HUNjustforHAN

Presents

.

.

.

.

BLACK PIANO

.

Chapter 10

.

.

.

Apabila cinta kita adalah sebuah tangisan, maka engkaulah kelopaknya yang berkaca-kaca dan aku butirnya yang jatuh berderai.

.

.

.

.

.

Sehun berlari, kakinya cekatan menginjak beratus anakan tangga darurat di sisi ujung gedung. Lift yang tidak kunjung turun membuatnya marah dan dia tidak bisa bersabar lebih lama. Namun meskipun demikian, dia tetap akan terlambat. Junhyung memberitahunya dan dirinya semakin tidak terkendali.

BRAK!

"Luhan!"

Dia seharusnya tidak mendapatkan senyuman itu, bulu mata lentik dan tatapan penuh cinta. Seharusnya yang pantas Sehun dapatkan adalah lemparan vas bunga tepat di bahu kanannya, dimana serpihannya akan melukai tubuhnya sampai berdarah. Tapi senyuman itu, yang indahnya merasuki jiwa, dipanahkan Luhan tepat dijantungnya sehingga Sehun sanggup hidup dalam luka bernanah bila memang Luhan memintanya.

"Kemari," Lalu lengan mungil itu terbentang, menunggu Sehun yang melekat di tengah pintu. "Ada denda yang harus kau bayar karena telah ingkar janji."

Saat mereka bisa kembali bicara lewat mata ke mata, saat Luhan dengan tepat menatap dalam ke arahnya, maka saat itu pula Sehun menghambur ke dalam pelukan wanita itu, mendekapnya seolah mereka akan dihukum gantung esok hari. Ini tidak salah kan? Mereka hanya sekadar berbagi cinta dan orang-orang yang mengerti cinta akan paham pula pada mereka.

"Maaf.. Seharusnya aku berada disini."

Satu-satunya jalan yang kumiliki adalah memaafkanmu. Tapi kau harus tau bahwa ini menyakitkan.

"Kau sudah disini, apalagi yang harus dimaafkan?"

"Maaf. Bukan aku orang pertama yang kau lihat."

Oh jangan. Luhan menginginkan pertemuan ini tanpa lagu kesedihan. Mereka sudah muak dan hapal seluruh liriknya yang menderita. Sehun terlihat begitu cemas dengan bibir pucatnya yang mengkhawatirkan. Dasinya berantakan dan keringatnya berbintik di dahi. Dia laki-laki yang benar-benar menakjubkan dengan ekspresi bersalah.

"Bukan masalah besar. Paman Byun cukup bagus untuk dilihat dan hidungnya benar-benar sebuah mahakarya." Luhan menghela napas, matanya sempat terpejam beberapa detik. "Lagipula kau benar." Lanjutnya.

"Tentang?"

"Laki-laki yang bertambah seksi. Dan aku memaafkanmu karena itu."

Sudah lama rasanya Sehun tidak terkekeh seasik ini di bahu Luhan. Dia menangkap niatan bercanda dari sang dewi keindahan. Tangannya yang kasar bergerak lembut menyusuri surai kekasihnya. Luhan akan mengomel kalau tau Sehun membuat rambutnya kusut.

"Jadi kau terpesona? Dengan keseksianku?" jahilnya kemudian mengangkat kepalanya dari bahu Luhan. Tangannya telaten merapikan poni Luhan yang mulai melewati alis.

"Kau makan bayam setiap hari ya? Kenapa bahumu bertambah besar?"

"Dulu kau sering tidur dibahuku dan akan merengek kalau aku bergerak, ini akhirnya membengkak dan mereka bertambah besar. Kau harus bertanggung jawab."

"Tapi aku suka ukurannya. Seperti semakin nyaman untuk ditiduri."

"Jadi kau mau meniduriku?"

Luhan memicingkan matanya sementara Sehun bermain dengan senyuman usil yang aneh. Keringatnya masih terasa lengket dan napasnya masih cepat, tapi mereka sudah bermain kata-kata yang seharusnya dimainkan oleh orang sehat.

"Apa pintu kamar rumah sakit bisa dikunci dari dalam? Apa ruangan ini kedap suara? Apa ranjang rumah sakit ini kuat?"

"Apa paman Byun juga mengoperasi otakmu? Mereka tidak seperti Luhan yang selalu jual mahal mengenai perihal mengunci pintu kamar bersama seorang laki-laki."

"Tidak suka?"

"Sebutkan apa yang tidak kusukai darimu?"

Dengan percakapan kecil ini, Luhan mencibir. "Kau terlalu menyukaiku, aku tau," katanya kemudian senang merasakan cubitan kecil dihidungnya. Lalu bersama hatinya yang menggantung dilangit, Luhan tarik kerah kemeja Sehun, mendekatkan diri mereka hingga napas saling bersilang dan dewi amor bersiul dari atap gedung.

"Aku benar-benar penasaran bagaimana sebuah operasi mata bisa membuatmu menarik kerah bajuku."

"Aku lebih penasaran mengenai bagaimana mencium laki-laki ini dengan menarik kerah bajunya."

"Lakukan."

"Seharusnya berpura-pura menolakku dulu, kau terlihat sangat murahan."

"Apa? Murahan?"

"Tapi aku suka laki-laki seksi yang murahan. Jadi uangku tidak terkuras banyak untuk menciumnya."

"Ini gratis nona, jangan memikirkan masalah biaya."

"Apa kemampuan menciummu bertambah baik?"

"Aku tidak pernah buruk dalam hal tersebut."

"Kau yakin?"

"Kenapa banyak sekali bicara? Aku sudah menunggu dari tadi."

"Aku ha—mmpt."

Dan rindu itu disalurkan melewati lekuk terluar dari bibir mereka, lembut dan gelenyarnya menyebar ke seluruh tubuh. Luhan yang mungil berpegangan pada leher Sehun yang tegap sementara laki-laki itu meremas pinggang kecilnya. Ada cinta dalam setiap pergantian gerak yang serakah.

Namun Sehun tidak perlu tau jika ini adalah keputusan Luhan. Dia harus menjadi sosok yang paling menyenangkan di mata Sehun meskipun itu menghancurkan harga dirinya. Menjadi jalang pun akan Luhan lakukan jika jalan yang lain sudah menutup mata untuk menyambutnya.

