*jewer beberapa pembaca* Saya mutusin buat sedikit mempercepat update karena kok kayaknya ada yang bener-bener nganggep permintaan 60 review saya serius, ya. It has to stop. Saya lebih seneng yang kayak sebelumnya, kayak biasanya. Alias pas pembaca mereview bukan karena ada iming-iming update, tapi karena kalian memang pengen. Itu bikin saya jauh lebih geer, hehehe… *ciyum satu-satu*

Makasih, semuanya :)

Advice: mungkin lebih enak baca chapter ini di tempat yang rada sepi, biar khusyu'. Hyehehe...


Previously on A Housekeeping Heiress:

Terkapar dengan hidung berdarah dan penampilan berantakan, seorang pria yang sepertinya lebih tua dari Ichigo. Pria itu berambut gelap dan bahkan dari posisinya di lantai lorong apartemen, Ichigo dengan mudah menilai postur jangkungnya. Hampir setinggi Grimmjow.

"Hey, Grimmjow. Masih terlalu pagi untuk membuat keributan dan Ya Tuhan! Kau apakan pria itu?" Ichigo berseru kesal.

Grimmjow mengalihkan pandangannya dari si pria asing dan membalas tatapan Ichigo. "Bukan salahku. Si Brengsek ini yang memulainya dengan datang kemari."

Ichigo mengangkat kedua alisnya. Ia lalu maju dan mengulurkan tangannya; hendak membantu pria asing itu berdiri. "Anda siapa, Tuan?"

Pria dengan mata hijau laut itu sekilas mengarahkan pandangannya ke arah Rukia sebelum kemudian menjawab, "aku tunangan wanita yang berdiri di belakangmu."


Disclaimer: I like potato.


"Aku tunangan wanita yang berdiri di belakangmu."

Mata Ichigo melebar. Tanpa sadar, ia menarik kembali tangan yang ia ulurkan. Tiba-tiba ia tak tertarik lagi membantu pria ini berdiri. "Tunangan?", ulangnya.

"Bukan!" Grimmjow dan Rukia menyahut bersamaan.

Pria berambut hitam dengan mata hijau laut itu bangkit. Ia menyeka hidungnya yang berdarah. "Namaku Kaien. Shiba Kaien. Kau pasti Kurosaki Ichigo, ya? Senang bertemu denganmu." Kaien membungkuk.

Ichigo balas membungkuk; kaku. Ia tidak tahu harus menjawab apa. 'Senang bertemu denganmu juga' bukan kalimat yang terpikirkan olehnya saat ini.

"Aku berterima kasih karena kau sudah menjaga Ku—Ichinose dengan baik."

Kenapa kata-kata itu terdengar seperti sebuah sinyal yang menyiratkan akan adanya perpisahan?

"Sudah cukup, Shiba. Kau membuatku muak. Ayo, kita masuk saja lagi dan meneruskan sarapan kita." Grimmjow lalu membalikkan tubuh Rukia dan mendorong kedua bahu kecilnya. "Kurosaki, kau tunggu apa?"

Ichigo sudah kehilangan selera makannya. Siapa Shiba Kaien ini? Betulkah dia tunangan Rukia?

"Lepaskan dia, Jaegerjaques. Aku kesini untuk membawanya pulang."

Grimmjow menggeram marah. "Jangan berbicara seolah-olah Rukia adalah barang. Lagipula, siapa kau berhak atas dirinya? Pulang saja lah, Shiba. Kembalilah pada pelacur itu. Kasihan dia sudah menunggumu di Tokyo."

"Grimmjow! Jaga bicaramu!" Rukia memperingatkan.

Grimmjow tertawa mengejek. "Kenapa? Aku benar, kok. Iya kan, Shiba? Gara-gara wanita itu semuanya terjadi. Cih. Miyako adalah sahabat sejak kecil, kau bilang? Omong kosong."

