Baekhyun tertegun. Ulang tahunnya yang kedua puluh lima sebentar lagi. Kenapa Chanyeol bisa mengetahui detail hari ulang tahunnya? Baekhyun tertarik, tetapi dia akan memuaskan Chanyeol kalau dia mengikuti Chanyeol untuk berbicara dengannya. Jangan-jangan memang itu tujuan Chanyeol, supaya dia tidak berhujan-hujanan dan mengikuti lelaki itu.

"Nanti, aku akan menyusulmu jika aku sudah puas disini".

Api menyala di mata Chanyeol, dan tampak jelas lelaki itu mencoba menahan diri,

"Terserah, nanti temui aku di ruang kerja," suaranya lebih seperti geraman, kemudian membalikkan badan dengan marah.

Setelah puas menikmati hujan, Baekhyun masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian dan makan malam. Dia sengaja tidak menemui Chanyeol, lagipula sepertinya lelaki tadi hanya asal bicara ketika bilang ingin berbicara tentang hari ulang tahunnya. Dan Baekhyun tidak yakin kalau Chanyeol akan menunggunya. Lelaki itu sepertinya sangat sibuk dan memiliki banyak urusan.

"Kenapa kau tidak menemuiku?", suara di kegelapan itu mengagetkan Baekhyun. Dia menajamkan matanya dan melihat Chanyeol duduk di sana, di keremangan kamarnya.

"Kenapa kau masuk ke kamarku tanpa izin?," Baekhyun berteriak kaget, tangannya meraba-raba saklar lampu di dinding, berusaha menghilangkan kegelapan yang menyelubungi Chanyeol, karena lelaki itu tampak lebih menyeramkan di antara cahaya yang remang-remang.

Baekhyun berhasil menyalakan lampu dan cahaya itu langsung menyelubungi Chanyeol. Lelaki itu duduk di sofanya, dengan santai, hanya memakai piyama sutera warna hitam dan disebelah tangannya memegang gelas minuman. Baekhyun melirik ke botol brendy yang entah berasal dari mana, yang sepertinya sudah dituang Chanyeol selama menunggunya. Apakah lelaki itu mabuk? Jantung Baekhyun mulai berdegup. Dalam keadaan sadar saja emosi Chanyeol sangat tidak mudah ditebak, apalagi dalam kondisi mabuk.

"Apa yang kau lakukan disini Chanyeol?"

Chanyeol mendengus dan menatap Baekhyun dengan tajam, "Kau pikir apa? Aku menunggumu di ruang kerjaku dan kemudian menyadari bahwa kau, dengan kepalamu yang keras kepala itu memutuskan untuk melawanku"

Baekhyun mundur ke belakang, melirik pintu putih itu, dan berusaha sedekat mungkin di sana, sehingga ketika Chanyeol bertindak di luar batas dia bisa segera melarikan diri.

Chanyeol tersenyum melihat tingkah Baekhyun,

"Kau seperti kelinci ketakutan lagi Baekhyun, apa kau takut aku akan melakukan sesuatu yang kejam? Seperti mencampurkan obat di minumanmu, atau ... melemparkanmu dari balkon lagi?,"

Chanyeol menyeringai, meletakkan gelasnya dan berdiri, makin lama makin mendekati Baekhyun.

"Chanyeol, kau mabuk?," Baekhyun melirik ke arah pintu, hanya butuh beberapa detik kalau Baekhyun ingin melarikan diri dari Chanyeol. Dia pasti bisa melakukannya.

"Park Chanyeol tidak pernah mabuk," Chanyeol melangkah mendekat dengan tenang, seperti singa yang mengendap-endap mengincar mangsanya. "Dan kau... Seharusnya kau mendengarkan apa yang kuperintahkan, Baekhyun"

Baekhyun tahu di situlah titiknya. Di situlah titik Chanyeol kehilangan kesabarannya, karena itulah Baekhyun langsung melompat dan mencoba melarikan diri ke pintu. Dia berhasil membuka pintu itu sedikit, sebelum dengan gerakan lebih cepat dan tanpa suara, Chanyeol sudah ada dibelakangnya, mendorong pintu itu menutup kembali sebelum sempat terbuka.

