-Chapter 8-
Charas; EXO OTP-12
Genres; Suspense, Crime
Rating; R (Restricted)
Views; AU (Alternate Universe)
Warnings; Psychological-effect | Kleenex-warning | Suspense-scenes | Two-faced!Kris
Disclaimer
I own nothing but this crack trans. Original fiction belongs to 辛辛息息. No profits taken!
.
.
.
.
.
Semua orang menatap waspada Yixing yang duduk di sofa, dia mematung selama dua detik sebelum berdiri tegap.
"Cidera pinggangnya belum sembuh." Kutemani Yixing yang tengah berjalan menghampiri Mesin Dance Revolution, "kautahu, dikarenakan penampilan sebelum kita naik pesawat." Kutatap Jongin tajam.
Ia mendengus tak suka dan menatapku sarat ejekan. "Kenapa? Bagaimana kalau kau yang bermain denganku?"
Jawabanku tertahan; aku seorang pengecut.
"Siapa yang tidak cidera sama sekali," Jongin tersenyum sinis, tatapannya meremehkan Yixing. Itu merupakan tatapan yang sangat lazim bagi Yixing saat pertama kali dia tiba di Korea—Jongin begitu mengetahui kelemahan Yixing.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
Benar saja, Yixing menyingkirkan tanganku, berjalan menjauh dariku kemudian berdiri di atas mesin Dance Revolution. Luhan memandangku waswas, pandangannya seperti bertanya: 'Apa yang kauinginkan?'
Aku merasa seolah-olah menampar diri seratus kali. Aku membayangkan diriku menarik Yixing dari mesin itu tapi nyatanya tidak. Alih-alih, dengan bodohnya kutonton saudara-saudaraku menjemput ajal mereka sendiri.
"Lay, kau lawan yang kusegani, tapi kau tidak akan mencicip kemenangan." Jongin menyilangkan lengannya selagi dia mencermati Yixing. Yixing terdiam menatap layar.
"Mari kita mulai." Tatapannya provokatif.
Seketika Luhan berseru, "Tunggu!"
Dua orang yang berdiri di mesin Dance Revolution berbalik lalu menatap Luhan, berharap ia meneruskan perkataannya.
Luhan menatapku, kemudian Jongin. Dia nampak kehilangan kata-kata. "Apa yang jadi konsekuensinya?" tanyanya.
"Aku tak tahu." ucap Jongin, "atau, kau boleh menggantikanku menari. Nanti saat kau kalah dari Lay, kau juga akan tahu apa hukumannya." Ia berdiri tenang sambil menatap Luhan.
"Beberapa saat lalu, bukankah barusan kaubilang bahwa pasti akan ada orang-orang yang mati?" dia menyeringai pada Luhan. Menunggu keputusan yang bersangkutan. "Kenapa? Kau mengubah prinsipmu saat kau yang jadi target?"
Luhan memaku layar mesin; ia mematung cukup lama.
"Mari kita mulai," sergah Yixing, kembali menghadap seluruh anggota.
"Dengan cara apa kauingin memainkannya? Gaya bebas ganda?" Jongin menoleh lalu bertanya padanya. Yixing mengangkat kepala, dan semua orang tahu apa maksudnya.
Kami terlampau akrab dengan mesin Dance Revolution; terutama Mesin Menari Piu yang kami lihat sekarang. Itu adalah jenis mesin yang dulu sering kami gunakan berlatih. Mesin Menari Piu, disebut juga New Century Dancer, menjadi populer di Asia selama satu dekade dan popularitasnya dapat diperhitungkan karena tingkat kesulitan dan banyaknya model tarian yang rumit.
Bagi orang-orang dengan latar belakang menari, tujuan dan modus dari mesin Dance Revolution telah melebihi batas wajar. Untuk gaya bebas, kemampuan menari serta kepercayaan diri akan menjadi indikator utama dalam penilaian; menyiratkan bahwa seseorang mesti bermain dengan insting untuk mengetahui gerakan yang akan kita lakukan sebelumnya, dan ini bukan hal mustahil bagi seseorang sepertiku.
