? Sebenarnya… apa yang kau incar dari Kota Terbang Agrares, Rizevim?" aku mengatakannya dengan pandangan tajam dan masih waspada oleh gerak-gerik dua musuh di depanku.
"Nah, aku ingin benteng berjalan untuk persembunyian Qlippoth~! Selain itu, alasan lain akan kuberikan sebagai hadiah padamu setelah kau berhasil keluar dari sini! Serang dia, Lilith-chan!"
Rizevim itu memerintahkan pada Lilith untuk menyerangku dan aku sedikit terkejut melihat gerakan lincah milik Lilith. Aku tentunya tidak lupa bahwa Lilith adalah separuh dari Ophis. Dan itu semakin membuatku membenci Lilith sendiri. Tapi… anak ini.. tiruan Ophis ini.. aku yakin dia hanya bergerak karena dimanfaatkan. Sejak awal Lilith memanglah terlihat sangat polos. Bahkan dirinya sendiri tak bisa mengungkapkan segala ekspresinya itu dengan baik. Dia sama seperti Ophis yang dulu. Dimanfaatkan oleh seseorang, lebih parah lagi Lilith itu sangat mempercayai Rizevim.
Tapi.. apa pun itu.. Lilith hanyalah separuh Ophis yang juga musuhku! Tidak peduli seperti apa dirinya, seorang musuh haruslah dihancurkan dan dimusnahkan!
Aku menggeremetakkan gigi kesal dan mengisi energi dalam pedangku hingga batas maksimal. Aku mengayunkan pedang milikku dengan gesit pada Lilith itu. Tapi entah mengapa dia selalu sanggup menghindar. Di luar perkiraanku, gerakannya lebih gesit dari pada Ophis yang aku kenal.
Lilith meloncat tinggi ke atap-atap kuil dengan sepasang sayap naganya. Dia menembakkan serangan beraura pekat yang ditunjukkan padaku. Aku yakin itu memiliki energi seperti [Judgment Lucifer]! Jadi aku harus benar-benar waspada –tidak. Waspada saja tidaklah cukup. Maka… walau hanya untuk melindungi diri-
Pilar-pilar kegelapan mengumpul dengan cepat seolah mewujud sebagai tamengku. Lalu pilar-pilar kegelapan itu menyatu dan membentuk serangan absolut yang menghantam serangan Lilith tadi hingga membuat kerusakan besar pada kuil.
[Judgment Lucifer!]
BLAAAARRR!
Kuil berguncang dengan keras dan asap sisa-sisa dari serangan masih menutupi area sekitar sehingga aku tak bisa melihat dengan leluasa. Saat aku menghirup asap itu… entah mengapa dadaku menjadi sesak seperti ingin meledak. Rasanya seperti ada yang menekan secara keras di dalam tubuhku. Aku pun menyadari bahwa Lilith memasukkan racun miliknya ke dalam serangannya dan sengaja membuat serangan miliknya bertabrakan dengan seranganku sehingga racun yang terkandung bisa menyebar.
Aku… dengan tangan gemetaran mengayunkan Murasame dengan kencang ke depan untuk menyingkirkan racun dan asap yang menghalangi pandanganku. Saat itu juga, aku merasa ada serangan yang datang dari balik asap dan itu membuatku loncat ke belakang.
Saat melihat lagi, aku merasakan aura yang sama dengan kekuatanku pada serangan yang tadi. Asap-asap mulai menghilang seiring waktu dan membuatku kembali bisa melihat dengan jelas. Tapi, saat aku melihat itu-
-!
..Aura yang baru menyerangku tadi….. itu berasal dari diriku..?
Saat ini, orang yang berdiri di depan Lilith dan Rizevim sambil menjulurkan pedangnya padaku adalah diriku sendiri –mungkin aku menyebutnya seperti itu karena mempunyai penampilan mirip denganku.
Pria itu yang mirip denganku… semuanya mirip denganku. Pedang yang ia bawa. Longinus berbentuk jubah yang sedang ia pakai. Tiga guratan halus di sekitar pipinya… semua itu mirip denganku. Hanya saja… saat aku melihat lebih jelas lagi ia memiliki mata merah di bagian kiri dan kuning di bagian kanan. Dari balik kepala pirangnya itu menyembul tanduk hitam yang menyerupai mahkota.
Entah mengapa… penampilan itu seperti penampilanku dalam [Balance Breaker]. Tidak, tunggu dulu. Yang lebih penting… siapa dia ini?
Rizevim itu yang melihat reaksiku kemudian tertawa senang dan itu benar-benar membuatku muak. "Uhyayahyaya~! Kau kaget, Naru-kyun~? Kau tahu… ini hadiah untukmu~ Otsutsuki-chan itu sebenarnya telah meneliti beberapa teknik untuk membuat 'kembaran' dari seseorang, apalagi Azazel-kun dari Grigori itu pernah membuat doppelganger sehingga Otsutsuki-chan lebih leluasa dalam penelitiannya~ Dan lebih hebatnya lagi… ia memperkirakan kedatanganmu ke sini sehingga dia menyiapkan Naru-kyun yang persis denganmu~ Kekuatannya juga sama, loh~"
Aku melotot tidak senang pada Rizevim yang tertawa puas itu. Ia menunjukkan seringainya dan membuat sihir untuk mengikat tubuh Hades.
"K-kau-! Jangan berniat untuk kabur dari sini, Rizevim!" teriakku tatkala menyadari apa tujuan dari Rizevim itu.
"Tidak bisa begitu, Naru-kyun~! Aku akan kabur ke sini dengan dewa tengkorak ini! Kau tahu, tengkorak ini sudah mengikat beberapa perjanjian dengan Qlippoth sehingga jika ia mati maka itu bukanlah hal yang penting bagi DxD, 'kan? Selain itu ia menipuku sehingga aku dan Lilith-chan harus memberi pelajaran padanya~ Itu berarti dia harus memberikan barang-barang yang kukira cukup penting untuk kebangkitan 666 itu! Jadi,~ karena itu kau tetaplah di sini. Jangan khawatir karena Lilith-chan serta kembaranmu akan menghiburmu sedikit!" sambil mengatakan itu, lingkaran sihir tergambar di bawah tubuh Rizevim dan Hades. Lingkaran sihir mengeluarkan cahya pekat dan menelan Rizevim serta Hades pada kegelapan perlahan-lahan.
Aku yang melihat itu segera membentuk serangan [Judgment Lucifer]-ku untuk menghancurkan lingkaran sihir itu. "Tak akan kubiarkan!"
Tapi, sebelum semua itu berhasil-
Aku merasakan tinju keras dan berat menghantam rahangku dan membuatku terhempas ke belakang. Aku terbatuk darah dan menyadari bahwa yang melakukan itu tadi adalah kembaranku.
Lalu… lingkaran itu sudah sepenuhnya menteleportasi Rizevim serta Hades ke tempat lain. Itu membuatku kesal sekaligus bingung apa yang akan kulakukan. Seharusnya aku bisa saja kabur dan mengejar mereka berdua. Tapi… musuh di hadapanku ini… mana mungkin akan membiarkannya.
