IMPORTANT NOTE!

(In case ada yang ga baca When Cinderella Meet The Prince, here's it.)

Saya punya perasaan kalo update saya bakalan molor mulai dari sekarang -_-" Tapi, tunggu! Jangan bunuh saya dulu! *ambil tameng* Saya punya alasan yang kuat kok... *whine* Sekarang ini, saya sedang mengerjakan game, semacam VN (Visual Novel). Dan karena program pembuatnya belum pernah saya sentuh selama ini, saya mulai dari benar2 nol. Mempelajari dulu sampai ga ngerasa asing lagi, yang ternyata membutuhkan waktu berhari-hari... Jadi, saya cukup banyak menghabiskan waktu saya di sana T^T"

Tapi, sebagai ganti dari update yang bakalan molor mulai sekarang (bukan cuma cerita ini, tapi juga WCMTP), saya janji untuk memberikan game itu secara gratis kepada kalian readers yang bakalan terus setia mereview sampai nanti ^^ Game VN itu sendiri merupakan semacam fan-made dari anime/manga yang sedang saya sukai sekarang ini. Yep, saya membuat game VN bertemakan BLEACH GAKUEN (AU)! ^^

Sebagai bocoran awal, game itu memiliki 4 path yang sadar atau ga, bakalan kalian jalankan selama game berjalan (pilih hati2 karena jawaban yang kalian berikan yang menentukan path mana yang kalian tempuh). Empat path yang ada: Grimmjow x Ichigo (tentu~), Hollow Ichigo x Ichigo, Aizen x Ichigo, dan Gin x Ichigo. Game ini strictly beratingkan M, karena terdapat rape, drugs use, bondage, sexual interaction, incest, dan hal2 lain yg (katanya) ga baik untuk minor. Untuk CG pun berkemungkinan UN-CENSORED! Jadi, jangan salahkan saya kalau kesan game-nya terlalu... blunt. Makanya diberi rating M. Tapi, kalau saya niat, bakalan saya sensor sebisanya -_-"

Janji saya itu bisa kalian pegang erat2 kok~ ;) *wink* *wink*

Untuk salah satu CG-nya, bisa kalian lihat di: ht tp :/ /fav. me /d4ltcff

Saya bakalan tetep berusaha update tepat waktu sih T^T"

Anyway... Sankyu banget untuk kalian2 yang udah mereview *bows* Ini klise, tapi, review kalian selalu bisa bikin saya terus semangat untuk update dan ga menelantarkan cerita ini di belakang! ^^ Sekarang, anonymous review replies~

lovely orihime: Saya update secepat yang saya bisa nih D:

Rose: Uhuhuhu... Mari kita tengok ;)

Zanpaku nee: *ketemu tomat atau ga, buat jaga2 tetep masuk ke lemari sambil ngintip* Iyap~ Ulqui tau soal masalah Renji n Ichi kok, ga ada rahasia di antara RenjiUlqui ;) *halah* Iya banget, sayangnya saya juga ga ngerti itu pada ngomongin apaan aja T^T" Saya juga dableg dgn bahasa Jepang. Makanya sempet mikir, yg kamu ketik itu apaan ==a *swt* Yep, yang untuk edisi Kuristomasu ya? Ehehe... Itu sebenernya tadinya niat ga ada kissu2annya lho =))" Tapi, akhirnya bikin juga. Eh, OST yang itu cocok ya sama chappy kemaren? O.O *ga ngeh*

ndok: Ichi sedang mendrama =u=b *ditabok zangetsu* Iyap. Renji beneran sama Ulqui kok :D Crack, tapi saya ngerasa mereka cute kalo barengan =)

Aoi LawLight: Serius banget! ^o^/ Kalo sama Shuuhei atau Ishida kan keseringan :| Pengen yang aneh kali2, tapi tetep cute ;) *menurut saya* KDDF? 'A'; *bingung* Kekerasan Dalam...?

Juga makasih banyak untuk Kazugami Saichi Hakuraichi / Arya Angevin / Haiiro-Sora / astia aoi yang login terlebih dulu buat review! ^^

XOXOXO

CHAPTER 10

Disclaimer: I don't own Bleach, it's Kubo Tite. I used it just for fun...

On with the story!

