Pink Uchiha : hahaha, aku juga ngetiknya agak deg2an sih =3=, ngerasa akan ada sesuatu ya? memang bakalan ada sesuatu sih :p

hanazono yuri : ngga bisa kilaaaaat XD

Rosachi-hime : Sai penyelamat? yakin? ;p

Andia Sakuchi :Neji nanti akan muncul kok, tenang, aku tidak akan melupakan Neji dan Hinata XD

Tsurugi De Lelouch : iyaaa, Sai... entah kenapa aku suka Sai ciptaanku XD

BronzeQueen18290 : ditunggu juga reviewnya XD

iya baka-san : hyhahahahaa, ayooo mainkan feelingmu, tebak2 berhadiaah XD

rizkaekha : hehehe, makasih jejaknya *mandangin jejak* XD

A Lii Enn : ma-maaf, aku g bermaksud nge troll =3=

Sakurazaki : hubungan sasusaku masih bertahan sampai posisinya kegeser (dikira kompetsisi ==") wakakakkakaa, dia ngiklan disini, aku bakalan usaha update kok sekarang, mudah-mudahan ngga ngerasa di ngaretin sama aku ya T^T

boobearr : iyaaa, sai baik, sai keren, sai... aahhh *melting* iya chap ini mudah2an panjang, heh?! tau dari amna aku belom angkat jemuran?! XD

salsalala : Sakura sama siapa... galau aja dulu deh XD

gadisranti3251 : Sai... semua menyangka kalau Sai penyelamat XD

BCherryPurpLe : hehehe, oke dilanjut! XD

ahalya : Ahahaa, tim sasuke XD macem film tuailait aja XD dan... kenapa tebakanmu benar aya ._.

.

.

AI~akai ito no monogatari~

( LOVE~ the legend of red thread~ )

Disclaimer : Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Angst, Tragedy, Hurt/comfort

Rated : M

SasoSaku, SasuSaku, NaruIno, NejiIno, NejiHina, SaiKarin

Warning : OOC, AU, maybe some of typo. Setting-an jepang ala zaman edo, namun maaf kalau terjadi kesalahan istilah dan sebagainya. Apapun pairingnya, yang penting kenikmatan dari cerita yang disajikan XD

.

.

Karin menatap Sai dengan wajah terkejut, sedangkan Sai tersenyum lembut pada wanita yang memberikan tempatnya untuk berteduh, "Aku akan membantumu sebisaku, anggap saja balasan atas tumpangan hari ini."

"Kau bahkan belum sehari menginap disini, dan aku meninggalkanmu tidur... di kamarmu," ucap Karin pelan.

Saat kesunyian melanda mereka, Karin membuka pembicaaan, "Sai... apakah kau berniat–"

"Tidak," potong Sai, "aku tidak berniat untuk menyembunyikan identitasku, itu bukan karakterku."

Karin mengernyitkan dahi dan menundukkan wajahnya, melihat Karin mendadak murung Sai tersenyum lembut, "Kau jelek kalau murung."

"Maaf kalau aku jelek," gumam Karin.

"Hahaha, aku pergi dulu, doakan agar aku tidak mati karena diserbu oleh beribu macam pertanyaan yang keluar dari sang perdana menteri," ujar Sai.

"Aku ingin membantumu," ucap Karin.

"Bagaimana kalau kau bereskan sesuatu di kamar yang tadi kita tempati, cara itu cukup untuk membuatmu menolongku," jawab Sai, "aku pergi dulu."

Saat langkah Sai beranjak beberapa langkah...

"Apa kita akan bertemu lagi?" tanya Karin tiba-tiba. Pertanyaan yang mungkin sedikit canggung bagi karin, di satu sisi Karin sadar akan status mereka yang jauh berbeda, di sisi lain Karin menginginkan hubungannya dengan Sai tidak terputus begitu saja.

Sai membalikkan tubuhnya, menghampiri Karin dan memberikannya sesuatu yang ia keliarkan dari sakunya.