Mungkin ada banyak laki-laki di dunia ini yang akan menerima segala tentang dirinya, tapi Luhan hanya tau bahwa Sehun yang dia inginkan. Meskipun konsekuensinya menyakiti perasaan, Luhan tetap mau Sehun. Dan Luhan sudah tidak pernah berpikir lagi caranya untuk berhenti semenjak Sehun mengatakan bahwa dia ingin pulang, dalam pelukannya.

.

.

.

.

Dia pernah menjadi gadis baik. Namun seharusnya dunia tidak mempertemukannya pada gadis baik yang lain. Karena ketika itu terjadi, Luhan lebih memilih mengubah karakternya.

Demi Sehun.

Dia pikir.

.

.

.

.

Ini bukan masalah siapa yang berhak mendapatkan, namun siapa yang mampu mempertahankan kebohongan. Tidak ada yang mendapatkan keadilan jadi penuntutan terhadap kebahagiaan seseorang tidak berlaku.

Letisha mendapatkan kebahagiaannya dengan Sehun yang selalu membawa pulang sesuatu untuknya, ataupun mengupaskan kulit buah sebelum dia berdoa di balik selimut. Meskipun itu didapatkannya dalam waktu larut dan aroma Sehun yang sudah bercampur parfume lain.

Sementara Luhan, tau jika dia tidak boleh menuntut banyak dan Sehun tidak bisa memberikan lebih. Mereka saling berbohong satu sama lain dengan cara berpura-pura tidak masalah dengan apapun, namun nyatanya hati mempermasalahkan semua itu.

Pukul enam sore, saatnya Sehun datang mengetuk pintu dan Luhan yang menyambutnya di dapur. Akan selalu ada setangkai mawar merah yang diletakkan di atas piano hitam-nya setiap kali Sehun datang. Sudah ada lima tangkai mawar merah disana, di paling ujung kelopaknya mulai mengkerut.

Ketika Sehun melangkahkan kakinya menuju meja tempat pisau Luhan bekerja, maka wanita itu akan merentangkan tangannya lalu berkata "Berhenti disana! Danger area!."

"Aku hanya ingin membantu."

"Bantu aku dengan cara duduk disana dan minum segelas air. Ini akan selesai 15 menit lagi."

"Tapi aku benar-benar ingin membantu."

"Ingin membantu? Maksudmu dengan mengekor dibelakang dan meniup leherku?"

Sehun tersenyum sambil melipat lengan kemejanya. Warna abu-abu membuatnya semakin gurih.

"Berhadapan dengan api kompor membuatmu berkeringat, aku hanya membantu menjadikannya dingin."

"Dihadapanku ada air mendidih, kau mau mencuci muka dengan ini? Aku bisa membantumu menyiramkannya."

"Oke, nyonya. Aku kalah. Jauhkan air mendidih itu lalu berikan aku satu ciuman."

Pisau Luhan sudah siap, tapi ketika Sehun mencondongkan wajah ke hadapannya, tidak ada yang bisa dia lakukan selain melepaskan pisau lalu mencium singkat laki-laki sialan itu, merapikan surai hitamnya yang lebat dan mengusap rahanya yang tegas.

"Mau mandi?" tanya Luhan seperti sebuah bisikan dan Sehun menggelengkan kepalanya.

"Hanya mencuci muka dan tidur di kamarmu selagi menunggu makan malam siap. Bangunkan aku nanti, oke?"

"Oke," anggukan kecil diciptakan Luhan, lalu dengan ragu-ragu dia menyampaikan pertanyaannya. "Kau…. Tidak mau menginap?"

Entah bentuk jawaban seperti apa yang dimaksud lelaki itu, tapi ketika Sehun mencium bibirnya sekali lagi kemudian beranjak pergi, Luhan tau jika arti dari ciuman tersebut adalah 'tidak.'

.

.

.

.

Memangnya siapa yang suka berbagi? Kalau boleh meminta, bintang juga mau bersinar di samping terik matahari, bukan bersama bulan di tengah gelap malam dengan gemerisik angin yang terus bernyanyi nyanyian pilu. Sayangnya, bintang tidak bisa. Bulan akan kesepian jika ditinggalkan dan dirinya sendiri akan mencair dibakar matahari. Bukan begitu sebuah akhir bahagia.

"Bagaimana kabar Baekhyun? Dia oke? Televisi tidak menayangkan berita apapun tentangnya."

"Dia…. Entahlah. Masalah dengan pacarnya belum terselesaikan dan itu benar-benar membuat sakit jiwanya kambuh. Maksudku, sikap kekanakan Baekhyun memang tidak pernah normal. Dia selalu menghubungi Junhyung tengah malam hanya untuk menangis dan mengatakan kalau pacarnya tidak menjawab panggilannya. Jika diukur dari seberapa hiperaktifnya Baekhyun, mungkin sekrang dia berada pada tahap kronis."

"Aku bahkan belum sempat berterima kasih. Bagaimanapun juga, Dokter Byun itu ayahnya Baekhyun."

"Kurasa kau lupa untuk melakukannya mengingat seberapa histerisnya mulutmu berteriak begitu mendapati seorang Byun Baekhyun yang terkenal datang untuk menjengukmu. Kau terlalu sibuk meminta foto waktu itu. Aku tidak pernah tau kalau pacarku sangat kampungan."

"Kampungan? Kau mengataiku kampungan? Memangnya siapa yang menyuruhmu memacari wanita kampungan ini? Oh Sehun, kau bisa pulang sekarang."

"Aku diusir?"

"Menurutmu?"

Sehun berdiri, mengambil jasnya yang tergantung di sandaran kursi.

"Mau kemana?"

"Pulang. Aku diusirkan?"

"Sehuuuuuuun."

Oh, si cantik yang merengek. Kakinya menggertak-gertak kecil di bawah meja. Meskipun dia terlalu lesu, tapi Sehun meloloskan sebuah senyum kecil sebelum kembali duduk di kursi. Penat-penat di tubuhnya berkurang hanya dengan melihat bagaimana Luhan mengkerucutkan bibir.

