THE SECRET

.

.

.

.

.

CHAPTER 10

.

.

.

.

.

Cast : Kim Jongin

Oh Sehun

Oh Kyungsoo ( Ganti marga buat keperluan peran kekeke )

Genre : Drama, Romance

Rate : T

HAPPY READING

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter sebelumnya

" Aku tidak percaya dengan tindakanku – tindakan kita. Aku langsung panik. Aku tahu kau akan marah. Dan meskipun pekerjaanku tetap dipertahankan, kurasa aku tidak akan pernah sanggup menghadapimu lagi. Aku harus keluar dari ruang rapat itu. Jadi aku alri. " jawab Sehun.

" Kau pikir aku akan memecatmu? "

" Aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan. Aku tidak punya cara untuk mengetahuinya. Aku hanya tahu kau tidak akan senang kalau tahu pria yang kau rayu di ruang rapat hanyalah aku. " Jelas Sehun.

Hanyalah aku. Memang Sehun dulu bukan tipe pria yang akan membuat Jongin tertarik. Tapi, astaga, apa Sehun tahu malam malam yang Jongin habiskan tanpa tidur karena memikirkan kekasih misteriusnya?

Kemudian ada perjalanan ke Amerika. Saat itu Sehun mulai terlihat berbeda. Pakaiannya, rambutnya bahkan dia melepas kacamatanya. Sejak perjalanan itu, Sehun menjadi pria yang berbeda. Pria yang lebih seksi dan Jongin menyampaikan hal tersebut terang terangan malam itu di kamar Sehun. Dan Sehun lah yang menolak Jongin malam itu.

Jongin menginginkan dua pria yang berbeda hanya untuk mengetahui kedua pria itu selama ini orang yang sama. Tentu itu berarti sesuatu, bukan? Jongin ingin mengulurkan tangan kepada Sehun, meredam ketakutannya dan meyakinkan Sehun bahwa ia sungguh sungguh menginginkan Sehun tapi Jongin tidak siap melakukan itu.

" Berapa lama kau akan menunggu memberitahu ibumu tentang bayi ini? " Tanya Jongin.

Sehun memandang Jongin, matanya cekung dan kulitnya pucat. " Kurasa mungkin beberapa bulan lagi, hanya memastikan. Saat itu aku pasti sudah melewati masa masa kritis. "

" Kita akan merencanakan pernikahan dalam satu bulan ini, kalau begitu. Kita dapat memberitahunya bersama sama. " Ucap Jongin.

Kepala Sehun tersentak. " Kau masih berencana melakukan ini? Kau masih ingin menikahiku? "

" Kau tidak punya pilihan. Ibumu sudah diberitahu dan aku tidak mau menjadi pihak yang mengecewakannya. Kau mau? " Tanya Jongin.

Sehun menunduk memandangi beranda. Ia tidak mungkin menyakiti ibunya – Jongin tahu itu – Sehun langsup terperangkap kesepakatan pernikahan ini begitu masuk ke pintu rumahnya tadi.

Tapi jika Jongin berpikir Sehun telah terperangkap, itu bukan karena apa yang Jongin rasakan ketika mengetahui kenyataan sebenarnya. Jongin bersikeras menikahi Sehun agar memiliki kuasa atas anak mereka dan pola pengasuhannya. Dan Jongin berharap ia juga bisa menguasai hati Sehun.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 10

Aku telah menikah. Namaku bukan lagi Oh Sehun. Sekarang namaku Kim Sehun, istri Kim Jongin. Cincin pernikahan yang di berikan Jongin tersemat di jari Sehun.

Teringa Park, properti Jongin di luar kota menjadi lokasi sempurna untuk melangsungkan pernikahan. Tenda besar telah didirikan di pekarangan berumput yang luas. Kain putih digantung longgar di sepanjang serambi rumah berdinding batu tua dan mengayun pelan di tiup angin sepoi sepoi. Balon gas berwarna kuning keemasan diikat menjadi kumpulan besar dengan tali dan pita, ditata di sekeliling taman di antara mangkuk mangkuk berisikan mawar aprikot yang harum.

