DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, Ojamajo Doremi 16 Naive & Ojamajo Doremi 16 Turning Point (light novel) © Kodansha, 2011-2012. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini, dan semua lagu yang judulnya tercantum dalam fic ini juga bukan punya saya.

Catatan Author: Dan secepat mungkin, saya mengupdate chapter 10!

Sesuai dengan judulnya, chapter 10 ini memiliki banyak kejutan didalamnya. Mau tahu apa saja kejutan yang terdapat disini? Kita lihat saja.

.

Intro: Sama seperti apa yang diceritakan di akhir chapter 9 kemarin, Kotake sedang membelai rambut Doremi yang panjangnya sudah menjangkau setengah lengan atasnya sekarang. Kotake berkata, "Yang pasti, aku tidak akan pernah terpengaruh oleh perkataan dokter itu tentangmu. Aku percaya, suatu saat nanti, kau akan membuka matamu lagi…"

"Te-tsu-ya…" tiba-tiba, terdengar suara Doremi menyahut perkataan Kotake, memanggil pemuda yang selama sebulan ini menjaganya disana. Ia membuka matanya perlahan dan tersenyum lemah.

Kotake terkejut. Ia bahkan sempat mengedip-ngedipkan matanya, memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah sebuah kenyataan, dan saat ia sudah meyakini apa yang dilihatnya itu benar, ia membalas senyuman kekasihnya yang baru saja kembali ke kenyataan itu dan berkata, "Selamat datang kembali, putri tidur bidadariku…"

.

(Opening Song 'Ojamajo Girlband': 'Egao no Mirai he' by MAHO-Do – Original Version by Yuki Matsuura)


Ojamajo Girlband

.

Surprise!


Doremi's POV

Masker oksigen itu telah terlepas dari wajahku. Dengan bantuan dari Tetsuya, kami berhasil melepasnya.

Selama beberapa menit aku berdiam diri, mencoba mengumpulkan tenagaku yang masih belum sepenuhnya pulih, sementara Tetsuya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi selama satu bulan ini.

Satu bulan? Sekarang aku baru menyadari bahwa aku sudah berada di Rumah Sakit ini selama sebulan ini, dan ini semua karena insiden itu…

Yang membuatku menjadi semakin terkejut adalah, Tetsuya juga berkata bahwa ia tahu kalau ada seseorang yang mengikutiku dan menembakku saat itu, bahkan, ia tahu siapa orang itu.

"Ja-jadi, dia itu… Akihiro Rocky?" ujarku terbata-bata, "Baiklah, kurasa… kami kurang berhati-hati…"

"Hal itu juga yang kukatakan kepada sahabat-sahabatmu, Doremi," sahut Tetsuya yang kemudian menyodorkan sesuatu ke arahku, "Ah, kelihatannya… aku harus mengembalikan ini,"

"Ponselku?" tanyaku yang kemudian menerima ponsel merah muda itu dengan tangan kananku, "Kenapa bisa sampai berada ditanganmu?"

"Awalnya, Segawa menyuruh Poppu untuk memperlihatkan ponselmu padaku, lebih tepatnya, ia ingin memperlihatkan SMS dari si Batu itu yang berada disana."

"Pesan itu…" gumamku, "Memangnya, Poppu tidak memintanya kembali?"

"Saat itu, aku sempat mengembalikannya kepada Poppu, tapi keesokan harinya, saat ia menjengukmu disini dan aku memutuskan untuk menginap disini – untuk menjagamu, ia memutuskan untuk memberikannya padaku, dan ia berpesan supaya aku mengembalikannya padamu ketika kau sadar."

"Oh…"

"Baiklah, karena kau sudah sadar sekarang, ini saatnya untuk membuktikan kepada dokter sok tahu itu kalau sebenarnya, kau masih bisa selamat."

"Eh?" tanyaku tidak mengerti, "Apa maksudmu bicara begitu, Tetsuya?"

"Ah, bukan apa-apa," kilahnya, "Sekarang, saatnya kau pindah ke kamar yang lebih baik."

Ia lalu meminta pihak Rumah Sakit untuk memindahkanku ke sebuah ruang rawat inap biasa yang… tidak biasa…

"Geh! Aku pindah ke ruangan ini? !" seruku, "Kau jangan main-main, Tetsuya! Ruangan ini kan…"

"Semua sahabatmu dan keluargamu berpesan supaya pihak Rumah Sakit memindahkanmu kesini, begitu kau sudah sadar," jelas Tetsuya, "Jangan khawatir soal biaya. Mereka semua sudah mengurusnya."

Aku terkejut bukannya tanpa alasan. Berbeda dari ruangan yang kutempati saat Akihiro-san menusukku dulu, ruangan yang kutempati sekarang jauh lebih luas dan terkesan mewah, bahkan dilengkapi dengan sebuah televisi!

Didalam ruangan seperti ini, aku bahkan hampir saja sempat berpikir bahwa akan lebih baik kalau mereka menyediakan steak sebagai menu makananku, tapi tentu saja, aku sadar bahwa itu adalah hal yang mustahil.

Lagipula, mana mungkin sebuah Rumah Sakit menyajikan steak sebagai menu makanan untuk pasien yang dirawat disana? Kalau memang benar ada Rumah Sakit yang seperti itu, hal itu akan jadi sebuah keajaiban dunia.

Karena tenagaku belum pulih benar, aku pindah kesana dengan menggunakan kursi roda, dan Tetsuya menolongku mendorong kursi rodaku sampai ke ruangan yang sekarang kutempati.