"Aku hanya bercanda. Selera humormu benar-benar buruk. Duduk disitu dan jangan pergi kemanapun. Aku khawatir untuk membiarkanmu pulang."

Dari atas mangkuk sup yang uap panasnya masih menguar, Sehun mendongakkan kepala. Wajahnya suntuk. Entah karena efek tidur sebentar ataupun tidak tidur sama sekali. Dia menemukan Luhan mengamatinya dengan lirik meneliti.

"Aku baik. Yang perlu dikhawatirkan adalah nafsu makanmu. Berapa kali kukatakan untuk makan dengan layak? Selalu ada sisa makanan setiap kali kita selesai makan."

"Menurutmu lebih baik aku muntah atau meninggalkan makanan? Sesuatu yang dipaksakan masuk malah akan keluar lebih banyak."

"Wanita ini benar-benar Luhan, yang selalu punya seribu satu asalan saat aku menentangnya dengan seribu argumen."

Sendoknya dilepas, kedua tangannya terjalin demi menopang dagunya yang tirus. Ada senyuman dihadirkan dalam jumlah cukup. "Kau benar, aku adalah Luhan, wanita egois yang bahkan tidak mengizinkanmu membawa sebatang rokok sekalipun. Kau tau itu aku, si keras kepala."

"Dan sialnya aku hanyalah laki-laki bodoh yang menginginkan wanita egois dan keras kepala ini untuk memasakkanku makan malam lalu menaburkan racun tikus di atasnya."

"Kalau begitu beri aku uang."

Secepat Luhan mengulurkan tangan, secepat itu pula dahi Sehun berkerut. "Uang?" ujarnya ditambah tanda tanya besar di belakang. Sejak kapan Luhan pandai meminta uang secara langsung?

"Kau mau aku menaburkan racun tikus di atas makananmu, kan? Aku butuh uang lebih untuk membelinya. Sekarang berikan aku uang."

"Otakku mungkin sudah rusak. Bagaimana bisa mereka berpikir kau terlihat jauh lebih seksi kalau matrealistis seperti ini?"

Tangannya ditarik, "Bukan hal asing lagi, karena otakmu memang sudah rusak sejak mencintaiku," kata Luhan dengan kepercayaan diri yang membuat Sehun geli. "Bagaimana dengan Junhyung? Dia bekerja dengan baik?"

Sebelah alis Sehun terangkat, "Tentu. Dia melakukan tugasnya seperti biasa. Kenapa?"

"Sepertinya tidak begitu. Dagumu mulai ditumbuhi rambut. Aku menebak-nebak apakah ini karena urusan kantor yang diabaikan Junhyung sehingga membuatmu berantakan ataukah kau sengaja mencari alasan agar aku mencukurnya?"

"Pernah kudengar kalau dagu seperti ini membuat pria terlihat lebih seksi."

"Tidak! Tidak! Itu hanya membuatmu seperti laki-laki malang yang tidak terurus."

"Lalu aku harus bagaimana?"

Luhan mengulurkan tangannya lagi, juga beserta senyuman kecilnya yang jahil. "Keluarkan dompetmu. Setidaknya kau harus memberiku lima juta won untuk itu."

Dia minta uang lagi? Sungguh, wanita ini benar-benar.

"Kurasa pisau cukur di minimarket bawah lebih murah. Aku hanya perlu berjalan beberapa langkah kesana, sayang sekali."

Bola mata Luhan berputar jengah. "Laki-laki pelit tidak pernah keren, Oh Sehun. Tolonglah."

.

.

.

.

Langit malam tidak pandai bercerita, namun Letisha selalu mengajak mereka bicara melalui bintang-bintangnya yang menguap. Lelah hatinya perlu disalurkan namun dia bahkan tidak menemukan seseorang yang tepat untuk berbagi. Lalu ketika suara halus mobil laki-laki itu memasuki pekarangan rumah, dia meninggalkan bintang yang melambaikan tangan dibelakangnya.

Kakinya yang tinggi berlari-lari kecil menelusuri anakan tangga. Letisha selalu berdiri diujung tangga terakhir, meremas ujung gaun tidurnya yang harum sambil menunggu pintu besar dihadapannya berderit. Rambutnya berwarna coklat gelap dengan helainya yang halus.

Ketika pintu yang ditunggu terbuka, manik matanya selalu bernyanyi riang.

"Apel hijau! Kau bawa apel hijau?"

Sehun, laki-laki itu tidak lagi terkejut seperti hari pertama ataupun hari kedua Letisha berteriak diujung tangga dengan wajah penuh gemilang kegirangan. Ini sudah hari kelima dan dia sudah hapal. Jadi dikeluarkannya senyum kecil dari bibirnya sambil memamerkan plastik bening dengan warna hijau segar didalamnya.

Sayangnya, senyum diwajahnya tidak bisa mengaburkan rasa bersalah.

"Duduk dan tunggu di kursi, akan kukupaskan untukmu."

Dan beginilah Sehun, seonggok laki-laki sialan yang menunggu wanita lain memasakkan sesuatu untuknya lalu pulang mengupaskan kulit buah untuk wanita lain lagi. Meskipun dirinya tersiksa melakukan itu, selama rahasia ini tetap terikat rapi dalam simpul dasinya, Sehun masih sanggup menutup mata dari dosa yang terus mengutuknya dari belakang.

"Sehun…"

"Ya?"

Suhu tubuh Sehun selalu berubah asing setiap kali Letisha mengalungkan diri pada lengannya, ini tidak menyenangkan dan membuat tubuhnya meriang. Tapi dia tetap membiarkan Letisha melakukannya, karena apabila dia menolak wanita ini, maka iblis akan benar-benar menjambak rambutnya lalu menjadikannya bara api di neraka.

Oh, tolongkah. Ampuni Sehun.

"Dokter Yang tadi menghubungiku."

"Apa yang dokter Yang katakan?"

"Dia memintaku melakukan pemeriksaan lagi minggu ini."

"Minggu ini?"

"Ya, minggu ini. Kapanpun waktumu kosong."