Pita merah yang panjang.

Sai memberikannya pada Karin dan mengikatnya di pergelangan tangan kanan wanita itu sehingga menjadi seperti gelang, "Percaya saja bahwa kita terhubung oleh istilah 'benang merah'."

Karin tersenyum lembut pada pita merah yang sudah melingkar di pergelangan tangan kanannya, "Apakah ini jaminan untuk kita bertemu lagi?"

"Kau boleh menyebutnya seperti itu," Jawab Sai.

Karin tersenyum melihat Sai beranjak pergi meninggalkannya, dan Sai berhasil meyakini Karin bahwa mereka akan bertemu lagi.

.

.

"Engh~" Sakura membuka kedua matanya. Terakhir yang ia ingat adalah meminta maaf pada Sasuke di depan kediamannya dan ditengah hujan yang deras.

"Sakura..."

Suara yang sangat ia kenal terdengar dari arah samping tempat tidurnya. Heran... seharusnya ia berada di tengah hujan, tapi kenapa ia merasa kering dan tidak ada rasa basah sama sekali?

"Sakura?"

Sakura menoleh ke arah suara yang sangat ia kenal, "Sa...suke-kun...?"

"Syukurlah kau sudah sadar," ucap Sasuke yang dari tadi menggenggam tangan calon istrinya.

"Aku... apa yang terjadi?" tanya Sakura sambil mencoba untuk duduk, kemudian dengan inisiatif Sasuke membantunya.

"Kau pingsan, tadi dokter sudah memeriksamu," ucap Sasuke yang mencoba membantu Sakura mendapatkan posisi nyaman.

"Aahh.. aku pasti lelah karena terlalu banyak pikiran~"

Sasuke tersenyum kemudian membelai pipi Sakura, "Tidak, dokter mengatakan sesuatu yang lebih bagus dari hal itu."

"Aku terserang kanker?" tebak Sakura.

"Bukan, bodoh!" jawab Sasuke menyentil hidung Sakura, "Kau hamil."

Mata Sakura terbelalak. Hamil? Kenapa bisa... Dan... Anak siapa?

"Tenang saja, yang kau kandung adalah anakku," jawab Sasuke, menjawab ekspresi kaget Sakura.

"Sebentar... Dari mana kau–"

"Kau hamil dua bulan Sakura, dengan kata lain kau berhubungan dengan Sasori ketika benihku sudah jadi di rahim-mu," jelas Sasuke.

"Du-Dua bulan? kenapa aku tidak merasakan apa-apa? aku tidak mengalami mual di pagi hari, aku tidak pusing, aku–"

"Itu karena kau terlalu fokus pada hal lain, menyembunyikan identitas Rebellion padaku misalnya," jawab Sasuke memotong kepanikan Sakura.

"Jadi... aku..."

Sasuke tersenyum dan memeluk Sakura, "Kita akan menjadi keluarga yang bahagia, aku janji."

Sakura menangis... tangis bahagia yang kini ia rasakan lebih dari hal apapun. Ia tidak menyangka akan mengandung anak Sasuke secepat ini, mereka bahkan belum menikah. Sasuke melepaskan pelukannya dan mengecup bibir Sakura dengan lembut.

"Kita menikah bulan depan, bagaimana?" tanya Sasuke.

"Ng, aku mau," jawab Sakura.

Sasuke kembali memeluknya, namun kini pikiran Sakura kembali pada hal yang membuatnya gusar... Sasori... entah mengapa di saat bahagia seperti ini sosok Sasori yang terbayang di benaknya, Sakura memejamkan kedua matanya dengan kencang dan berusaha menyingkirkan pikirannya tentang Sasori. Laki-laki yang selalu kesepian, hanya Sakura yang tahu bagaimana cara mengisi hati laki-laki itu.

