Untuk pertama kalinya aku bicara dengan orang itu. Dari caranya bicara saja aku sudah bisa mengerti bahwa dia adalah sosok yang bersahaja dan di hormati. Aku masih belum percaya akan kenyataan ini, tapi dalam waktu kurang dari sepuluh menit saat bicara dengannya sore tadi. Sedikit membuatku percaya lebih banyak bahwa dia memang ayah kandungku. Kau tahu kenapa ?, kerena... Saat bicara dengannya tadi, aku melihat diriku ada padanya.
.
They are my true love
.
.
Chapter 10
.
"Kau harus memakai ini, Mocchi memberiku ini agar tetap merasa hangat" Sungmin memberikan syal merah tua yang di pakainya lalu mengalungkannya di leher Kyuhyun.
"lalu kau memakai apa, bukankah cuaca sangat dingin. Tidak usah saja, aku tidak mau kau sakit" Kyuhyun perlahan hendak melepas syal merah yang di lehernya namun tangannya di tahan oleh Sungmin
"menolak kebaikan orang itu tidak baik, arachi ?, lagipula Minnie punya banyak di rumah, meskipun itu syal kesayangan Minnie tapi tidak apa-apa..." jelas Sungmin kemudian tersenyum sambil sesekali merapatkan mentelnya
"Minnie-ah... Kalungmu..." Kyuhyun berucap lirih saat melihat sesuatu yang mengkilat di leher Sungmin, kalung milik Sungmin. Sudah pasti dia mengenal kalung itu, benda itu semakin membuatnya yakin bahwa sosok yang bersamanya kini adalah benar-benar Lee Sungmin, Lee Sungmin-nya.
"Ne? Kalung ? Ini...Minnie lupa siapa yang memberikannya pada Minnie...kalungnya cantikkan ?"
"Ne, tentu saja...cantik, cantik sepertimu..." ujar Kyuhyun lalu tersenyum, entah senyum bahagia atau apa. Yang pasti yang ia rasakan saat ini antara sedih dan bahagia. Sudah pasti bahagianya karena bisa bertemu dengan Sungmin kembali, akan tetapi rasa sedih besar mendera hatinya. Sungmin tak bisa mengingatnya dan sepanjang hari ini menganggapnya seperti seorang teman baru.
.
Mobil Kyuhyun berhenti di depan rumah keluarga Lee. Kyuhyun dan Sungmin masih di dalam mobil.
"Kau senang hari ini...?" tanya Kyuhyun pada Lee Sungmin yang duduk di sampingnya
"Tentu saja!" jawab Sungmin tersenyum manis, siapa menyangka bahwa wanita cantik ini sudah memiliki putra berusia 18 tahun. Kyuhyun mengusap pelan rambut Sungmin.
"Minnie-ah... Boleh aku memelukmu ?" pinta Kyuhyun hati-hati, membuat Sungmin menoleh kearahnya. Tanpa Sungmin menjawab Kyuhyun dengan perlahan menarik bahu Sungmin kemudian memeluknya erat. Sungmin yang terkejut beberapa saat akhirnya dengan ragu-ragu membalas pelukan Kyuhyun.
"Aku berterima kasih Tuhan, kini dia berada tak jauh dari jangkauanku lagi..." Kyuhyun dapat merasakan air matanya turun melalui sudut kedua matanya yang terpejam saat memeluk Lee Sungmin yang selama ini selalu dirindukannya.
Setelah beberapa menit menumpahkan perasaan, Kyuhyunpun melepaskan pelukannya lalu turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Lee Sungmin.
"Gomawo..." ucap Sungmin turun dari mobil Kyuhyun lalu berjalan menuju pintu pagar rumah
"Sungmin-ah, sampaikan salamku pada Henry..." ujar Kyuhyun dari belakang, membuat Sungmin kembali menoleh kearahnya
"Ne,...hmm...Kyu-Kyuhyun-ssi..." Sungmin bicara terbata-bata memanggil Kyuhyun dengan tangannya kini memegang erat pintu pagar, sepertinya dia gugup
"Ne ?" Kyuhyun melihat tingkah Sungmin yang selalu seperti anak kecil. Dia tahu tingkah ini akan Sungmin lakukan jika ada sesuatu yang ingin dia tanyakan. Sungmin-nya tetap tidak berubah.