"Akan kutanyakan pada Junhyung kapan waktuku kosong."

"Terimakasih."

Tapi tunggu…. Dagumu terlihat bersih. Siapa yang melakukannya?

.

.

.

.

.

Luhan sedang menyisir rambut malam itu ketika pintu rumah mereka diketuk. Ini sudah malam ke delapan. Dia meletakkan sisirnya di samping hairdryer yang masih hangat. Sehun bilang dia akan datang, jadi mungkin yang mengetuk pintu adalah laki-laki brengsek dengan seikat bunga yang ingin Luhan cintai seumur hidup.

Lentik bulu matanya bermain genit, cermin dihadapannya bertepuk tangan riang sebelum terdengar sura knop pintu depan terbuka. Ketukan berhenti. Itu pasti Kyungsoo; yang membuka pintu. Maka Luhan merapikan rambutnya sekali lagi dan berharap Kyungsoo sudi memperlakukan Sehun seperti seorang tamu. Bukan malah membenturkan kepalanya ke dinding seperti seorang pencuri.

Menarik bibirnya membentuk sebuah lengkungan manis, Luhan beranjak. Wewangian poutpuri yang kering dan harum merasuk dalam penciumannya. Mungkin ini karena Sehun yang terlalu sering mengirim bunga ataukah hanya sekedar halusinasi yang terlalu merindu. Wanginya sangat tegas dan Luhan sanggup menerima aroma sebagus ini sepanjang hidup.

Langkah Luhan bermain kecil, seperti seorang maling yang mencari jalan keluar lewat jendela yang tak berkunci. Luhan pikir dia akan mengejutkan Kyungsoo ataupun Sehun apabila mereka hendak berkelahi ataupun saling maki-memaki seperti orang mabuk. Namun ketika Luhan melirik Kyungsoo yang terdiam, Luhan juga begitu.

Bukan Sehun yang datang.

Tidak ada buket bunga mawar disana dan tidak ada gelembung-gelembung cinta yang bersorak-sorak setiap kali Sehun datang.

Luhan harus menarik mundur langkahnya pelan-pelan.

Mereka disana. Kyugsoo yang mencoba menutup pintu dan Jong In yang berusaha menahan dengan tubuhnya yang rapuh. Kehampaan terjadi. Dari pipi putihnya, Luhan melihat Kyungsoo menetes.

"Kita harus bicara." Meskipun lemah, tapi Jong In tidak menerima penolakan. Egoismenya menang kali ini.

"Pulanglah. Ini sudah larut."

"Tidak. Sudah cukup kau menjadikanku pecundang yang tidak punya hak bicara. Sekarang aku ingin menggunakan fungsi mulutku sebagai mana mestinya."

"Memangnya apa yang harus dibicarakan? Kurangi kenaifanmu yang menganggap aku akan luluh hanya karena sebuah penjelasan. Mungkin kau memang pernah melakukannya, meluluhkanku dengan kata-kata, tapi kuberitahu padamu Jong In, itu tidak untuk berkali-kali."

Kyungsoo mendorong pintu sekali lagi, namun Jong In tidak mau kalah.

"Lalu ajari aku cara menyelesaikan masalah tanpa bicara. Orang bisu sekalipun menggunakan bahasa isyarat untuk memberi penjelasan, tapi kenapa aku yang punya mulut tidak diberi kesempatan?"

"Katakan pula padaku kesempatan mana lagi yang kau debatkan? Jika kesempatan bisa didapatkan setiap waktu, maka kesalahan akan terjadi berulang-ulang dan penyesalan tidak akan pernah berarti apapun. Berhenti bertanya dimana aku meletakkan kesempatan itu. Sudah terlalu sering Jong In, dan itu membuatmu tidak menghargai kesempatan yang kuberi."

"Aku salah! Berjuta kali kukatakan aku memang salah! Semua manusia pernah melakukannya dan tidak terkecuali aku. Hanya kumohon berikan beberapa menit untuk kita bicara dan aku akan menjelaskan apapun yang kubisa. Tidak perlu memaafkan jika itu benar-benar berat bagimu, tapi kau juga perlu dengar cerita dari sudut pandangku."

Hah! Kyungsoo menarik napas dalam lalu membuangnya beserta seluruh kebencian. Tidak, bukan pada Jong In, melainkan pada dirinya sendiri yang berani-beraninya masih merindukan laki-laki ini.

Angin bertiup melalui celah pintu, entah darimana asalnya mereka tidak mau memberi tau. Kyungsoo memanfaatkan jeda angin untuk menghapus air mata di pipinya dengan cepat. Oh sial! Dia terlihat hancur.

"Kumohon Jong In, hentikan. Jangan bermain lagi pada perasaanku. Aku bukan boneka yang bisa dibongkar pasang. Ini menyakitkan."

"Kau memang bukan. Jikalaupun 'iya', laki-laki setengah putus asa sepertiku tidak bermain boneka."

"Lidahmu selalu berfungsi sangat baik. Kata-kata yang keluar terdengar sangat meyakinkan. Kalau saja hatiku tidak mengeras, mungkin mereka akan merintih menginginkanmu kembali." Tapi sayangnya memang seperti itu. "Untuk wanita yang letih dikecewakan olehmu, sulit untuk percaya bahwa itu bukanlah sebuah lelucon."

"Aku serius, Do Kyungsoo! Tolong."

"Sebaiknya cari arti kata 'serius' yang kau maksud. Aku sering mendengarnya, tapi kau juga sering lupa apa artinya. Jika memang kau benar-benar paham artinya, kita tidak akan berada pada situasi seperti ini."

Dari sudut matanya yang gelap, Jong In memunculkan aura terlukai. Kekecewaan sebening kornea matanya. Dia tidak ingin menjadi seorang pemaksa, tapi apabila Kyungsoo bersikeras, Jong tidak punya cara lain.

Dicengkramnya pergelangan tangan Kyungsoo dan membuka pintu lebar-lebar menggunakan kakinya, bunyi dentuman keras terdengar. Kyungsoo terkejut, sama halnya Luhan yang membungkam mulutnya sendiri.

