Pairing: Sebastian x fem Ciel

Rated: M

Warning: Typo(s), ooc(maybe?), Lemon

lemonan, fem ciel

Kuroshitsuji belong Yana Toboso-sensei.

Happy reading

Don't like don't read

.

.

Chapter 10

"C-ciel?"

Suasana berubah menjadi hening. Waktu seakan berhenti pada saat itu juga seakan menyihir Ciel dan Sebastian yang diam membeku. Kedua sapphire sedalam lautan bertemu dengan kedua iris ruby yang menyala bagaikan api membara.

"Jadi, kalian semua saling mengenal?" Ronald, yang saat itu merasa suasana berubah menjadi -agak- awkward, berusaha mencairkan suasana.

"..."

Diam. Dan itu membuktikan bahwa usahanya gagal.

"Mama? Apa mama kenal dengan paman?" kali ini si kecil Sofia yang angkat bicara.

Sebastian yang mendengar Sofia memanggil Ciel dengan sebutan 'mama', membuat pria itu menatap gadis yang selama ini ia cintai. Tatapan Sebastian saat melihat Ciel, tampak seperti memohon penjelasan pada gadis berambut kelabu tersebut.

"Apa Sofia... dia anak kita?" Ciel membeku.

Kenapa? Kenapa baru sekarang Sebastian tau jika Sofia adalah anaknya? Kenapa, setelah 5 tahun ia membesarkan Sofia sendiri, dan pria itu baru menyadarinya?

"Ciel..." Hannah berkata lembut. Entah kenapa semua ini begitu rumit.

"Apa itu benar, ma? Apa paman Sebastian adalah papaku?"

Kaki Ciel terasa begitu lemas. Jadi, bagaimana ia harus menjelaskan semuanya? Apa dia harus berbohong kepada putrinya dan semua orang? Atukah ia harus menyakiti sahabatnya sendiri?

Tangan Ciel bergetar, berusaha menahan gejolak didalam hatinya.

"Kita pergi dari sini, Sofia..." Ciel terpaksa membawa putri kecilnya itu pergi dari sana.

Melihat Ciel, orang yang ia cintai pergi kedua kalinya, Sebastian pun segera mengejar gadis itu. Ia tidak peduli pada Ronald dan Hannah yang masih berdiri ditempat mereka. Satu-satunya yang ia pedulikan saat ini adalah Cielnya.

"Ciel! Tunggu!" Sebastian menarik tangan mungil itu. Tangan yang begitu lembut dan mungil. "Kau belum menjawab pertanyaanku.." suara Sebastian terdengar begitu dalam.

Ah, apa yang harus Ciel lakukan sekarang?

"Mama?" Sofia menatap mamanya yang berusaha menahan isakannya. Gadis itu tampak sedih dan memeluk Ciel, berharap mamanya tidak menangis lagi.

"Cukup Sebastian," Ciel berusaha melepaskan tangan besar pria itu. Walaupun Sebastian bisa saja tidak akan melepaskan tanganya dari Ciel, tapi ia tetap melepaskannya.

Ia sadar, saat Ciel mengucapkan kata-kata itu tadi, suaranya terdengar bergetar.

"Baiklah jika itu mau mu" Sebastian tersenyum miris. "Sofia, tolong jaga mama ya..." pinta Sebastian dengan tatapan sendu.

"Baik" Gadis itu mengangguk pelan.

"Kalau begitu aku akan pergi, jika itu yang kau mau. Kuharap kita bisa bertemu lagi, Ciel" Sebastian meninggalkan Ciel dan Sofia.

Entah apa yang dipikirkan pria itu. Perasaannya terasa campur aduk.

Sementara itu, lutut Ciel lemas dan gadis itu jatuh terduduk dijalan. Matanya tampak berkaca-kaca.

"Mama! Jangan menangis!" Sofia mendekap sang mama, berusaha menghibur mamanya.

Untuk yang pertama kalinya, Ciel menangis di depan Sofia. Setelah sekian lama ia menahan air matanya didepan anaknya, dan sekarang terbongkarlah itu semua. Bersamaan dengan terbongkarnya jati diri sang ayah, yang awalnya ia sembunyikan dari gadis kecilnya ini.

Ya, panggil saja ia pembohong.

Sekarang, apa yang bisa ia katakan pada anaknya?

.

.

