A SasuSaku fic
With NaruHina, SasuHina, YamaSaku
--xx--
Kisah Kita
A Naruto fanfiction by Mrs Shiranui
Naruto © Masashi Kishimoto
Bab 10
--xx--
Warning!!
Timeskip, OC, OoC-ness, Non-Uchiha Massacre, plot gaje, romance gombal, etc…
--xx--
Akhirnya tiba juga saatnya.
Naruto memandang pantulan dirinya dari dalam cermin. Wajahnya terlihat pucat seperti kurang sehat. Lingkar-lingkar hitam menghiasi bawah mata biru langitnya. Bagaimana tidak? Semalaman—tidak, tapi sudah beberapa malam ini dia tidak bisa tidur, memikirkan esok—hari ini. Dimana dia akan melihat dengan mata kepalanya sendiri gadis yang dikasihinya terikat dengan pria lain, sahabatnya sendiri.
Sasuke… Hinata…
Naruto tahu seharusnya dia tidak boleh kecewa. Ini sudah menjadi keputusannya dan Hinata. Bukankah dia sudah dengan rela melepaskan gadis itu? Dan dia yakin Sasuke bisa menjaga Hinata, bahwa sahabatnya itu mencintaiHinata sama besarnya seperti dia sendiri mencintai Sang Hyuuga Heiress. Seharusnya dia tidak perlu khawatir.
Meskipun sampai saat ini dia tidak bisa memungkiri bahwa hatinya sangat terluka.
Kuso… Naruto… kuatkan dirimu.
Naruto memejamkan matanya erat. Ditariknya napas panjang, kemudian dihembuskan perlahan, mencoba untuk menenangkan hatinya yang galau luar biasa. Dan ketika ia membuka matanya, wajah tersenyumnya balas menatap. Tidak selebar biasanya, tapi itu masih lebih baik, bukan?
Ditariknya ritsleting flak jacket yang dikenakan di atas kaus seragam jounin-nya, kemudian mulai merapikan rambut pirang acak-acakan di atas kepalanya sebelum memasang hiataiate. Sudah cukup, dia kemudian bergegas meninggalkan apartemennya untuk menjemput Tsunade.
Sang Godaime Hokage dan asistennya, Shizune, sudah menunggunya di depan Hokage tower bersama beberapa orang jounin yang mengawalnya. Kedua wanita itu terlihat sangat anggun dalam balutan pakaian resmi untuk menghormati peristiwa penting dua klan terkuat di Konoha. Naruto tersenyum padanya.
"Konichiwa, Tsunade-no-baachan!" sapanya dengan nada riang seperti biasa sambil berjalan mendekat.
Kedua wanita itu tidak langsung membalasnya. Mata cokelat madu Tsunade memandang pria muda itu simpati. Meskipun calon kuat Rokudaime Hokage itu tampak ceria, namun Tsunade, yang sudah menganggap Naruto seperti cucunya sendiri—sebagaimana Jiraiya—bisa melihat bola mata biru jernih itu terluka. Meskipun Naruto berusaha menyembunyikannya dengan memasang cengiran lima jari di wajahnya seperti biasa.
"Kau yakin mau hadir?" Tsunade menanyainya entah untuk keberapa kalinya sejak Naruto mengumumkan kalau dia akan hadir di acara pertunangan Sasuke dan Hinata.
Dan untuk kesekian kalinya juga Naruto menjawabnya dengan anggukan mantap. "Tentu saja, Baa-chan! Sebaiknya kita pergi sekarang, atau kita akan terlambat."
"Naruto-kun…" Shizune, yang berdiri di samping Sang Hokage, mendesah pelan sambil menatap miris pada Naruto yang telah berbalik dan berjalan lebih dulu di depan mereka dengan kedua tangan tenggelam di saku celananya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Naruto. Jika orang lain yang mengalaminya, mereka pastilah tidak akan melakukan apa yang dilakukan Naruto sekarang.
Buat apa datang kalau hanya untuk menyakiti diri sendiri, bukan? Tapi tidak dengan Naruto.
"Keras kepala…" Tsunade menghela napas berat. Dia dan Shizune kemudian mengikuti Naruto menuju Mansion Hyuuga, dimana acara akan diselenggarakan.
"Selamat datang, Hokage-sama, Shizune-sama, Uzumaki-san," sambut seorang bunke klan Hyuuga begitu mereka sampai di kediaman utama klan itu. Pria bermata lavender dengan hitaiate menutupi segel di dahinya itu membungkuk sopan. "Silakan ikut saya."