"Jika kau terus menganggap segala yang kulakukan adalah permainan, mungkin kau harus bertemu orang tuaku untuk menanyakannya secara langsung."

"Kim Jong In!"

Maaf, tapi dia harus melakukannya. Untuk memperbaiki mereka, mungkin.

.

.

.

.

.

Semakin larut Sehun pulang, maka semakin larut pula ketakutan yang ditelan Letisha. Dia bukannya tidak tau, tapi Letisha pikir dia sudah cukup tau diri. Lama sudah dia mengetahuinya. Dari sudut malam yang gelap, Letisha mengamati dimana mobil Sehun singgah. Selalu di tempat yang sama. Tempat yang mungkin Sehun merasa lebih baik dibandingkan alam semesta.

Dan Letisha akan pulang dalam kesedihan, berjuang pada airmatanya yang berlinang. Dia ingin menjadi wanita satu-satunya, namun bila keinginan itu diutarakan, Letisha takut bukan main Sehun akan menggelengkan kepala. Artinya tidak. Sehun mungkin lebih memilih pergi bersama wanita di rumah itu sementara Letisha akan kering menahan rindu.

Awalnya memang demikian. Sebelum Sehun membuat masalah. Letisha goyah setelah Sehun tidak pulang malam kemarin. Sehun bahkan tidak memberikan jawaban apapun ketika Letisha bertanya baik-baik. Sehun hanya perlu berbohong, karena Letisha sudah tau jawaban yang paling benar. Dan bahkan berbohongpun laki-laki itu tidak mau melakukannya.

Letisha memasang palang waspada pada hatinya dan itu membuatnya harus bergerak. Kondisi mengandung membuat emosinya menjadi dangkal.

Siang ini, dengan dress baby doll moccanya yang cantik, beserta seluruh keluh kesah melayang-layang dirambutnya, Letisha mengambil langkah. Butuh tiga kali tarikan napas yang dalam sebelum akhirnya dia memantapkan hati.

Emosi dan egoismenya saling tarik menarik, namun pikiran wanita berpendidikan miliknya terus berusaha menenangkan. Oh bagus, Letisha bahkan sudah mencatat hal apa saja yang perlu dikatakannya nanti; dalam otak. Semoga selamat!

Kecil-kecil dia mengatur sepatu flat coklatnya, air liurnya terasa sepat sementara hatinya terus mendidih-didih. Mungkin mereka perlu membahas sesuatu yang penting, mungkin juga sesuatu yang tidak berguna, sesuatu yang punya jawaban atau malah sesuatu yang mengacungkan pertanyaan tambahan.

Lalu Letisha mengambil keputusan sekali lagi. Dengan memaksa darah mengaliri bibirnya yang pucat, jari mungilnya mengetuk pintu. Tiga kali.

"Tunggu sebentar!"

Teriakan dari dalam hampir memutarbalikkan tubuhnya. Letisha merasa pusing. Perutnya bergejolak seolah bumi akan meledak disudut lambungnya. Dia ingin lari secepat mungkin namun sayangnya terlambat. Baru kakinya bergeser sepuluh senti, pintu dibelakangnya terbuka.

"Siapa?"

Mereka bertemu.

.

.

.

.

Ruangan ini tidak berudara, Letisha tidak bisa bernapas. Dadanya turun naik tapi kulit putihnya pucat. Terimakasih karena lipstick merah telah membantunya menyembunyikan diri dari kegugupannya. Dia harus tampil percaya diri bagaimanapun itu.

Lalu Luhan, yang baru datang dengan dua gelas cangkir dari dapur terus berdoa dalam hati agar kakinya yang gemetaran tidak tersandung. Dia sengaja menonaktifkan ponselnya agar panggilan dari Sehun tidak mengganggu pertemuan mereka.

"Aku tidak tau minuman apa yang kau sukai, tapi aku punya teh hijau." Untuk menangkan kita, mungkin.

"Terimakasih."

Mereka duduk saling berhadapan, dengan kaki rapat dan tangan yang lemas dalam pangkuan. Bagaimana cara memulai suatu pembicaraan yang bagus sementara tidak ada yang bagus untuk dibicarakan.

"Maaf telah mengganggu waktumu. Namaku Letisha Kim. Aku… kekasih Sehun."

Lalu bagaimana denganku ? Apa aku hanya pasangan selingkuh Sehun?

Kuku Luhan mengutis satu sama lain, ini bukan pertemuan tidak mengenakkan pertama yang dia terima, ayah Sehun sering melakukan yang lebih buruk daripada ini dulu. Jadi Luhan menampilkan senyumnya dan dia berharap Letisha tersinggung karena itu.

"Karena tubuhmu telah sampai kesini, kurasa kau sudah tau siapa aku."

"Tidak terlalu banyak, tapi aku tau namamu, Lu Han. Dan dari reaksimu, kurasa kau juga tau tentangku sebelum kunjunganku kesini."

Melihat bagaimana lidah Letisha mengalunkan namanya, Luhan tau ada kebencian disana. Dan Luhan juga tidak memungkiri bahwa dari tatapan matanya, dia juga mengatakan kebencian pada Letisha. Mereka mungkin seimbang.

"Kalau boleh jujur, ini bukanlah pertemuan yang menyenangkan untuk kita berdua. Aku tau kau juga tidak menyukainya. Jadi mungkin kita bisa langsung ke inti masalah."

hah! Luhan terlihat seperti seorang yang berpengalaman. Dia seperti sudah hapal cara berperang di padang pasir. Ayah Sehun mengajarinya banyak tentang bagaimana membunuh lawan hanya dengan nada bicara.

"Kau orang yang to the point, itu bagus. Akan lebih mudah membahasnya tanpa berbelit-belit. Tapi sayangnya, aku tidak tau harus mulai darimana."

"Jangan lagi memikirkan hati siapa yang akan tersinggung, karena dari pertama kita berdua sudah merasakannya. Aku baik, dan begitu juga seharusnya kau."

"Baiklah." Letisha memiringkan sedikit kepalanya sebelum mengambil cangkir gelas dan meneguk beberapa tetes. Kerongkongannya kering padahal mereka belum membicarakan masalah sialan itu. "Masalah kita hanya satu, Luhan. Sehun."

