Hi, everyone!

Maaf, ya, updatenya lama. Tadi Anne di rumah nenek jadi nggak sempat nyicil ngetik siangnya. Jadi bisanya baru sekarang, deh. Maaf, ya! Anne nggak mau banyak komen untuk chapter ini dulu, deh. Takut! :P

Rie Katsu: Dunia sihir pasti heboh. Gugatan itu langsung kesebar di chapter ini! Ah, aku saranin ambil tisu juga buat chapter ini. Hehehe thanks ya :)

ninismsafitri: huhuhu.. itu part ultah Harry sama James-Al paling nyesek juga waktu ngetiknya. Hemm I love you ayah! :)

alicia keynes: *tisu diterima* aku juga cinta pasangan ini, tapi.. maafkan aku! :(

Dande Liona: buang aja kado Ginny, bener gak sih? Huhuhu.. :(

AMAZING: jangan masukkan aku ke Azkaban, ya, please! *ampun* :)

Quenita Azzahra: lebih enak dikado cabe nggak sih daripada surat cerai. Hehehe.. tunggu kejutanku lagi di chapter ini! ;)

syarazeina: marahin Ginny aja, jangan Anne! :)

NrHikmah20: Baru muncul, nih! hehehe baca chapter ini, ya, dan siap-siap untuk tidak marah padaku! :P

Baiklah, mungkin akan Anne langsungkan saja. Anne siap mengaduk-aduk emosi kalian di sini. Tapi sebelumnya Anne mau bilang dulu, MAAFKAN ANNE, teman-teman!

Happy reading!


Harry membacakan kisah King Arthur pada James dan Al untuk malam ini. Dua anak itu begitu tertarik dengan cerita yang dibawakan Harry hingga kantuk pun tidak kunjung mereka rasakan. Harry terkejut ketika kalimat terakhir di buku dongeng yang sudah ia baca lima kali itu pada kedua putranya kembali tidak mempan membuat tidur James begitu juga Al.

"Kenapa kalian masih belum tidur?" tanya Harry melirik bergantian ke arah James lalu Al di sisi kanan dan kirinya. Mereka sedang berbarik di ranjang Harry.

Al menatap tajam sang ayah kemudian berkata, "King Arthur benar-benar ada?" tanya Al.

"Dia gagah sekali!" James terpukau.

Harry mengelus kepala James dan Al gemas. "Menurut cerita, sih, King Arthur itu ada, Sons. Tapi, banyak sekali cerita yang tersebar di seluruh Inggris bahkan dunia. Dad tidak tahu pasti." Kata Harry menjelaskan.

"Sepertinya King Arthur itu memang hebat, ya, Dad." James masih terus bergumam mengagumi tokoh klasik raja Inggris itu.

Harry memperbaiki selimutnya agar James dan Al kembali memposisikan diri untuk segera tidur. Ia memilih di sisi tepi ranjang bergantian dengan Al. Kali ini posisi berubah menjadi Harry dan James di sisi kanan dan kiri sementara Al di tengah keduanya. Harry membiarkan malam ini ia tidur bersama kedua putranya.

"Daddy juga seperti King Arthur, Daddy sangat hebat. Aku juga—"

"Huh, kamu bercanda, Al. Yang pantas jadi King Arthur itu aku, bukan kamu." Protes James tak mau kalah. Ia berteriak di depan wajah Al sedikit keras.

Al ikut berteriak tak mau karena ia mengaku lebih mirip ayahnya. "Hey! Kok malah bertengkar? Ada apa ini? Kenapa Daddy diikut-ikutkan juga?" Harry menarik tubuh James agar tidak terlalu minggir.

Kompak, James dan Al menatap Harry bersamaan. "Coba Daddy lihat, siapa yang lebih mirip Daddy? Aku, kan?" kata Al. Dahinya mengerut menirukan Harry ketika berpikir serius. Harry menutup mulutnya menahan tawa. Sedangkan James dengan gaya menggigit bibir bawahnya makin membuat Harry tak kuasa untuk tidak tertawa.