"Sudah akan dimulai kalau begitu, Ko?" tanya Tsunade sementara sang bunke mengantar mereka ke aula utama, tempat upacara akan dilaksanakan.
"Hai'. Uchiha-sama dan yang lain sudah menunggu Anda di dalam. Hiashi-sama dan Hinata-sama sedang bersiap-siap," sahut Ko sopan.
"Aah…"
"Tsunade-shishou!" Seorang gadis berambut merah muda baru saja muncul dari dalam aula. Seperti sensei dan senpai-nya, dia juga mengenakan pakaian resmi.
"Ah, Sakura, kau sudah datang?" sapa Tsunade pada muridnya.
"Hai'," Sakura menyahut. Kemudian mata hijaunya terarah pada Naruto, memberinya tatapan yang persis sama seperti tatapan yang diberikan Tsunade beberapa saat yang lalu.
Tsunade yang memahami situasinya segera menoleh kambali pada Ko. "Kita terus?"
"Hai', Tsunade-sama. Mari…"
"Naruto…" Sakura berkata setelah Tsunade, Shizune dan Hyuuga Ko pergi. "Kau—"
"Kau kelihatan cantik hari ini, Sakura-chan," Naruto menyelanya, seraya menyunggingkan seulas senyum.
Sejenak, gadis medic-nin itu seperti kehilangan kata-kata. Dia hanya memandangi pria berambut kuning di depannya, menggigit bibir bawahnya, sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakan pada sahabatnya itu.
"Jangan bertampang seperti itu, Sakura-chan…" ujar Naruto, tertawa kecil. "Kalau Sai melihatmu, dia pasti akan bilang kau jelek lagi."
"Ini tidak lucu, Naruto!" balas Sakura setengah berbisik. Gadis itu menyambar lengan Naruto dan menyeretnya ke depan gerbang, jauh dari jangkauan pendengaran para tamu yang kebanyakan berasal dari klan Hyuuga dan Uchiha. Dia kemudian memutar tubuhnya menghadap Naruto dan berkata gusar, "Kau seharusnya tidak datang, Naruto. Kenapa masih nekat juga?"
"Kita sudah membicarakan ini, Sakura," kata Naruto datar setelah beberapa lama dia hanya memandangi Sakura.
"Demo—"
"Daijoubu…" Naruto menepuk pundak gadis itu. "Jangan memandangku seperti itu, Sakura-chan. Atau kau benar-benar berharap aku tidak datang ke pertunangan sahabat-sahabatku sendiri?"
"Lebih baik kau tidak datang dari pada harus terluka lebih dalam lagi, Naruto!" bisik Sakura. "Dan jangan berpura-pura tegar begitu dihadapanku!" bentaknya ketika melihat seulas senyum muncul di wajah Naruto.
"Aku tidak berpura-pura," dusta Naruto. "Bagaimana mungkin aku tidak bisa ikut senang melihat sahabatku sendiri—Sasuke—mendapatkan kebahagiaan—"
"Lalu bagaimana dengan Hinata-nee?" sela sebuah suara gusar. "Apa kau memikirkan kebahagiaannya juga?"
Naruto dan Sakura menoleh dan terkejut melihat Hyuuga Hanabi, adik perempuan Hinata, baru saja keluar dari pintu gerbang Hyuuga Mansion dan menghampiri mereka. Gadis tujuhbelas tahun itu tampak anggun dengan balutan kimono dan rambut cokelatnya yang ditata sedemikian rupa, tapi itu tidak bisa menutupi kemarahan yang terpancar dari sepasang mata lavendernya saat menatap Naruto.
"H-Hanabi-san?"
Hanabi mengabaikan Sakura yang terkejut dengan kehadirannya yang mendadak. Dia maju dan mendorong dada Naruto kuat-kuat, membuat pria itu terhuyung mundur. "Tega sekali kau melakukan ini pada Hinata-nee! Selama ini aku mempercayaimu!" pekiknya tertahan.
Naruto terkejut, menatapnya tak mengerti. "Hanabi-chan, apa maksudmu?"
Tapi Hanabi seakan tidak mendengarkan Naruto. Bibirnya terus saja menumpahkan caci maki pada calon Hokage itu sementara air mata mulai mengalir dari sudut-sudut matanya tanpa dia sadari. Naruto sama sekali tidak bereaksi menerima rentetan caci maki Hanabi padanya, membiarkan saja saat gadis itu meluapkan kemarahannya padanya.