"Mereka sengaja menempatkanmu di ruangan yang dilengkapi dengan televisi, supaya kau tidak merasa bosan," ujar Tetsuya, memberikan penjelasan yang lebih lengkap mengenai alasan keluargaku dan sahabat-sahabatku di MAHO-Do untuk memindahkanku ke ruangan ini, "Apalagi, mereka tidak bisa sering-sering menjengukmu sekarang. Semua sahabatmu sudah mulai sibuk sejak awal libur musim panas…"

"Eh, chotto matte yo!" seruku tiba-tiba, "Sebulan lalu itu… seminggu sebelum libur musim panas kan?"

"Iya," jawab Tetsuya santai.

"Berarti sekarang… sudah libur musim panas kan?"

"Memang benar, tapi… sekarang semua itu sudah mau berakhir. Senin depan, semester terakhir akan dimulai."

"Sou na!" keluhku sambil menundukkan kepala, "Bagaimana ini? Aku bahkan tidak sempat mengambil kartu raporku… belum lagi, kemungkinan aku harus menghabiskan sisa-sisa waktu libur musim panas yang kumiliki disini…"

"Soal kartu rapormu, kau tidak usah khawatir," hibur Tetsuya. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkannya padaku, "Ini. Yamaki-sensei memberikannya padaku saat pengambilan rapor."

"Tidak jadi masalah kalau aku belum menerima ini," ujarku saat menerima lembaran berisi nilai-nilaiku di semester kelima yang kuikuti di SMA Misora tersebut, "Masalahnya, aku tidak bisa melewati libur musim panas kali ini dengan normal. Jangankan berlibur ke luar kota. Akupun bahkan tidak tahu sama sekali tentang PR musim panas…"

"Tidak biasanya kau peduli dengan PR musim panas," komentar Tetsuya sambil tersenyum, "Tenang saja, Doremi. Aku yang akan membantumu mengurus itu semua. Kita akan berlibur dan mengerjakan PR musim panas itu bersama-sama."

Ia lalu menambahkan, "Tapi soal PR, tidak ada diskusi jawaban ya?"

"Baiklah," aku memutar bola mataku.

Aku berpikir sebentar, kemudian bertanya, "Jadi… selama sebulan ini, kau menginap disini untuk menjagaku?"

"Iya," jawab Tetsuya, "Aku bahkan meminta izin kepada coach untuk tidak ikut latihan sepanjang libur musim panas ini."

"Selama sebulan ini, kauterus berada disini?"

"Sampai detik ini, aku bahkan tidak ingin meninggalkanmu sedetikpun."

"Berarti… kau telah mengorbankan libur musim panasmu hanya demi aku…" gumamku pelan, sedikit merasa bersalah, "Gomen ne, Tetsuya. Seharusnya, aku masih punya waktu untuk berlari memasuki rumahku, saat aku tahu kalau Rocky…"

Tetsuya memotong perkataanku dengan menempatkan telunjuk tangan kanannya dibibirku, "Sudahlah. Sebaiknya, kau jangan membahasnya lagi sekarang. Kita bicarakan tentang hal yang lain saja ya?"

Aku tersenyum dan mengangguk, "Un!"

Setelah Tetsuya membantuku menaiki tempat tidur, aku bertanya lagi, "Ngomong-ngomong… tadi kaubilang jadwal MAHO-Do di libur musim panas ini padat sekali, artinya sekarang… Hazuki-chan-tachi sedang sibuk…"

"Begitulah. Hari ini saja, mereka tidak bisa datang kemari karena harus tampil di acara musik," sahut Tetsuya yang kemudian menoleh kearah sebuah jam dinding yang berada di dalam ruangan tempat kami berada, "Jam segini sih… mereka masih berada di acara itu."

"Nyalakan televisinya, Tetsuya," perintahku. Rasanya aku ingin sekali melihat penampilan mereka di acara itu tanpaku, "Aku ingin menonton acara itu sekarang."

"Baiklah, tuan putri," jawabnya sambil berlutut dan menunduk, seolah memberikan penghormatan padaku, kemudian mengambil sebuah remote televisi dan menekan salah satu tombol disana. Televisi itupun menyala.

Untungnya, kami tidak perlu mencari channel televisi yang menayangkan acara itu terlebih dahulu, karena channel itulah yang terlihat pertama kali saat televisi itu menyala.

Aku memperhatikan wajah keempat sahabatku disana, dan menyadari bahwa mereka terlihat sedih. Mungkin karena mereka masih memikirkanku. Mereka pasti masih berpikir kalau aku masih belum sadarkan diri.

'Mereka harus tahu kalau aku sudah sadar sekarang…'

Saat itulah, ide cemerlang itu muncul dari pikiranku. Aku akan memberikan kejutan untuk mereka melalui acara itu!

Tanpa berpikir panjang, aku menekan beberapa tombol di ponselku, mencoba menghubungi stasiun TV tempat acara musik itu berlangsung.

"Halo? Stasiun TV ABC? Iya, saya Harukaze Doremi, personil MAHO-Do yang satu lagi…"

Tetsuya menoleh kearahku saat aku masih sibuk berbicara melalui telepon, "Anou… mungkin untuk tampil disana, saya masih belum bisa. Kondisi saya masih belum pulih benar. Saya hanya ingin memberikan kejutan untuk teman-teman saya, para personil MAHO-Do lainnya. Mereka disana kan? Iya, bilang saja, salah seorang penggemar mereka menelepon…"

Kebetulan, seseorang yang menjawab teleponku adalah seorang kru dari acara musik tersebut. Akhirnya kami membicarakan tentang cara yang bagus untuk memberikan kejutan kepada para sahabatku.

