Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Pairing: SasuNaru
Warning: OoC, AU, Abal, gaje, alur SUPER cepat, EYD yang hancur, ketidak jelasan diksi dan deskripsi, Sho-Ai, and maybe typo(s).
Genre: Romance and Tragedy
Author's Note: Saya balik lagi~ Ini chapter 10 untuk My Lord-nya. Semoga kalian tidak menunggu terlalu lama. ^^ Oh ya, yg di bold italic itu Kyuubi POV ya? Baiklah, tanpa banyak cuap-cuap,
HAVE A NICE READ!
.
.
.
.
Flashback
Kiba tak menjawab pertanyaan Naruto dan malah membuka pintunya makin lebar sehingga mengekspos isi kamar lebih bebas. Naruto membelalakkan matanya begitu melihat isi kamar tuannya sudah seperti habis diserang badai. Berantakan. Dan yang paling membuat Naruto membelalak tidak percaya adalah, tuannya, Uchiha Sasuke, tidak ada di sudut mana pun di kamar itu. Singkatnya, Uchiha Sasuke telah menghilang dari kamarnya. Dan kesimpulan sementaranya adalah, ia telah diculik.
"Kami berangkat dulu, Kakashi, Iruka. Oh ya, jangan biarkan Tachi-sama keluar dari ruangannya." ingat Sasori pada Kakashi dan Iruka.
"Ba-baiklah, sasori-kun" sahut Iruka dengan butiran keringat di kepalanya.
"Ayo Naruto, Sasori. Kita selamatkan tuan muda merepotkan itu." ujar Kiba.
Naruto dan Sasori menganggukkan kepala mereka dan mulai berlari bersama Kiba untuk mencapai tempat sang penculik.
'Tunggu aku, Sasuke-sama!' batin Naruto.
.
.
.
.
Chapter 10 Lost Control
Sasuke POV
Dingin….
Gelap….
Keras….
Sakit…
Aku… dimana?
Kenapa aku merasa sakit? Kenapa begitu gelap di sini?
Aku ingin pulang. Ingin kembali ke rumahku yang Nyaman dan hangat. Ingin bercakap dengan Aniki. Bertengkar dengan Kiba. Mencibir ke-mesum-an Kakashi. Menyantap hidangan lezat Iruka. Ingin melihat senyuman Naruto. Ingin bertemu dengannya. Ingin…
Menyentuhnya.
Normal POV
"Eng…" erang seorang pemuda dengan rambut raven seraya berusaha bangkit dari posisinya semula.
"Sudah bangun?" tanya seseorang mengagetkan sang raven.
"Siapa kau? Ukh!" erangnya mencengkram kepalanya.
"Jangan terburu-buru. Kau 'kan baru siuman," tegur orang itu.
"Apa urusanmu? Kenapa kau menculikku? Kau menginginkan harta Uchiha?" tanya sang raven yang dikenal sebagai bungsu keluarga Uchiha, Sasuke, bertubi-tubi.
"Harta? Heh, kami tidak berpikiran sedangkal itu, bocah. Tujuan kami lebih besar dari sekedar menguasai harta Uchiha. Tujuan kami adalah-"
"Cukup sampai di sana, Kisame," interupsi seseorang.
"Kenapa? Biarkan saja bocah Uchiha ini tahu. Toh, ia tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup. Ya 'kan, Pain?" sahut sosok yang dipanggil 'Kisame' tadi.
"Terserah kau saja," sahut Pain acuh.
"Apa maksud kalian membawaku kemari? Siapa kalian sebenarnya?" tanya Sasuke dengan suara yang tenang. Sepertinya ia sudah benar-benar menguasai pengendalian diri Uchiha.
"Kau berpikir kalau kau berharga makanya kami culik, ya? Hahaha…. Percaya diri sekali kau, heh, Uchiha," ujar seseorang yang lain.
"Kalau tidak berharga, kenapa aku diculik?" sahut Sasuke.
"Kau sama sekali tidak berharga. Setelah 'dia' datang, kau akan kami buang. Dengan kata lain, bunuh," ucap sosok tadi dengan dingin dan aura membunuh yang pekat di sekitarnya.
Tubuh Sasuke tersentak dan menegang sesaat. Ia sadar kalau dirinya sedang dalam bahaya. Tidak pernah ia merasakan aura membunuh sepekat ini. Aura yang dikeluarkan sosok itu benar-benar pekat hingga membuat Sasuke meneguk ludahnya tanpa sadar.
"Kau takut?" tanya sosok itu sambil berjalan perlahan mendekati Sasuke yang terduduk. Ia semakin dekat hingga Sasuke bisa melihat sosoknya jelas. Sosok itu memiliki rambut hitam pekat yang mencuat kesegala arah juga iris yang sama pekatnya dengan rambutnya.
"Kenapa kau hanya diam saja, hah?" bentak sosok itu seraya menjambak rambut raven Sasuke.
Sasuke terdiam dan memandang tajam sosok yang menjambak rambutnya itu. Diangkatnya satu tangannya dan menepis tangan sosok itu keras, "Jauhkan tanganmu dariku," ujarnya dingin dan mengeluarkan aura membunuh yang tak kalah pekat dengan sosok itu tadi.
"Kurang ajar!" seru sosok itu seraya mengangkat tangannya ingin memukul Sasuke.
Tep!
Tiba-tiba, ada yang menangkap tangannya dari belakang. Mencegahnya memukul sang bungsu Uchiha, "Hentikan, Zaku. Jangan lakukan hal yang tak perlu," ujar Pain. Sosok yang menangkap tangan Zaku tadi.
"Tapi, Pain-nii-"
"Tidak ada 'tapi'. Lebih baik siapkan dirimu untuk menghadapi adikku," ujar Pain pada Zaku.
"Baik," sahut Zaku patuh dan meninggalkan Pain dan Sasuke.
"Siapa yang kau maksud 'adik'mu tadi?" tanya Sasuke tajam.
"Benar kata orang. Uchiha itu memiliki pikiran yang tajam. Hebat," sahut Pain tanpa menjawab pertanyaan Sasuke.
"Jawab pertanyaanku," desis Sasuke.
"Naruto, tentu saja. Wadah pembawa Kyuubi. Mantan anggota terkuat milik Akatsuki. Namikaze Naruto," ujar Pain seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Sasuke.
"Na-ruto?"
"Bersantailah hingga tirai utama kami buka. Aku permisi dulu, Uchiha," ujar Pain meninggalkan ruangan tempat Sasuke di tahan.
"K-kalau begitu, incaran mereka adalah… Naruto?" bisik Sasuke dengan tatapan takut.
"Naruto!" panggil Kiba yang berlari jauh dibelakang Naruto dengan Akamaru di sampingnya.
"…" Naruto tidak menggubris panggilan Kiba dan tetap dalam kecepatannya.
"Hei, Naruto! Jangan terburu-buru! Kita pasti bisa menyelamatkan Bocchan. Jadi tenanglah," bujuk Kiba.
