Disclaimer: all Naruto characters belong to Masashi Kishimoto-Sensei.

Warning : AU and maybe OOC

Genre : Romace and Humor (?) never mean it to be a comedy anyway…

Chara : KibaIno

Chapter 10, minna-san! Maaf karena lagi nggak bisa update cepat seperti biasa *membungkuk*

Ups! Waktunya balesin review dulu. Oke?

#Akira Tsukiyomi Sang Reviewer Terbalik : tunggu satu chapter lagi yah? Ahaha.

#ZephyrAmfoter: gimana? Pairingnya sesuai selera kamu nggak?

#Moe chan : Hihihihihihi *tertawa penuh makna* Kita lihat aja di chapter ini. Si Akamaru di-gimana-in. :P

#el Cierto : maaf, lagi nggak bisa update kilat. Yang FL juga belum *tapi in progress kok* (dan yang bikin update-an semua fic multichap saya lagi terhambat salah satunya adalah gara-gara ide yang muncul lagi GaaIno terus. Pengaruh GIST event tampaknya XD) Soal alasan KibaHina putus pasti nanti diungkap kok.

#Andaaza: ehehe, maaf yah nggak bisa kilat-kilat amat.

# Ino FaNs : XD pervert si Ino emang. Kadonya mau dikasih ke siapa, tunggu satu chapter lagi ya? Hahaha. Dei? Ada kok. Clue-nya : foto cewek yang kemarin ini diliat Ino di kamar Dei. :D

#Ena-Chan' Fourthok'og : Soal hadiah, tunggu 1 chapter lagi yah. Hihihihi. Soal Akamaru? Boleh dilihat di chapter ini. Hahay!

#airi-zela : yup, yup! Saya suka banget kalau dei-ino jadi sodara! Sifat mereka juga agak2 mirip sih di mata saya. Apa ya bilangnya? Agak noisy2 gimana gitu. XD Hehehe, soal pertanyaan yang lain, sabar yaaaa… ^^

# Nicha Youichi : Haiah? Ganti pen-name? Ehehe. Makasih dah bilang chapter kemaren keren. Btw, sorry yah gak bisa update terlalu kilat. T.T

#vaneela : err… Feeling vaneela-san kuat sekali ya? Memang chapter kemaren (agak) pendek sepertinya. Hahaha. Yang sekarang udah dipanjangin lagi kok. :P

#Uzumaki Cool : sip! Silakan update-annya! ^^

#shana-chan : memang! Ino imajinasinya kan setinggi langit! XD soal hinata, nanti juga ketahuan kok. Tunggu yaaahh!XD

# KIBAAA INOOO : err... Maaf yah (agak) lama updatenya (garuk2 kepala dan nyengir berdosa). Ehm? Siapa ya? Nicha yah? *maaf kalau salah nebak*XD

Yosh! Sekian!

Nah, seperti biasanya, I hope u'll enjoy the story! :3

Note : all story will be taken from Ino's POV


GAME MASTER

.

.

"Wow! Bajunya bagus! Ne, Kiba-kun? Mite, mite!" ujarku sambil melambai-lambaikan tangan pada Kiba dan kemudian menunjuk ke suatu etalase. Etalase itu memperlihatkan sebuah manekin yang mengenakan baju berwarna ungu sepanjang paha. Baju bermodel sabrina itu merupakan bahan rajutan yang aku yakin akan sangat cocok kalau dipadu dengan hot pants warna putih. Lalu tinggal ditambah aksesoris berupa kalung panjang dan… AAAH! Penampilanku pasti akan menjadi sangat luar biasa!

Mataku masih terpaku pada baju ungu tersebut dan kedua tanganku sudah menempel pada kaca etalase saat kurasakan Kiba sudah berpindah tempat, tepat ke sampingku.

"Hooo! Lumayan juga!"

"Guk!" Akamaru –anjingnya- menimpali.

"Kan?" jawabku dengan nada suara yang jelas-jelas menunjukkan semangatku. Bahkan tanpa sadar, bibirku sudah melengkung, membentuk senyuman.