"Baik, jadi nanti saya akan ditelepon lagi, dan saya harus berpura-pura menjadi penggemar kami, lalu…" kami terus membicarakan ide kami, "Baiklah, saya mengerti. Saya akan menunggu. Terima kasih."

"Heh? Jadi kau berencana untuk memberikan kejutan kepada mereka dengan cara… mengabarkan kepada mereka kalau sekarang kau sudah sadar?" tanya Tetsuya setelah aku menutup ponsel flip merah muda milikku.

"Itu benar, Tetsuya. Habisnya… aku tidak ingin melihat mereka sedih begitu," jawabku sambil menunjuk kearah layar televisi yang memperlihatkan wajah-wajah sedih teman-temanku, "Aku ingin mereka tersenyum lagi, dan kurasa, satu-satunya cara untuk mewujudkannya hanyalah dengan memberitahukan soal keadaanku sekarang."

"Kau ini, selalu saja…" Tetsuya menggelengkan kepalanya dan tersenyum sambil mengacak-acak rambutku, "Aku bangga padamu."

"Ah, Tetsuya, bisa saja kau berkata begitu," sahutku sambil menggaruk kepalaku – bukan karena gatal, tapi kemudian aku menyadari satu hal… rambutku tergerai begitu saja, bahkan sekarang bertambah panjang. Tinggal sepuluh centimeter lagi, maka panjang rambutku akan sama dengan panjang rambutku sebelum aku memotongnya dulu.

Tapi kalau begitu, dimana ikat rambutku?

Sebelum aku sempat menanyakan hal itu kepada Tetsuya, tiba-tiba ponselku berdering. Sudah waktunya memberikan kejutan.

'Soal ikat rambutku, biar nanti saja kutanyakan padanya…'

Normal POV

Seorang kru acara musik mendatangi sang presenter acara musik tersebut dan membisikkan sesuatu, saat ia sedang mengajak Hazuki, Aiko, Onpu dan Momoko berbicara. Ia kemudian meminta izin kepada mereka untuk berbicara dengan kru tersebut dibalik panggung – acara tersebut disiarkan secara outdoor, tepatnya di depan gedung studio televisi tersebut.

Sang presenter lalu kembali keatas panggung dan berkata kepada mereka berempat, "Oke, tadi saya diberitahu, katanya ada seorang fans dari kalian yang sengaja menelepon kesini hanya untuk berbicara dengan kalian secara langsung."

"…?" keempat personil MAHO-Do yang dimaksud kebingungan mendengar perkataan sang presenter.

"Oke, mungkin sekarang kita coba tunggu telepon dari fans itu lagi, soalnya tadi sambungan teleponnya sempat terputus, tapi katanya sih, dia mau telepon lagi."

Tak lama kemudian, terdengar suara dering telepon berbunyi.

"Oh, mungkin ini dia orangnya," ujar sang presenter yang lalu memberikan aba-aba kepada kru yang lainnya untuk mengaktifkan loudspeaker dari telepon milik studio televisi, "Moshi moshi?"

"Halo," sahut sang penelepon dengan suara yang seperti dibuat-buat. Aiko bahkan sampai mengernyitkan dahinya saat mendengar suara tersebut.

"Ini… katanya salah satu fans MAHO-Do ya? Kalau boleh tahu, namanya siapa nih?" tanya sang presenter.

"Ah, nama saya Donna. Saya ini fans beratnya MAHO-Do lho…"

"Wah, ternyata bukan sekedar fans biasa ya? Anda ini fans beratnya MAHO-Do ya?"

"Iya. Saya suka sekali sama semua personil MAHO-Do, tapi sayangnya, sekarang disana nggak ada Doremi ya?"

"Iya, Donna. Doreminya lagi sakit soalnya…"

"Wah, sayang ya? Padahal saya paling suka sama dia lho…"

"Ah, maaf ya, Donna. Doremi tidak ada hari ini," ujar sang presenter meminta maaf, "Mungkin Donna mau menghadiahkan sesuatu? Atau bagaimana?"

"Ngg… saya mau menyanyikan lagunya Doremi saja deh, yang 'Merry-Go-Round'. Kebetulan, saya datang ke pusat perbelanjaan waktu MAHO-Do ada konser mini disana."

Aiko terlihat agak curiga, sementara Hazuki, Onpu dan Momoko semakin terlihat kebingungan.

"Oke, mungkin Donna sudah bisa mulai bernyanyi sekarang," saran sang presenter.

"Saya mulai ya, di bagian reff," sahut sang penelepon yang tiba-tiba berdehem lalu bernyanyi dengan suara yang berbeda, "Mawaru yo mawaru Merry-Go-Round. Te wo tsunaide kurukuru mawaru…"

Saat sang penelepon mulai bernyanyi, Hazuki, Onpu dan Momoko terlihat sangat terkejut, sementara Aiko hanya menyilangkan kedua lengannya sambil menggelengkan kepala dan tersenyum, seolah-olah sudah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

"Kenapa semuanya terlihat kaget waktu saya menyanyi? Memangnya ada yang salah dengan suara saya?" tanya sang penelepon setelah ia selesai menyanyi.

