Setibanya di America mereka di berikan waktu istirahat hingga besok mereka melakukan rehearsal untuk fanmeet. Jaebum dan Youngjae lebih memilih untuk beridam di kamar mereka, Bambam membantu manager menyiapkan schedule mereka.
"aku tak berani bertemu dengan orang tuaku Jack." Mark gagal menahan air matanya saat tiba di America. Pemikiran aneh itu terus datang saat melihat fans mereka di bandara. Senyum cerah fans yang membuat Mark kembali memikirkan hubungannya. Padahal hubungan itu belum genap satu minggu, terhitung tiga hari mereka menjalaninya dan Mark sudah tidak sanggup. "aku harus mengatakannya pada Grace." Mark melepaskan pegangan Jackson lalu mencari ponselnya. Jackson sendiri sebenarnya geram dengan sifat putus asa Mark.
"Grace? Are you at home? Can we …" Jackson mengambil ponsel Mark, mematikan ponsel itu lalu melemparnya jauh jauh.
"lihat aku Mark? Apa kau masih tak percaya padaku? Apa kau masih meragukanku?" Jackson memegang pundak Mark yang bergetar. Mark tak berani melihat Jakson, dia berusha melepas genggaman Jackson. Saat Jackson akan berbicara lagi ponsel milik Jackson bergetar. Mark melihat panggilan masuk berasal dari Grace. Saat Jackson melepaskan genggamannya Mark mengambil cepat ponsel Jackson lalu berlari ke arah kamar mandi. Jackson mengerjarnya.
"buka pintunya Mark? Aku mohon. Kita bisa bicarakan ini baik baik. Mark!?" Jackson menggendor pintu kamar mandi, sedangkan Mark hanya menggeleng dengan menggenggam ponsel Jackson.
*on the phone
G : Jackson? Are you there? What happenad to Mark? Hey!?
M : Grace, it's me Mark
G : oh Jesus, are you okay? Hey, what's wrong?
"jika kau memang ingin berbicara pada Grace, berbicaralah. Aku juga ingin bertemu dengannya. Mungkin jika ada dia kau bisa merasa lebih nyaman dan tenang. Ajak dia untuk bertemu di hotel." Jackson menyandarkan kepalanya di pintu kamar mandi. Mark yang ingin melanjutkan perbincangannya tertunda saat dia mendapat ijin dari Jackson untuk mengundang Grace. Dengan perlahan Mark membuka pintu kamar mandi dan menyerahkan ponselnya pada Jackson.
"aku belum mengatakan apapun pada Grace. Akan lebih adil jika kau yang mengundangnya." Mark melangkah menuju jendela, menjauh dari Jackson agar dia tidak mendengar perbincangan Jackson dan Grace. Dari pantulan kaca jendela Mark dapat melihat Jackson menjelaskan secara perlahan dan hati hati. Melihat ekspresi Jackson yang tiba tiba tersenyum cerah lalu berjalan mendekat, Mark tau jika Grace akan membantunya.
"I get in. Tonight in our room. Yes see you too." Jackson menyerah. Dia lebih memilih untuk mengikuti perkataan Mark, karena dia sadar bahwa dirinya juga merasa takut sama seperti Mark. Jackson meraih tangan Mark untuk mendekat pada dirinya. Jackson mengangkat kepalanya, melihat Mark berdiri di depannya. Mark menangkup wajah Jackson, menatap matanya dengan rasa haru. Mengucapkan terima kasih melalui tatapannya. Jackson hanya mengangguk lalu tersenyum. Memeluk Mark yang masih berdiri di depannya, mendengarkan detak jantung Mark yang menggila. Mereka nyaris saja bertengkar hebat jika Jackson tidak menahan amarahnya. Mark memainkan rambut Jackson yang terduduk di depannya. Pelukan Jackson mengerat.
"aku minta maaf. Kau benar. Aku pun sama takutnya dengan dirimu. Aku berpura pura menjadi kuat agar kau tak merasa takut. Tapi pada akhirnya aku tak bisa. Aku tak tau akan seperti apa jadinya nanti. Orang tuamu sudah menganggapku, menganggap kita semua sebagai anaknya. Aku takut mengkhianati mereka jika tau aku mencintai anaknya dan mengubah anaknya menjadi seperti ini."