"…dan kau masih berani datang kemari! Apa sebenarnya yang ada dalam otakmu itu, Baka-Naruto?!"
"Hanabi-chan…"
"Hinata-neesama sangat menderita, kau tahu tidak?" Hanabi mulai mengisak, suaranya melemah. Disekanya basah di wajahnya dengan kasar dan dia membelalak galak pada Naruto. "Dia memang selalu tersenyum pada semua orang, menampilkan kesan bahwa semuanya baik-baik saja. Padahal…" gadis itu menggeleng pelan, "…sama sekali tidak. Setiap malam dia menangis diam-diam di kamarnya sampai tertidur. Dia tidak bahagia, Naruto-nii… Neesama benar-benar tidak bahagia. Pria yang dicintainya hanya kau, tapi kau dengan bodohnya malah memutuskan untuk melepaskan dia! Kau BODOH! BAKA! AHOU!!!"
Kata-kata Hanabi perlahan merasukinya, membuat hatinya lebih sakit lagi.
"Harusnya kau mempertahankannya, Baka! Dan kau tahu, menurutku yang membuatnya menderita itu bukan Sasuke-nii, TAPI KAU!!"
Setelah melempar tatapan marah—dan kecewa—untuk yang terakhir kalinya, Hanabi berbalik dan berlari masuk ke dalam. Naruto menatap punggungnya yang kemudian menghilang di balik gerbang dengan tatapan nanar. Dia merasakan perasaan bersalah mulai merasukinya.
"Kau tahu, Naruto. Hanabi benar."
Naruto tidak memandang Sakura. Wajahnya tertunduk, sebelah tangannya mencengkeram wajahnya.
Kami… mengapa ini menjadi semakin sulit?
Semua orang sudah berkumpul di aula kediaman Hyuuga, tempat dilangsungkannya upacara pengikatan Sasuke dan Hinata. Orang-orang klan Hyuuga, souke dan bunke, ada di sana. Juga beberapa perwakilan dari klan Uchiha. Sasuke berdiri didampingi sang ayah di antara mereka, menunggu sang mempelai wanita yang belum muncul.
Di sudut yang agak jauh, Naruto berdiri bersama Sakura dan Sai. Wajahnya datar tanpa ekspresi, kosong. Sejak pertemuannya dengan Hanabi beberapa saat yang lalu, Naruto sama sekali tidak bicara sepatah kata pun. Tapi Sakura mengerti dengan baik apa yang dirasakan sahabatnya itu di dalam hatinya. Rasa sakitnya sudah melampaui batas air mata.
Pintu geser itu bergeser membuka pada akhirnya, dan sosok anggun berbalut kimono sederhana berwarna indigo muda itu melangkah keluar. Hyuuga Hiashi, sang ayah dan Hanabi berdiri di kanan kirinya. Hinata menundukkan wajahnya. Dan ketika dia akhirnya menengadahkan kepalanya untuk memandang para tamu yang hadir, ekspresinya sama kosongnya seperti Naruto. Hanya keterkejutan samar tatkala bola mata lavendernya bertemu dengan sepasang mata biru langit.
Naruto-kun…
Hinata mencengkeram ujung lengan kimononya erat-erat sementara ia menunduk lagi, menggigit bagian dalam bibirnya. Gadis itu sekuat tenaga menahan jatuhnya air mata.
Setelah ini semuanya akan berakhir. Sudah tidak bisa mundur lagi. Gomenasai, Naruto-kun…
"Hinata…"
Suara Hiashi mengalihkan perhatian sang Hyuuga Heiress. Gadis itu menelengkan kepalanya, menyambut tangan ayahnya yang terjulur, kemudian mengikuti desakan lembut tangan itu ke sisi pria yang beberapa saat mendatang resmi menjadi calon suaminya. Hinata menengadahkan wajahnya, menatap wajah tampan di depannya dengan tatapan kosong sekilas, sebelum membungkukkan tubuhnya.
Sasuke melakukan hal yang sama padanya.
Seharusnya Sasuke berbahagia saat itu, karena pada akhirnya hasratnya untuk bisa berdampingan dengan gadis yang diinginkannya terpenuhi sudah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Entah mengapa, ada sesuatu dalam wajah pucat Hinata yang membuatnya merasakan kebalikannya, seakan ada sesuatu yang mencengkeram hatinya sedemikian erat sampai-sampai terasa menyesakkan. Perasaan yang sama yang dirasakannya semenjak percakapan singkatnya dengan Hinata beberapa hari yang lalu. Rasa sesak yang semakin lama semakin menjadi-jadi saja.