"Ya, bagaimana ya…" sahut sang presenter sambil melirik kesana-kemari, "Habisnya suara kamu mirip-mirip…"

"Ah, sudahlah… bongkar saja semuanya, Doremi-chan…" potong Aiko sambil tersenyum usil, "Ngomong-ngomong, terima kasih atas kejutannya ya? Akhirnya, kau sadar juga hari ini…"

Si penelepon hanya tertawa lalu menyahut dengan suara aslinya, "Ternyata kau sudah menduganya duluan ya, Ai-chan."

"Doremi-chan!" seru Hazuki, Onpu dan Momoko, "Kau sudah sadar? !"

"Surprise!" seru sang penelepon yang ternyata adalah Doremi, "Kalian benar. Aku baru saja sadar pagi ini."

Mereka lalu asyik berbincang-bincang lewat telepon…

"Kelihatannya, suasana disini jadi lebih ceria ya, sekarang…" komentar sang presenter, "Doremi, seharusnya kamu datang langsung kesini."

"Sebenarnya, saya mau juga sih, datang kesana," jawab Doremi, "Sayangnya sih, keadaannya belum memungkinkan. Mungkin karena sudah terlalu lama koma, jadi… kondisi saya masih agak lemah, jadi masih belum bisa ke stasiun TV."

"Oh…"

"Anou, boleh saya meminta sesuatu dari sahabat-sahabat saya?" tanya Doremi.

"Tentu saja boleh, Doremi-chan. Kau kan pemimpin kami, na?" sahut Aiko yang kemudian disusul dengan anggukan kepala dari Hazuki, Onpu dan Momoko, "Jadi, apa yang ingin kauminta?"

"Ehm, setelah ini… kalian bisa ke Rumah Sakit kan? Pokoknya kalian harus datang ya? Tepat setelah acara ini selesai. Kalau setelah ini kalian masih punya jadwal kerja, lebih baik dibatalkan saja ya?" pinta Doremi, "Aku sangat merindukan kalian."

"Kau tenang saja, Doremi-chan. Setelah ini, kita tidak punya jadwal lagi kok. Kami bisa datang kesana, sepulangnya dari sini," sahut Onpu, "Kami juga merindukanmu, Doremi-chan."

.

Beberapa lama kemudian, di Rumah Sakit…

"Jadi, kau memutuskan untuk menelepon stasiun TV saat kau melihat kami…"

"Iya, kau benar, Hazuki-chan," potong Doremi, "Aku tidak ingin melihat kalian bersedih, jadi aku memutuskan untuk menelepon ke stasiun TV dan memberikan kejutan untuk kalian."

"Pantas saja," Aiko menghela napas, "Jujur saja, Doremi-chan, aku sudah mulai curiga kalau Donna itu kau, sejak pertama kali kau bicara sebagai dia," lanjutnya sambil cekikikan.

"Kurasa aku bisa melihatnya dari wajahmu, Ai-chan," balas Doremi, "Sejak aku berkata 'halo' saja, kelihatannya ekspresi wajahmu sudah memperlihatkan kalau kau mencurigaiku."

"Tentu saja. Meskipun kau menyamarkan suaramu, aku tidak akan bisa terkecoh. Tipe suaramu itu terlalu khas," tambah Aiko yang kemudian menoleh kearah tiga sahabatnya yang lain, "Justru aku merasa bingung, kenapa Hazuki-chan, Onpu-chan dan Momo-chan sampai bisa terkecoh…"

"Ah, sebenarnya aku merasa pernah mendengar suara Donna sih, tapi aku lupa kalau itu suaramu, Doremi-chan," Hazuki mengutarakan alasannya.

"Atashi mo, Doremi-chan," sahut Onpu.

"Me too," ujar Momoko.

"Mou, san-nin-tomo wa zurui!" protes Doremi, "Hanya dalam waktu sebulan saja, kalian sudah lupa dengan suaraku…" ratapnya.

"Sudahlah, Doremi-chan. Yang penting kan, kau telah berhasil memberikan kejutan itu kepada kami," hibur Aiko, "Kami senang melihatmu sudah sadar lagi."

"Baiklah. Aku akan memaafkan kalian," sahut Doremi sambil tersenyum, "Sekarang sih, sebenarnya ada satu hal yang membuatku bingung…"

"Hal apa itu, Doremi-chan?" tanya Hazuki, "Mungkin kami bisa membantumu."

"Anou, apa kalian tahu dimana ikat rambutku?" tanya Doremi, "Tadi, aku sudah menanyakannya kepada Tetsuya, setelah aku menelepon kalian di acara musik, tapi katanya, dia tidak tahu. Dia justru melihat rambutku sudah tergerai saat ia datang kemari untuk menginap disini, dihari Senin."

"Hmm… ikat rambutmu ya…" Aiko berpikir, "Kalau soal itu, kami juga tidak tahu, Doremi-chan. Kami juga tidak tahu kapan ikat rambutmu dilepas, dan juga, siapa yang melepasnya. Kami benar-benar tidak tahu."

"Tapi kelihatannya sih, ikat rambutmu dilepas sekitar Minggu malam atau Senin pagi, atau mungkin… Senin siang," duga Onpu, "Soalnya, saat kami pulang dari sini hari Minggu, kami masih melihat rambutmu yang terikat, tapi saat kami datang lagi Senin sore, kami lihat rambutmu sudah tergerai."