Aku tak bisa berteleportasi langsung untuk mengejar mereka berdua karena aku tak tahu dimana tempat yang dituju Rizevim. Jika kabur sekarang pun jug percuma. Karena dua orang musuh di hadapanku ini akan segera menyerangku.
Saat itu juga… aku merasa kuil berguncang sekali lagi dan aku merasakan cahaya yang menyakitkan bagi iblis. Sesuatu yang terselimuti oleh cahaya itu mengeluarkan serangan besar pada Lilith dan tiruanku. Aku juga melihat tujuh buah bola kecil yang menyertai sesuatu yang terselimuti cahaya itu.
Cahaya mulai mereda dan yang sepenuhnya terlihat olehku adalah Tombak True Longinus! Bersamaan dengan itu juga…. Suara seorang pria muda terdengar.
"Rizevim itu sepertinya membuat suatu masalah di sini. Dan aku sepertinya juga membuat salah-satu-rivalku-yang-sebenarnya-pernah-mengalahkanku-san berhutang padaku. Apakau begitu, Naruto Uzumaki?"
Sosok yang terlihat itu adalah pria muda yang mempunyai wajah oriental dengan baju khas miliknya serta kebiasaan mengetukkan tombak ke bahunya. Dia menyeringai padaku dan berdiri tidak jauh dariku.
"Cao Cao," kataku menyebut nama pria tadi.
Cao Cao melihat kepada dua musuh kami dan menunjukkan ekspresi datarnya. "Lilith dan 'tiruanmu', benar?"
Aku mengangguk membenarkan ucapan Cao Cao. Cao Cao kemudian menghela nafas dan melihat di tempat dimana sebelumnya Samael berada. "Seperti itu keadaannya… lalu, kalau begini kita harus mengalahkan –tidak. Kita harus mengalihkan perhatian mereka dan kabur untuk mengejar Rizevim serta Hades. Aku juga tahu bahwa di sini dipasang anti-sihir, meski kemungkinan besar hanya berguna untuk manusia dan berefek sedikit bagi iblis. Walau begitu… jika kita menggunakan sihir.. dan .. kalau lawannya mereka…"
Aku menyeringai sedikit melihat reaksi Cao Cao itu. "Ada apa, maniak pertempuran? Tidak seperti dirimu ketika kau memilih untuk kabur, 'kan? Ah.. tapi aku mengerti keadaannya. Jadi… apa masukanmu?"
Saat aku mengeluarkan komentar seperti itu, Cao Cao memasang wajah tidak suka dan akhirnya kembali pada ekspresi awalnya. Ia tidak berkata apa-apa dan mengetukkan ujung tombaknya pada bahuku.
Lalu… entah mengapa tubuhku terasa ringan dan luka-lukaku pulih. Energiku setidaknya juga bertambah walau tidak pulih sepenuhnya. Walau aku adalah iblis dan kemungkinan terluka karena True Longinus. Tapi, ini jelas-jelas membuat keadaanku membaik. Ini…
"Ki?" tanyaku pada Cao Cao untuk memastikan.
Cao Cao mengangguk. Tapi, meski begitu dia tak mengatakan apa-apa. Yang dia lakukan hanya mengangguk dan diam. Tapi, lebih dari itu.. aku tahu apa yang ingin ia katakan.
"Aku.. tak mungkin menggunakan 'mode' itu. Aku akan mati jika aku sekarang dengan keadaan seperti ini. Immortal Lost bukanlah kekuatan yang bisa aku lakukan hanya dengan membalikkan telapak tangan. Selain itu… bukankah ada kemungkinan kalau… dia juga akan menggunakannya?" kataku sambil mengalihkan pandangan pada 'kembaran'-ku.
Cao Cao menghela nafas. "Kalau lawannya mereka.. salah satu dari kita harus menggunakan 'mode' tertentu itu yang melebihi Balance Breaker. Dalam hal ini.. karena aku manusia… aku tak bisa melakukan sihir sembarangan di kuil Hades. Tentunya kau tidak lupa jika di sini ada anti-sihir, 'kan? Aku bisa menggunakan sihir hanya dalam batas tertentu. Aku yakin kau pun juga begitu. Karena itu... jika aku menggunakan bentuk Truth Idea, aku sudah melebihi batasan sihir. Berbeda denganmu yang bisa menggunakan sihir lebih dariku dalam situasi ini. Karena itu… aku punya cara agar kau tidak mati saat mengaktifkan Immortal Lost," Cao Cao itu… dia mengatakannya dengan tenang meski nyawaku sedang dipertaruhkan di sini.
Cao Cao melihat ke atap-atap. Dia menunjuk atap-atap kuil dengan ujung tombaknya. "Di sini adalah kuil Hades. Dimana kekuatan di sini hampir sama dengan Longinus milikmu. Dengan fakta ini… kau bisa mengambil aura dan kekuatan dalam kuil untuk mengisi energi Longinusmu agar penuh. Selain itu, cara ini juga aman karena tidak ada aura yang berbeda masuk dalam Longinusmu dan membuatnya kehilangan kontrol. Karena itu, saat kau cedera nanti… gunakan Ki yang kuberikan padamu sebagai penyembuhan."
Aku berpikir sebentar akan apa yang dikatakan Cao Cao dan menjadi paham. "Itu artinya.. Ki tadi.. yang kau berikan padaku hanya sebagai pemulih, 'kan? Dan juga… apakah ada jaminan bahwa aku akan selamat dari amukan Hades walau aku hancurkan kuil ini?" kataku sambil menyeringai.
Cao Cao tersenyum tipis. "Yah… pada dasarnya jika kekuatan yang kau perlukan tak mencukupi, kau bisa menyedot semua kekuatan di kuil ini dan kuil ini sendiri akan roboh karena kekuatannya hilang. Pada dasarnya kuil Hades memang terbentuk dari sihir. Jadi kurasa.. kalau Hades marah akan hal ini padamu.. kau bisa bilang padanya kalau Hades membuat masalah sehingga kau harus menghancurkan kuil. Lebih mudah, 'kan?"
Aku mengangguk sambil menyeringai. Kemudian, aku menancapkan ujung Muramasa dan mengalirkan kekuatan Longinus-ku ke dalamnya. Dengan konsentrasi, aku menyerap energi sihir sebanyaknya dan aku mulai merasa tubuhku sangat mudah digerakkan. Energi milikku menjadi penuh dan aku merasa bisa meluncurkan [Judgment Lucifer] sampai dua puluh kali.
Tapi.. belum selesai. Masih kurang.
Saat aku semakin berkonsentrasi, aku merasa kehadiran yang akan menyerangku. Aku panik untuk sesaat karena jika aku membatalkannya saat ini juga, sihir yang kuserap akan meledak karena aku tak menuntaskan apa yang kulakukan.
Saat itu juga…
"Aku akan mengulur waktu untukmu," suara itu terdenger cepat lewat telingaku. Saat aku sadar lagi, itu adalah suara milik Cao Cao.
