Disclaimer: Ansatsu Kyoushitsu/Assassination Classroom and it's characters aren't mine.

"In my heart I will always be sure, I will never forget you." –Never Forget You by Zara Larrson ft. MNEK-


Sweet Revenge: Hari Menjenguk

"Bagaimana mungkin aku melupakan ayahku?" jawab Gakushuu agak kesal. Pertanyaan konyol!

Senyum Gakuhou mengembang, nyaris memenuhi wajahnya. "Koro sensei! Anakku! Anakku sadar! Dia mengingatku!" Koro sensei mengangguk, terharu.

"Huhuhu..aku terharu..Asano-kun kau membuat kami khawatir!" lagi-lagi Koro sensei mengeluarkan sapu tangan putihnya.

Gakushuu mengenali gurita kuning itu sebagai gurita yang menolongnya dan ayahnya. "Koro sensei..," panggilnya. "Kau ada di sini."

"Huuu..tentu saja! Kepala Sekolah sangat murung selama kau koma! Aku memutuskan untuk menjengukmu!"

Mata Gakushuu membelalak, "Aku koma?!"

"Oh, Koro sensei! Seharusnya kau memberitahunya nanti saja!" gerutu Gakuhou, ia mengelus kepala Gakushuu. "Ayah sangat merindukanmu, Gakushuu!" lalu Gakuhou memeluk anaknya.

Wajah Gakushuu berubah merah. Sudah lebih dari sepuluh tahun dia tidak merasakan sebuah pelukan. "Aku juga..rindu Ayah," ungkapnya malu-malu, pipinya makin merah.

"Huuu! Manisnya!" air mata Koro sensei makin membanjir.

"Ayah? Bisa tolong aku?" tanya Gakushuu. "Pelukanmu terlalu kencang, aku tidak bisa bernafas."

"Ah!" Gakuhou melepaskan pelukannya, "Maaf ya," katanya tulus sambil membelai rambut Gakushuu.

Lagi-lagi pipi Gakushuu bersemu merah. Mata anak itu menjelajahi tubuhnya dan menemukan banyak selang masuk ke tubuhnya. Mendadak Gakushuu merinding membayangkan bagaimana para dokter memasukkan selang-selang itu ke tubuhnya.

Tangannya berusaha melepas selang yang mengalirkan oksigen ke hidungnya tapi dicegah Gakuhou. "Tidak usah sok kuat. Aku tahu kau masih butuh selang itu," katanya.

"Aku tidak lemah," gerutu Gakushuu. Gakuhou hanya tersenyum geli lalu memanggil dokter yang menangani Gakushuu.

"Baru saja bangun kau sudah bisa menggerutu ya," gurau Gakuhou. "Tidak lemah, eh? Kuharap aku bisa mengatakan seperti itu setelah melihatmu koma."

Gakushuu mendengus, tapi dengusannya terdengar pelan. Ia memejamkan matanya lagi. Hal terakhir yang ia ingat, ia ada di taksi dan ayahnya memeluknya sambil menangis. Sisanya ia tidak ingat.

"Gakushuu-kun, berapa 16 dikali 16?"

"256."

"5 dikali 5?"

"25. Apa maksudnya sih?"

"Oh tidak ada apa-apa. Ayah cuma mengetes. Untung kau masih ingat semua itu. Kalau tidak, aku repot harus mengajarimu dari awal lagi," ujar Gakuhou cuek.

Gakushuu tersenyum kecil, ia merindukan sisi diri ayahnya yang ini.


Suara langkah kaki pria berjas rapi itu tampak menggema di lorong sepi itu. Bau khas rumah sakit serasa menusuk hidungnya. Di tangannya ada sebuah map berisi surat perjanjian dan tentunya pulpen. Matanya menemukan ruang yang ditujunya, kamar VIP 207. Tangannya mengetuk pintu itu beberapa kali lalu membukanya.

Begitu masuk ke dalam ruangan itu, Karasuma langsung bertatapan dengan mata violet milik Asano Gakushuu. Anak itu terlihat berbeda dengan perban di kepalanya dan kanula di hidungnya. Sepertinya terakhir kali dia melihat Gakushuu adalah saat Kelas E mengalahkan Kelas A saat pertandingan olah raga, anak itu terlihat sangat sehat dan bertenaga, tidak seperti sekarang ini. Tetapi Karasuma merasakan, tatapan tajam Gakushuu tidak berubah.

"Ayah, ada tamu," kata anak itu, mengguncangkan bahu ayahnya.