"Nggak mau beli?" tanya Kiba-kun yang membuatku sadar dan kembali pada kenyataan.

"Nggak!" jawabku sambil mengalihkan wajahku dari etalase toko tersebut. Aku pun kemudian memutuskan untuk berjalan menjauh dari godaan si baju ungu. Catat! Dengan berat hati!

"Kenapa?"

"Lagi nggak ada duit!" jawabku singkat. Yeah, aku kalah bertaruh dengan Deidara-niichan dan kurasa kalian sudah tahu kelanjutannya.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat kalau Kiba hanya mengangguk. Tatapan matanya sendiri masih menjelajah sekeliling. Mungkin dia sedang berusaha mencari toko yang dapat memenuhi keinginannya? Yah, bagaimanapun kami datang ke sini bukan tanpa tujuan. Kiba ingin memberikan suatu hadiah pada 'teman'-nya yang baru berhasil melakukan suatu resital.

Uh! Mood-ku bisa mendadak menurun kalau begini. Padahal aku udah cukup senang bisa kencan dengannya. Walaupun ada sedikit pengganggu sih. Tuh! Liat aja si anjing kecil yang demen nangkring di kepalanya. Coba si maniak anjing satu ini nggak bawa-bawa anjingnya dalam kencan kami. Err.. Yah… Boleh kan aku menyebut acara jalan-jalan kami ini sebagai kencan?

Ngomong-ngomong, seolah menjawab doaku – Kami-sama memang baik pada orang-orang berhati bersih dan cantik sepertiku- mendadak Kiba berkata.

"Eh, Ino! Kau tau nggak di mana letak petshop?"

"Huh?"

"Petshop?" ulangnya seolah aku nggak mendengar kata-katanya barusan.

"Ada di lantai 2. Mau ke sana?"

"Yep! Perawatan bulanan buat Akamaru!"

"Lho? Kukira kau yang merawatnya sendiri?" tanyaku sambil memiringkan kepalaku sedikit.

"Sekali-sekali!" jawab Kiba kemudian sambil menyeringai. "Lagian kalau bawa Akamaru, aku nggak bisa sembarangan masuk toko nih!"

"Heh! Udah tau kenapa masih dibawa-bawa juga?"

"Kasian kan? Udah lama dia nggak kuajak jalan-jalan keluar. Ya, Akamaru?" jawab cowok satu itu sambil menggaruk bagian leher di bawah dagu Akamaru. Akamaru terdengar mendengkur kesenangan. Kok jadi kayak kucing sih?

Aku memutar bola mataku. Terserah dia aja deh! Yang penting, dari kata-katanya, aku menangkap kesan kalau Kiba ingin meninggalkan Akamaru di Petshop sementara dia mencari hadiah. Hohoho! Kesempatan datang lebih cepat dari yang kukira!

Aku pun kemudian mengajaknya ke lantai dua, seolah aku ini seorang pemandu yang sudah hafal letak semua toko yang ada di Konoha Shopping Center ini. Oke. Itu berlebihan. Nggak semua toko aku hafal letaknya. Tapi sebagian besar sih…

"Tuh!" ujarku kemudian sambil menunjuk ke arah satu toko dengan gambar anjing dalmatian dan kucing Persian berbulu abu di ujung-ujung plangnya. Tulisan Petshop dengan huruf 'o' yang diganti menjadi gambar tapak kaki hewan tampak mencolok di tengah-tengah plang tersebut.

Kiba melihat ke arah Akamaru dan Akamaru balik menatap Kiba. Kiba kemudian menyeringai dan Akamaru menyalak kesenangan. Jangan tanya padaku apa yang baru saja mereka lakukan. Mungkin itu semacam telepati antara majikan dan peliharaannya? Like I care.

Yang jelas, tanpa membuang waktu lagi, Kiba langsung masuk ke dalam Petshop tersebut. Ia kemudian berbicara pada seorang penjaganya dan penjaganya tersebut tampak mengangguk sambil tersenyum.