"Sudah, hentikan. Grimmjow, kau masuk saja dan Kaien-dono, kumohon pulanglah. Aku rasa kita semua sudah tahu pertunangan ini tidak bisa dilanjutkan."

Tubuh Ichigo mendadak dingin. Jadi dia memang tunangan Rukia.

Shiba Kaien menggeleng. "Kau salah. Pertunangan ini bisa dan akan dilanjutkan. Aku akan menikahimu. Kau tidak perlu melakukan semua ini. Aku tidak pantas kau lindungi. Ini semua terjadi gara-gara aku dan aku akan bertanggung jawab. Kita pulang, ya?"

Potongan-potongan adegan yang berlangsung di hadapannya sebetulnya adalah sesuatu yang penuh perasaan; Shiba Kaien yang membungkuk dan mengelus pipi Rukia dengan tangan kanannya sembari tersenyum lembut. Tapi entah mengapa Ichigo tak menyukainya. Rasanya ada yang salah dengan gambar itu.

Ichigo tak menyukai mata Shiba yang menatap Rukia penuh kasih sayang. Ichigo tak menyukai bagaimana Rukia membalas tatapan itu dengan airmata yang tertahan. Ichigo tak menyukai bagaimana Grimmjow hanya menonton adegan itu dan tak melakukan sesuatu.

Yang paling penting, Ichigo tak menyukai bagaimana hatinya merasa sakit menyaksikan ini semua.

Tanpa banyak bicara, Ichigo kembali masuk ke apartemennya hanya untuk keluar kembali tiga puluh detik kemudian dengan membawa tas kerja.

"Kalian berdua masuklah. Selesaikan masalah kalian. Sampai jumpa, Rukia." Tangan Ichigo bergerak terangkat untuk mengacak rambut housekeepernya, namun tangan itu hanya sempat mengawang di udara untuk kemudian dia tarik lagi ke sisi tubuhnya.

Ichigo melemparkan senyumnya pada Rukia yang ia harap tampak tulus, lalu pergi.


Ichigo merasa ia datang ke rumah sakit lebih pagi ketimbang biasanya, mengingat sarapannya yang belum tersentuh. Tapi saat ia melangkahkan kaki di koridor Lantai 2, tempat di mana ruangannya berada, ia melihat Ishida sudah duduk di berdiri di depan pintu dengan dua tangan terlipat di depan dada.

Menyadari kedatangannya, Ishida membalikkan tubuh.

"Aku senang kau datang pagi. Ayo, buka pintunya. Aku tak punya banyak waktu."

Ichigo mengerutkan kening, namun tak menjawab. Ia melakukan apa yang Ishida minta.

Setelah mereka berdua masuk, Ichigo segera menutup pintu sementara Ishida sudah menyamankan dirinya sendiri di sofa.

"Baiklah. Ada apa ini, Ishida?"

Ishida menggerakkan tangannya. "Duduk dulu."

Mengabaikan fakta menyebalkan bahwa Ishida bersikap seolah-olah dialah yang memiliki ruangan itu, Ichigo mendudukkan dirinya sehingga kini mereka berhadapan.

"Kurosaki, kemana Unohana-sensei?"

Ichigo terkejut mendengar pertanyaan Ishida yang tak disangka-sangkanya.

"Apa maksudmu?"

"Jawab saja."

Ichigo menggaruk hidungnya. "Ia pergi berlibur ke Kyoto."

Ishida menaikkan kacamatanya. "Unohana-sensei yang bilang sendiri padamu?"

"Tidak. Ketika aku menelpon apartemennya, mesin penjawabnya berkata begitu."

Ishida mengusap-usap dagunya. "Begitukah? Sejak kapan?"

"Sejak… ", ekspresi Ichigo menegang, "nyaris sebulan yang lalu. Ishida…"

Ishida mengangguk. "Sebulan berlibur di Kyoto, tidakkah menurutmu terlalu lama?"