Acara pernikahannya berlangsung singkat, walaupun tamu yang hadir sangat banyak mengingat anggota keluarga yang sedikit. Tapi jelas Jongin bukan tipe pria yang melakukan sesuatu dengan setengah setengah. Orang orang terkenal dari kalangan selebritas Korea hadir bersama serombongan reporter tabloid dan semua orang ingin bertemu dengan pria yang sangat beruntung itu karena mampu menjerat salah satu lajang paling diminati di Korea.

Pada penghujung hari, Sehun merasa sangat letih, baik secara emosional maupun fisik, stres dan ketegangan hari itu menyelubunginya. Sehun menoleh ke arah Jongin, pria yang sekarang menjadi suaminya.

Sehun memiliki suami yang sempurna – kaya, berpendidikan, luar biasa tampan. Hampir semua tamu mereka iri dengan Sehun jika melihat ekspresi dari para tamu. Sehun punya segalanya, atau itulah yang mereka pikir.

Aneh betapa hampa perasaanmu ketika kau seharusnya memiliki segalanya. Aneh betapa hal hal yang tampaknya diinginkan semua orang nyatanya tidak berhasil mengisi kekosongan dalam diri Sehun, kekosongan yang tidak akan pernah dapat dipenuhi dengan kemewahan belaka dan pernikahan yang di bangun di atas kekuasaan.

Satu satunya sumber kebahagiaan Sehun adalah ibunya. Ibunya duduk di teras yang rindang menyaksikan seluruh proses, tidak mampu menahan senyuman di wajahnya. Ibunya tampak cantik mengenakan gaun sutra biru yang secara khusus di pilih Jongin, gaun yang dengan sempurna memperindah kulit pucat dan rambut berombaknya yang baru tumbuh lagi.

Jongin benar. Meskipun kabar tentang kehamilan Sehun memang akan membahagiakan sang ibu, mengetahui Sehun menikah dan cucunya akan dibesarkan dalam keluarga dengan orang tua lengkap, membuat ibunya tambah berbahagia. Wajah sang ibu yang berseri seri belum apa apa sudah membuat pernikahan yang dipersiapkan dengan terburu buru ini layak dijalani.

Tapi yang membahagiakan bukan hanya penampilan Ibunya. Melainkan juga kesehatannya yang semakin membaik. Bahkan para dokter sangat takjub dengan perubahan mendadak itu, kondisi ibunya kian stabil dan rasa sakit yang semakin berkurang.

Sehun memperhatikan saat Luna membawakan segelas minuman dingin untuk ibunya. Jongin berhasil memanggil kembali perawat yang dulu pernah merawat ibunya saat dia pergi ke Amerika dan mempekerjakannya sebagai pekerja tetap. Sehun kembali melirik Jongin, ia masih tidak percaya Jongin sudah menjadi suaminya.

Jongin telah melakukan segalanya untuk membuat hidup Ibunya lebih nyaman. Ibunya dan Jongin seperti memiliki hubungan yang menyenangkan, persahabatan yang tulus dan Sehun tahu ada kehangatan dan ketulusan dari Jongin. Jongin melakukan itu bukan karena sebuah kewajiban belaka.

Apakah Jongin telah berubah? Apakah ada kemungkinan aku juga akan menikmati kehangatan Jongin? Pikir Sehun.

Beberapa minggu terakhir ini, Jongin agak menjauh, fokus pada pekerjaan sementara persiapan pernikahan membuat Sehun sibuk. Rasanya seolah, setelah kini Sehun menjadi istrinya, pria itu tidak membutuhkannya lagi.

Tapi apakah ada kemungkinan bahwa suatu hari nanti cintaku akan berbalas? Apakah ada kemungkinan pernikahan ini akan memiliki arti lebih bagi Jongin dan bukan hanya untuk mengendalikan pengasuhan anaknya? Pikir Sehun.

Tangan Jongin menggenggam tangan Sehun dan menyadarkan Sehun dari lamunannya. Sehun mendongak menatap Jongin.

" Apa aku sudah mengatakan kau terlihat cantik hari ini? " Goda Jongin.

" Aku tampan, Jongin. " Sehun merasa wajahnya merona.

Jongin meremas tangan Sehun dan tersenyum saat tamu terakhir beranjak pergi. " Aku punya sesuatu untukmu. Ayo ikuti aku. " Ucap Jongin sambil menarik Sehun untuk mengikutinya.

Senja menjelang dan hari sudah mulai gelap. Luna sudah mengajak ibu Sehun masuk ke rumah saat terik matahari musim panas di gantikan hawa hangat sore dan angin semakin dingin.