XOXOXO

"The story of love is not important. What is important is that one is capable of love.

It is perhaps the only glimpse we are permitted of eternity."

~ Helen Hayes

.

Banyak hal berkutat di benaknya, sampai-sampai ia sendiri bingung sebenarnya apa yang tengah ia pikirkan. Kenyataan yang ia terima beberapa waktu lalu terasa bagaikan pukulan telak di hati yang membuatnya sulit bernafas. Ia tidak pernah membayangkan hal semacam ini sebelumnya. Dan ia sebenarnya tidak tahu dengan apa yang akan ia lakukan.

Ayolah, tidak setiap hari teman yang satu jenis kelamin denganmu mengatakan kalau ia memiliki ketertarikan seksual padamu.

Walau dikatakan tidak secara langsung oleh orangnya, Grimmjow tetap merasakan pukulan yang sama. Ia kaget, tentu. Tapi, daripada kaget karena mengetahui Ichigo memiliki ketertarikan semacam itu padanya, ia lebih kaget karena dirinya sendiri sama sekali tidak merasa terganggu—tidak, justru ia merasa rasanya bagaikan ada yang melayang di hatinya, menyentuhnya perlahan dan membuat perasaannya tergelitik. Bukan sesuatu yang tidak nyaman.

Sebaliknya.

Ada rasa panas yang membakar, menjalar, dan membuat wajahnya nampak merona. Perasaan yang sama dengan yang pernah ia rasakan ketika pertama kali ia berhasil merintis Pantera dan terus menanjak.

Senang.

Grimmjow yakin jantungnya sudah bertukar posisi dengan otaknya saat ini karena kedua telinganya bisa mendengar gema detaknya dengan sangat jelas, sampai-sampai terasa sakit.

Apakah ia berbohong?

Apakah ada seseorang yang memanipulasi pikirannya saat ini?

Ia merasa senang. Aneh. Orang yang selama ini bersikap sangat peduli padanya, ternyata jauh lebih peduli lagi. Dan ia senang.

Ia tidak bisa berhenti tersenyum.

Debaran jantungnya terus memacu dengan cepat, membuat keringat dingin dengan mudah membasahi telapak tangannya yang tengah memegang kemudi. Kakinya tidak bisa berhenti menginjak pedal gas. Pikirannya hanya tertuju pada satu titik, dan ia ingin segera bisa sampai di sana.

Lalu...

Lalu... apa?

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan dengan terus melaju melewati batas kecepatan di dalam kota menuju rumah sang pria. Ichigo. Ia hanya merasa bahwa mereka harus bertemu. Sekarang. Segera. Secepatnya.

Ckiiiiit! BRAK.

Tidak ingat apakah ia sudah memasang rem tengah, tidak ingat apakah ia sudah mengunci kembali pintu mobilnya, setelah melewati pagar rumah Ichigo, Grimmjow langsung berlari dengan kekuatan penuh menuju pintu depan. Menekan bel, dan menunggu sambil mengatur nafas yang tidak ia ingat semenjak kapan menjadi terengah-engah seperti ini. Hanya saja, setelah beberapa saat menunggu dan tidak kunjung juga terdapat jawaban, dahi Grimmjow mulai berkerut. Ia cek jam tangannya,dan ia yakin kalau pada jam segini, biasanya Ichigo selalu berada di rumah.

TING TONG!

Sekali lagi ia tekan, "Ichigo?" Memanggil, dan tetap tidak ada jawaban. "Ichigo, ini aku. Bisa kau buka pintunya? Kau ada di rumah kan?"

Apa malam ini pria itu sedang pergi keluar rumah?

Melirik ke kiri dan ke kanan, akhirnya ia ingat kalau dari halaman samping bisa terlihat dengan jelas ruang keluarga dan bisa juga masuk melalui sana. Dengan pemikiran mungkin saja Ichigo saat ini sedang menonton televisi, Grimmjow pun melangkah mendekati halaman samping. Permukaan tanah yang ia injak menimbulkan suara gemerisik yang agak basah. Kelihatannya lembab karena cuaca agak dingin. Ia melihat jendela besar yang ada di halaman samping pun nampak gelap, kelihatannya Ichigo memang benar tidak ada di rumah.