Apabila Sakura menikah, siapa yang akan merawat Sasori? Siapa yang akan menemani laki-laki itu? Siapa yang akan menyelimuti Sasori apabila laki-laki itu sedang meditasi di cuaca yang dingin? Tidak ada. Tidak akan ada yang berani seperti Sakura lakukan pada Sasori. Dan... Bagaimana kalau Sasuke meng-eksekusi Asuma lalu Sasori mengetahui bahwa Sakura menikahi laki-laki yang membunuh ayah angkatnya?

"Sakura." Sasuke melepas pelukannya dan menatap Sakura, "pindahlah ke sini, tinggallah bersamaku."

"Eh?"

"Aku yakin keluargaku sangat setuju, apalagi kau mengandung anakku, bagaimana?" tanya Sasuke.

"Ta-tapi... pakaianku semua–"

"Kita akan mengambilnya besok, aku akan menemanimu. Malam ini, kau tidurlah di sini."

Sakura mengangguk dan kembali memposisikan dirinya ke dalam selimut, Sasuke menarik selimut sampai dada Sakura dan mencium kening wanita yang akan menjadi istrinya, "Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu," jawab Sakura lembut.

.

.

"Dan bisakah kau beri tahu alasannya kenapa kau menghilang selama lima bulan belakangan ini, Sai?"

Saat ini, Sai tengah berhadapan dengan ayahnya yang juga menyandang sebagai posisi perdana menteri jepang. Danzo, menatap anaknya yang tiba-tiba menghilang selama lima bulan dan kini tiba-tiba datang meminta untuk membatalkan eksekusi yang akan dilaksanakan lusa. Tatapan sinis lah yang Danzo lemparkan pada Sai.

"Alasannya mungkin ayah sudah tahu sendiri, aku benci rumah ini sejak ibu meninggal," jawab Sai tersenyum palsu pada sang ayah.

"Hentikan senyumanmu itu, membuatku muak."

"Karena itulah aku tersenyum, membuatmu muak," jawab Sai masih tersenyum.

"Kau tidak ada bedanya dengan ibumu, menyebalkan dan susah diatur," gerutu Danzo sambil menyalakan cerutunya, "apa tujuanmu sebenarnya? tiba-tiba memintaku untuk menghentikan eksekusi itu?"

"Karena dia tidak bersalah," jawab Sai dengan tegas, "Kaulah yang bersalah, dia hanya menuntut hak yang seharusnya mereka dapat namun kau rampas."

"Kau masih kecil, mengerti apa tentang hal seperti itu," jawab Danzo tanpa menatap putranya.

"Aku sangat mengerti, ketamakan perdana menteri yang otoriter dan membuat rakyatnya sengsara. Aku heran kenapa sampai saat ini ayah tidak diturunkan jabatannya," jawab Sai tersenyum sinis pada sang ayah.

"Inilah hidup, yang kaya berjaya, yang miskin sengsara," jawab Danzo lagi membuang abu ceritu pada asbak dan meniupka asapnya di udara.

"Waw, kira-kira berapa puluh juta porang yang membencimu ya? termasuk ibu."

"Jaga mulutmu! ibumu meninggal karena kesalahannya sendiri lalai dari penyakitnya," bentak Danzo.

"Tbc bisa diatasi asal mendapatkan perawatan yang rajin, dan kau mengabaikannya!" bentak Sai balik.

"Hentikan perdebatan yang tidak ada ujungnya ini, sekarang katakan dengan jelas apa maumu," ucap Danzo sambil mematikan cerutunya.

"Aku minta ayah membatalkan eksekusi itu."

"Tidak bisa," tolak Danzo, "eksekusi itu bisa buat bentuk pelajaran bagi rakyat yang menentangku."

"Kau iblis, dia tidak salah!"

"Kalau begitu kau gantikanlah dia, mau?" tawar Danzo yang membuat mata Sai terbelalak, "aku tidak percaya kau menawarkan hal itu."

"Kau bilang aku iblis, maka kutawarkan hal itu, aku batalkan eksekusinya, asal kau bersedia menggantikannya untuk dipenggal," ucap Danzo dengan nada sombongnya.