Sehun balas tersenyum pada Jongin. " Ayo. " Ucap Jongin.

Jongin berjalan mengitari rumah, langkah kaki mereka bergerak menuju garasi. Dahi Sehun berkerut. Di sana terparkir mobil sport kuning keemasan.

Apa seseorang meninggalkan mobilnya disini? Tunggu, ada hal lain – Mobil itu diikat dengan tali dan pita besar. Pikir Sehun.

Sehun mendongak ke arah Jongin, bingung. Jongin hanya membalas tatapan Sehun dengan sorot mata penuh tanda tanya.

" Apa kau menyukainya? " Tanya Jongin.

" Apa kau menyukainya? " Ulang Sehun. Jongin pasti bercanda. " Maksudmu... ? Maksudmu, ini milikku? " Sehun berpaling dari Jongin ke mobil lalu kembali lagi memandang mobil itu.

Jongin mengangguk dengan cepat. " Anggap ini hadiah pernikahan. "

Sehun memikirkan sedan tua ibunya yang ia gunakan untuk berbelanja dan ketika mereka berjalan jalan. Sungguh berbeda dengan mobil yang diberikan oleh Jongin. " Aku tidak yakin, aku mampu mengendarainya. "

" Aku akan mengajarimu. Mulai besok. " Jongin menarik sesuatu dari sakunya, kunci yang terikat pita satin. Jongin mengalungkannya ke leher Sehun, lalu tangannya memegang bahu Sehun.

Sehun memandang Jongin, satu tangan memainkan kunci, terpesona dengan sikap Jongin sekaligus merasa bersalah karena tidak terpikir untuk memberi Jongin hadiah.

" Tapi aku tidak menyiapkan apa apa untukmu. " Ucap Sehun.

Jongin menarik Sehun mendekat agar debar jantungnya terhubung dengan jantung Sehun. " Aku akan mengambil hadiahku... " Kepala Jongin menunduk kemudian mencium bibir Sehun, " ... malam nanti. Tapi untuk sementara ini, sudah waktunya kau mengucapkan selamat malam kepada ibumu. Sudah waktunya dia tahu tentang kabar kehamilanmu. "

.

.

.

.

.

Kyungsoo tengah beristirahat di ruang duduk. Wajahnya berseri seri saat Jongin dan Sehun memasuki ruangan, keceriaan di wajahnya semakin meyakinkan Sehun bahwa setidaknya demi sang ibu ia telah mengambil langkah yang benar hari ini.

" Hari ini sangat sempurna, " Kata Kyungsoo saat Sehun dan Jongin menunduk untuk menciumnya. " Pernikahan yang sungguh indah. Terima kasih karena membuatku begitu bahagia. "

Jongin tersenyum. " Kami punya berita lain kalau kau tidak terlalu lelah untuk mendengarkan. "

Kyungsoo menggeleng. " Ini memang hari yang panjang dan aku akan tidur sebentar lagi, tapi aku belum mau mengakhirinya. Walaupun aku tidak tahu berita apa yang akan kalian katakan nanti yang dapat melampaui kegembiraanku hari ini. "

Jongin memandang Sehun dan mengangguk, membiarkan Sehun yang menyampaikan berita tersebut. Sehun duduk di samping ibunya dan menggenggam erat tangan ibunya.

" Ibu, " panggil Sehun, memandangi wajah ibunya dengan seksama.

" Ini mungkin akan terdengar sangat mengejutkan. Kami akan punya anak. Aku hamil. " Ucap Sehun.

Kyungsoo menarik tangannya dari genggaman Sehun dan menangkup mulutnya yang menganga, matanya membelalak kaget.

" Oh ! " Dan detik berikutnya, mata lebar itu berkaca kaca. " Ini luar biasa. Sungguh luar biasa. "

" Kau tidak kecewa? Kami bertindak terburu buru sebelum menikah. " Ucap Jongin.