Sasuke menelan ludahnya dengan susah payah. Mata onyx-nya mencoba menemukan mata lavender itu lagi setelah mereka akhirnya menegakkan diri, berharap mendapati mata itu melembut seperti dulu. Namun Hinata tidak menatapnya lagi setelah itu.
Upacara pengikatan terasa begitu lama bagi Hinata. Dia duduk bersimpuh di sana sementara kakeknya yang memimpin upacara itu berbicara entah apa –sama sekali tak bermakna baginya. Gadis itu berusaha menahan keinginan untuk melarikan diri dari sana, mengabaikan cairan panas yang mulai bersarang di pelupuk matanya. Juga Naruto. Pria yang sudah dicintainya lebih dari separuh hidupnya.
Naruto yang tengah memandangnya dengan tatapan nanar di sana.
Kami-sama… Kuatkan aku…
Setelah beberapa waktu yang terasa amat lama, tiba saatnya untuk menutup upacara sederhana itu dengan menyematkan cincin pada calon mempelai wanita. Fugaku mengulurkan sebentuk cincin berukirkan lambang Uchiha pada putra bungsunya untuk dipakaikan di jari Hinata.
Sasuke sedikit ragu saat mengambil cincin itu dari bantalannya, namun kemudian dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa masih ada kesempatan baginya untuk mengambil hati Hinata setelah ini. Yang penting mereka terikat dulu, memastikan Hinata akan menjadi miliknya, tidak peduli apa yang akan terjadi nanti.
Tidak peduli? Benarkah?
Lalu mengapa… ada sebagian kecil –yang amat sangat kecil—dari hatinya yang mengatakan bahwa dia akan menyesalinya suatu saat?
Tidak! Aku tidak akan menyesalinya!
Diambilnya tangan Hinata yang terjulur. Tangan itu dingin dan kaku bagaikan es.
Cincin itu terhenti. Hinata tiba-tiba menekuk jemarinya, membuat Sasuke sulit memasukkan cincinnya. Tangannya mulai gemetar.
Kami… aku tidak mau ini…
"Hinata…"
Hinata mengulum bibirnya, menahan isakan yang sudah sampai di tenggorokan sementara air matanya sudah mengkhianatinya terlebih dulu. Gadis itu berpaling, nekat, memandang Naruto yang juga tengah menatapnya. Pria bermata sebiru langit itu menyunggingkan seulas senyum, hangat, seolah meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja –padahal mereka berdua sama-sama tahu, tidak ada yang baik-baik saja di sana. Mereka berdua sama-sama terluka.
Di sana, Naruto meletakkan sebelah tangannya di dada. Bibirnya bergerak tanpa suara, "Daijoubu, Hinata-chan…" Kemudian dia mengangguk.
Jemari itu perlahan meluruskan diri kembali, pasrah menerima cincin tanda pengikatan itu tersemat di sana.
Satu, dua bulir air mata lagi terjatuh. Hinata menunduk, kedua matanya terpejam seiring dengan bening yang mengalir di pipinya yang pucat. Untuk sekali ini, membiarkan Sasuke menggenggam tangannya.
Dingin.
Dia sudah terbiasa dengan rasa sakit. Sangat terbiasa. Sejak kecil kehidupan yang dijalaninya amat keras, penderitaan seakan tak pernah lepas darinya. Orang-orang membencinya, menyebutnya monster, mendapatkan cemoohan dan yang paling menyakitkan—diabaikan hampir seluruh desa. Entah sudah berapa liter air mata yang sudah dia tumpahkan sejak masa itu.
Setelah semua penderitaan yang dia alami sepanjang hidupnya, Naruto mengira ini hanyalah sebuah cobaan kecil yang tidak akan sampai membuatnya benar-benar terjatuh. Dia mengira akan sepenuhnya kuat. Tapi nyatanya, melihat Hinata menangis di depannya dan kenyataan bahwa gadis itu tidak bisa dia miliki lagi, sanggup membuatnya menitikkan air mata. Sekarang dia benar-benar memahami bagaimana perasaan Sakura ketika Sasuke meninggalkannya dulu, mengapa gadis itu begitu kerap menangis.
Ternyata rasanya seperti ini…
Sakit… di sini.
Apa Hinata juga merasakan hal yang sama? Apa dia baik-baik saja? Naruto bertanya-tanya dalam hati sementara kata-kata Hanabi tempo hari kembali berputar dalam kepalanya.