Chanyeol mendorongnya rapat ke pintu, dan dengan terkejut Baekhyun bisa merasakan kejantanan Chanyeol yang mendesak keras di bagian belakang tubuhnya. Dia ingin bergerak dan menghindar, tetapi ternyata Chanyeol sudah menahannya di semua sisi.

Baekhyun ketakutan. Apakah dia akan dipaksa lagi? Udara mulai terasa menyesakkan dan Baekhyun mulai terengah-engah.

"Aku tidak pernah bercinta sambil berdiri," Chanyeol berbisik di telinganya dengan bisikan panas yang membuat sekujur tubuh Baekhyun menggelenyar, "Dan kau membuatku ingin melakukannya"

Baekhyun terkesiap, mencoba meronta sekuat tenaga. Tetapi percuma karena Chanyeol begitu kuatnya,

"Kau akan memaksaku lagi, Park Chanyeol?," Baekhyun berteriak di tengah usahanya membebaskan diri, "Kalau iya, maka kau sudah membuktikan padaku, kau hanyalah lelaki bajingan yang bisa dengan mudah nya mendapatkan wanita dari pemerkosaan"

Kata-kata Baekhyun rupanya berhasil membuat kesadaran Chanyeol kembali. Lelaki itu tertegun. Dan sedetik kemudian yang melegakan, Chanyeol melepaskan Baekhyun,

"Sialan kau dasar perempuan!," Chanyeol berbisik marah di telinga Baekhyun dan meninggalkannya. Sendirian, Baekhyun berusaha menyandarkan dirinya di pintu, napasnya terengah-engah dan dia merasa lepas. Gairah Chanyeol ternyata juga mempengaruhinya. Dan Baekhyun semakin takut akan tiba saatnya baginya, menyerah ke dalam pelukan Chanyeol.

Sleep With The Devil

Hari ini hari Minggu, seharusnya menjadi hari istirahat yang menyenangkan bagi semua orang. Tetapi emosi Chanyeol luar biasa buruknya pagi itu dan menyebar ke seluruh penjuru rumah. Suasana rumah jadi menegangkan. Seluruh pelayan berbicara sambil berbisik-bisik ketakutan, membicarakan Tuan mereka yang marah-marah seharian ini.

Pagi tadi Chanyeol sudah membanting gelas di meja hingga anggurnya berceceran menodai taplak meja yang berwarna putih, hanya karena minumannya tidak cocok dengan seleranya, dia memanggil Taejoon dan membentaknya karena beberapa pengawal belum berjaga di gerbang depan. Bahkan sekretaris dan pengatur keuangan rumah tangganya pun ikut kena semprot ketika dia memeriksa laporan di ruang kerjanya tadi.

Sekarang semua orang saling bersembunyi berusaha menghindari berurusan dengan Tuan mereka yang begitu mengancam, seperti beruang yang terluka.

Taejoon masuk dengan hati-hati ke ruang kerja Chanyeol,

"Ada apa?"

"Baju-baju untuk Nona Baekhyun sudah datang"

"Bagus"

"Apakah kita harus memesan pakaian sebanyak itu? Bukankah Tuan sendiri bilang tidak akan menahan Baekhyun lebih lama?"

"Tutup mulutmu!," Chanyeol menggeram, "Biarkan aku mengurus apa yang menjadi urusanku sendiri!"

Taejoon mengangguk, menyadari bahwa Tuannya sudah hampir meledak marah dan memilih pergi dari pada terkena dampratannya seperti pagi tadi.