Kyungsoo menghapus air matanya yang mengalir. " Mengapa aku harus kecewa? Dan apa kaupikir aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta setengah mati kepada seseorang sehingga tidak bisa menunda melakukan itu sampai hari pernikahan. Ingat, aku juga pernah muda dan mabuk kepayang pada seseorang. "

Jongin bisa saja menyanggahnya – ia tidak tahu apa apa soal cinta dan cinta tidak ada hubungannya dengan bagaimana bayi mereka terbentuk tapi sekarang bukanlah saatnya mendebat. Lagipula, ia merasakan sesuatu terhadap Sehun, bukan? Jongin menginginkan Sehun, diatas dan diluar ranjang dan mengetahui Sehun sekarang adalah miliknya, mengetahui Sehun terikat padanya, rasanya sungguh memuaskan melebihi apapun...

Tapi itu tidak sama dengan cinta...

Jongin memperhatikan Kyungsoo mengamati putranya, mata wanita itu tiba tiba terlihat lebih hidup di banding biasanya, Kyungsoo memeluk Sehun. Sehun tertawa keras melihat respon ibunya terhadap kabar bayi mereka.

Tawa bercampur dengan tangis saat mereka berayun bersama dan selagi memperhatikan mereka, Jongin merasa napasnya tercekat, seolah sesuatu telah dibebaskan dari hatinya.

Sehun dan Jongin saling menatap lalu Sehun memberikan senyuman yang tulus, membuat ruang di hati Jongin terasa bahagia. Jongin merasakan kepuasan mendalam dan kebanggaan.

" Aku tidak percaya ini, " Ucap Kyungsoo, melepaskan Sehun namun tetap menggenggam tangannya. " Ingat janji yang kau ucapkan kepadaku? Tindakanmu membuat janji itu saja sudah sangat berarti, tapi aku tidak pernah sekalipun menyangka kalau akan mewujudkan janjimu. "

" janji? Apa yang kalian bicarakan? " Jongin beralih, menyadari punggung Sehun menegang.

" Oh itu, Itu tidak berarti lagi sekarang. " Jawab Sehun dengan gugup berusaha menertawakan hal itu, mata Sehun menghindari Jongin.

" Tidak berarti? " Tanya Kyungsoo. " Bagaimana itu bisa tidak berarti kalau anakmu menjanjikan sesuatu yang kau pikir hanya dapat terwujud dengan keajaiban tapi kemudian dia menjadikannya kenyataan? Ini sungguh sungguh keajaiban. "

" Apa yang dijanjikannya kepadamu? " Tanya Jongin pada Kyungsoo.

" Jongin, " Panggil Sehun sambil menarik tangan Jongin. " Ibu kelihatan lelah. Aku akan menceritakannya kepadamu nanti. " Bujuk Sehun.

" Sehun terdengar seperti anak yang hebat. Katakan apa yang membuat pengantinku ini begitu istimewa, Kyungsoo? Apa yang dijanjikannya kepadamu? " Kata Jongin, mengabaikan usaha Sehun menghentikan dirinya.

Kyungsoo menepuk tangan Jongin, matanya berkaca kaca.

" Well, hal itu terjadi setelah Taehyung tewas dalam kecelakaan mengerikan tersebut. Aku sangat bersedih karena kehilangan cucuku. Aku benar benar merindukan cucuku. Aku ingin memeluknya lagi, mencium pipi lembutnya atau merasakan tangan kecilnya memegangi jemariku... "

Jongin meraih tangan Kyungsoo dan meremasnya, merasa takut dengan kelanjutan perkataan Kyungsoo.

Kyungsoo meneguk ludah dan menoleh ke arah Jongin. " Ketika aku mengetahui kankerku sudah parah, kupikir aku tidak punya kesempatan memeluk cucu lagi. Baekhyun sudah tidak bisa melahirkan lagi, karena rahim Baekhyun sudah di angkat. Sehun tahu betapa sangat berarti bagiku memiliki seorang cucu lagi. Sehun membuat janji bahwa dia akan memberikan aku cucu lain. "

" Sehun berjanji akan melakukan segalanya untuk membahagiakanku dan bahwa aku tidak akan pergi sebelum menggendong bayinya. " Lanjut Kyungsoo.

" Dia berkata akan melakukan – segalanya? " Jongin mengarahkan kalimat setengah bertanya setengah berkomentar itu kepada Kyungsoo, namun matanya mencari cari jawaban di wajah Sehun, menunggu Sehun menyangkalnya tapi sorot takut di mata Sehun menunjukkan dia tidak sanggup melakukannya.

