Renda bawah kostum gadis itu mengembang saat ia memutar tubuhnya, ekspresi bahagia tercetak jelas di wajah anak perempuan dengan rambut pink itu.
"Reo-nee~ bagaimana?"
"Waa~ Kau cantik sekali Momoi-chan!"
Pemuda cantik bernama Reo itu memujinya kemudian mengambil foto gadis dengan kostum "Gadis berkerudung merah" yang diperankannya.
"Woaarrgghh!"
"Kyaa! Dai-chan!"
"hahaha! Keren kan kostum ku?! Aku adalah manusia serigala!"
"Cih! anak itu."
Reo menatap sebal pada bocah dengan rambut biru yang kini berlarian memamerkan kostumnya.
"Umm.. Ano."
Reo menoleh setelah merasa bajunya ditarik oleh seseorang.
"Tet-chan?"
"Kenapa aku memakai baju perempuan?"
Pipi bocah itu bersemu, jari mungilnya meremas-remas kostum Lolita yang dikenakannya.
"Kyaaa! Tet-chan kau manis sekali!"
Bukan menjawab Reo justru sibuk mengambil foto bocah dengan rambut biru langit itu. Sementara Momoi sibuk memeluk bocah itu.
"Kau masih beruntung Kuroko!"
Bocah dengan rambut hijau muncul, kostumnya adalah kostum nenek si gadis berkerudung merah. Semburat merah menghiasi pipi bocah berkacamata itu.
"Mido-chin cocok kok kostumnya,"
Bocah tinggi dengan rambut ungu yang sedang memakan lollipop mengomentari.
"Diam kau Murasakibara! Lagipula bukankah harusnya Kuroko yang memakai kostum ayahnya?"
"Ehh... Tapi Reo-nee bilang aku memakai kostum ini."
Anak-anak itu menatap pemuda cantik itu, Terutama Kuroko yang sedari tadi meminta penjelasan mengenai kostumnya yang berubah. Reo tertawa hambar.
"Aa... Sebenarnya, kostum kalian tak sengaja tertukar ukurannya saat aku membuatnya. hehe.."
Dan serempak mereka berseru terkejut.
"Ada apa?"
Reo mematung,
"Eeh.. Sei-chan. Tidak ada–"
"Tetsuya? Kau –"
'Mati.'
Reo berdoa dalam hati agar nyawanya selamat, ia memejamkan mata erat.
"–Kostummu bagus."
'Eh?'
"Reo kerja yang bagus."
Pemuda dengan rambut merah itu tersenyum kemudian berlalu.
"Ta-tapi Sensei..."
"Sebaiknya kita bersiap, pertunjukan sebentar lagi dimulai."
Kuroko menghela nafas, sepertinya tidak ada gunanya lagi ia protes.
"Bagaimana dengan Kise?"
Aomine, bocah dengan rambut biru laut itu menghadang jalan Si guru muda. Akashi, nama guru muda itu, membungkuk sambil mengacak-acak rambut bocah itu.
"Yakinlah. Dia pasti akan datang."
Bocah-bocah itu menatap punggung sensei-nya itu terkejut, namun sebuah senyuman menarik bibir-bibir mereka. Kemudian mereka melangkah mengikuti Akashi keluar pintu untuk menjalankan pertunjukan drama mereka.
Demi teman yang sempat terbaring di rumah sakit, mereka akan berusaha keras menyukseskan drama ini. Kemudian menunggu bocah pirang sehangat mentari itu datang dan memainkan perannya.
Karena mereka yakin bocah itu pasti datang.
Atarashi-sensei no Akashi-san
Disclaimer: Kuroko no Basket ©Tadatoshi Fujimaki
Terinspirasi dari: Webtoon The Childern Teacher Mr. Kwon ©Ho Woo
Genre: drama, slice of life, school life, and friendship
©Hell13th
Chapter 10: A Meeting
"Bagaimana?"
"Kami Sedang dalam perjalanan. Kau memberi tugas yang cukup sulit, tapi waktu seminggu sudah termasuk waktu yang cukup lama. Jadi kami berhasil menyelesaikannya."