Hanya saja, keinginannya untuk berbalik pergi tertahan saat mendapati jendela tersebut agak terbuka. Terkesan terlalu ceroboh untuk orang seteliti Ichigo untuk meninggalkan jendela terbuka begitu saja jika memang sedang meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Dan kalau pun dokter muda itu sudah tidur, bisanya baik jendela atau pun pintu akan sangat rapat.

Mengambil langkah maju kembali, nafas Grimmjow tercekat dan kedua matanya langsung membelalak ketika melihat dengan jelas pemandangan yang ada di balik jendela, "What the fuck? !" Tidak ada lagi perabot yang berdiri dengan sempurna. Semuanya kalau tidak terbalik, ya tersingkir. Berantakan di segala penjuru lantai. Alarm di benaknya berbunyi nyaring membayangkan hal-hal yang terburuk, Grimmjow langsung berlari masuk, "Ichi—!"

Pengalaman terlibat dalam gang ketika masih sekolah dulu membuat Grimmjow bisa menghindari tepat waktu kepalan tangan yang terarah padanya. Secara refleks ia memutarkan tubuhnya dan menendang orang yang secara tiba-tiba menyerangnya. Membuat orang itu tersungkur menabrak kursi dan vas yang berada di belakangnya sampai jatuh, pecah ketika berbenturan dengan lantai. Saat itulah ia bisa melihat siapa yang sebenarnya menyerangnya... dan ia langsung menyesal menggunakan tenaga penuh.

"Ichigo!"

Baru saja ia hendak menunduk dan melihat luka yang ia akibatkan, Ichigo kembali bangun dan menyerangnya secara membabi-buta. Layaknya orang yang kesurupan. Dalam kebingungannya, yang bisa Grimmjow lakukan hanya menghindar sebisa mungkin dan berusaha untuk tidak melawan. Walau pun dalam keadaan biasanya ia akan langsung membalas jika Ichigo menyerangnya, tetapi kali ini ia merasakan sebuah pengecualian. Ia tidak tahu apa alasannya, tetapi pria bersurai oranye yang sedang mengganas di hadapannya itu nampak seperti yang habis menangis. Wajahnya merah, dan kelopak matanya sembab.

Dan saat itulah sebuah kesimpulan bisa ia tarik.

Ichigo sendirilah yang mengacak-acak ruangan di rumahnya ini hingga tidak berbentuk lagi.

Dokter muda itu memiliki kebiasaan merusak barang jika sedang merasakan kemarahan yang dalam, juga kekecewaan. Tapi, apa itu, Grimmjow tidak bisa tahu jika Ichigo tidak memberitahunya sendiri.

Terlarut dalam lamunannya sendiri, Grimmjow tidak menyadari kalau Ichigo sudah berhenti menyerangnya. Pria itu saat ini tengah berdiri dengan kepala yang tertunduk, dan kedua tangan yang mengepal di sisi tubuhnya. Nafasnya nampak tidak karuan, dan suaranya serak ketika ia buka suara, "Kenapa?" Grimmjow mendongak, kembali menatap ke arah Ichigo, "Kenapa kamu datang sekarang?"

Alis kembali berkerut, Grimmjow membuka mulutnya, "Apa maksud—"

"AKU TERUS MENUNGGUMU!"

Grimmjow tersentak. Ekspresi yang dikeluarkan oleh Ichigo saat itu membuatnya tidak bisa berpaling. Ia hanya terus menatap lurus, tidak tahu apa yang bisa ia katakan, dan membiarkan Ichigo terus mengoceh, "Aku terus menunggumu selama bertahun-tahun, Grimmjow! Aku terus menunggu walau pun tahu kamu sudah bersama yang lain! God! Aku tahu aku bodoh, tapi aku tidak bisa berhenti!" Ichigo kini menarik rambutnya sendiri, dan berjongkok, menyembunyikan wajahnya di antara lututnya, "Kenapa? Kenapa harus kamu orang yang menarik perhatianku? Kenapa harus kamu dan bukannya Renji saja? Kenapa... Kenapa aku harus jatuh cinta padamu?"

Ia kehilangan akal sehatnya.