Aku memilih menunggu di luar sambil melihat-lihat beberapa hewan yang berada di kandang-kandang kecil yang dipertontonkan di etalasenya. Lucu sih. Tapi kasihan juga melihat mereka yang jadi nggak bisa bergerak bebas. Oh well, aku cuma bisa merasa kasihan dan mendoakan agar mereka cepat menemukan majikan baik hati seperti si Kiba itu.

Eh, bagaimana denganku? Tidak, aku tidak mau membeli hewan. Aku lebih suka merawat bunga dibanding merawat hewan. Jadi maaf-maaf saja deh!

"Ino! Ayo!"

"Ng?"

"Waktunya nyari hadiah! Nanti kita ke sini lagi setelah dapat hadiahnya aja!" ujar Kiba sambil… Sambil menarik tanganku!

Ah! Detak jantungku! Detak jantungku!

Aku menolehkan kepalaku sehingga Kiba nggak bisa melihat wajahku. Tindakan yang bijak. Karena saat kulihat pantulan wajahku di salah satu kaca etalase, warnanya benar-benar sudah memerah!

"Oh!" ujarnya tiba-tiba. Dan bersamaan dengan itu juga, ia langsung melepaskan pegangan tangannya padaku.

Sekarang aku terpaksa menoleh ke arahnya.

"Sorry! Nggak sengaja!" jawabnya santai sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.

"Nggak sengaja apa?" tanyaku yang malah jadi kebingungan.

"Megang tanganmu!"

Astaga! Kukira apa!

Ngomong-ngomong… Hey! Kapan aku bilang kalau aku keberatan?

"Yah! Harusnya kau memang nggak seenaknya memegang tangan cewek! Kalau aku lagi nggak baik hati, sudah kutampar kau!"

.

.

Oke! Aku dan mulutku yang nggak pernah sejalan dengan hatiku! Bagus sekali!

"Sorry deh! Namanya juga nggak sengaja!" jawabnya sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Lupakan!" jawabku sambil kembali membuang muka.

Baka, baka, baka, baka, baka, baka, baka, baka, baka, baka, baka!

Kenapa sih, aku nggak bisa bersikap lembut sedikit aja? Oh, gengsi! Turunkanlah sedikit derajatmu!

"Ngomong-ngomong," ujar Kiba kemudian. Aku masih belum menoleh ke arahnya. "Kau punya ide nggak, tentang hadiah yang harus kubeli?"

Ukh! Ini lagi!

"Apa ya?" jawabku dengan nada yang oh-sungguh-tidak-niat. "Boneka?"

"Setahuku dia sudah punya banyak di rumahnya!"

"Baju?"

"Mana kutahu ukuran dan seleranya? Aku cuma tahu dia suka warna biru terang!"

Aku mengernyitkan alisku.

"Alat musik? Dia mahasiswi jurusan musik kan?"

"Ehem! Gini ya, Ino! Kau pikir aku punya cukup uang untuk membeli alat musik yang harganya selangit itu?" ujarnya mulai terdengar nggak sabar.

Aku mendecak pelan. Terus terang, aku juga jadi bingung mau menyarankan apa untuk dibeli. Orangnya saja aku nggak kenal! Gimana bisa aku menyumbangkan ide untuk membeli hadiah untuk seseorang yang nggak aku kenal?

Akhirnya, sambil mendesah aku berkata, "Ceritain dulu deh! Cewek yang mau kau kasih hadiah itu kayak apa orangnya!"

"Anaknya manis," jawab Kiba cepat, "pemalu dan penggugup!"

Ng? Apa katanya tadi?

Bukan, bukan kata-kata yang terakhir! Yang pertama tadi.

Manis?

Manis, eh?

"Terus apa lagi?" tanyaku sambil sedikit mengeratkan pegangan pada tali tasku.

"Apa ya?" jawab Kiba kemudian. Kulirikkan mataku sedikit dan bisa kulihat Kiba yang tengah memandang ke atas. "Rambutnya panjang, warnanya indigo. Kulitnya putih dan tingginya…" Ia melihat ke arahku. "Lebih pendek sedikit darimu!"

Aku mengangguk malas. "Lalu?"