Ichigo memilih untuk menganggap lalu pertanyaan retorikal itu. "Katakan padaku ada apa."

Ishida menyandarkan punggungnya. "Nemu memberi informasi selain tentang Yamamoto-san. Kau tahu Aizen dulu pernah bekerja di Seireitei Presbyterian?"

Mata Ichigo terbelalak. "Apa?"


Rukia menaruh cangkir teh di atas meja. Sarapan yang ia buat masih utuh dan sekarang sudah mulai dingin. Ichigo tadi langsung pergi, padahal ia belum makan.

Ichigo…

Rukia menghela nafas. Ia mengambil nampan dan menyiapkan seporsi sarapan dan segelas jus wortel.

"Makan ya, Grimmjow."

Grimmjow cemberut.

"Kau mau mengusirku, ya?" tuduhnya kesal.

Rukia memasang wajah masam. "Tidak. Aku tidak mau mengusirmu. Aku mau kau makan dulu, sementara aku berbicara dengan Kaien-dono."

Grimmjow mengangkat bahunya. "Baiklah. Aku akan sarapan sambil menonton siaran berita pagi."

Rukia tersenyum. "Terima kasih. Oh, dan Grimmkitty!"

Grimmjow menolehkan kepala dan menaikkan satu alisnya, "apa?"

"Apa kau akan menceritakan ini pada Nii-sama?"

Grimmjow tertawa mengejek. "Kita sedang membicarakan Kuchiki Byakuya. Menurutmu perlukah aku memberitahunya?"


"Karakura General adalah rumah sakit pertama di Jepang yang mempekerjakannya."

Ishida menggeleng. "Itu yang kita tahu. Aizen sudah di Seireitei selepas lulus dari Todai."

"Kupikir dia langsung melanjutkannya ke John Hopkins."

"Tidak. Aku juga tidak mengerti kenapa fakta ini tidak diketahui. Yang aneh adalah, alih-alih bekerja sebagai ko-ass di Seireitei, ia malahan bekerja di Departemen Penelitian dan Pengembangan. Dia jenius, aku harus mengakui kualitas itu dalam dirinya. Tapi bidang kerja yang berbeda dengan latar belakang pendidikannya… mau tidak mau aku harus mempertanyakan itu, Kurosaki."

Ichigo masih memproses informasi ini dengan keterkejutan, tapi apa yang barusan dikatakan Ishida tadi belum apa-apa.

"Di Litbang, dia bekerja dengan Urahara Kisuke."

Jika gedung rumah sakit meledak saat itu juga, Ichigo tidak akan repot-repot bereaksi. Otaknya serasa hilang fungsi saat mendengar nama sahabat ayahnya disebut.

"Urahara-san? P-penjual… penjual permen itu?"

"Yah, sekarang kita tahu dia bukan sekadar pemilik toko gula-gula yang mesum dan menyebalkan."

"Ada berapa orang yang tahu semua fakta ini, Ishida?"

"Seharusnya semua petinggi Seireitei ditambah kita berdua. Ada satu hal lagi yang belum kuberitahukan padamu, Kurosaki."

Waktu bahkan belum menyentuh pukul delapan pagi, tapi rasanya Ichigo sudah kelelahan. Semua informasi ini, kejadian tadi pagi…

Apa hubungan kejadian tadi pagi dengan rasa lelahnya? Tidak masuk akal.

"Ada lagi? Masih berapa banyak yang disembunyikan oleh Aizen dan yang lainnya?"

Ishida memilih untuk tidak mejawab pertanyaan yang kedua. "Kau tahu kenapa Urahara-san keluar dari rumah sakit itu? Waktu itu ia mengembangkan sebuah formula yang bisa meningkatkan kinerja dan sensitifitas saraf-saraf di tubuh manusia, sebuah obat yang memang dirancang khusus untuk penderita kasus-kasus kelainan saraf. Sialnya, belum sempurna obat itu ia buat, Aizen menyetir penelitian sehingga segala sesuatunya melenceng dari tujuan awal. Dia membuat formula itu memiliki fungsi yang sepenuhnya merupakan kebalikan dari apa yang ingin Urahara-san capai."