"Ah, sou ka…" Momoko mengiyakan perkataan Onpu, "Aku juga memperhatikan hal itu…"

"Berarti, kalian juga tidak tahu ya?" Doremi menghela napas, "Kupikir kalian mengetahuinya…"

"Ah, Doremi-chan, sekarang rambutmu jadi tambah panjang!" seru Momoko, "Bahkan, panjangnya sudah hampir sepanjang rambutmu yang dulu."

"Justru itu, makanya sekarang aku mencari ikat rambutku. Kalau ikat rambut itu hilang, bagaimana caranya aku mengikat rambutku?"

"Kenapa kau harus mengikat rambutmu? Walaupun rambutmu bertambah panjang, toh panjangnya juga masih belum sepanjang rambutmu yang dulu. Hanya… hampir mencapai panjang rambutmu yang dulu."

"Tetap saja, Momo-chan. Kalau panjang rambutku sudah di bawah bahu begini, aku merasa kegerahan…"

"Ah, tapi kurasa, kau terlihat lebih cantik seperti ini, Doremi-chan," ujar Onpu, memberikan pendapatnya, "Tinggal ditambah dengan sedikit aksesoris rambut, dan penampilanmu akan semakin terlihat sempurna."

"Menurutmu begitu, Onpu-chan?" tanya Doremi. Onpu mengangguk.

"Aku juga berpikir begitu, Doremi-chan," ujar Hazuki.

"Atashi mo ya!" seru Aiko.

"I agree with you all," sahut Momoko, "You're looked so pretty, Doremi-chan!"

"Eh? Sou ka na?" ujar Doremi, tidak yakin.

"Sou sou," sahut keempat personil MAHO-Do lainnya secara bersamaan.

Doremi menghela napas lagi, "Terserah kalianlah."

Kotake lalu memandang kearah jam dinding dan berkata kepada Doremi, "Ah, Doremi, sekarang waktunya kau terapi."

"Eh? Terapi?" tanya Doremi tidak mengerti, "Memangnya aku harus ikut terapi apa, Tetsuya?"

"Kau lupa ya? Tadi kan, sebelum semua sahabatmu kemari, dokter memberitahu kita supaya kau mulai ikut terapi berjalan hari ini," jawab Kotake, "Memangnya, kau tidak ingin cepat-cepat bisa berjalan?"

"Ah, tentu saja aku ingin bisa berjalan lagi," sahut Doremi cepat, "Aku ingin otot-otot kakiku kuat lagi."

"Sou ka. Kau kan sudah selama ini tidak sadarkan diri," pikir Hazuki, "Tak heran kalau tadi kaubilang… kondisimu masih lemah."

"Yah, tadinya bahkan, aku sempat terbata-bata dalam berbicara, tapi untungnya, hal itu tidak bertahan lama. Aku sudah bisa berbicara dengan normal. Sekarang… masalahku hanya kakiku."

"Yossha! Kalau begitu, kami juga akan menemanimu terapi!" seru Aiko memberikan keputusan, "Saa, minna, ayo kita ke tempat terapinya!"

"Un!" seru yang lainnya sambil mengangguk.

Kotake lalu membantu Doremi menaiki kursi rodanya, kemudian mereka, juga para personil MAHO-Do lainnya bergegas menuju ke ruang terapi.

.

"Ah, aku masih belum bisa melakukannya dengan benar," keluh Doremi saat ia dan yang lainnya kembali dari ruang terapi, "Aku belum bisa berjalan tanpa berpegangan."

"Ayolah, Doremi-chan, kau jangan menyerah," sahut Aiko, memberi semangat, "Kalau kau berusaha dengan giat, kau pasti bisa berjalan dengan normal lagi nantinya. Otot kakimu hanya belum terbiasa digerakkan lagi saja, makanya kau sedikit merasa kesulitan saat menggunakannya untuk berjalan lagi."

"Kupikir juga begitu," Hazuki sependapat dengan Aiko, "Suatu hari nanti, kau pasti bisa berjalan dengan normal lagi, dan bisa bergabung dengan kami lagi, sebagai leader MAHO-Do."

"Doremi-chan, fighto!" seru Onpu dan Momoko.

"Kurasa mereka benar," Kotake juga mengutarakan pendapatnya, "Kalau perlu, aku juga akan terus menemanimu saat kau ikut terapi, supaya kau terus bersemangat mengikutinya."

"Minna…" kedua manik magenta Doremi berbinar-binar setelah ia mendengar perkataan orang-orang terdekatnya itu, "Baiklah, mulai besok, aku akan mengikuti terapi dengan penuh semangat!"

Ia lalu menambahkan, "Arigatou, minna. Aku janji, begitu aku sembuh dan bisa berjalan dengan normal lagi, aku akan bergabung dengan kalian lagi di MAHO-Do. Kalau perlu, aku akan menyusul kalian kalau pada saat itu, kalian sedang bekerja."

"Itu namanya semangat seorang pemimpin!" seru Aiko, "Kami tahu, kau pasti akan mengatakan hal itu, dan juga, kau pasti akan bisa mewujudkannya."

Seharian itu mereka mengobrol didalam ruang rawat baru Doremi, sampai pada akhirnya malam datang. Tak lupa saat itu, Doremi menelepon keluarganya yang ternyata sedang berada di Tokyo.

"Mou, ternyata keluargaku menghadiri acara family gathering di Tokyo. Pantas saja mereka tidak datang kemari," Doremi kembali menghela napas, "Mereka baru bisa pulang Selasa pagi."

"Yang penting kan, sekarang mereka sudah tahu kalau kau sudah sadar," ujar Hazuki, "Poppu-chan pasti senang sekali sekarang."

