Piece of Mine
Lee Taeyong - Ten Chittaphon Leechaiyapornkul
11
Ten tidak mengerti dengan semua perubahan yang terjadi di dalam hidupnya belakangan ini. Semenjak Yerim menanyakan pendapatnya, banyak hal yang tidak ia harapkan terjadi. Ia tidak pernah mengharapkan Primmy, sahabat kecilnya itu memiliki perasaan lebih kepadanya karena ia memang tidak bisa membalasnya.
Mencoba menjalani hidup seperti biasa pada saat saat seperti ini memang sedikit sulit. Menyedihkan juga harus menerima kenyataan bahwa Primmy membuang muka setiap berpapasan dengannya di sekolah. Atau Yerim yang semakin dekat dengan Taeyong sejak entah kapan.
Taeyong masih tetap berdiri disana, selalu ada saat ia membutuhkannya. Tetapi kali ini berbeda, kan?
Karena bagaimanapun juga, ia lebih terbiasa berbicara tanpa rahasia dibanding berbicara dengan rahasia itu sendiri.
Salah satu alasan kekacauannya adalah Yerim, tetapi tidak mungkin ia akan membeberkan segalanya di depan Taeyong, orang yang menjadi tokoh utama rahasia Yerim.
Satu satunya yang bertahan sampai sekarang hanya Si Sibuk, Jung Yoonoh. Mungkin tidak terlalu sibuk juga mengingat sekarang ia berdiri di samping Ten. Mengukur jalan di dalam mall, berjalan tanpa tujuan.
"Dari tadi kau memang tidak ada tujuan?" tanya Jaehyun sambil menatap Ten yang sedang memandang kedepan, tidak ada keceriaan di matanya.
Ten menggeleng. Niat awalnya adalah untuk sekedar refreshing, membebaskan diri sejenak dari semua hal yang terjadi di dalam hidupnya.
Ia pikir hanya drama yang bisa membuat seseorang mendapatkan masalah yang bertubi tubi, dan pada kenyataannya ia termakan omongan sendiri.
"Mau cari makan tidak?" Ia kembali bertanya dan kali ini Ten mengangguk.
"Mau makan dimana?"
"Starbucks!"
"Memangnya mau makan apa disana?"
Tetapi akhirnya ia mengikut saja. Toh ia memang tidak punya tujuan yang jelas pada awalnya.
Café dengan nuansa coklat itu cukup ramai hari ini, tetapi matanya masih menangkap beberapa kursi kosong disana. Ada empat kursi di dekat jendela dan satu meja di bagian tengah.
Ten mengernyitkan matanya saat bukan lagi meja yang tertangkap oleh matanya, namun dua anak manusia yang duduk bersebrangan di salah satu meja dengan sofa. Tersenyum satu sama lain dengan sebuah gelas di depan masing masing.
Awalnya memang ia tidak percaya, atau lebih tepatnya ia enggan untuk percaya. Tetapi tulisan yang tergores di gelas putih dengan spidol hitam membuktikan segalanya. Kemungkinannya hampir menunjukan maksimal, tidak bisa dielakkan lagi.
Lagipula dimana lagi ia bisa menemukan sesosok Lee Taeyong dan Kim Yerim dengan nama yang sama?
Di depannya ada sekitar tiga sampai empat orang, memberinya waktu untuk mengamati dua orang disana dalam diam.
Matanya kembali memicing saat Si Laki-laki menyentuh tangan Yerim, mengusapnya pelan sambil mengumbar senyumnya.
Tidak, ini pasti hanya ilusinya.
Tetapi ilusinya terlihat begitu nyata sampai sampai menyesakan dadanya.
"Bisa kita pergi dari sini?"
Jaehyun hanya menatapnya bingung, sedikit mengeluarkan gumaman yang menunjukan keheranannya.
"Jae, aku mohon. Kita ke starbucks lain, oke?"