Ini semua sudah seperti film dan Ichigo tidak menyukainya.

"Aku tidak mengerti bagaimana, yang aku tahu Seireitei akhirnya melimpahkan kesalahan pada Urahara-san. Ia dipecat dan diberi rekomendasi merah sehingga tidak ada satupun perusahaan atau badan usaha yang mau mempekerjakannya. Sayangnya, ia juga tak punya sesuatu untuk membuktikan bahwa ia tak ada sangkut pautnya dengan eksperimen gelap itu."

Ichigo semakin pusing. "Apa hubungan ini semua dengan Yamamoto Jii-san?"

"Yamamoto menghentikan penelitian dan menghancurkan semua yang sudah dibuat Aizen; masih berpikir bahwa Urahara-san lah yang menciptakannya."

"Ya Tuhan…"

"Seireitei menyebut peristiwa ini dengan kecelakaan kerja."

Ichigo mengerutkan kening. "Kecelakaan kerja? Bagaimana bisa?"

Ishida kembali menaikkan kacamatanya yang melorot. "Satu orang telah merasakan efek obat ini, Kurosaki. Sayang sekali dia sudah mati."


"Minum dulu tehnya, Kaien-dono."

Saat ini yang tengah duduk saling berhadapan di meja makan adalah Shiba Kaien dan Kuchiki Rukia; bukan housekeeper favorit dokter bedah saraf dan pria asing yang hidungnya dipukul oleh preman Grimmjow Jaegerjaques .

Kaien menyesap tehnya dan tersenyum lebar. "Kurasa yang merindukan teh yang diseduh tanganmu bukan hanya Kuchiki Byakuya."

Nama itu menggoreskan rasa nyeri di hari Rukia.

"Kuchiki, ayo menikah."

Rukia tidak membelalakkan matanya, tidak megap-megap, tidak juga membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut.

"Aku tidak punya alasan untuk menjawab 'baiklah' atau 'iya'."

Kaien tahu maksudnya, namun ia sendiri juga tidak tahu harus menjelaskan apa dan bagaimana. Alih-alih ia bertanya.

"Aku harus apa supaya kau bisa pulang?"

"Tidak ada. Aku menjanjikan kepulangan ke Tokyo pada diriku sendiri jika satu hal ini terwujud, dan aku tidak yakin hal itu adalah sesuatu yang bisa kau lakukan." Lalu ekspresi Rukia melembut, "pulanglah Kaien-dono. Ada alasannya aku pergi dan membatalkan pertunangan. Kau pasti juga tahu apa alasan itu iya, kan?"

Kaien mengusap wajahnya dengan gestur lesu.

"Aku akan berada di Karakura selama beberapa hari. Semoga aku akan mampu meyakinkanmu untuk pulang, Kuchiki. Pada akhirnya." Kaien bangkit dari kursi makan dan tersenyum pada Rukia. "Aku tunggu."


Rukia menutup kotak makan bergambar stroberi itu sebelum kemudian menutupnya dengan kain bermotif Chappy The Bunny edisi Chappy Goes to Moon. Karena Ichigo belum sarapan, ia membawakan makan siangnya dengan porsi sedikit lebih banyak daripada hari-hari biasa.

Kenapa Ichigo tadi langsung berangkat ke rumah sakit? Apa tidak bisa dia makan dulu? Apa keributan yang dibuat Grimmjow dan Kaien-dono melenyapkan nafsu makannya? Bagaimana dia bisa menjalankan tugas-tugasnya sebagai dokter jika perutnya tidak diisi? Apalagi ini Januari. Bekerja dengan perut kosong di musim dingin, bukankah itu tidak baik?