"Gakushuu-kun…," erang sang kepala sekolah. "Apa? Kau mengganggu tidurku. Kurasa aku akan memberikan hukuman untuk itu."

"Ohayou gozaimasu, Kepala Sekolah Asano,"sapa Karasuma, membungkuk hormat.

"Ohayou, Karasuma," jawab Gakuhou, bangkit dari posisi tidurnya.

Gakushuu menatap pria yang berdiri di depannya itu. Ia ingat pria ini adalah wali kelas E. Seingat Gakushuu, ayahnya bilang, yang akan datang itu staff dari Kementerian Pertahanan, tapi kenapa wali kelas E yang datang?

"Maaf sedikit terlambat, Kepala Sekolah,"ujar Karasuma formal.

"Tidak masalah. Saya tadi sempat tertidur, untung saja Gakushuu masih bangun," kata Gakuhou ramah sambil tersenyum.

Karasuma belum terbiasa dengan perubahan sikap sang kepala sekolah. Ia juga bisa melihat Gakushuu merasakan hal yang sama. Anak itu terlihat pucat dan ada selang infus menancap di tangannya. Aku tidak pernah berpikir akan melihat anak kepala sekolah dengan kondisi seperti ini, pikir Karasuma.

"Perkenalkan, saya Karasuma Tadaomi, dari Kementerian Pertahanan Jepang. Douzo yoroshiku onegaishimasu!" Karasuma memperkenalkan dirinya dan mengangguk pada Gakushuu.

Mata violet Gakushuu menatap Karasuma tajam, seolah menilainya. "Asano Gakushuu. Yoroshiku onegaishimasu," anak itu terdiam sebentar, "Maaf, aku tidak bisa mengangguk ataupun membungkuk, kepalaku masih pusing."

Karasuma mengangguk, "Tidak apa-apa. Aku paham.".

"Jadi begini, Asano-kun," Karasuma mulai menjelaskan tentang Koro sensei dan kenapa gurita itu jadi rahasia internasional.

"Saya harap, karena gurita kuning itu rahasia dunia, kau bisa menandatangani surat perjanjian kalau kau tidak akan menyebarkan berita ini kemana pun," Karasuma menyodorkan secarik kertas.

Gakushuu mengambil pulpen yang disodorkan ayahnya dan menandatangani surat itu. "Terima kasih atas kerja samamu, Asano-kun," kata Karasuma lalu mengambil surat perjanjian itu lagi.

Remaja berambut jingga itu mengangguk, "Ya..," katanya pelan. Matanya memejam, "Jika Anda mengijinkan, aku ingin tidur."

"Ah ya. Kalau begitu terima kasih, Asano-kun. Semoga cepat sembuh," kata Karasuma. Gakushuu memejamkan matanya dan tertidur.

"Hei! Hei! Ini kamar 207! Kalian mau ngapain ke sebelah sana?"

"Maehara! Ngapain kau menatap Kanzaki terus-terusan? Ayo sini!"

"Permisi! Permisi! Saya dokter dari pasien di kamar 207! Tolong jangan bergerombol di depan pintu!"

"Ah, ya, kami mau menjenguk Asano Gakushuu!" mata Gakushuu terbuka lagi begitu mendengar namanya disebut.

"Siapa di sana?" tanyanya.

"Kurasa itu anak-anak kelas E," kata Karasuma.

Oh tidak! Jerit batin Gakushuu. Mereka akan melihatku dalam kondisi seperti ini! "Ayah..," geram Gakushuu, "Kenapa kau ijinkan mereka datang?"

"Sudahlah, aku anggap kau menang dalam pertandingan kita selama ini," kata Gakuhou tenang, "Aku mengaku kalah. Karena kau sudah mengetahui rahasiaku. Kelas E dan gurita-kuning-penghancur-Bumi."

"Itu sama sekali tidak membantu," Gakushuu mendengus dan kemudian malah terbatuk.

Begitu dia terbatuk, kepalanya langsung berputar. "Aduh, kepalaku!" rintihnya.

Untung saja dokter yang menanganinya langsung masuk begitu mendengar Gakushuu berteriak kesakitan. "Anak-anak, tahan dulu di situ," kata Karasuma, mencegah Nagisa dan kawan-kawan masuk ke dalam kamar.

"Wah, wah, aku tidak pernah menyangka kalau si Asano bisa sakit," gumam Maehara.

"Semua orang tentu bisa sakit, Maehara," ujar Kanzaki. "Aku kasihan padanya."