Karena dirinya yang seharusnya normal, ketika mendengar nama Renji keluar dari mulut Ichigo, ia merasa kehilangan kendalinya. Dan ketika kalimat 'cinta' dilontarkan, begitu sadar ia sudah dekap tubuh sang dokter muda dengan erat, "Jangan katakan itu." Mendesis. "Jangan berani-beraninya kamu mengatakan menyesal sudah mencintaiku, Ichigo. Aku tidak akan memaafkanmu." Saat itu Ichigo memilih untuk menegakkan lagi kepalanya. Cinnamon bertemu dengan azure. Kebingungan terpancar jelas di mata sang pria, dan Grimmjow sudah bisa menebak ke mana kebingungan itu berlabuh.

"Tapi... Grimm... A-aku pria, mengatakan mencintaimu... kamu yang sudah beristri. Tidakkah kamu merasa... terganggu atau... jijik?"

Dikatakan secara jujur, Grimmjow sendiri pun tidak mengerti. Hell. Di dunia ini banyak sekali hal yang tidak ia mengerti jika ia melihat lagi semuanya ke belakang. Apalagi mengenai yang namanya perasaan. Perasaan seorang manusia jauh lebih rumit daripada serpihan puzzle yang tercampur satu sama lainnya.

Bukan hal yang seharusnya dipertanyakan dengan mudah.

Karena tidak jarang seseorang tidak bisa menemukan jawabannya.

"Aku tidak tahu." Kerutan dahi. "Jangan coba-coba kamu menanyakannya lagi, Ichigo. Kepalaku rasanya mau pecah memikirkannya. Kamu tahu kan, aku tidak pernah bisa bersahabat baik dengan hal yang susah-susah." Mengangkat bahu, senyum kembali terurai pada wajah Grimmjow ketika mendengar kekehan lembut dari Ichigo.

Ichigo memang lebih cocok jika tersenyum seperti sekarang ini.

Lalu... ketenangan itu kembali kacau.

Tidak tahu bagaimana bisa, tapi ketika ia melihat wajah tersenyum Ichigo yang bermata sembab, Grimmjow memiliki keinginan besar itu. Untuk memajukan tubuhnya, menutup jarak di antara mereka berdua... dan itulah yang tengah ia lakukan saat ini.

Ia mencium Ichigo.

Di bibir.

Hanya sentuhan bibir dengan bibir yang ringan, dan Grimmjow menarik kembali wajahnya. Ketika melihat ekspresi Ichigo di mana kedua matanya membelalak, Grimmjow mempercayai kalau saat ini wajahnya pun mengenakan ekspresi yang sama. Belum pernah selama ini dirinya mencium seorang pria, betapa menarik atau tampannya pria itu. Wajar saja bukan? Bagi dirinya yang normal, mencium sesama jenisnya tentu rasanya akan aneh. Tapi, rasa aneh itu tidak dirasakannya saat ia melakukannya pada Ichigo.

Rasanya... berbeda.

Rasanya seperti yang tersengat listrik, membuatnya bingung, tetapi pada saat yang bersamaan, Grimmjow merasakan kalau dirinya... menginginkan lebih. Karena itu, ia memajukan kembali tubuhnya, mengalungkan satu lengannya di leher Ichigo, sementara lengannya yang lain menarik kerah baju yang pria muda itu gunakan. Ichigo memiliki bau tubuh yang enak, lembut seperti wangi adonan kue manis, dan pria muda itu memiliki rasa yang... addictive. Seolah sesuai dengan arti namanya, Strawberry.

Manis dan segar.

Hangat, dan juga menggairahkan, mengirimkan kejutan pada tubuhnya yang membuatnya merinding dalam konteks yang sangat ia nikmati. Sampai-sampai ia tidak sadar sudah mendorong jatuh Ichigo, hingga kini mereka berciuman di lantai dalam posisi berbaring. Dan ketika Grimmjow menarik kembali mulutnya untuk mengambil nafas, ia tidak bisa melakukannya lama-lama, karena ia sudah merasakan lagi keinginan itu. Ia kembali menempelkan bibirnya pada bibir plum Ichigo, menjulurkan lidah, memohon agar diberikan akses yang lebih jauh lagi, dan langsung ia menikmati kesempatannya ketika keinginannya itu tercapai.