Bagaimanapun, bagi Jongin dan Yixing, mereka bukan hanya dapat bermain di level tertinggi dari 'gaya bebas', merekapun dapat mengatur tingkat kesulitannya sendiri dalam permainan. Misalnya, seperti yang Jongin katakan barusan; seseorang akan memainkan bagian yang ditujukan untuk dua orang, menyiratkan bahwa nilai mereka akan digandakan tiap kali mereka bergerak. Biasanya, tangan mereka juga ikut bekerja mengikuti alur permainan ini.
Kami semua pernah memainkan permainan 'tidak masuk akal' ini di masa lalu ketika kami bertaruh—dan bahkan kedua orang ini dulunya mengalami kesulitan dalam melewati level ini. Jika seseorang kehilangan rasa tenang dan percaya dirinya selama bertanding, maka akan langsung terjadi kekacauan.
Yixing tersenyum, matanya sayu. "Aku bebas. Apa saja boleh."
"Lagu ketiga," Jongin memandang layar.
Berbalik, Yixing hening sejenak sebelum bicara dengan bahasa Mandarin, "Keluarlah dari sini hidup-hidup; orangtuaku kuserahkan padamu." Lalu dia mengisyaratkan Jongin untuk mulai.
Aku ragu jika dia bicara padaku atau Luhan; aku bahkan belum sempat menjawabnya saat dia mulai bermain.
Yang kulihat ialah permainan yang sama sekali tak terlihat seperti sebuah permainan. Ini adalah penyiksaan.
Tiap kali Yixing harus meliukkan pinggang dan kakinya menyentuh panah di atas panggung mesin, aku kerap menyaksikan peluh menetes dari ujung rambutnya, ada beberapa yang terpental menandakan pergerakan tubuhnya yang sarat energi.
Tatapannya tak mengendur barang sedetik. Ekspresi itu memberitahu kami bahwa dia masih bertahan walau tak mampu meneruskannya lagi. Nampak tak asing bagiku.
Larut malam yang entah keberapa, di studio yang sunyi dan terpencil. Di hadapan cermin besar, secercah harapan dan keyakinan bergantian mengisi pikiran, bersama dengan suasana hati penuh keputusasaan.
"Gerakanmu kurang bertenaga." komentar instruktur kami, tanpa ekspresi. Ini adalah alasan mengapa Yixing tak bisa dipromosikan ke kelas 'unggul' seusai mendapat penilaian di musim panas tahun 2009. Bagi Yixing—orang yang mengkhususkan diri di bidang menari, jika tak mampu masuk kelas unggulan sama artinya dengan tak punya harapan sedikitpun untuk memulai debut.
"Aku akan terus bersabar," balas Yixing, membungkuk.
Aku tak heran sebab dia akan selalu mengingatkanmu bahwa dia masih mampu saat kaupikir dia sudah menyerah.
Aku lupa sudah berapa lama waktu berlalu, namun aku tahu bahwa keduanya sudah sampai ke tahap di mana mereka berjuang untuk bertahan. Keduanya dehidrasi, menggeretakkan gigi dengan wajah ketakutan. Pinggang Yixing mungkin telah kebas dan mati rasa sekarang. Karena kelaparan, ekspresi Jongin sama buruknya—ekspresi itu mengatakan bahwa dia akan pingsan dan (barangkali) memohon supaya permainan akan segera berakhir.
Saat itu, begitu keduanya menyelesaikan gerakan yang sama, pertandingan selesai. Kedua layar menyatakan bahwa tahap tersebut terselesaikan, menginstruksikan mereka memasuki babak berikut dengan menekan tombol.
Berlutut di permukaan panggung, terengah-engah dan menghela napas keras. Menatap layar. Tak sepatah katapun mampu meluncur dari bibir mereka. Yixing menunduk, menggigit bibir dan memejamkan matanya erat-erat. Tangan kirinya meremas pinggang; dia bahkan tak kuasa berdiri. Bibir Jongin pucat, kedua telapak tangan di lantai sebagai penopang. Ekspresi mual tak pernah jauh darinya.
