AKU BUKAN YANG PUNYA XXX HOLIC KARENA AKU TIDAK SEJENIUS PARA LADY CLAMP. KALAU AKU YANG PUNYA, GENRE XXX HOLIC BAKAL BERUBAH 100 % JADI SHONEN AI.
Ah... mengapa aku menulis kisah begitu serius?
Chapter 11
Decision I
x
x
x
Kediaman pemimpin grub Yukimura sama seperti rumah yakuza pada umumnya. Bergaya tradisional dengan taman di tengahnya. Kedatangan mereka yang tidak diduga, kedatangan seorang Doumeki yang tidak diduga lebih tepatnya, membuat sedikit keributan yang menarik. Segera mereka diarahkan ke wilayah paling pribadi klan Yukimura, suatu bentuk kepercayaan akibat kerjasama yang dibangun selama puluhan tahun. Walau Kimihiro tidak yakin Doumeki akan melakukan hal yang sama dengan Yukimura-san atau siapapun.
Mengejutkan, mereka tidak dibawa menuju kamar tidur, seperti seharusnya jika mengunjungi orang sakit. Melainkan, dibawa menuju ke ruang kerja Yukimura-san. Kimihiro membeku diambang pintu saat melihat pria yang ditebaknya sebagai sekertaris Yukimura sedang mengganti perban di perut Yukimura-san.
"Maafkan kekacauan ini, Doumeki-san. Aku tidak ingin membuang waktu untuk bertemu denganmu."
Doumeki masuk tanpa ragu dan duduk di kursi yang disediakan di depan meja kerja. Kimihiro berdiri tepat di belakangnya."Bagaimana kesehatanmu?"
"Tidak seburuk kelihatannya," matanya jatuh pada Kimihiro. "Kulihat kau juga ditemani dengan orang yang sama, Doumeki-san? Apa dia sekertarismu?" Kimihiro berusaha tidak mengerutkan alis atau mengerdik. Ia tetap menjaga eskpresinya, membalas tatapan Yukimura-san tanpa ragu, tapi juga tidak keluar dari sopan santun.
Doumeki menyesap teh yang disuguhkan untuknya. "Bisa dibilang begitu."
"Apa yang membawamu kemari?" tipikial yakuza, batin Doumeki. Tidak ambil pusing untuk pertanyaan berbelit-belit.
"Kami sedang menyelidiki mengapa putrimu bisa dirasuki, Yukimura-san."
"Ah... kurasa kau memegang janjimu untuk membantuku mencari Misae," ada kesedihan di matanya. "Terima kasih, aku tidak menyangka kau mau berbuat sejauh itu."
"Jangan berterima kasih. Siapapun yang menculiknya juga menyerangku. Jelas menghilangnya Misae-san juga urusanku."
"Apa yang bisa kulakukan untuk mu?"
"Kami membutuhkan benda yang sering dipakai oleh Misae-san."
Yukimura-san memberikan isyarat pada sekertarisnya.
"Kupikir kau tidak memiliki peramal klan, Doumeki-san?"
Sekertarisnya memberikan jepit rambut pada Doumeki.
"Benar. Tapi itu tidak berarti aku tidak memiliki orang yang bisa membantuku."
"Ah... benar. Kau seorang Doumeki, lagi pula," ia menyungingkan senyum misterius.
Mereka tidak berlama-lama di tempat itu. Kimihiro menyadari, walau Doumeki tidak menunjukkan kecemasan apapun, ide hanya berdua di tengah-tengah markas yakuza merupakan tindakan penuh resiko. Sekalipun Kimihiro yakin tidak akan ada orang, jika mereka ada, yang berani mengusik Doumeki.
Di dalam mobil Doumeki memberikan jepit itu pada Kimihiro, "Kau bisa melakukan sesuatu dengan ini, kan?"