"Mocchi bilang, hari ini Minnie akan bertemu appa Mocchi... Apa Kyuhyun-ssi appa-nya Mocchi ?" tanya Sungmin ragu-ragu. Kyuhyun yang mendengar pertanyaan polos Sungmin langsung tegang dan terkejut. Namun detik selanjutnya Kyuhyun tersenyum tipis.
"Kau ingin tahu siapa appanya Mocchi ?" tanya Kyuhyun. Yang di jawab anggukan antusias dari Sungmin
"Bukankah kau eommanya Mocchi, kenapa kau tidak tahu appa nya ?"
"Entahlah, Minnie lupa... Tapi Mocchi juga punya appa kok dirumah" jawab Sungmin
"Siapa ?" tanya Kyuhyun buru-buru membuat Sungmin terkejut
"Donghae...Mocchi punya appa namanya Donghae" jawab Sungmin
"Bukan, dia bukan appanya Mocchi"
Lalu siapa ?"
"Kau akan tahu nanti jika ingatanmu sudah pulih"
"Ne ?"
"Sudah malam, sebaiknya kau tidur. Selamat malam Lee Sungmin..." ucap Kyuhyun lembut kemudian berjalan mendekat lagi kearah Sungmin
Chup~
Di ciumnya dahi putih milik Sungmin dengan lembut dan penuh kasih sayang. Sungmin hanya diam menerima perlakuan Kyuhyun padanya.
Setelah menerima kecupan dari Kyuhyun, Sungmin buru-buru masuk rumah meninggalkan Kyuhyun di depan pagar sendirian
"Aku akan segera membawa kalian bersamaku bersamaku Sungmin-ah...secepatnya" lirih Kyuhyun sendirian dan melanjutkan langkahnya masuk kemobil dan kembali pulang.
.
.
22.00 malam,
Sreeet...Hyuk Jae membuka pintu kamar Henry dengan pelan. Senyum tipis di bibirnya tercipta saat melihat sang putra masih sibuk dengan tumpukan buku di atas meja belajarnya.
"Henry-ah...ini susumu." Hyuk Jae mendekati Henry kemudian meletakkan segelas susu coklat di atas meja nakas di samping tempat tidur Henry.
"Gomawo eomma..." Henry menengok sebentar ke arah eomma angkat nya yang kini duduk di tepi tempat tidur miliknya.
"Hm..." Hyuk Jae memandang lekat ke arah Henry. Entah mengapa ia kini merasa matanya kini mulai memanas.
Banyak hal yang di pikirkannya. Apa putra yang dirawatnya dari bayi hingga sekarang harus berpisah dengannya ? Apakah ini tidak terlalu cepat, rasanya baru kemarin dia mengajari Henry berjalan. Haruskah Henry meninggalkannya ?.
Merasa suasana hening, Henry kembali menoleh ke arah eomma angkatnya. Betapa terkejutnya dia saat mendapati eommanya menangis dalam diam sambil menatapnya.
"Eom-eomma...kenapa menangis ?" Henry berjalan mendekati Hyuk Jae yang hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya saat di tanya.
"Apa yang membuat eomma sedih, ceritakan padaku..." Henry bicara sepelan mungkin. Sungguh, dia tak mengerti kenapa eomma kesayangannya tiba-tiba menangis
"Eommaa..."
Saat Henry menyentuh bahunya, Hyuk Jae langsung memeluk putranya ini. Henry yang sempat terkejut akhirnya mengusap punggung eommanya dan tersenyum tipis
"Kita pindah ke Seoul untuk hidup lebih bahagiakan ?, kau tidak akan meninggalkan eommakan ? Kau tidak akan meninggalkan kami semua kan ?" tanya Hyuk Jae yang masih menangis menatap wajah Henry,
"Eomma bicara apa huh ? Aku tidak akan kemana-mana..."
"Eomma... Eomma hanya takut Hen, entah kenapa...tapi sejak kedatangan appa kandungmu, rasa takut eomma semakin besar. Kau tidak akan meninggalkan eomma kan ?" Henry menanggapi semua kalimat Hyuk Jae dengan senyum tipisnya, dia tahu maksud eommanya. Ia tahu semua itu di karenakan cinta kasih eommanya padanya.
