Title : Please Stand Beside Me

Writer : Mimiso

Cast : Yunjae, Yoosu, Sichul

Rating : Family, Romance, Hurt, Mpreg...hehe...

Rating : M

Summary :

Kim Jaejoong melihat keanehan pada suaminya -Jung Yunho- akhir-akhir ini. Kemudian mencoba menyelidiki apa yang terjadi. Mampukah ia bertahan untuk selalu berdiri disamping suaminya saat ia mendapatkan penghianatan?

Disclaimer :

Cerita ini hanya fiktif belaka. Hasil imajinasi berlebihan dan hanya meminjam cast'nya saja.

Warning:

Typos, EYD belepotan, alur kacau, dll.

%%%%%

Jaejoong duduk gelisah di kursi tunggu depan ruang rawat Heechul. Ini sudah setengah jam sejak dokter Lee menangani Heechul. "Aish...lama sekali." Jaejoong mulai menghentak-hentakkan kakinya, kebiasaan lamanya kalau dia sedang resah. "Ada apa dengannya, kenapa tiba-tiba terjatuh. Padahal tadi baik-baik saja. Apa karena aku berkata kasar padanya." Ia kembali mengingat rentetan kejadian hari ini.

Jaejoong agak tersentak ketika tiba-tiba pintu yang dipandanginya terbuka, ia segera menghampiri dokter muda bername tag Lee Donghae itu. "Hae, bagaimana? Apa ada yang salah dengannya?"

Donghae masih memasang tampang tidak meyakinkan, "Saat ini keadaannya sudah stabil Hyung, kami sudah menanganinya dan menetralisir obat berbahaya didalam tubuhnya." Donghae diam sejenak, mencoba memilah kata-kata untuk menyampaikan analisanya pada Jaejoong. "Hyung, kenapa dia minum obat pengugur kandungan? Padahal aku tidak menemukan adanya janin dan seperti yang kita tahu, dia tidak memiliki rahim sepertimu. Aku heran, apa sebenarnya yang ada dipikiran Heechul Hyung."

Jaejoong terperangah, "O..obat pengugur kandungan?" mendengarnya saja ia begidik ngeri, secara reflek ia mengelus perutnya. "Tidak masuk akal. Heechul bukan tipe namja bodoh yang mau membahayakan hidupnya sendiri."

"Aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi nyatanya fakta berkata lain Hyung." Dokter muda itu memasukkan stetoskopnya pada kantung jas kebesarannya, sebelum melanjutkan perkataannya. "Sebenarnya pada yeoja hamil, obat ini akan bereaksi setelah empat jam atau lebih. Hanya saja, tubuh Heechul Hyung sangat sensitif pada benda asing yang bersifat negatif terhadap daya tahan tubuhnya. Jadi reaksinya hanya beberapa menit setelah racun itu tertelan." Donghae melanjutkan penjelasannya. "Kalau dari makanan yang tidak higienis, rasanya juga mustahil. Karena jenis racun ini berbeda dengan racun yang bisa diproduksi oleh bahan makanan, baik karena produk kimiawi yang masih menempel ataupun kesalahan saat pengolahannya."

Jaejoong segera menyadari sesuatu yang tidak beres, "Tadi kami makan bersama, dan kami bertukar minuman karena ia tak sengaja meminum minumanku." Otak Jaejoong dengan cepat mencerna potongan-potongan peristiwa yang dialaminya hari ini, tercenung mendapati kesimpulan bahwa dirinyalah target dari obat berbahaya tersebut. Jaejoong mengelus perutnya berulang -ulang, membayangkan apa jadinya kalau ia minum dari gelasnya tadi. Sedikit banyak ia memanjatkan rasa syukur, bukan bermaksud senang atas kemalangan yang menimpa Heechul. Hanya saja sepertinya Tuhan masih melindunginya dan bayinya. "Sepertinya ada yang ingin mencelakakanku Hae. Hanya saja kali ini sasarannya meleset."

"Sepertinya begitu Hyung. Tapi siapa orang itu? Kenapa dia sejahat itu ingin membunuh bayimu? Padahal bayimu belum tahu apapun." Donghae yang turut menganalisa kejadian yang menimpa Heechul menyimpulkan hal yang sama. Pasalnya, tidak banyak namja yang bisa hamil. Lalu kenapa ada yang memasukkan obat peluruh janin diminuman Heechul, padahal namja manis itu bahkan tidak memiliki rahim. "Apa kau mempunyai musuh Hyung?"

