TARGET [9]
|| Kim Donghyuk || Jeon Jungkook || Kim Jiwon || adekadek/? || dll yang tidak bisa disebutkan(?)
|| Normal? (slow)Action, agak ber-rate? Fight!||
"HYUNGGG."
"OPPA! YA YA YA YA YA YA YA YA YA LULU~"
"Dasar bodoh! Itu kan lagu di radio!"
"Aduh!"
"Donghyuk hyunggg."
"Donghyuk oppa?"
"Bogoshipeoseoyo;;"
"Aish, kalian ini!" Donghyuk berdecak keras sebelum menyingkirkan satu persatu lengan yang menghambat pergerakkannya. Dengan segera ia merogoh saku belakang celananya dan mengambil sesuatu yang sangat diharapkan bocah-bocah kecil di sampingnya.
Dompet tebal; apa lagi kalau bukan itu.
"Kalau ada maunya saja kalian langsung manis dan sok manja."
'Kalian' yang ia maksudkan hanya bisa menyeringai kecil sebelum merengek kembali –kali ini lebih anarkis karena menarik-narik pakaiannya.
"Kalian boleh bermanja-manja sekarang karena kalian belum merasakan ada peluru yang menembus ku-"
"Jeon Jungkook."
Jungkook yang melipat kedua tangannya di depan mata langsung melotot ke arah teman sebelahnya tersebut.
"Apa? Aku tidak salah bukan? Dan lagi, tolong panggil aku selayaknya. Nama itu...konyol sekali seperti nama anak kecil."
"Ah, kupikir tidak hyung. Itu nama yang manis dan cocok untukmu."
"Kim Donghyuk kurasa jauh lebih manis untuk ukuran laki-laki, kak. Jeon Jungkook terdengar kekanakkan karena Jeon dan Kook-nya karena mirip nama pemain salah satu acara kalau tidak salah...sementara Donghyuk bisa Dongie, Donghyukkie, Hyukkie, dan lain-la-"
"Kurasa kalian berdua terlalu banyak bicara meski umur kalian baru saja bertambah," sinis Donghyuk tanpa melihat dua bocah cilik yang sebenarnya terlalu tinggi untuk disebut bocah itu. 'pelaku'nya sendiri hanya bisa tersenyum tiga jari mendengarnya.
"Ucapanmu itu tolong disensor dikit," bisik Donghyuk tanpa menggunakan gestur tubuh tertentu agar tidak mengundang curiga. "Kita sekarang di tempat umum dan mereka masih ada yang menunggu kartu identitas palsu dibua-"
"Memang kenapa dengan kata 'peluru' sih? Kita hampir 12 jam bersama mereka kok."
"Peluru saja kok, kecil!"
"Aku pernah tuh sekarat padahal bukan karena peluru..."
"Aku sudah mau legal loh, kak. Jangan sok bangga jadi dewasa duluan karena lahir duluan."
"Usiaku boleh saja baru 17 tahun tapi mentalku-pft!"
"Maknae tutup mulutmu saja. Biar kami berdua, para tetua yang bicara tapi sebelumnya-"
"-Memang apa hubunganya dengan pistol? Ngehe."
"Kau juga tutup mulutmu, bocah cilik," Semuanya bungkam termasuk Jungkook sendiri yang sibuk menaruh perhatian pada menu yang terpampang di depan layar restaurant –maklum norak, baru pergi ke Itaewon dan minum tapi gayanya sudah selangit–.
Donghyuk masih dalam mode galak-dan-pelototin-satu-persatu saat sebuah suara menyela aksinya.
"Err...Jadi tuan...Mau pesan apa? Di belakang anteriannya sudah panjang jadi maaf-"
"Tuh, kamu sih banyak bicara."
"Tutup mulutmu ya, sok tua."
"Donghyuk hyung sih ngomel mulu."
"Salahkan saja aku terus."
"Pokoknya salah Jungkook oppa!"
Jungkook sewot lagi dan buru-buru menyela perdebatan anak-anak baru remaja itu. "Heh, anak-anak sialan! Kenapa jadi aku? Dan aku ini bukan oppa-mu yang bisa seenaknya kau panggil, panggil aku dengan embel-embel sun-"
"Diam, kalian semua! Nanti kita diusir dari sini tau!"