"Hobinya main musik dan…"

Sejujurnya, aku sudah nggak terlalu mendengarkan omongan Kiba. Dua alasan. Satu, aku memang nggak berniat untuk tahu lebih banyak soal si gadis manis itu. Kedua, perhatianku kini sudah teralihkan sepenuhnya pada toko kosmetik kesayanganku!

Akhirnya, tanpa bilang apa-apa pada Kiba, aku langsung ngeloyor masuk ke dalam toko kosmetik tersebut. Kiba sendiri? Terakhir kulihat dia masih sibuk bicara sendiri dan berjalan lurus ke depan. Masa bodoh deh!

Aku segera beralih ke bagian lipgloss. Itu lho, sudah kubilang kan kalau lipgloss dengan warna peach kesayanganku sudah mau habis? Makanya mau kubeli sekarang.

Begitu aku sampai di counter yang menjual merek lipgloss yang kucari, aku mulai menajamkan penglihatanku. Tapi… Kenapa warna peach yang kucari malah nggak ada?

"Sumimasen!" ujarku pada salah satu pramuniaga di situ. "Lipgloss merek ini yang warna peach-nya nggak ada ya?"

Pramuniaga itu tampak melihat nama merek yang tertera di counter-nya sebelum ia berkata, "Maaf. Warna peach-nya memang sudah tidak ada. Tapi merek ini baru saja mengeluarkan warna baru, maroon. Mungkin Nona mau coba dulu?"

Kulihat warna maroon yang disodorkan padanya. Belum sempat aku menjawab, suara dari belakangku tiba-tiba menimpali.

"Terlalu mencolok!"

DEG!

Aku langsung menolehkan kepalaku.

"Kiba-kun?"

"Hoo," ujarnya sambil melirik sinis ke arahku.

"A-apa?"

"Bagus sekali! Tiba-tiba menghilang dan membiarkanku bicara sendiri seperti orang gila!"

Aku tertawa getir. Wah, dia tampak marah nih! Gawat, gawat!

"Bu-bukan! Gini! Tiba-tiba aku kepikiran, gimana kalau kau memberikan hadiah kosmetik pada teman cewekmu itu?" elakku sambil menyeringai kaku.

"Huh?"

"Iya! Kasih kosmetik aja!" ulangku dengan lebih tegas kali ini.

Kulihat Kiba tampak mengerutkan alisnya. "Dia bukan tipe yang suka dandan!"

"Biarpun begitu, dia itu cewek lho! Cewek dan make-up nggak bisa dipisahkan! Walaupun cuma sekedar make-up tipis!"

Kulihat Kiba tampak berpikir. Untuk semakin meyakinkannya, aku kemudian menambahkan.

"Lagian, kalau dia melakukan resital pasti dia harus dandan dong? Dan nanti, semakin terkenal dia, pasti penampilannya juga akan jadi sorotan!" ujarku sambil menggerak-gerakkan telunjukku, berpose mengajari. "Nah! Saat itu, dia pasti akan membutuhkan bantuan dari kosmetik!"

"Yah…" jawabnya masih terdengar ragu. "Mungkin kau benar?"

"Pasti benar!" desakku sambil mengambil sebuah compact powder, sebuah lipstik, blush-on, eye-liner, serta kuteks dari masing-masing rak yang ada di dekatku. Dengan seenaknya, aku kemudian menyorongkan semua itu hingga kini Kiba-lah yang memegangnya. "Percaya aja deh padaku! Lagian, dari awal kau yang meminta pendapatku kan?"

Kiba tampak berdiri kaku sambil melihat barang-barang yang ada di tangannya. Ia kemudian menatapku seolah butuh penegasan terakhir. Dengan baik hatinya, aku kemudian menepuk pundak cowok satu itu sambil berkata.

"Tenang! Aku yakin dia akan suka dengan hadiahmu!"

Akhirnya dia tersenyum. Senyum yang kusuka. Tapi di satu sisi, aku merasa sedikit sedih. Sedih karena… Aku merasa senyuman itu bukanlah ditujukan untukku!