"…yang membuatnya menderita itu bukan Sasuke-nii, TAPI KAU!!"
Decitan perasaan bersalah muncul lagi dalam hatinya. Kami-sama… apakah keputusan yang telah kami ambil waktu itu salah? Apakah seharusnya waktu itu aku mengajaknya lari bersamaku? Nekat mengkhianati desa dan klannya?
Tidak!
Naruto menggelengkan kepala, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Keputusan untuk mengalah sudah tepat, meskipun sangat menyakitkan bagi mereka berdua. Menghela napasnya perlahan, Naruto memejamkan matanya, mencoba melupakan semuanya barang sejenak. Sudah hampir satu putaran purnama berlalu semenjak pengikatan Sasuke dan Hinata, dan dia belum bisa melupakannya. Ini membuatnya lelah.
Sejenak saja… dia ingin melupakannya.
Angin sore yang berembus perlahan terasa sejuk di kulitnya yang terbuka. Suara gemerisik dedaunan di pohon dan gemericik air danau merilekskan pikirannya. Dia tersenyum, sekali lagi menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Samar-samar tercium aroma rumput yang baru dipotong menguar di udara, bercampur dengan… Ah, aroma ini… cherry blossom…
Naruto membuka matanya dan mendapati seseorang yang sudah dikenalnya membungkuk di atasnya, menghalangi pandangannya dari langit sore yang sedikit berawan. Dia tersenyum. "Sakura-chan?"
"Sedang apa kau tidur di sini? Nanti masuk angin, lho…" ujar Sakura, membalas senyumnya. Kemudian dia duduk di atas rumput di samping Naruto, menekuk lututnya.
"Aku tidak sedang tidur," sahut Naruto masih dalam posisinya semua yang berbaring di atas rumput di dekat danau belakang distrik Uchiha, kembali mengalihkan pandangannya ke langit, memandangi awan tipis yang berarak perlahan tertiup angin, "Hanya menikmati suasana sore, memandangi awan…" tambahnya sambil nyengir.
Sakura mengeluarkan tawa kecil, "Sejak kapan kau jadi seperti Shikamaru?"
Naruto tidak menjawab, hanya mengulum senyum simpul. Matanya kembali terpejam. Di sebelahnya, Sakura berpaling memandang di kejauhan. Danau di depan mereka terlihat tenang, memantulkan sinar matahari senja yang mulai memerah. Kaokan burung gagak terdengar sayup-sayup.
Keduanya terdiam agak lama di sana, meresapi suasana menenangkan itu.
"Naruto," panggil Sakura pelan, memecah keheingan.
"Hm?" Naruto menggumam pelan untuk menunjukkan bahwa dia mendengarkan, kendati pun matanya masih terpejam.
"Sudah lama tidak melihatmu di Konoha. Kudengar dari murid-muridmu, akhir-akhir ini kau banyak mengambil misi-misi sulit. Benarkah?" tanya Sakura, mengerling Naruto lewat sudut matanya.
Pria itu tidak langsung menjawab. Dia membuka matanya dan beranjak duduk. Sejenak dia memandang ke arah danau dengan tatapan kosong, seakan sedang mempertimbangkan jawabannya. "Sama sepertimu dulu, Sakura-chan," ujarnya akhirnya sambil menoleh pada Sakura, "Butuh sesuatu yang benar-benar menyita perhatianku untuk bisa melupakan… semuanya. Tapi ternyata tidak semudah itu."
"Kau belum bisa melupakan Hinata, kalau begitu?" Sakura menatap sahabatnya itu sedih. Sejak berpisah dari Hinata, Naruto memang menjadi sedikit pendiam dan cenderung lebih serius. Naruto yang sekarang membuatnya merasa kehilangan. Rasanya sepi sekali… Diam-diam, Sakura merindukan Naruto dan kekonyolan-kekonyolannya yang dulu.
Naruto menggelengkan kepala, berpaling lagi seraya menghela napas berat. "Semakin aku ingin melupakannya, semakin aku menyadari kalau aku tidak bisa." Jeda sejenak. "Apa kau juga begitu, Sakura-chan? Sulit melupakan Sasuke—atau bahkan sejujurnya kau masih mencintainya… sampai sekarang?"