Dan kenapa senyum Ichigo tadi pagi membuat Rukia sedih?

Rukia menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya. Ia meresapi keheningan apartemen Ichigo dan memutuskan bahwa kali ini, ia tidak menyukainya. Grimmjow juga sudah pergi. Setelah menghabiskan sarapannya, ia mengatakan pada Rukia bahwa ia akan keluar dan baru pulang saat matahari terbenam. Ia juga tak lupa mengingatkan agar Rukia tak sungkan menelponnya kalau-kalau 'si bedebah brengsek' cari gara-gara lagi.

Rukia memutar kepalanya untuk melihat jam dinding. Sudah mulai tengah hari. Sebaiknya ia berangkat sekarang.


Suasana perbatasan Karakura-cho dan Naruki tentu saja tidak sehingar-bingar di pusat kota. Tidak banyak bisnis di sini, mengingat penduduknya memilih untuk sekalian bekerja di Karakura atau Naruki.

Di teras salah satu dari sedikit kafe yang ada, Grimmjow menyesap teh dinginnya yang kedua. Di hadapannya, seorang wanita cantik tengah meneguk susu pesanannya dengan ekspresi bahagia.

"Aku tidak tahu kenapa aku mau bekerja untuk wanita aneh sepertimu."

Yoruichi mengedipkan satu matanya. "Hati-hati, Grimmjow. Kau berbicara dengan seorang wanita yang telah menolak 348 pria yang menginginkan tangannya dalam sebuah mahligai rumah tangga."

Grimmjow tertawa melecehkan. "Dan itu semua demi seorang pria mesum buangan Seireitei?"

Yoruichi melambaikan tangannya dengan santai, seolah-olah komentar pria di hadapannya itu tidak menyinggung topik yang sensitif. "Kau terlalu sering mendengarkan gosip. Baiklah, kita hentikan dulu obrolan santai kita. Apa saja yang kau dapat?"

Wajah Grimmjow mendadak serius. "Unohana berada di Funabori dua hari yang lalu. Aku punya kesan ia memilih rute yang tidak umum ke Tokyo. Kuperkirakan ia akan sampai di Seireitei dalam lima atau enam hari. Kedua, 'pengobatan' si pria tua botak akan dimulai sekitar seminggu lagi. Aizen tampak mengalami kesulitan dalam mengembangkan formula itu. Menghubungkan keduanya, situasi bisa sulit jika Unohana tidak bisa sampai lebih cepat dari dugaanku."

Yoruichi mengetuk-ngetukkan jemarinya pada pegangan gelas besarnya. "Unohana melakukan yang terbaik yang dia bisa. Kau harus ingat dia juga sedang menjaga dirinya, Grimmjow. Dia harus yakin ia telah mengelabui anak buah Aizen. Ah, aku kesal sekali dengan fakta bahwa kita tidak bisa menghubungi Unohana langsung."

"Aku masih belum tahu banyak soal Si Uban dan Si Kambing Tua, tapi kurasa mereka selangkah lebih maju dari Aizen."

Yoruichi mengangguk. "Kisuke akan membantu mereka. Apa lagi?"

"Selain drama? Hampir tidak ada."

Pada ini, Yoruichi menyipitkan matanya. "Jadi betul ya, desas desus yang kudengar bahwa Shiba Kaien ada di Karakura?"

Grimmjow tidak menjawab; hanya mendengus.

"Kau apakan dia?" ledek Yoruichi.

"Kuberi dia kalung bunga sebagai aksi penyambutan. Menurutmu bagaimana?"

"Lalu si putri es Kuchiki?"

"Tidak tahu. Sepertinya Rukia bersikeras membatalkan pertunangan."

Yoruichi menempelkan telunjuk di dagu lancipnya. "Ini akan seru. Lalu Ichigo bagaimana?"