Kiba-pun beranjak ke arah kasir untuk membayar belanjaannya. Aku hanya termenung di tempatku. Memandangi punggungnya yang tampak kokoh.

Tanpa sadar, aku pun menghela nafas.

Sudah berakhir. Kencan kami. Sekarang tinggal menjemput Akamaru dan kami akan pulang. Selesai. Tamat. Owari. The end. Nggak ada kelanjutan.

.

.

Ngomong-ngomong, dia lama sekali di kasir? Ngapain aja sih? Eh? Apa-apaan dia? Malah senyam-senyum sama petugas kasirnya? Pake lambaian tangan segala?

APA-APAAN ITU?

"Yo! Udah beres nih!"

"Hn!" jawabku dengan menggunakan trademark mantan pacarku. Ingat kan siapa? Oke, nggak perlu kusebut lagi kalau begitu. Lalu, menanggapi tatapan keheranannya, aku hanya memasang muka se-jutek mungkin sebelum berlalu terlebih dahulu ke arah luar toko.

"Kok cemberut gitu sih? Laper ya?"

"Nggak," jawabku pelan nyaris berbisik.

"Tapi benar juga! Waktunya makan nih! Gimana kalau kita makan dulu sebelum menjemput Akamaru?"

Aku terdiam sebentar sebelum berkata, "Terserah."

Aku ingin senang. Tapi nggak bisa. Kalau aku terlalu senang, bukankah aku hanya akan semakin berharap? Padahal harapan itu adalah sesuatu yang nggak pasti.

Aku menyukai Kiba.

Tapi… Bagaimana dengan Kiba sendiri?

Kalau mendengar cerita dari temannya –si Naruto itu- bukankah Kiba masih ada rasa pada mantannya? Dan… Soal teman cewek yang ingin dia kasih hadiah itu juga jangan dilupakan! Siapa ya cewek yang dia maksud? Mantannya itu-kah? Atau cewek lain? Cewek yang ia suka saat ini?

"Eh, Kiba-kun!" panggilku mendadak.

"Ya?"

"Teman cewek yang kau maksud itu… Siapa sih?"

Kulihat Kiba tampak mengerjab-ngerjabkan matanya sebentar. Ia kemudian membuang muka dan meletakkan kantong belanjaannya di pundak.

"Benar juga," katanya, "gimana kalau kau ikut denganku malam ini?"

"Ng?"

Ia melirikku dan menunjukkan senyuman yang eh… Terlihat penuh makna!

"Sudah diputuskan ya? Nanti malam kujemput kau lagi! Sekitar jam 7!"

"Hah?"

Pemaksaan seperti biasa.

Walaupun sudah sedikit terbiasa, tapi toh aku tetap saja mengerutkan dahi dengan kebingungan. Sialnya, Kiba nggak menjelaskan lebih jauh dan membiarkanku bingung dalam kebingunganku!

Ah! Sudahlah! Nanti malam juga aku akan tahu! Sekarang…

Boleh kan aku nikmati kencan ini sebentar lagi?

Tenang, aku nggak akan sehisteris seperti di awal-awal kok!

o-o-o-o-o

Malam pukul enam lebih empat puluh lima menit. Dengan kata lain, tinggal lima belas menit lagi sebelum pukul tujuh. Waktu yang dijanjikan Kiba untuk bertemu denganku.

Kulihat lagi penampilanku di depan cermin.

Baju yang kukenakan saat itu adalah sebuah tank-top berwarna hitam yang kulapisi dengan sebuah loose shirt putih motif polkadot ungu yang memperlihatkan bagian pundakku secara asimetris. Untuk bawahannya, aku mengenakan celana pendek, sepaha, berwarna hitam. Aku juga menambahkan fashion-belt yang berbentuk seperti tali-tali yang berbaris horizontal dengan ujung yang sedikit berumbai.

Sebagai aksesoris tambahan, aku mengenakan dua buah gelang berwarna ungu polos dan sebuah jam tangan tali kecil yang berwarna putih di tangan kiriku. Sebagai penghias leher, aku mengenakan sebuah kalung perak dengan bandul berupa bunga dengan delapan kelopak.