Setelah ciuman itu, untuk beberapa waktu mereka hanya diam di tempat menatap satu sama lain. Mendiamkan kehancuran yang terjadi di sekitar mereka, mereka mulai berbicara. Ichigo mengatakan apa yang terjadi, mengapa ia sampai mengamuk dan lepas kendali, mengenai Byakuya.

Kuchiki Byakuya.

Sudah Grimmjow duga, dirinya tidak menyukai pria itu memang ada alasannya.

Searogan apa pun dirinya, ia masih bisa berbangga diri karena tidak sekali pun ia akan melakukan hal pengecut seperti pria yang terlalu mendewakan nama keluarga itu. Mengatakan mencintai Ichigo, tetapi pada akhirnya membuang begitu saja ketika kepala keluarga memberikan perintah. Yang seperti itu bukan cinta. Motherfucker. Dia pikir, siapa dirinya?

Kemarahan yang meluap serta rasa over-protektif yang menyelimuti pun sempat membuat kaget Grimmjow karena jika ia pikirkan lagi dengan perasaan baru di hatinya, rasa over-protektif itu sudah ia miliki semenjak lama. Karenanya ia selalu tidak suka jika melihat Ichigo bersama seseorang yang tidak bisa ia percayai. Kenapa selama ini ia tidak menyadarinya, ia sendiri pun tidak tahu.

Ergh... Ia benar-benar bodoh.

Lalu Ichigo berlanjut menceritakan bagaimana bisa menyukai dirinya, yang ternyata semenjak kali pertama mereka bertemu... dan sebelum dirinya mulai memperhatikan Ichigo yang sering datang ke Las Noches, tempatnya bekerja dulu. Dan kali ini, untuk pertama kalinya semenjak Grimmjow sering mengunjungi Ichigo, ia merasakan berat ketika tahu sudah waktunya bagi dirinya untuk pergi. Ia masih membutuhkan waktu untuk bisa menyusun hatinya, dan ia tahu, tidak mungkin melakukan hal itu ketika Ichigo berada di dekatnya.

Lagiula, sudah saatnya ia memberikan keputusan bulat akan hubungannya dengan Cirucci.

Ia menyayangi wanita itu, tapi wanita itu sudah melanggar batas hingga sulit baginya menerima kehadiran wanita itu lagi di sisinya. Ditambah, ia sama sekali tidak menemukan keinginan untuk melepas Ichigo begitu saja ketika sudah tahu perasaan yang dipendamnya kepada dirinya.

Membuka pintu mobilnya, Grimmjow tidak langsung masuk dan malah menatap Ichigo yang berdiri di hadapannya, "... Kalau kukatakan aku ingin mencobanya, kamu bersedia memberiku kesempatan, Ichigo?" Ia dengar dirinya sendiri mengatakan itu.

Ichigo saat itu nampak sangat kaget. Kerutan dahi langsung nampak pada wajah Grimmjow ketika menyadari bahwa pria itu menganggap dirinya hanya berniat mencium saja tanpa ada maksud apa pun. Well, seorang Jaegerjaquez tidaklah sepicik itu. Mengambil kesempatan dalam kesempitan yang berhubungan dengan perasaan seseorang, bukan gayanya. "Ichi, aku terluka..." Dengan sengaja Grimmjow memajukan bibirnya, merajuk.

Ichigo mendengus, memukul lengannya pelan, "Fuck, Grimm... Setelah sekian lama aku menunggumu? Tentu saja, aku mau."

Cengiran lebar dengan segera menghiasi wajah Grimmjow. Setelah kembali memberikan kecupan di bibir Ichigo, Grimmjow masuk ke dalam mobilnya dan membuka kaca, "Tunggulah, aku akan menyelesaikan masalahku dulu dengan Cirucci. Jangan lupa menghubungiku, Ichi." Sebuah anggukan ringan dan senyum diberikan sebagai jawabannya. Dan Grimmjow pun mengendarai mobilnya keluar kompleks rumah Ichigo.

Sekarang, hal yang paling sulit.

Grimmjow sebenarnya tidak begitu tahu harus bersikap seperti apa dengan semua perasaannya yang secara tiba-tiba ia sadari ada. Ia menyadari kalau dirinya sendiri pun tertarik pada Ichigo, dan memiliki berbagai hal yang ia ingin lakukan bersama-sama. Tapi, ia juga bukan balita yang selalu naif, ia pria dewasa yang tahu kalau hubungan antar pria pastinya berbeda dengan hubungan pria-wanita.