"Kenapa Daddy malah tertawa, sih?" James marah. Ia lantas melihat Al, takut jika adiknya itu yang membuat sang ayah tiba-tiba tertawa terbahak, tapi tidak ada apa-apa. Wajah Al normal.

Al yang merasa dicurigai kembali menatap James protes. Harry makin tak kuasa untuk kembali tertawa ketika keduanya saling berpandangan. Ia seolah melihat dirinya dalam rupa anak-anak. Harry kecil, bahkan Harry-Harry kecil. Mereka memang fotocopy sang ayah.

"Sebentar, anak-anak—" Harry menyibak selimutnya lantas mengambil ponselnya dari atas nakas. Harry mengaktifkan kamera ponselnya dan..

"Say banana!" pinta Harry mengarahkan kamera ponselnya pada dirinya dan kedua putranya itu. James tahu apa yang sedang dilakukan ayahnya langsung menyenggol Al untuk segera mengatakan kata ajaib Muggle favorit mereka.

Kata ajaib ketika siap berfoto.

"BANANA!"

Dua kali Harry mengambil gambar dirinya bersama James dan Al. Harry menunjukkan satu gambar yang baginya sangat pas. Ketiganya tersenyum lebar menghadap kamera bersamaan. Harry menujuk wajah putranya satu persatu dari layar ponsel dan berkata, "kalian sangat mirip dengan Daddy. Kalau kalian tidak percaya, ini buktinya."

Ponsel Harry menjadi rebutan James dan Al untuk segera mengamati wajah mereka yang memang mirip satu sama lain. Al menunjuk foto dirinya dengan menunjuk tepat ke bagian mata. "Mataku mirip Daddy. Warnanya merah." Kata Al.

"Bukan merah, Al. Hijau. Kalau James coklat, mirip mata Mummy. Seperti Lily juga." Kata Harry memberikan penjelasan. Ia kembali mengingat Ginny dan Lily.

"Kenapa bisa begitu, Daddy?" James kebingungan karena ia matanya tampak berbeda dengan sang adik dan ayahnya.

"Karena, kalian adalah anak Mummy dan Daddy. Jadi ada dari diri kalian mirip seperti Daddy, ada juga yang mirip dengan Mummy. Coba lihat, mata kalian berbeda, kan? Al mirip Daddy, James mirip Mummy. Kalau kalian tertawa, James seperti tawa Daddy, kalau Al seperti senyum Mummy," Harry menghadapkan James dan Al.

James tampak mengamati bagian wajah Al yang belum kunjung tersenyum. "Ayo, Al, tersenyumlah. Aku ingin tahu," perintah James.

Al tersenyum simpul. Dan senyuman Ginny tercetak di sana. "Daddy benar. Jadi, itu karena aku dan Al adalah anak Mummy dan Daddy, ya?" ujar James.

"Lily juga?" tambah Al mengingat adik perempuannya.

Harry mengangguk kaku membenarkan. Semuanya memang benar. "Yah, dan selamanya adalah kalian anak Mummy dan Daddy." Hati Harry kembali gerimis.

"Kenapa Daddy menangis?" Al bingung melihat airmata keluar dari mata ayahnya.

Harry tersenyum cepat menghapus air matanya. "Ini air mata haru, sayang. Daddy bahagia. Bukan bersedih."

"Ow, jadi Daddy bahagia. Aku dan Jamie juga bahagia bersama Daddy. Selamanya akan bahagia!" seru Al sedikit berteriak.

"Always!" tegas Harry diikuti bersama oleh Al dan James. Mereka bersiap untuk kembali tidur sambil menyimpan satu bukti indah, jika mereka adalah anak seorang Harry-Ginny dan itu akan tetap sama. Selamanya.


GINEVRA SIAP MELEPAS STATUS SEBAGAI NYONYA POTTER

Ditemui di kediaman orang tuanya, Ginevra Weasley-Potter mengaku siap mengakhiri hubungan pernikahannya dengan pria yang kini menjabat sebagai kepala divisi Auror, Harry Potter. Nasib hubungan pernikahan yang telah terjalin hampir lima tahun lamanya itu akan diputuskan secara sah di meja sidang Kementerian Sihir bidang hukum pernikahan dan perceraian sihir pekan mendatang.