"Bagus kalau begitu. Aku tau kau bisa diandalkan Kasamatsu-san."
"Kami selalu siap membantumu, Sei."
Akashi hanya tersenyum kemudian menutup ponselnya, rencananya sepertinya berjalan lancar. Ia pun kembali memfokuskan pandangannya ke arah panggung yang kini sedang menampilkan anak didiknya memerankan cerita Gadis Berkerudung Merah. Kini Momoi sedang berpamitan dengan Kuroko dan Murasakibara yang berperan sebagai orang tua si Gadis Berkerudung Merah. Mereka bertiga terlihat menikmati perannya, memainkannya dengan serius dan penuh pendalaman. Latihan seminggu nyatanya cukup mampu membuahkan hasil.
Panggung itu buatan Reo, Eikichi dan Kotaro, panggung kecil yang dibuat di gudang yang telah dibereskan. Kursi-kursi dari kelas dan beberapa dari gudang yang masih bisa terpakai dan sudah diperbaiki oleh kepala sekolah Kyoshi, menjadi tempat duduk bagi para orang tua dan kerabat anak-anak murid SD kecil itu. Akashi bisa melihat keluarga murid-muridnya terlihat bahagia menyaksikan peran anak-anak mereka. Hanya kurang satu keluarga yang memang si pemiliknya juga belum bisa hadir. Keluarga Kise, dan si bocah itu sendiri.
Tiba-tiba Kotarou berdiri di sampingnya, ia menghela nafas. Dia memang baru datang karena Akashi memerintahkannya pergi sebelum pentas drama di mulai.
"Kau mengalami kesulitan?"
"Tidak juga, dia justru semangat sekali. Sekarang sedang bersama Reo-nee di belakang gedung."
Akashi hanya mengangguk dan kembali menikmati pertunjukan. Kini sudah masuk bagian di mana Momoi bertemu dengan serigala. Sebentar lagi peran pemburu akan dibutuhkan, Aomine dan Momoi melirik ke arahnya. Namun Akashi hanya tersenyum dan meminta mereka melanjutkan perannya.
"Hei gadis berkerudung merah! Mau kemana kau?"
Aomine mencegat Momoi yang sedang berjalan, Momoi berdiri sedikit takut.
"Bukan urusanmu tau! Kata papa dan mama aku tidak boleh berbicara pada orang asing!"
"Tapi aku bukan orang tapi binantang."
"Iya juga sih."
"Sudah beritahu saja mau kemana kau?"
Aomine si serigala mendekati Momoi, Momoi pun mundur ketakutan. Tapi kemudian seseorang meloncat ke tengah mereka. Kedua bocah yang sedang berperan itu pun sontak terkejut.
"Kise-kun!"
Momoi memanggil bocah yang kini berdiri di depannya itu, Kise pun berpose menghadap audien.
"Ya aku adalah Kise Ryota si pemburu! Jangan mendekat kau serigala jahat!"
Kise menodongkan senapan mainan miliknya ke arah Aomine, Aomine yang masih terkejut akhirnya sadar.
"Aku tidak takut dengan senjatamu manusia!"
"Sebaiknya kau pergi, sebelum aku menembakmu!"
Aomine pun mundur karena melihat Kise sudah siap menembaknya.
"Awas kalian aku akan kembali lagi!"
"Ya coba saja kalau berani! Nah! Gadis berkerudung merah, ku dengar kau akan ke rumah nenekmu. Kalau begitu mari ku antar.'
"Wah! Terima kasih Kise-kun!"
"–Dan Gadis Kerudung Merah pun diantar oleh Kise Ryota si pemburu ke rumah neneknya."
Eikichi sebagai narator di balik panggung melanjutkan ceritanya, kemudian scene berubah Momoi si gadis berkerudung merah dan Kise si pemburu bertemu shintaro si nenek Momoi.
Akashi tersenyum melihat murid-muridnya yang berada di belakang panggung mengintip melihat Kise. Mereka pasti terkejut melihat Kise tiba-tiba masuk ke panggung. Setelah itu pentas drama pun selesai, di belakang panggung murid-murid Akashi mengerubungi Kise.