Kali itu rambutku kugerai dengan satu jepit berwarna ungu di bagian kiri dekat telinga.

Make-up tipis seperti biasa, walaupun lipgloss yang kupakai bukan berwarna peach, melainkan hot-pink.

Sempurna? Ya, kukira penampilanku sudah cukup sempurna.

Sekarang pertanyaannya tinggal… Ke mana Kiba akan membawaku?

Aku berputar sekali lagi di depan cermin.

Apa aku akan terlihat terlalu antusias dengan berpenampilan seperti ini? Apa nggak sebaiknya kuganti saja pakaianku dengan baju T-shirt biasa dan celana jeans panjang? Lalu, apa nggak sebaiknya rambutku juga kuikat high-ponytail seperti biasa?

Saat aku baru akan berjalan ke lemari bajuku, mendadak suara bel rumah membuatku sedikit terkejut. Aku mengernyitkan alis.

Setengah ragu, aku pun berjalan ke arah pintu dan mendapati Kiba yang berada di atas motornya dengan sebuah helm di tangannya. Saat itu ia mengenakan jaket kulit berwarna hitam dan sarung tangan kulit yang berwarna senada dengan jaketnya. Celananya jeans berwarna biru gelap dan sepatunya kets seperti biasa. Sebuah tas punggung berwarna gelap melekat di kedua pundaknya.

"Hai," sapaku pelan.

Ia nggak berbicara apapun pada awalnya. Matanya tampak meneliti penampilanku dari atas sampai ke bawah.

"Ah, uhm!" jawabnya kemudian seperti orang dungu.

Aku langsung merasa risih sendiri. Akhirnya, kukatakan padanya.

"Masuk dulu deh? Aku baru mau ganti baju soalnya!"

"Kenapa?" tanyanya dengan tatapan yang seolah masih belum puas mengamatiku.

Apa sih? Apa yang mau kau katakan sebenarnya? Apa aku pantas mengenakan pakaian seperti ini? Atau lebih baik kuganti? Yang mana!

"Nggak apa-apa!" jawabku sambil berbalik arah.

"Hei!" ujarnya sambil tiba-tiba menarik tanganku. "Begitu saja juga nggak apa-apa kok!"

Aku memberikannya tatapan 'Benarkah?' dan dia memberikan jawaban berupa anggukan pelan.

Aku menghela nafas pendek.

"Ok! Kalau begitu tunggu sebentar! Aku ambil tasku dulu!"

Sekali lagi, dia hanya mengangguk. Dan nggak lama kemudian, aku pun sudah berada di boncengannya. Menuju ke suatu tempat entah di mana.

Dalam perjalanan, kami nggak mengobrol seperti biasanya. Aku sendiri seperti sedang tenggelam dalam berbagai macam pikiran. Kiba juga nggak berinisiatif membuka pembicaraan.

Haduh, kok aku jadi deg-deg-an ya? Ke mana sih Kiba akan membawaku?

Kenapa aku mendadak malah ingin pulang lagi ya? Walaupun sayangnya itu nggak mungkin!

Tapi... Beneran deh! Kenapa ya aku jadi berasa grogi gini?

Saat berhenti di lampu merah, mendadak Kiba membuka mulut untuk mengajakku bicara.

"Kau kedinginan ya?"

"Ng? Nggak. Biasa aja!"

Sebenarnya, agak dingin juga sih. Tapi rasa dingin itu seperti tertutup oleh rasa grogi-ku. Jadi nggak terlalu kupermasalahkan! Walaupun sedikitnya aku jadi menyesal karena lupa membawa jaket!

Mendadak, Kiba membuka jaket kulitnya sehingga bisa terlihat kaos lengan panjang berwarna coklat gelap dengan model tight turtle-neck di balik jaket yang ia gunakan. Aku terpana sesaat karena kaos tangan panjang itu tampak memperlihatkan bentuk tubuh -atau dalam penglihatanku saat itu, bagian punggung- yang sempurna dari seorang Inuzuka Kiba! Tampak bidang dan berisi.