Dijadwalkan jika kedua belah pihak akan menghadiri keputusan final nasib pernikahan mereka yang telah memanas sejak dua bulan yang lalu. Berdasakan data yang kami peroleh dari pihak bidang hukum Kementerian, berkas pengajuan perceraian telah dipenuhi oleh sang penggugat, yaitu atas nama Ginevra.

Hingga saat ini, baik Potter maupun Weasley memilih tinggal berpisah sementara dengan membawa serta buah hati mereka. Banyak pihak yang menyayangkan jika perceraian ini terjadi, mengingat keduanya memiliki tiga orang anak usia balita yang masih membutuhkan kehadiran orang tua lengkap.

Berlanjut ke halaman 13.

Harry memilih menutup korannya pagi ini dan menyingkirkannya di tepi meja kerjanya. Di depannya duduk Ron dan David, salah satu sahabat dekat Harry dari divisi Auror. "Kau harus memikirkan bagaimana masa depan ketiga anakmu, Harry. Kau tak mau berusaha untuk mempertahankan pernikahan ini?" tanya David memulai pembicaraan mereka.

Harry mendesah berusaha tenang, "usahaku akan sia-sia jika Ginny tetap kuat dengan keputusannya sekarang. Aku tahu wataknya seperti apa." Jawab Harry.

"Ginny akan bercerai denganmu, Harry. Dan itu artinya, kalian akan kembali seperti dulu, kau sahabatku dan Ginny adalah adik dari sahabatmu. Itu saja. Tidak lebih," Ron ikut tersulut.

"Dan mungkin menambah kosa kata baru setelah itu. Mantan. Mantan suami untuk Ginny, mantan adik ipar untukmu dan kakak-kakakmu, dan juga mantan menantu untuk ayah dan ibumu," ujar Harry menyadarkan Ron jika status itu akan segera berubah, menjadi mantan, ex.

Ron mencondongkan tubuhnya mendekati meja Harry, menatapnya tajam berusaha membuat Harry kembali mengingat nasib pernikahannya yang kini berada di ujung tanduk. "Kau tak mau memperjuangkannya lagi?" Ron berujar pelan. David menggeleng tak tega.

"Berjuang apa? Untuk Ginny?" Harry menegakkan badannya, "dulu kami pernah bersumpah, Ron. Bahwa kami akan selalu mendukung apapun yang membuat hidup kami bahagia. Aku melihat jika Ginny kini tidak nyaman denganku. Ia melihat bahwa aku membuatnya tersakiti—"

"Tapi itu salah paham, Harry!" potong Ron.

"Apapun itu. Apapun! Aku sudah berusaha membuatnya bahagia tapi.. kini ia sendiri yang akhirnya menemukan cara membuat hidupnya bahagia. Dengan berpisah, karena itu satu-satunya cara agar ia bahagia, dan aku akan menerimanya. Asalkan ia bahagia."

Satu tetes air mata Harry turun dari sisi mata kanannya. Lolos jatuh menuruni pipinya yang menghangat. Ia tetap kuat menatap Ron. "Aku katakan ini padamu, Ron, bahwa aku memegang sumpahku— karena aku sangat mencintai Ginny. Sampai aku mati."

David berdiri dari bangkunya meminta ijin untuk keluar. Ia tidak kuat untuk terus menjadi saksi tulusnya cinta seorang pria yang belum pernah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

Suara isakan David membuat beberapa Auror yang sedang beristirahat di meja masing-masing menoleh ke depan pintu kantor Harry. David mengusap air matanya cepat-cepat. Gideon, Auror bertubuh kurus mendatanginya bersama tiga Auror lain bertanya penasaran.

"Kalian harus tahu, bahwa berkorban demi cinta sejati itu ternyata sangat sakit, teman-teman," ujar David terbata-bata.