Apabila mereka menari satu ronde lagi, tak diragukan lagi kita bisa menemukan pemenangnya tanpa harus menari hingga akhir.
"Mereka tak dapat melanjutkannya lagi. Kita akan memilih orang untuk menggantikan mereka." Sehun tersenyum, menghampiriku.
Di seberang kami, Luhan bangkit dan menghampiri mesin Dance Revolution. Ia berbalik, melirik Chanyeol dan Tao lalu berujar pada Chanyeol, "Lihat, ini adalah balas jasa. Aku baru bilang bahwa kau akan mati di hadapanku."
Keringat terus menetes dari tubuh Yixing. Ia tergeletak di lantai memandang Luhan dengan mata sarat kekhawatiran.
"Dengan cara apa kita akan memainkannya?" senyum Luhan, menatap Sehun.
"Terserahmu," jawab Sehun. Memiringkan kepalanya.
"Kita tak bisa memainkan 'gaya bebas', tapi kalau kita memainkan mode normal, kita tidak akan bisa menentukan pemenangnya." balas Luhan. Sehun menundukkan kepalanya, berpikir keras. Banyak gaya di permainan ini yang dapat diadopsi, tapi dia dan Luhan mahir dalam aspek berbeda; menjadikan ini keputusan yang sukar diambil.
"Ayo kita undi." Luhan berbalik menatap Chanyeol.
Setelah naik ke lantai atas untuk mengambil secarik kertas, dia meminta pensil alis Baekhyun. Chanyeol membuat sepuluh potongan kertas, melipat dan menaruhnya di tangan.
Luhan menyuruh Sehun mengocoknya. Sehun mengambil selembar kertas yang dilipat, membukanya, dan di atasnya tertulis: berlutut.
Aku tertegun.
Berlutut merupakan gaya menari yang ditemukan oleh para penari yang sungguh sinting. Itu artinya seseorang harus menari menggunakan lututnya, dan ini memerlukan energi yang besar dari pinggang dan betis. Ini adalah gaya yang takkan pernah sudi kami pilih, karena bukan saja lututmu akan tergores, gaya ini pun akan menyebabkan seseorang rentan dengan cidera pinggang. Lagipula, tarian ini tak punya unsur estetika sedikitpun.
Salah satu alasan kenapa kami tak memilih gaya menari itu sebab dulu ini digunakan sebagai hukuman selagi kami masih menjadi trainee. Semua orang akan menonton orang yang sedang dihukum, dan biasanya orang yang dihukum itu akan kehilangan minatnya terhadap menari karena penghinaan ini. Beberapa bahkan ada yang berhenti menjadi trainee. Seringkali, itu merupakan motif utama dari hukuman itu sendiri. Hilang minat menjadi trainee sama artinya dengan debut bukan jalan mereka. Mereka yang memilih untuk lanjut maka akan sebodo amat soal repurasi, beban, cacian atau umpatan untuk mereka. Mereka akan menjadi lebih tekun, lebih kompeten dan memenuhi harapan perusaahan. Menjadi seniman yang andal sesuai dengan keahliannya.
Di antara kami berduabelas, hanya satu orang yang pernah menjalani hukuman ini. Dan dia adalah Zhang Yixing.
Di awal tahun 2010, pemilihan bagi kandidat yang cocok untuk boyband baru yang akan didebutkan perusahaan akan dimulai. Zhang Yixing, yang telah dipromosikan ke kelas unggulan menunjukkan perubahan signifikan—menjadi salah satu kandidat kuat pengisi posisi main dancer (penari utama). Walaupun persaingan ketat berlanjut, Yixing menjadi kandidat yang paling mungkin mengisi posisi lead dancer. Menyusul kemudian Kim Jongin karena faktanya perusahaan berencana mendobrak pasar hiburan Cina. Meski Yixing dua tahun lebih senior, bagaimanapun, banyak orang yang mengincar posisi sebagai penari utama.
"Dia bahkan tidak tampan. Bukankah itu hanya karena dia orang Cina?"