Suaranya yang memelas membuat Jaehyun tidak punya pilihan lain. Awalnya ia heran sendiri apa yang membuat temannya ini bisa menarik tangannya dengan tergesa gesa, tetapi yang muncul di depan matanya mengatakan semuanya.
Jaehyun kembali menatap Ten yang berjalan lebih dulu lalu membuang nafasnya.
Jae's Side
Memanfaatkan waktu sebaik baiknya sebelum tahun terakhirnya datang merupakan hal nomor satu yang harus Jaehyun lakukan hari ini. Waktunya tidak banyak, tidak sampai dua bulan dan ia harus meninggalkan kelasnya.
Jadi disinilah dia, mengelilingi Seoul seorang diri, terkadang berhenti di beberapa kios untuk membeli makanan, his true love.
Tennya sedang latihan di akademi dan menolak saat ia ajak untuk absen. Nah, akhirnya ia merasakan rasanya ditinggal karena kesibukan orang lain.
Kalau orang lain lihat, sedikit menyedihkan memang. Tetapi memang begini adanya, menjadi anak semata wayang di keluarganya.
Dengan bekal sekotak ayam goobne di tangan kirinya, ia duduk di salah satu kursi disana. Mengamati beberapa orang berlalu lalang di depannya.
Dan disitulah Jaehyun menangkap mereka lagi.
Matanya terus mengikuti arah kemana dua sejoli itu berjalan, sampai akhirnya mereka menghentikan langkah di dekat lampu taman yang masih padam.
Stalking isn't a good thing, tetapi melindungi Ten adalah hal yang lebih penting sekarang.
Taeyong dan Yerim memang hanya mengobrol, tetapi jika ia tarik garis dari awal dan menggabungkan semuanya, tentu itu bukan suatu hal yang biasa.
Like there's a love affair between Taeyong and Yerim. Although Jaehyun won't admit that, but their relationship looks great. Hanya mengobrol santai disana, tanpa gangguan dalam waktu yang terbilang tidak singkat. Cukup bagi Jaehyun untuk menghabiskan sekotak ayamnya.
Tetapi tetap saja memberi harapan palsu dan menggantungkan orang lain bukanlah hal yang baik dan Taeyong melakukannya. Memang, sih menurutnya Yerim adalah orang yang paling jatuh cinta, dia yang paling bahagia. Namun ia seperti berhasil menarik Taeyong untuk ikut masuk kedalam zona itu.
Dan apa yang ia lihat selanjutnya adalah hal yang seharusnya tidak perlu ia lihat.
Yerim mengecup pipi laki laki itu dengan cepat. Walau hanya dibalas dnegan ekspresi kaget, tangan Yerim langsung melingkar di leher laki laki itu, berselang beberapa detik milik Taeyong menyusul memeluk tubuh Yerim dengan salah satu tangannya.
Jaehyun rasa ia benar benar harus melindungi Ten.
Beberapa hari setelahnya Jaehyun meminta Taeyong untuk bertemu di akademi tarinya. Ia tidak memberitahu Ten tentang semua ini, atau lebih tepatnya belum. Yang ia pikir hal terbaik sekarang adalah meminta penjelasan, mengkonfirmasi segalanya.
Jaehyun dibuat menunggu lebih dari lima belas menit sampai akhirnya laki laki dengan kaus putih itu berjalan kearahnya. Masih memegang handuk di tangan kirinya, ia berdiri di depan Jaehyun yang menyandarkan tubuh di salah satu bangunan bercat merah bata.
"Maaf menunggu lama, aku ada sedikit urusan" ujar Taeyong. Dia tidak pernah bertemu dengan Jaehyun secara langsung sebelumnya, hanya dipertemukan secara semu berkat cerita cerita Ten.
"Urusan.." Jaehyun bergumam lalu tersneyum kecut, menunjukan dimplesnya. "Dengan Kim Yerim?"
Dari yang Jaehyun tangkap, ekspresi Taeyong sedikit terkejut.
Lagipula siapa, sih yang tidak terkejut saat orang mengetahui hubungan yang selama ini tidak diumbar umbar?