Semuanya diam.
Termasuk wanita muda di depan meja kasir yang terkejut dengan wajah semanis itu bisa berteriak juga.
Aku jadi kasian pada anak-anak baru remaja ini. Apalah tadi; pistol...ujian...kata kasar...astaga, masa depan mereka.. –curhatan hati mbak-mbak kasir
Donghyuk buru-buru mencairkan suasana dengan mengelus permukaan dompetnya –takut-takut Moonbin lebih cepat mengambilnya saat pertemuan pertama kali mereka, saat Moonbin belum tergabung dalam organisasi.
"Nah karena kalian tidak bisa diam, tadi bersikap manja-manja, seusia kalian harus mendapatkan asupan banyak, dan hadiah atas keberhasilan kalian maka-"
"Hasilnya kan belum keluar, oppa."
"Bisa diam tidak?! Tidak mau dapat makanan gratis ya?!"
"Tumben-tumbennya nih kita makan enak! Di luar asrama lagi!"
"Ssttt! Diam! Oppa tadi menyuruh seperti itu!"
"Pastinya sih Somi tidak akan lulus."
"Kamu ya!"
"-aku akan membayar pesanan kalian semu-YA! KAN SUDAH KUBILANG!"
"Dongie hyung?"
Somi menahan tangannya yang bersiap menjambak rambut Haechan.
Jeno menengahi Chanwoo, Moonbin, Mark yang lagi-lagi berdebat.
Jaemin menghentikkan aksinya untuk menghentikkan perdebatan ini.
Shannon dan Donghyuk melongo di tempat.
Jungkook mengangkat bahunya acuh.
"Kenapa? Katanya harus manja-manja kan? Siapa yang tidak mau ditraktir sih?"
"Wah kau ya, Jeon Jungkook. Brengsek juga kau rupa-"
"Ehem, Kim Donghyuk."
"Wah kakak nih mulutnya ya."
"Oppa huuuu payah!"
"Astaga! Telingaku tercemar!"
"Halah, sehari-harinya juga biasa memaki menggunakan kata itu kok."
"Haduh, makian sehari-hari dari pelatih itu hehe."
Donghyuk menahan diri untuk tidak mengambil ahli wajan di belakang wanita penjaga meja kasir dan menamparnya satu persatu ke bocah-bocah kecil ini –termasuk Jungkook juga.
"Wah kalian ini ya ckckckck," Donghyuk tak habis pikir sembari menggelengkan kepalanya berkali-kali.
4 slurpee, 2 pepsi, dan 2 cola.
4 spagetti dan 4 double cheeseburger jumbo.
Sebuket ayam goreng.
8 pudding dan 8 ice cream cup yang sedang menunggu di waiting list.
Sementara baik Jungkook –yang akhirnya mendapatkan traktirannya– dan Donghyuk sudah merasa lebih dari cukup memesan makanan yang biasanya ada di dalam asrama; kimbab dan teh hijau.
Semua yang dipesan 'rombongannya' adalah makanan barat yang sangat err...
"Tau sekali ya caranya menghabiskan uang orang lain? Siapa yang mengajarinya huh? Setahun dua tahun kutinggal ternyata kalian..."
"Seokmin sunbae dan Mingyu sun-oops!" Somi menunjuk ke sisi samping Donghyuk dan buru-buru menarik jari telunjuknya kembali saat menyadari yang dibahas sekarang tidak ada orangnya dan dia salah tunjuk –menunjuk Jungkook maksudnya.
"Seokmin dan Mingyu?" Jungkook mengangkat sebelah alisnya, tak masalah dengan sikap Somi. "Apa mereka pelatih pengganti Donghyuk selama bermisi? Kau yakin? Kalian bisa lihat sendiri saja dari wajah cengar-cengir mere-"
"Iya, tapi habis dikasih makan kami disuruh membakar kalori lagi karena takut tidak bisa lari setelah kekenyangan, huft!" Chanwoo yang termasuk ke dalam triple-mulut-besar-dan-troublemaker dengan Mark dan Moonbin akhirnya mengeluarkan suaranya lagi setelah makanannya tinggal tersisa seperempatnya. Rekan-rekannya masih bungkam karena terlalu sibuk mengunyah, ckck.