Aku juga mendengar suara ledakan dan dentingan logam beberapa kali setelah itu. Memikirkan lagi, lelaki itu pastinya sedang kesulitan sekarang. Bagaimana pun, lawannya adalah Lilith dan 'kembaran'-ku. Jadi… aku harus menyelesaikan ini semua dengan cepat.
Saat-saat terakhir, aku merasakan seperti kekuatan yang besar masuk padaku dan entah mengapa terasa sakit dan luar biasa di saat bersamaan. Bahkan.. besarnya kekuatan ini membuatku tak bisa membuka mata untuk beberapa saat.
Lalu, tanpa basa-basi lagi… aku mengucapkan mantra setelah mataku bisa dibuka kembali.
"Suara yang kudengar di kala hidup dan matiku.
Cahaya terang yang membakar raga itu.
Begitu panas dan menyakitkan.
Hingga kudengar teriakannya lagi dan kutemukan jalanku.
Di jalan kehancuran ini… keabadian akan terhapus dan kehidupan akan musnah,
Saksikanlah ketika sayap itu mulai patah dan Sang Ajal menghampiri,
Immortal Lost!"
Setelah aku merapal mantra itu dengan suara yang lantang, sekelilingku mulai hancur dan aku benar-benar merasa tubuhku terbakar, terpacu oleh suatu kekuatan yang tak kuketahui.
Lalu… yang kulihat adalah diriku yang nampaknya sedang terbang di langit dan kuil yang hancur. Di sekitarku tercipta banyak sekali blok-blok demonic hingga tak terhitung jumlahnya. Dengan cepat, bola-bola itu meluncur dan meledakkan semua yang ia sentuh.
[Starvation Shoot!]
Tanpa menunggu reaksi lawanku lagi, tanganku terangkat ke atas dan tercipta energi sihir yang banyak dan lebih besar dari tadi.
Itu begitu besar sehingga aku harus sedikit mendorongnya untuk menjauhiku agar aku tak terkena energinya sendiri. Dengan melepaskan panas dan energi besar, aku mendorong blok demonic itu sekuat tenaga dan kekuatan yang besar meluncur jauh menuju objek di bawahku, tepatnya pada Lilith dan 'kembaran'-ku.
[Starvation Shoot : Maksimun!]
Sekali lagi, terjadi ledakan besar yang menciptakan kawah di tanah. Walau kupikir ini hebat, tapi kepalaku mulai pusing dan aku merasa kesadaran lain mulai merasukiku. Aku merasa tubuhku ringan dan mataku melihat antara kuil dan objek yang tak jelas.
Saat itu juga, sadar tak sadar aku telah meluncurkan [Judgment Lucifer] hingga berkali-kali.
Normal's PoV
Naruto Uzumaki, sosoknya telah terbang jauh di atas puing-puing kuil Hades yang telah jatuh. Dirinya tak lagi seperti sosoknya yang biasa. Kini Naruto sangat mirip seperti 'kembaran'-nya. Sosok Naruto nampaknya tak bisa mengendalikan wujudnya. Terbukti dengan serangan brutal yang diarahkan ke sembarang arah.
Sudah beberapa kali sejak ledakan besar terjadi dan daratan tak terbentuk. Sementara itu, Cao Cao-
"Orang itu… lepas kendali.. melenceng dari perkiraanku," Cao Cao mengatakan itu sambil mendesah. Sementara itu, dia melihat ke arah Lilith dan 'kembaran' yang nampaknya cukup disibukkan dengan beberapa serangan brutal Naruto.
"Walau aku melindungi diriku dengan True Longinus, tapi itu tidak menghapus kemungkinan kalau aku juga akan terkena serangan. Kalau begini, dia benar-benar lepas kendali dan melenceng dari rencana. Maka, aku harus terpaksa…"
Satu dari tujuh bola milik Cao Cao terbang dan membuat tubuh Cao Cao juga terbang menuju ke Naruto yang sedang lepas kendali.
Cao Cao menempatkan dirinya agak jauh dari Naruto agar tidak terkena serangan Naruto yang sedang lepas kendali. Ia mengamati dari jauh sambil mengkerutkan alis. Cao Cao sedang bimbang, dia sebenarnya ingin masuk dalam mode Balance Breaker, namun dia tak bisa menjamin nyawanya akan selamat karena dia akan mati sebelum menghentikkan Naruto karena Naruto sangat berbahaya untuk didekati.
Sementara itu, Cao Cao akan merasa sangat rugi jika mengenakan mode Truth Idea karena ia belum bisa mengendalikannya. Cao Cao tak mau membuang tenaga di sini sementara rencananya hanya untuk mengalihkan perhatian Lilith dan 'kembaran' Naruto.
Dari bawah, ada aura ungu pekat yang membalas serangan [Judgment Lucifer] milik Naruto. Melihat lebih jelas lagi, itu adalah Lilith yang membuat tubuhnya berubah menjadi sosok gadis dewasa. Lilith menciptakan sayap naga berwarna hitam di balik punggungnya. Gadis itu terbang cepat menerjang ke arah Naruto dan bertukar beberapa serangan besar dengan Naruto.
Sementara itu, 'kembaran' Naruto menunjukkan pergerakan. Dia menyerang dengan dua pasang pedang yang nampaknya juga ditiru dari pedang Muramasa dan Murasame milik Naruto. Cao Cao yang menjadi 'sasaran' itu mendesah kesal. Dia menangani setiap tebasan demi tebasan dengan tangkas.
Cao Cao sebenarnya merasa kewalahan dengan serangan 'kembaran' Naruto. Dia pernah dikalahkan sekali oleh Naruto dan yang sekarang ia hadapi adalah 'kembaran' Naruto. Cao Cao membuat salah satu bolanya terbang di antara dirinya dan 'kembaran' Naruto. Bola itu berubah menjadi sebuah serangan cepat dan dengan sekali serangan mampu menghancurkan salah satu pedang Naruto.
Cao Cao menyipitkan matanya. Dia menebaskan tombaknya ke samping dan membuat gerakan memutar dengan ujung tombaknya untuk mengambil kesempatan menebas tubuh 'kembaran' Naruto.
"Aku tahu satu hal. Walau kau 'kembaran', walau yang dikatakan Rizevim kau punya kekuatan sama dengan Naruto, belum tentu kau bisa masuk Immortal Lost dan itu juga merupakan peningkatan bagi Naruto. Cukup Naruto saja yang mengalahkanku. Sekarang tidak akan kubiarkan kau yang merupakan 'tiruan-murahan-san' dari Naruto juga mengalahkanku," mengatakan itu, Cao Cao membuat serangan brutal yang teratur dan itu hampir tak bisa dihindrai oleh 'kembaran Naruto'.
Mengambil kesempatan, Cao Cao membuat sebuah lubang besar di tanah dan ia membuat salah satu bolanya menyerang 'kembaran' Naruto. Lebih tepatnya lagi, itu membuat 'kembaran' Naruto terangkat ke atas tepat di atas lubang yang dibuat Cao Cao.
Dengan serangan sihir yang besar, Cao Cao mengumpulkan cahaya dalam kadar maksimal di ujung tombaknya dan melepaskan bola miliknya lalu serangan sihir cahaya mulai menyerang 'kembaran' Naruto dan memaksanya terjatuh ke bawah.