"Eomma...sampai kapanpun eomma tetap eommaku, tetap jadi eomma yang paling ku sayang layaknya Minnie eomma... Jadi eomma jangan khawatir ne, kita akan terus bersama seperti keluarga-keluarga yang lain. Aku mengerti eomma seperti ini karena eomma sangat menyayangiku...hmm...betapa beruntungnya aku memiliki eomma-eomma yang cantik seperti kalian..." jelas Henry berusaha menghibur eommanya, ucapannya membuat Hyuk Jae tersenyum tipis kemudian kembali memeluk putra kesayangannya itu.
"Haah...sudah malam, maaf jika eomma mengganggumu belajar. Eomma harus kembali kekamar... Selamat malam..." kata Hyuk Jae kemudian melepaskan pelukannya lalu mulai beranjak meninggalkan kamar Henry.
"Ne, selamat tidur eomma..."
.
.
Ryeowook baru saja memasuki kediamannya.
"Ahjumma Kim, apa Sehun sudah pulang ?" tanya Ryeowook saat bertemu dengan pekerja rumah tangga rumah mereka,
"Ne, tuan muda Sehun sudah pulang sejak sejam yang lalu." jawab sang maid
"Apa dia dia sudah makan ?" tanya Ryeowook lagi saat melihat menu makan malam di meja makan masih utuh.
"I-ituu...makanannya sudah saya siapkan, tapi tuan muda belum turun juga dari kamarnya..." jawab ahjumma Kim, jawabannya membuat Ryeowook menghela nafas berat.
"Ne, baiklah... Kau siap kan saja makanan untuk Sehun, biar aku yang mengantarnya ke kamar Sehun" perintah Ryeowook lagi,
"Baik nyonya..." jawab ahjumma kim lalu kembali berjalan ke dapur namun kembali berhenti saat Ryeowook kembali memanggilnya
"Ahjumma!"
"Ne, nyonya ?"
"Apa Kyuhyun juga sudah pulang ?"
"Tuan Cho tadi sempat pulang, tapi sejam yang lalu berangkat lagi..."
"lagi-lagi dia tidur di kantor" batin Ryeowook,
"Oh, baiklah...terima kasih ahjumma..." ucap Ryeowook menaiki tangga rumah mewah ini menuju kamar tidurnya.
.
.
"Sehun... Eomma membawa makan malam untukmu." Ryeowook masuk ke kamar putranya
"Ne, eomma..." jawab Sehun masih setia dengan komik di tangannya. Ryeowook berjalan mendekati Sehun setelah meletakan nampan di atas meja belajar putranya.
"Bagaimana kuliahmu hari ini ?" tanya Ryeowook,
"Hm... Sedikit menyenangkan, yeah kurasa..." jawab Sehun seraya mengulum senyumnya. Jawabannya membuat sang eomma memicingkan mata,
"Nuguya ?"
"Ne ?"
"Siapa yeoja yang kau dekati ?" selidik Ryeowook yang sebenarnya sedang menggoda putra kesayangannya ini.
"Ti-tidak ada..." elak Sehun, wajah puteranya memerah. Ryeowool tersenyum melihatnya.
"Isshh... Kau ini, ya sudah kalau tak mau cerita, kau makan saja sebelum makanannya dingin."
"Eomma sudah makan ?" tanya Sehun yang sudah kini sudah beranjak dari tempat tidurnya menuju meja belajarnya hendak makan.
"Hm," gumam eommanya, Ryeowook kini sedang menatap pigura yang ada di pojok meja belajar Sehun. Foto yang di ambil saat hari kelulusan sekolah menengah pertama Sehun di Amerika empat tahun lalu. Ryeowook yang berniat mengambil pigura tadi tiba-tiba terhenti karena pigura itu langsung di sambar putranya terlebih dahulu. Dengan segera pigura tadi di masukannya ke laci mejanya.
"Sehun-ah, kenapa kau-"
"Wae ?" tanya Sehun yang masih menyantap makan malamnya
"Sampai kapan kau akan seperti ini ?" tanya eommanya, Sehun masih diam.
"Aku selesai.." ucap Sehun akhirnya menyudahi makan malamnya,
"Sampai kapan kau akan membenci appa mu ?" tanya Ryeowook yang kini sudah berkaca-kaca, Sehun menoleh ke arah eommanya. Dia menarik nafas panjang
"Sampai kapan eomma akan seperti ini terus ?" kini sang anak yang bertanya pada Ryeowook. Ryeowook kini sudah menangis
"Sampai kapan eomma akan terus menangis karenanya ?"