Jaejoong menggeleng, "Mollayo Hae. Aku tidak bisa memastikan."

.

.

.

.

.

SeungHeon tampak tekejut melihat Jaejoong menghampirinya di ruag kerjanya. Namja cantik itu terlihat garang dan siap meledak kapanpun. "Kenapa Joongie? Kau tidak sabar bertemu denganku lagi eoh?"

"Hyung, Chullie keracunan obat peluruh janin." Jaejoong menatap tajam ke mata SeungHeon, "Apa kau mengetahui sesuatu?"

SeungHeon terdiam sejenak, mencerna kata-kata Jaejoong, "Apa maksudmu Joongie? Kau menuduhku meracuninya. Aku tidak tahu apapun, lagipula apa itu obat peluruh kandungan? Memangnya dia itu yeoja hamil?" elaknya dengan meyakinkan.

"Bukan dia yang hamil Hyung, tapi aku. Dan Chullie jadi begitu setelah meminum minumanku. Kau yakin tidak mengetahui apapun?" Jaejoong bersikukuh.

"Mwo? Kau hamil Jae? Aku bahkan tidak tahu kalau kau hamil, bagaimana bisa aku merencanakan perbuatan sebejat itu?" SeungHeon berdiri, menyamakan tingginya denga Jaejoong.

"Benarkah? Aku meragukanmu. Kumohon hyung jangan mengangguku, tidak bisakah kita berteman secara normal. Aku sudah berhasil melupakan semua usahamu untuk memisahkanku dan Yunho dulu, dan berusaha berprasangka baik terhadapmu sekarang karena kupikir kau sudah berubah. Seharusnya kita mulai berteman dari awal." Jaejoong berlalu dari hadapan SeungHeon tanpa mendengar penjelasan namja tampan itu, sedikit membanting pintu tanpa peduli kalau SeungHeon adalah atasannya.

SeungHeon menghela napas, "Haahh~~, terlalu lama bersama Heechul membuatmu tertular sifat galaknya itu. Padahal kan aku memang tidak melakukan apapun."

%%%%%

"MWO...? Kalian ceroboh sekali, bisa-bisanya kalian kecolongan seperti ini. Hilang sudah kesempatanku yang berharga ini." seorang yeoja berteriak kepada seorang yang menghubunginya beberapa saat lalu dan mengabarkan kegagalan misi mereka.

'Maaf Nona, kami tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi.' balas seseorang dari seberang line.

"Aku tidak mau tahu, kesempatan berikutnya kalian harus berhasil."

Klik

"Ahh~~." yeoja itu merebahkan tubuhnya diranjang. "Kau tidak boleh bahagia kalau aku tidak bahagia Jae. Itu tidak adil. Kita dibesarkan bersama, tapi kenapa hanya kau dan Suie yang boleh bahagia. Aku akan membuat Yunho kembali padaku. Apapun yang terjadi." mata indah itu terpejam, setetes air bening meluncur dari sudut matanya. "Kau yang memulainya, kau merebutnya dariku Jae."

Yeoja itu kembali membuka matanya ketika ponsel disampingnya berbunyi, "Yeoboseo~."

'Apa kau sudah mulai menjalankan rencanamu?' suara tegas seorang namja.

"Hm, sudah. Tapi gagal." Yeoja itu menjawab lirih.

'Aku kan sudah mengatakan padamu untuk menggunakan cara yang aman, kenapa kau memasukkan obat berbahaya itu?' namja itu menghela napas menahan emosinya.

"Song SeungHeon, kau ini bodoh atau apa, hn? Kau ini kan dokter, seharusnya kau tahu ini cara teraman. Apa kau mau aku menculiknya lalu membawanya ke tempat praktek aborsi atau kau mau aku memukul perutnya sampai bayinya keluar." yeoja itu bangun, memijit pelipisnya dengan gerakan memutar. "Aku akan melakukan cara paling kejam kalau tidak mengingat pesanmu, jadi kau jangan terlalu banyak menuntutku pabbo. Biarkan aku bekerja dengan caraku sendiri."

Klik

Yeoja itu menutup sambungan tanpa menunggu jawaban, kemudian menonaktifkan ponselnya.