"Sudahlah, Kiba-kun. Saya yakin, jika Tachi-sama yang ada dalam posisi ini, saya pun akan melakukan hal yang sama dengan Naruto-kun," ujar Sasori.
"Terserah kalian sajalah," sahut Kiba seraya menambah kecepatannya berusaha menyamai Naruto.
"Kiba-kun, kau yakin, mereka ke arah sini?" tanya Sasori memastikan
"Kau meragukan penciumanku?" sahut Kiba.
"Bukan begitu, aku hanya ingin mematikan saja," ujar Sasori tenang.
"Tenang saja, Sasori. Untuk pengejaran, aku dan Akamaru adalah professional," jawab Kiba percaya diri. "Kita berbelok ke kiri," ujar Kiba pada Sasori dan Naruto.
Sasori dan Naruto mengangguk kecil dan berbelok ke kiri sesuai dengan intruksi Kiba. Mereka pun tiba di muka sebuah gua besar. Mereka menghentikan lari mereka dan bersiap jika tiba-tiba ada jebakan atau semacamnya. Setelah memastikan semuanya aman, mereka pun melangkah hati-hati tanpa suara sedikit pun.
Setelah beberapa lama berjalan, mereka pun sampai pada bagian gua yang lebih besar dan memiliki banyak pintu di tiap sisi dinding gua. Tampaknya ini adalah sebuah markas rahasia. Tiba-tiba, terdengar suara debaman yang cukup keras. Membuat Kiba dan Sasori yang posisinya lebih di depan, menengokkan kepala mereka ke belakang.
"Naruto, ada apa?" tanya Kiba begitu melihat Naruto terduduk. Sepertinya suara tadi berasal dari Naruto.
Naruto tidak menjawab pertanyaan Kiba. Wajahnya terlihat sangat pucat. Tubuhnya gemetar. Jelas sekali kalau ia sedang ketakutan saat ini.
"Naruto-kun?" panggil Sasori memastikan keadaan Naruto.
"K-kiba… ini 'kan…" ujar Naruto tak jelas.
"Apa? 'Ini' apa?" tanya Kiba bingung.
"I-ini, tempat ini… bukankah… markas Akatsuki?" ujar Naruto terpotong-potong.
"Eh?" ucap Kiba ambigu dan melihat sekelilingnya.
"Akatsuki, ya?" tanya Sasori.
"Cih, jadi pelakunya Akatsuki? Mau apa mereka?" ucap Kiba kesal.
Naruto bangkit dari posisi duduknya, "Apa Sasori-san tahu apa itu Akatsuki?" tanya Naruto karena wajah Sasori tidak tampak bingung sama sekali.
"Tentu saja aku tahu. Aku sempat menjadi anggota mereka atas perintah Tachi-sama untuk kepentingan penyelidikan," terang Sasori.
"Begitu, ya?"
"Sebaiknya kita cepat, sebelum mereka melakukan sesuatu pada Bocchan," ujar Kiba menginterupsi.
Sasori dan Naruto mengangguk singkat dan berlari bersama Kiba menuju tempat penyekapan sang tuan.
"Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Aku tidak boleh membiarkan mereka menangkap Naruto. Tidak boleh," racau Sasuke tak jelas. Terlihat sekali kalau ia sedang panic saat ini. Ia berjalan berkeliling ruang penyekapannya dengan langkah tergesa.
"Aaaagh! Apa yang bisa kulakukan?" teriaknya frustasi.
"Seandainya aku… memilik kekuatan," gumamnya.
Ia duduk dan melipat kedua kakinya ke arah dada dan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Mendesah frustasi atas ketidak mampuannya.
"Seandainya aku lebih giat berlatih, aku pasti sudah membangkitkan Sharingan-ku," gumamnya lagi.
"Bakayaro," hinanya pada diri sendiri.
Tok! Tok!
Kepala Sasuke tersentak mendongak. Dialihkannya pandangannya menuju arah suara. Pintu itu sepertinya diketuk seseorang dari luar.
Cklek!
Seseorang memasuki ruangan itu, "Hei Uchiha, ikut aku," ujar orang itu yang ternyata adalah Zaku.
Sasuke bangkit berdiri dan menatap tajam pada Zaku, "Apa yang kalian mau dari Naruto?" tuntutnya.
"Itu bukan urusanmu, Uchiha. Lagipula itu sudah tak penting. Sebaiknya kau berhenti bicara sebelum aku menghabisimu. Kuingatkan, saat ini, tidak akan ada yang bisa menahanku dan menyelamatkanmu karena Pain-nii sudah pergi," ujarnya dengan seringai di bibirnya.
"Kau pikir aku takut?" tantang Sasuke. 'Sharingan… bangkitlah…'
"Heh! Aku tidak tertarik pada orang lemah sepertimu," ejek Zaku.
"Cepat!" bentak Zaku seraya menyeret Sasuke untuk ikut bersamanya.
Sasuke menuruti Zaku dan mengikuti dari belakang. Dalam hati, Sasuke sudah menyusun rencana untuk meloloskan diri begitu ia melihat celah.
"Sudah sampai," ujar Zaku menyeringai.
Mata Sasuke membelalak lebar melihat apa yang terpampang di depan matanya. Di sana. Tepat di hadapannya. Ia melihat Kiba, Sasori juga Naruto terbaring tak berdaya dengan luka di sekujur tubuh mereka. Darah merembes melalui luka-luka itu. Bau anyir darah terasa begitu pekat di udara.
Lutut Sasuke terasa lemas. Amarah merasuki rongga dadanya. Tangannya terkepal keras. Giginya bergemelutuk menahan amarah. Tanpa ia sadari, matanya perlahan berubah warna menjadi merah, membentuk Sharingan.
"Butler-mu sudah kami bereskan. Berikutnya adalah giliranmu, Uchiha," ujar Zaku seraya membentuk kuda-kuda di hadapan Sasuke yang sekarang tengah menunduk.
"Coba saja," ujar Sasuke dingin.
"Ng?" 'Apa ini? Auranya berubah,' batin Zaku tidak mengerti.
"Coba saja kalau kau bisa," desis Sasuke seraya mengangkat wajahnya dan memperlihatkan Sharingan-nya. 'Eh, apa yang kulihat ini? Apa itu yang disebut aliran cakra? Kenapa aku bisa melihatnya?' batin Sasuke bingung.
"Apa-apaan mata itu?" seru Zaku tidak percaya.
'Ini…! Jangan-jangan, Sharingan?' batin Sasuke tak percaya.
.
.
.
Sasuke tidak menghiraukan ucapan Zaku dan berlari dengan gerakan yang amat cepat menuju belakang Zaku. Tempat yang tidak terlindungi sama sekali. Namun, tampaknya keberuntungan sedang ada di pihak Zaku. Dengan cekatan, Zaku berbalik dan mengangkat kedua lengannya. Tiba-tiba, sebuah tekanan udara menyarang tubuh Sasuke. Membuatnya terpental jauh ke belakang.
"Jangan remehkan aku, Uchiha," ujar Zaku sombong.