Sai terdiam mengepalkan kedua tangannya, mencoba memikirkan cara bagaimana supaya dia bisa menyelesaikan masalah ini namun tidak ada yang terluka. Dan tiba-tiba Sai teringat sesuatu saat ia memasuki tempat ini, shinsengumi yang menyapanya tadi, dia mungkin...

"Begini, aku punya penawaran bagus," ucap Sai pada sang ayah.

"Aku harap bukan tawaran konyol," ujar Danzo.

"Bagaimana kalau kau undur tanggal eksekusinya, sebulan... selama sebulan itu, aku rela melakukan apapun yang kau suruh... termasuk tawaranmu dulu yang pernah kau pinta padaku."

Danzo memincingkan kedua matanya, seolah menganalisa apa yang sedang anaknya rencanakan sekarang, "Apa benar kau setuju? dulu kau menolak mentah-mentah karena masa depanmu kaulah yang memutuskan."

"Benar, masa depanku memang aku yang memutuskan. karena itu aku memutuskan hal ini," jawab Sai tersneyum palsu lagi.

"Baiklah, kuterima tawaranmu, dan hentikan senyuman memuakan itu."

.

.

Pagi hari telah tiba, Sakura membuka kedua matanya dan melihat Sasuke yang baru saja mandi masih memakai handuk berbentuk yukata dan mengeringkan rambutnya. Sakura tersenyum, rasanya seperti sedang melihat suami yang baru selesai mandi. Perlahan Sakura bangun dan gerakannya itu menarik perhatian Sasuke.

"Kenapa bangun? kau bisa tidur seharian di sini," ucap Sasuke.

"Tidak mau," jawab Sakura, beranjak dari tempat tidur dan mengambil seragam shinsengumi yang menggantung di lemari pakaian. Setelah itu ia membuka handuk Sasuke kemudian membantu memakaikan seragamnya.

Sasuke tersenyum saat Sakura memakaikannya seragam shinsenguminya dari belakang, "Kau akan menjadi istri yang hebat," ujar Sasuke.

"Dan kau akan menjadi suami yang hebat."

Sasuke membalikkan tubuhnya sehingga kini ia berhadapan dengan Sakura. Begitu tubuhnya disentuh oleh Sakura, Sasuke langsung membelai perut Sakura yang masih belum membesar itu, "Kira-kira... perempuan atau laki-laki?"

"Aku rasa perempuan," jawab Sakura, meletakkan tangannya di atas tangan Sasuke.

"Kalau begitu aku harus berusaha lagi agar mendapatkan laki-laki," ucap Sasuke.

"Hihihi, kau mau berapa?" tanya Sakura sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Sasuke.

"Empat," jawab Sasuke yang membalas rangkulan Sakura dengan merangkul pinggangnya kemudian mengangkatnya, "kalau perlu lebih."

"Aku tidak tahu bisa tahan atau tidak," ujar Sakura mulai mencium bibir Sasuke.

"Kau harus tahan, karena kau istri dari Uchiha," jawab Sasuke membalas ciuman Sakura.

Posisi mereka membangkitkan birahi Sasuke yang kini menaik, tanpa izin dari Sakura kini Sasuke menidurkannya kembali di kasur dan mulai mencicipi berbagai tempat di tubuh Sakura, "Aku ingin bertemu dengan anakku," bisik Sasuke dengan nada erotis.

"Nanti kau kotor, lagi pula kau sudah memakai sera– Aaahhnn~"

Ucapan Sakura terpotong dengan desahannya karena saat ini Sasuke sudah memainkan bagian paling sensitif milik wanita-nya. Dengan seringai khas, Sasuke memulai aksinya di pagi hari.

.

.

