Chapter 10

You Know, I Love You

(The Ending)

Aku tercengang. Saat itu, garis di alat elektrokardiograf sudah hampir segaris! Aku buru-buru keluar, dan menyuruh Len masuk, sementara aku di luar. Rin! Aku harus membuat apa yang diinginkan Rin tercapai, walaupun tidak sepenuhnya!

"Len! Cepat masuk... Rin membutuhkanmu!" bisikku keras, lalu menyeretnya masuk, dan aku keluar. Yap... Rin, kau sudah bersama Len, walau mungkin hanya sebentar. Tidak apa, setidaknya, jika saja ajal menjemputmu, kau sudah tenang.

Rin P.O.V~~

Len?! Kau ada? Kukira, kau belum datang. Kukira, aku akan mati, tanpa kau tahu hal itu. Tanpa kau tahu bahwa aku sudah tiada di dunia ini. Dan awalnya, itu membuatku resah. Tapi, ketika kau muncul, bagai suatu kejaiaban, aku mungkin akan kembali berjuang mempertahankan nyawaku! Sampai titik darah penghabisan, karena... aku melakukannya demi kau, Len... aku mencintaimu..., aku menyadari, aku tak bisa hidup tanpamu..., kau, bagaikan hadiah dalam kehidupanku!

"Len," desisku, dengan nada lemah dan suara yang mungkin hampir tak terdengar jelas oleh Len. Tapi, Len tahu, dia mendengarnya, dan duduk, di samping ranjangku, tempat Miku tadi duduk juga di situ. Dia memegang tanganku. Uh, Len... betapa dinginnya telapak tanganku, tetapi, telapak tanganmu yang hangat, tentu bisa menghangatkan telapak tanganku juga...

"Rin..."

"Len, kau sudah kembali dari Amerika?" tanyaku lirih. Dia mengangguk, tetap memegang tanganku yang terbebas dari selang infus.

"Aku sehat karenamu."

DHEG!

Ternyata, walaupun jatuh sakit, seseorang masih bisa berdebar-debar! Seperti saat ini. Walaupun aku merasakan perih dan sakitnya luka di kepalaku, tetapi... perkataan Len barusan seolah menyihirku. Aku, aku benar-benar jatuh cinta padanya! Oh...

"Len, aku juga menyayangimu."

"Rin, apapun yang aku lakukan, itulah yang terbaik untukmu," katanya. Aku tersenyum manis. Aku berusaha untuk tetap tersenyum. Uoh... aku, aku tak dapat menahan rasa sakit ini lebih lama lagi!

"Le-Len (Lele? -,-), aku-aku... to-tolong..."

Len tersadar. Dia menekan tombol, entah di mana, aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Yang jelas, sehabis itu, segorombolan dokter dan perawat-perawat datang, dengan terburu-buru.

"Cepat bertindak!" teriak Len panik. Aku, aku sudah tak kuat lagi.

...

Len P.O.V~~

Aku menunggu, lama sekali. Dan, yap! Dokter keluar, dengan wajah cerah. Aku tahu, ini pasti pertanda baik! Aku berdiri, begitu pun juga yang lain.

"Bagaimana keadaan Rin-san, dokter?" tanyaku. Dokter mengangguk puas.

"Dia berhasil diselamatkan."

"Puji Tuhan!"

"Syukurlah..."

"Oh Tuhanku!"

Kami semua memanjatkan syukur. Rin... aku bersyukur, kau masih diberikan kesempatan untuk hidup oleh Tuhan.

"Bolehkah kami menjenguk ke dalam?" tanya Neru. Dokter mengiyakan. Aku, dan teman-teman Rin yang lain masuk ke dalam beramai-ramai, walaupun pada akhirnya, Ai, Kaito, Lenka, dan Luka terpaksa tidak bisa masuk karena jumlahnya terbatas. Rin memandangku. Tatapannya sendu, namun penuh makna...

"Len..."

"Len?!" Neru menoleh ke arahku.

"Len?! Rin, kau ngigau!" teriak Gumi. Aku menaikkan alisku.

"Len... bisakah aku berdua saja dengan Len?"

"Heh? Kau mengusir kami?" Neru merasa sedikit kesal, tapi, aku tahu, tak sepatutnya ia seperti itu pada sahabatnya yang sedang lemah dan sakit.

"Mungkin begitu," kata Gumi.

"Baiklah, kami pergi dulu ya," kata Miku lembut, tak bermaksud menyiksa perasaan Rin. Tapi, aku tak tahu, apakah perasaan Rin tersiksa? Tidak, aku tahu, dia gadis yang tegar.

Normal P.O.V~~

Tidak! Itu... gadis lagi! Dia, menghadang Haku... ketika dia sedang pergi ke toilet rumah sakit.

"Haku, sekarang... sudah saatnya," bisiknya, tepat di telinga Haku. Haku ketakutan, ingin berlari, namun, entahlah... gadis itu segera menebas kepala Haku dengan samurainya yang masih licin tanpa noda darah, tetapi, segera ternoda ketika ia membunuh Haku. Haku, matanya mendelik, tetapi, ia langsung roboh.