%%%%%

"Bagaimana Pak Choi? Apa ada perkembangan?" yeoja bersahaja yang tak lain adalan Ny. Jung tengah menerima tamu yang datang beberapa waktu lalu.

"Saya sedikit kesulitan untuk mengawasi Tuan Muda apabila beliau berada di rumah sakit. Itu karena Seoul Hospital ternyata berada dalam kekuasaan yeoja itu." Pak Choi yang merupakan orang kepercayaan Ny. Jung untuk mengawasi Jaejoong memberikan laporannya.

"Maksudmu ada pihak dalam yang bekerja sama dengan yeoja itu?" Ny. Jung mencoba mengkonfirmasi pernyataan orang kepercayaannya itu.

"Ne, sepertinya ada hubungan khusus antara kepala rumah sakit dengan orang yang ingin mencelakakan Tuan Muda. Oleh karena itu, dia jadi lebih leluasa bergerak dengan adanya dukungan yang sangat kuat tersebut. Saya minta maaf sebelumnya Nyonya, kepala rumah sakit itu adalah Tuan Song SeungHeon yang tak lain adalah keponakan Nyonya."

Ny. Jung tersenyum sinis, "Aku tidak terlalu kaget Pak Choi, sudah sejak kecil Yunho dan SeungHeon menjadi rival. Ahh~~ aku tidak menyangka sampai sekarang SeungHeon masih menganggap Yunho rivalnya. Aku ingat betul, betapa besarnya usaha SeungHeon untuk memisahkan Yunho dan Jaejoong. Keponakanku itu masih berambisi memiliki Jaejoong."

Hening sejenak, mereka terlarut dalam pikiran masing-masing. "Lalu langkah seperti apa yang bisa kita ambil Pak Choi? Kita tidak boleh gegabah, Joongie akan tetap terluka kalau kita melenyapkan yeoja itu begitu saja."

Pak Choi mengangguk membenarkan pernyataan Nyonyannya, "Kalau menurut saya, sebaiknya Tuan Muda segera mengundurkan diri dari pekerjaannya saat ini. Karena kami tidak bisa menduga rencana apalagi selanjutnya, setelah hari mereka untuk meracuni Tuan Muda gagal."

Ny. jung mengangguk, "Aku pikir juga begitu, kita harus menjauhkan mereka sementara waktu."

%%%%%

Yunho membereskan dokumen yang berserakan dimejanya, rencananya ia akan pulang cepat hari ini. Ia akan menjemput Jaejoong di tempat kerjanya. Salah satu usahanya hari ini untuk merebut perhatinan istrinya kembali, setelah segala usahanya beberapa hari ini gagal total. Baru saja ia menelpon Lee Ahjusi, mengabarkan pada Ahjusi itu untuk tidak menjemput Jaejoong. Bibir hati itu bersenandung kecil, sesekali senyum yang mampu meluluhkan hati setiap yeoja itu terkembang indah. Terselip doa dari hatinya, semoga usahanya hari ini tidak sia-sia.

Ponsel Yunho berbunyi, tak menimbulkan keterkejutan baginya. Hal ini sudah menjadi rutinitas ketika ia bersiap pulang, yeoja pengganggu rumah tangganya itu akan menghubunginya untuk meminta bertemu. "Yeoboseyo."

'Yun~~, bisakah kau datang? Aku bosan sekali hari ini. Temani aku ne, sebentar saja~~.' suara yang dihafalnya merengek manja.

"Kau tidak bosan bertemu denganku setiap hari Nuna?" Jawab Yunho ketus.

'Bagaimana aku bisa bosan melihat wajah tampanmu itu Yun. Rasanya menyenangkan setiap kau ada didekatku.'

"Mian Nuna, hari ini tidak bisa. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku yang terbengkalai karena kau terlalu sering memintaku menemanimu." Yunho berusaha menolak dengan melunakkan nada bicaranya.

'Bohong, kau akan menemui istrimu kan?' suara lembut dan manja yang beberapa detik lalu masih terdengar, kini berubah tajam dan penuh amarah.

"Kalau iya memanganya kenapa? Jaejoong kan istriku. Aku sudah banya melewatkan waktuku bersamamu sampai mengabaikan Jejoong akhir-akhir ini." Yunho balas membentak yeoja itu, kesabarannya sudah mencapai batas kali ini.