Sasuke bangkit berdiri dan menghapus darah yang mengalir dari ujung bibirnya akibat serangan tadi. 'Yang tadi itu… terlihat! Sepertinya refleks-ku terlalu lambat,' batin Sasuke.
Kali ini, Zaku lah yang melaju untuk menyerang Sasuke, "Kalau hanya melawanmu, aku tak perlu menggunaka tangan istimewaku," ujarnya.
"Kalau begitu, kau akan menyesal," sahut Sasuke. 'Ayo ingat… ingat…! Jurus apa yang bisa kupakai?' pikirnya.
Zaku semakin mendekat padanya. Di tangannya teracung sebuah kunai. Ia telah siap untuk menikam Sasuke. Jaraknya dengan Sasuke makin dekat. Namun Sasuke tetap bergeming di tempatnya. Berusaha mengingat jurus apa yang kira-kira bisa ia pakai.
'Mungkin aku bisa meniru Naruto,' pikirnya. Ia pun menggerakkan tangannya membentuk segel yang sepertinya waktu itu di bentuk oleh Naruto. Ia menghirup napas dalam dan berseru, "Katon. Gokakyu no jutsu!"
"Mustahil!" seru Zaku seraya berusaha melindungi diri dari kobaran api yang di timbulkan Sasuke dengan susah payah.
"Wow! Keren!" ujar Sasuke pada dirinya sendiri.
"Akh, kesempatan," ucapnya begitu melihat pertahanan Zaku melemah karena terlalu lelah menghindari serangan Sasuke barusan.
Dengan satu gerakan cepat, Sasuke sudah ada di belakang Zaku dan mencengkram tangan Zaku dari belakang, "Jadi, ini tangan istimewamu?" tanya Sasuke menyeringai.
"K-kau mau apa-ukh!" erang Zaku ketika Tangannya makin kencang dicengkram oleh Sasuke.
"Kudengar, kalian menculik Naruto dan membuatnya merasa kehilangan keluarga," ucap Sasuke makin melebarkan seringainya.
"H-hentikan. Lepaskan tanganku!" seru Zaku berusaha memberontak meski sia-sia.
"Kalau begitu, biar kutunjukkan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang berharga," ujar Sasuke seraya menarik lengan Zaku kuat ke belakang hingga mematahkan sendi-sendi lengan Zaku.
"Aaaaakh! Uwaaaaagh!"
Bruk!
Sasuke menghempaskan tubuh Zaku begitu saja ke tanah. Ia mengambil kunai yang tadi terlepas dari tangan Zaku.
"Biar kutunjukkan, sakitnya kehilangan nyawa!" seru Sasuke seraya menghujam Kunai ke arah tubuh Zaku.
Namun tiba-tiba, sebuah tangan menghentikan aksi Sasuke, "Sudah cukup, Bocchan," ujar sosok yang menahan tangan Sasuke.
Sasuke menengokkan kepalanya dan betapa terkejutnya dia begitu melihat siapa yang ada di belakangnya.
"K-Kiba, bagaimana bisa? Bukankah kau..."
"Hahaha... itu hanya kagebunshin milik Naruto. Kami, para tubuh asli bersembunyi sementara para bunshin melawan anak ini," jelas Kiba menunjuk Zaku yang terbaring tak berdaya di tanah.
"B-Berati Naruto selamat?" tanya Sasuke memastikan.
"Tentu saja," ujar Kiba tersenyum dan melepas tangan Sasuke.
"Botchama?" panggil seseorang di pojok ruangan tempat ia menghabisi Zaku tadi.
Sasuke segera menghampiri sosok yang memanggilnya dengan tergesa. Meninggalkan sosok yang telah ia hajar juga Kiba di belakang. Kiba hanya tersenyum maklum melihat tingkah tuannya.
Kiba berjongkok dekat tubuh Zaku dan menjambak rambutnya kasar, "Hei, maukah kau melakukan barter denganku?" tawar Kiba dengan senyuman ganjil.
"Heh,"
"Kau mengerikan Kiba." Komentar Sasuke sambil terus mengayunkan kakinya mengikuti arah yang dituju Kiba.
"Kuanggap itu sebagi pujian." Sahut Kiba.
"Bagaimana caranya kau membuat anak itu bicara?" tanya Sasori penasaran.
"Aku hanya mengajaknya untuk melakukan barter, kok," jawab Kiba tersenyum manis.
"Itu pasti akan menjadi pilihan paling buruk dalam hidup anak itu," ujar Naruto yakin.
"Wah, kau membuatku merasa kejam," sahut Kiba bercanda.
'Apa aku memang keterlaluan, ya?'
Flashback
"Hei, maukah kau melakukan barter denganku?" tawar Kiba dengan senyuman ganjil.
"Heh, coba saja," sahut Zaku dengan napas tersengal.
"Hmm, kau yakin memberikanku kesempatan?" tanya Kiba masih dengan senyumannya.
"Apa pilihan yang kupunya?" Tantang Zaku.
"Baiklah. Jadi, mana yang kau pilih, beri aku daftar anggota Akatsuki yang baru dan kau kubebaskan atau tetap diam dan kau akan kehilangan..." Kiba menggantung kalimatnya.
"Apa? Nyawa?"
"Keperawananmu," bisik Kiba tepat di telinga Zaku dan meniupkan napasnya pada telinga Zaku. Membuat Zaku membatu seketika dengan wajah yang lebih pucat dari mayat.
"Kenapa? Ayo, pilih. Kuharap kau memilih pilihan yang bagus," ujar Kiba menyeringai.
"Cih, kau licik sekali," sahut Zaku dengan wajah yang… memerah? =="
"Aku menyebutnya 'cerdas'," ralat Kiba.
"Jadi, apa pilihanmu?" tanya Kiba lagi.
"Kuberitahu arah ruang data Akatsuki," ujar Zaku.
"Pilihan yang tepat, bocah," ujar Kiba makin memperlebar seringainya.
"Cih,"
End of flashback
'Sepertinya memang keterlaluan, ya? Ah, sudahlah,' pikirnya tak perduli.
"Nah, sudah sampai," ujar Kiba.
Kiba membuka pintu selebar mungkin. Namun, tampaknya sudah ada yang menghuni ruangan itu terlebih dahulu. Salah seorang dari mereka pun menyapa mereka, "Selamat datang di pesta kami, anggota keluarga terhormat Uchiha."
"Jebakan, ya?" ujar Kiba santai.
"Kalau begitu, memang kebetulan, ya?" sambung Sasori.
"Kita habisi Akatsuki," lanjut Naruto.
"Boleh juga. Sekalian aku mencoba Sharingan-ku," ujar Sasuke.
"Tidak boleh. Botchama tidak b-"
"Yah, kalau begitu, mohon bantuannya, Bocchan," ujar Kiba memotong ucapan Naruto.
"Hn," sahut Sasuke.
"B-baiklah. Kalau begitu, saya juga mohon bantuannya, Botchama," ujar Naruto.
"Sudah diskusinya?" tanya sosok itu lagi.
"Ya," sahut Kiba.