Chanyeol berdiri mondar-mandir di ruangannya, kemudian berhenti dan menuangkan segelas vodka murni untuk dirinya sendiri. Dia meneguknya, dan cairan putih itu serasa begitu membakar di ternggorokannya.

Tubuhnya begitu bergairah. Mengingat sekian lama dia menahan diri. Dia bisa saja melampiaskan gairahnya kepada perempuan-perempuan yang memujanya dan pasti bersedia melakukan apapun untuknya. Tetapi dia tidak ingin sembarang wanita, dia ingin Baekhyun. Sialan! Kenapa pikirannya terus-menerus tertuju kepada perempuan itu?

Dengan rasa frustrasi yang masih memenuhinya, ia melangkah panjang-panjang ke arah kamar Baekhyun, membuka kamar itu tanpa permisi, dan menemukan Baekhyun ada di kamar.

Kyungsoo ada di sana, memamerkan baju-baju pesanan yang baru datang untuk Baekhyun, sedangkan perempuan itu hanya duduk di sana, menatap pakaian-pakaian mahal itu dengan bosan.

Kyungsoo langsung menghentikan kegiatannya dan meminta izin keluar begitu Chanyeol masuk dengan wajah muram.

"Kau menyukai pakaian-pakaian itu?

"Apakah pendapatku penting?"

Chanyeol menatap Baekhyun marah, "Apa maksudmu?"

"Bukankah dirumah ini apa yang diinginkan Park Chanyeol bagaikan perintah raja yang harus dituruti? Aku melihat sendiri bagaimana orang-orang hilir mudik, panik seharian mengatasi sikap marah-marahmu yang tak ada habisnya itu."

"Oh ya? Dan kau pikir itu semua karena siapa?"

Chanyeol menegakkan dagunya menantang, "Karena siapa?"

"Karena kau, dasar perempuan kecil yang keras kepala!"

Baekhyun mengernyit marah,

"Dan apa yang kulakukan padamu wahai Tuan Chanyeol yang baik hati?"

"Kau selalu menantangku hingga aku harus menahan diri di batas kesabaranku, sikapmu itu membuatku muak!"

"Kau pikir aku harus bagaimana Chanyeol? Kau musuhku, meskipun sekarang aku memutuskan sedikit bekerjasama dengan tidak mencoba kabur, kau tetap musuhku. Dan ketika aku merasa keadaan sudah baik, aku tetap menuntut dibebaskan"

"Selalu ke arah itu," gumam Chanyeol kesal, "Aku masih belum ingin membahasnya," lelaki itu menatap Baekhyun tajam, "Aku memintamu melakukan sesuatu untukku"

Baekhyun mengangkat alisnya, tertarik, Chanyeol tidak pernah meminta sesuatu. Lelaki itu terbiasa memerintah lalu ketika itu tidak dituruti, dia akan memaksakan apapun yang diinginkannya.

"Ya aku memintamu menghilangkan rasa permusuhanmu itu dan mencoba menerimaku sebagai kekasihmu"

Baekhyun melangkah mundur tanpa sadar, "Menerimamu sebagai apa...? Apa kau sudah gila?"

"Hmm... Aku bahkan punya rencana yang lebih gila dari itu, lebih dari pada yang bisa kau bayangkan, kau akan tahu nanti," matanya menatap Baekhyun penuh rahasia, "Tapi yang pasti, gairah di antara kita begitu membara dan aku tidak munafik mengakuinya di depanmu, aku selalu terangsang ketika melihatmu. Aku terangsang ketika membayangkanmu, aku ingin menidurimu setiap waktu.."

"Hentikan kata-kata vulgarmu itu!," Baekhyun berteriak ingin menutup telinganya yang terasa panas.