"Mr. Potter?" tanya Gideon. Ia dan teman-temannya yang lain, bahkan seluruh masyarakat dunia sihir tahu apa masalah besar yang sedang dialami oleh pimpinan tempat mereka bekerja.

David mengangguk membuat mereka tertunduk lesu. Iba dengan cobaan yang kini dihadapi oleh Harry, sosok penyihir panutan mereka semua.

Sepulang dari Kementerian, susah payah Harry menghindari kerumunan pewarta berita yang selalu hadir setiap jam pulang pegawai Kementerian untuk menunggu kedatangan Harry. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan rela menunggu dan membuntuti Harry hingga ke depan perapian demi mendapatkan klarifikasi langsung dari mulut Harry. Namun hingga hari perceraian semakin dekat, tidak ada satu katapun keluar dari mulut Harry selain, "maaf," dan senyuman yang dipaksakan.

Ron membantu Harry menuju perapian untuk menjaga banyaknya reporter yang berusaha mendekat. "Kau tak bawa Daily Prophet lagi untuk ke rumah? Kau belum membaca semuanya, kan?" tanya Ron menyodorkan koran sihir paling aktif itu pada Harry.

"Aku berusaha menghindarkan media sihir dari James dan Al, Ron. Jadi, bawa pulang kau saja." kata Harry dengan langkah terburu-buru.

"Tapi mereka tidak bisa membaca—"

Harry menghentikan langkahnya di depan gerbang pintu lobi kementerian. Sorot kamera menyambut kedatangannya meski masih cukup jauh dengan posisinya kini berdiri. Ia menatap Ron lantas berkata, "James dan Al belum bisa membaca, tapi mereka bisa melihat dan mengenali wajah orang tuanya di dalam koran itu. Hingga kini aku belum siap memberikan jawaban jika mereka bertanya, mengapa wajah Mummy dan Daddy selalu ada bersama di koran yang sama sementara mereka tidak pernah ada di dalam satu rumah yang sama." Kata Harry siap mengangguk memberikan isyarat pada Ron untuk membantunya keluar.

"Aku paham, Harry. Kau siap?" Ron mengambil posisi di depan Harry sedikit miring.

"Let's go!"


Harry dan Ron mendatangi the Burrow bersama. Betapa terkejutnya Harry ketika ia melihat James dan Al sedang bergelayut manja dengan seorang pria tinggi yang sangat ia kenal sejak ia kecil. Dean sibuk menggendong tubuh Al dan James bersamaan sampai keduanya tertawa. Ginny yang duduk sambil memangku Lily ikut tertawa terbawa suasana.

Harry terpaku dengan pemandangan itu. Ginny melihatnya.

"Hay, semua!" Ron berteriak memberi salam.

"Oh, Ron. Harry!" Dari arah dapur Molly berlari menyambut keduanya dengan apron masih terpasang di tubuhnya.

Harry memeluk Molly dengan hangat. Tubuh Molly bau bacon goreng. "Ow, aku sedang masak, dear. Kau tak mau makan malam sebentar di sini—"

"Oh, tidak, aku hanya ingin mengajak James dan Al pulang. Aku ada janji dengan mereka mengajak makan malam di luar sambil jalan-jalan." Jawab Harry.

Al yang tahu kedatangan Harry, meminta diturunkan ingin mendatangi sang ayah. Beberapa saat kemudian James ikut diturunkan oleh Dean karena mendengar Al berteriak.

"Daddy!" Al dan James berhambur memeluk ayah mereka dengan wajah berbunga-bunga.

"Hallo, buddys! Senang sekali, ya, hari ini?" tanya Harry bersemangat.

Al tersenyum puas, "kami baru saja diajak bermain dengan Uncle Dean. Bukan begitu, Jamie?" cerita Al langsung mengalihkan pandangannya pada sahabatnya itu, Dean ikut menatapnya sambil mengangguk sopan.

"Hai, Harry," sapa Dean ramah.

"Hai, Dean. Apa kabar?" sapa Harry balik.

Dean tersenyum simpul lantas menjawan, "baik, Harry."