Karin membuka matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk dari jendela. begitu sudah terbiasa, ia teringat ucapan Sai sebelum pergi tadi malam. Berskan? apa yang harus Karin bereskan? Saat ini Karin tertidur di kamar tempat mereka berbincang-bincang, ia mencari apa yang harus dibereskan itu. Saat Karin menatap satu kanvas yang tertinggal di ujung, ia melangkahkan kakinya dan perlahan membuka kain yang menutupi kanvas, saat ia membuka kain tersebut...

"Ini..."

Karin menutup mulutnya saat ia melihat dirinya berada di dalam lukisan itu, terlihat sangat nyata dan indah. Wajahnya yang sedang melamun di jendela terlihat sangat cantik, bahkan dirinya sendiri tidak yakin bahwa itu adalah dia. Lalu ia melihat tulisan di bawahnya, tanggal saat mereka bertemu dan 'velvet'. Sesuai dengan rambut dan matanya. Karin tersenyum dan memeluk kanvas itu.

"Semoga kita bertemu lagi," gumam Karin.

.

.

" AKU. TIDAK. MAU!"

Teriakan keras timbul di ruang keluarga Yamanaka, sudah bisa dipastikan siapa yang berteriak seperti ini. Yamana Ino, nona muda yang saat ini berwajah kesal, marah, juga panik. Sedangkan pengawal setianya tetap berdiri di sampingnya, menyimak pembicaraan yang sedikit membuat dirinya... risih.

"Ino, ini tawaran yang sangat bagus untuk keluarga kita," ujar sang ayah.

"Lagi-lagi keluarga, apa ayah tidak pernah memikirkan kebahagiaanku?!" protes Ino.

"Dulu kau menolak semua yang kami jodohkan untukmu, kami terima... tapi sekarang, siapa yang akan menolak permintaan perdana menteri?" ujar sang ayah.

"Aku! Aku yang menolaknya! Aku paling anti dengan yang namanya perjodohan! aku yang memutuskan dengan siapa aku bahagia, aku tidak mau mengalami kejadian yang sama dengan seseorang dulu, aku bisa memutuskan jalan hidupku sendiri!" tegas Ino dan hal itu membuat Naruto tersenyum.

"INO JAGA MULUTMU!"

"Tidak apa, Yamanaka-san," ucap laki-laki yang dari tadi menyimak pembicaraan mereka, "bisa kumaklumi, usia Ino-san masih sangat muda untuk perjodohan."

"Dan sejak kapan aku mengizinkanmu memanggil nama kecilku?!" Sewot Ino.

"INO!"

"Hahaha, tidak apa-apa, aku menghargai sikamu yang tegas, tidak berperilaku sok sopan seperti gadis-gadis lainnya."

"Maafkan kami, Sai-san, padahal kau sudah sengaja datang kesini untuk menawarkan perjodohan yang Danzo-sama usulkan pada kami," ujar Inoichi.

Sai tersenyum pada Inoichi, "Yamanaka-san, bisakah aku berbicara dengan putrimu berdua saja?"

"Maaf, aku tidak mengizinkannya," ucap Naruto.

"Kalau begitu kau bisa ikut," ujar Sai.

"Baiklah, kutinggalkan kalian, Ino... jangan lempar barang," ucap Inoichi memperingatkan putrinya.

Begitu Inoichi keluar bersama pelayan dan para pengawal, Sai mendekatkan dirinya pada Ino namun langsung di hadang oleh Naruto yang kini menempelkan ujung kunai pada leher Sai yang menyebabkan langkah Sai terhenti.

"Tenang saja, aku tidak berniat menyakiti nona-mu ini."

"Naruto," panggil Ino dan memberikan kode mata agar melepaskan Sai.

Naruto menuruti kode Ino dan tetap mengawasi gerak-gerik Sai.

"Aku ingin kau menerima pertunangan ini," pinta Sai.

"Aku menolak," jawab Ino tegas.

"Aku belum selesai," ujar Sai masih tetap dengan senyumnya, "aku hanya memintamu untuk menerima pertunangan ini selama sebulan, selanjutnya kau bisa membatalkan pertunagan kita."