Chanyeol terkekeh, "Mungkin kau perlu merasakan sendiri, bagaimana aku tergila-gila pada tubuhmu," Lelaki itu meraih Baekhyun ke dalam pelukannya dengan lembut, dan langsung melumat bibirnya.. Chanyeol melumat seluruh bibir Baekhyun, dan kemudian lidahnya masuk, menjelajahi lidah Baekhyun, bertautan dengan lidah Baekhyun dan kemudian menjelajahi seluruh diri Baekhyun, bibirnya bergerak melumat bibir Baekhyun tanpa ampun. Lelaki itu begitu bergairah tetapi tetap bersalut kelembutan, dan sejenak Baekhyun terhanyut dalam ciuman yang luar biasa itu, sampai kemudian dia merasakan kejantanan Chanyeol yang begitu keras kembali menekan tubuhnya.

Dengan napas terengah-engah Baekhyun melepaskan dirinya dari pelukan Chanyeol,

"Baekhyun.. sudah siap untukku" mata Chanyeol menyala penuh gairah, "Kenapa kau tidak mau mengakuinya dan tidak saling menyiksa seperti ini?"

"Aku tidak menginginkanmu sebagai kekasihku dan aku tidak siap untuk apapun yang berhubungan denganmu." Bantah Baekhyun keras.

Chanyeol menyipitkan mata, menatap Baekhyun dengan tatapan menuduh,

"Oh ya? Tadi kau hanyut dalam ciumanku, bibirmu panas dan melembut untukku, siap menerimaku"

Siapa yang tidak menginginkan lelaki yang luar biasa tampan ini? Semua perempuan pasti bermimpi bisa ada di dalam pelukannya, semua pasti membayangkan bagaimana kalau lelaki sekejam Chanyeol berperilaku lembut. Oh, Baekhyun pernah merasakannya, beberapa kali malahan, dan ingatan tentang hal itu membuat tubuhnya memanas

"Kau adalah pembunuh orangtuaku", Baekhyun menatap Chanyeol dengan penuh kebencian, "Dan bagiku itu adalah dosa tak termaafkan, aku akan selalu menyalahkanmu atas hal itu"

Tertegun sejenak, lalu Chanyeol mundur selangkah dengan begitu dingin,

"Oke"

Dan ketika Baekhyun mengangkat kepalanya, Chanyeol sudah keluar dari ruangan itu. Baekhyun menghembuskan nafas panjang. Apakah dia salah? Tetapi bukankah semua yang dilakukan Chanyeol atas dasar nafsu? Lelaki itu jelas-jelas bergairah kepadanya dan menginginkannya. Tetapi setelah itu apa? Baekhyun tidak mau jatuh dalam jerat rayuan Chanyeol seperti perempuan murahan. Seperti para kekasih Chanyeol yang dicampakkan begitu saja setelah lelaki itu puas. Setidaknya meskipun dia gagal membalaskan dendamnya, dia bisa pergi dari kehidupan Chanyeol dengan penuh harga diri.

Sleep With The Devil

Chanyeol berdiri malam itu di tengah taman di depan rumahnya, berharap udara dingin bisa meredakan gairahnya yang membuat tubuhnya begitu panas. Ditatapnya jendela kamar Baekhyun di lantai dua.

Jendela itu terbuka, dan cahaya temaram memantul dari sana, tampak begitu jelas. Chanyeol menatap jendela itu dengan frustrasi. Perempuan itu ada di sana dan Chanyeol seharusnya bisa dengan mudah memilikinya. Tetapi sikap perempuan itu seolah-olah membuatnya merasa menjadi bajingan menjijikkan kalau dia sampai memaksakan kehendaknya pada Baekhyun.

Chanyeol tertegun ketika melihat bayangan Baekhyun terpantul dari kamar. Sepertinya Baekhyun berdiri dekat lampu tidur di samping ranjangnya, karena bayangannya muncul dari gorden jendela bagaikan siluet gelap yang erotis.

Baekhyun tampak sedang berjalan mondar-mandir di kamarnya, dan Chanyeol menatapnya dengan penuh minat. Lalu perempuan itu membuat gerakan membuka gaunnya. Chanyeol menelan ludah, melirik ke sekelilingnya yang sepi, mulai merasa tidak nyaman karena membuat dirinya seperti seorang pengintip mesum yang mengintip siluet perempuan berganti baju dengan penuh gairah.