" Ya. " Kyungsoo tergelak tidak menyadari ketegangan mendadak yang kini memercik di antara pasangan pengantin baru itu.

" Aku tidak tahu apa yang direncanakan Sehun. Kupikir ketika pernikahanhya dengan Kris gagal kesempatan itu sudah tidak ada lagi, tapi berkat keberuntungan, kaupun muncul . " Ucap Kyungsoo.

" Berkat keberuntungan. " Suara Jongin datar dan dingin.

" Aku adalah wanita tua yang paling beruntung. Sekarang aku harus istirahat. Jadi, aku permisi dulu... "

" Aku akan mengantar ibu ke kamar, " Sehun menawarkan diri, lega bisa sejenak menghindari tatapan menuduh Jongin tapi Ibunya menolak.

" Tidak ! Luna bisa menjagaku. Lagipula, ini malam pernikahanmu. " Tolak Kyungsoo.

Kyungsoo mengucapkan selamat malam dan pergi bersama Luna. Begitu mereka meninggalkan ruangan, Sehun berbalik, berusaha menyerang Jongin terlebih dahulu.

" Jongin, ini tidak seperti kedengarannya. Kita harus bicara. " Bujuk Sehun.

Tanpa memandang, Jongin berjalan melewati Sehun keluar ruangan, membuat Sehun mengejarnya. Sehun tersandung sandung di sepanjang koridor saat mengejar Jongin. Jongin memasuki ruangan yang seharusnya menjadi kamar mereka berdua, kamar utama yang sangat besar, didominasi tempat tidur besar.

Tapi Jongin seolah tidak menyadari keberadaan tempat tidur itu. Jongin langsung menghampiri lemari, mengeluarkan koper kulit dan mulai memasukkan beberapa barang yang di bawanya.

" Apa yang kau lakukan? " Tanya Sehun.

" Memang kelihatannya bagaimana? Aku mau pergi. " jawab Jongin.

" Jongin. Kumohon Jongin ijinkan aku menjelaskannya. " Bujuk Sehun.

" Menjelaskan apa? "

" Itu tidak seperti yang kaudengar. " Jawab Sehun.

" Tidak? Maksudmu kau tidak pernah membuat janji itu kepada ibumu? " Jongin mengerutkan alisnya.

" Ya, aku membuat janji itu, tapi bukan berarti _ "

" Kau tidak mengatakan bersedia melakukan segalanya? " Potong Jongin.

" Jongin, bukan itu intinya. "

" Bukankah iya? Kau berjanji melakukan segalanya untuk memberi ibumu cucu. Ketika hubungan dengan Kris menjadi kacau, kau harus mencari cara lain untuk memenuhi janjimu, secepat mungkin. Dan kau menemukan solusinya pada diriku. " Ucap Jongin.

Jongin berjalan melintasi ruangan dengan langkah panjang penuh tekad memasuki kamar mandi. " Apa yang dikatakan ibumu? " Lanjutnya sambil memasukkan peralatan mandi ke dalam tas.

" Berkat keberuntungan, kau pun muncul. " Desah Sehun. " Tidak, Jongin, keadaannya bukan seperti itu. Aku pernah menjelaskannya padamu. "

" Benarkah? Sepertinya kau melupakan bagian terbaik. Kau meninggalkan bagian tentang tekad memiliki bayi. Bayi seseorang, Bayi siapa saja. Malam itu di pesat topeng, kau di sana bukan karena ada kau. Kau menjaring pendonor sperma. " Kalimat Jongin menghunjam Sehun begitu dalam sampai Sehun tidak bisa merespon.

Kejadiannya tidak seperti itu. Batin Sehun.

" Ya, Tuhan, " Lanjut Jongin. " Ketika kupikir aku hampir mempercayaimu. Kupikir kau hanya ingin merahasiakan tentang bayi ini. Kau pasti berpikir memilikiku pasti hal yang sangat menguntungkan. Kau akan mendapatkan bayi sekaligus uang. "

Jongin mendongak untuk memandang Sehun. " Anak yang luar biasa tapi istri yang buruk. " Jongin menarik ritsleting tas sambil menggeleng geleng.