"Uhm.. Lee Taeyong. Aku disini tidak ingin mencari masalah, oke? Hanya ingin bertanya dan mengkonfirmasi semuanya"
Taeyong mengerutkan dahinya. Ekspresinya sudah berubah masam. Sayang sekali jika Jaehyun berhenti disini.
"Apa kau memiliki hubungan dekat dengan Kim Yerim?"
To the point. He won't waste any time.
"Hanya teman"
Jaehyun mengangguk pelan, bibirnya membentuk senyum kecil. "Friends with benefit?"
Tatapan mata Taeyong berubah menajam. Jelas membantah pertanyaan Jaehyun barusan.
"Jangan asal bicara, kita bahkan tidak mengenal satu sama lain!"
"Teman biasa macam apa yang melakukan ciuman lalu saling memeluk satu sama lain? Atau duduk berdua di café sambil mengusap usap tangan? Lee Taeyong, you really.."
Raut wajahnya langsung semakin berubah drastis. Terkejut, marah, tidak mengerti. Segalanya bercampur. Mengoyak dadanya.
"Tapi, bagaimana kau bisa tau?"
"Ah, jadi itu benar benar kau" Jaehyun kembali tersenyum, kali lebih sombong, penuh kemenangan. Membuat Taeyong merasa telah diinjak injak ke tanah.
"Kau mengikutiku?"
"Ck, tidak ada kerjaan sekali. Hanya kebetulan, tetapi kebetulan yang benar benar berarti"
Sejujurnya Jaehyun tidak enak juga harus melihat laki laki ini sudah seperti ayam sayur, seperti kancil yang ketauan mencuri ketimun. Tetapi kan tidak mungkin juga ia harus menghentikan ini semua. Ia sudah terlanjur memulainya.
"Kalau kau memang menyukai Kim Yerim, kau tidak perlu masih memberi harapan kepada Ten seakan akan kau menginginkannya. Atau sebaliknya. Aku tidak bermaksud ingin ikut campur atau apa, tetapi yang kau lakukan itu memang salah"
"Kau pikir kau siapa?"
"Aku? Aku teman Ten dan aku harus melindunginya. Kau tidak bisa menggantungkannya seperti ini. Justru harusnya aku yang bertanya. Kau pikir kau siapa bisa menggantungkan dua orang sekaligus?"
Merasa berdosa setelah mengatakan hal itu adalah apa yang sekarang Jaehyun rasakan. Tetapi ia berusaha menangkisnya. Masa bodo, Lee Taeyong tidak bisa terus seperti ini.
"Aku sudah tau aku salah jadi berhenti mengurusi hidupku!" Rahangnya mengeras dengan tatapan yang semakin berapi api. Lee Taeyong mengepalkan tangannya.
"Bagaimana bisa kau terus melakukan itu padahal kau sudah tau jika kau salah?!"
Tepat sasaran. Jaehyun baru saja menembakan anak panah dan menusuk bagian tengah bernilai seratus dengan sempurna.
Namun anak panah itu disambut balik dengan sebuah pukulan.
Tentu Jung Yoonoh benar benar terkejut bagaimana laki laki ini memukul tulang pipinya. Lee Taeyong seakan seakan baru saja mengibarkan bendera tanda perang.
Jaehyun lebih suka bermain halus, membicarakan sebuah masalah dengan pikiran rasional dibandingkan dengan cara seperti ini. Namun, tidak, tidak ada yang bisa membuat gara gara seperti ini dengan Jung Yoonoh.
Melepas blazernya dan membuangnya asal. Gilirannya yang memukul sudut bibir laki laki dengan rambut hazel di depannya ini.
Ini kegiatan bodoh, pikirnya. Dan beruntung seseorang keluar dari gedung akademi, memberinya alasan untuk langsung menangkis pukulan yang Taeyong hujamkan kepada dirinya. Menghentikan perkelahiannya.
Yang bisa ia rasakan hanya tulang pipinya yang nyeri, bibirnya yang terasa anyir dan tubuhnya yang melemas. Ini lebih buruk dibandingkan mendapatkan nilai ulangan matematika dibawah rata rata.