Tak ingin kalah, 'kembaran' Naruto itu meluncurkan serangan sihir dan bersamaan dengan itu menggunakan [Niflheim : Circuit] untuk melindungi diri. Serangan sihir yang naik ke atas menuju Cao Cao dihindari dengan gesit oleh Cao Cao.
Cao Cao menambah tenaga sihirnya dan menyerang 'kembaran' Naruto dengan serangan brutal beruntun. Walau tidak ada satu pun dari serangan Cao Cao yang melukai tubuh 'kembaran' Naruto, tapi itu cukup untuk membuat tubuh 'kembaran' Naruto semakin cepat jatuh ke bawah.
BAM!
Suara keras seperti itu terdengar dan tubuh 'kembaran' Naruto jatuh di lubang buatan Cao Cao dan terperangkap di sana. Belum cukup sampai di sana, Cao Cao membuat segel untuk memerangkapkan tubuh 'kembaran' Naruto di sana agar tidak bisa kabur.
"Kau kalah untuk sementara ini, aku ingin membunuhmu tapi… aku tahu jika seperti ini lama-lama kau juga akan mati. Otsutsuki Toneri itu.. dia pasti menciptakanmu tidak sesempurna kata Rizevim. Kau pasti akan menghilang dalam beberapa waktu, 'kan? Nah, aku tidak ingin membuang banyak energi sehingga aku cukup mengurungmu di sini. Jadi… bagaimana dengan Naruto dan Lilith itu sekarang?" kata Cao Cao sambil melihat ke langit.
Naruto dan Lilith saling bertarung dengan sihir. Lilith membuat banyak bola sihir berwarna putih di udara dan meledakkannya saat itu juga. Tak ingin kalah, Naruto mengirimkan [Starvation Shoot] miliknya yang menembus asap-asap yang tercipta dari ledakan sihir Lilith.
Dengan tangkas, Lilith membuat ular beraura ungu dalam jumlah banyak sebagai tameng. Ular-ular itu membesar dan rahangnya terbuka lebar siap menangkap semua blok sihir milik Naruto yang diarahkan pada Lilith.
BLARRR!
Terjadi sebuah ledakan hebat yang melaju hingga langit dan membuat pemandangan sekitar tak dapat dilihat. Belum cukup dengan itu, Naruto membuat [Judgement Lucifer] tertembak lagi dan lagi. Hanya saja. Lilith masih dapat menghadangnya dengan tameng berwarna ungu pekat.
Saat menemukan sedikit celah, Lilith terbang dengan sepasang sayap naganya dan menciptakan sebuah pedang beraura ungu pekat yang gagangnya seperti sisik-sisik milik ular. Lilith dengan gesit menghindari serangan sihir dari jarak dekat Naruto yang diarahkan padanya. Ia menambah aura sihir sampai batas maksimun pada ujung pedang.
Dengan sekali kepakan sayapnya, Lilith bergerak cepat menerjang Naruto.
KRAAAAKKK!
Hanya saja-
Sayap hitam Naruto yang telah bergabung dengan Muramasa dan Murasame itu menghancurkan kedua sayap Lilith sebelum Lilith datang menyerangnya lebih dahulu. Naruto mengumpulkan tenaga dalam ke tinjunya. Dengan sepenuh hati, Naruto mengayunkan tinju berat itu pada tubuh milik Lilith dan membuat gadis itu terjatuh ke bawah.
Lilith yang terjatuh ke bawah menampakkan ekspresi datar. Dengan cepat, sayap naganya kembali memulih dan ia terbang ke sisi lain untuk bersiap dalam menghadapi serangan Naruto lagi.
Lilith itu mengangkat tangannya dan dari tanah muncul ribuan naga yang tercipta dari sihir beraura ungu. Setiap naga itu menunjukkan mata merahnya pada Naruto dan dengan brutalnya mereka menyerang Naruto sambil membuka rahang besar mereka, menunjukkan deretan gigi nan runcing yang siap mengoyak daging Naruto.
Naruto itu walau terlihat terpojok namun ia masih membentuk pelindung yang biasa ia gunakan dan menghalangi serangan-serangan dari para naga itu. Walau begitu, hantaman dari ribuan kepala naga membuat dirinya terhempas jauh dan menatap kerasnya tanah.
Lilith membuat naga-naganya menghilang. Gadis itu bergerak menuju tempat di mana Naruto tadi terjatuh. Dengan wajah datarnya, gadis Lilith itu membentuk segel untuk mengurung gerakan Naruto. Namun-
DADADADADAAARRR!
Segel sihir yang setengah jadi tadi dibuat berlubang sedikit demi sedikit dengan aura sihir yang memekakkan. Segel sihir sepenuhnya hancur dan muncul sosok yang terselimuti aura hitam dan sosok itu terbang ke langit.
[Hidskialf Skill!]
Setelah suara itu berkumandang, Lilith merasa dia tidak bisa merasakan hawa apa pun selain perasaan terancam. Dari berbagai sisi, tendangan dan hantaman menghempas tubuhnya. Menyebabkan rasa sakit yang berturut-turut terjadi.
Lalu, sebagai serangan akhir, Lilith merasakan tubuhnya kini juga terhempas jauh dan sayap naganya hancur berkeping-keping. Walau begitu, Lilith menunjukkan ekspresi datar dan kembali meregenerasi sayapnya.
Dengan secepat kilat, Lilith membentuk bola energi besar serta beberapa serangan sihir lain. Serangan itu meluncur bersamaan. Naruto yang menghindarinya ternyata salah. Serangan sihir di sekitar itu meledak secara berurutan dan menyebabkan bola energi besar di tengahnya juga meledak karenanya.
KAAAATSSS!
BLAAAARRRR!
Sosok Naruto tertutup cahaya bersamaan dengan ledakan besar yang mencapai langit dan menciptakan kawah besar.
Cao Cao yang melihat itu hanya bisa tersenyum pahit dan berusaha melindungi dirinya sendiri selagi bisa. Saat ini, ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan. Dalam keadaan ini, di mana Naruto dan Lilith sedang bertarung.
Ledakan mulai mereda perlahan…
Namun, pemandangan yang terlihat setelahnya membuat siapa pun merasa ngeri. Daratan hancur dan pohon yang tadi menghiasi di sekitar telah tersapu habis oleh besarnya serangan itu. Dan di tengah-tengah… terdapat tubuh Naruto terkapar bersama dengan luka-luka bakar di tubuhnya itu.
Tapi, tak lama kemudian, tawa aneh keluar dari mulut Naruto. Tawa itu semakin besar hingga Cao Cao yang cukup jauh dari lokasi mampu menyadarinya. Tidak terkecuali Lilith yang sedang bertarung demi Naruto.
Saat itu juga, saat tawa Naruto mulai berhenti, sekeliling yang dilihat oleh Lilith menjadi berbeda. Pemandangan rusak mulai berubah menjadi pemandangan di celah dimensional.
[Elisium Dark : Ilussion!]