James melanjutkan cerita mereka begitu semangat pada Harry. menceritakan betapa Dean sangat pandai membuat kapal-kapalan kertas yang dapat bergerak di atas air dan mengajak mereka untuk mengenal Quidditch.

"Kata Uncle Dean, dulu Daddy dan Mummy sangat pandai bermain Quidditch saat di Hogwarts, ya? Berarti Mummy dan Daddy harus ajarkan aku dan Al bermain Quidditch di rumah, ya! Pokoknya Harus." James memaksa.

Harry tersenyum memaksa sambil melirik ke arah Ginny singkat. "Iya.. tapi kalau kalian sudah agak besar. Seperti Teddy. Kalau kalian jatuh terus menangis, bagaimana?"

"No, kami kan hebat seperti King Arthur jadi tidak boleh menangis." celoteh Al dengan lugunya.

Harry tertawa mengusap kepala kedua putranya gemas. Mengingat semakin sore, Harry kembali mengingatkan James dan Al tentang rencana mereka untuk mengunjungi arena permainan di sebuah Mall Muggle yang sangat ingin mereka datangi. Ingat, James bergegas meminta pulang dan menarik Harry menuju perapian.

"Loh, mana dulu jaket kalian?" tanya Harry.

James dan Al menoleh ke kanan kiri mencari jaket mereka. Rupanya, jaket keduanya terselip di sandaran sofa tempat duduk Ginny. "Mummy ambilkan jaketku," rengek Al.

"Punyaku juga! Pakaikan." Pinta James manja.

"Eh, ambil sendiri, dong. Mummy, kan, sedang gendong Lily?" cegah Harry tidak enak. Ginny tampak panik di tempat duduknya. James dan Al semakin berteriak menginginkan Ginny memakaikan jaket mereka.

Ginny pun mau. Ia menyerahkan Ginny sementara pada Ron dan mengambil jaket James serta Al untuk segera dipakaikan. Perlahan Ginny mendekati kedua putranya yang kini berdiri dekat dengan Harry. Dengan terus menunduk, Ginny memasangkan jaket James dan AL bergantian.

Berada sangat dekat, Harry berusaha meraih tangan Ginny namun cepat-cepat tangannya di tepis menjauh. "Ginny—" panggil Harry pelan seperti berbisik.

"Sampai jumpa di pengadilan, Harry," jawab Ginny tanpa sedikit pun menatap wajah suaminya.

Harry tidak membalas. Hanya memperhatikan Ginny kembali ke sofanya sembari memanggil Dean sedikit keras. "Ayo kita lanjutkan penjelasanmu tadi, Dean," pinta Ginny sambil menarik lengan kanan Dean.

Gelombang aneh menyerang dada Harry secepat kilat. Ginny tidak mau ia sentuh, tapi ia melihatnya sendiri tidak ada satu menit wanita yang masih berstatus istrinya itu dengan tenang menyentuh lengan pria lain di depan mata kepalanya sendiri. Pria yang ia tahu pernah mengisi hati Ginny di masa lalu.


Hari Sabtu pagi, Andromeda dan Teddy berkunjung ke rumah Harry sesuai dengan isi surat permintaan Harry untuk menjaga James dan Al selama ia pergi ke persidangan perceraiannya dengan Ginny di Kementerian.

"Daddy mau ke mana? Ini kan hari Sabtu. Biasanya kita akan bermain bersama," ujar James tak mau ditinggal sendirian.

Suara seseorang berApparate mengalihkan perhatian Harry. Neville datang untuk mendampinginya menuju Kementerian. "Daddy harus pergi, sayang. Sebentar saja, nanti sore mungkin Daddy sudah pulang. Kan, ada Teddy dan Grandma Andromeda di sini. Grandma akan membuat kue untuk kalian. Dibantu Teddy. Teddy jado loh buat kue. Kalian mau, kan, buatkan kue untuk Daddy? Nanti setelah Daddy pulang bisa kita makan bersama," bujuk Harry susah payah.

Teddy ikut membujuk Al yang kini hampir menangis tak mau ditinggal. "Nanti kita buat kue untu Daddy bersama-sama, Al, James. Kita buat yang enak. Daddy pasti suka kalau kalian yang buat nanti." Kata Andromeda.