Grimmjow menatap Yoruichi seakan wanita itu sudah tidak waras. "Apa urusan orang itu dengan semua drama ini? Dia membuatku sakit kepala."

Yoruichi terbahak-bahak. "Aku harus selalu up-to-date. Aku punya perasaan aku akan menyukai drama ini." Wanita berambut panjang itu lalu berdiri—namun setelah meneguk habis susunya, tentu—dan menelengkan kepalanya. "Jadi ikut mobilku, tidak? Byakuya-bo sudah menunggumu."

Dengan kesal Grimmjow bangkit dan berjalan mengikuti Yoruichi.

"Omong-omong, Grimmjow. Kau ingat Mimi-chan, kucingku yang baru? Sekarang dia sudah masuk masa kawin."

"Dan hubungannya denganku adalah?"

"Aku tahu kau punya kucing yang seusia dengan Mimi-chan. Bagaimana? Kita bisa jadi besan. Menarik sekali, bukan?"

"Tidak dan berhentilah bicara, Shihouin."


Keputusan Ichigo sudah bulat. Ia akan mengundurkan diri dari tim Aizen dan melaporkan semuanya pada polisi. Mungkin Urahara-san bisa kembali mendapatkan nama baiknya juga; itu akan menjadi bonus untuk Ichigo.

Semua sudah pasti di kepalanya. Memang ada beberapa hal yang hilang dari keseluruhan gambar; seperti mengapa Seireitei belum bertindak. Apakah mereka tidak tahu? Betulkan semua ini hanya dilatar belakangi oleh dendam Aizen pada Seireitei, pada Yamamoto Jii-san? Jika hanya untuk ini, sepertinya Aizen bertindak terlalu jauh. Ada hal lain yang tidak diketahuinya dan Ishida—bahkan oleh Kurotsuchi Nemu juga.

Suara ketukan di pintu membuyarkan monolog pikiran Ichigo. "Masuk saja."

Dan muncullah Rukia dengan kotak makan di pelukannya. "Hei, kubawakan makan siang."

Rukia.

Namun mau tak mau, wajah pria bernama Shiba Kaien itu juga muncul di kepalanya. Shiba dan pernyataannya tentang Rukia dan pertunangan.

"Terima kasih, Rukia. Masuklah."

Rukia melakukan apa yang Ichigo katakan. Tanpa banyak bicara, ia segera membuka kotak makan yang ia bawa dan menata semuanya dengan cekatan untuk Ichigo. Ia lalu mengeluarkan termos berisi teh panas dari dalam ransel kecil merahnya.

"Tadi pagi kau melewatkan sarapan."

Ah, itu.

"Iya, maaf."

"Kenapa?"

Gerakan tangan Ichigo yang sedang mengambil sumpit terhenti. "Apa?"

"Kenapa kau langsung pergi? Kau bisa saja melanjutkan sarapanmu seperti yang seharusnya. Apa kerusuhan kecil kami mengganggumu?" tanya Rukia.

"Oh, itu. Tidak… tidak. Bukan begitu. Aku hanya…" Apa? Dia hanya apa? Tak suka melihat cara Rukia dan Shiba bertukar pandang? Tak nyaman pada kata-kata 'tunangan' atau 'pertunangan' yang keluar dari mulut mereka?

"Tiba-tiba aku ingat aku ada urusan dengan Ishida. Makanya aku berangkat pagi-pagi sekali. Tanya saja pada si mata empat."

Rukia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya duduk di kursi yang berhadapan dengan Ichigo.

Makan siang dilewati dalam diam. Sepuluh menit kemudian, Ichigo mengosongkan kotak makan dan termosnya. Rukia merapikan semuanya dan pulang.

Masih dalam diam.


Hari sudah mulai gelap tapi Kuchiki Byakuya masih duduk di ruangannya yang luas dan lengang. Kedua mata kelabu dingin menatap sebuah amplop coklat ukuran folio yang tergeletak begitu saja di atas meja mahogani mahalnya.