Aku mendengar kalimat itu saat aku dan Yixing sedang dalam perjalanan kembali ke asrama. Tapi akal kami mengatakan bahwa kami tak boleh melakukan kesalahan apapun pada waktu itu.
Kekurangan kami muncul di momen yang salah. Di malam akhir bulan Februari tahun 2010, aku menerima telepon dari pemimpin manajemen, memberitahuku untuk datang ke ruang praktik kecil di ruang tamu perusahaan di lantai tertinggi yang gunanya untuk melakukan pemeriksaan wajah yang legendaris. Selama pemeriksaan berlangsung, seluruh wajahku akan diakses serta dievaluasi sebelum diputuskan apakah aku perlu 'dipermak' sebelum debut.
Aku pergi melakukan pemeriksaan dengan perasaan kacau. Meski aku sangat menentang gagasan operasi plastik, aku masih berharap bahwa aku akan cukup beruntung untuk bisa melewati pemeriksaan itu dengan wajah asliku. Mungkin hanya akan ada beberapa hal trivial yang butuh penyesuaian.
Ruang tamu ini adalah salah satu yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Nihil orang yang menungguku, berbeda dari dugaanku. Kunyalakan lampu, aku melihat kamar mandi kecil, ruang tidur beserta kasurnya, serta sebuah ruang praktik mungil yang legendaris di dalam ruang tamu.
Mendekati ruang praktik tersebut, aku sadar bahwa terdapat cermin di segala sisi dan ada kamera terpasang di seluruh sudut. Suara aneh terdengar dari salah satu pengeras suara, memerintahkanku berputar 360o dan menunjukkan beragam ekspresi. Aku meluruskan kedua lengan, membungkuk, dan melakukan banyak hal lainnya yang diperintahkan.
Selanjutnya, suara itu menyuruhku menelanjangi diri sendiri. Melepas atasan serta jinsku, termasuk berpose sesuai yang diinstruksikan padaku tadi. Setelah menimbang-nimbang, kukatakan, "Maaf, saya permisi pergi ke kamar kecil dulu."
Kembali ke ruang tamu, aku mencoba membuka pintu tapi aku sadar bahwa aku telah terkunci dari dalam, sesaat setelah aku menutupnya tadi. Mencoba tenang, aku kembali ke kamar kecil yang di dalamnya ada kamar mandi. Aku menelepon satu kali—ke nomor Zhang Yixing.
Setelah memberitahukannya perihal keberadaan dan keadaanku, Yixing sampai di perusahaan. Sadar jika dia tak memiliki kunci pintu, dia menuliskan pesan, "Tangani sendiri dulu, jangan membuat mereka curiga."
Segera, setelah itu, dia memanjat dan naik ke ruang keamanan di lantai dua. Memecahkan kaca, mengambil seluruh kunci ruangan di bangunan ini. Ia membuka pintu dan membawaku kabur dengan cekatan.
Kami merahasiakan soal itu pada semua orang. Esok harinya, sebelum satpam nyaris melaporkan Yixing ke polisi dengan tuduhan menghancurkan properti publik dan mencuri kunci, pihak atasan menangguhkan permasalahan ini. "Kau tidak perlu memberitahu polisi," ucapnya, "suruh semua trainee berkumpul di ruang serbaguna."
Hari itu adalah hari yang cerah. Zhang Yixing mengaku di depan seluruh trainee jika dia mencuri kunci karena ingin memeriksa apakah dompetnya tertinggal di ruang latihan atau tidak. Walau alasannya tidak masuk akal untuk kenyataan bahwa kaca jendela ikut hancur, atasan tidak mempermasalahkannya lebih lanjut namun memberinya dua opsi untuk dipilih dengan wajah berseri. Dikeluarkan segera, atau menjalani hukuman menari dengan berlutut di atas mesin Dance Revolution.
Demikianlah. Yixing menyelesaikan hukumannya di bawah pengawasan seluruh trainee seniornya. Lutut yang tergores dan cidera pinggang abadi yang menyiksa adalah kenang-kenangan dari hukuman ini.