Dan benar saja, Lilith telah terperangkap dalam ilusi buatan Naruto yang mungkina hanya sesaat. Namun, dalam pandangan Lilith, Lilith dapat menangkap sosok tuannya –Rizevim, sedang berlari ke arahnya sambil menghunus pedang. Rasa sakit Lilith rasakan tatkala pedang tuannya itu menembus perutanya hingga dalam. Lilith menunjukkan ekspresi kosong dan memegang pedang tuannya itu pelan.
"Tolong jangan menipuku… Rizevim-sama.. tak mungkin…," Lilith itu mengatakan sesuatu yang tidak jelas dan bersamaan dengan itu ilusi buatan Naruto berhasil.
Naruto muncul di dekat Lilith secara mendadak dan menendang dengan kasar tubuh gadis itu.
BRUUK!
Walau begitu, Lilith tak bergeming dan ia bangkit dengan lemah. Masih dengan gumaman miliknya, Lilith itu bergerak mendekati Naruto. "Kau salah, tuanku… tugasku melindungi tuanku. Kau harus… kau adalah orang yang menghalangi tuanku… kau harus mati.. demi keinginan tuanku," dengan kata-kata itu, Lilit kembali terbang setelah sayap naga miliknya beregenerasi dengan cepat bahkan lebih dari sebelumnya.
"Aku harus membunuhmu," dengan satu kata datar itu, tubuh Lilith melesat cepat dan sebuah pedang sihir menusuk perut Naruto. Lilith dengan kejamnya semakin memperdalam tusukan itu hingga menembus tubuh Naruto sendiri.
Setelah dirasanya cukup, gadis itu mencabut kasar pedang sihirnya dan membuat tubuh Naruto ambruk ke tanah.
"Aku.. aku pun sama," kata Naruto pelan saat dirinya sekarat itu. "Ada seseorang yang harus kulindungi… Sona Sitri… dan semuanya… aku sudah berjanji padahal. Mana mungkin, dengan tiruan Ophis sepertimu…," Naruto itu berdiri dengan lemah, tubuhnya sempoyongan.
Lilith yang melihat itu menjadi waspada. Namun dirinya masih dengan wajah tanpa ekspresinya sambil menghunuskan pedang sihir miliknya. "Kau sudah kalah. Aku yakin."
"Tidak… kau juga… sudah kelelahan, 'kan? Lilith… tiruan Ophis sepertimu… seseorang yang dimanfaatkan…," Naruto menjauh perlahan dari Lilith masih dengan tubuh sempoyongan.
Dengan kata-kata lirih terakhir namun dapat terdengar, Naruto mengumpulkan tenaga terakhir dan ia membentuk suatu teknik baru. "Daripada hidup dimanfaatkan seperti itu, matilah dengan tenang!"
Tubuh Naruto ditutupi oleh cahaya aneh yang membuat Lilith kesakitan. Sebuah portal hitam kecil tercipta di antara kedua telapak tangan Naruto yang ia angkat ke atas bersamaan dengan tangannya. Semua energi negatif di tempat itu entah mengapa terasa berkumpul pada telapak tangan Naruto. Atau lebih tepatnya tersedot pada benda seperti portal itu.
Perlahan tapi pasti, portal itu membesar seiring dengan banyaknya sihir negatif yang tersedot ke dalamnya. Portal semakin membesar dan membesar hingga itu dapat menyedot tubuh dua orang dewasa. Dalam beberapa detik kemudian, portal semakin membesar dan menjadi sangat besar hingga itu menyerupai Black Hoole dalam ukuran lebih kecil.
Lilith entah mengapa merasa tubuhnya tersedot ke dalamnya. Begitu juga dengan Cao Cao yang merasa aneh dengan sensasi pada tubuhnya. Sementara itu, 'kembaran' Naruto tadi bisa keluar dari lubang buatan Cao Cao karena tarikan itu menghancurkan segel dan menarik segel menuju Black Hoole.
Lalu, Naruto berteriak-
[SUPERMASSIVE BLACK HOOLE!]
Dengan itu, terjadi sesuatu yang luar biasa di mana hampir semua di sana tersedot ke dalam Black Hoole kecil buatan Naruto.
0o0o0o0o0
Naruto's PoV
Aku melakukan teknik itu dan melempar semuanya sekuat tenaga menuju suatu tempat yang aku tuju dan yakini sebagai tempat di mana Rizevim membawa Hades.
Tapi… saat teknikku selesai..
Aku merasa aneh dengan dimensi ini. Tubuhku terasa sakit. Dan aku melihat semua menjadi satu tak tertata rapi. Sebuah dimensi aneh yang memiliki pemandangan campur aduk.
Saat aku lihat sekeliling…
Ada 'kembaranku' yang berusaha menghindar dari sihir-sihir negatif yang mengejarnya. Lalu… ada Lilith yang berusaha menghancurkan beberapa segel beraura negatif padanya. Sementara itu..
Aku melihat Rizevim dan juga Hades di sini! Tapi mereka tidak dalam kondisi baik! Mereka juga nampaknya tidak tahu tempat ini.
Lantas, apa aku mengirim mereka ke celah dimensi atau semacamnya?
Saat aku berpikir begitu, orang yang berdiri di belakangku sambil menghela nafas adalah Cao Cao. "Kau membuatnya jadi buruk. Untung aku bisa melepaskan diri dahulu. Lalu… nampaknya… perbuatanmu ini akan menimbulkan bencana juga," mengatakan itu, Cao Cao menjeda kalimatnya sebentar sebelum melanjutkan, "Ini kemungkinan berhubungan dengan tujuan Rizevim itu. Kau secara tak sadar memindahkannya ke sini. Lalu.. kesimpulanku adalah-" Cao Cao menghentikan kalimatnya dan memandangku dengan tajam.
"-Mengapa kau menyembunyikan ini? Mengapa kau menyembunyikan suatu fakta di mana kau tahu cara mengeluarkan 666?"
Dengan pertanyaan itu, akub seolah membeku.
Pada dasarnya aku memang menyembunyikannya. Dan pria ini.., dengan mengambil semua kesimpulan yang ada, dia mampu menebak hal itu yang telah kusembunyikan sulit-sulit. Tapi… aku rasa memang waktunya untuk membongkar semua.
"Kau benar.. aku menyembunyikannya. Itu karena aku tak bisa dengan mudah mempercayai orang," kataku sambil menunduk.
Lalu, saat aku menunduk seperti itu, aku merasa panas di sekitar leherku dan menemukan ujung tombak yang hanya berjarak beberapa inci dari leherku. Saat aku melihat lagi, itu adalah Cao Cao dengan wajah waspada miliknya.
"Kau ada di pihak siapa? Orang yang masuk DxD tidak seharusnya menyembunyikan sesuatu sepenting ini. Kau bisa sampai di sini, di celah dimensi menuju dunia lain, dan itu berhubungan erat dengan 666. Untuk apa kau menyembunyikan lokasi ini dan kunci membuka segel 666? Apa kau juga ingin menyatakan perang pada para dewa?"
Dia.. pria ini.. aku dapat melihat amarah dan keseriusan di matanya. Dia pastinya mulai membuat rasa percaya padaku pada dirinya pudar.