"Ini benar benar bodoh" kicauannya lebih terdengar seperti sebuah gumaman. Lagi lagi, ia masa bodo.
Yang ia lakukan setelahnya hanya memungut lagi blazer dan tas hitamnya. Kembali menggendong tasnya sementara tangannya mencengkram blazer.
"Maaf, aku—"
"Berhenti menyakiti hati orang lain. Berhenti menyakiti Ten jika kau benar benar nyaman dengan Yerim atau berhenti menyakiti Yerim jika kau tidak benar benar menyukainya. Itu akan jadi boomerang untuk dirimu sendiri"
Setelah itu ia meninggalkan Lee Taeyong. Setidaknya ia sudah mengetahui semuanya, demi Ten.
Ten's Side
Ten langsung menghambur keluar rumah sesaat setelah mendapatkan telepon dengan suara panik dari sebrang sana. Menanyakan apa yang telah terjadi kepada anaknya sampai sampai mendapat luka sebanyak itu.
Ya, jelas ia tidak tau apa apa. Terakhir kali ia bertemu Jaehyun adalah saat di gerbang sekolah, setelah itu, laki laki itu menghilang. Tidak ada kabar sampai saat ini.
Ibunya langsung mengantarkan Ten ke dalam kamar Jaehyun setelah ia sampai di rumah kawasan Gangnam itu.
Selama ia mengenal Jaehyun hampir setahun belakangan, ia tidak pernah melihat Jaehyun seberantakan ini. Sepertinya lukanya sudah dibersihkan, terlihat dari tulang hidung dan pipinyanya yang sudah ditempeli sebuah plester.
Tetapi ia masih tidak mengerti dengan apa yang terpampang jelas di depan matanya. Maksudnya, who could mess up with Jung Yoonoh?
"Apa yang kau lakukan?" Ten mendudukan dirinya di depan Jaehyun, di kasurnya.
"Berkelahi, keren, kan?" Nadanya memang menunjukan kalau ia bangga, tetapi wajahnya tidak. Dia sedang kesal.
Ten merebahkan dirinya di kasur itu, matanya masih menatap Jaehyun. "Aku tidak tau kalau kau bisa melakukan itu juga. Memangnya dengan siapa?"
"Lee Taeyong"
"HAH?!"
Ia langsung kembali duduk. Tidak ada yang lebih mengejutkan dari ini. Ten pikir mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, dan tau-tau sudah berkelahi?
"Bagaimana bisa?"
"Dia yang mulai duluan, memukul pipiku" ujarnya sambil menunjuk bagian pipinya yang tetutup plester, "That jerk, he makes me so mad"
"Bukan begitu, maksudku.. apa masalahnya?"
"Ini semua karena kamu, oke?"
Ten merengut. Oke, ia semakin tidak mengerti situasi disini.
"Serius, aku tidak mengerti apapun!"
Ten dapat mendengar bagaimana Jaehyun membuang nafasnya kasar. Dia memperbaiki posisi duduknya, menatap Ten yang raut wajahnya benar benar serius.
"Apa kau benar benar menyukai dia?"
Pertanyaan pemukanya saja sudah seperti itu, batin Ten. Tetapi yang bertanya ini adalah sahabatnya yang sebenarnya juga sudah tau apa jawabannya.
"Ya"
"Aku harap ia tidak macam macam lagi"
"Jung Jaehyun, bisakah kita langsung berbicara jujur?"
"Kemarin aku bertemu dengan Taeyong di taman, ia dan Yerim seperti memiliki hubungan lebih dari teman. Jadi aku bertanya kepadanya, untuk mengkonfirmasi dan ternyata itu benar dia"
Loh?
"Jadi aku harap kau berhati hati" lanjutnya.
Berhati hati sementara hatinya sudah terlanjur hancur lagi. Ia kembali teringat dengan dua orang di starbucks hari itu, berarti itu memang benar benar mereka.