"Laki-laki itu memang sering membuat masalah. Hobinya mungkin?" ujar Luhan dengan sudut bibir terangkat. Dia berusaha mencairkan suasana tapi Letisha masih terlihat beku. Dia tidak terhibur dengan candaan Luhan.

"Aku menemukan Sehun dalam keadaan sangat berantakan tiga tahun lalu. Matanya selalu terlihat merah dan dia tidak berkomunikasi dengan baik kepada orang-orang sekitar. Dia tidak lebih dari sekedar mayat berjalan."

"Aku yang menyebabkannya. Itu yang kau maksud kan? Aku adalah wanita kejam yang membuang Sehun tiga tahun lalu. Kau benar, itu aku."

"Ternyata kau cukup manusiawi untuk sadar," dengusan kecil keluar dari mulut Letisha dan Luhan tidak mau ambil pusing. "Menghidupkan Sehun kembali itu sulit. Banyak hal buruk yang kulalui dan aku tidak akan menyebutkannya satu per satu. Aku menyembuhkan Sehun. Dia terbebas dari sarang penyakit yang menyiksanya. Jika kau sadar kesalahanmu, bukankah seharusnya timbul rasa malu melihat Sehun lagi? Kau yang menghancurkan Sehun."

Wah! Ternyata tutur kata wanita ini tidak selembut bibirnya. Sarang penyakit. Letisha pandai memilih perumpamaan. Paru-paru Luhan kebakaran, tapi dia bisa menanganinya dengan baik. Mereka punya banyak air di dapur.

"Kau yakin telah menyembuhkan Sehun?"

"Tentu."

"Jangan terlalu percaya diri."

"Apa?"

"Pasien dengan sakit parah tidak akan mau lagi terkena penyakit yang sama setelah disembuhkan. Tapi kenapa Sehun kembali lagi pada sarang penyakitnya yang menyiksa? Karena dia belum sembuh. Dia masih sekarat namun berpura-pura sehat agar perawat tidak lagi memperlakukannya seperti seorang penyakitan yang perlu dikasihani. Terlebih dari itu, Sehun merasa lebih baik mengidap penyakitnya dari pada disembuhkan oleh obat yang berefek buruk pada tubuhnya. Dia tidak keberatan mengidap penyakit yang kuberi. Mungkin kau perlu bertanya pada Sehun tentang hal itu."

Mata Letisha merah, dia menggigit giginya keras-keras.

"Hubungan kalian telah berakhir. Kekasih Sehun sekarang adalah aku. Pikirkan sekali lagi, kau hanya simpanan Luhan. Dimana rasa malumu? Menjadi partner selingkuh mantan kekasihmu bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Itu memalukan."

Dan sekarang urat-urat leher Luhan yang menegang. Bahunya bergerak sedikit untuk meredakan pegal di dadanya.

"Urat maluku memang sudah putus, sayang sekali. Tapi setidaknya aku masih memiliki sedikit sisa hati nurani, yang kupergunakan untuk membiarkan Sehun pulang ke rumahnya, menemuimu. Kau harus tau Letisha, aku bisa membuat Sehun tidak pulang sekalipun. Seperti malam kemarin."

"Banggakan saja kelicikanmu itu sebelum waktumu habis. Yang harus kau tau, aku dan Sehun akan segera menikah! Dia akan menjadi milikku seutuhnya, dan ketika itu terjadi maka jam berkunjungnya kesini telah berakhir. Berhentilah menjadi wanita yang merusak hubungan orang lain. Kau terlalu cantik untuk melakukannya."

Tutup mulutmu! Menikah? Kalian bercanda?

"Ya, rencanakanlah pernikahan yang indah. Berdoa yang bagus-bagus. Pegang tangan Sehun agar dia tidak pergi kemanapun di hari pernikahan kalian. Atau lakukan apapun yang kau bisa sebelum Sehun tidak pulang sama sekali."

"Dia akan pulang. Dan dia harus menikahiku. Haruskah kukatakan alasannya? Tapi aku takut menyakitimu. Hatimu mungkin tidak sekuat nada bicaramu."

Melihat bagaimana liciknya senyuman di ujung bibir Letisha, Luhan merasa otot-otot di wajahnya kebas. Kepalanya bahkan terasa kaku walau hanya sekadar menggeleng.

Dia tidak ingin mendengar apapun. Meskipun demikian, Letisha juga tidak mau peduli. Mereka sedang menguji hati siapa yang paling kebal terhadap rasa sakit.

"Apapun alasannya, aku ti—"

"Aku mengandung anak Sehun."

Butuh waktu lima detik bagi Luhan untuk merasakan langit baru saja runtuh di atas kepalanya. Lapisannya berderak dan berserakan.

Luhan tertimpa badai sebelum sempat mengelak. Seluruh tubuhnya mendadak mati rasa sementara jantungnya merintih kesakitan. Sekuat mati dia menahan tenggorokannya yang pedas dan hampir bolong. Urat matanya mulai bersitegang tapi mereka tidak mau menjadi secengeng itu. Kesakitannya membuat Luhan ingin menyakiti orang lain.

Letisha tersenyum dihadapannya, bertingkah seolah dia wanita luar biasa jahat yang siap menjunjung kemenangan. Tapi Luhan sebenarnya bisa melihat seberapa takutnya wanita itu. Ada kebaikan dari bilik mata Letisha sementara kebaikan tidak diperlukan lagi diantara mereka.

Luhan harus tetap menang meskipun itu adalah sebuah kepalsuan.

"Jika kehamilanmu adalah alasan kalian harus menikah, maka Sehun harus menikahiku pula. Karena jauh sebelum dirimu, aku juga pernah mengandung anak laki-laki itu. Bayi dalam kandunganmu bukan yang pertama, maaf."

Dan mereka hancur. Luhan mendekap kepiluan yang merebus tubuhnya sementara kehancuran Letisha berderai di atas pipi putihnya.

Tidak ada lagi gadis baik-baik setelah mereka disakiti. Masing-masing berpijak pada tanahnya tanpa peduli kaki mereka menginjak orang lain.