Ucapan Sai membuat Naruto dan Ino terkejut, dan Naruto memutar otaknya menebak apa yang direncanakan oleh Sai.

"Ada hal yang harus kulakukan, hal yang sangat penting... ini demi nyawa seseorang, aku mohon... selama sebulan, jadilah tunanganku," pinta Sai.

"Enak saja!" sewot Ino, "kau pikir aku wanita macam apa yang mau begitu saja menerima hal seperti ini."

"Aku tidak memintamu untuk mencintaiku, karena aku sama sekali tidak tertarik padamu. Lagipula aku tidak bisa memaksa seorang nona muda manja yang sedang jatuh cinta berat pada pengawalnya sendiri," sindir Sai yang sukses membuat Naruto melirik Ino yang memerah wajahnya.

"K-Kau! Jangan sembarangan! Enak saja.. A-Aku... Apa yang kaulihat Naruto?! Tutup telingamu! jangan dengarkan dia!" jawab Ino gugup.

"Kutunggu jawabanmu, nyawa seseorang ada di tangan kita," ujar Sai, "aku amit dulu."

Saat Sai pergi, Ino mengambil salah satu vas dan akan melemparkannya pada Sai namun hal itu berhasil Naruto cegah, "Ingat pesan ayahmu."

Saat Naruto mencegahnya dengan cara memeluknya dari belakang, Ino menjadi salah tingkah gara-gara ucapan Sai tadi. Naruto sendiri tidak bereaksi, bukannya tidak mau tahu, hanya saja Naruto sangat tahu saat ini Ino pasti malu untuk mengakuinya, "A-apa yang tadi dia ucapkan itu–"

"Aku tahu dia bercanda, kau tidak perlu memikirkannya," potong Naruto, menepuk pelan kepala Ino.

Saat Naruto menjawab itu, ada rasa ngilu di hati Ino... Sebenarnya Ino ingin mengakui tebakan Sai tadi, namun dirinya terlalu takut... takut kalau perasaannya ini salah, ditambah lagi status mereka berbeda, ayahnya pasti tidak akan merestui mereka. Ino menggelengkan kepalanya dan beranjak dari tempat itu.

"Mau kemana?" tanya Naruto.

"Ke tempat Sakura."

.

.

Sakura kini berada di kamarnya, ia sudah berada di Aoi Tori diantar oleh Sasuke yang langsung pergi ke markas kepolisian. Tadinya Sasuke ingin menemani Sakura membereskan barangnya, tapi panggilan mendadak selalu saja terjadi. Dan Sakura memaklumi hal itu, saat Sakura sedang membereskan beberapa pakaiannya.

"Sakura."

Sakura menoleh pada pintu belakang yang kini terbuka, dan Sasori lah yang memanggilnya.

"Sasori-san..." sapa Sakura dengan senyum lembut.

Sasori melihat Sakura yang mengemaskan pakaian-pakaiannya, "Mau kemana?"

Ini memang keputusan yang buruk, padahal Sakura berharap untuk tidak bertemu dengan laki-laki ini... ia takut pertahanannya akan runtuh seketika. "Aku... akan pergi."

"Pergi? maksudmu?"

"Aku tidak akan tinggal di sini lagi, Sasori-san."

Mata Sasori terbelalak dan segera menghampiri Sakura, meremas kedua pundaknya, "Katakan kalau itu hanya candaanmu."

Sakura menatap pilu Sasori dan menggelengkan kepalanya, Sasori menundukkan kepalanya dan merenggangkan cengkramannya, "Apakah aku? karena aku di sini kau pergi?"

"Tidak! Bukan, bukan karenamu... aku–"

Ucapan Sakura terputus saat Sasoru mengangkat tanganya yang terlingkar cincin yang Sasuke berikan. Sasori menatap cincin itu dengan teliti kemudian ia menatap Sakura dengan tatapan–

"Apa ini maksudnya?"