"Nah, mau, kan? Daddy akan pulang, anak-anak," Harry memeluk James dan Al bergantian. Mereka akhirnya luluh dan membiaran Harry pergi bersama Neville. Harry melambaikan tangannya pada dua anak-anaknya sebelum ia dan Neville benar-benar menghilang di perapian.

Ruang sidang telah sebagian ramai oleh para penyihir yang menyaksikan jalannya persidangan perceraian antara Harry dan Ginny. Di loby Kementrian telah siap puluhan reporter media masa sihir untuk mengabadikan prosesi perceraian tokoh besar dunia mereka. Tidak ada yang ingin melewatkan kabar panas terakhir di antara para penyihir itu.

Harry dipersilakan duduk di salah satu bangku kosong di sisi Ginny yang telah siap di sana. Harry melangkahkan kakinya berat. Ia melihat Molly sudah menangis di bangkunya. Arthur mengangguk pelan pada Harry. Wajahnya berbalut kesedihan yang teramat dalam.

Berusaha kuat, Harry duduk di bangkunya. Ia melirik singkat ke arah Ginny yang terus menatap tajam meja pengadilan Kementerian Sihir di hadapannya.

"Persidangan gugatan perceraian antara penggugat Ginevra Molly Weasley-Potter dengan tergugat Harry James Potter saya nyatakan dibuka," ujar ketua sidang tegas. Suara tiga ketukan palu kayunya menghentak dada semua yang hadir.

"Berdasarkan surat permohonan gugatan yang telah diserahkan oleh pihak penggugat dengan pengesahan hukum dari penanggung jawab pribadi penggugat, yang beratas namakan saudara Dean Thomas, serta pengesahan oleh tergugat, siap dilakukan pengambilan keputusan akhir dengan sadar dan tanpa paksaan pada hari ini, tertanggal 23 Agustus 2008."

Harry kini tahu, jika semua proses perceraian itu memang tidak mungkin Ginny sendiri yang bekerja mengurusnya. Dean, menjadi seseorang yang ikut terlibat dalam semua proses ini. serta pertemuannya sore itu di the Burrow. Harry menghembuskan napasnya berat kembali memperhatikan semua pembacaan berkas oleh pihak ketua sidang.

"Dipertegas dengan segala bukti dan hasil pemeriksaan kesehatan secara sihir, Departemen Hukum Sihir, pelaksanaan hukum pernikahan dan perceraian menyatakan dengan ini—"

Harry memejamkan matanya berusaha kuat dan siap mendengar hasil keputusan akhirnya bersama Ginny segera dibacakan. Harry bergetar ketika keputusan itu akhirnya jatuh.

"Menyatakan saudara penggigat, Ginevra Molly Weasley, secara hukum dan peradilan pernikahan sihir, SAH, berpisah dengan saudara Harry James Potter dengan menghilangkan status sah pernikahan secara legal di bawah naungan pihak Kementerian Sihir."

Harry seolah ditembak mati tepat di jantungnya detik itu juga. Pikirannya melayang, memutarbalikkan waktu bagaimana kenangan ketika ikatan dan janji pernikahan itu terucap lima tahun yang lalu. Pernikahan yang pernah terjadi, kini berakhir sudah.

Ketua sidang tampak membalik perkamen yang ia baca dan melanjutkan satu hasil akhir dari perceraian Harry dan Ginny. "Dari pernikahan antara penggugat dan tergugat, lahir tiga orang anak dengan nama James Sirius Potter, empat tahun, Albus Severus Potter, dua tahun, dan Lily Luna Potter, 4 bulan di mana ketiganya tercatat sebagai anak/penyihir usia muda. Berdasarkan hukum sihir yang berlaku mengenai hak asuk anak di bawah umur, Departemen Hukum Sihir, melalui pelaksanaan hukum pernikahan dan perceraian di bawah lindungan Kementerian Sihir memberikan hak asuh tiga orang anak buah penikahan terdahulu pada saudara penggugat sebagai ibu biologis yang sah dan legal. Dengan masih memberikan tanggung jawab kepada saudara tergugat sebagai ayah biologis yang sah dan legal untuk tetap memberikan tunjangan hidup ketiga anak setiap bulannya."