Semua hal yang pernah ia lakukan, terasa lebih baik ketika ia melakukannya dengan Ichigo. Apalagi, ciuman tadi. Rasanya tidak pernah dirinya sampai begitu bergairah semacam tadi, hingga rasanya mengerikan. Membuatnya ingin melupakan saja semua hal di sekitarnya dan memberikan perhatian penuh pada Ichigo...

Menciumnya...

Memeluknya...

Membelainya...

... Terserah deh. Cirucci mau menjerit kaget, orang tuanya mau meneriakinya, apa pun, biar saja mereka melakukannya. Karena Grimmjow saat ini tidak bisa berhenti menyeringai lebar.

XOXOXO

Keesokan paginya; Karakura Hospital

Setelah sekian lama, akhirnya Ichigo merasa langkah demi langkah yang ia ambil setiap kali ia berjalan, terasa begitu ringan. Ia tidak percaya setelah apa yang dilakukan Byakuya padanya, ia akan masih bisa merasa sesenang ini. Tapi, pada kenyataannya semua ini benar terjadi. Ia tidak bermimpi. Pesan singkat yang dikirimkan oleh Grimmjow tadi pagi adalah bukti nyata.

Pria bersurai biru itu memintanya untuk datang ke Pantera saat istirahat siang nanti—yang tentu saja akan dengan senang hati ia kabulkan.

Jujur saja, ketika pertama kali tahu dari Grimmjow bahwa sebenarnya Renji-lah yang membocorkan rahasianya, makanya pria itu datang ke rumahnya kemarin malam, Ichigo merasakan keinginan untuk memotong lidah pria bersurai merah itu dan mencincangnya untuk dijadikan makanan ikan koi peliharaan rumah sakit. Tapi, sekarang, ia merasakan keinginan yang teramat sangat untuk berterima kasih, hanya saja tidak akan pernah benar-benar ia katakan kepada yang bersangkutan.

Karena Renji sudah melanggar janjinya lebih dulu untuk tidak mengatakannya.

Memasuki ruangan kerjanya, Ichigo mengernyitkan dahi.

Rasanya ada sesuatu yang aneh terjadi di ruangannya itu. Ia merasa seluruh barang miliknya yang ada di sana masih dalam keadaan utuh, hanya saja ia tidak bisa mengusir perasaan bahwa ada sesuatu yang... berbeda. Dan mendadak, instingnya membuatnya menyikut keras ke belakang. Betapa kagetnya ia ketika sikutnya itu menyentuh sesuatu yang empuk dan erangan kesakitan terdengar berikutnya.

Berbalik, mulutnya langsung menganga tidak percaya dengan apa yang ia temui di sana. Pria bersurai putih dan kulit bagaikan albino tengah bertekuk lutut dan memegangi perutnya, "Aoow... Tidak perlu seserius itu kan... Aibou?"

... Bohong. Kali ini ia pasti sedang bermimpi.

"... Shiro?"

Shiro mendongak, berbeda dengan ekspresi kesakitan tadi, kini wajahnya menyeringai lebar dan nampak sangat senang. "Heya, Aibou! Didja miss me?" Melambaikan tangan dalam jarak dekat, Shiro bangun dari posisinya masih dengan sesekali meringis. Tidak pernah ia sangka kalau Ichigo memiliki tenaga sebesar itu, sebab yang ia ingat, terakhir ia meninggalkannya saat itu Ichigo termasuk orang yang cengeng.

"S-Shiro? Kau benar-benar... Shiro?" Menunjuk, Ichigo benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang tengah ia lihat sekarang ini. Sudah 10 tahun lebih ia tidak bertemu dengan sosok di depannya itu sampai-sampai ia hampir lupa kalau ia memiliki saudara kembar.

Iya. Kembar.