"Ah, Kanzaki, tidak perlu mengasihani dia," ujar Karma cuek. "Buang-buang waktuku saja sih, pakai acara menjenguk Asano segala."

Nagisa menatap sahabatnya kesal, "Karma-kun, jangan sekarang. Kau tahu di situ ada Kepala Sekolah."

"Bagi pengunjung boleh tenang sedikit?" tegur dokter itu.

"Iya, tunggu, Gakushuu-kun, embernya di sini," Gakuhou sibuk mengurus anaknya, ember yang ia pegang nyaris jatuh ke lantai.

Kanzaki berjengit waktu melihat Gakushuu muntah. "Uh, kuharap aku tidak melihat yang barusan," gumamnya, menyembunyikan wajahnya di balik pundak Maehara.

Gakushuu merasa kepalanya berputar dan perutnya jadi mual. Dia terus berusaha memuntahkan isi perutnya, yang sebenarnya hanya ada susu dan bubur yang hanya dia makan tiga sendok saja. Tangannya menggenggam jas ayahnya kuat-kuat. "Uggh..," gumamnya, menyenderkan kepalanya di pundak Gakuhou dan memejamkan mata.

"Sudah?" tanya Gakuhou.

Gakushuu bergumam, "Ya..,"

"Baiklah," Gakuhou membantu Gakushuu berbaring lagi. "Gakushuu, sepertinya ingusmu keluar, sini biar Ayah bantu bersihkan,"

"Ewh," siswa kelas E langsung berjengit.

"Sejak kapan Kepala Sekolah jadi keibuan begitu," ujar Karma, masih bergidik.

Gakuhou melepas kanula dari hidung Gakushuu dan mengelap hidung Gakushuu dengan sapu tangannya. Mata Gakushuu terpejam erat dan tangannya masih mencengkram di tempat yang sama.

"Untuk sementara ini, tolong dijaga agar Asano-kun tidak batuk dulu. Sepertinya batuk memberikan efek yang buruk untuk kepalanya," ujar dokter, membantu Gakuhou memasang kembali kanula.

Setelah menyuntikkan beberapa obat, dokter itu pamit pergi. Kelas E jadi saling tatap menatap, saling menyuruh siapa duluan yang harus bicara. "E..eh, ohayou gozaimasu Kepala Sekolah!" akhirnya Kanzaki yang memulai duluan.

"Ohayou minna-san," ujar Gakuhou ramah, tangan kanannya menggenggam tangan Gakushuu sedangkan tangan kirinya membelai rambut anak itu, membuat posisi yang agak aneh. "Memangnya kalian tidak ada pelajaran? Pagi-pagi sudah ada di sini,"

"Bagaimana kabar Asano-kun?" tanya Kanzaki, memberanikan diri mendekati ayah dan anak itu. Teman-temannya mengikuti di belakangnya. "Euh, soal kami ada di sini, Koro sensei pergi ke Indonesia, katanya mau cari bubur ayam untuk Asano-kun. Tugas yang ia berikan sudah kami selesaikan, jadi Karasuma sensei mengijinkan kami menjenguk Asano-kun."

"Bubur..apa?" mata Gakushuu membuka, menatap Kanzaki.

"Jangan tanya kami, kami juga tidak tahu makanan apa itu," Maehara mengedikkan bahunya.

"Kabar Gakushuu..yah cuma begini saja," Gakuhou tersenyum miris, "Paling tidak dia sudah sadar."

"Hei Asano," panggil Karma, "Ayolah cepat sembuh. Tidak seru kalau tidak ada lawan untukku di SMA nanti!"

"Ya, Asano, kami ingin kau kembali ke sekolah lagi," ujar Kanzaki, tersenyum manis. Nagisa dan Maehara ikut mengangguk.

"Asano-kun, kau harus datang ke acara wisuda kita. Kita akan lulus bersama, bukan?" Nagisa memberanikan diri menyentuh pundak Gakushuu, ia merasakan ada semacam kabel yang melintas di bawah baju Gakushuu.

"Asano, OSIS bingung bagaimana mereka harus mendekor acara wisuda. Cepatlah sembuh dan bantu mereka, kalau tidak bisa-bisa acara wisuda kita penuh bunga kematian," ujar Maehara asal, membuat tawa mereka meledak.

Gakushuu membenarkan posisi duduknya lalu tersenyum sinis, "Tentu saja, Akabane. Otakku baik-baik saja, jadi bersiaplah untuk turun ke posisi paling akhir di SMA nanti. Shiota, kau bisa melepaskan tanganmu sekarang,"

"Aku tunggu itu. Kalau kau tidak koma lagi ya," ledek Karma, semuanya menahan tawa.