Sudah seminggu semenjak kejadian dimana Sebastian menemukan sosok itu. Sosok yang selama ini ia cari. Sosok yang selama ini ia cintai, walaupun sudah ada wanita lain yang menjadi istrinya. Tapi ia tidak akan pernah melupakan manisnya kenangan yang mereka rajut bersama dulu.

Ya, dulu...

Seandainya saat itu tidak pernah terjadi.

Ia menyesal. Tapi, bukankah penyesalan selalu datang terakhir?

Pria bersurai raven itu tidak habis pikir jika semuanya akan serumit ini.

Ya.

Kenyataan memang menyakitkan. Kenyataan bahwa, sosok yang selama ini ia cintai, ternyata ia adalah sahabat dari wanita yang paling ia benci. Ia tidak menyangka jika Cielnya, adalah sahabat baru Hannah, dan ia juga bekerja di kantor Hannah.

Ironis, bukan?

Sebastian hanya menghela nafas panjang di meja kerjanya.

Menghadapi setumpuk kertas kontrak yang ditawarkan para pebisnis lain untuk mengadakan kerja sama dengan perusahaannya, bukanlah hal yang mudah. Tangannya terasa pegal setelah seharian ini menandatangani kertas-kertas itu.

Sebuah derit pintu kerjanya yang terbuka pelan, membuat perhatian Sebastian tersita.

Untuk pertama kalinya, pria itu mengalihkan pandangannya pada Hannah yang berdiri di ambang pintu. Ya, selama ini Sebastian memang tidak pernah menganggap wanita itu ada. Bahkan ia hanya akan menatap wanita itu jika kelakuannya sudah keterlaluan baginya.

"Aku tau, kau masih mencintainya..." Hannah membuka pembicaraan diantara mereka. Sementara itu, Sebastian bersandar di kursi kebesarannya, dan ia memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. "Tapi aku juga tidak menyangka jika gadis itu..." sebelum Hannah melanjutkan kata-katanya, Sebastian segera bangkit dari kursinya.

"Ya, gadis itu Ciel..." ujar Sebastian dengan tatapan -yang entah mengapa terlihat- sedih.

"Jadi anak itu... maksudku, Sofia..." Hannah memberi jeda sejenak, " Dia putrimu?" Hannah tersenyum pahit.

"Mungkin... tapi sepertinya Ciel tidak ingin aku tau apa-apa" jawab Sebastian dengan perasaan terluka. Apakah Cielnya yang dulu mencintainya, telah berubah membencinya? "Mengingat perlakuanku padanya, itu hal yang wajar"

"Jadi..." Sebastian memicingkan matanya saat Hannah menggantungkan kalimatnya.

"Apa?" ia menaikan sebelah alisnya menatap wanita yang sudah 5 tahun telah menemaninya dalam hidup yang monoton ini.

"Mungkin, sebaiknya aku harus melepasmu, Sebastian..." perkataan Hannah membuat kedua crimson Sebastian membulat. Ia terkejut, sekaligus... senang?

"Aku memang tidak suka denganmu karena sikapmu selama ini... tapi, aku senang kau akhirnya mengerti" untuk pertama kalinya, Sebastian berbicara lembut padanya.

"Tapi..."

Kali ini Hannah yang memasang wajah bertanya.

"Aku tidak yakin jika ayah akan setuju dengan perpisahan kita..."

.

.

Sudah seminggu bagi Ciel setelah ia menemukan sosok itu lagi. Sosok yang selama ini ia rindukan. Sosok yang selama ini ia nanti-nantikan kedatangannya.

Dan sekarang?

Sedari tadi Ciel hanya melamun, tanpa menghiraukan makan siangnya yang semakin dingin.

Sejak kejadian itu, Ciel -entah mengapa- tidak bisa tersenyum lagi. Ia hanya akan tersenyum jika sang putri ada di sisinya, dan ia -berusaha- terlihat seperti biasanya saat berada dengan malaikat kecilnya itu.

Tapi dibalik itu semua, ada sesuatu yang ia sembunyikan dari putri kecilnya itu. Mungkin, jika ia masih lajang seperti dulu, ia akan menangis seharian siang dan keberadaan sang putri kecilnya saat ini, membuatnya jadi lebih dewasa.

"Ah, maafkan saya jika mengganggu anda. Tapi ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda" salah satu staf yang merupakan bawahannya itu, berhasil menyita perhatian Ciel.