'Baiklah, lakukan saja semaumu. Dan kau akan terkejut melihat apa yang bisa kulakukan.' ancam Yeoja itu, kemudian mematikan sambungan secara sepihak.

Yunho menghela napas, "Mengganggu."

%%%%%

Heechul terbangun beberapa menit yang lalu. Hal pertama yang diingatnya adalah pertengkarannya dengan Jaejoong hingga ia merasakan pusing dan mual yang hebat dalam waktu singkat dan tiba-tiba. Ia bahkan tidak pernah merasakan sakit seperti itu. 'Mungkin aku keracunan makanan' pikirnya.

Brakk...

"Chullie, kau tidak apa-apa kan?" Jaejoong menghampiri Heechul tergesa.

"Omo~~, kau mengagetiku Jae. Aku tidak apa-apa. Hanya saja masih sedikit pusing dan mual." ujar Heechul.

"Syukurlah~~. Kau membuatku khawatir tahu." Jejoong mendudukkan diri di kursi yang berada di samping ranjang Heechul.

"Memangnya ada apa denganku Jae? Bukannya aku hanya keracunan makanan?" Heechul mendudukkan dirinya.

"Emm~, i..itu k-kau meminum obat peluruh janin." cicit Jaejoong.

"Kau bilang apa Jae? Aku tidak bisa mendengarnya." Heechul mendekatkan telinganya.

Jaejoong semakin menciut, "Kau meminum obat peluruh janin." bisiknya tak kalah lirih, namun telinga Heechul mampu menangkapnya.

"Mmwwoya...Arrggghhh~~," Heechul menutup wajahnya dengan selumut. "Itu sungguh menggelikan, argghh Joongie, aku bahkan tidak hamil. Aish..." mengacak rambutnya dengan brutal.

Jaejoong ngeri melihat reksi berlebihan sahabatnya itu. "Ya, kau bisa bersikap wajar atau tidak sih Chullie?"

"Tapi itu memalukan Joongie~~."

Jaejoong memutar bola matanya jengah, "Yang penting kau sudah selamat sekarang. Dan terima kasih sudah menyelamatkanku Chullie."

Heechul baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi, "Jadi, ada yang ingin mencelakaimu?"

"Ne, dan kau menyelamatkan kami dengan meminum minumanku. Bwahaha~~," Jaejoong tak kuasa menahan tawanya melihat ekspresi sahabatnya itu. "Wae Chullie, kenapa mukamu seperti itu hah?"

"Jadi ini semua terjadi karena aku menyelamatkanmu? Kau berhutang padaku Jung." Namja cantik yang dijuluki Cinderella tersebut mengacungkan kepalan tangannya seolah mengancam sahabatnya.

"Ne~, aku sangat berterima kasih. Aku tidak akan mampu membayar hutang budiku padamu. Gomawo Chullie." Jaejoong memeluk pundak Heechul membuat sahabat bermulut pedasnya itu tersenyum dan mengelus tangan Jaejoong dipundaknya.

.

.

.

.

.

Tok..tok..

"Boo~, kau didalam?" Yunho mengetuk pintu ruang rawat Heechul.

Tak berapa lama kemudian Jaejoong membuka pintu dan kembali memasang wajah datarnya. "Kenapa kau ada disini?"

Yunho mencelo mendengar kata-kata sedingin es dari bibir istrinya, "Aku ingin menjemputmu." Jaejoong mendengus, "Tapi aku juga ingin menjenguk Heechul Hyung, aku tadi menanyakanmu pada seorang suster. Dan aku tahu darinya kalau Heechul Hyung sedang sakit." Yunho buru-buru menambahkan alasannya sebelum istrinya yang sedang mengalami mood swing ini menutup pintunya.

"Ish, kau memang pandai bersilat lidah." Jaejoong masuk kembali diikuti Yunho yang terlihat girang dibelakangnya.

"Heechul Hyung, kau kenapa?" Yunho menyapa Heechul dengan heboh.

"Omo~~, kenapa kau kesini Jung? Ahhh~~ aku benar-benar kesal, rasanya ingin mematahkan seluruh tulangmu." Yunho melongo mendapati kedua namja cantik ini mengalami mood swing secara bersamaan.