"Baiklah. Pertama-tama, kita kenalan dulu. Aku Dosu. Lalu ini Yoroi, Misumi dan Kin. Jumlah yang sama bukan? Nah, ada pertanyaan?" ujar Dosu memperkenalkan teman-temannya dan berusaha terlihat 'ramah'.
"Aku!" sahut Kiba mengangkat tangan.
"Silahkan, " ucap Dosu mempersilahkan.
"Kenapa kau jelek sekali, tuan?" jawab Kiba menyeringai.
"Kurang ajar. Kin, dia bagianmu. Bunuh dia," perintah Dosu pada salah satu temannya yang ber-genre perempuan dan memiliki rambut panjang hitam yang terlihat berkilau indah.
"Heh," sahut Kin dan langsung menyerbu ke arah Kiba.
"Waow, tunggu sebentar, Nona. Bisakah kita mulai perlahan?" Kiba tersenyum ramah.
"Jangan memasang senyum seperti itu, dasar anjing bau!" ejek Kin.
"Nona yang tidak sopan rupanya. Sebenarnya, aku pantang memukul wanita. Tapi, sepertinya ada pengecualian untukmu," sahut Kiba seraya melesat menuju Kin dan mencakar lengan kiri Kin dengan kuku tajamnya.
"Ukh!" erang Kin seraya bersalto menjauh dari ruang lingkup serangan Kiba.
Kiba menjulurkan lidahnya dan menjilat kukunya yang ternoda oleh darah Kin, "Manis. Darahmu manis sekali, Nona. Membuatku ingin merasakannya lagi," Kiba menegeluarkan seringainya yang terlihat megitu menekan. Ia juga mengeluarkah aura nafsu membunuhnya yang entah mengapa terasa begitu pekat sekarang.
Tanpa sadar Kin meneguk ludahnya sendiri dan mundur beberapa langkah, "K-kau pikir dengan gertakanmu aku akan takut, heh?"
"Mungkin saja?" sahut Kiba.
"Jangan remehkan aku!"
Set! Cring~!
"Ups! Hahh, kukatakan saja ya, Nona. Kau pun jangan meremehkanku. Kau menggunakan tipuan kuno, 'kan? Setelah ini, kau akan melempar dua jarum dengan lonceng di salah satu jarum itu. Kau akan membuat lawan menghindari jarum berlonceng tanpa tahu bahwa ada satu jarum lain yang datang. Aku sudah hidup cukup lama. Tak mungkin aku tak mengerti trik ini," ujar Kiba panjang lebar.
"Lebih baik kau hentikan ocehanmu!" seru Kin kesal.
Bats! Cring~!
'Ini mudah,' batin Kiba senang.
Cring~!
'Kanan,' pikir Kiba dan mengelak ke kiri.
"Sayang sekali," ujar Kin misterius.
"Tipuan!" erang Kiba baru sadar.
Jleb! Jleb! Jleb!
Terlambat. Reaksi Kiba terlambat. Puluhan jarum sudah terlanjur dilayangkan Kin padanya. Tubuhnya jatuh menghantam tanah karena tidak kuat menahan sakit di bagian tubuhnya yang tertembus oleh jarum Kin.
"Sudah kubulang, jangan remehkan aku," ujar Kin menyeringai.
"Kiba-niisan!" seru Naruto seraya berlari menghampiri Kiba.
"Tunggu dulu, Naruto-kun!" seru Sasori mencoba menahan Naruto. Namun, panggilan Sasori dihiraukan oleh Naruto dan terus berlari. Berusaha mencapai tempat Kiba.
Sayangnya, tiba-tiba sebuah bayangan muncul di hadapannya, "Aku lawanmu, bocah Kyuubi," ujar orang itu yang tadi dikenalkan Dosu sebagai Yoroi menendang perut Naruto telak.
"Uagh!" Naruto terlempar jauh ke belakang dengan darah yang ia muntahkan tadi di sekitar bibirnya.
"Naruto!" seru Sasuke ingin menghampiri Naruto namun langsung dicegah Sasori.
"Lepaskan aku, Sasori!" perintah Sasuke.
"Tidak bisa," sahut Sasori dengan wajah datar.
"Kenapa tidak bisa, hah?" balas Sasuke murka.
"Karena ini adalah perintah Tachi-sama. Perintah Tachi-sama adalah mutlak. Keselamatan Anda adalah prioritas misi ini," jawab Sasori masih dengan wajah dingin dan datarnya.
"Meski harus mencampakkan temanmu, begitu?" desis Sasuke tertahan.
"Ya. jika itu memang dibutuhkan," sahut Sasori tanpa beban.
Duak!
Sasuke memukul rahang Sasori sangat keras hingga mampu membuat Sasori melepaskan cengkramannya. Sasuke mengangkat wajahnya dan berteriak murka,"Orang brengsek sepertimu, tak pantas untuk hidup!"
"…" Sasori tak menjawab ucapan Sasuke padanya. Ia tertegun sambil menyentuh rahangnya yang terasa sakit akibat pukulan telak Sasuke tadi. Kepalanya berusaha memproses ucapan Sasuke. Sesaat kemudian, wajahnya menjadi dingin kembali. Matanya menyipit menahan amarah.
"Aku? Brengsek? Tuan yang tak mengerti apa-apa! Teman? Hahahaha! Teman itu hanya omong kosong! Siapa orang bodoh yang mau mempercayainya? Teman. Keluarga. Kerabat. Kasih sayang. Cinta. Semua itu hanya omong kosong! Tak ada artinya! Pada akhirnya, kau hanya akan sendiri!" sahut Sasori dengan wajah menyeramkan. Wajahnya terlihat murka, muak juga sedih di saat bersamaan. Bagaikan teringat kenangan buruk masa lalu.
"Aku tak tahu, bagaimana buruknya masa lalumu. Tapi, kuingatkan saja, ucapanku bukanlah omong kosong. Keluarga. Teman. Juga kasih sayang, adalah senjata terkuat yang pernah tuhan ciptakan untuk kita, manusia. Aku tak perduli jika aku akan kehilangan nyawaku. Aku, pasti akan menyelamatkan apa yang berharga untukku," balas Sasuke tenang.
'Kekuatan? Sesuatu yang berharga?' batin Sasori mulai meresapi apa yang dikatakan Sasuke.
"Persiapan yang bagus, Uchiha," ujar seseorang tiba-tiba dan memukul Sasuke. Namun berhasil di elakkan oleh Sasuke.
"Sasuke-sama!" panggil Sasori.
"Bagianmu adalah aku, red hair," ujar salah seorang lagi dari mereka, Misumi.
"Ukh!" erang Sasori ketika ia hampir saja tertangkap oleh Misumi.
"Aku tak punya waktu bermain denganmu. Akan kuakhiri dengan cepat," ujar Sasori dingin.
"Silahkan saja. Aku pun akan mengakhirinya dengan cepat," sahut Misumi menyeringai.
"Heh," balas Sasori dan mengeluarkan Kusugutsu-nya. "Kau beruntung karena aku mengeluarkan boneka favorit-ku," ujarnya seraya mengeluarkan sebuah gulungan dari tas yang tersampir di punggungnya sedari tadi.