Sakura terdiam. Kalau mau berkata jujur… gadis itu sendiri tidak begitu yakin. Sepersekian detik setelah dia mendengar tentang perjodohan Sasuke dari mulut Mikoto beberapa minggu yang lalu, sebagian kecil hatinya seperti berdecit menyakitkan. Awalnya dia mengira itu karena Naruto, tapi... Sakura buru-buru menepis pikiran itu dari kepalanya.
"Aku mencintai Tenzou-kun…" ujarnya, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. "Aku sangat mencintai dia."
"Yamato-taichou, ne?" Naruto tersenyum tipis. "Aku agak terkejut sebenarnya. Kalian berdua begitu tiba-tiba…"
"Aku bertemu Hinata hari ini," kata Sakura, mengalihkan pembicaraan. "Di Akademi."
"Ah," senyuman di wajah Naruto sedikit memudar. "Aku belum bertemu dengannya lagi setelah… waktu itu."
"Kami juga sudah jarang bertemu sekarang. Meskipun dia jarang mendapatkan misi keluar desa, tapi kami sudah tidak pernah berkumpul lagi dengan Ino dan Tenten seperti dulu. Kurasa Hinata banyak disibukkan dengan urusan klannya." Sakura berhenti sejenak, mencabut bunga ilalang dan memain-mainkannya di antara jemarinya, "Dia kelihatannya tidak begitu bahagia, Naruto. Dia tidak banyak tersenyum seperti dulu, wajahnya pucat dan tubuhnya menjadi lebih kurus. Aku khawatir…"
"Hinata-chan gadis yang kuat. Dia tidak akan apa-apa. Ini hanya masalah waktu," ujar Naruto pelan, sementara perasaan bersalah yang menyiksa itu datang lagi. Sebelah tangannya terkepal.
"Aku tidak begitu yakin," kata Sakura. "Harus bersanding dengan pria yang sama sekali tidak dicintainya, siksaannya bisa seumur hidup, Naruto."
Kepalan tangannya mengerat. Suaranya sedikit tercekat saat dia berkata, "Sasuke akan membuatnya mencintainya."
Sakura hanya bisa menatapnya miris. Tidak habis pikir mengapa Naruto bisa begitu keras kepala tentang Sasuke dan Hinata. Mengapa dia bisa begitu yakin Sasuke bisa membuat Hinata bahagia sebagaimana dirinya? Apa hanya karena Sasuke adalah sahabatnya yang paling berharga sehingga dia rela melepaskan Hinata demi kebahagiaan Sasuke? Tapi Hinata juga amat berarti baginya sama seperti Sasuke. Tidak mungkin Naruto tidak memikirkan perasaan gadis Hyuuga itu juga.
Sasuke dan Hinata. Keduanya sama-sama berarti bagi Naruto. Ini benar-benar pilihan yang sulit untuknya. Seperti makan buah simalakama, pilihan apa pun yang diambilnya, tetap saja ada yang terluka.
"Bagaimana dengan Sasuke, Sakura-chan?" tanya Naruto selang beberapa saat mereka kembali diam. "Bekerja di rumah Uchiha, kau pasti sering bertemu dengannya, kan?"
"Aah…" Sang medic-nin menganggukkan kepala. Tangannya kembali memainkan bunga ilalang. "Sasuke-kun jarang ada di rumah sejak dia masuk ANBU. Aku hanya bertemu dengannya sesekali, dan itu pun bukan pertemuan yang menyenangkan." Sakura menghela napasnya. "Suasana hatinya buruk terus setiap kami bertemu, jadi kami tidak begitu banyak bicara. Kemarin dulu dia bahkan sempat bertengkar dengan Itachi-san, membuat Mikoto-basan menangis dan aku juga sekali pernah melihatnya minum-minum di kedai sake. Sasuke-kun… seperti sudah kehilangan kendali dirinya. Dia menjadi begitu emosional, tidak setenang dulu. Menurutmu…" gadis itu melirik Naruto, kemudian bertanya hati-hati, "…apa mungkin itu karena Hinata?"
Kali ini Naruto benar-benar tidak tahan lagi. Hatinya benar-benar sakit. Dia membenamkan wajah di lututnya, mencengkeram rambutnya dengan kedua tangannya, bahunya gemetaran.
Mengapa…? Mengapa semuanya malah jadi seperti ini…?
Sesosok jounin berambut kuning baru saja muncul di depan pintu gerbang utama kediaman Hyuuga. Mata biru langitnya sejenak menatap papan nama di depannya sebelum akhirnya melangkah masuk. Rumah itu terlihat lengang, hanya seorang wanita bunke yang terlihat melintasi koridor, membawa nampan berisi cangkir tembikar dan sepoci ocha yang mengepul.