Ciel menaikan sebelah alisnya, "Siapa?" tanya gadis berambut kelabu itu.

"Ibu Hannah, katanya ia ingin berbicara sesuatu pada anda" jelas bawahannya itu lagi.

"Baiklah, aku akan menemuinya dibawah" Dan Ciel bangkit berdiri dari kursi kantornya, dan menuju ke lantai 1 -karena memang ruang kantor Ciel berada di lantai 3.

Didalam lift, sekelebat perasaan tidak enak menyelimutinya.

Bagaimana tidak?

Selama ini, sahabat yang paling perhatian padanya, ternyata adalah wanita yang merebut Sebastian darinya.

Tapi tunggu dulu,

'Merebut', katanya?

Ciel tersenyum miris. Ia bahkan tidak pantas jika bersanding dengan pria sesempurna Sebastian. Ya, masa mudanya membuat Ciel harus mengambil hikmah dari semua yang telah ia lakulan dengan pria raven tersebut.

Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka. Dapat ia lihat wanita itu menunggunya didepan lobby dengan wajah yang tidak terbaca.

Dengan langkah sepelan mungkin, berharap waktu berhenti dan tidak mempertemukan mereka berdua, Ciel berjalan menuju Hannah.

"Ah, Ciel" Ciel tersentak begitu mendapat pelukan dari sang sahabat begitu ia datang. Sungguh tidak terduga.

"Soal yang waktu itu... aku sama sekali tidak mempermasalahkan tentang Sebastian" Ciel berusaha menjelaskan semuanya. Ia takut jika hubungan persahabatan yang mereka rajut, putus hanya karena masalah itu. "Aku, sudah merelakan ia bersama denganmu. Dan soal masa lalu ku dengannya," sebelum Ciel melanjutkan, Hannah memotong perkataannya.

"Kau tidak perlu khawatir lagi, Ciel" Hannah tersenyum pahit.

"Apa maksudmu?" Ciel memasang wajah bertanya pada sahabatnya itu, dan dijawab dengan senyum lembut dari wanita itu.

"Aku dan dia sudah memutuskan akan berpisah" seketika itu juga, kedua orb crulean milik Ciel membulat utuh.

"Apa?!" Ciel tersentak, tapi entah mengapa berita itu... membuatnya senang?

"Aku sudah berbicara padanya, dan ia setuju" jelas Hannah lagi.

"Apa ini karena aku?" terbesit rasa bersalah pada sahabatnya itu. Ciel memang -sedikit- lega jika mereka berdua berpisah. Itu artinya... Ciel dapat kembali dengan Sebastian, kan? Tapi ia juga tidak sejahat itu. Ia tidak tega melihat sahabatnya rela berkorban hanya untuk kebahagiaannya seorang.

(Ciel lupa yak, itu bukan kebahagiaan mu seorang. Bahkan Sebby 'sangat' senang mendengarnya. itu tandanya kalian bisa itu... *digamvar reader)

Hannah hanya menggeleng, dan tersenyum pada gadis didepannya ini. "Itu sama sekali bukan karena kamu, karena keputusan ini aku yang memintanya... jadi Ciel," Hannah sempat menggantungkan kalimatnya lagi.

"Apa kau bersedia menikahi Sebastian?" seketika itu juga tubuh Ciel terasa kaku.

.

.

Seperti hari-hari sebelumnya, Ciel menjemput putri kecilnya yang satu itu.

Dalam perjalanan menuju sekolah Sofia, gadia itu terus memikirkan perkataan Hannah tadi. Ia sungguh tidak menyangka jika sahabatnya sendiri memintanya untuk menikahi pria yang selama ini dicintai oleh wanita itu -karena Hannah sendiri bercerita tentang hal itu.

Ah, Ciel bahkan hampir menabrak seseorang di jalan karena terlalu banyak melamun.

Betapa terkejutnya Ciel, saat ia melihat Sebastian yang sedang menggendong Sofia hampir saja tertubruk oleh mobilnya jika ia tidak segera sadar.

Dengan cepat, Ciel keluar dari mobilnya -setelah sebelumnya ia memakirkan mobilnya di bahu jalan yang sepi tersebut.

"Kau tak apa-apa?" tanya Ciel yang -sedikit- panik.