"Ya… bahkan tadi sebenarnya, Poppu masih ingin berbicara denganku lebih lama lagi, kalau saja aku tidak mengingatkannya kalau kami sudah bicara selama dua jam," sahut Doremi sambil menaruh ponsel merah mudanya diatas meja disebelah tempat tidurnya, "Setidaknya, dari percakapanku dengannya tadi, aku sekarang mengetahui kalau yang mengambil ikat rambutku adalah Poppu."

Gadis bersurai merah itu lalu menyadari, bahwa beberapa menit lagi, jam besuk Rumah Sakit akan segera berakhir. Ia bertanya, "Ngomong-ngomong, sebentar lagi… jam besuk Rumah Sakit akan berakhir. Apa kalian akan tetap disini? Bukankah kalian harus pulang?"

"Ah, benar juga…" Aiko menghela napas, "Waktu berjalan cepat sekali ya…"

"Baiklah, kami akan pulang sekarang," sahut Onpu sambil bangkit berdiri dari sofa tempat ia duduk, "Ikou, minna."

"Onpu-chan…" panggil Hazuki dan Momoko sambil memandang Onpu, sedikit protes dengan apa yang dikatakan oleh gadis bersurai ungu itu.

"Daijoubu yo, minna. Besok pagi kan, kita masih bisa kemari," Onpu lalu berpamitan kepada Doremi dan Kotake, "Jaa, Doremi-chan, Kotake-kun, kami pulang dulu ya?"

"Un! Mata ashita ne?" balas Doremi.

Kotake's POV

"Tetsuya, kau tidak ikut pulang bersama mereka?" tanya Doremi setelah keempat sahabatnya keluar dari kamar itu, "Sekarang, kau tidak perlu lagi menginap disini."

"Siapa bilang? Aku akan tetap menginap disini," jawabku, sedikit keras kepala, "Aku masih takut kalau-kalau si Batu itu menghampirimu kesini dan menyerangmu lagi."

"Dia tidak akan menyerangku lagi," sahutnya bersikeras, "Kalaupun dia datang, aku akan memanggil security Rumah Sakit. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Tetsuya."

"Oh, tidak, tuan putri. Aku akan tetap menjagamu disini, sampai kau boleh pulang dari sini," kataku, tidak mau kalah, "Aku tidak mau dan tidak akan pernah mau pulang dari sini kalau kau masih harus disini."

"Kau benar-benar keras kepala, Tetsuya," Doremi menghela napas, "Terserah kau sajalah."

"Itu sudah pasti, karena ini berhubungan dengan keselamatanmu," aku lalu mengambil sesuatu dari dalam tas besarku, "Baiklah, sekarang… aku ingin memberikan sebuah kejutan untukmu. Jujur saja, kejutan ini sudah kubeli sejak hari pengambilan rapor."

"Benarkah? Aku jadi penasaran," sahut Doremi, "Jadi, kejutan apa yang ingin kauberikan untukku?"

"Ini," aku menyodorkan sesuatu yang kuambil dari dalam tasku, sebuah kotak putih kecil berpita merah muda, "Kuharap kau menyukainya."

"Hmm… isinya apa ya?" Doremi menerima kotak pemberianku, membukanya dan mengeluarkan isinya. Sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk hati yang ditengahnya dihiasi oleh berlian berwarna merah muda. Ia lalu berkata, "Kalung ini… cantik sekali…"

"Aku senang kalau kau menyukainya," sahutku sambil tersenyum, "Aku membelinya khusus untukmu."

"Tapi, bagaimana bisa kau membelinya? Kurasa… kalung ini kelihatannya mahal…"

"Ya, aku membelinya dengan menggunakan uangku sendiri. Sebenarnya… sudah lama sekali aku mengumpulkan uang untuk membeli kalung itu untukmu," jawabku, "Sini, biar aku memakaikannya padamu."

Setelah aku memakaikan kalung itu di lehernya, Doremi berkata, "Arigatou, Tetsuya. Aku benar-benar tidak menyangka kalau kau… bisa memberikan kejutan sebagus ini."

"Selama itu untukmu, aku tidak akan pernah memberikan yang tidak bagus. Aku pasti akan memberikan yang terbaik untukmu."

"Tetsuya," ia memelukku, "Aku benar-benar beruntung memiliki tunangan sepertimu."

"Aku juga merasa beruntung bertunangan denganmu."

Selama beberapa saat, aku membiarkannya memelukku, sampai akhirnya aku melepaskan diri dan berkata, "Baiklah, sekarang sudah malam. Sudah waktunya kita tidur."

Tanpa diduga, ia menciumku. Kami berciuman di Rumah Sakit lagi…

Dan aku menyukainya.

Onpu's POV

"Onpu-chan, kenapa sekarang kau malah menyuruh kami menginap di rumahmu?" tanya Hazuki saat dia, aku, juga Aiko dan Momoko sampai di rumahku, "Memangnya ada sesuatu yang penting? Ada perubahan jadwal kegiatan?"

"Bukan itu," jawabku, "Aku ingin kalian menginap disini hari ini, karena kupikir, kita harus mempersiapkan sebuah kejutan untuk Doremi-chan."

"Kejutan untuk Doremi-chan? Ah, aku tahu. Pasti untuk membalas kejutan yang dia berikan saat di acara musik tadi siang kan?" tebak Aiko, "Memangnya, kau sudah punya ide tentang kejutan apa yang akan kita berikan untuknya?"