Boooff!
Kepulan asap putih tiba-tiba saja muncul di sekeliling dua orang yang siap saling melempar pukulan itu. Setelah asap itu mulai hilang perlahan, terlihatlah sebuah boneka yang sudah tersambung dengan benang cakra dari tangan Sasori berdiri tegak.
"Perkenalkan, koleksi ketigaku yang juga merupakan favorit-ku. Mantan kepala desaku. Kepala desa ke tiga desa Sunagakure," ujar Sasori memperkenalkan bonekanya.
"Huh, siapa juga yang ingin bekenalan dengan benda itu? Kita mulai saja pertarungan ini!" seru Misumi.
"Baiklah," sahut Sasori membentuk kuda-kuda.
Sret!
Keduanya memajukan salah satu kaki mereka.
Bats!
Keduanya melompat melayang di udara.
Dengan nyawa sebagai taruhan.
Untuk melindungi yang berharga bagi mereka.
Mereka siap untuk saling membunuh.
Pertarungan…
Dimulai.
"Uagh!" Naruto terlempar jauh ke belakang dengan darah yang ia muntahkan tadi di sekitar bibirnya.
"Oh, ayolah, mana bocah Kyuubi yang terkenal dengan kekuatan dan keganasannya?" ejek Yoroi melihat Naruto kesakitan.
"Naruto!" kuping Naruto mendengar kalau Botchama-nya memanggilnya. Wajahnya menengok ke arah datangnya suara Sasuke dan berharap dalam hati, 'Jangan kesini, Botchama!'
Naruto menghela napas lega ketika melihat Sasori berhail mencegah tuannya untuk menghampirinya. Ia pun berusaha bangkit berdiri dengan tertatih. Dirogohnya saku belakangnya dan mengeluarkan beberapa kunai juga shuriken. Dengan tangkas, Naruto melempar kunai beserta shuriken itu pada Yoroi.
Yoroi melompat tinggi. Tubuhnya bersalto di udara dengan anggunnya. Pendaratan mulus. Kedua kakinya dengan tegas menopang berat tubuhnya.
Naruto tidak menyia-nyiakan kesempatan. Diraihnya satu kunai lagi dan melesat ke arah belakang tubuh Yoroi. Bermaksud menikam sang musuh dari belakang.
Yoroi menyadari pergerakan Naruto dan segera berbalik. Namun ia sedikit terlambat. Reaksinya tidak mampu mematahkan serangan Naruto. Namun, ia berhasil memilimalisir efek rudak dengan mengganti sasaran dengan lengannya.
Naruto melepaskan kunai yang dipegangnya dan bermaksud untuk melompat menjauh dari Yoroi. Namun, dengan tangkas, Yoroi meraih tangan Naruto.
"Ukh!" erang Naruto berusaha melepaskan cengkraman Yoroi.
"Kau tahu, bocah Kyuubi? Kekuatanku adalah mimpi buruk bagimu," ujar Yoroi.
"U-uaaaaagh!" dengan tangan gemetar, Naruto kembali mengarahkan kunainya pada Yoroi yang dengan mudah menghindarinya. Yoroi melompat menjauh dari jangkauan ruang lingkup serangan Naruto.
"Bagaimana rasanya? Menyenangkan, bukan?" ujar Yoroi menyeringai.
'K-kenapa? Kenapa tubuhku rasanya menjadi kehilangan tenaga? Akh! Jangan-jangan,' batin Naruto tidak percaya.
"Kau… cakra-ku," ujar Naruto tak percaya.
"Sepertinya kau memang sadar, ya? Baiklah, akan kuhisap semua cakra-mu tak bersisa hingga kau mati!" seru Yoroi seraya menyerbu ke arah Naruto.
"Ukh!" Naruto mepemparkan kunai-nya lagi. Berusaha menghentikan langkah Yoroi.
"Kau tahu, kenapa aku mengatakan kalau jurusku merupakan mimpi buruk?"
Yoroi berujar sambil terus menerus berusaha menerjang Naruto. Berusaha menyentuh tubuh butler pirang itu.
Yoroi berlari menuju Naruto. Naruto yang masih terduduk lemas berusaha berdiri dan menghindari Yoroi.
"Semua itu kukatakan karena jurusku berlawanan dengan jurus kebanyakan. Jurusku, adalah untuk menghisap cakra. Bukan melepas cakra."
Yoroi berusaha menangkap bahu kanan Naruto. Naruto yang sudah susah payah berdiri langsung mengelak. Ia melompat kecil ke arah kirinya. Menghindari tangan Yoroi yang bisa menghisap cakra.
"Ini dalah jurus khusus untuk menghisap energy jiwa dan fisik. Dengan kata lain, cakra. Hanya dengan menyentuhkan telapak tanganku, aku bisa memiliki cakra lawanku."
Serangan yang gagal tadi membuat Yoroi akan terjatuh. Namun, dengan cekatan, ia menjadikan tangannya sebagai tumpuan dan melayangkan kakinya pada Naruto.
Naruto yang sudah bisa melihat arah serangan Yoroi segera bersalto ke belakang. Menghindari tendangan yang dilayangkan Yoroi padanya. Namun, akibat serangan di awal tadi, tubuhnya masih terasa lemas hingga ia tidak sadar kalau ada bayangan yang muncul di belakangnya.
Bayangan itu mengulurkan tangannya. Mencengkram kepala Naruto dan menghempaskannya ke tanah.
Duak!
"Aaakh!"
Bayangan itu adalah Yoroi. Ia mengambil kesempatan ketika Naruto terlihat limbung dan menurunkan kewaspadaannya. Ia menyelinap ke belakang Naruto, menghempaskan tubuh Naruto dan menginjaknya agar terkunci dan tidak bergerak.
"Kumulai," ujar Yoroi.
"Aaaaaakh! Uaaaagh! C-cakraku… hentikan," lirih Naruto.
"Tidak," sahut Yoroi menyeringai.
"Aaaaaaaaagh!"
"Tipuan!" erang Kiba baru sadar.
Jleb! Jleb! Jleb!
Keterlambatan reaksi Kiba mengakibatkan dirinya tertusuk puluhan jarum yang dilayangkan Kin padanya. Ia jatuh tersungkur di tanah dengan darah di seluruh tubuhnya.
Kiba mengusap darahnya sendiri yang mengotori wajahnya dan bangkit berdiri, "Masih bisa bangun rupanya. Tapi, ini akan menjadi serangan terakhir!" seru Kin.
Kiba tak menggubris ucapan Kin dan memanggil anjingnya, "Akamaru!"
"Guk!"
Terdengar gonggongan anjing menggema di ruangan itu. Kiba merogoh sakunya dan mengeluarkan semacam pil dari sana.
"Akamaru, Hyorogan," ujarnya seraya melemparkan pil itu ke dalam mulut Akamaru, anjingnya.
"Apa pun yang kau lakukan, percuma!" seru Kin melempar jarum-jarumnya lagi.