Di dalam amplop itu tersimpan benda yang bisa menjatuhkan Shiba Kaien dan mengembalikan adiknya; tapi ia tak harus melakukannya sekarang. Ia akan menunggu. Ia harus menunggu. Ia sedang mencoba mengikuti jalan pikiran Rukia. Namun jika semuanya menjadi rumit dan berjalan di luar rencana, amplop itu akan ia jatuhkan ke tangan orang yang tepat.

Jari panjang nan anggun menekan sebuah tombol di telepon. Setelah terdengar suara 'klik' pelan, Byakuya dengan suaranya yang dalam, tenang, dan stabil memerintah: "Panggil Renji. Aku tunggu di ruanganku."

Terdengar suara sekretarisnya, "Baik, Kuchiki-sama."

Tak lama kemudian, seorang pria berusia pertengahan duapuluhan muncul. Rambutnya yang panjang dan berwarna merah menyala diikat tinggi. Tubuhnya jangkung dan tegap.

"Ada apa memanggilku kemari?"

Byakuya tidak langsung menjawab, melainkan menyodorkan amplop coklat itu pada Abarai Renji. "Simpan ini. Jika saatnya tiba, aku ingin kau mengantarnya ke redaksi Japan Times."

Renji menerima amplop itu dengan ekspresi penasaran. "Apa isinya?"

"Kau akan tahu."


Rukia tahu ada yang salah pada Ichigo dan dirinya. Baru tadi mereka melewatkan makan siang tanpa saling bercerita atau mencela. Atmosfer di ruangan Ichigo tadi sangat aneh. Ia tak tahu harus bicara apa atau bersikap bagaimana.

Kenapa begini? Bukankah sebelumnya Rukia tak punya masalah berbicara dengannya?

Rukia melipat kedua tangannya di atas meja makan. Kedua matanya memandang makan malam yang terdiri dari nasi kari, gyoza, tamagoyaki, nikujaga, dan beberapa lainnya.

'Apa-apaan ini? Kenapa tidak serasi begini menunya? Kenapa banyak sekali dagingnya?', keluh Rukia dalam hati. Ia tidak berpikir saat membuat makan malam tadi. Kepalanya dipenuhi macam-macam dan menu tidak termasuk salah satunya. Tangannya serasa bergerak dengan sendirinya dan beginilah hasil akhirnya.

Rukia tahu Ichigo pasti menyimpan banyak pertanyaan yang gatal ingin ia ajukan. Namun mengenal Ichigo, pria itu tidak akan usil dan lebih memilih untuk diam, mempersilakan Rukia untuk bercerita padanya atas dasar kemauannya sendiri.

Rukia sedikit menegakkan pose duduknya.

Memang sudah saatnya Ichigo mengetahui segala hal; termasuk siapa sebenarnya orang yang ia pekerjakan sebagai housekeeper.

"Aku pulang..."

Rukia otomatis bangkit dan berjalan menuju pintu, bersiap untuk menyambut Ichigo.

"Kau mau mandi dulu?" tanya Rukia sambil mengambil tas dari tangan Ichigo.

"Tidak. Aku mau makan dulu." Mata Ichigo bergerak-gerak seperti mencari sesuatu. "Tuna—pria tadi... di mana dia?"

"Tidak tahu." Rukia memang tidak tahu di mana tepatnya Kaien-dono saat ini. Rukia mendongakkan kepalanya, namun Ichigo tampak seperti menghindar dari tatapannya. "Ichigo."

Ichigo menunduk dan melihat jari-jari Rukia yang lentik dan putih menggenggam pergelangan tangannya. "Ada apa?"

"Ada yang ingin kuceritakan padamu."

Ichigo mengangkat alis. "Tentang?"

"Tentang aku." Rukia melepaskan genggamannya. Seketika Ichigo menyesali hilangnya sensasi yang dihasilkan dari tangan Rukia yang sejuk.