"Aku bisa membunuhmu saat ini dan sekarang. Jangan lupa kau hanya punya sedikit tenaga," Cao Cao menghela nafas sebentar. "Sekarang… apa tujuanmu, Uzumaki Naruto?"
Aku mengepalkan tanganku setelah mendengar Cao Cao berkata seperti itu. Aku membuat suara sambil menunduk dan melihat ujung tombak miliknya walau aku kesakitan. "Aku tidak ingin diincar. Aku tidak ingin kehilangan nyawa karena pengetahuan ini. Aku mengetahuinya dari ayahku. Aku menemukan salah satu jurnal yang ia tulis waktu itu dan ternyata itu adalah penelitian tentang 666. Ini hanyalah keinginan egois dariku. Aku ingin menyembunyikan informasi ini untuk kemampuanku dan membuat seolah aku tak tahu apa-apa. Aku ingin ayah dan ibu kembali. Tapi aku tak bisa meminta Hades karena katanya roh mereka melayang-layang di dimensi asing. Karena itu.. selama ini aku diam-diam meneliti celah dimensi dan menghindari Great Red sebisanya," kataku sambil mencengkram celanaku.
"Aku menelitinya dan mengikuti apa yang pernah ayah lakukan. Walau aku sempat kecewa pada ayah karena dia menyembunyikan fakta bahwa dirinya bukanlah manusia biasa. Di celah dimensi, dengan informasi ayah.. aku semakin menambah informasiku dan akhirnya aku sampai pada batas itu. Di mana aku tahu cara membuka segel 666. Setelah mengetahuinya aku sempat diincar berkali-kali dan itu membuatku menyesal dengan perbuatanku. Aku akhirnya menutupinya sebisaku dan tidak menunjukkan pergerakan menuju celah dimensi lagi. Tapi.. walau begitu, akhir-akhir ini.. aku menemukan sesuatu yang nampaknya diwariskan ayah juga. [Supermassive Black Hoole] adalah namanya. Aku tak dapat mengendalikannya tapi ini kemungkinan adalah teknik untuk pergi ke dimensi baru kali ini aku tahu fungsi teknik ini. Jadi... aku menggunakannya saat terdesak seperti tadi," kataku mengakhiri penjelasan.
Kulihat Cao Cao itu tak menurunkan tombaknya. "Kalau kau punya kemampuan itu, kau tak harus menyembunyikannya. DxD atau pihak lain yang bersangkutan mungkin bisa membantu untuk mengendalikannya dan memperbaiki segel 666 sebisa mungkin. Atau mungkin membuangnya jauh di dimensi paling ujung."
Aku tak berkata apa-apa setelah Cao Cao mengatakan itu. Aku hanya bisa menunduk diam kemudian meminat maaf. "Maaf," kataku lirih.
Cao Cao menghela nafas sekali lagi dan menurunkan tombak miliknya. "Kita akan membicarakan ini saat kita selamat. Sekarang-"
Cao Cao mendongak dan menyadari sebuah sihir besar meluncur kepada kami. Ia segera mengubah posisi tombaknya dan membelah dua serangan sihir itu sambil memperkirakan jarakku agar aku tidak terluka juga.
"Rizevim..," desisnya.
Rizevim itu… dia tertawa sambil melihat ke arahku.
"Uhyayahya~ Kau luar biasa, Naru-kyun~ Sungguh suatu kejutan darimu! Dimensi seperti ini~! Kau menyembunyikan sesuatu yang sungguh luar biasa! Aku berterimakasih padamu dan aku punya hadiah untukmu karena kejutan ini!" Rizevim menyeringai sambil melempar sesuatu yang ditutupi jubah hitam.
Saat aku melihat lebih dekat benda yang dilempar Rizevim dan sekarang sudah terjatuh itu, aku membelalakkan mataku.
"Hades!" teriakku memanggil nama Hades. Tapi, sesuatu yang dilempar itu –Hades, dia tidak bergerak. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti sebelumnya. Walau sebelumnya ia hanya berkepala tengkorak, tapi kini lebih parah lagi karena kepala –tengkorak miliknya telah tiada.
Dan aku dapat menyimpulkan siapa pelaku sialan di balik semua ini.
"Rizevim! Sialan kau!" teriakku sambil menembakkan tenaga sihir yang besar. Namun nampaknya itu dapat dihindari dengan mudah oleh Rizevim.
"Yah, yah~ Itu benar~ Aku ini memang seorang sialan~ Karena itu aku cocok melakukan pembunuhan demi keegoisanku seperti itu~ Mengagumkan, 'kan?"
Orang itu-
Dia masih bisa tertawa di keadaan ini. Seluruh kebencianku mengumpul.
Aku benci Rizevim. Aku benci Lilith. Aku benci tiruan murahanku. Dan lebih parah lagi aku benci diriku. Aku benci! Aku membiarkan seorang mati sekali lagi! Sudah empat dari mereka yang kubiarkan pergi dan aku hanya bisa diam. Aku-
"Naruto tiruan, serang dia," Rizevim memberi perintah itu dan 'kembaran'-ku itu menerjang ke arahku dengan sebilah pedang.
Gerakannya sungguhlah gesit. Di samping itu ia nampak tenang. Kami saling beradu pedang dalam waktu cukup lama. Sementara itu, aku melirik Cao Cao sedikit dan menemukan dirinya yang sedang menghindari sihir-sihir dari Lilith.
Saat aku melakukan itu-
ZRAAATT!
"AARGH!"
Aku mundur ke belakang dan mendapati bagian samping perutku tertebas. Darah dalam jumlah yang banyak keluar darinya. Walau begitu, aku masih berdiri dan memegang Muramasa serta Murasame dengan nafas tersendat-sendat.
Dan di sinilah aku sekarang… di mana itu semua telah terjadi dan bagaimana aku bisa seperti ini.
Aku berusaha berlari. Namun kakiku terlalu lemah sehingga aku hanya bisa ambruk ke tanah dengan menyedihkan. Saat aku menatap telapak tanganku yang lemah ini, aku berusaha bangkit namun dihentikan oleh sebuah rasa sakit yang kian menyebar dari perut hingga nyaris seluruh tubuh.
Aku mendongak dan menemukan 'kembaran'-ku yang melakukan itu. Dia menusukku di dekat luka yang tadi. Terlebih lagi luka itu sangat dalam dan membuatku begitu kesakitan.
Aku memekik dan mencengkram pedang milik 'kembaran'-ku seolah ingin menghancurkannya berkeping-keping. Namun sia-sia. Aku masihlah lemah dan tidak berdaya. Aku masih menyedihkan sehingga aku seperti ini.
"Menyedihkan. Kalah dari tiruanmu sendiri sementara kau adalah yang asli," kata 'kembaran'-ku dengan tatapan mengasihani.
Saat aku mendengar itu, amarahku berkumpul. Semua ingatan tentang apa yang terjadi dalam hidupku terulang terus-menerus dan berputar dalam otakku tanpa henti hingga membuatku nyaris gila. Kepalaku begitu pusing dan amarahku yang meluap-luap cukup membuatku depresi. Ditambah lagi rasa sakit ini yang membuatku semakin menderita. Tanpa sadar, aku berteriak.