"Tapi makasih hyung atas traktirannya, ujian kali ini benar-benar menguras otak. Kami perlu asupan gizi sebanyak-banyaknya dan secepat mungkin. Ayo semuanya bilang apaaaa?"
"Kamsahamnida sunbaenim! Jal meokgeoseumnida!"
Benar-benar anak teladan yang baik, Na Jaemin. Jungkook jadi merasa bangga telah membawa anak itu ke organisasi.
Donghyuk mengangguk mengerti sebelum bergumam, "Hoksi mereka benar-benar terlihat terlatih mengucapkannya, kentara sekali sering ditraktir atau memaksa untuk ditraktir."
"Sudah nikmati saja makananmu," Donghyuk menoleh tak paham saat Jungkook masih menahan senyumnya melihat Jaemin ketika berusaha memasukkan potongan kimbabnya ke mulut.
"Kupikir kau tidak akan suka kuajak ke tempat baru dan asing. Apalagi bersama anak-anak ramai seperti mere-"
"Oh ya, ngomong-ngomong mumpung ada kalian dan kita semua berkumpul, aku ingin menyampaikan suatu hal."
Semuanya menghentikkan kegiatan masing-masing mereka.
"Ini adalah ujian akhir; aku bukan pengajar dan tidak pernah turun ke lapangan untuk memantau jadi aku kurang paham akan prosedur organisasi tapi...jelas sebelum hasil keluar, kalian sudah tau passion kalian bukan?"
"Ye, algesseumnika! Jeoneun Na Jaemin imnida dari angkatan tahun keempat. Spesialis penembak jitu. Belahan jiwa saya AK-47 yang sudah ditetapkan semenjak test masuk. Bangapseumnida!"
"Annyeonghasmnika! Jeoneun Jung Chanwoo imnida dari tahun keempat. Untuk saat ini, yang cocok dengan saya baru AUG. Bangapseumnida, sunbaenim!"
"Annyeonghaseyo! Jeoneun Moon Bin imnida. Tahun keempat. SCAR sudah menjadi milik saya dari awal penempatan. Bangapseumnida!"
"My name is Shannon William. Code name Mando. Walther P99 is my life and i'll take any risk for my faith to organization. Thank you."
"Ye, nae ireum-e Mark Lee. If you have some difficult to say it, just call me Min Hyung Lee or Kimbab. Sa-haknyeon. Single-Shots Pistol."
"Nama Lee Jeno atau Dong Woo Candy. Usia 17 tahun. M3 adalah milik saya, in change to HK UMP. Mohon bantuannya, hyungdeul."
"Nama saya Lee Donghyuck atau nickname Haechan. Pistol merk M9. Terimakasih."
"Ne! Nama saya Jeon Somi atau Patbingsoo for nickname. Anak tahun keempart, termuda dari yang termuda dengan usia 16 –jalan 17 tahun maksudku –eh saya. Sejauh ini memakai Glock-19 dari Austria tetapi disarankan HS 2000 atau FN-"
"Jangan HS, kualitasnya dibawah Glock. Glock terlihat keren tapi FN jauh lebih bagus dari kualitas; lebih-lebih yang 57, Belgia punya," Donghyuk menyela sebelum dia tersadar akan sesuatu. "Ah tidak-tidak, kau dengan Glock atau HS saja aku ingin membeli FN nanti."
"AK-47 terlalu besar dan berat untuk tubuh seringkihmu Samgyeopsal, bagaimana dengan HK? M-16? Ah atau Famas kalau tidak mau bersaing dengan milik Dong Woo atau milikku."
Mata besar Jeno membola sejenak. "Se-senior memakai Heckler Koch ju-juga?"