"Ki-chan! Sejak kapan kau datang? Aku benar-benar terkejut saat kau tiba-tiba loncat dan berdiri di tengah kami!"
Momoi yang paling semangat menanyai sahabatnya itu.
"Aku baru kok, Hanamiya-san menjemputku di rumah sakit bersama Yuri-nee."
"Tapi Kise-kun apa kau benar-benar sudah sembuh?"
Kuroko terlihat khawatir meski ekspresi wajahnya datar.
"Tentu saja sudah. Lagi pula aku memang tidak apa-apa kok. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku Kuroko-cchi."
"Tetap saja Kise, mentang-mentang kau baru sembuh bukan berarti kau seenaknya loncat seperti tadi dan ini bukan karena aku mengkhawatirkanmu loh!"
"Iya aku mengerti Midorima-cchi, habis aku semangat sekali sih!"
"Kise-chin, ini."
Murasakibara memberikan permen untuk kise.
"Waah~ terimakasih Murasaki-cchi!"
"Tch! Kise!"
Aomine menarik lengan Kise dan memeluknya.
"Eh?"
"Jangan menakuti kami seperti kemarin lagi, bodoh!"
Kemudian bocah yang lain pun ikut memeluk Kise dan aomine.
"Teman-teman… ma-maafkan aku!"
Kise pun menangis di pelukan teman-temannya, karena melihat Kise menangis yang lain pun ikut menangis. Akashi yang melihat tingkah muridnya hanya diam sambil berdiri di pintu, sudah sejak tadi ia memperhatikan murid-muridanya meski mereka tidak menyadari keberadaannya.
"Sei! Eh? Kenapa mereka semua menangis?"
"Biarkan saja. Ada apa?"
Akashi menggeret Reo keluar dari ruangan belakang panggung.
"Ah ya. Kasamatsu datang, dia membawa seseorang sepertinya."
"Ah, akhirnya datang juga."
"Eh?"
"Panggil anak-anak itu ke depan panggung untuk bertemu keluarga mereka. Aku akan menemui Kasamatsu."
Reo hanya mengangguk, sejujurnya dia bingung tapi dia yakin sebentar lagi pertanyaan di otaknya akan terjawab. Sesuai perintah Akashi, Reo pun meminta anak-anak yang kini sudah berhenti menangis itu bertemu keluarganya.
Kise menemui Yuri kakaknya, satu-satunya yang menghadiri acara pentas itu. Sejujurnya ada rasa iri saat ia melihat teman-temannya bercengkerama dengan keluarga mereka. Tapi ia singkirkan perasaan itu, setidaknya ia masih punya Yuri kakaknya yang selalu ada.
"Kau hebat Ryota, kakak benar-benar kagum melihat kau berperan tadi."
"Terima kasih Yuri-nee!"
Kise memluk kakaknya erat, ia sudah cukup bahagia saat ini. Teman-temannya, kakaknya dan sekarang Akashi-san berada di hidupnya dan menyayanginya itu semua sudah cukup membuat ia bahagia. Tiba-tiba pintu depan gedung terbuka, dua sosok berdiri di pintu itu. Bulir madu Kise membesar, mengetahui siapa kedua sosok itu.
"Ayah… ibu…"
"Ryouta! Yuri!"
Yuri menutup mulutnya, airmatanya mengalir, Sementara Kise berlari ke arah dua sosok yang ternyata kedua orang tuanya.
"Okaa-san!"
Kedua orang tuanya pun menyambut Kise dengan pelukan, Yuri pun ikut memluk mereka setelah rasa syoknya sedikit hilang.
"Jadi ini misi untuk Klan Kaijo?"
Reo yang kini berdiri di samping Akashi berkomentar.
"Aku tak meminta kalian karena aku masih membutuhkan kalian di sini, sementara tugas ini akan menyita waktu kalian."
"Untuk membantu menyiapkan pentas ini? Kau seperti meremehkan kami jika klan lain mendengarnya. Tapi aku lega kami di sini membantumu. Jika saja kami tak di sini saat bocah itu kecelakaan, aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi."
