Author : The Abnormal Kid.
Rate : T.
Genre : Romance, Hurt/Comfort.
Chapter : 10.
Warning : Typo (s), OOC, Netorare (maybe?), alur cepat, gaje, abal-abal, hancur dan lainnya.
Rainy Days.
"Apa aku tak salah dengar? Kau memilih Rukia?!" Miyako nampak masih terkejut mendengar keputusan Kaien, sementara Rukia entah mengapa malah membatu di tempat.
"Kau tidak salah dengar Miyako, aku memang memilih Rukia."
"Kenapa? Bukannya kau mencintaiku? Lalu kenapa kau memilihnya? Pasti ini karena kakakmu kan? Kau pasti meminta bantuan padanya."
"Saat ini aku sudah tidak bisa meminta bantuan pada kakakku lagi, jadi tentu saja ini adalah keputusanku sendiri. Karena biasanya kakakku yang memecahkan masalahku maka kurasa aku harus berpikir sesuai caranya untuk memecahkan masalahku. Dan akhirnya aku menemukan alasan itu."
"Alasan apa?" tanya Miyako semakin penasaran.
"Kemarin kau bilang jika salah satu dari kalian kucium maka dia bisa memilikiku bukan? Walaupun itu kutolak, tapi aku menemukan sebuah alasan dari sana, bahwa aku ini bukanlah milik siapapun, bukanlah milik kakakku maupun keluargaku. Diriku maupun perasaanku takkan pernah dimiliki oleh siapapun, tapi akulah yang memberikan cintaku pada wanita yang kupilih. Dan hanya cinta yang kuberi, bukanlah diriku atau seluruh perasaanku karena tak ada yang berhak memilikinya."
"Kaien," gumam Rukia walau masih diam di tempat.
"Tapi Rukia juga setuju atas penawaranku itu kan?"
"Kurasa itu hanya karena Rukia tak mau kalah darimu."
"Aaarrghh, padahal aku sudah berusaha berbohong dengan baik sehingga seolah terlihat jujur, gara-gara kakakmu kau jadi sulit ditipu ya."
"Apa maksudmu?"
"Sejak kecil sampai sekarang aku tidak punya perasaan apapun padamu, aku berbohong padamu adalah salah satu usahaku untuk melancarkan usaha kakakku untuk menghancurkanmu dari dalam," ungkap Miyako.
"Apa? Menghancurkanku dari dalam?"
"Kakakku itu tahu bahwa kau adalah adik kesayangan kakakmu, bahkan kakakmu tak tega membiarkanmu mengurus masalahmu sendiri karena kau terlahir dengan mental yang rapuh. Jika aku berhasil menghancurkan mentalmu itu, kakakmu pasti akan dengan segera berlutut di hadapan kakakku."
"Kurang ajar kau, Miyako.."
"Kau yang tak tahu derita kakakku takkan pernah mengerti bagaimana rasanya, karena itu, aku tak peduli kau berkata apa," Miyako berjalan melalui sisi kanan Kaien lalu meninggalkan mereka berdua disana.
"Kenapa kau memilihku, Kaien?" tanya Rukia yang setelah kepergian Miyako.
"Bukankah tadi sudah kujelaskan?"
"Tetap saja tidak kumengerti, kau seharusnya mempunyai perasaan pada Miyako tapi mengapa kau dengan mudah menolaknya?"
"Terkadang perasaan kita juga bisa salah, Rukia. Cinta pun tak luput dari kesalahan, jangan sampai pikiranmu kalah dari sebuah perasaan yang tidak jelas kebenarannya."
"Begitu ya, aku baru tahu."
"Jika kau terus tinggal dalam rumah, kau takkan pernah tahu. Oh ya, karena kita sudah disini bagaimana kalau kita menonton film? Siapa tahu ada film yang menarik," Kaien memegang pundak kiri Rukia sambil memandang bioskop dekat mereka.
"Iya, aku juga ingin nonton film lagi."
.
.
"Telingaku masih sakit nih Masaki, merah pula," ucap Isshin sambil memegang telinga kanannya yang sakit di sebuah jalan yang berada di pusat kota Karakura bersama Masaki.
"Salah sendiri, malu-maluin aja. Nanti kulaporin ke Kuukaku baru tahu rasa," jawab Masaki yang masih tampak kesal.
"Plis, jangan kasih tahu Kuukaku, nanti kubelikan apa saja deh yang penting jangan kasih tahu."
"Tiada ampun pokoknya, biar kapok!"
Saat keduanya sedang berbincang, seseorang telah menunggu mereka di depan.
Katagiri Kanae, menunggu mereka dengan mata yang masih menyisakan air mata.
"Kanae? Ada apa kau kemari?" tanya Isshin.
"Isshin, aku mohon, berikanlah Masaki pada Ryuuken," ujar Kanae yang membuat air matanya semakin mengalir.
"Apa maksudmu?! Mana mungkin aku akan memberikannya!" Mendengar pernyataan seperti itu, tentu saja Isshin menolaknya.
"Kumohon berikanlah! Demi kebaikan Ryuuken!" Kanae memohon kembali sesuatu yang tak mungkin dikabulkan oleh Isshin.
"Kanae? Kau kenapa? Ada apa dengan Ryuuken?" Masaki seperti tak terpengaruh oleh permintaan itu dan malah menanyakan soal Ryuuken.
"Di saat begini malah menanyakan Ryuuken, kau sebenarnya di pihak mana sih Masaki?"
Saat Isshin bertanya seperti itu, Masaki sudah hilang dari sisinya.
Seorang berambut perak yang sangat ia kenal menarik tangan Masaki dan membawanya dengan paksa untuk masuk ke dalam mobil yang ternyata sudah disiapkannya.
"RYUUKEN!" Isshin dengan cepat berlari menuju mobil putih yang berada di belakangnya, tapi mobil itu pun tak mau diam saja, kendaraan itu siap melaju dengan kecepatan tinggi andai saja tak dihentikan oleh seorang perempuan di depannya yang menghentikan mobil hanya dengan satu tangan.
"Hanya orang yang belum tahu kekuatan Meninas yang berani menculik tuan putri Masaki!"
Seorang penjaga dari keluarga Kurosaki, datang di saat yang tepat.
To be continued.