"Ah, tentu saja. Itu senjata yang paling memuaskan sejauh ini bagiku," Jungkook menjilat bibir bawahnya. "HK MP5 tentu saja, beda jenis dengan punyamu. Sebelumnya AWM tapi tenyata itu digunakan untuk tim inti jadi tidak enak menggenggamnya. Jeno-ssi, saya rasa HK Mark23 juga bisa denganmu. Apa disini tidak ada yang penembak jarak jauh? M-4 dan M47-a punya mantan member yang tewas masih kusimpan. Dan ya, Mark Lee-ssi."
Mark menoleh lalu setelahnya wajahnya langsung meringis.
"Single-shot itu banyak. Jaemin juga penembak jitu satu peluru. Bahkan Flintlock juga termasuk 'satu peluru'."
"Ah! Apa aku harus menyerakan koleksi Flintlock-ku ini padamu saja ya?"
"Ti-tidak perlu, sunbae. Terimakasih."
"Apa disini tidak ada yang 'maniak peluru'?" Donghyuk merengut kecewa. Tiap tahun semuanya hanya bisa memakai pistol biasa; mentok-mentok satu peluru saja –entah tak bisa memakai yang kecil atau penembak jitu. Maniak yang ia maksud sendiri adalah pistol besar yang mampu menampung puluhan peluru dan bisa menembakkan bertubi-tubi dalam hitungan detik; kalau di film-film yang memegang pistol jenis ini kira-kira akan tertawa maniak lah.
Shannon mengangkat dan itu membuat sepasang mata kecil pemuda Kim ini berbinar.
"U-um sebenarnya saya, kak. Hanya saja karena saya perempuan dan badan saya kecil jadi..."
"Ehh memang kenapa kalau perempuan?" Donghyuk menyela. "Kau tidak mengenal Mina rupanya."
"Memangnya Mina pernah memegang SS-1? Blowback ditangannya saja aneh," tanya Jungkook dengan nada sinisme yang tersisa dari kalimat sebelumnya. "Dia kan terpaksa pegang pistol karena anggar sangat tidak mung-"
"SS-1 langka, hanya di punya satu negara. M-16 jauh lebih baik...mungkin?" Donghyuk berdecak keras. "Astaga sampai lupa. Banyak dari kalian yang bisa beladiri bukan?"
"Patbingsoo bisa taekwondo."
"Kimbab, Haechan, Dong Woo bisa karate."
"Mando bisa muaythai."
"Moonbin –ah maksud saya Taeil bisa boxing, pertahanan diri Milk dan Samgyeopsal cukup kuat."
"Pertahanan saja tidak cukup."
Kedelapan junior itu tertunduk lemas, seketika napsu makan mereka menghilang.
"Sunbae kalian, Donghyuk sendiri pernah gagal di misinya dan nyaris jadi korban padahal bisa boxing."
Wah, sialan kau.
"Saya sendiri juga pernah ceroboh dan sampai sekarang tersangka masih bisa berkeliaran. Padahal saya bisa melakukan hampir semua beladiri yang kalian sebutkan."
Eh?! Kapan?
Donghyuk hendak melempar pertanyaan –begitu pula kedelapan adik tingkat mereka saat Jungkook terlebih dahulu menghela nafas hebat.
"Dan itu menjadi kesalahan terbesar saya. Saya selalu terbayang-bayang akan hal itu, menjadi mimpi buruk, dan semoga juga menjadi pembelajaran saya..."
...karena penjahat itu masih berkeliaran sampai sekarang...atau justru aku dan Donghyuk yang masih bisa bebas berkeliaran?
"Perkenalan diri kalian sudah bagus hanya saja tolong pelajari banyak bahasa. Kalian lihat sendiri di tim kalian banyak yang blasteran tetapi bisa berbahasa Korea dan sampai akhir, kalian akan tinggal bersama-sama seperti ini. Perlu diingatkan kembali bahwa kita bukan organisasi nasional tapi internasional jadi tolong Somi, seringlah serius mulai dari sekarang."
"Ya, saya mengerti kapten!"
Jungkook mengulas senyum.
"Jja, karena kalian semua tampak sudah tak berselera makan karena keseriusan dan inspeksi tiba-tiba tadi...bagaimana kalau sekarang kita ke markas untuk membeli senjata? uri Sherlock sudah mentraktir jadi kali ini kalian semua membeli senjata dengan uangku, oke?"