Kurosaki Ichigo dan Kurosaki Shiro adalah saudara kembar yang kelahirannya hanya berbeda 15 menit. Ichigo lahir lebih dulu, karena itulah Shiro memiliki kebiasaan untuk memanggil dirinya dengan sebutan 'Aibou'. Mereka merupakan saudara kembar yang sangat lekat, seperti saudara kembar lainnya di dunia ini. Hanya saja, pada usia 12 tahun Shiro dibawa oleh kakak sang ayah ke Amerika, alasannya karena bibi tidak bisa memiliki anak namun ingin sekali punya anak.

Dengan kata lain, Shiro diurus oleh bibinya itu sebagai pancingan. Setelah 2 tahun tinggal bersama, sang bibi akhirnya bisa juga memiliki anaknya sendiri, tapi tetap menolak untuk mengembalikan Shiro karena sudah terlampau sayang. Isshin yang memang lemah terhadap kakaknya itu, mengiyakan Shiro untuk terus di sana. Dan saat itu membuat Ichigo tidak mau bicara dengan ayahnya selama berminggu-minggu. Marah karena ia tidak bisa segera bertemu dengan kembarannya yang sudah sangat ia rindukan.

Akhirnya, sampai detik ini, mereka hanya mengobrol melalui jaringan internet dan skype.

"Nope. Kamu sekarang ini lagi melihat cermin, Aibou. Nggak ada siapa pun di depanmu." Walau berkata begitu, Shiro memeluk Ichigo, membuat sang dokter muda tertawa senang dan memeluk balik. Karena jika Shiro berada di sini, itu berarti...

"Okaeri, Shiro."

Shiro melepaskan pelukannya dan menatap wajah kembarannya itu sambil terus tersenyum lebar, "Tadaima, Ichigo." Ia menghela nafas lega, "Senang rasanya bisa lepas dari nenek sihir itu dan pulang kembali ke Jepang!" Ia tertawa terkekeh dan segera disusul oleh Ichigo yang juga tertawa lepas.

"Biarpun begitu, bibi kan sempat menjadi ibumu." Tawa Ichigo.

Shiro mencibir, "Tapi dia terus menganggapku anak-anak dengan tidak boleh ini-itu. Dan baru mau melepaskanku ketika aku sudah besar begini. Man... How troublesome." Bahasa yang campur aduk dengan bahasa Inggris itu hanya membuat Ichigo tersenyum saja. Bagaimana pun juga Shiro pastinya masih agak kesulitan terbiasa dengan Jepang setelah bertahun-tahun waktunya habis di negara Paman Sam.

"Oh ya, ngomong-ngomong, aku bawa barang tambahan..."

Kerutan dahi yang ditunjukkan Shiro membuat Ichigo mengangkat alis. "Apa—"

"IIIIICHIGO-CHAAAAAAAAAN~!"

Seorang pria yang mendadak keluar dari ruangan sebelah dan langsung menerjang ke arahnya membuat Ichigo memelototkan kedua matanya. Shiro yang merasakan urat kekesalannya menjentik, langsung menendang sang pria tepat di perut hingga tersungkur ke lantai. Mengerang dalam kesakitan. Menekan pangkal hidungnya, Shiro kembali menatap ke arah Ichigo dan langsung menyesal sudah membawa tambahan itu sampai ke sini ketika melihat ekspresi yang dikeluarkan kembarannya itu, "Maaf, Aibou... Dia memaksa ikut dengan membuat keributan di bandara. Jadi ya... Aibou?" Shiro mulai merasa khawatir ketika Ichigo sama sekali tidak menjawab walau pun ia mengibaskan tangannya di depan wajahnya.

Baru saja Ichigo mulai merasa kalau hari ini akan menjadi hari baik bagi dirinya karena sudah ada 2 kebahagiaan yang datang dalam jarak yang sangat singkat, kenyataan langsung membuatnya ingin merutuk.

Ia tidak butuh tambahan!

"SHIROOOO!"

Hari itu, Kurosaki Shiro merasa bahwa kedatangannya ke Jepang hanya membuatnya tidak bisa buang air melalui tempat yang sama lagi.

.

TBC

.

Um Um Um... Akhirnya Shiro keluar juga~ Shiro-sayaaaaaaang xD *lari2 ngejar Shiro yg menjauh sambil teriak "bitch!"* Nah, sekarang Ichi udah bisa mulai dengan Grimm, tapi siapa cowok yang dibawa Shiro? Yang pasti, orang yang nyusahin :"|b

Review?