Wanita itu berhenti dan menoleh begitu melihat orang asing itu masuk. Mata lavendernya melebar, jelas terkejut melihat sang pendatang.
"U-Uzumaki-san?"
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan Hyuuga bahwa Heiress mereka sempat terlibat hubungan yang mendalam dengan calon Hokage itu sebelum terikat dengan putra kedua Uchiha. Dan kemunculan tiba-tiba Uzumaki Naruto di rumah itu setelah mereka berpisah sudah tentu membuat siapa pun terkejut.
"Hinata-chan ada di rumah?" tanya Naruto sopan.
Wanita itu mengerjap, menatap pria jangkung itu ragu. "Hinata-sama? Ano… dia… ada di perpustakaan. Aaa—chotto, Uzumaki-san!!" serunya kaget, karena pria itu tiba-tiba saja masuk begitu saja ke dalam rumah. Wanita itu buru-buru menyusulnya, berusaha menghentikannya dengan mengatakan Hinata-sama sedang tidak ingin diganggu, namun Naruto tidak menggubrisnya.
Dibukanya pintu geser menuju perpustakaan di bagian belakang rumah besar itu. Ruangan itu tampak sedikit gelap, pencahayaan hanya berasal dari sinar matahari senja yang masuk dari jendela-jendela yang masih terbuka dan sebatang lilin yang ditaruh di meja baca di sudut ruangan. Dan di sanalah Naruto melihatnya—Hinata.
Gadis itu sedang duduk di sana, mengenakan yukata sederhana berwarna ungu indigo yang sewarna dengan jaket yang biasa dia pakai. Beberapa buah buku dan gulungan terbuka di meja di depannya. Hinata mengangkat wajahnya saat mendengar pintu membuka dan reaksinya hampir sama dengan sang pelayan. Sepasang mata lavendernya membulat dalam keterkejutan.
"N-Naruto-kun?" katanya dengan napas tertahan sambil beranjak dari duduknya.
Naruto melangkah masuk. Tak lama, wanita bunke yang menyambut Naruto tadi menyusul masuk. Napasnya terengah-engah.
"S-Sumimasen, Hinata-sama. Tadi saya sudah memberitahunya Anda tidak ingin diganggu," beritahunya cepat-cepat.
Hinata memandang Naruto agak lama. Ekspresi terkejut di wajahnya perlahan memudar. Gadis itu berpaling pada sang pelayan, tersenyum tipis padanya. "Tidak apa-apa, Saki-san. Bisa kau bawakan ocha-nya ke ruang tengah? Bawakan juga untuk Naruto-kun," tambahnya seraya mengerling pada Naruto.
"H—Hai'," wanita itu membungkuk dan berbalik meninggalkan ruangan.
"Kita bicara di ruang tengah saja," ujar Hinata setelah Saki pergi. Dia melangkah melewati Naruto menuju pintu. Naruto mengikutinya di belakang menuju ruang tengah. Hinata tidak bicara sepatah kata pun lagi sampai mereka tiba di sana.
Saki sudah meletakkan sepoci ocha dan dua buah cangkir tembikar di atas meja rendah di tengah-tengah ruangan yang terhitung luas itu, lengkap dengan sepiring dango. Hinata mempersilahkan Naruto duduk, kemudian meraih poci dan mulai menuangkannya ke dalam cangkir.
"Bagaimana keadaanmu, Hinata-chan?" Naruto memulai sementara Hinata menuangkan ocha ke dalam cangkir yang kedua.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja," jawab Hinata tenang. "Kau sangat beruntung Otousama sedang tidak ada di sini." Dia mengangsurkan salah satu cangkirnya pada Naruto. "Silakan."
Naruto menerimanya ragu, merasa agak aneh dengan sikap Hinata yang kaku. "Arigatou."
Di seberang meja, Hinata mengangkat cangkirnya, menghirupnya perlahan. "Silakan dimakan dangonya, Naruto-kun."
"Aku tidak begitu suka makanan manis," sahut Naruto cepat. Dan tujuannya datang ke tempat itu menemui Hinata memang bukan untuk makan camilan. "Kudengar dari Sasuke, hubungan kalian tidak begitu baik. Mengapa kau masih bersikap dingin padanya?"
Hinata tidak menjawabnya, sekali lagi dia mengangkat cangkir ocha-nya ke bibir.