"YEEEE!"
"Eh? Ini serius?"
"Tidak merepotkan nih?"
"Waduh, tercium bau-bau tidak enak..."
"ASIKKK SENJATA KAN MAHAL!"
"Fiuh, selamat sudah tabunganku."
"Senjataku masih bagus kok, aku pakai itu saja..."
"Aku terlanjur menaruh hati dengan senjatakuT.T"
"HEEE?"
Donghyuk jelas terkejut. Beli senjata di usia belia? Memiliki senjata danmemperjual belikannya saja sudah ilegal! Apa anak-anak semuda ini mengerti senjata yang mereka pilih dan sebutkan tadi? Apa sudah yakin itu yang cocok dengan diri mereka bukan karena terbiasa menggunakannya? Tidak, apa mereka tau bentuk senjata yang sedaritadi dibahas bukan untuk ajang gaya-gayaan?
"Tenang saja, hyung! Kami akan menggunakannya dengan baik kok!"
"Tidak usah khawatir, kak! Serahkan semuanya padaku, hehe."
"Wah, ini benar-benar serius?"
Jungkook mengangkat kedua bahunya ringan. "Senjata tidak semahal itu. tidak usah takut uangku habis, memberatkan finansialku, atau kau jadi hutang bu-"
"Bu-bukan itu masalahnya," potong Donghyuk cepat.
"A-apa ini tidak terlalu cepat? Pelantikkan ke jenjang lebih tinggi mereka baru akan dilaksanakan 2 minggu lagi dimana harus ada senjata sebagai 'bukti dan saksi' pelantikkan mereka jadi pembelian sekarang apa tidak..."
"Kau tidak tau?"
"Eh?"
Melihat ekspresi kebingungan terpancar jelas baik di waja atau matanya, Somi segera membeo. "Kakak benar-benar tidak tau? Padahal ini misi datangnya dari kakak loh..."
"Kalau senior benar-benar tidak tau...," Ada jeda disana saat Jeno berusaha menjelaskan. "Kami semua akan mengikuti misi beberapa hari ini, misi bersama kalian dan sunbaenim lainnya...Hyung benar-benar tidak tau?"
"Iya! Jadi masa membeli senjata yang akan digunakan beberapa hari lagi disebut terlalu cepat sih?"
"Se-senior kan tidak tau. Tidak apa-apa kok..."
"Keterlaluan ini! Apa tidak ada yang memberitaukannya? Ini masalah serius namanya!"
Semua anak kembali berdebat saat Donghyuk menoleh ke arah Jungkook, meminta penjelasan.
"Kau baik-baik...saja?"
Tidak.
Tentu saja tidak, haha.
Bagaimana bisa ini terjadi?
Jaebum hyung mau melihat aku gagal lagi ya? Sudah tau aku tidak bisa mengemban misi besar, ditambah harus melindungi anak buah selaku 'ketua'! Mau mempermalukanku di hadapan tim inti?
Sudah ada Jungkook yang rasanya harus kulindungi sekali karena 'tokoh utama' bersamaku ditambah anak-anak ini...
...keterlaluan!
"Tenang saja kok, hyung! Uang hyung tidak akan habis, kan Jungkook hyung bilang mau membayar semuanya!"
Bukan.
Bukan itu permasalahannya.
Hah:)
Jungkook mengulas senyum tipis ketika telapak tangannya menepuk bahu tegang milik teman satu rekannya ini.
Sudah ada hyung ada anak-anak juga.
Misi akan semakin sulit tentunya.
Aku bersyukur kau memilihku, hyung.
Tapi juga takut karena akan semakin mudah bagi mereka mendapatkanmu karena hyung terlalu memikirkan keselamatan orang lain.
Jiwon baru saja memasuki ruangan luas yang minim cahaya, ikut berbaris ke samping bersama yang lain saat sebuah suara membuat nafasnya yang putus-putus akibat berlari seketika berhenti.
"Semuanya sudah hadir bukan? Absen, mulai dari yang baru datang."
"YE SIR! Kim Jiwon atau Bobby hadir!"
"Dua! Chicken little, Park Jaehyung ada!"