Siluet Baekhyun melepas kemejanya, dan tubuh bagian atasnya yang polos terpantul dalam bayangan gelap dengan bentuk tubuh yang menggoda. Lalu Sialan! Chayeol mulai mengumpat ketika bayangan Baekhyun di jendela membuat gerakan mengangkat salah satu kakinya ke ranjang dan tampaknya melepas celana panjangnya.

Gerakan itu tampak sangat seksi di bawah sini, dan Chanyeol menggertakkan giginya dengan marah. Ia benar-benar siap meledak, dan Baekhyun malahan memperburuk keadaan dengan pantulan bayangannya di jendela - meskipun dia tidak sengaja - Dan Chanyeol sungguh-sungguh siap meledak dalam arti yang sebenarnya saat ini mengingat kejantanannya sudah begitu keras hingga terasa menyakitkan. Dengan geraman marah, Chanyeol melangkah terburu-buru menaiki tangga, membanting kakinya di setiap langkahnya, dibukanya pintu kamar itu dengan kasar. Matanya membara dan dia siap untuk bertengkar, dan menemukan Baekhyun sedang duduk di sofa, sudah berganti dengan gaun tidurnya dan sedang membaca sebuah buku.

Baekhyun mengangkat alis melihatnya, tampak begitu tenang,

"Ada apa Chanyeol?"

Chanyeol terengah menahan kemarahan, "Jendela itu!," tunjuknya marah, lalu melangkah lebar-lebar menyeberangi ruangan dan menutup kaca jendela itu dengan kasar, dia membalikkan tubuhnya menghadap Baekhyun dengan posisi siap bertarung, "Lain kali tutup rapat-rapat jendela itu kalau sudah malam!," teriaknya marah.

Baekhyun menatap Chanyeol bingung, "Memangnya kenapa?"

Karena aku melihatmu berganti pakaian bagaikan siluet erotis dari bawah! Karena pemandangan itu membuatku terangsang sampai terasa nyeri! Karena...

Chanyeol berdiri dengan tatapan membakar, siap memuntahkan emosinya, tetapi kemudian menyadari bahwa dia hanya akan tampak bodoh jika meluapkan apa yang ada di pikirannya. Ditatapnya Baekhyun dengan dingin dan mendesis pelan,

"Pokoknya tutup jendela itu kalau sudah malam!," Dan dengan penuh harga diri, Chanyeol melangkah keluar dari kamar Baekhyun, meninggalkan pintu berdebam di belakangnya.

Sleep With The Devil

Pagi itu tak seperti biasa ada dua pelayan muda yang membereskan kamar Baekhyun, sepertinya mereka orang baru. Baekhyun masih duduk di sana selepas mandi dan membiarkan para pelayan itu membereskan ranjangnya.

Salah seorang pelayan itu menarik bed cover Baekhyun tampak memeriksa sepreinya, lalu berbisik-bisik satu sama lain dan tertawa cekikikan, ketika Baekhyun menatap mereka dengan dahi berkerut, dua pelayan perempuan itu memasang muka datar dan bergegas pergi.

Baekhyun menoleh ke arah Kyungsoo, yang juga ada di ruangan itu, sedang membereskan baju-baju Baekhyun yang sepertinya tidak ada habisnya dan terus berdatangan ke dalam lemari pakaian Baekhyun,

"Kenapa mereka bersikap seperti itu?," tanya Baekhyun ingin tahu.

Kyungsoo melirik ke arah kepergian pelayan itu dan tersenyum,

"Mereka orang baru, dan tentu saja sangat penasaran denganmu"

"Penasaran denganku?"