" Jongin, itu tidak benar. Kau harus mendengarkanku. Kumohon. "

" Mengapa aku harus mendengarkanmu? Kau telah membohongiku sejak kita bertemu. Dalam setiap hal, kau menyembunyikan kebenarannya, berpura pura menjadi orang lain, perjaka yang pemalu, anak yang patuh. Well, kenyataannya kebenaran sudah terbongkar. Kau tidak pemalu ataupun patuh. Kau suka memanipulasi dan licik untuk mendapatkan keinginanmu. " Tuduh Jongin.

" Aku tidak pernah berpura pura menjadi orang lain, apalagi perjaka pemalu. Aku tidak pernah berkata begitu. " Bantah Sehun.

" Tidak? Kau tidak perlu mengatakannya. Setelan setelan jas longgar. Kacamata besar. Aku terlihat seperti tikus kecil pemalu tapi sebenarnya kau tengah menyusun siasat layaknya tikus. " Tuduh Jongin lagi.

" Apa sekarang kau menyalahkan pakaian pakaianku atas apa yang terjadi? Dengarkan dirimu sendiri, Jongin. Kata katamu benar benar tidak masuk akal/ " Balas Sehun.

" Mungkin tidak, tapi setidaknya sekarang aku tersadar. Aku melihat hal hal yang seharusnya kuketahui dari dulu. " Jongin menyampirkan tas di bahu dan dengan marah berjalan melintasi ruangan menuju pintu.

" Kau mau pergi kemana? " Tanya Sehun.

" Kemana saja asal tidak ada kau. " Jawab Sehun.

" Tapi kau tidak bisa pergi, tidak sekarang. " Mohon Sehun.

" Kenapa tidak? Kau sudah mendapatkan keinginanmu,. Bayi, suami, tempat yang akan menjamin ibumu nyaman dan dijaga dengan baik. Kau telah memenuhi janjimu. Kau tidak membutuhkan aku lagi. " Ucap Jongin.

" Itu tidak benar. Aku membutuhnkanmu. " Bantah Sehun.

Jongin menoleh dan menatap Sehun dengan sorot mata menghina selagi berjalan ke arah garasi. " Mengapa? Apa kau sudah membuat janji lain yang tidak kau katakan padaku. "

" Tidak ! Aku tidak mempunyai janji lain. Tapi aku membutuhkanmu, Jongin. Aku... Aku mencintaimu. " Ucap Sehun.

Jongin terpaku di pintu garasi, tangannya memegang pembuka pintu dan kepalanya menunduk saat pintu besi tertarik keatas dan membuka.

Napas Sehun tersengal, jantungnya berdebar kencang saat menunggu respon Jongin, respon apapun.

Ketika pintu sudah cukup terbuka, Jongin melangkah masuk dan menuju sisi BMW hitamnya, melemparkan tasnya kemudian berbalik, postur tubuhnya membeku, matanya dingin dan keras.

" Aku kecewa, Sehun. Bagi pria yang sudah berjuang keras agar hamil, aku mengahrapkan sesuatu yang lebih kreatif daripada itu. Kau kehabisan ide? " Tanya Jongin.

Jongin menunduk untuk masuk mobil, lalu memutar kunci, menayalakan mobilnya. Sehun berlari ke sisi mobil saat Jongin menarik pintu hingga menutup, suara Sehun meninggi untuk melampaui deru mesin.

" Jongin, itu kenyataannya. Dan meskipun kau tidak menginginkan dan tidak membutuhkan cintaku, tapi kau telah mendapatkannya. Aku tidak berbohong, Jongin. Aku benar benar mencintaimu. " Teriak Sehun.

Jongin menekan kopling, satu tangan di kemudi, tangan lainnya di tongkat persneling.

" Jangan repot repot, Sehun. Itu tidak tetap sulit untuk mengubah keadaan, meskipun seandainya aku sungguh mempercayaimu. " Ucap Jongin.

Jongin menjalankan mobilnya keluar dari garasi. Sehun tersentak mundur ketika mobil itu berjalan pergi.

" JONGINNNN ! " Teriak Sehun tapi Jongin sudah pergi dalam kepulan asap dan derum keras suara mesin.

Jongin tidak bisa pergi, tidak seperti ini ! Dia harus mempercayaiku. Tapi bagaimana caranya? Pikir Sehun. Sehun mengedarkan pandangannya. Matanya melihat ke arah mobil mercedes berpintu dua yang masih terparkir di luar garasi, pita emas besar masih mengikat di sekelilingnya. Sehun menyentuh kunci di lehernya, kunci yang telah digantungkan Jongin.