–sangat pilu.

Sakura mengambil napas pelan-pelan dan menjawab, "Aku... menerima lamaran Sasuke-kun."

Merasa ditusuk oleh beberapa pedang, Sasori mencengkram tangan Sakura makin kencang dan menjatuhkan Sakura ke tatami kemudian menciumnya dengan paksa.

"Emmpphh~ Nggg!"

Sasori melepas ciumannya dan mulai meraba Sakura, "Kau tidak boleh meninggalkanku! Tidak boleh!"

"Tidak... Sasori-san! Ja– eempphh!"

Sasori kembali mencium Sakura dan melebarkan paha Sakura. Kedua mata Sakura terbelalak dan berusaha untuk memberontak, kepala Sakura menggeleng ke kanan dan ke kiri, mencoba melepaskan ciuman Sasori namun kedua tangan Sasori kini menghalangi gerakannya itu. Paha Sakura ia tangan memakai lututnya.

Sakura memukul punggung Sasori, tidak berpengaruh juga, akhirnya Sakura menggigit bibir Sasori.

"Aakh!"

"Sasori-san jangan! Jangan menyetubuhiku~ Aku mohon~"

"Kenapa? Aku Tuanmu juga kan! Kau harus–"

"Aku hamil!"

Sasori tertegun mendengar pengakuan Sakura.

"Apa kau bilang?"

"Aku hamil... anak Sasuke-kun," jawab Sakura dengan air mata yang menetes di pipinya.

Seolah dunia hancur, Sasori merenggangkan Sakura dan menjauhkan dirinya dari Sakura, menyenderkan dirinya di tembok.

"Sasori-san... aku..."

Sakura tidak bisa meneruskan kata-katanya, hatinya terlalu sakit melihat ekspresi Sasori saat ini. Sakura hanya bisa mendekatinya dan perlahan menyentuh tangan Sasori, tanpa Sakura duga Sasori membalas sentuhannya dengan lembut... dan itu membuat Sakura menangis kemudian memeluk laki-laki di hadapannya.

"Maafkan aku~ tidak seharusnya aku masuk dalam kehidupanmu, tidak seharusnya aku ikut campur urusanmu~"

Sasori membalas pelukan Sakura namun kini lebih lembut, Sasori tidak menangis... tidak, karena dia terlalu sakit untuk menangis. Dia hanya memeluk tubuh Sakura yang kini sudah menjadi milik orang lain. Sasori menatap kosong kemudian melepaskan pelukannya, menghapus air mata yang mengalir di wajah Sakura, "Satu pertanyaan dariku."

Sakura menatap Sasori dengan tatapan pilu, dan Sasori bertanya, "Adakah rasa cintamu sedikit untukku?"

Sakura makin mengeluarkan air matanya dan mengangguk pelan kemudian memeluk Sasori kembali, "Aku tahu ini pasti berat... mencintai dua orang dan kedua orang itu saling benci satu sama lain," ucap Sasori, "aku akan mendoakan kebahagiaanmu dan merelakanmu dengannya."

Sakura terbelalak dan melepaskan pelukannya, menatap kaget atas apa yang Sasori ucapkan, namun kini Sasori menyeringai pilu, "Kau pikir aku akan benar mengatakan hal itu? Aku tidak sebaik yang kau kira—Sakura."

Sasori mencium Sakura dengan paksa dan memakai lidahnya untuk menyapu langit-langit mulut Sakura, setelah selesai laki-laki itu mencium Sakura, ia meninggalkannya setelah mengatakan sesuatu.

"Aku pasti akan merebutmu," ujar Sasori tanpa menoleh pada Sakura, "pasti."

Sakura hanya bisa terdiam dan mengutuk dirinya sendiri.

~TBC~


A/N : Sudah panjang atau belum? ._.

Hahahahaa, oke, aku lanjut ngetik chapter 11 dulu ya XD

Enjoy~

XoXo

V3Yagami