"Kau tak akan tak pernah mengerti nak,"
"Apa yang tak ku mengerti ?! Jika melihat eomma setiap saat seperti apa lagi yang tak bisa ku mengerti ?" nada bicara Sehun kini meninggi
"Sehun-ah..." nafas Ryeowook kini tercekat. Putranya kini memang sudah dewasa, putranya sangat mengerti keadaannya.
"eomma... Aku tak sanggup jika melihat eomma terus seperti ini..."
"Hanya ini yang bisa eomma lakukan untuk berterima kasih dengan appamu..." jawab Ryeowook, ucapan eommanya membuatnya menautkan alis tak mengerti
"Berterima kasih ?"
.
.
"Eomma mengalami amnesia..."
"Ya... Aku mengetahuinya dari nenekmu..."
"Bisakah...bisakah kau tak memaksa eomma untuk mengingatmu ?"
"ne ?"
"Maaf, maksudku bisakah kau mengerti akan keadaan eomma sekarang..."
"Ya, aku mengerti maksudmu. Jujur, aku sangat terpukul akan kenyataan ini"
"..."
"Aku minta maaf, sungguh minta maaf. Kesalahanku adalah tak pernah mengetahui bahwa kalian..."
"Bukankah kau ingin bicara dengan eomma ?, bisakah kau menjaga eomma untukku. Kurasa aku harus pergi kesuatu tempat."
"Ya, tentu saja... Aku akan menjaganya..."
"Kalau begitu, sampai jumpa nanti..."
"Henry!"
"Ne ?,"
"Kau percaya jika...jika aku adalah ayah kandungmu ?" pertanyaan terakhir tadi tak di jawab oleh Henry.
Percakapan singkatnya tadi masih terbayang jelas. Kyuhyun kini berbaring di sofa panjang di ruang kerjanya di kantor. Dua jam yang lalu, setelah mengantar Sungmin pulang dia sempat pulang kerumahnya sekedar untuk mengambil file-file pentingnya kemudian kembali ke kantor. Sebenarnya perasaan Kyuhyun saat ini sedang kacau, berbagai hal mendera hatinya. Semuanya terasa sesak setelah mengetahui bahwa ibunya sendiri lah yang menjadi dalang atas semua kejadian ini, belum lagi melihat keadaan wanita yang selama ini dia cintai kini mengalami amnesia.
Dan yang pasti lebih mengejutkan adalah sosok Henry, anak kandungnya dan Sungmin. Dan hal itu memang tak pernah lagi terpikirkan olehnya. Yang ada di benaknya hanyalah Sungmin seorang, tak pernah sedetikpun ia lupakan sejak kejadian belasan tahun yang lalu, kejadian yang membuat dia dan Sungmin harus terpisah dengan cara yang tragis. Ia tak menyangka rahasia tuhan akan sedahsyat ini untuknya. Kyuhyun dapat merasakan aliran hangat mengalir dari kedua sudut matanya, ia menangis sendirian.
.
.
.
Pagi ini dalam sebuah rumah mewah, rumah milik keluarga Choi. Keluarga ini sedang menikmati sarapan paginya. Choi Siwon sang kepala keluarga kini sibuk dengan koran paginya sedangkan putra satu-satunya Choi minho sedang sibuk dengan gadget di tangannya.
"Yeobo, beberapa hari yang lalu aku melihat berita jika Cho Kyuhyun kembali dari Amerika" ucap Kibum pada suaminya.
"Ne, dia kembali untuk memimpin perusahaan mereka disini"jawab Siwon yang sebenarnya memang sudah tahu akan berita itu.
"Cho Kyuhyun ?, pemilik kampus kami ?" tanya minho tiba-tiba
"Ya, kenapa memangnya ?" tanya ayahnya
"Tidak ada, hanya saja putranya yang bernama Cho Sehun itu kini pindah ke tempat kami." jawab minho tanpa melepas pandangannya dari handphone hitam miliknya
"Putranya? Kyuhyun memiliki putra ?" tanya Kibum
"Tentu saja karena dia memiliki istri..." jawab minho asal tanpa melihat raut wajah ibunya kini menatap tak percaya,
"Putranya... Semudah itukah dia melupakan Sungminku ? Hebat sekali..." Siwon melirik istrinya yang kini sudah mengeluarkan kalimat pedas
"Sudahlah... Itu sudah terlalu lama,"
"Terlalu lama apa maksudmu ?!" suara Kibum mulai meninggi membuat minho yang duduk berhadapan dengan eommanya kini memandang terkejut
"Kibum-ah, kenapa kau seperti ini lagi ..."