Lalu, apa gunanya dia di dalam hidup Lee Taeyong, kalau begitu?
"Kau tidak sedang bercanda, kan?"
Jaehyun menggeleng.
Ia harus bertemu dengan Taeyong secepatnya.
Tempat pertemuan mereka tidak lain adalah atap akademi. Langit sudah berubah menjadi jingga bercampur merah muda, matahari hampir tenggelam di barat. Sementara ia menikmati keheningannya bersama Taeyong selama lima menit terakhir, Ten kembali mempertanyakan dirinya sendiri.
Apa kau benar benar menyukainya?
Kalau tidak, maka ia tidak perlu repot repot meminta penjelasan dari Taeyong.
Yang jelas adalah, wajah Taeyong tidak lebih baik dibanding Jaehyun. Plester di pelipisnya dan bibirnya juga luka.
"Uh.. Taeyong-ah"
Ten tau Taeyong sudah menaruh perhatiannya. Tinggal gilirannya melanjutkan. Ia menarik nafasnya, dan mulai berbicara.
"Sebenarnya kita ini apa?"
Butuh keberanian ekstra baginya untuk menanyakan hal yang terkesan simple itu. Maknanya begitu besar.
"Maksudku.. Kita bahkan tidak memiliki ikatan resmi. Bukan maksudku menagih itu semua, tidak. Aku nyaman dengan semua ini. Tetapi, bisakah kau beri aku sedikit penjelasan?"
Kalau mau diutarakan, Taeyong sendiri tidak tau hubungan macam apa yang terjadi di antara mereka. Bukan hanya dia dan Ten, namun juga dia dan Yerim. Benar kata Jaehyun, ia menggantungkan mereka.
Taeyong menyukai Ten. Tidak, ia bahkan mencintainya. Melebihi rasa cintanya kepada animasi animasi studio ghiblinya. Tetapi semua yang telah ia lakukan bersama Yerim membuatnya harus berpikir ulang.
Siapakah yang ia butuhkan?
Yang terbaik atau yang selalu ada?
"Entahlah"
Sebuah jawaban yang Ten harap tidak akan pernah keluar dari mulut seorang Lee Taeyong. Ia pikir sebuah kalimat manis yang akan keluar dari situ,kenyataannya adalah begitu pahit. Lebih pahit dibanding sebuah espresso.
"Nah, kau bahkan tidak tau"
Mengabaikan sesak di ulu hatinya, Ten masih berusaha untuk terlihat biasa saja. Dia laki laki juga, tidak seharusnya menunjukan bagaimana lemahnya dia hanya karena hal kecil dengan dampak besar bernama cinta.
"Bagaimana kalau kita sudahi saja?"
Lee Taeyong langsung memutar badannya menghadap Ten yang malah menatap ujung sepatunya. Punggungnya naik turun.
"Tidak. Hei, kenapa begini?"
Tangannya berusaha memegang rahang laki laki dengan rambut hitam itu, namun tidak bisa. Ten benar benar menjaga dirinya dari sentuhan Taeyong sekecil apapun.
"Kita tidak bisa begini. Apa kau pikir aku baik baik saja disaat orang berpikir bahwa kita sudah sangat dekat tetapi pada kenyataannya kau malah menghabiskan waktumu bersama orang lain?"
"Ten, aku—"
"Aku masih cukup tau diri, kok, untuk tau kalau aku memang tidak pantas untuk mengekangmu. Kita hanya teman dan tidak pernah lebih dari itu. Jadi aku tidak memiliki hak apapun. Benar begitu?"
Taeyong tidak menjawab. Di satu sisi, tentu jawabannya adalah benar. Namun sisi lainnya memberontak. Yang ia inginkan bukanlah Ten yang bersikap seperti ini kepadanya.
"Jadi, apa kau benar benar menjalin hubungan dengan Yerim?"
Taeyong menggeleng. "Hanya teman. Sama saja seperti kita"
"Sama saja seperti kita. Berarti sudah banyak hal yang kalian lakukan bersama. Pernah berciuman?"