"AAAAAAAAA!"
-!
Suara itu-! Aku sama sekali tak bisa mengendalikan tubuhku! Itu keluar begitu saja dari mulutku.
Dan tanpa kusadari, aku mencengkram pedang yang ditusukkan padaku dan mengambilnya dengan paksa dari 'kembaran'-ku. Dengan brutal dan kasar, aku menebaskan pedang itu pada tubuh 'kembaran'-ku dari atas ke bawah. Bahkan.. walau 'kembaran'.. dia masih mempunyai organ dalam sepertiku.
Dan karena tebasan atas ke bawahku pada tubuhnya, semua organ-organnya keluar dari tempat serta darah yang sangat banyak terus-menerus keluar dari tubuhnya.
Belum puas sampai situ, aku mencincang beberapa organnya dan menginjak-injaknya. Terakhir, aku menusuk dalam pada matanya dan menendang tubuh tak berdaya milik 'kembaran'-ku itu.
Aku tercengang oleh perbuatanku. Tubuhku tak bisa dikendalikan. Aku melakukan sesuatu sekejam itu hingga seperti ini.
Saat melihat potongan tubuh dan organ-organ milik 'kembaran'-ku, aku menjadi syok dan tanganku bergetak hebat. Aku entah mengapa kembali mendapat kontrol diri.
Dengan tubuh penuh darah, aku terjatuh dengan lemah di atas lututku dan aku dapat merasakan air mata keluar perlahan dari pelupuk mataku.
Aku menyedihkan.. aku menyedihkan.
Kata-kata seperti itu dapat kudengar di dalam otakku dan aku hanya bisa diam tanpa melakukan apa pun.
Saat aku terpuruk seperti itu, orang yang mengkritikku –memprovokasiku untuk kembali bangkit adalah Cao Cao.
"Naruto Uzumaki memanglah seorang pembohong yang pandai menyembunyikan sesuatu. Tapi ia tidak pernah menganggap dirinya menyedihkan seperti sebelumnya. Itu karena dia mempunyai sesuatu yang harus ia lindungi. Itu karena dia mempunyai cinta dalam hidupnya. Kalau dia mati karena lengah dalam keadaan terpuruk seperti itu, yang ditinggal harus bagaimana?"
Walau aku dapat melihat pria itu sedang mati-matian untuk bertahan pada dua orang di hadapannya yang sangat kuat, pria itu masih sempat untuk memprovokasiku. Walau aku tidak cukup dengan kalimat tadi. Tapi membayangkan wajah Sona yang sudah mempercayaiku itu membuat dadaku sesak.
Jika seandainya aku mati, apa yang terjadi pada Sona?
Jika seandainya aku mati, apa Sona akan membenciku? Atau menangisiku?
Aku mulai mengepalkan tangan dan kakiku bergerak lemah. Aku berdiri, walau masih sempoyongan dan hampir tak ada kekuatan di dalamnya, aku harus berusaha untuk hidup.
Lalu… tepat saat aku berdiri dan mencoba membantu Cao Cao itu, aku dapat melihat sosok Rizevim yang menusuk Lilith! Si sialan itu benar-benar menusuknya dengan sengaja!
"Rizevim-sama..?" suara Lilith terdengar sangat kecil dan dia melirik Rizevim itu dengan mata nanar.
"Maaf, Lilith-chan, aku tak membutuhkanmu lagi," mengatakan itu, Rizevim mencabut pedang buatannya dan menghempas tubuh Lilith ke bawah.
Aku berlari menuju Lilith itu. Gadis mungil itu nampaknya sudah terkena sesuatu yang parah. Terbukti karena dia tidak bisa bergerak. Mungkin racun Samael? Aku memegang tubuh mungil gadis separuh Ophis itu.
Aku tahu ini. Sejak awal dia dimanfaatkan. Sama seperti Ophis, sama sekali tidak jahat, hanya saja dimanfaatkan. Aku melihat kepada luka di sekitar perut Lilith dan aku menemukan sebuah luka yang sangat dalam padanya. Melihat aura, kepekatan, dan baunya saja, aku sudah tahu jika ini racun Samael!
"Tunggu dulu, tahan sebentar!" aku mengatakan itu dengan panik sambil mengambil air mata Phoenix dari teritoriku. Sebenarnya ini ingin kugunakan padaku. Tapi Lilith lebih membutuhkan untuk saat ini.
Aku meneteskan air mata Phoenix sampai habis pada luka Lilith. Lukanya menghilang. Namun aku meragukan bahwa racunnya juga hilang. Tapi setidaknya.. ini bisa mengurangi rasa sakitnya.
"Mengapa..?" tanya Lilith itu dengan lemah.
"Aku ingin menolong seseorang sepertimu yang hanya dimanfaatkan. Kau tidak bersalah, benar?" kataku sambil tersenyum. "Apa kau kesepian, Lilith?" tanyaku pada Lilith yang dibalasa oleh anggukan.
"Kalau begitu, bertemanlah denganku. Aku akan menghapus kenangan jelek Rizevim itu. Jadilah pengganti Ophis, karena aku masih butuh kehadiran yang menyamai Ophis," aku mengatakan ini sambil tersenyum. Lalu, Rizevim itu-
"Uhyahyayayaya! Drama mengharukan, sangat mengharukan! Tapi sayangnya dia akan segera mati setelah itu! Ingat bahwa dia terkena racun Samael dalam kadar maksimal! Dia akan mati, akan mati!"
Aku menggeremetakkan gigi-gigiku dan tanganku terkepal. Aku rasa aku cukup marah dan aku bisa lepas kendali lagi. Untuk orang seperti dia… lepas kendali bukanlah sesuatu yang bisa membuatku menyesal. Aku bahkan takkan mungkin menyesal jika aku mengulitinya hidup-hidup.
"Naruto Uzumaki…. Jangan.. biarkan saja," suara lemah seperti itu yang membuat amarahku mereda sesaat adalah Lilith. "Jika kau menyerang kau akan mati. Jangan."
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Dengan Lilith yang seperti ini. Tapi nampaknya Cao Cao juga tak bisa menyerang lagi mengingat dia adalah pengguna Longinus yang tak mungkin melawan Rizevim juga. Aku pun juga begitu. Tidak ada salah satu dari kami yang bisa atau sanggup untuk mengalahkan Rizevim.
Di saat kami seperti itu-
"ROAAARRRR!"
Sesuatu yang sangat besar dan panjang dengan warna merah tiba-tiba melintas begitu saja. Dampak dari 'sesuatu-yang-mellintas' itu bahkan menyebabkan goncangan pada dimensi ini dan udara yang menghempas dengan keras.
Rizevim tadi sempat menghindar ke belakang dan dia nampaknya juga kebingungan. Namun, melihat lebih jelas lagi, itu-
"GREAT RED!?" teriakku menyebutkan nama 'sesuatu-yang-melintas' itu.