Kimihiro mengangguk, dan menyentuhnya. Suara jeritan yang sangat keras membuat telinga Kimihiro berdenging. Sambil mengerutkan kening ia cepat-cepat menyelipkan jepit itu ke saku bajunya. "Tak salah lagi, benda ini punya hubungan supranatural yang kuat dengan Misae-san. Energi yang tertinggal di dalamnya tidak menyenangkan."
xxXxx
Kimihiro sedang menyandarkan pipinya di kaca mobil yang dingin akibat AC saat pertanyaan melintas di benaknya, "Doumeki katakan padaku, kau bisa dengan mudah mengatakan siapa aku pada Kohane-chan. Tapi kau merahasiakannya pada Yukimura-san."
"Aku percaya pada Kohane, bukan Yukimura."
Kimihiro menegakkan punggung memandang Doumeki yang sedang berkonsentrasi menyetir, "Tapi kau berteman baik dengan klan Yukimura," itu bukan pertanyaan, bukan pula rasa penasaran.
Doumeki mengerdikkan bahu, "Musuhku tidak hanya satu, dan tidak semuanya tahu siapa kau sebenarnya. Aku ingin menjagamu sejauh mungkin dari kemungkinan terburuk."
Saat sampai di tengah kota, entah kenapa Kimihiro tiba-tiba pusing dan mual, "Kau kenapa?" tanya Doumeki. "Kau hampir terengah-engah."
"Aku baik-baik saja," Ia mulai merasa kedinginan dan giginya bergemeletuk.
"Kau kedinginan di musim panas." Kimihiro pasti menganggap apa yang dikatakan Doumeki lucu seandainya dia memang tidak kedinginan. Tapi Kimihiro kedinginan.
"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah merasakan seperti ini."
Doumeki mendorong gigi presnelingnya dan melesat, sementara Kimihiro semakin kehabisan napas. Doumeki kebingungan, ia meletakkan sebelah tangannya di kening Kimihiro, merasakan kulit pemuda itu membeku. Tiba-tiba, benturan keras membuat mobil mereka selip dan kaca jendela di samping Kimihiro pecah. Mobil mereka menabrak trotoar dan berputar keras. Kimihiro merasakan darah hangat merembes di keningnya dan pecahan kaca melukai tangannya yang terangkat melindungi kepala.
Doumeki melihat dua orang mengokang senapan otomatis dari mobil di seberang mereka lewat kaca jendela di sebelah Kimihiro, mengarahkannya pada pemuda itu. Doumeki berusaha menggeser mobilnya keluar dari badan jalan, memutar mobilnya menjauhkan Kimihiro dari jangkauan peluru. "Merunduk!" serunya sambil mendorong kepala Kimihiro, bersamaan dengan desingan peluru yang akhirnya menembus melewati mereka, memecahkan kaca jendela di sisi yang lain, dan mengenai tiang lampu di kejauhan. Doumeki menginjak rem dan memutar kasar kemudinya, menjaga keseimbangan mobil, memposisikan dirinya di depan moncong senapan. "Aku tidak bisa mengendalikan mobilnya!"
Mobil mereka melesat menabrak pengaman jalan dan masuk ke jalur berlawanan. Mobil-mobil lain melesat melewati mereka seperti air yang dibelah, terserempet mobil-mobil lainnya dan berakhir menyedihkan dengan menabrak lampu jalan atau masuk ke toko perkakas. Dan dengan sentakan yang tidak wajar, mesin mobil mati. Mereka tetap melesat berputar-putar melewati barisan mobil yang menghindar dan berhenti di samping trotoar dengan suara keras.
Doumeki melihat Sneaper yang mengincar mereka sudah menghilang tanpa memastikan misi mereka berhasil atau tidak. Kimihiro juga merasakan perbedaannya di udara di sekitarnya. Seakan-akan tidak ada tekanan udara yang membuatnya sesak napas lagi. Rasa leganya seperti sumbat botol yang terlepas. Doumeki melepas sabuk pengaman miliknya dan milik Kimihiro, lalu menarik pemuda itu keluar dari sana.
Kimihiro belum pernah mengalami kecelakaan mobil. Kecepatan dan kekerasan yang dasyat membuatnya terpana. Ia tidak merasakan sakit, hanya mati rasa, seolah-olah ada raksasa yang mengangkat lalu mengempaskan tubuhnya ke tanah. Sakitnya mungkin terasa sebentar lagi. Doumeki seketika mengendalikan keadaan. Pemuda itu tidak terluka atau tampak trauma dengan kejadian yang baru dialaminya. Ia langsung membantu sebisa mungkin korban yang lain. Ada begitu banyak yang terluka dan dalam sekejap mobil polisi datang disusul yang lain.