Kiba tak menghindar atau pun semacamnya. Ia diam di tempat dan menelan pil yang sama dengan Akamaru tadi.
"Aaaaaaagh!" telinga Kiba mendengar sebuah teriakan kesakitan yang ia yakin betul milik Naruto.
'Aku sudah tidak punya banyak waktu,' batinnya.
Jarum-jarum Kin telah sampai padanya. Namun, Kiba sama sekali tidak terlihat kesakitan. Ia tetap di tempatnya tanpa bergeser se-inci pun.
"Gijyu ninpo. Jyujin bunshin," ucap Kiba sambil membentuk segel.
Perlahan, kuku-kuku tangan Kiba mulai memanjang. Taringnya memanjang melebihi manusia normal. Akamaru, perlahan berubah menyerupai Kiba. Dengan kuku dan taring yang sama persis dengan Kiba. Mereka bagaikan kembar saat ini.
Akamaru yang telah menyerupai wujud Kiba naik ke atas punggung Kiba. Keduanya terlihat seperti predator yang kelaparan dan baru saja melihat mangsa ampuk.
"Ap-apa-apaan ini?" seru Kin tidak percaya.
"Heh, sepertinya kali ini aku harus berterima kasih pada Akatsuki yang telah mengotak-atik tubuhku. Rasakan, Shikyaku no Jutsu!" ujar Kiba seraya menyerang Kin dengan kecepatan puluhan kali lipat dari sebelumnya.
"Sial!" tiba-tiba saja, Kin menghilang dari hadapan KIba.
"Kawarimi, ya? Sayang sekali," ujar Kiba menyeringai dan bergerak secepat kilat. Dengan cepat, ia sudah ada tepat di belakang tubuh Kin dengan cakar yang teracung pada Kin.
"Aku mengejar bukan dengan mata. Aku, mengejar dengan bau," ucap Kiba makin melebarkan seringainya.
"Rasakan ini, Gatsuuga!" seru Kiba seraya membuat tubuhnya membentuk putaran layaknya alat bor dengan berkombinasi dengan Akamaru yang juga melakukan hal yang sama. Membuat Kin tidak memiliki celah untuk menghindar dan hanya bisa menerima serangan Kiba.
"Uaaaagh!" Kin terjatuh ke tanah. Ia pingsan. Luka yang didapatnya terlalu berat. Ia tak mampu berdiri lagi.
Kiba juga memiliki kondisi yang tak jauh berbeda dengan Kin. Tubuhnya sudah lemah akibat luka yang didapatnya dari serangan Kin di awal pertarungan. Ia pun terjatuh. Lututnya membentur tanah dengan keras.
Uhuk!
Kiba memuntahkan darah dari mulutnya.
"Guk! Guk!" Akamaru menggonggong seolah mengkhawatirkan majikannya.
"Sepertinya, aku harus menyerahkan yang lain pada Sasori. Bukan begitu, Akamaru?" ucap Kiba lirih menahan sakit di sekujur tubuhnya.
'Bocchan…' batinnya mengkhawatirkan sang tuan.
"Aaaaaagh! Cakra-ku. Uwaaaa!" Naruto berteriak penuh kesakitan.
Makin lama, tubuhnya makin kehilangan tenaga. Tubuhnya terasa begitu lemah dan lemas. Rasanya sangat berat bahkan hanya sekedar untuk menggerakkan jarinya.
"Bagaimana? Sakit, bukan?" ujar Yoroi menyeringai.
"Aaaaaa!"
Sasuke bersalto mengelak. Pukulan Dosu bisa ia hindari dengan mudah. Kemampuan tubuhnya sudah diaktifkan bersamaan dengan bangkitnya Sharingan-nya. Karena itulah, ia bisa melakukan banyak hal dalam pertarungan sekarang.
"Itu terlalu mudah," ujar Sasuke tersenyum mengejek.
"Begitukah?" sahut Dosu.
Sepersekian detik berikutnya, Sasuke merasa kepalanya bergoyang dan terlinganya sakit. Ia jatuh dengan lututnya yang lebih dahulu menyentuh tanah. Tangannya dijadikannya sebagai tumpuan tubuhnya. Tanpa tahu penyebabnya, Sasuke memuntahkan isi perutnya.
"Hueekk! Hoeekk!"
Bruk!
Sasuke jatuh terduduk. Tangannya masih menjadi tumpuan berat tubuhnya.
Dosu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia berlari menghampiri Sasuke yang masih terduduk tak berdaya. Tangannya teracung.
"Kau tahu, Uchiha? Tanganku bisa menggandakansuara sekecil apapun hingga ke tingkat tertinggi. Aku juga dapat mengendalikan suara yang ditimbulkan dengan cakraku agar menyerang sasaran," ujar Dosu mengarahkan pukulannya ke arah Sasuke. Namun, Sasuke menggenggam pergelangan tangan Dosu sehingga pukulan itu tidak mengenainya.
"Sepertinya kau tidak mengerti penjelasanku, ya? Atau, kau memang terlalu lemas sehingga tidak bisa meengatsi kemampuanku?" ucap Dosu sambil mengetuk lengannya pelan. Namun, berkat kemampuannya, suara kecil itu bisa dilipat gandakan menjadi suara yang sangat keras. Suara yang sangat keras itu ia arahkan pada telinga kanan Sasuke,
"Uaaaaagh!" teriakan kesakitan Sasuke terdengar untuk kesekian kalinya. Darah mengalir perlahan dari kupingnya.
Dosu menendang tubuh Sasuke hingga Sasuke terhempar ke tanah dengan kasar. Dosu menyeringai, "Serangan yang berikutnya akan jadi yang teakhir, lho."
'Aku… tolong…'
Naruto POV
Tubuhku terbaring lemah di atas tanah tanpa daya sama sekali. Cakraku sudah terkuras. Sekali lagi dia menghisap cakra-ku dan habislah aku. Mungkin sudah tidak ada harapan. Tidak.
Aku menggelengkan kepalaku lemah. Mengusir kata-kata pesimis dalam benakku.
'Aku harus bertahan. Ada yang masih harus kulindungin.'
"Ukh…"
Dengan tubuh gemetar, kucoba untuk bangkit berdiri. Aku harus mengalahkannya dan membawa Botchama ke tempat yang aman. Harus. Aku harus menyelamatkan Botchama.
Bruk! Tubuhku kembali terhempas tanpa sempat berdiri.
"Percuma. Kau sudah tidak memiliki kekuatan lagi," ujar orang itu menyeringai.
'Kurang ajar.'
Aku kembali mencoba bangkit namun lagi-lagi tubuhku hanya kembali terhempas ke tanah. Mau tidak mau aku harus mengakui ucapannya. Aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi.
Bruk!
"Hahh… Hahh…"
"Uaaaagh!" teriakan penuh kesakitan bergema di telingaku. Ketolehkan wajahku melihat sumber suara. Mataku membelalak tak percaya. Aku sempat berharap jika yang kulihat hanyalah sebuah ilusi belaka. Namun, rasa sakit di tubuhku menyadarkanku. Bahwa ini semua, semua yang kulihat. Semua yang kurasakan. Semua yang kudengar. Bukanlah ilusi. Semuanya…
Memang terjadi.