Karena ketika teh hijau yang menenangkan disiramkan ke wajahnya, Luhan buang segala rasa bersalah yang tersisa. Letisha hanya menyulut sisi putus asanya hingga menyala-nyala. Dan wanita itu harus siap bertanggung jawab.

"Ayah Sehun tidak pernah menyukaimu. Bisa kau bayangkan apa yang terjadi jika aku memberitahunya tentang hubungan kotor kalian?"

"Dan bisa kau bayangkan pula siapa yang akan menyelamatkanku."

Sehun.

.

.

.

.

Junhyung baru pulang dari apartemen Baekhyun setelah wanita itu merengek ditelinganya menginginkan satu porsi jajangmyeon yang hangat. Baekhyun terlihat berantakan. Dia masih rutin menangis setiap kali Chanyeol tidak bisa dihubungi ataupun mengabaikan pesan. Jadwal Baekhyun berantakan dan dia tidak peduli. Pakaian kotor, bekas makanan dan tisu sisa menangis sudah seperti sampah rumahan.

Meninggalkan Baekhyun dengan rambut tidak bersisir, Junhyung melirik satu porsi jajangmyeon lagi di kursi penumpang. Dia sengaja membeli dua. Satu tersisa untuk Luhan. Ini bukan perintah Sehun, Junhyung punya inisiatif sendiri. Kemarin dia lembur sampai malam, jadi dengan alasan satu porsi jajangmyeon untuk Luhan, Junhyung akan mendapatkan jam istirahat tambahan. Dia bisa meminta Luhan untuk membujuk Sehun nanti dan tidur siang yang dikhayalkannya akan jadi kenyataan. Oh, senangnya.

Junhyung hampir membelokkan stir ke gerbang rumah Luhan sebelum dia menginjak pedal rem kuat-kuat. Jantungnya lepas. Tangannya gemetaran meraih ponselnya. Kiamat!

Dia terus mengumpat selama panggilan masih tergantung. Namun ketika ada sahutan diseberang,

"Aku tidak tau bagaimana mengatakan ini, tapi Letisha baru saja keluar dari rumah Luhan."

Entah siapa yang harus kau temui lebih dulu.

.

.

.

.

Mulut yang terus menggumamkan akhir bahagia, apakah itu benar-benar milik mereka? Luhan bahkan mendorong kegembiaraan masuk dengan paksa melewati mulutnya, menginginkan rasa manis mengaliri lehernya namun yang didapati malah telapak kakinya dikotori oleh kegembiraan yang dipaksakan. Rasa lelah seolah hampir menguasai seluruh tubuh sementara Luhan terus membantah. Dia tidak lelah, dan dia berbohong.

Di sisi ranjang yang dingin, Luhan terduduk lemas. Kepalanya tertunduk, aroma teh hijau masih terasa lengket di kulit. Matanya ingin menangis, namun Luhan sudah terlalu lelah. Dia bahkan bertanya pada langit-langit kamar bagaimana caranya menangis.

Mulutnya seperti tangguh dalam berperang, tapi pada dasarnya Luhan tetaplah perempuan. Dirinya mati rasa hanya karena beberapa rangkai kata yang dilantunkan Letisha. Aku mengandung anak Sehun. Dan dia tidak tau pula bagaimana cara mengusir dingin dari tubuhnya. Sampai ketika pintu kamar berderak kencang, Luhan menoleh ke samping.

Kontrol diwajahnya hilang. Ekspresi tidak lagi berfungsi. Matanya lekat menatap Sehun yang putus asa menyeret langkah lalu jatuh berlutut tepat dihadapannya. Namun kelopak mata Luhan bahkan tidak berkedip. Keping-keping retak yang bertebaran tidak lagi diperdulikan. Dia mencoba bertahan, sedangkan Sehun terus-menerus menusuknya dengan sebilah pisau tanpa mengenal kata puas.

Wanita lain di sisi Sehun, Luhan tidak pernah takut dengan hal tersebut. Namun memikirkan ada bayi lain yang hidup di antara masalah yang membelit mereka, berhasil menghancurkan Luhan sampai ke tulang. Efeknya terlalu keras, sarafnya putus dan rasa sakitnya seperti pisau bermata dua yang tertancap tepat di tengkuknya.

Tidak ada yang bicara, Sehun hanya mengutarakan maaf lewat lututnya yang jatuh ke bawah dan menyerahkan hidupnya untuk disembelih oleh Luhan. Kepalanya tertunduk.

"Apa—, itu benar anakmu?"

Dia hanya seorang bajingan, yang bahkan terlalu takut untuk menggeleng ataupun menggangguk, dan bajingan pantas dilempari kotoran sampai mati.

Tapi yang dilakukan Luhan bahkan lebih parah. Saat dia malah merapikan rambut Sehun alih-alih mencercanya dengan seburuk-buruk makian, Sehun hancur. Menangis hanya bagi orang-orang lemah, sayangnya Sehun harus menjadi salah satu dari mereka.

Merasakan jemari Luhan yang dingin bermain diantara rambutnya, dengan halus, lembut, dan wajah yang tidak menangis apalagi tersenyum, ketika Luhan salah memberikan respon dari luka yang dirasakan, itu adalah definisi dari kehancuran yang sesungguhnya.

Usapan ini adalah dari seseorang yang hampir mati rasa.

"Pernah melihat menjadi hal yang paling kuinginkan di dunia ini, hanya karena aku ingin melihatmu kembali di suatu hari. Lalu penglihatan itu benar-benar diberikan padaku dan kau juga berada dalam penglihatan itu. Namun jika tau mata ini digunakan untuk melihatmu menikah dan memiliki anak dengan wanita lain, akan lebih baik rasanya jika aku tidak melihatmu seumur hidup. Agar aku bisa tetap menunggu dan tidak perlu tau bahwa kau pernah kembali lagi untukku."

"Luhan…"

"Pulanglah."

Sehun menggeleng, air matanya jatuh karena itu terlalu kuat. Dipeluknya erat kaki Luhan lalu menumpukan kepalanya seperti bayi ketakutan di pangkuan wanita itu. Sadarlah, kalau bukan karena kesalahpahaman yang membuatnya pergi, tidak mungkin ada wanita lain yang tidur di atas ranjangnya.