"Kau tidak apa-apa? Sebaiknya kau duduk," katanya sambil menggiringnya ke tepi trotoar.
"Aku tidak apa-apa," ujarnya keras kepala.
"Ya. Tapi kau shock." Lalu polisi datang untuk menanyai para saksi. Doumeki pergi memberikan keterangan, meninggalkannya duduk di tepi trotoar sendirian sambil mengayun-ayunkan tubuh, berusaha keras menghilangkan adrenaline dan ketegangan. Tak lama ia kembali.
"Apa yang kau katakan pada mereka?"
"Peperangan antar geng. Itu biasa di wilayah ini," Doumeki mengusap tengkuknya, matanya tampak lelah, "Kau berdarah," ia mengusap pipi Kimihiro.
"Aku baik-baik saja," jawabnya dengan nada tegang. Ia merasa mual, tapi mual yang berbeda. Jantungnya sakit seakan ada yang memukul dadanya; ia mengingat jelas bagaimana Doumeki memutar kemudi, menjauhkan sisi penumpang dari muntahan peluru dan menjadikan sisi kemudi menghadang lalu lintas.
Doumeki tidak berhak mengambil resiko semacam itu untuknya!
Doumeki membuyarkan pikiran Kimihiro saat bertanya, "Kenapa kau tidak mendapat pengelihatan apapun?"
Kali ini Kimihiro benar-benar lelah. Menjawab pertanyaan itu seakan menambah bebannya berkali-kali lipat. "Karena aku tidak bisa melihat takdirku sendiri. Mereka berniat membunuhku, Doumeki." Itu yang membuat ia tidak mendapatkan pengelihatan masa depan. Kemampuannya hanya berguna bagi orang lain, tidak diri sendiri.
Doumeki mengerutkan kening. "Ini sudah yang ketiga kalinya."
"Ketiga kalinya apa?"
"Pertama, saat kita pergi ke onsen, kedua, ayakashi yang berusaha masuk ke dalam kamarmu, dan ketiga, penembakan ini."
"Tapi kau yang diincar pembunuh sewaktu di onsen. Aku hanya pergi menyelamatkanmu."
"Dalam banyak sekenario, bukan aku yang terluka, tapi kau. Sekarang aku menyadari bahwa sejak awal kau lah yang diincar."
"Tapi kenapa..."
"Aku punya teori. Serangkaian penyerangan yang dilakukan padaku adalah untuk menguji sejauh mana kekuatanmu mencegah semua itu terjadi. Dan juga memastikan kebenaran bahwa kau adalah orang yang kupilih untuk menjadi peramal klan," ia diam sejenak. "Setelah melihat reaksiku, mereka memutuskan untuk memulai serangan."
Mata Kimihiro melebar oleh kengerian. Seharusnya Doumeki tidak mengutarakan teorinya dengan setenang itu! seandainya ia benar, maka keseluruhan kejadian ini adalah salahnya!
"Jangan mulai berpikir bodoh," sahut Doumeki seakan bisa membaca pikirannya.
"Tapi aku membawa bahaya padamu!"
"Bahaya selalu bersamaku, ada atau tidak dirimu." Doumeki menarik Kimihiro dalam pelukannya. "Aku akan melindungimu, seperti kau yang telah melindungi klan."
Pipi Kimihiro merona. Doumeki mengambil kesempatan itu untuk meraih Kimihiro dalam rengkuhannya dan menciumnya dalam. Kimihiro tidak sempat menutup mata saat semua itu terjadi, dan ia merasakan ciuman Doumeki sedikit berbeda dari sebelumnya. Ciuman itu sangat posesif dan dalam, manis sekaligus menuntut. Kimihiro menangkap mata-mata yang memperhatikan mereka, dengan enggan mendorong Doumeki menjauh. Pemuda itu menghentikan ciumannya, tapi tidak melepaskan pelukannya.