"Kenapa ? Kau masih bertanya kenapa ?! Andai saja dulu aku tak mengikuti ucapanmu untuk menyetujui hubungan mereka, mungkin Sungmin masih bersamaku saat ini"
" Kibum! Sudah berapa kali aku mengingatkanmu untuk jangan mengungkit ini lagi, ini akan membuat rasa sakit mu takkan pernah hilang."
"Wae ?! Kenapa kau harus menyuruhku melupakannya ? Sungmin satu - satunya keluarga yang aku miliki, kau tak akan pernah mengerti perasaanku Choi Siwon!" Kibum langsung beranjak dari kursinya meninggalkan meja makan. Meninggalkan Siwon yang kini memijat pelipisnya dan putranya yang masih menatap bingung.
"Eomma... Kenapa eomma jadi semarah itu appa ?" tanya minho pelan, namun hanya di jawab dengan gelengan kepala oleh Siwon. Minho menghela nafasnya,
"Baiklah, aku berangkat kuliah dulu appa...anyeong" minho yang tak ingin mengetahui lebih banyak lagi akhirnya memutuskan untuk berangkat kuliah saja.
.
.
.
"Henry!" panggil seseorang dari belakang membuat Henry menoleh,
"Luhan ? Ada apa ?" tanya Henry dengan senyum tak seperti biasanya
"Ya! Kalian ini kenapa sih ?. Tidak minho, tidak Sehun dan sekarang kau pun begitu ? Ada apa sebenarnya ?" gadis cantik ini langsung mengomel tak jelas saat sudah berhadapan dengan Henry
"Aku tak mengerti maksudmu ?"
"Tadi pagi aku bertemu minho, dia memasang wajah murung. Begitu juga Sehun, sepanjang pelajarang dia hanya diam dan juga murung. Dan sekarangpun kau juga seperti... Ada apa sebenarnya ?"
"Ternyata kau perhatian juga ya...hahaha"
"Ya! Lee Henry !"
"Mungkin mereka ada masalah pribadi yang tak harus kau ketahui,"
"Lalu kau ?"
"Aku juga, mungkin..."
"Kalian tega sekali padaku, aku kan juga teman kalian" ucap Luhan sedih,
"Dari pada memikirkan yang tidak-tidak, lebih baik kita ke ruang musik sekarang..kajja!" Henry yang tak ingin lebih lama melihat Luhan sedih akhirnya menarik tangan Luhan membawa gadis itu ke ruang musik.
.
.
.
Mereka kini sedang duduk di dalam ruang musik. Tak banyak oran disana.
"Luhan, kau sepertinya mulai dekat dengan Sehun..." ucap Henry pada gadis di hadapannya kini, alis Luhan langsung naik
"Aku ? Aku dan Sehun ?"
"Hm, ada banyak yang bilang begitu..."
"Kau ternyata punya keahlian menggosip juga ya ?" ucap Luhan bercanda
"Hei, aku serius"
"Kalau iya kenapa ?" tantang Luhan sambil tersenyum jahil,
"Eoh?"
"Kalau aku dekatnya memangnya kenapa ? Kau cemburu yaaa..." goda Luhan yang sebenarnya masih bercanda. Tak tahukah dia perasaan Henry sekarang.
"Ya...ya syukurlah akhirnya ada juga yang mau denganmu" jawab Henry salah tingkah, berusaha menekan perasaannya kuat-kuat.
"Ya! Kau mau bilang aku tidak laku hah !?" Luhan tiba-tiba kesal mendengar ucapan namja di depannya ini.
"Bukan begitu pabo!" ujar Henry setelah menyentil dahi Luhan
"Aww... Kau yang pabo!" balas Luhan
"Luhan..." nada bicara Henry kini mulai serius, membuat Luhan yang tadinya cerewet mendadak diam
"Sehun sepertinya anak yang baik, dia cocok untuk menjinakkanmu..." jelas Henry, ucapannya barusan membuat Luhan ingin protes tapi dia mengurungkan niatnya.
"Ku rasa dia juga menyukaimu..."