Si rambut jingga menarik nafas dalam-dalam, "Kurang ajar," umpatnya sambil menghembuskan nafas. "Awas saja kau nanti,"

"Huh, mau mengancamku ya?" mata Karma jelalatan memandang mesin-mesin di sekitar Gakushuu.

"Akabane, jangan sekarang," Gakuhou memperingatkannya dengan tatapan tajam.

Baru kali ini aku melihat Kepala Sekolah bersikap selayaknya orang tua, batin Nagisa. Gakushuu memandang mereka kesal, "Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi dengan kalian. Kalau kalian ingin membuat masalah denganku sebaiknya jangan sekarang," ia membalikkan badannya lalu menutup mata, berniat melanjutkan tidurnya yang tertunda.

"Ayolah Asano! Kau sudah tidur selama 8 hari! Tidakkah kau bosan?" kata Maehara.

"Sialan."


Ruang OSIS sudah sepi. Banyak anggota OSIS yang sudah pulang. Matahari malu-malu bersembunyi dari ramainya aktivitas masyarakat Tokyo. Ren merapikan berkas terakhir yang telah mereka urus lalu menoleh ke teman-temannya, "Kita jadi kan menjenguk Asano?".

"Entahlah. Masih ada beberapa berkas yang harus kita urus. Proposalnya memang sudah jadi?" balas Seo.

Araki memasukkan laptopnya ke dalam tas lalu berkata, "Seo, kita harus menjenguknya. Walau bagaimanapun, dia teman kita kan? Dari sejak Asano koma, kita belum pernah menjenguknya."

Ren mengangguk setuju. "Kalau kau tidak mau tidak apa. Koyama, apa kau ikut?"

"Aku ikut. Sejujurnya aku merasa agak bersalah belum menjenguknya," balas Koyama.

Mereka semua memandang Seo. "Oke, aku ikut." Ia berdiri dan membereskan barang-barangnya.

"Kami keluar duluan. Jangan lupa kunci Ruang OSIS kalau kau mau keluar," pamit Ren.

Mereka bertiga keluar dari Ruang OSIS dan duduk di bangku depan ruangan tersebut. "Aku tidak menyangka Kepala Sekolah pernah memperkerjakan orang gila seperti itu," kata Araki, menghembuskan nafas.

"Yah, wajar-wajar saja sih, lagi pula kan guru itu sebenarnya buat Kelas E," sahut Koyama.

"Iya tapi imbasnya malah ke Keluarga Asano sendiri," timpal Ren.

"Senjata makan tuan," gumam mereka bertiga bersamaan sambil menghela nafas.

Ren teringat akan pembicaraan anak Kelas C yang ia dengar tadi pagi. "Aku tidak pernah mengira ibu Asano sudah meninggal. Aku kira ayah dan ibunya bercerai," Ren mendesah.

"Kudengar ibunya meninggal karena tertabrak."

"Kepala Sekolah juga ikut tertabrak katanya karena menolong istrinya."

"Ya ampun berita itu sangat cepat menyebar ya,"

Seo keluar dari Ruang OSIS dan mengunci pintu itu. "Baiklah, rumah sakitnya ada di dekat Stasiun Kunugigaoka kan?"

"Ya. Kita bisa pergi pakai mobilku," tawar Araki.

"Baguslah ada yang membawa mobil. Kita jadi tidak perlu naik taksi," kata Koyama lalu berjalan duluan. Koyama paling malas disuruh patungan.

Sesampainya di rumah sakit, resepsionis menunjukkan dimana kamar Gakushuu berada. Mereka berjalan diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. "Omong-omong," Ren memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka dari sejak tiba di rumah sakit. "Aku membawa semua berkas yang harus ditanda tangani ketua OSIS. Jadi besok kerjaan kita bisa berkurang dan bisa fokus untuk mencari ide untuk mendekor."

"Yah, ide bagus Ren. Mungkin gara-gara kecapekan tanda tangan, si Asano bisa koma lagi," kata Seo sarkastik.

"Itu berlebihan," sahut Araki.

"Kan kepalanya terbentur keras, bisa saja dia koma lagi."

"Hei, kalian terlalu asyik mengobrol dan melewatkan kamarnya Asano," mereka menoleh ke arah suara Koyama.

Ren maju dan mengetuk pintu bernomor 207 itu. "Konbanwa!"