"Hinata-chan… Nande? Bukankah kalian sebentar lagi akan menikah?" desak Naruto.
Perlahan, Hinata menurunkan cangkirnya. "Aku sudah berkali-kali mengatakan padamu kalau perasaanku tidak bisa dipaksakan. Kau sebenarnya ingin aku bagaimana? Bersikap seolah-olah aku mencintaimu dan membohongi diriku sendiri dan kau juga?"
Naruto terkesiap, menatap terkejut wanita di depannya. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak ingin membohongimu, Sasuke-kun," Hinata memandang lurus sepasang mata biru di depannya. "Seperti yang kau lakukan sekarang."
Boof!
Sosok Naruto menghilang dalam kepulan asap, digantikan sosok jounin lain dengan rambut dan mata hitam. Hinata tidak tampak terkejut. "Jadi kau sudah tahu sejak awal?"
Hinata memberinya senyum lemah. "Mengapa harus dengan cara seperti ini, Sasuke-kun?"
Sasuke memalingkan wajahnya, enggan menjawab. Dia sudah kehabisan akal untuk mendekati Hinata dan menyaru menjadi pria yang keberadaannya membuatnya merasa terancam hanya untuk menemui Hinata membuktikan dia sudah sangat putus asa. Dan Sasuke tidak ingin mengakui itu, bahkan di depan Hinata sekali pun.
"Kalau kau sudah tidak ada keperluan lain, sebaiknya kau pulang, Sasuke-kun," ujar Hinata datar sambil berdiri, meluruskan yukatanya, lalu berbalik.
Dia sudah hampir pencapai pintu ketika sebuah tangan kuat menyambar lengannya, memaksanya berbalik. Dengan cepat Sasuke mencengkeram kedua lengan wanita itu, menahannya di sana. Hinata tidak melawannya, justru dengan berani menatap langsung ke matanya, tidak tampak takut sedikit pun saat onyx itu berubah menjadi merah dengan tiga buah tomo –Sharingan.
"Aku tanya satu hal padamu, Hinata-chan," desis Sasuke dengan suara bergetar. Sharingan-nya mengebor sepasang mata lavender yang tetap pasif itu, "Kau… mencintaiku, tidak?"
Gadis itu tetap bungkam.
"Hinata!" rahang Sasuke berkedut, pegangannya mengerat. "Jawab aku. Kau mencintaiku, tidak?"
Tapi Hinata masih menolak menjawabnya. Matanya menyorotkan kepedihan mendalam, penyesalan.
Cengkeraman tangan Sasuke perlahan mengendur. Dia menunduk, perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata yang masih bergeming di tempatnya, dengan lembut ditekannya bibirnya di atas bibir gadis itu.
Hinata tidak membalas. Bibirnya terkatup, menolaknya. Dingin.
Dia meletakkan tangan di dada Sasuke, mendorongnya menjauh perlahan. "Gomenasai…" bisiknya, kemudian berjalan melewati Sasuke, berlalu dari sana.
Sasuke tercenung, menatap kosong ke dinding di mana Hinata beberapa saat yang lalu berada. Kedua tangannya terjatuh lemas di sisi tubuhnya. Hatinya tiba-tiba saja terasa kosong, hampa, menyadari jawaban final yang diberikan Hinata padanya –bahwa gadis itu tidak akan pernah membuka hati untuknya. Bibir yang dingin itu sudah menjawabnya.
To be continued…
Gomen na, minna, apdetnya lama dan abal banget.. Masih belum ada kemajuan berarti dengan konflik NaruHinaSasu-nya. Sakura juga cuma sedikit keluarnya. Kukira chapter ini akan selesai, tapi rasanya kok malah maksa. Jadinya malah sampe sini aja deh. Huhuhu.. T.T Ternyata mengembangkan plotline yang sudah dibikin ternyata gak semudah itu, yah. Apalagi perbendaharaan kataku sedikit sekali. Gomen kalo jadinya malah membosankan ya, Teman-teman…
Untuk yang sudah mereview chapter kemarin, makasih banyak yah… ^^
Catatan tambahan : Mungkin ada yang bingung, di fic ini tertulis kalau ini fic SasuSaku, tapi kenapa malah cenderung ke YamaSaku, SasuHina dan NaruHina? Hehehe... itu sebenernya udah diatur kok. Fic ini ditulis memang gak ujug-ujug udah dipasangin pake pair utamanya, ada jalannya ke arah sana. Jadi yang menanti SasuSaku, sabar aja yah.. Hahaha... XD