"Tiga, Jeon Wonwoo."
"Net, Kim Taehyung was here!"
"Was itu lampau, buwodoh!"
"ADUH!"
"Lanjut."
Semuanya terdiam.
"Six, Jennie Kim here."
"Tujuh, Park Chaeyoung ada."
"Moon Sua hadir."
"Wen Junhui disini."
Seseorang di balik kursi empuk itu berdehem pelan.
"Yang terakhir, penutup."
Salah satu pemuda di barisan tersebut mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Saya kesepuluh. 10 orang hadir dari 13 orang. Absensi selesai."
"Park Jinyoung, Seojeong Kim, dan Kei?"
"Nde," Sua bersuara rendah. "Mereka berada di ruang kesehatan. Cede-"
"Cedera lagi," potong seseorang tersebut sebelum menghela nafas. "Sama seperti Jiwon, terlambat lagi. Apa yang membuatmu kali ini terlambat hm?"
"Ma-maaf, ketua. Misi saya tadi-"
"Belum selesai juga? Deadlinenya setelah misi besar kita nanti bukan?"
Jiwon menundukkan sedikit kepalanya, malu berhadapan dengan ketua yang begitu ia agung-agungkan seumur hidupnya.
"Ingat, Jiwon."
"Tidak ada perasaan."
Tidak ada perasaan.
Tidak ada.
Ya, tidak ada.
Tidak akan ada.
Gelegar tawa tiba-tiba memecakan suasana yang sempat tegang.
"Astaga, aku bercanda saja! Tidak usah dibawa serius! Kita semua disini sepantaran bukan? tidak perlu merasa segan," Suara tawanya perlahan memelan. "Aku hanya takut kalian terlambat karena sudah sekarat atau mati saja."
Perkataan yang dalam.
"Sisanya berjaga di luar bukan? Mereka akan menjadi penjaga kita, penghubung, dan menjaga markas."
"Ya, semuanya hadir," Junhui kali ini yang menjawab.
"Bagus,"Kursinya berputar setengah derajat penuh sebelum ia mengulas senyum.
"Kalian tahu sebentar lagi misi besar kita akan dilaksanakan bukan?"
"YA, KETUA!"
"Misi kali ini misi terberat yang pernah ada. Target kita kali ini orang besar yang pastinya juga memakai jasa organisasi gelap juga; secara tidak langsung kita akan berhadapan dengan mereka. Kita semua berada di naungan organisasi gelap tetapi beda tujuan, akan sangat seru jika berhadapan di lapangan nanti jadi sekali lagi aku tekankan,"
Kursinya sudah berputar penuh. Mata kecilnya menatap nyalang satu persatu anggotanya.
"Jangan membawa perasaan apapun. Peraturan disini tidak begitu ketat; kalian masih bebas melakukan apapun, kemanapun, dimanapun, dan bersama siapapun. Rapper, vocal, dance, clubbing bahkan menjadi playboy, terserah kalian semua tetapi jika kalian melanggar satu-satunya peraturan yang mengikat kita itu; kalian sudah tau resikonya."
"Aku mengatakan ini bukan karena kita bermusuhan dengan organisasi sebelah. Tidak, kita hanya beda tujuan dan tidak berniat memerangi siapapun tanpa sebelumnya ada masalah. Jadi aku harap kalian juga tidak membawa perasaan kalau-kalau ada teman kalian yang sama-sama menutup identitas ternyata lawan kalian di misi nanti."
"Jiwon?"
Punggung yang dipanggil menegang tak wajar.
"Aku mengharapkan aksimu kali ini; melubangi kepala pujaan hati meski tak ada perasaan untuknya seperti misi 3 tahun lalu sungguh mengesankan. Aku mengharapkan yang lebih dari itu; lebih mendramatis."
"Ah ya, Jaewon juga. Kau ingat misimu sejak bergabung bersama kami bukan?
"Ye...-
"...-Kim Jinhwan-ssi."
...
nah? loh.
a6 apdet juga.
males ngetik sick tolong:( yunbob feelku lagi gaadaaa
perasaan baru tahun baru tapi tugas numpuk ya h3h3