Berdiri di depan mesin menari, Sehun dan Luhan terdiam. Chanyeol melantur, "Ini sepenuhnya kesalahanku. Aku seharusnya tidak menuliskan undian semacam ini. Kocok ulang, kocok ulang!"
Bimbang sebentar, Luhan mengangkat kepalanya dan berkata, "Lupakan saja. Lagipula tujuan utamanya untuk membedakan antara pemenang dan pecundang. Ini akan menjadi cara yang paling efisien."
Sehun memandang Luhan, tersenyum. "Lagipula, tidak seorangpun dari kami pernah mencobanya sebelumnya. Sepertinya ini impas."
Melihat mereka berdua berlutut di atas permukaan mesin dan bersiap memulai pertandingan. Yixing berbaring di lantai, membuka kelopak matanya, "Lupakan dirimu," ucapnya pada Luhan dalam bahasa Mandarin.
to-be-continued
A/N:
Hai. Kita sampai di Chapter 8. Maaf baru sekarang bisa kasih penjelasan alih-alih chapter lalu-lalu. Pertama, 48 Hours diceritakan dengan sudut pandang orang pertama pelaku utama dan orang pertama yang 'tidak langsung terlibat'. Pendeknya, ini 'memang' terdiri dari dua perspektif; ada yang dari Kris, dan satu lagi dari seorang psikiater bernama Frank. Di chapter(s) awal kalian sudah "icip" POV!Frank, chapter berikutnya sampai (kalau gak salah) Chapter 12 nanti akan terus diceritakan dalam POV!Kris. Dua, timeline yang digunakan dalam cerita berlompatan karena di tengah-tengah narasi, Kris kerap menggambarkan flashback jaman dia dkk masih jadi trainee. Kadang akan membingungkan kalau membacanya kurang diperhatikan. But, just take your time. Gak perlu buru-buru mencerna per arc-nya. Alasan kenapa tidak ditulis italic karena fanfiksi orisinilnya pun seperti itu. Sepertinya si pengarang mau membuat kesan pengecoh krn tanpa sadar kita tidak akan terfokus mencari 'clue' yang tersembunyi dan terus mengalir, tiba-tiba chapter selesai. Tapi ... aku selalu ngasih 'garis' pembatas, kan. Kulakukan untuk memudahkan. ;) Tiga, sesuai judulnya, semua yang diceritakan dalam POV!Kris hanya terjadi selama genap dua hari (48 jam); mulai dari mereka sadar telah dijebak, sampe ngejalanin hukuman demi bisa bebas—sampe ngg, endingnya nanti. Itu bukan termasuk POV!Frank ya, soalnya karakter Frank ini 'orang luar'yang terlibat sebagai psikiater pasca Kris dkk lepas dari tragedi itu. Terakhir, cerita ini masih akan terus berlanjut dan berakhir di chapter duapuluhan—hampir tigapuluh. Belum ditambah Special!Chapter dan bagian Epilog. (Menurutmu, apa Az harus mentranslasinya juga? ._. Soalnya menurutku di sini titik balik masalah ketemu. ;_; Dan plot!twist kampret yang ngebikin gondok bakal ketahuan, haha.) Az agak lupa krn baca Eng!verse-nya dua tahun lalu, dan diperam lama semasa hiatus kemarin. Gomen, Az gak bisa janji perihal apdetan tapi aku juga bosan beralasan. Pokoknya Az cuma bisa bersyukur dan berterimakasih aja, readers sekalian masih bersedia nunggu dan baca. ^-^)/
Yah, perjalanan Kris dkk masih panjang dan semoga kalian tidak bosan sampai bagian Ending tiba. Kalau ada masukan soal translasiku yang pas-pasan mohon disampaikan untuk bahan belajar. Atau kalau masih ada yang mengganjal 'kenapa' dan 'kenapa' kalian bisa tanya langsung di kotak review.
Makasih banyak untuk yang setia ninggalin feedback-nya. :)
Bubye! Akan kuusahakan untuk lebih cepat saat mengapdet chapter selanjutnya.
(bocoran: Chapter depan bakal 'sedikit' mellow. Az sendiri masih suka baper kalo keinget. Haha. :v)