Gara-gara terlalu terpesona, aku pun sedikit tersentak saat ia menyodorkan jaket yang baru dilepasnya itu ke arahku.

"Pake!" katanya dengan nada seolah ia nggak ingin disanggah.

"Nggak!" jawabku keras kepala.

"Ck! Jangan sok kuat deh? Dari spion aku bisa lihat kau terus-terusan menggosok lenganmu secara bergantian."

O-oh! Aku saja nggak sadar kalau aku melakukannya!

Daripada berdebat lebih lama, akhirnya aku memilih untuk menerima jaket itu dan langsung mengenakannya.

Hei! Besar banget! Ujung tanganku aja sampai nggak keliatan!

Tapi…

Hangat!

Aku tersenyum sambil menggerakkan tanganku –yang tenggelam dalam jaket Kiba- ke depan mulutku.

Ya ampun! Rasanya aku jadi semakin dekat dengan Kiba! Senang banget! Gimana nih? Gimana nih? Aku harus kontrol wajahku supaya Kiba nggak bisa melihat ekspresi senangku! Jangan sampai ia tahu! Walaupun aku ragu dia akan bisa melihat ekspresi wajahku di jalanan yang nggak terlalu terang seperti ini.

"Hei, Ino!" panggil Kiba yang spontan saja membuatku tersentak. Kulihat ia memegang sesuatu –yang seperti handphone- di tangan kanannya. Dan sebelum ia berbicara lebih lanjut, ia memasukkan handphone-nya itu kembali ke dalam saku celananya. "Pegangan yang kuat!"

"Huh?"

Tanpa mau menjelaskan apa-apa, ia menarik tanganku dan melingkarkannya di pinggangnya.

H-HAH?

Di pinggangnya?

Aku… Aku memeluk…

GYAAAAA!

Mendadak saja dia mempercepat laju motornya.

Kami-samaaaaaa! Aku belum mau mati mudaaaaaa!

o-o-o-o-o

Akhirnya… Sampai… Juga…!

Aku turun dengan perasaan agak lemas. Jujur, aku sampai nggak begitu mempedulikan penampilan Kiba yang sebetulnya tampak -ehem- hot saat itu! Itu lho, yang seperti kubilang tadi! Bajunya kali ini membuat bentuk tubuhnya yang sempurna itu cukup tergambar jelas di mataku. Tapi kuulangi lagi, aku jadi nggak berminat untuk lama-lama menatapnya! Aku masih terlalu shock untuk itu!

Dan semakin membuat perasaanku nggak enak, Kiba memperlihatkan seringainya sesaat setelah ia melepaskan helm. Heh!

Aku memutuskan untuk nggak mengacuhkannya dan berkonsentrasi untuk melepas helmku. Juga jaket kulit yang ia pinjamkan. Kemudian kedua barang itu kuserahkan kembali pada Kiba yang masih memasang ekspresi puasnya.

"Gimana? Seru juga kan?"

"Seru kepalamu! Bahaya tau! Nyelap-nyelip sembarangan dengan kecepatan seperti tadi! Kau lupa apa kalau kau lagi membawa seorang gadis dalam boncenganmu?" ujarku setengah berteriak, seolah ingin menumpahkan segala perasaan nggak menyenangkan yang baru kali ini kurasakan saat berada di atas boncengannya.

Kiba tertawa renyah.

"Ingat kok! Makanya kusuruh kau pegangan yang kuat!" balasnya sambil membukakan pintu untukku. Aku mendengus.

Biar kujelaskan sedikit perasaanku saat itu. Walaupun aku senang karena aku mendapat kesempatan untuk memeluknya, tapi rasa senang itu langsung digantikan oleh rasa takut! Rasa deg-deg-an yang kurasakan juga, bukan deg-deg-an karena aku senang bisa berada begitu dekat dengannya, tapi lebih karena perasaan takut!

Gimana nggak! Bayangkan! Dia ngebut dengan sangat, sangat cepat! Belum lagi tindakannya yang sering menyalip mobil! Jadi keinget si Sasuke! Menyebalkan!