Gadis itu tertawa, seperti iblis.

"Kau pantas mendapatkan itu, Haku-san yang Malang! Itu juga karena, kau sudah menyebabkan sahabatmu, Rin sekarat!" katanya dengan nada puas, lalu sebagai dua tusukan terakhir, ia menusuk mata Haku dengan pisau lipatnya, melemparkannya, tepat terkena di matanya, lalu yang kedua, ia menancapkan samurainya di jantung Haku, padahal, ia sudah tahu bahwa Haku sudah mati. Ia kemudian terbang, pergi, menghilang. Darah berlumuran di lantai toilet, dan kepala Haku yang terpisah dari badannya terpental keluar dari toilet, dan perawat yang melihatnya histeris, ketakutan, kemudian ia pingsan di tempat. Sangat mengenaskan. Banyak orang yang melihatnya, bahkan, ada yang memberanikan diri melepas samurai yang menancap di bagian jantung Haku.

Haku sudah mati. Ia masuk ke alam baka, dan tenang di sana. Walaupun ia dan gadis itu tetap bermusuhan di alam baka.

"Kau... kita tunggu sampai ayah, ibumu, dan Hakuo ikut kubunuh! Jangan kau kira, hanya dirimulah yang dijadikan taruhan. Satu berbuat kesalahan, semuanyalah yang akan menanggung resikonya!" bentak gadis itu, dan Haku yang terduduk di dasar alam baka, hanya terisak. Bagaimana jika ia bisa menghentikan gadis itu? Mencegah gadis itu untuk membunuh semua anggota kelurganya? Harus ada cara! Ia harus menyelamatkan keluarganya, walaupun dirinya tak diselamatkan keluarganya, tetapi tetap saja! Haku tak ingin pihak gadis itu menang! Tapi... apapun yang jahat, pasti akan kalah, tapi? Lihat saja nanti, pada akhirnya, keduanya saling menyadari kesalahan masing-masing, dan... berbaikan. Oke. Itu bukan hal yang buruk. Setidaknya, mereka berdamai. Itu saja...

Len P.O.V~~

Teman-teman Rin keluar dari ruangan. Kini, tinggal ada aku dan Rin. Hanya kami berdua.

"Len, jika aku mengalami keadaan kritis lagi, jangan menekan tombol itu," kata Rin memperingatkanku. Aku heran. Lho? Bukannya, itu harus? Untuk menjaga keselamatannya? Untuk menyelamatkannya? Untuk membantu kesembuhannya? Ah..., Rin menjadi sedikit aneh!

"Maksudmu Rin?" tanyaku.

Rin tersenyum. Ia memegang tanganku. Tangannya masih dingin, kaku, dan berkeringat.

"Aku, karena, ka-karena aku ingin tenang. Aku ingin merasakan kebahagiaan dan kedamaian di alam baka," katanya lembut, penuh ketenangan. Aku kaget.

"Tidak, Rin..., kau tak boleh pergi!"

"Tapi Len... aku harus pergi, kau, kau bisa bersama Lenka."

"Tidak, Rin! Aku mencintaimu!"

"Len... aku tahu, kita bersaudara. Itu sudah jelas, dari perkataan mamamu. Cobalah kau tanya Lenka dan Rinto, mereka pasti tahu semuanya secara pasti," katanya lembut. Kata-katanya sangat melukai hatiku. Lenka? Bersama Lenka? Jelas aku sudah menolak gadis itu, sewaktu ia tadi menyatakan perasaannya padaku! Rin... kumohon, jangan pergi terlalu cepat!

"Rin... kumohon," kataku memohon.

"Len..."

"Rin..., jangan pergi!"

"Ini waktuku... waktumu mungkin lain waktu. Menyusullah, tapi jangan terburu-buru. Pastikan semua orang yang kau tinggalkan rela melepaskanmu nanti, jika saatmu tiba, Len..."

"Rin!"

"Len, satu kata untukmu... Walau kita bersaudara... walau aku tahu cinta ini takkan mungkin dapat aku raih, tapi... aku harus mengatakannya. Aku mencintaimu Len, selamanya." Dan saat itulah, Rin menghembuskan napas terakhirnya.

"Aku... aku juga mencintaimu, Rin... kau tahu itu."

"Len! Haku meninggal!"

"Hei, Rin meninggal!"

"Keduanya meninggal!"

"Len, satu kata untukmu... Walau kita bersaudara... walau aku tahu cinta ini takkan mungkin dapat aku raih, tapi... aku harus mengatakannya. Aku mencintaimu Len, selamanya." Dan saat itulah, Rin menghembuskan napas terakhirnya.

"Aku... aku juga mencintaimu, Rin... kau tahu itu."

...

Aku tahu, cinta bukan untuk diraih. Cinta bukan untuk didapatkan. Cinta bukan untuk dimanfaatkan. Cinta bukan untuk ditangisi. Cinta untuk kedamaian. Cinta untuk ketulusan. Dan cinta akan abadi selamanya...

Rin and Len Quotes...

===================THE END====================