"Kekasih Tuan Chanyeol yang terbaru," jawab Kyungsoo datar, "Ah, kau tidak tahu ya, semua orang membicarakan kalian. Bahkan, namamu sempat muncul di beberapa tabloid gosip dan acara-acara gosip, yang membahas kekasih terbaru Park Chanyeol yang misterius. Kau adalah satu-satunya perempuan yang pernah tinggal bersama Chanyeol, dan mereka menebak-nebak serta mencari bukti bahwa kalian telah bercinta, karena itulah tadi para pelayan tertawa cekikikan ketika memeriksa sepraimu"

Pipi Baekhyun merah padam, tetapi Kyungsoo sepertinya tidak menyadarinya, dan tetap melanjutkan kata-katanya, "Yah para pelayan itu mungkin saling berspekulasi dan menanti, kapan saat mereka akhirnya bisa menemukan bukti-bukti bahwa kalian tidur bersama untuk dijadikan bahan gosip selanjutnya," gumamnya dalam senyum, Lalu menatap Baekhyun sambil mengangkat alisnya,

"Hei aku juga penasaran, kalau mereka serius mencarinya, apa mereka akan menemukan bukti-bukti itu Baek?" tanyanya penuh arti, membuat pipi Baekhyun semakin merah padam.

Sleep With The Devil

"Nona Baekhyun?", Taejoon masuk dan mengangkat alis melihat Baekhyun mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah.

"Apa?", suara Baekhyun tanpa sadar menegang. Semua yang berhubungan dengan Chanyeol membuatnya tegang dan ingin mengumpat-umpat siapapun yang ada di dekatnya.

"Tuan Chanyeol ingin bertemu anda",

Bagus. Baekhyun menganggukkan kepalanya dan mengikuti Taejoon, lalu tertegun setengah mengernyit ketika Taejoon membawa Baekhyun ke kamar Chanyeol,

"Di kamar ini?"

Taejoon mengangguk, dan entah Baekhyun salah lihat atau tidak, hanya sedetik dia sempat melihat sinar geli di mata lelaki itu. Kurang ajar. Jangan-jangan mereka semua mentertawakan ketakutannya pada Chanyeol.

"Ya Nona, Tuan Chanyeol ingin menemui anda di kamar ini"

Sejenak Baekhyun ingin kabur saja. Tetapi ia sadar, ini sebuah tantangan, Chanyeol menantangnya dan Baekhyun tidak akan kalah.

"Baiklah", Baekhyun menghela napas dalam-dalam dan membiarkan Taejoon membukakan pintu untuknya,

Dia langsung berhadapan Chanyeol yang berdiri dengan begitu tampan di tengah ruangan. Lelaki itu menunggu Taejoon menutup pintu dan meninggalkan mereka berdua sendirian, lalu berkata tenang,

"Selamat malam Baekhyun", Chanyeol tersenyum tenang, "Sebenarnya aku ingin membahas hal-hal yang berkaitan dengan ulang tahunmu ke dua puluh lima...", senyumnya berubah misterius, "Tapi kemudian aku sadar bahwa pembiacaraan baik-baik tidak akan ada gunanya di antara kita, jadi aku langsung saja"

Hening, Chanyeol terdiam dan Baekhyun menunggu dengan ingin tahu apa yang akan dikatakan lelaki itu,

"Aku sudah memutuskan masa depanmu." Mata Chanyeol begitu kelam seperti danau kecoklatan di kegelapan malam.

Masa depannya? Memangnya siapa lelaki ini bisa memutuskan masa depannya? Baekhyun ingin meledak dalam kemarahan, tetapi tidak mampu. Chanyeol tampak berbeda, dia tampak begitu tenang tetapi dibalut kemarahan berbahaya, begitu dingin sekaligus mempesona. Lagipula, kenapa Baekhyun berpikir bahwa Chanyeol mempesona? Sambil mengutuk dirinya sendiri, Baekhyun mencoba menghapus pikiran-pikiran yang mengarah pada keterpesonaannya kepada Chanyeol.