Sudut mata Kimihiro menangkap seorang ibu muda yang menutup mata anaknya dalam gendongan, dia berjalan cepat menjauhi mereka. Anak itu, dari bahu ibunya berusaha melepaskan tangan yang menutup matanya dan memandang mereka dengan mulut menga-nga. Kimihiro memerah seperti tomat.
"Idiot," bisik Kimihiro. "Kau menarik banyak perhatian."
"Aku tidak peduli," ia mengecup ringan puncak kepala dan dahi Kimihiro.
"Bagaimana kalau musuhmu melihat?"
"Biarkan mereka tahu kalau kau milikku," tangan Doumeki mengelayar di sepanjang punggung dan pantat Kimihiro. Seakan mencoba memastikan Kimihiro benar-benar nyata. Kimihiro menyandarkan kepalanya di ceruk antara bahu dan leher Doumeki. Menghirup bau maskulin yang membuat jantungnya kembali tenang. Seandainya di dunia ini cukup Doumeki saja yang bisa membuatnya hidup, ia tidak akan membutuhkan yang lain. Tapi keselamatan Doumeki lebih penting dari pada perasaan egoisnya. "Tindakanmu hanya akan membawa bahaya padaku. Seharusnya kau lebih tahu, bodoh," Kimihiro mengatakannya dengan lembut, tapi dengan nada sedih. Doumeki menatapnya sejenak, lalu mengistirahatkan dagunya di puncak kepala Kimihiro, dan berkata, "Terkadang aku berharap hidup di dunia dimana aku tidak akan melihatmu susah."
"Bodoh. Dunia tanpa kesusahan berarti dunia tanpa dirimu, kau seperti bisul di pantatku!"
Kimihiro merasakan bibir Doumeki tersenyum.
"Kurasa ini sudah waktunya kau menerima penobatanmu. Sudah kepalang basah untuk menyembunyikan siapa dirimu. Dengan menerima penobatan itu, kau bisa memperoleh perlindungan tidak hanya dariku atau Kurogane, tapi seluruh orang yang bersumpah setiap pada klan Doumeki."
"Aku tidak bisa!" Doumeki tidak mengerti jika penobatan itu akan membawa bahaya bagi dirinya. Tapi Kimihiro tidak bisa bilang dan membuat Doumeki mempertanyakan secara jelas ramalan yang dilihatnya. "Itu sama saja dengan mengekspose siapa aku pada semua musuhmu. Mungkin sekarang mereka tidak melakukan tindakan drastis, tapi tidak ada yang tahu apa yang mungkin mereka lakukan nantinya."
"Takut?"
"Ap—apa? APA ITU MASALAH SEKARANG? TENTU SAJA AKU TAKUT JIKA SEMUA ITU TARUHANNYA NYAWAMU!"
"Hn. Aku tidak merasakan bedanya mengakuimu sebagai milikku sekarang atau besok."
Pipi Kimihiro memerah, "POSISI PERAMAL KLAN TIDAK MEMBUATKU JADI MILIKMU, IDIOT! AKU SEPENUHNYA MANUSIA MERDEKA! DAN ITU JUGA TIDAK MEMBUATKU JADI KEKASIHMU ATAU BUDAKMU! MENJADI PELAYANMU SUDAH JAUH LEBIH BURUK!" setelah Kimihiro menenangkan diri, ia menambahkan, "Jelas ada bedanya. Sekarang aku tidak cukup kuat."
"Kita tidak bisa menundanya lebih lama lagi—"
"Aku tahu," ia menghela napas, "Kurasa ini sudah waktunya meminta bantuan Yuuko."
Doumeki menaikkan alis, "Kenapa tidak sejak awal?"
"INI YUUKO. Tidak ada yang beres apapun yang berkaitan dengannya," Kimihiro menghela napas. "Aku tidak tahu dia punya cara atau tidak menangani hal ini. Dia pernah berkata sanggup untuk membantuku."
"Kupikir Yuuko bisa."
Kimihiro tersenyum kecut. Apa Yuuko juga bisa melawan hitsuzen?
Tak lama, tempat kejadian mulai bersih; saksi-saksi sudah memberikan pernyataan dan semakin banyak orang yang berhasil mengarahkan kendaraannya melewati mobil-mobil yang hancur, sisa tabrakan beruntun dan semua kendaraan penyelamat.