.
"hyung bisa kita bicara sebentar." Yugyeom menghampiri Jinyoung yang masih mengeringkan rambut.
"jangan mendekat." Jinyoung mengucapkan secara perlahan dan jelas. Yugyeom menghentikan langkahnya saat Jinyoung juga menghentikan mengeringkan rambutnya.
"aku ingin berbicara padamu. Berbaliklah." Yugyeom mencoba menyentuh pundak Jinyoung.
"aku mohon jangan mendekat atau jangan menyentuhku." Jinyoung memohon. "katakan saja apa yang ingin kau katakan, aku akan mendengarkannya." Yugyeom tersenyum miris. 'seperti inikah kau saat aku tidak terlalu memperhatikan perasaanmu. Maafkan aku hyung.' Yugyeom bermonolog.
"apa kau pernah berpikir hari ini akan datang?" Yugyeom tau Jinyoung tidak akan menjawabnya.
"kenapa kau begitu keras kepala hyung? kenapa kau begitu jahat pada perasaanmu sendiri? apa yang membuatmu ragu? Apa yang membuatmu takut? Mark hyung saja mengesampingkan semuanya demi mendapatkan kebahagiannya sendiri." Jinyoung tersenyum mendengarnya, persis seperti apa yang di katakan Bambam.
"aku tak ingin berpura pura lagi setelah tau perasaanmu. Aku tak mau semuanya menjadi terlambat ketika aku tak sempat mengatakannya dan kau sudah mencoba untuk menghilangkannya. Hyung bisakah kau jujur padaku? apa yang kau takutkan? Mereka? fans? Agensi? Orang tua kita?"
Jinyoung membalik tubuhnya untuk melihat Yugyeom. Ini yang dia benci mengenai dirinya, dia akan menjadi lemah jika harus berhadapan langsung dengan Yugyeom.
"maaf Gyeom, aku bingung. Aku terlalu nyaman dengan keadaan kita yang sekarang. Aku tak mau jika kita merubahnya akan berdampak lain nantinya. Aku tak ingin mereka semua tau tentang hubungan kita. Semua orang tau tentang Markson dan juga 2jae sebelum mereka menjadi sekarang ini. Bagaimana mereka memperlakukan pasangan mereka masing masing. Tapi kau dan aku, kita berbeda. Kita selalu bertengkar karena hal hal kecil. Aku takut jika memulainya akan berdampak saat kita berada di depan kamera atau di depan fans saat fan …" Yugyeom lelah. Dia meraih wajah Jinyoung. Dengan segala rasa prustasi dan kesalnya, Yugyeom mengungkapkan semuanya melalui ciuman mereka. Di akhir ciuman mereka Yugyeom memberikan sentuhan manis, mengatakan jika semuanya baik baik saja.
"dengar hyung aku tak tau ini akan berhasil atau tidak. Aku pun belajar dari Bambam. Dimana aku harus bersikap menjadi Yugyeom maknae GOT7 dan menjadi Kim Yugyeom. Jika itu yang selama ini kau pikirkan maka aku akan menjadi maknae GOT7 yang senang menjahili Junior hyung dan hyung hyung lainnya saat on kamera. Tapi jika sudah seperti ini, dimana kita meninggalkan gemerlap panggung aku akan menjadi seorang Kim Yugyeom yang mencintai Park Jinyoung." hanya kata kata itu yang di inginkan Jinyoung keluar dari mulut Yugyeom. Tapi dia tidak menyangka kata kata itu akan keluar di saat mereka sama sama prustasi, tidak dengan cara yang romantic. Jika dari dulu dia mengatakannya, Jinyoung tidak akan merasakan beban beberapa bulan terakhir ini. Dia selalu menganggap jika Yugyeom masih anak kecil, yang sebenarnya itu hanya pajangan karena dia adalah maknae group.
"aku tak menyangka seorang Yugyeom punya sisi dewasa seperti ini." Jinyoung menghindari Yugyeom karena ciuman tadi, yang artinya mereka sudah baik baik saja.