"Tentu saja," sahutku, "Kalian ingat kan, kita pernah memberikan sebuah bando kepada Shiori-chan saat ia masuk ke Rumah Sakit dulu?"

"Hey, of course I remember it, Onpu-chan," jawab Momoko, "Jadi, Onpu-chan, kau punya ide supaya kita memberikan sebuah bando untuk Doremi-chan?"

"Pinpon!" seruku, "Kau benar, Momo-chan. Kita harus membuat bando yang bagus untuk Doremi-chan, yang akan kita berikan besok pagi."

"Tapi, apa Doremi-chan akan menerima bando pemberian kita?" tanya Hazuki, tidak yakin, "Tadi saja, dia hanya bertanya tentang ikat rambutnya. Bahkan, dia berniat untuk memintanya dari Poppu-chan begitu mereka bertemu nanti."

"Dia pasti akan menerimanya, Hazuki-chan. Apalagi, bando itu pemberian dari kita, sahabatnya sendiri, dan… kita juga membuatnya sendiri. Aku yakin Doremi-chan akan menerimanya dengan senang hati, dan kalau bisa, kita bujuk dia supaya memakai bando itu terus dan berhenti mengikat rambutnya," ujarku sambil mengeluarkan beberapa buah benda yang bisa kami pakai untuk membuat bando untuk Doremi, "Sederhana saja. Kita hanya perlu bando tipis ini, juga pita merah muda ini, dan… hiasan not balok berwarna kuning ini!"

"Eh? Darimana kau mendapatkan ini semua, Onpu-chan?" tanya Aiko.

"Dari kru penyedia properti yang kutemui saat aku bekerja sendiri, kecuali bandonya," jelasku, "Khusus untuk bando ini, aku baru membelinya beberapa bulan yang lalu, tapi belum sempat kupakai."

"Apa tidak apa-apa kalau kita membuat bando untuk Doremi-chan dari bandomu ini?" tanya Momoko.

"Ah, daijoubu yo, Momo-chan. Lagipula, akan lebih manis kalau Doremi-chan memakai bando ini, dengan sedikit perubahan tentunya."

"Sou yo ne? Dengan begini, ciri khas Doremi-chan tidak akan hilang, walaupun sekarang rambutnya digerai, walau mungkin hanya untuk sementara," simpul Hazuki. Ia mengerti apa maksudku, "Ide yang bagus Onpu-chan."

"Arigatou," sahutku, "Jaa, minna, sebaiknya… kita buat bandonya sekarang saja. Ayo kita mulai!"

"Un!" mereka mengangguk. Kami lalu membuat bando itu.

.

Keesokan paginya…

Aku, Hazuki, Aiko dan Momoko kembali menjenguk Doremi di Rumah Sakit. Tadinya, kami berpikir akan memergoki Doremi dan Kotake tidur bersama, tapi tentu saja, kami tidak akan mungkin pernah memergoki mereka dalam keadaan seperti itu, karena mereka tidak akan mungkin pernah berpikir untuk melakukannya, kecuali kalau mereka sudah menikah suatu saat nanti.

Saat kami sampai di Rumah Sakit, di sebuah ruangan tempat mereka berada, mereka masih tertidur pulas. Doremi tidur diatas tempat tidurnya, sementara Kotake tidur diatas sebuah sofa didalam ruangan itu.

Pelan-pelan, kami membangunkan mereka, lalu memberikan bando buatan kami kepada Doremi.

"Eh? Bando ini untukku?" tanyanya saat ia menerima bando itu dariku, "Dan kalian yang membuatnya sendiri?"

"Ya… sebenarnya sih, bando ini tidak benar-benar kami buat sendiri. Kami membuatnya dari sebuah bando polos yang kami hias sendiri," jawabku, "Sama saja seperti bando yang kita berikan untuk Shiori-chan dulu."

"Ah, aku ingat bando itu!" serunya, "Arigatou, minna. Kalian sudah membuatkannya untukku. Bando ini mirip sekali dengan ikat rambutku yang dibawa pergi Poppu."

"Kami sengaja membuatnya supaya kau tidak terlalu sedih karena Poppu-chan membawa ikat rambutmu," jelasku, "Jaa, Doremi-chan, sekarang kau coba pakai bando ini ya?"

"Baiklah," Doremi kemudian mencoba memakai bando itu, dan tentu saja, bando itu cocok sekali untuknya.

Doremi's POV

"Wah, kau cantik sekali memakai bando itu, Doremi-chan," puji Onpu, "Kau terlihat sangat cantik."

"Semua ini berkat kalian. Jujur saja, menurutku bando ini bagus sekali," sahutku, "Sekali lagi, terima kasih ya? Kalian benar-benar sahabat terbaik yang pernah kumiliki."

"Kami juga menganggapmu sebagai sahabat terbaik yang pernah kami miliki," ujar Momoko, "We all are best friends forever. Kau akan selalu jadi sahabat terbaik yang pernah kami miliki."

Tak lama setelah ia mengatakannya, seorang perawat memasuki ruangan itu sambil membawakan seporsi makanan untukku. Mulai hari ini, aku memang sudah boleh makan, karena infus yang sebelumnya menempel di punggung tangan kiriku sudah dilepas kemarin sore.

"Ah, waktunya sarapan!" seruku saat perawat itu pergi meninggalkan ruangan untuk membagi-bagikan sarapan untuk pasien lainnya, "Ngg… sebelum kalian datang kemari, apa kalian sudah sarapan?"