"KUBILANG, AKU TIDAK MAU!" mereka semua berjengit mendengar suara teriakan sang ketua OSIS.

"Asano-kun! Kalau kau tidak mau disuntik, aku terpaksa harus mengikatmu!"

"Ada apa sih?" Koyama membuka sedikit pintu kamar Gakushuu dan melihat pertarungan Gakushuu dan dokternya.

"Kalau kau berani menyuntikku, akan ada akibatnya!" seru Gakushuu.

"Gakushuu, diamlah! Buat ini jadi lebih mudah!" seru Gakuhou, stress akan kelakuan anaknya.

Five Virtuosos saling berpandangan. "Asano takut jarum suntik?"

"Kubilang tidak! Ti..aaakh!" Gakushuu merasa kepalanya pusing karena terlalu banyak bergerak.

"Sudahlah ayo masuk saja," kata Seo, mendahului mereka semua.

Kesempatan pusingnya si pasien yang keras kepala itu dipergunakan oleh dokter dan perawat-perawatnya untuk menyuntik Gakushuu. "Rasanya aku ingin tertawa," Araki menutup mulutnya.

"Sial..an," umpat Gakushuu, setengah teler akibat pengaruh obat.

"Konbanwa, Kepala Sekolah Asano!"

Gakuhou kaget lalu menoleh. "Kukira kalian akan datang besok."

"Kalau besok, kami takut tidak sempat," sahut Koyama.

"Mau bertemu dengan Gakushuu-kun, kan?" mereka berempat bisa membaca raut wajah Gakuhou yang kelelahan. "Saya bangunkan dulu."

"Gakushuu-kun," Gakuhou mengusap kepala Gakushuu. "Teman-temanmu datang. Pasang wajah yang benar, jangan terlihat seperti orang mabuk begitu!"

"Seo, aku benar-benar akan tertawa," Koyama menepuk pundak Seo.

"Aku tahu. Ekspresinya ya," Seo mengeluarkan suara menahan tawa. Five Virtuosos tidak pernah membayangkan bagaimana wajah teler Gakushuu, maka sekalinya mereka melihatnya, rasanya ingin mati ketawa.

"Enggh..," mata Gakushuu tidak fokus. "A..nu..," matanya mengerjap beberapa kali. "Sedang apa kalian di sini?!" tanyanya kaget.

"Tentu saja menjengukmu, Asano!" timpal Araki.

"Oh Tuhan," umpat Gakushuu. "Mau apa kalian ke sini?"

Ren maju dan memberikan berkas-berkas yang harus ditanda tangan Gakushuu. "Aku perlu kau menanda tangani berkas-berkas ini."

"Baiklah, bawa..uh, bawa ke sini," Gakushuu memejamkan matanya sebentar, "Ayah, boleh aku minta minum?"

Gakuhou memberikan segelas air pada anaknya. Five Virtuosos tercengang, sejak kapan Asano Gakushuu memanggil Asano Gakuhou dengan sebutan "ayah"?! Dan sejak kapan Asano Gakuhou mau meladeni anaknya?!

Seperti biasa, Gakushuu dengan cepat menanda tangani berkas-berkas itu. Setelah selesai, ia berbisik, "Sejak kapan kalian ada di sini?"

"Sejak kau tidak mau disuntik,"

"Jadi kalian melihatnya?!"

Keempat temannya mengangguk jahil, tiba-tiba mereka seperti tertular aura si Akabane.

"Sial."

Pojoknya Author:

Gomen semuanyaaa TT! Updatenya benar-benar telat ya. Maafkan Author, tugas mulai banyak dan ada satu guru bawel di sekolah Author. Kelas Author dikatain "Kelas Madesu" padahal kami ga ngapa-ngapain :'v. Five Virtuosos sepertinya OOC ya nurufufufu! Sebenarnya Author pengen balikin duo Asano ke karakter mereka yang asli, tapi seakan-akan Gakuhou di jalan cerita ini ga mau berubah ke aslinya (?) dan itu membuat karakter Gakushuu jadi setengah OOC. Karma-kun akhirnya muncul lagi :v. Terima kasih bagi semua yang sudah berkenan menghabiskan waktunya membaca fanfic saya. Terima kasih silent reader, reviewers (?), yang sudah berkenan untuk favorite dan follow, juga arigatou gozaimasu! Kemungkinan "Sweet Revenge" akan tamat satu atau dua chapter lagi, tapi nantinya masih ada epilognya.