"ingat hyung saat ini aku Kim Yugyeom, bukan maknae GOT7." Yugyeom memeluk Jinyoung dari belakang saat Jinyoung sedang merapikan bajunya. "untuk seterusnya jika kau ingin melakukan apapun di depan fans, lakukan saja. Aku tak masalah akan hal itu."
"jika kita bisa untuk tidak berubah, untuk apa kita berubah. Malah lebih menjijikan jika kau tiba tiba berubah jadi romantic seperti ini." Jinyoung melepaskan tangan Yugyeom di pinggangnya.
"aku pikir kau suka yang seperti itu." Yugyeom mengekori Jinyoung.
"siapa yang bilang aku suka hal hal romantic seperti itu." Jinyoung merebahkan dirinya di kasur lalu membaca buku yang di ambilnya dari tasnya.
"dari novel yang kau baca. Dan aku tak menyangka kau juga suka membaca buku dengan tema seperti itu." Yugyeom berkacak pinggang.
"tema apa yang kau maksud?" Yugyeom lalu mengambil novel yang di baca Jinyoung lalu membuka buku itu dengan cepat. Setelah menemukan apa yang di cari lalu di serahkan pada Jinyoung. Ekspresi Jinyoung berubah menjadi malu dan mukanya memerah karena dia membaca bagian yang di tunjuk Yugyeom.
"coba jelaskan padaku maksud dari cerita ini. Dan apa kau menikmati ceritanya? Hmmm."
.
.
.
Jackson bertemu dengan Grace dan Joey di lobby lalu mengajak mereka ke kamar. Selama di lift Jackson berusaha menghindari tatapan Grace. Saat memasuki kamar Mark merasa gugup karena dia tidak jika Joey akan ikut.
"jadi apakah itu benar? Apa yang di katakan Jackson di telphone tadi benar Mark?" Grace langsung menghampiri Mark. Mark yang di tanyai bingung harus menjawab apa, dengan Joey yang terus memandang harap untuk jawaban pasti.
"ya itu benar." Mark berucap lirih. Grace mengusap wajahnya bingung sedangkan Joey dengan muka bingungnya menatap Mark. Mark hanya mengangguk. Joey lalu menatap Jackson yang berdiri di dekat kamar mandi.
"mom and dad?" Joey hanya mengucapkan kata itu dan itu sukses membuat mereka yang berada di kamar kekurangan oksigen. Bahkan seorang Grace pun bingung harus berbuat apa.
"pertama aku anak perempuan pertamanya, sekarang kau anak lelaki pertamanya. Semenjak kapan Mark? Jackson?" Grace bertanya kepada keduanya. Mark meminta tolong bantuan pada Jackson tapi dia hanya diam berdiri.
"semenjak aku di traine." Mark menjawab lirih. Jackson tersenyum senang. 'ternyata kita sama sama bodoh, saling menunggu' Jackson bermonolog.
"lalu kau Jackson, semenjak kapan?" Grace memberikan tatapan tak suka karena Jackson hanya berdiam diri di sana.
"sama seperti Mark." Joey jengah dengan semuanya.
"lalu kalian memanggil Grace untuk meminta pertolongan, begitu?" Joey memandang Jackson tak suka.
"aku tidak, tapi Mark. Aku ingin dengan usahaku sendiri datang ke rumah." Jackson berucap yakin.
"kalian ada rencana ke rumah kapan?" tanya Grace pada keduanya, tapi itu lebih di tunjukkan kepada Jackson.
"secepatnya. Mungkin lusa." Mark hanya melihat Jackson dengan tatapan tak yakin.
"baguslah, semakin cepat semakin bagus. Papa dan Mama sudah menunggu kalian berdua."
.
.
.
.
.
Tbc~
.
Jadi ceritanya novel yang di baca Jinyoung itu novel karangan Julian Quinn, Johanna Lindsey. Novel novel klasik romance Inggris jaman 1970. Alur ceritanya bagus dan romantic banget, pengaturan bahasanya juga bagus, Inggris kuno. Tapi novel itu isinya 20+++ gitu hahahahaha. Aku bacanya agak geli karena itu bener bener detail banget. Jadi pas baca itu aku langsung inget pepigyeom, dan karakter Yugyeom itu cocok banget di jadiin karakter mesum gitu #eh hahaha
Di mohon review nya yah kesayangan~
Peace out! Jjai~