Akashi hanya tersenyum mendengar komentar Reo, dia pun melangkah keluar untuk bertemu Kasamatsu dan dua orang anggota klannya. Reo tentu saja mengikutinya.
"Terima kasih atas kerja bagus kalian, Kasamatsu-san, Hayakawa-san dan Morikawa-san."
"Kami senang kau puas dengan hasil kerja kami, Akashi-sama."
Kasamatsu menjabat tangan Akashi, Reo hanya memutar bola matanya. Wajar jika ia tak menyukai klan lain, karena memang antara satu klan dan yang lainnya selalu berkompetisi untuk terlihat lebih kuat dan professional apalagi di depan ketua mereka.
"Kami akan sangat senang jika Akashi-sama memberi kami misi kembali."
Hayakawa ikut menanggapi.
"Jangan besar kepala, kalian Klan Kaijou! Misi ini hanya misi kecil kalian tahu. Ya, walau aku cukup kagum kalian bisa menyelesaikannya dalam seminggu. Toh, sebenarnya kalau misi ini diberikan pada kami, kami bisa menyelesakannya hanya dalam waktu tiga hari."
Morikawa hampir tersulut emosinya jika saja Akashi tak mengangkat tangannya.
"Cukup, Reo!"
"Cih!"
Reo pun pergi meninggalkan mereka, Kotaro dan Eikichi yang baru akan mendekat terpaksa mengurungkan diri dan mengikuti Reo.
"Aku minta maaf atas perkatannya."
"Tidak perlu Akashi-sama. Kami yang memang lambat menyelesaikan misi ini."
"Nah! Kalian justru tepat waktu, momen ini sangat pas untuk pertemuan mereka. Tapi aku ingin tahu, apa ada masalah saat kalian mencari mereka?"
"Maafkan kami yang tak melaporkan secara detail saat menyelesaikan kasus ini."
"Tidak apa-apa, Kasamatsu. Aku memang lebih suka kau menyelesaikannya tanpa banyak bicara dan melaporkan saat semua selesai."
"Akan kuingat hal itu. Jadi mengenai misi yang kau perintahkan ini, sejujurnya tidak banyak kesulitan yang kami dapati. Hayakawa yang meretas mengenai informasi orang tua anak itu, ia mendapatkan informasi bahwa mereka hilang di Kyoto pada bulan Februari. Kami pun mencari informasi lebih detail dari daftar orang hilang di kepolisian Kyoto. Kami menemukan kasus orang hilang dan penjualan manusia yang hampir sama banyaknya. Di sini kami mulai curiga mungkin kedua orang ini hilang karena kasus ini jadi aku memerintahkan Morikawa untuk ke Kyoto dan bertemu anggota klan di sana. Menurut mereka ada satu klan yang memang sudah meresahkan warga. Kobori dan Nakamura yang ikut pergi pun mulai menyelidiki klan ini."
"Lalu?"
"Klan itu tidak terlalu besar, hanya menguasai sebagian kecil Kyoto. Saat mereka tahu kami bagian dari klan besar mereka ketakutan dan memberikan informasi yang kita butuhkan. Ya, kami menemukan mereka di sebuah pertanian dengan budak sebagai pekerjanya. Tentu saja kami meminta klan itu membebaskan kedua orang yang kita cari."
"Kau tak menceritakan seluruhnya Kasamatsu-san."
Kasamatsu terdiam, ada hal yang ia sembunyikan memang.
"Klan itu punya hutang dengan ayahmu Itu sebabnya ia menuruti apa yang kami mau tanpa perlawannan. Aku tahu ayahmu tak tahu kau di sini, Sei. Tapi mungkin karena ini ia akan tahu."
"Bagaimana bisa orang tua Ryouta tertangkap oleh mereka?"
Akashi mengalihkan pembicaraan, dan Kasamatsu tahu. Namun ia tak mengungkitnya, Jika Akashi tak berkomentar mengenai ini, maka itu bukan urusannya lagi.