"A..Aku ingin hanya ingin menjemput Joongie Hyung. Kenapa kau tiba-tiba marah padaku? Padahal aku kan baru datang." Yunho mencoba membela diri.

"Ya sudah, sana bawa istrimu pulang. Aku kesal melihat mukamu itu." Tanpa basa basi Heechul mengusir sepasang suami istri ini.

"Yak, kau mengusirku Chullie?" Jaejoong memajukan bibirnya, membuat Yunho meneguk salivanya dengan payah. "Ini semua gara-gara kau Yun," Jaejoong menghentakkan kakinya, "Ini gara-gara kau Yun, aku kesal padamu."

Yunho kembali dibuat terheran-heran dengan tingkah istrinya, "Yak, Jae tunggu aku." Yunho mengejar Jaejoong setelah sebelumnya menucapkan salam pada Heechul.

.

.

.

.

.

"Jae~~." Yunho menyusul istrinya yang sedang merapikan mejanya untuk bersiap pulang.

"Pulanglah Yun, Lee Ahjuma akan menjemputku." Jaejoong tidak menoleh kepada suaminya.

"Aku sudah bilang pada Lee Ahjuma untuk tidak menjemputmu." Yunho meringis licik menggoda istrinya.

"Kalau begitu, aku naik taksi saja." jawab Jaejoong dengan tenang.

"Andwe... kalau ada aku, kenapa kau harus naik taksi? Ayolah Jae, pulanglan bersamaku." Yunho mengeluarkan jurus mautnya yang tak pernah gagal untuk merayu Jaejoong. Terlambat, Jaejoong sudah meninggalkannya dan berjalan keluar ruang kerjanya.

"Yak, tunggu Jae..." Jaejoong berusaha tak mendengar permintaan suaminya, sedangkan Yunho mengikuti istrinya masih berusaha membujuk namja cantiknya sepanjang koridor rumah sakit hingga keluar dari lobby utama.

"Jae, kumohon sayang. Ayo pulang denganku, sekali saja." Jaejoong tetap tidak menggubris. "Jae~~," Yunho menangkup wajah istrinya agar melihat wajahnya. "Pulang denganku ne?" Tanpa diduga setelah hampir putus asa, Jaejoong menganggukkan kepalanya membuat hati Yunho melonjak kegirangan. "Tunggu disini ne, aku akan mengembil mobil dulu." mengecup kening Jaejoong dengan semangat sebelum berlalu meninggalkan Jaejoong.

Belum seberapa jauh Yunho melangkahkan kakinya, telinga tajam Yunho mendengar bunyi klakson cukup keras sehingga membuatnya menoleh. Sebuah mobil melaju kencang kearah istrinya, sedangkan Jaejoong hanya terpaku gugup memejamkan matanya.

"JAE..." Yunho berbalik berlari menubruk tubuh Jaejoong. Dapat. Tubuh keduanya berguling kesamping. Yunho merasakan darah mengalir dari belakang kepalanya. Ia mendongakkan kepalanya, berusaha mengingat plat mobil pengemudi yang hampir menabrak Jaejoong.

'Itu memang bukan mobilmu, tapi aku yakin itu kau. Ahra Nuna.'

"Yun~," Yunho baru sadar posisinya kini yang berada diatas tubuh Jaejoong. "Kau tidak apa-apa?" Jaejoong menyeka darah yang sudah hampir mengenai mata Yunho. Yunho menyadari tangan Jaejoong bergetar diwajahnya. Ia mengamati wajah istrinya yang pucat, tak lama Jaejoong terlihat mengernyit dan menggigit bibir bawahnya. Yunho segera menyingkir dari Jaejoong, merengkuh tubuh mungil itu. Matanya membulat tatkala melihat darah yang sudah menggenang dibagian bawah tubuh istrinya.

"Jae,"

TBC

Annyeong...

ini cepet kan updatenya...

buat yg nanya kok flashbacknya lama...ini karena saya memilih alur mundur...sehingga menceritakan kejadian masa lalu cinnn...

mian yg nungguin saya lama update...mian chap ini saya nulis g ada fell...mian mengecewakan...mian g diedit dan banyak typo...

gomawo yg udh baca, fav, follow, n review...

saya berangkat kul dulu,...udah telatttt...

chingudeul gomawoyo saranghaeyo...