Sebuah senyum lembut yang telah lama tidak ia lihat, menghiasi bibir Sebastian. Seperti biasanya, pria itu tersenyum padanya.

"Apa kau tadi mau balas dendam denganku, Ciel?" tanya Sebastian, entah kenapa bernada mengejek.

"Apa katamu?!"

"Sssstt! Jangan berteriak seperti itu. Apa kau mau membangunkan Sofia?" Sebastian menunjuk Sofia yang sedang tertidur dalam gendongannya dengan kepalanya.

Ah, dia bahkan lupa jika ada putrinya.

Ciel menatap Sebastian dengan tatapan 'jika tidak ada Sofia, habislah kau' dan dijawab dengan seringai menyebalkan milik sang raven.

Lalu Sebastian menaruh Sofia yang sedang tertidur didalam mobil Ciel.

"Biarkan aku mengantarnya" kali ini kedua iris ruby itu menatap Ciel begitu dalam, membuat jantung Ciel berdebar kencang.

"Tidak perlu. Aku bisa mengantarkan anak ku dengan selamat" jawab Ciel sambil memalingkan wajahnya dari Sebastian, menghindari kontak mata dengan pria itu.

"Aku memaksa"

"Apa hak mu mengantar Sofia pulang huh?" tanya Ciel dengan nada arogan.

Dalam hati Sebastian, pria itu tersenyum 'ah dia tidak berubah~ sama imutnya dengan dulu' batin pria itu. Tapi wajahnya tampak serius, dan ia menjawab "Aku ayahnya" jawabnya kalem.

Serentak, jantung Ciel berdebar semakin kencang bagaikan bunyi kereta api.

'Ah, rasanya sama sekali tidal berubah seperti dulu aku dengannya' batin Ciel.

"Terserah kau saja" Ciel menghela nafas.

Saat hendak ia masuk ke kursi kemudi, Sebastian mencegahnya. Kali ini ia memasang wajah yang mengisyaratkan 'ada apa?'

"Biarkan aku yang menyetir. Sepertinya kau lelah setelah bekerja seharian" Dan lagi-lagi Ciel hanya pasrah.

Gadis dengan surai kelabu yang dibiarkan terurai itu pun berjalan memutari mobilnya, lalu masuk kedalam kursi penumpang yang berada di samping kursi kemudi.

Selama perjalanan, keheningan menyelimuti mereka.

Ciel hanya memandang keluar jendela, tanpa menghiraukan sang raven yang sedang mengemudi. Tiba-tiba saja, perkataannya dengan Hannah tadi siang membuatnya berdebar.

"Kau demam, Ciel?" Sebastian tertawa renyah saat melihat pipi Ciel yang memerah seperti buah tomat. Sungguh menggemaskan.

"Jangan menggodaku, perhatikan jalannya" perintah Ciel berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Kau pikir aku tidak bisa menyetir dengan benar, huh? Kau takut aku menabrakan mobil ini" sekali lagi Sebastian tertawa, dan itu membuat emosi Ciel tersulut. Jika begini terus, mungkin mereka dapat merasakan masa muda mereka lagi.

"Terserah kau saja" Ciel memutar bola matanya, sebal.

Hening kembali.

Otak Ciel kembali merekam percakapannya dengan Hannah tadi siang mengenai pendapat Ciel apakah ia ingin menikah dengan Sebastian?

-Flashback-

"Apakah kau bersedia menikahi Sebastian?"

Jantung Ciel berdebar kencang saat mendengar pertanyaan Hannah. Ia tak tau, tapi rasanya pipinya memanas.

Ciel hanya diam. Gadis itu masih bergelut dengan pikirannya.

"Jadi, apa jawabanmu?" tanya Hannah membuat jantung Ciel hampir keluar dari dadanya.

Ah, perasaan ini sudah lama tidak ia rasakan.

Ciel tampak ragu, "Akan kupertimbangkan lagi.." jawabnya.

-end of flashback-

Tanpa Sebastian dan Ciel sadari, Sofia yang sedang tertidur melihat pemandangan indah ini.

Ya, seandainya keadaan benar-benar seperti ini, dan mereka jadi keluarga...

TBC

Ahhh, akhirnya selesai juga~

Gimana? semakin rumit ya? Author sendiri sudah pusing liat konflik tiada akhir ini...

Yosh!

Silahkan tunggu chapter selanjutnya~