"Maaf deh, maaf!" ujarnya santai. "Habis aku sudah dikirimi mail yang isinya menyuruhku untuk cepat-cepat datang sih!"

Pantas dia memegang handphone tadi.

Sekali lagi, aku mendengus.

"Eh, Ino!" panggilnya lagi saat aku sudah berjalan tanpa arah, mendahuluinya. Dipikir-pikir, kenapa malah aku yang jalan duluan ya? Aku kan nggak tau siapa yang mau kutemui!

Saat aku berbalik karena merasa namaku dipanggil oleh Kiba, mendadak tangannya langsung menyisir rambut atasku. Sambil tertawa kecil ia kemudian berkata.

"Acak-acakan tuh!"

Aku menyentuh bagian rambutku yang baru disentuh olehnya. Aku pun menunduk untuk menyembunyikan wajahku yang terasa sedikit mendidih.

"Nggak! Jangan terus-terusan memberi harapan padaku seperti ini!" ujar batinku meraung-raung. Tapi percuma, Kiba nggak akan pernah mendengarnya. Kenapa? Ya karena hanya batinku yang berujar! Kata-kata itu nggak aku lontarkan langsung padanya. Nggak mungkin!

Aku pun kemudian memegangi dadaku yang terasa berdebar kencang, nggak karuan!

"Tenang, Ino! Tenang!" batinku berusaha menenangkan.

Setelahnya, aku pun menutup mata dan mencoba mengatur nafasku. Hirup, hembus, hirup, hembus. Ok! Rasanya sekarang aku udah lebih siap untuk menatap Kiba kembali.

"Nah!" ujar Kiba kemudian sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.

Oh, baru kusadari. Kini aku, dan Kiba tentunya, sedang berada di suatu restoran. Restoran itu tampak elegan dengan penerangan berwarna oranye, temaram. Lampu gantung kristal tampak tergantung dengan indah di tengah-tengah ruangan. Di setiap meja terdapat lilin-lilin kecil yang di luarnya dihalangi oleh benda semacam kaca tebal yang agak melengkung, sedikit mengikuti lekuk api. Di sudut-sudut ruangan, terdapat dedaunan hijau yang tidak terlalu tinggi. Dan lurus searah pandangan mataku, terdapat kaca besar yang memperlihatkan taman indah yang mengelilingi sebuah danau. Kalau melihat beberapa tempat duduk yang ada di taman itu, sudah tentu ada jalan keluar menuju ke sana. Kan? Sesuai dugaanku, ada sebuah pintu kaca yang mengarah ke luar tepat di sebelah kaca tinggi tersebut.

Suasananya benar-benar romantis! Yah, setidaknya itu menurut pendapatku sih.

"Mereka di mana ya?" tanya Kiba -yang sebenarnya bukan diarahkan padaku- sambil memasukkan sebelah tangannya ke saku celana. Suara cowok satu itu otomatis mengalihkan perhatianku dari taman untuk kembali padanya.

Setelah melihatnya menggenggam handphone, aku memilih untuk kembali membiarkan pandanganku mengedari setiap sisi ruangan. Kali-kali saja aku bisa mendapat klu mengenai orang yang akan kami temui sekarang.

Yah, tapi rupanya aku nggak perlu lama-lama mencari karena mendadak sebuah suara dari belakang kami mendadak memanggil nama Kiba.

"Hoi, Kiba!"

Suara cowok yang terdengar sedikit serak. Pernah kudengar di mana ya?

Aku berbalik.

Dan aku pun tersentak.

***TBC***


Chapter 10 done! *mijet2 pundak* Ehehehe! Chapter kali ini udah cukup panjang? Kebanyakan nyeritain perasaan Ino-nya ya? XD

Ngomong-ngomong, next chapter juga masih waktunya main-main! Nggak inget yang namanya Sasuke, nggak inget yang namanya game! Terus, muncul deh tokoh lain yang (sepertinya) udah ditunggu-tunggu! So, sebelum lanjut ke next chapter….

Review, minna-san?

PLEASE?:3

I'll be waiting!

Regards,

SUKie-Fox