Butuh beberapa detik sampai akhirnya Taeyong mengangguk.
Ia tidak tau bahwa mendapatkan sebuah kejujuran sama sakitnya dengan sebuah kebohongan manis. Tetapi Ten kembali mengangguk mengerti meski sebenarnya masih banyak pertanyaan di dalam pikirannya.
So, Ten ask himself, apakah kau marah karena dia teman yang merahasiakan segalanya atau kecewa karena dia kekasih yang menghancurkan hatimu?
"Wah, aku benar benar sudah ketinggalan banyak, ya? Memang sebuah kesalahan dari awal karena menjadi penggemarmu dari balik pintu kaca itu dan terlebih lagi sedikit berharap lebih dari seorang Lee Taeyong" ujarnya sebelum kembali melanjutkan.
"I'm giving up on you. Mungkin kita benar benar harus berhenti disini"
"Tidak, kau tidak bisa melakukan itu!"
"Kenapa?"
"Karena ini bukan hanya tentang kau. Aku benar benar mencintaimu, Ten"
Ten sendiri tidak percaya bagaimana ia bisa mempercayai bualan murahan seperti itu.
"Dan setelah kau menghabiskan banyak waktu dengan Yerim? Kau tidak bisa menghancurkan hatinya juga, Lee Taeyong. Dia benar benar mencintaimu, mungkin lebih dariku dan lebih dari yang kita bayangkan"
Membiarkan hatinya terasa ditikam oleh ribuan pisau yang baru diasah saat mengatakannya. Ten berusaha menahan cairan bodoh yang memaksa untuk keluar dari matanya. Setidaknya jangan sekarang.
"Dari awal memang sudah salah. Dan ini adalah kesempatan untuk kembali ke hal yang lebih benar. Kau punya Yerim dan aku punya Primmy. Kita mempunyai kesempatan itu masing masing"
Ten berdiri dari duduknya. Bahkan cerita impiannya sudah berakhir sebelum ini dimulai.
Tetapi tangan itu menahannya. Menahannya dari berlalu maupun keputus asaannya dalam menulis kisah cinta di buku hidupnya.
"Kalau mencintaimu adalah sebuah kesalahan, aku tidak mau menjadi benar"
Ten meneguk salivanya kasar. Memohon Lee Taeyong untuk berhenti di dalam hati.
"If being right means being without you, I'd rather live a wrong doing life"
Dan semua hal yang sudah ia tahan sejak berminggu minggu yang lalu pecah. Ia berusaha menundukan wajahnya serendah yang ia mampu, menutup diri dari dunia bahwa ia sedang berada di titik paling menyedihkan di dalam hidupnya.
Ketika Taeyong menariknya kedalam pelukan, Ten langsung mengarahkan telapak tangannya untuk menutup mukanya. Mencegah cairan bodoh tadi membahasi baju laki laki Lee ini.
"Aku minta maaf"
Ten menggeleng. Maknanya ambigu. Entah Taeyong meminta maaf karena telah menghancurkan kepercayaannya atau malah karena dia ingin meninggalkannya lebih lama dan tidak akan pernah kembali lagi.
Ketika Taeyong makin mengeratkan pelukannya dan mulai mengecup kepalanya, Ten membebaskan tangannya dan membalas pelukan Taeyong. Meski pertanyaan itu masih berkecimpung di otaknya.
Apakah dia miliknya?
.
.
.
TBC
.
.
a.n: 2,7k kali ini! Walaupun full of conflict + anti klimaks di akhir, yang penting kita udah ngelewatin semuanya! *throws_confetti .jpg* Dan berarti tinggal 2-3 chapter setelah ini! Salah satunya adalah epilog ya, guys hehe.
Merasa jahat lagi pas bikin JaeYong yang biasanya unyu unyu ini malah jadi berantem, maaf semuanya T-T nanti baikan kok baikan.
Don't forget to follow, fav & review! Aku bener bener menghargai setiap review yang kalian kirim! Xo~