Harry mendongakkan kepalanya terkejut. Ketukan palu tiga kali terdengar kembali menutup semua keputusan akhir yang telah dijatuhkan oleh mereka berdua. Badan Harry kaku, keputusan akhir menyatakan jika ketika anaknya tidak menjadi haknya untuk di asuh. Bahkan James dan Al yang kini masih tinggal bersamanya.

Badan kaku Harry berusaha digerakkan oleh seluruh persendiannya yang kini tidak mampu bekerja normal. Ginny mendahuluinya pergi menuju Molly dan Arthur. Ron dan Hermione menatap Harry dari jarak beberapa meter dengan pandangan penuh kepedihan. Neville meraih pundak Harry pelan, menuntunnya menuju lorong, keluar dari ruang persidangan.

Harry terus menatap punggung Ginny tak ingin lepas. Ginny tak lagi miliknya sekarang. Semuanya telah berakhir. "Kau harus memulai hidupmu lagi lebih baik, Harry. Aku percaya kau bisa, kau mampu!" bisik Neville menyemangatinya.

Sebelum mereka semua sampai pada pintu perbatasan loby, lorong sepi itu menggerakkan Harry untuk coba mengeluarkan suaranya memanggil nama wanita yang masih sangat ia cintai itu.

"Ginny!" Harry menahan pergerakan langkah kaki Ginny cepat.

Molly menoleh ke belakang, menatap Harry lantas meninggalkan Ginny sendiri bersama Harry. Neville ikut menyadari cepat posisinya saat ini segera mengikuti Ron dan Hermione yang kini keluar dari lorong.

Harry mendatangi Ginny. perlahan, ia siap menyentuh pundak Ginny pelan, namun Harry mengurungkan niatnya cepat-cepat. "Gin—"

"Aku tunggu barang-barang James dan Al dikirim ke the Burrow." Ujar Ginny lantas cepat-cepat melanjutkan perjalanannya.

Harry semakin tidak kuasa untuk meluapkan isi hatinya. Ia berteriak, "aku mohon berikan aku kesempatan untuk—"

"Satu minggu," Ginny berbalik menghadap Harry. Mereka saling tatap semakin dalam. "Gunakan sisa waktumu itu dengan baik bersama mereka, sebelum kau mengantarkan mereka Sabtu depan. Aku janji aku tak akan menghalangi kau bertemu anak-anak nanti. Terima kasih.. Harry."

Ginny menyentuh pergelangan tangan kiri Harry dan menyerahkan benda kecil berkilau ke atas telapak tangannya. Ginny menunduk menghampiri Dean yang siap mengawalnya keluar menuju kerumunan ribuan kilau cahaya kamera para pemburu berita di luar sana.

Kaki Harry lemas, ia tak salah melihat jika wanita itu kini meninggalkannya. Datang ke rengkuhan tangan pria lain, memeluk tubuh itu, melindungi tubuh kecil itu dari semua penyihir yang ingin tahu kesedihannya.

Cincin bertahtakan berlian di tangannya kini basah menjadi landasan airmata Harry yang turun deras. Harry meremasnya kuat, seolah ia tak mau melepaskan pemilik cincin itu pergi. Tapi bagi Harry, "ini tetap milikmu, Ginny. Sampai kapanpun."


"Kuat Harry!" Bisik Neville sesampainya mereka di rumah Harry.

Harry mengusap matanya yang merah untuk kesekian kalinya ketika ia kembali melihat dua sosok kecil itu sedang tertawa riang di ruang keluarga. James dan Al sedang bersama Andromeda dan Teddy, menghadap sebuah kue berwarna coklat muda yang telah dihias cantik tepat di atasnya. Ada tulisan tercetak di sana, tapi Harry tidak jelas membacanya.

"Daddy pulang! Ayo, Al!"