"Mereka berhutang pada bos klan itu, kau tahu rentenir, bunga yang tinggi melilit mereka. Itu sebabnya mereka terperangkap dengan mereka. Kedua orang tua muridmu itu pergi ke kota untuk bekerja, tapi kota adalah tempat yang keras. Orang yang tak punya talenta lebih hanya akan jadi sampah dan dipermainkan oleh klan-klan kotor seperti klan itu. Kau pasti tahu dunia seperti itu bukan."
"Ya, kau benar. Aku akan menghubungi Nijimura-san nanti."
Kasamatsu berkedip, tapi ia tak berkomentar hanya mengangguk mengerti. Klan Kaijo pun pamit setelahnya, Akashi hanya memandang kepergian mereka. Ada percikan api di hatinya yang sedikit menulut emosinya. Ia pun mengambil ponsel di sakunya, menekan tombol langsung pada kontak yang tertera dan menunggu sambungan teleponnya tersambung.
"Nijimura-san."
Akashi melangkah menuju kelasnya, hari ini pelajaran kembali seperti biasa. Saat ia membuka pintu Kuroko dan Kise menyambutnya.
"Selamat Pagi Sensei!"
Akashi tersenyum mendengarnya, ia pun mengacak lembut dua bocah itu. Kemajuan yang lumayan, dia berhasil mengambil dua hati muridnya. Bukan tidak mungkin muridnya yang lain juga akan berhasil ia ambil hatinya nanti. Ya, tapi ia masih harus berusaha keras karena Kyoshi sang kepala sekolah mengabarinya bahwa akan ada murid baru hari ini.
"Selamat pagi. Hari ini kalian akan mendapat tiga teman baru."
"Heeeehh?!"
Seluruh muridnya berteriak terkejut. Tentu saja karena memang sangat jarang SD mereka kedatangan murid baru.
"Himoru-kun, Kagami-kun, Dan Haizaki-kun masuklah."
Dan ketiga murid itu pun memasuki kelas, satu murid berambut merah dengan alis bercabang, satu dengan rambut hitam dan poni yang menutupi satu matanya dan terakhir bocah dengan rambut putih dengan ekspresi wajah angkuh.
"Kau kan Haizaki Shogou dari SD di pinggir kota? Kenapa kau pindah kemari?"
Aomine berkomentar, sepertinya ia kenal.
"Diam kau, bocah dekil!"
"Apa kau bilang?!"
"Daiki, duduklah dan tenanglah. Kalian bertiga perkenalkan diri kalian."
"Namaku Kagami Taiga, aku tinggal di Tokyo. Tapi karena suatu hal aku pindah kemari."
"Namaku Himuro Tatsuya sama seperti Taiga, karena kami sepupu."
"Aku Haizaki Shogo."
Hening, kenyataannya seluruh kelas ingin tahu kenapa ia bisa pindah ke SD ini.
"Apa? Bukan urusan kalian kenapa aku pindah. Sensei aku mau duduk, cape berdiri."
"Baiklah kalian boleh duduk dimana saja ada bangku yang kosong."
Murid-murid baru itu pun duduk di bangku yang telah Kyoshi persiapkan di baris belakang murid lainnya. Akashi menghela nafas, sepertinya mimpinya untuk dipanggil sensei oleh seluruh muridnya masih akan ditempuh oleh kerja keras yang sangat melelahkan.
-TBC-
A/N: Haaaaiiiii! Kemana aja lu udah tiga tahun, Njir! /tabokin
Sorry-sorry gue diajak Gandalf keliling fandom-fandom jadinya gitu deh. /apaan?
Ya pokoknya gue balik dengan apdetan ini. Makasih juga yang udah ripiw, gue ngerasa bersalah loh tiap dapet ripiw ampe beberapa hari lalu masih ada yang ripiw. Trus pas diliat udah ada 70. Wow! Rekor. Yah maaaaaappp banget baru apdet reader-san. Wkwk…
Gue ga bisa janji apdet rutin. Hehe… tapi pasti apdet. Tungguin aja. /PHP lo!/ yah pokoknya thanks udah ripiw, fav, follow. Maaf ga bisa bales satu-satu ripiwnya. Selanjutnya mungkin dibales satu-satu. Banyak banget soalnya. /yaiyalah tiga tahun bruh!/
Terakhir Enjoy! :