"Benarkah ?" tanya Luhan dengan berbinar-binar. Pertanyaan Luhan ini semakin membuat Henry yakin kalau Luhan 'hanya' menganggapnya sebagai seorang sahabat. Tidak lebih.
"Y-ya..."
Drrrtt...
Drrrtt...
Handphone Luhan yang di atas meja tiba-tiba bergetar menandakan ada pesan masuk. Di bacanya pesan itu, senyum langsung terkembang di bibir tipisnya
"Sehun ?"
"Hm, hari ini kami akan pergi ke perpustakaan kota"
"Oh, kalau begitu berangkat lah..." ucap Henry dengan anggukan kepala.
"Ne, gomawo Henry-ah... Sampai jumpa nanti...anyeong!" Luhan meraih tasnya dan berjalan meninggalkan Henry sendirian.
Tak berlangsung lama setelah sepeninggal Luhan, minho muncul dari belakang dan menepuk bahu Henry.
"Sepertinya ada yang sedang patah hati..." minho dengan tidak sopannya langsung duduk merangkul bahu sahabatnya ini. Perbuatannya membuat Henry sedikit kesal.
"Bisakah kau datang dengan baik-baik ? Tidak muncul seperti hantu seperti ini ?"
"O'oo.. Kau dalam mood yang buruk sekarang" Henry mendengus kesal mendengar ucapan minho.
"Aku tahu kau sangat mencintai Luhan, jadi aku turut berduka cita"
"Aa! Kau mau ku hajar hah ? Oh, tuhan... Sejak kapan kau memiliki wajah mengesalkan seperti itu Choi minho" cecar Henry pada minho yang hari ini tiba-tiba terasa menyebalkan
"Araseo... Aku sebenarnya juga dalam situasi mood yang buruk" cerita minho lalu menyandarkan punggungnya di kursi
"Jadi kau berniat melampiaskannya padaku, kau mau mati hah ?" Henry yang kesal kini semakin kesal. Dua anak muda yang kini dalam situasi mood yang sama kini saling berbagi tatapan saling menjengkelkan. Beberapa saat kemudian mereka diam,
"Kau kesal kenapa ?" Henry membuka suara untuk bertanya pada sahabatnya ini
"Mereka menyembunyikan sesuatu yang tak ku ketahui..."
"Siapa ?"
"Orang tua ku..."
"Orang tuamu ?"
"Ya, mereka akan bertengkar jika membahas hal itu. Dan menyebut-nyebutkan nama orang yang tak ku kenal, tapi salah satunya nama ayah Sehun" jawab minho ogah-ogahan
"Ayah Sehun ?"
"Ne, Cho Kyuhyun " nama yang di sebutkan sahabatnya membuat Henry terkejut, namun dia masih berusaha memastikan
"Cho Kyuhyun ?"
"Ya, pengusaha kaya yang baru saja kembali dari amerika itu, haiish! Sudahlah! Menjawab pertanyaanmu membuatku pusing" jawab minho yang tak ingin memikirnya lebih dalam lagi, namja Choi itu kini sibuk memainkan sebuah gitar.
Sementara Henry, ia sibuk mencerna perkataan minho barusan. Kepalanya mulai bekerja menghubungkan memori satu dengan memori yang lain,
"kau sama seperti appaku saja, tidak suka sayuran"
"ya, sudahlah jangan bahas orang itu"
"aku membencinya"
"sakit hyung! Isssh, memangnya kenapa kalau aku membencinya dia memang pantas untuk dibenci"
"hm, tapi nama ayahmu siapa hyung ? Mungkin saja aku bisa membantu mencarinya, bukankah tadi kau bilang orang amerika, siapa tahu kalau ayahku mengenalnya"
"lain kali akan kuceritakan alasanku membenci appa"
Potongan-potongan kalimat Sehun itu dengan sendirinya berputar sendirinya di kepala Henry, semuanya membuatnya semakin berpikir keras dan membuatnya pusing. Tak bisa di elak lagi jika dadanya kini bergemuruh.
"Cho Sehun,Cho Kyuhyun...mereka..." lirih Henry tak jelas, dan sedetik kemudian dia beranjak dari tempat duduknya.
"Ya! Henry-ah! Kau mau kemana ?!" teriakan minho memangilnya dari belakang sudah tak di pedulikannya.
.
.
.
Tbc