"Tentu saja, kami sudah sarapan, Doremi-chan," jawab Hazuki, "Sekarang, waktumu untuk sarapan,"

"Baiklah," aku lalu menyambar sendok yang tersedia disana, "Itadakimasu!"

Tetsuya meminta izin untuk ke kantin sebentar untuk membeli sarapannya. Selama beberapa menit ia meninggalkan ruanganku, sampai akhirnya ia kembali dengan membawa sebungkus sandwich dan segelas kecil susu hangat.

Setelah kami menghabiskan sarapan masing-masing, dengan ditemani oleh para sahabatku, aku lalu bertanya kepada Tetsuya, "Menurutmu, apa jadwal terapi berjalanku bisa dipercepat? Rasanya, aku ingin sekali ikut terapi sekarang juga."

"Boleh saja kok," jawab Tetsuya, "Jadwal terapi itu fleksibel kok. Kau bisa mengaturnya sendiri sesukamu."

"Baguslah. Aku benar-benar ingin belajar berjalan lagi sekarang," ujarku sambil menggeserkan badan ke tepi tempat tidur, "Tetsuya, bantu aku naik ke kursi roda, dan katakan kepada dokter yang memeriksaku, kalau aku ingin ikut terapi sekarang juga."

"Wah, itu namanya semangat!" seru Aiko saat Tetsuya menolongku menaiki kursi roda, "Kami juga akan ikut bersama dengan kalian."

"Ya, saat aku melihat kalian sudah berada disini pagi-pagi begini, aku jadi bersemangat untuk ikut terapi. Aku ingin tampil bersama kalian lagi, sebagai MAHO-Do," sahutku, "Sore jaa, minna, ayo kita ke ruang terapi!"

.

Keesokan harinya…

Pagi ini, Hazuki, Aiko, Onpu dan Momoko memang tidak menjengukku, karena mereka harus menghadiri acara talk show lagi, di stasiun TV yang sama dengan stasiun TV yang menayangkan acara talk show sore hari yang seharusnya bisa kuhadiri sebulan yang lalu – kalau Rocky tidak menembakku, tapi tetap saja, seperti kemarin, aku bertekad untuk mengikuti terapi sejak pagi hari, setelah sarapan, karena aku sangat ingin bisa berjalan dengan normal lagi.

Dan hari ini, kegigihanku berbuah manis. Aku bahkan dapat berlari saat itu juga. Tenagaku sudah benar-benar pulih!

Dokter yang merawatku bahkan berkata bahwa hari ini, aku sudah bisa pulang, karena itulah, hari ini aku senang sekali. Belum lagi, libur musim panas masih tersisa lima hari lagi, dan semua PR musim panasku telah selesai! Hore!

Entah kenapa, kali ini aku jadi begitu rajin mengerjakan PR musim panas, padahal, biasanya tidak seperti ini… XP

Yah, walaupun hanya lima hari, setidaknya aku dapat menikmati libur musim panas…

Tapi, tunggu dulu! Jangan-jangan… MAHO-Do punya jadwal kegiatan di lima hari terakhir itu…

Ah, baiklah. Setidaknya aku sadar kalau sekarang, aku sudah akan ikut tampil bersama yang lainnya lagi, dan bicara soal itu…

"Tetsuya, bagaimana kalau sekarang, kita menyusul personil MAHO-Do lainnya di stasiun TV? Aku ingin memberikan kejutan lagi untuk mereka," ujarku saat aku dan Tetsuya menaiki sebuah taksi, "Kita kesana dulu, baru setelah itu, kau membawaku pulang ke rumahku."

"Memangnya, kau tidak bosan memberikan kejutan kepada mereka terus?" tanya Tetsuya, "Kau ini terlalu baik, Doremi."

"Tidak juga. Lagipula, aku sudah berjanji kepada mereka, kalau aku akan bergabung dengan mereka lagi di MAHO-Do, saat aku sudah bisa berjalan normal, dan kalau perlu, aku akan menyusul mereka, kalau mereka sedang bekerja saat aku sudah sembuh total begini," jawabku.

"Kau ini…" Tetsuya menggelengkan kepalanya, "Baiklah, kita ke stasiun TV."

Sesampainya kami di stasiun TV, aku lalu menyelinap masuk menuju ke studio tempat mereka syuting. Lagi-lagi aku bekerjasama dengan kru disana untuk mengejutkan mereka. Saat presenter acara talk show itu menyuruh mereka melakukan 'seruan bersahut' khas MAHO-Do, diam-diam aku menyahut seruan mereka.

Biasanya, saat aku masih berada di Rumah Sakit, mereka sepakat melakukan seruan bersahut itu dengan menyerukan inisial nama masing-masing, dan menyerukan 'Do!' – yang biasanya menjadi bagianku – bersama-sama sebelum mereka menyerukan kata 'MAHO-Do!'.

Tapi mulai hari ini, semuanya akan kembali seperti sediakala, karena aku sudah kembali.

Dan sekarang, aku sudah tidak takut dengan ancaman Rocky, karena ada banyak orang disekitarku yang akan menolongku, juga yang lainnya, untuk menghadapinya. Senekat apapun dirinya, kami sudah siap menghadapi dia, walau harus mempertaruhkan nyawa sekalipun…


Catatan Author: Akhirnya, bisa bikin chapter yang lebih panjang lagi… senangnya…

Chapter selanjutnya akan menceritakan tentang… apa ya? Pokoknya pantengin fic ini terus ya? ^^