"Temui Letisha."

"Tidak Luhan!"

"Kau harus."

"Tidak!"

"Temui Letisha, dan katakan padanya bahwa cinta tidak untuk dibagi. Aku telah melihatmu, dan kau tidak akan bisa lepas dari penglihatan itu. Tidak ada cinta yang akan kubagi padanya, tapi akan kubiarkan anaknya memiliki ayah, memilikimu sebagian."

"Lu.."

"Kita juga pernah punya satu kesempatan seperti itu, dan aku tau bagaimana sedihnya saat tidak ada yang mengupaskan kulit buah untuk anak dalam kandunganku."

.

.

.

.

.

Sehun kembali. Dia datang dan Letisha langsung menghujamnya dengan pelukan. Degup jantung Letisha bahkan sampai di pendengaran Sehun, artinya tidak ada yang lebih menakutkan dibanding Sehun memilih tidak pulang. Lalu ketika laki-laki itu membuka pintu kamar dan masuk ke dalam pelukannya, Letisha terselamatkan. Mungkin.

Segala bentuk benci dan kecewa sudah bernanah di hatinya, menyedihkan saat dia harus menelan itu seorang diri hanya karena takut ditinggalkan. Tubuh Sehun seharusnya tidak sedingin ini agar Letisha bisa yakin sedikit saja bahwa Sehun juga menginginkannya. Sayangnya, Sehun seperti ranting pohon yang tertimbun salju jutaan tahun.

Tangannya bahkan tidak bergerak saat Letisha memeluknya lebih erat. Dan jiwa Sehun benar-benar sudah pergi meninggalkan raganya.

"Kenapa kau lakukan ini, Le?"

Kenapa Letisha melakukannya? Sehun tentu punya jawaban sendiri tanpa harus mendengar penjelasan dari Letisha. Wanita mana yang betah menunggu Sehun pulang setelah kunjungannya ke rumah wanita lain? Letisha kira rasa sabarnya sudah lebih dari cukup.

"Kau sudah makan? Mau kusiapkan makan malam?" tanyanya berusaha menghindar.

"Perbuatanmu akan melukai dirimu sendiri. Sekarang kau sudah mengetahuinya, apakah aku bisa jujur padamu? Sudah lama rasanya kejujuran yang tertimbun ini menyiksaku."

Letisha gemetaran, karena itu dia melepaskan pelukannya dari tubuh Sehun. Kepalanya menunduk selagi dia memutarbalik tubuhnya. Oh, seharusnya lampu kamar ini dimatikan agar air mata yang jatuh tidak membuatnya begitu memprihatinkan.

"Akan kusiapkan air hangat untukmu. Kau bisa menunggu disini selagi aku—"

"Letisha Kim!"

"Kenapa aku yang diteriaki?! Kenapa aku yang harus menerima kemarahanmu?! Yang berselingkuh itu kalian! Kenapa aku yang diperlakukan seperti seorang tersangka?! Kau seharusnya berlutut dihadapanku dan bersumpah tidak akan melakukannya lagi!"

"Jangan mengganggu Luhan, kumohon."

"Dimana sebenarnya hati nuranimu? Aku sedang mengandung anakmu dan dengan luar biasanya kau meneriakiku hanya karena wanita lain. Hargai aku sebagai manusia yang punya perasaan, Oh Sehun!"

Sehun menarik napas dalam-dalam. Selama beberapa detik kepalanya mendongak ke atas sementara bahu Letisha berguncang di hadapannya. Ini sulit. "Maaf. Ini salahku. Kupikir perasaan adalah masalah yang sederhana, tapi ternyata aku salah. Cinta tidak untuk dibagi, dan aku mencintai Luhan."

"Tutup mulutmu!"

"Kurasa tentang hati kita sudah berakhir. Semua ini terlalu dipaksakan dan kau lebih paham akibatnya. Itu kejujuran dari perasaanku. Untuk anak dalam kandunganmu, aku tetap akan menjadi ayahnya dan aku akan tetap mempertanggungjawabkannya. Maaf untuk hatimu. Terlalu banyak memendam akan membuat hati kita rusak. Kau wanita baik Le, jangan menjadi antagonis hanya karena aku. Aku tidak layak untuk itu."

Berakhir tidak semudah lidah berkata. Tidak semudah Sehun membalikkan tubuh seperti seorang pengecut yang pantas ditembaki. Banyak yang harus dikorbankan untuk sebuah perasaan dan banyak pula yang harus direlakan untuk sebuah permintaan maaf.

Jangan bermain api, karena wanita tidak pernah sebaik itu.

"Dua hari lagi ayahmu pulang. Berhenti menemuinya atau aku akan melibatkan ayahmu dalam masalah ini."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Oh iya, kenapa disini luhan cepet banget bisa ngeliat padahal seharusnya orang yg habis operasi cangkok mata itu butuh berhari-hari baru bisa dibuka perbannya (gue pernah denger sih), gue sebenernya belom belajar khusus bagian penginderaan jadi gue gak tau banyak tentang hal itu ditambah otak gue terlalu nge-blank saat itu dan terlalu males mau buka internet mengenai berapa lama kira2nya hasil operasi cangkok mata baru bisa buka perban. So, akhirnya gue mutusin buat gak kasi waktu seberapa lama sehun pergi sama Letisha jadi gak jelas juga kan berapa lama Luhan dirumah sakit tanpa Sehun (Gaje banget ini author, wkwk). Anggap aja mereka perginya lumayan lama dan teknologi operasi mata disana semakin maju, jadinya luhan bisa ngeliat lebih cepet. Gitu aja deh ya. hehe

Dan untuk yang heran kenapa Letisha bisa hamil padahal Luhan yang dianuin, mungkin ini efek gue yg apdet terlalu lama kali ya makanya pada lupa kalo sewaktu di London dulu Sehun sama Letisha pernah anuan juga. Trus sebelum mereka pulang ke korea kan Sehun sama Letisha anuan lagi. Jadi itulah oleh2 dari London. Boahahahahaha.

AI LOP YU :* :* :*