"B-botchama…" lirihku seraya mengulurkan tanganku berusaha menggapainya. Uchiha Sasuke. Tuanku.
Namun apa daya. Aku tak memiliki kekuatan bahkan hanya sekedar untuk menegakkan badanku. Aku hanya bisa melihatnya.
Seandainya. Seandainya aku memiliki kekuatan. Aku ingin menyelamatkan semua. Seandainya aku memiliki kekuatan itu. Aku…
Kiba POV
"Hahh… Hahh…" napasku tersengal. Pandanganku mengabur perlahan. Sepertinya aku mengeluarkan terlalu banyak darah.
'Ck, mana Hyorogan-ku?'
"Uaaaagh!"
'Ng? Suara itu, bukankah..'
Dengan susah payah, aku mendongakkan wajahku jang sedari tadi menghadap tanah akibat posisi berbaringku yang tengkurap. Mataku membulat. Mulutku terbuka tanpa kusadari. Di sana. Tak jauh dariku. Tuanku. Uchiha Sasuke. Terlihat sangat kacau dengan darah yang mengalir dari telinganya. Ia terlihat kesakitan. Matanya tak focus. Tubuhnya beguncang pelan. Bibirnya terlihat seperti anak kucing yang kehujanan. Memohon. Untuk diberikan pertolongan.
"Bocchan. Sasu Bocchan," panggilku lirih.
Aku sadar kalau aku tak berdaya saat ini. Aku tak bisa menyelamatkannya. Butler macam apa aku ini? Tak bisa menyelamatkan tuannya? Heh, aku pantas untuk ditertawakan. Tapi, aku tidak akan menyerah. Aku pati bisa menyelamatkannya. Yang kubutuhkan saat ini adalah Hyorogan milikku. Dimana benda itu di saat aku membutuhkannya?
"Sial! Ah, ketemu."
Plik! Plik! Tuk!
Aku merasakan wajahku tertimpuk oleh batuan-batuan kecil juga pasir. Layaknya ada angin yang berhembus lumayan keras. Makin lama, angin itu terasa makin keras dan menusuk. Aura di sekitarku pun terasa makin berat. Entah kenapa ada tekanan yang begitu menyiksa. Aku mengalihkan wajahku. Mecoba mencari sumber datangnya angin ini.
'Itu jangan-jangan…'
"Naruto?"
Naruto POV
Seandainya aku memiliki kekuatan itu. Aku ingin memilikinya. Kekuatan. Yang bisa menyelamatkan semuanya. Siapa saja. Kumohon berikan kekuatan itu. Komohon. Aku…
Ingin menyelamatkan'nya'.
"Khu khu khu khu, kau menginginkannya, bocah?" suara Kyuubi bergema dalam kepalaku.
Aku terdiam. Tak mengingkari maupun membenarkan. Aku tahu resikonya jika meminta bantuannya.
"Kenapa? Kau ingin menyelamatkan mereka, bukan?" suara beratnya kembali bergema.
Memang. Aku ingin menyelamatkan mereka tapi, jika dengan kekuatanmu. Aku…
"Kau ragu?" bisiknya dengan suara khasnya.
Ya. aku ragu. Aku takut. Namun, aku tak memiliki pilihan.
"Tolong, Kyuubi," lirihku memintanya meminjamkan kekuatannya.
"Khu khu khu khu,"
aku merasakan bagai sesuatu yang menyegarkan memenuhi tubuhku. Aku kembali mendapatkan kekuatan dan diriku. Untuk semetara waktu. Sebelum 'dia', mengambil alihnya.
'Botchama…'
Sasori POV
Entah sudah berapa lama kami saling menyerang tanpa membuahkan hasil apapun. Seimbang. Memalukan memang. Aku, butler kelas atas milik keluarga Uchiha. Seimbang dengan penjahat busuk seperti mereka.
Kulihat dia kembali menerjang menyerbuku. Kukendalikan Kusugutsu-ku sebagai tamengku. Namun tak kusangka jika hal ini akan menjadi hal yang merugikanku.
"Kena," ujarnya senang.
Aku mengernyitkan dahiku bingung. Tak kusangka, ia menggenggam Kusugutsu-ku dan tiba-tiba saja, tubuhnya suda melilit di sekitar tubuhku layaknya ular.
"Aku adalah anggota khusus untuk mengumpulkan informasi. Untuk itulah tubuhku di rancang agar bisa menyusup ke mana pun," jelasnya menyerinai.
Aku sama sekali tidak menggubris omongannya.
"Uaagh!"
Aku hafal sekali suara ini.
'Sasuke-sama!'
Kutolehkan kepalaku padanya tak ada ekspresi yang mampir pada wajahku memang. Namun, di dalam pikiranku, aku kaget bukan main. Sasuke-sama. Adik tuanku. Terluka.
"Wah, Dosu gerak cepat rupanya," komentarnya.
"Baiklah. Aku juga akan mengakhiri ini dengan cepat," ujarnya lagi.
"Kaulah yang akan mati," ujarku memotong.
'Satetsu!'
"Kau tahu, Kusugutsu milikku bukanlah Kusugutsu biasa. Ini adalah, Hito Kusugutsu. Terbuat dari daging mayat manusia dan di buat agar tetap memiliki cakra. Sama sebelum manusia itu tewas," ujarku tenang. Seiring dengan ucapanku, keluarlah pasir dari mulut Kusugutsu-ku.
"Permainan ini berakhir. Satetsu Kaiho!" seruku menghujani lawanku dengan ribuan jarum yang terbuat dari pasir. Mengincar lawanku yang melilitku tanpa melukaiku sedikit pun.
"Tak hanya daya hancur yang hebat. Aku pun memasukkan racun dalam pasir ini. Selamat tinggal," ujarku bersamaan dengan lepasnya lilitan orang ini.
"Nah, sekarang-Ukh! Apa ini?" erangku begitu tiba-tiba saja muncul tekanan udara yang cukup kuat. Aku mengalihkan pandanganku padanya dan melihat sosok yang menjadi rekanku di sana.
"Naruto-kun..."
Normal POV
Tubuh Sasuke yang terbaring lemah tiba-tiba tersentak cukup keras. Tubuhnya gemetar.
'Cakra apa ini? Mengerikan,' batinnya bergidik.
Namun, layaknya reaksi kebanyakan, ia membelalakkan matanya ketika melihat dari mana cakra ini berasal.
"Naruto?" Lirihnya tak percaya.
"Naruto, kau baik-baik saja?" seru Sasuke pada Naruto yang sekarang sudah tak tampak seperti Naruto.
Matanya menjadi merah sekarang. Bukan lagi langit biru musim panas tanpa awan itu. Taringnya memanjang layaknya rubah. Begitu pula dengan kuku tangannya. Tiga garis di masing- masing pipinya terlihat menebal. Tak lagi menimbulkan aksen imut melainkan ganas dan menyeramkan.
