Malam Natal; fluff, romance; 895w

.

.

.

Sehun melangkah pelan mengelilingi daerah perumahannya yang dipenuhi kerlap-kerlip lampu berwarna-warni menghiasi rumah, pintu, jendela, pohon, bahkan kotak pos. Hiasan-hiasan yang memenuhi rumah-rumah memberikan kesan hangat nan ceria, kontras dengan putih dan dinginnya salju yang memenuhi daerah sekitarnya. Dan ditengah hiruk-pikuk tetangganya yang menyambut perayaan natal dengan atmosfir yang meriah namun hangat, ia justru merasa kedinginan dan sendirian. Secara insting, ia mengeratkan sweater tebal yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Jelas sekali sweater abu-abu itu bukanlah miliknya dari gerakannya yang selalu menciumi bau yang menguar dari pakaian berbahan rajutan itu. Seolah ia berusaha mengingat sesuatu dengan bantuan bau yang menempel di sana.

Melihat sebuah bangku taman yang kosong, ia pun memilih untuk menghampirinya dan menghempaskan dirinya di sana. Kedua matanya mengalihkan pandangannya pada beberapa anak yang masih berlari-lari di sekitar rumah mereka dengan ceria. Sepasang remaja terlihat bergandengan tangan, sepertinya si laki-laki mengantarkan si perempuan pulang setelah menghabiskan hari sebelum natal bersama. Sehun tersenyum miris melihatnya karena ia dulu seperti itu, bahkan mencari kado natal berdua sebelum menikah. Dan setelah menikah, ia justru tidak bisa merayakan natal dengan pasangannya. Menghela nafas berat, ia pun memutuskan untuk pulang dan tidur karena sepertinya hanya pilihan itu saja yang ia miliki.

Akhirnya Sehun pun memilih bangkit dari duduknya dan berbalik ke arah rumahnya. Namun belum sempat ia melangkah, wajahnya menabrak bahu seseorang yang membuatnya terhuyung. Hampir saja ia jatuh kalau orang yang ditabraknya tidak memegang lengannya juga -ehem-pinggangnya. Tangan kirinya juga mencengkram lengan orang tersebut dengan kuat karena tidak ada hal lain yang bisa ia cengkeram. Walau jantungnya berdetak cepat karena kaget (juga takut jatuh sebenarnya), ia merasa sangat familiar dengan sentuhan pria ini (Sehun yakin seratus persen ia pria karena lengannya yang kekar).

"Kau tahu kalau memakai baju orang tanpa seijin, ah, maksudku tanpa sepengetahuan si pemilik sama saja mencuri?" tanya pria tersebut yang terdengar lebih seperti sebuah ucapan bernada candaan. Tapi bukan kalimat yang dilontarkan pria itu yang membuat Sehun tersentak kaget, melainkan suaranya. Suara berat yang sudah tiga hari terakhir ini tidak ia dengar kembali menyapa telinganya dan membuat hatinya berdesir. Buru-buru ia melepaskan pegangannya untuk memastikan sesuatu.

"Jongin!?" seru Sehun kaget ketika mendapati pria itu ternyata adalah Jongin, suaminya.

"Tapi setelah dilihat-lihat lagi, aku lebih senang melihatmu memakai pakaianku yang kebesaran di tubuhmu, Sehun-ah," ucap Jongin dengan salah satu bibirnya ditarik ke atas dan kedua mata menggodanya.

Biasanya ketika Sehun digoda Jongin, ia akan bersemu merah, menundukkan kepalanya dan berlari pergi sambil berteriak agar Jongin menjauhinya yang dibalas tawa suaminya. Namun sayang ini tidak seperti biasanya karena Sehun justru berteriak kesal dengan kedua mata yang dipenuhi air mata siap membasahi kedua pipi mulusnya.

"JONGIN KAU MENYEBALKAN!" seru Sehun lalu memukul dada Jongin dengan kesal.

"Iya, aku tahu," ucap Jongin yang dipukuli oleh Sehun. Ia hanya terdiam, tak bergeming sama sekali seolah menerima perlakuan Sehun padanya. Seolah ia mengakui bahwa ia salah. Dan ia maklum akan tingkah Sehun saat ini karena pada dasarnya, ia memang salah. Tapi toh ia lakukan ini juga untuk Sehun.

"Aku kira kau tidak pulang, kau tahu!?" kesal Sehun masih memukuli Jongin walau lebih pelan sekarang.