Baekhyun mengamati Chanyeol lagi dan sedikit merasa tidak nyaman, karena melihat Chanyeol begitu tenang, tanpa sedikitpun emosi malah terasa menakutkan.

Baekhyun tidak suka, dia lebih suka Chanyeol yang meledak-ledak dan marah dari pada Chanyeol yang seperti ini. Dengan Chanyeol yang meledak-ledak Baekhyun bisa melawan dengan emosinya, tetapi dengan Chanyeol yang begitu dingin yang bisa dilakukan Baekhyun hanyalah menyurut mundur, ketakutan.

Chanyeol mengamati reaksi Baekhyun melemparkan pandangan menilai, lalu melanjutkan kata-katanya,

"Kau harus menjadi kekasihku yang sebenarnya, Baekhyun. Mulai malam ini," Chanyeol mulai berdiri, "Aku hanya sekali memberikan penawaran. Kau jadi kekasihku, dan aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kalau kau menolak, aku akan menganggapmu tak berharga dan melemparmu kepada pengawal-pengawalku"

Apa?

Keringat membasahi dahi Baekhyun, Chanyeol bercanda bukan? Apa maksudnya melemparnya kepada para pelayan? Apakah Chanyeol ingin memberikannya supaya diperkosa para pengawalnya? Chanyeol tidak mungkin sekejam itu bukan? Baekhyun menatap mata Chanyeol dengan ketakutan, mencoba mencari kebenaran di sana, tetapi dia tidak menemukannya.

Lelaki ini kejam, dan siapa tahu apa yang akan dilakukannya?

"Bagaimana Baek? Aku atau kau dibuang ke para pengawalku?"

Baekhyun menatap Chanyeol marah, "Kau tidak akan berani melakukan hal menjijikkan semacam itu"

"Jangan menantangku Baekhyun" desis Chanyeol tajam, "Aku bukannya belum pernah melakukannya kepada perempuan yang kuanggap tidak berguna lagi"

Baekhyun tertegun. Apakah Chanyeol benar-benar serius?

"Kau hidup disini dengan mewah, diperlakukan seperti puteri raja, dihormati layaknya kekasih Park Chanyeol dan aku sudah muak dengan kelakuanmu yang selalu menantangku setiap ada kesempatan. Sekarang hanya ini pilihanmu dan kau akan memutuskan sekarang. Aku atau dibuang kepada para pengawalku"

Apakah dia bisa melarikan diri dari sini? Baekhyun ingin berteriak panik, ataukah dia harus bunuh diri saja? Tetapi Baekhyun yakin Chanyeol tidak akan membiarkannya. Oh, dengan kekejamannya mungkin Chanyeol akan membiarkan Baekhyun mati, tetapi dia akan memastikan Baekhyun menderita dulu sebelumnya.

"Kau," Baekhyun menelan suara yang dikeluarkannya dengan berat.

Ada nyala di mata Chanyeol, "Apa Baek? Aku tidak mendengar"

Chanyeol sengaja dan Baekhyun menggeram marah dalam hatinya, kurang ajar lelaki itu!,

"Kau, aku memilihmu"

Senyum di bibir Chanyeol adalah senyum kemenangan yang dingin.

"Kalau begitu, datanglah kemari kekasihku," Lelaki itu membuka tangannya, dan Baekhyun melangkah dengan tertahan ke arahnya.

Dengan sensual, lelaki itu meraih Baekhyun dan mengecup bibirnya sekilas,

"Bagus, jangan uji kesabaranku, aku tidak mau dilawan malam ini"

TBC

FAST UPDATE WOOO!

Ini tanda minta maaf Seo karena telat mulu updatenya huuu, dan mau ngasi tau senin besok Seo exam dan kayanya nggak bisa update tapi Seo usahain tetep update di minggu ini, doain Seo yaaa.. annyeong *kissmuaah