"Grrr…" Naruto menggeram layaknya makhluk buas. Matanya menyipit penuh amarah pada Dosu.
"Naru…"
Naruto bergerak dengan cepat. Sangat cepat. Ia menarik tubuh Dosu hanya menggunakan cakra-nya. Di hempaskannya tubuh Dosu dengan kejam. Dosu memuntahkan darah dari mulutnya. Bunyi 'krak' tadi pasti menandakan kalau tulangnya sudah hancur di dalam tubuhnya sana. Naruto mengangkat tangannya yang sudah di selubungi cakra merah. Ia sudah tak tampak seperti manusia lagi. Ia terlihat seperi Kyuubi dalam ukuran kecil dengan empat buah ekor. Tanpa mengindahkan tatapan memohon Dosu, Naruto mengayunkan cakarnya. Mengoyak tubuh Dosu dengan mudahnya. Ia kembali menggeram.
"….to?
"Grrrr…."
"Naruto?"
"Ghhh…"
"Naruto!" seru Sasuke.
"Naruto… Naruto… Naruto… Kau… bukan dia. Kau bukan butler-ku!" serunya lagi.
Naruto yang sudah kehilangan kesadaran dan kendali atas tubuhnya hanya diam dan menggeram. Semua musuh yang tadi menjadi lawannya sudah dibunuhnya. Tanpa terkecuali. Tanpa kasihan. Tanpa rasa bersalah.
"Na-naru…" Sasuke beringsut mencoba menggapai Naruto.
"Sadarlah, Naruto! Kembalilah… kembalilah menjadi Naruto butler-ku," ujarnya masih beringsut mendekat.
"Grrrhh…"
"Kau bilang tak akan membantah perintahku, bukan? Kalau begitu, ini perintah! Kembalilah menjadi Naruto yang seharusnya!" serunya terus beringsut.
"Grrr…"
"Perintah! Ini perintah tuanmu, Naruto! Narutooo!" serunya serak. Ia tak bisa menerima jika harus melihat Naruto seperti ini. Ini, tdak pernah sekalipun hal ini terlintas dalam pikiran Sasuke. Tak pernah sekali pun.
"Hentikan, Sasuke-kun," ujar sebuah suara tiba-tiba.
"K-kakashi?" bisik Sasuke tak percaya.
"Yamato," komando Kakashi memerintahkan seseorang.
"Ha'I, senpai," sahut orang itu patuh.
"Shikijijun Jutsu. Kakuan Nyuttensuishu," seru orang yang dipanggil 'Yamato' oleh Kakashi seraya menyentuhkan telapak tangannya yang bertuliskan 'duduk' dalam bahasa jepang pada Naruto.
"Uuugh," Naruto mengerang sakit. Tampak sekali kalau ia terlihat tersiksa.
"Uaaaaagh!" teriakkan Naruto bergema.
"Apa yang kau lakukan pada Naruto?" tuntut Sasuke pada Yamato.
"Tenanglah, Sasuke-kun. Ia hanya menyelamatkan Naruto," sahut Kakashi menepuk mpelah bahu Sasuke.
"Kakashi?"
Bruk!
Naruto jatuh terhempas dalam keadaan tak sadarkan diri. Tubuhnya tak lagi diselubungi cakra merah. Ia sudah menjadi dirinya semula.
"Yamato, Sasori, bantu aku mengangkut mereka," ujar Kakashi memerintah bawahannya seraya menggendong Sasuke di punggungnya. Sasori dan Yamato mengangguk sebagai jawaban.
"Turunkan aku!" perintah Sasuke.
"Diamlah, Sasuke-kun. Kau sudah tak kuat bahkan hanya untuk berdiri. Jadilah anak manis, dan diam," ujar Kakashi dengan nada dingin dan memerintah. Ia tahu. Cara ini pasti akan berhasil pada tuannya satu ini.
"Baiklah. Kita pulang," ujar Kakashi seraya berlari keluar markas itu dan segera melompat dari pohon ke pohon menuju Uchiha's mansion. Diikuti oleh Sasori dengan Naruto di punggungnya dan Yamato dengan Kiba di punggungnya.
'Naruto…' batin Sasuke khawatir sebelum ia jatuh tertidur karena kelelahan
"Bagaimana keadaan Naruto, Kakashi?" tanya Sasuke dengan perban di tubuhnya. Kondisinya sudah lebih baik hari ini. Tampaknya ia akan segera sembuh dengan cepat.
"Dia belum sadar," sahut Kakashi dengan wajah yang sulit diartikan.
"Kau tak menyembunyikan sesuatu, kan?" tanya Sasuke dengan tatapan curiga.
"Tidak, kok. Istirahatlah, Sasuke-kun. Aku akan kembali nanti," ujar Kakashi seraya meninggalkan kamar tempat Sasuke berada.
Kakashi melangkahkan kakinya menuju kamar Naruto berada. Ia membuka pintunya perlahan dan melihat Yamato sedang menunggui Naruto yang terbaring tak sadarkan diri di kasur.
"Bagaimana, Yamato?" tanyanya.
Yamato menggeleng lemah dan berkata, "Seperti dugaanku, senpai. Anak ini… tidak akan bertahan lama lagi," ujar Yamato dengan wajah sendu.
"Begitu, ya?" sahut Kakashi dengan tatapan sedih yang dilayangkannya pada langit.
'Naruto...,' panggilnya dalam hati.
"Berapa lama lagi?" tanya Kakashi.
"Lima bulan. Lima bulan lagi hingga ia diambil alih sepenuhnya oleh Kyuubi."
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Mari saya jelaskan arti Jinchuriki di 'sini'.
Di sini, wadah Juubi tidak akan mati jika Juubi diambil dari tubuh mereka. Karena emang gak bisa diambil :p
Seseorang yang menjadi wadah, tidak boleh memiliki Juubi terlalu lama.
Karena, lama kelamaan, Juubi itu akan menguasai tubuh dan pikiran sang wadah.
Waktu pengambil alihan tubuh dan pikiran, tergantung kualitas cakra dan pengendalian emosi masing-masing wadah.
Jika tubuh dan pikiran sudah terkendali sepenuhnya, maka, tubuh wadah itu akan hancur tak berbekas bagai ditelan bumi.
Dengan kata lain, 'mati'.
Semua bisa dicegah dengan membunuh wadah itu sendiri.
Membunuh wadah yang lama dan menyediakan wadah yang baru.
Satu-satunya cara adalah itu.
.
.
.
Balas review~
Nyx Keilantra: Sudah saya Update. Jawabannya Anda dapat di chap ini, 'kan? Terima kasih review-nya ^^
Meg chan: Hee? Siapa yang rewel karena Kiba masih muda? Terima kasih review-nya ^^ sudah update
annattabell: Makasih CnC-nya Neechan^^ Terima kasih review-nya ^^
Oh ya, yang satu lagi gak ada nama reviewers-nya, saya Cuma ingin bilang, Saya sudah update Terima kasih review-nya ^^
Review Please?