Jongin hanya terkekeh kecil lalu merangkul Sehun, memeluknya erat demi menyalurkan rasa rindunya yang membludak namun sedari tadi ia tahan. Yeah, karena Oh Sehun, ralat, Kim Sehun masih menumpahkan kekesalannya dan sekarang menangis dalam pelukannya. Oh, ia menjadi merasa sangat bersalah sekali.

"Tapi sekarang aku pulang, kan?" kata Jongin sambil mengusap bahu Sehun pelan, berusaha menenangkannya. Ia menghirup aroma rambut Sehun yang menyegarkan dan tentu saja ia rindukan lalu mengecup puncak kepalanya sayang.

"K-kenapa ti-tidak bilang!?" tuntut Sehun sedikit terbata dan tidak jelas karena ia masih menangis di dada Jongin.

"Hmm, surprise?" ucap Jongin tidak yakin kemudian tertawa karena lelucon garingnya yang mengundang tawa Sehun walau hanya sebentar.

"Tidak lucu," gumam Sehun lalu menyenderkan kepalanya di bahu Jongin. Ia merasa kehabisan nafas, rupanya. "Kau kan bisa menghubungiku! Aku meneleponmu berkali-kali tapi selalu kau alihkan! Kau tahu betapa menyebalkannya dirimu itu!?"

"Tidak mungkin aku tidak tahu kalau kau terus mengucapkannya setiap hari, sayang," kekeh Jongin kemudian mencuri ciuman di pipi Sehun yang masih basah.

"Ish, menyebalkan!" gerutu Sehun

"Lagipula, pekerjaanku banyak sekali, Sehun-ah. Aku sengaja tidak menghubungimu tiga hari ini karena sedang berusaha menjadi suami yang baik untukmu."

"Maksudnya?" tanya Sehun tak mengerti. Ia menengadahkan kepalanya menatap Jongin dengan tatapan bertanya-tanya. Tidak tahan, Jongin mengecup bibir Sehun singkat sebelum menjelaskan.

"Aku sengaja tidak menghubungimu sama sekali karena aku sedang ngebuuuut sekali~ kau tahu kan seseorang perlu konsentrasi penuh ketika sedang menyetir terlebih kalau ngebut? Dan kamu," Jongin mencubit hidung Sehun kemudian mengecupnya lembut, "Adalah pengalih perhatianku, sayang. Kenapa? Karena aku ingin menyelesaikan tugasku secepatnya dan pulang untuk merayakan natal."

"Setidaknya kau bilang dulu padaku!" gerutu Sehun tidak terima, berusaha menutupi pipinya yang memanas dan kenyataan bahwa ia tersentuh mendengar alasan Jongin.

"Yang penting aku di sini sekarang, kan?" goda Jongin membuat wajah Sehun memerah.

"Tapi aku tidak memasak apapun, bodoh!" kesal Sehun lagi.

"Setidaknya masih ada yang bisa dimakan," ucap Jongin enteng.

"Tidak ada karena semua persediaan sudah habis!" seru Sehun.

Setelah mendengar seruannya, tiba-tiba Jongin memasang seringai di wajahnya dan menatap Sehun tajam. Menatap Sehun dengan rasa lapar tersirat di sana. Sehun bergidik ngeri sendiri melihatnya dan kenyataan kalau Jongin masih memeluknya membuatnya merasa tidak nyaman entah kenapa padahal Jongin adalah suaminya. Dan perasaan tak enaknya pun terbukti ketika Jongin membuka mulutnya dan berkata, "Well, tidak ada salahnya kan memakan istri sendiri?"

"KIM JONGIIIIIIIIIIIINNN!"

.

.

.

F I N

Karena dosen MKP menyebalkan, maka aku pun membuat ini~! Merry early Christmas for everyone who celebrate it~~! Ngehehehe aku engga sih, tapi mari kita bergembira bersama! Yehet~! Ohorat~! ~*\(^u^)/*~

Btw, aku langsung beridiot (?) ria setelah selesai ngetik dan ngebaca ini ulang orz toloooongg~ XD

Ngomong-ngomong, jangan protes kalo aku bakal update ngaret soalnya abis libur natal aku UAS yippeeeeeeyy~ /joget2 geje sambil nangis/ tapi jangan khawatir, soalnya aku udah nulis kaihun drabble banyaaaakk banget jadi tinggal ngepost hohohohoooo~

Sampai berjumpa lagi kawan~ o/