Jongin pasti menuju apartementnya. Sehun harus menjelaskan, melenyapkan keresahan Jongin dan membiarkan Jongin menarik kesimpulannya sendiri malam ini.

Sehun memandangi mobil itu. Ia belum pernah mengendarainya dan mobil ini sangat berbeda dengan sedan tuanya, tapi inikan hanya mobil. Dan sekarang, mobil ini satu satunya harapan Sehun.

Sehun menarik kunci yang tergantung di lehernya saat berjalan menujuj mobil. Dengan dua kali tarikan, pita besar di mobil terlepas dan menjutai ke tanah. Sehun membuka pintu dan memasukkan dirinya ke belakang kemudi. Sehun perlu beberapa detik untuk membiasakan diri dengan sederet tuas pengendali. Kemudian Sehun memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin.

Mobil sport itu mengeluarkan suara yang menunjukkan kualitas yang bagus. Sehun tidak ingin mengebut – ia lebih tertarik tiba di apartement Jongin dengan utuh daripada menyusul mobil Jongin di jalan. Dengan helaan napas mantap, Sehun menemukan tombol lampu depan dan melepaskan rem, melajukan mobil melintasi jalan.

Sehun harus melalui jalan pedesaan sekitar dua puluh kilometer sebelum mencapai jalan bebas hambatan yang akan membawanya ke kota. Sehun sudah tidak sabar ingin tiba.

Awan hitam tampak terlihat menghiasi langit, membuat malam semakin gelap, hembusan angin kencang membuat daun dan cabang pohon berayun.

Walaupun Sehun mengemudikan mobil dengan lancar dan kuat, tapi Sehun harus berkonsentrasi penuh dengan kondisi jalan yang asing dan buruk. Sehun jadi merindukan sedan tuanya. Setidaknya dengan mobil tua itu, Sehun tahu dimana letak penyeka kaca mobil.

Sehun melewati dua belokan di jalan bersemak yang sempit dan harus memundurkan mobil untuk mencari jalan yang benar, namun cahaya lampu jalan keluar tol membuat Sehun tahu bahwa ia hampir sampai ke jalan bebas hambatan.

Sambil menghembuskan napas lega, Sehun meregangkan tubuhnya, mengetahui bagian yang terburuk sudah berlalu dan jalan bebasa hambatan ini akan segera membawanya ke kota dan kepada Jongin. Beberapa tetes hujan menerpa jendela mobil. Awalnya pelan sebelum berubah menjadi deras.

Sehun hampir menabrak mobil yang terparkir di sisi jalan saat mencari tombol penyeka kaca. Beberapa detik, Sehun mengira yang terparkir itu mobil Jongin dan jantungnya melompat, tapi saat ia mendekat Sehun melihat mobil gelap itu bukan milik Jongin.

Bagian atap mobil terangkat dan seorang pria berlari menghampiri mobil Sehun sambil melambai lambai di tengah hujan. Sesaat Sehun berpikir untuk terus menyetir, hari sudah gelap dan ia takut kalau harus menghentikan mobilnya. Tapi kondisi cuaca sangat buruk dan bagaimana kalau pria itu punya anak di dalam mobil? Kalau mobil Sehun sendiri mogok, ia jelas tidak ingin orang mengabaikannya dengan terus melaju.

Kalau saja Sehun mengambil tasnya sebelum pergi. Setidaknya ia dapat menghubungi polisi. Dan, tampaknya Sehun tidak mempunyai pilihan...

Sehun berhenti tepat di belakang mobil tersebut dan menemukan tombol jendela. Butiran air hujan langsung masuk melalui kaca jendela yang terbuka, menerpa keras ke wajah Sehun. Pria itu bergegas menghampiri Sehun.

" Anda ingin menumpang? " Tanya Sehun.

" Kau bisa memberikan yang lebih baik daripada itu, " Kata pria itu, menarik pintu hingga terbuka sebelum menodongkan sesuatu yang dingin dan keras di pipi Sehun.

" Kau bisa memberiku mobil ini. "

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC / END ?

Yeaaayyyyy \\ ( ^ 0 ^ ) / satu chapter lagi FF ini bakalan END. Kalau besok aku gak sibuk bakalan aku post besok chapter terakhirnya...