James berusaha membawa satu buah kue besar bersama Al menuju arah Harry yang baru datang. Harry berlutut ketika keduanya sampai. Menunjukkan kue beraroma karamel dengan tulisan acak-acakan, We Love You, Daddy di atasnya.

"Kue karamel favorit Daddy. Kami yang buat dibandu Grandma Andromeda dan tulisan ini kami juga yang menulis, dibantu Teddy." Kata Al.

"Tulisannya benar tidak, Daddy? Kata Teddy, tulisan we love you daddy itu seperti ini." ujar James bangga menunjukkan hasil karyanya.

Harry tak kuasa menangis melihat kejutan spesial yang diberikan kedua putranya itu. Batin Harry berteriak protes, mengapa ia mendapatan sesuatu yang sangat indah dari kedua anak yang sebentar lagi harus ia tinggalkan. Harry tidak mau. Harry tidak mau berpisah dengan mereka.

"Benar sayang, benar sekali. Daddy juga sangat mencintai kalian. Daddy suka kue karamel." Ujar Harry sambil menangis sekaligus tertawa.

James tersenyum senang sambil melihat adik laki-lakinya puas. Ia mengambil sedikit pinggiran kue lantas menyuapkan kue itu ke mulut Harry. Sedikit kesusahan, Al ikut menyuapkan kue itu pada sang ayah, mengikuti James.

"Kenapa Daddy menangis?" tanya James bingung.

"Daddy—"

"Itu namanya terharu, Jamie. Waktu itu Daddy juga menangis, kan? Kata Daddy itu menangis terharu. Menangis senang. Pasti kuenya enak, ya, Daddy?" kata Al dengan tanpa dosa.

Mereka hanya anak-anak, Harry terus menyadarkan dirinya jika kedua putranyatidak boleh tahu rasa sakit yang ia rasakan sekarang. Airmata haru yang datang bersama kesedihan yang begitu menyiksanya. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh ayahnya kini.

"Iya, kuenya enak sekali, nak. Enak. Terima kasih. Terima kasih!"

"Kami sayang Daddy! Always!" James memeluk Harry diikuti Al.

Tangis Harry semakin keras tersedu-sedu, sementara kedua putranya tertawa kegirangan mengira tangisan itu adalah bentuk kebahagiaan ayah mereka. "Kami akan selalu membuat Daddy bahagia. Sampai kapanpun!" ujar Al.

Harry sudah semakin kacau. Perasaannya campur aduk. Ia tidak lagi bisa berkata-kata selain tangisan dari bibirnya. Andromeda yang tahu kabar terakhir dari Neville, tak tahan untuk ikut menangis melihat ekspresi Harry yang begitu terlihat.. jika ia tak ingin melepas James dan Al dari sisinya.

- TBC -


#

Baiklah, Anne tarik napas dulu. Anne selesai ngetik ini langsung buang ingus di tisu, sambil ditanya ibu, 'kenapa adik nangis?' Oke lupakan.

Akan ada dua chapter lagi, ya. Jadi selesai di chapter 12. Berarti pas dari perkiraan Anne. Lebih dari 10 chapter tapi nggak sapai 15 chapter. Tolong jangan hakimi Anne lagi di chapter ini lagi! Ampun! Tambahan, ya, aku minta maaf pada bagian prosesi perceraiannya. Anne udah sempat riset soal perceraian di Inggris. Agak ribet juga, terus hukum hak asuhnya. Sebenarnya hukumnya itu kesepakatan berdua, tapi mengingat ini hukum sihir dan anak-anak itu punya kekuatan sihir yang butuh dilatih, jadi Anne rasa tanggung jawab itu bisa serahkan sepenuhnya oleh ibu, seperti hak asuh ibu yang bisa diberikan jika anak-anak masih dibawah umur. Psikologi juga bilang lebih bagus jika diasuh ibu.

Maaf kalau masih banyak typo, Anne tunggu review kalian. Ungkapkan semua perasaan kalian di sana.. Anne tetap akan terima. Oke, Anne sayang kalian. Sampai jumpa di chapter 11 :)

Thanks,

Anne xoxo