Mobil-mobil derek datang untuk mengangkut mobil Doumeki dan lainnya yang rusak parah. Doumeki mengambil STNK dan kartu asuransi sebelum kembali bergabung dengan Kimihiro. "Untung ponselku tidak rusak," katanya. "Aku sudah menghubungi shinden-zukuri agar membawa mobil ganti."
Tidak lama, mobil ganti yang dijanjikan datang. Kelelahan, mereka duduk di kursi belakang. Kimihiro sudah tertidur lelap saat mobil mereka sampai di tempat tujuan. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan tampak bingung saat terbangun dan menyadari bahwa mereka tidak berada di shinden-zukuri. Tapi Kimihiro kenal benar tempat ini karena ia menghabiskan sebagian besar masa kecilnya disana. "Kau membawaku ke tempat Yuuko?"
"Kau bilang sendiri ingin meminta bantuannya. Aku tidak mau menghamburkan waktu," ia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Kimihiro.
Kimihiro tidak mengeluh, sekalipun ia tidak senang. Ia tidak mengharapkan akan bertemu wanita misterius itu secepat ini. Kimihiro mengikuti langkah Doumeki yang tidak ragu-ragu, seakan ia sudah hapal benar dan sering datang kemari. Tipikal Doumeki, itu pembawaan alaminya untuk bersikap seakan dia pemilik dunia ini.
Pintu depan terbuka saat kedua anak kecil yang tidak pernah tumbuh sejak Kimihiro kecil hingga sekarang. Makhluk gaib itu menyerukan selamat datang dan menarik mereka masuk, berkata Yuuko sudah menunggu. Apa yang tidak diketahui seorang penyihir dimensi, huh?
Yuuko duduk di tempat biasanya, sama misteriusnya dan dengan senyum seperti biasa juga. Ia menyambut mereka seakan baru beberapa jam mereka tidak bertemu, "Ara... ara... Doumeki dan Kimihiro... kuharap kalian membawakanku oleh-oleh..."
"Uh... Yuuko-san... kami bahkan baru selamat dari kematian."
Wanita itu tertawa lembut, "Silakan duduk kalau begitu. Sungguh jarang mendapati kalian mengunjungiku, ini seharusnya dirayakan! Apa kau tidak akan memasakkan untuk kami malam ini, Kimihiro-chan? Ada banyak sake, lagi pula."
"Yuuko-san~"
Yuuko tertawa, "Jadi, apa yang membawa kalian kemari?"
"Kami punya permintaan," sahut Doumeki.
"Hm? Tentu saja."
Kimihiro menggeliat tidak nyaman saat menjawab, "Aku ingin kau membantuku menghindari ramalanku, Yuuko-san..."
"Hm... itu akan sedikit sulit Kimihiro, dengan dirimu yang sekarang pembayarannya tidak akan sepadan dengan permintaanmu..."
"Jadi apa yang harus kulakukan? Kau bilang kau akan membantuku!" tuduh Kimihiro kesal.
Yuuko tertawa, "Kurasa kau akhirnya hilang akal, Kimihiro. Benar, aku akan membantumu," Kimihiro menghela napas lega, "Tapi hanya sebatas membantu dirimu pantas untuk membayar permintaanmu, Kimihiro."
"Huh?"
"Kau membawa benda yang sangat menarik di saku bajumu, Kimihiro."
"Eh?" Kimihiro memberikannya jepit rambut Misae-san pada Yuuko dengan hati-hati. Mengernyit saat benda itu menyentuh kulitnya, "Ini jepit rambut milik putri ketua klan Yukimura yang diculik."
"Kami berusaha mencari keberadaannya. Apa yang bisa kau lakukan dengan itu?" tanya Doumeki.
"Ah..." Yuuko menimang benda itu di tangannya. "Kupikir kita bisa memanfaatkannya," katanya sambil tersenyum misterius. "Dengan ini aku akan memaksa bangkit kekuatanmu."
x
x
x
Yuuko selalu punya cara, my dears... :D
Diiringi lagu Dicision - one ok rock.