Ya, itu Great Red. Dia memandang Rizevim dengan murka dan menerjang cepat Rizevim! Itu bahaya! Sangat bahaya! Rizevim akan mati! Setidaknya aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!
"Waaaa~ Great Red-san! Muncul di saat seperti ini dan menyerangku seperti ini, aku sangat senang~ Tapi, bukan saatnya untuk melawanmu! Aku akan lari sekarang ini karena 666-kun yang akan membuatmu sekarat! Ucapkan selamat tingggal!"
Rizevim sialan itu! Dia mencoba kabur dengan lingkaran sihir buatannya! Tapi, aku takkan membiarkannya!
Dengan mengumpulkan seluruh kekuatanku dan kekuatan yang kuhisap dari Great Red yang baru saja melintas, aku menciptakan pilar-pilar kegelapan yang kemudian menyatu dan membentuk serangan besar.
[Judgment Lucifer!]
Pilar-pilar kegelapan kemudian tertembak dengan kencang tepat pada Rizevim. Aku sempat bersorak dalam hati. Namun, itu terhenti ketika aku menyadari sebuah fakta. Dan bersamaan dengan itu juga-
"Bodoohh! Aku tak mempan dengan serangan Longinus! Lebih baik kau perbaiki dulu otak dan kemampuanmu sebelum kau melawanku lagi! Selamat tinggal, Uzumaki Naruto! Selamat tinggal, bocah True Longinus di sana! Selamat tinggal, Lilith-chan! Selamat tinggal Great Red-san! Jangan khawatir karena kakek tua ini akan kembali pada kalian tak lama lagi! Kita akan bermain-main lagi, oke? Uhyahyahyaya~ Selamat tinggal~" bersamaan dengan kalimat gila miliknya, dia menghilang bersamaan dengan lingkaran sihir yang mengeluarkan cahaya bersinar.
Lalu, dengan ini… apakah masalah selesai?
0o0o0o0o0o0o0
Aku, Cao Cao, dan Lilith sedang terbang melintasi celah dimensi menuju dimensi kami semula. Dan kami diantarkan sendiri oleh Great Red. Tepatnya kami berada di atas tubuh Great Red.
Aku menghela nafas sambil melihat Lilith itu.
Ophis memang mati. Naruko, Hades, dan Saji pun juga begitu. Tapi, gadis ini… entah mengapa ada suatu naluri yang menarikku untuk menyelamatkannya, seorang gadis kecil yang tak memiliki teman dan hanya dimanfaatkan.
Aku kehilangan Ophis, tapi aku berteman dengan Lilith sekarang. Dia kuat, dan dia ditakuti. Namun aku akan menerimanya, sebagai temanku. Atau mungkin sebagai adikku? Yah, pokoknya… ini akan berawal dari sini.
"Lilith.., tolong jangan murung seperti itu. Kita teman, ingat?" kataku pada Lilith.
Lilith mendongak dan menatap wajahku.
Dia begitu polos. Pandangannya sangat polos tanpa ada niat jahat sama sekali. Aku mengacak rambutnya dan tersenyum. Setelah aku melakukan itu, entah hanya mataku atau apa, tapi aku dapat melihat senyum manis yang tipis di bibir mungil milik Lilith itu.
"Ya, kita teman," kata Lilith itu.
Sementara aku dan Lilith dalam keadaan ini, aku merasa tekanan pada punggungku dan itu sakit. Aku menoleh dan menemukan siapa pelakunya. Cao Cao.
"Oi, kau tak mencoba untuk menjadi Harem seperti Hyodou Issei, 'kan? Kau tak berniat selingkuh dari Sona Sitri itu, 'kan?" Cao Cao itu, dia mengatakannya dengan pandangan aneh.
"Tidak! Aku tak puny impian menjadi harem! Sama sekali tidak! Dan ada apa dengan pandanganmu itu?" tanyaku ganti pada Cao Cao.
Cao Cao berbalik seolah tak peduli pada apa yang baru saja terjadi. "Bukan apa-apa. Pada dasarnya ini adalah reaksi yang tanpa sadar kukeluarkan. Jadi, jangan bingung soal itu," setelah menyatakan itu, terjadi keheningan sesaat di antara kami bertiga. Namun orang yang pertama berbicara adalah Cao Cao.
"Jangan lupa memberitahu semua rahasia yang kau simpan. Dan Lilith, aku harap kau bersikap baik. Ini hanyalah peringatan dariku. Tapi… sebenarnya aku belum resmi masuk DxD. Aku hanya bergerak dengan perintah Indra. Jadi jangan harapkan bantuanku setiap saat," kata Cao Cao.
Aku mengangguk tanda paham.
Dan sepertinya aku hampir sampai pada dimensi semula. Aku akan menjelaskan semua yang terjadi. Walau aku mungkin akan gugup juga. Sona Sitri.., aku akan datang padanya menceritakan semua.
Lilith menggenggam tanganku.
"Ini kehidupan baru bagiku."
Aku tersenyum dan mengangguk.
Di depan sana… masih ada lagi banyak masalah setelah semua ini.
Tapi aku tak akan mati dengan mudah. Ada sesuatu yang harus kulindungi.
-Dan satu lagi,
Aku harus kembali melanjutkan apa yang ayah dulu sempat lakukan. Ayah, Minato Tou-sama, aku pasti akan membebaskan roh milikmu dari kesengsaraan.
TBC
Yay! Akhirnya arc.1 selesai!
Chapter depan arc.2, masuk jilid 18 dengan sedikit perubahan. Minato dan Kushina kemungkinan akan ambil cerita walau Cuma lewat *?*
Dan maaf soal update lama :3 Author lagi bingung soalnya
Ok, sedikit sop iler :v /spoiler/ untuk arc.2,
"DxD akan bubar dengan cara seperti ini?" (Rias Gremory)
"Kunci untuk 666 adalah…. Minato Namikaze..?" (Naruto)
"Narutoooo! Jangan! Tidak! Jangan ke sana! Pegang tanganku, kembalilah! Kumohon!" (Sona Sitri)
"Kudengar ada penelitian tentang membuat duplikat. Dan sepertinya racun Samael sendiri telah diproduksi oleh Qlippoth." (Azazel)
"Kuroka? Katakan sesuatu yang kau ketahui tentang Kushina Uzumaki." (Vali Lucifer)
"Mau mencoba kemampuanku, bocah Demon Cloak yang ada di sana itu?" (Otsutsuki Toneri)
"Aku mencitai kalian berdua, ayah dan ibu!" (Naruto)
~)000(~
Udah ah, Sop ilernya. Yap, itulah arc. Nanti.
Supermassive Black Hoole juga termasuk kartu AS sih :3 walau bukan fungsi utama sebagai perlawanan :v
Segini aja lah, gatau nulis apa lagi.
Maaf kalo nggak memuaskan. Soalnya author juga ngerjain novel author, jadi yah… numpuk deh..
Pokoknya ff ini juga harus tamat. Ga bakal dihapus dan semacamnya.
Oke, jangan lupa reviewnya –ga juga gapapa :3
Ketemu di arc.2 lagi!
alyauzumaki log out.