Tapi hal selanjutnya yang wanita itu lakukan membuatnya terkejut. Rukia berjalan mundur beberapa langkah, lalu membungkukkan tubuhnya.

"Rukia. Apa—"

"Perkenalkan, namaku Kuchiki Rukia. Senang berkenalan denganmu, Kurosaki Ichigo."

"Rukia..." Ichigo tidak tahu harus bilang apa. Akhirnya ia mengetahui nama asli wanita ini, lalu apa? Apa bedanya? Baginya, ia tetap saja Rukia.

Rukia menggenggam tangan Ichigo dan menariknya lembut, menuntunnya untuk duduk di sofa.

Ichigo tidak tahu perasaan apa ini. Yang ia tahu, ia suka merasakan kulit Rukia bergesekan dengan kulitnya. Ia suka bagaimana tangannya yang besar menggenggam tangan Rukia yang mungil dan merasakan betul perbedaannya. Ia suka wangi tubuh Rukia yang mengingatkannya akan salju yang baru turun dan aroma samar sakura; mengawang lembut memenuhi apartemennya.

Bagaimana cara singkat untuk mendeskripsikan perasaan ini?

"Sebelumnya aku minta maaf atas keributan yang melibatkan aku, Grimmjow, dan Kaien-dono."

Ichigo menggeleng. "Lupakan saja. Aku sudah familiar dengan segala macam keributan sejak SMP."

Rukia tersenyum. "Aku sudah memberitahumu namaku, bukan? Sekarang aku akan menceritakan padamu alasan aku berada di sini."

Ichigo mengangguk.

"Bisa dibilang, aku kabur."

"Dari tunang—pria itu?"

Rukia tampak berpikir sejenak. "Aku tidak akan mendeskripsikannya begitu. Ichigo, keluargaku bukan keluarga pada umumnya. Kau pernah dengar nama Kuchiki?"

Tentu saja pernah. Kuchiki adalah salah satu keluarga bangsawan Jepang yang paling tua. Keluarga itu sudah ada entah sejak kapan. Saat ini kepalanya adalah seorang pengusaha terkenal bernama Kuchiki Byakuya. Kabarnya, ia hanya punya satu anggota keluarga tersisa dan itu adalah adik perempuannya—

Ya Tuhan.

"Kau Kuchiki yang itu?" Ichigo membelalakkan matanya.

Rukia cemberut. "Memang ada berapa banyak orang Jepang dengan nama keluarga Kuchiki? Lupakan. Sampai di mana aku tadi? Ah, ya. Keluargaku. Sebagai keluarga bangsawan, aku tidak banyak memiliki teman saat kecil. Yang aku kenal hanyalah anak-anak yang sama-sama berasal dari keluarga aristokrat. Tapi ada berapa banyak keluarga ningrat di Jepang? Mungkin Otou-chama kasihan melihatku, ya? Maka itu sejak aku preschool, beliau sudah merencanakan untuk menyekolahkan aku di SD negeri."

"Awalnya aku senang, karena dalam satu kelas, muridnya banyak sekali. Aku akan punya banyak teman. Tapi ternyata itu hanya khayalanku saja. Anak-anak itu tahu siapa aku. Di mata mereka, aku berbeda. Menurut anak-anak itu baju-bajuku terlalu bagus, cara berjalanku terlalu tertata, dan cara bicaraku terlalu teratur. Hasilnya, aku malah tidak punya teman sama sekali. Ojii-sama sudah nyaris menuntut kepala sekolah dan memindahkanku ke Seireitei Private School; tempat di mana seharusnya aku bersekolah, sampai Kaien-dono datang."

"Usia Shiba Kaien empat tahun di atasku. Saat aku SD kelas 1, dia sudah kelas 5. Tentu saja aku sudah mengenal Kaien-dono sejak balita yang membuatku merasa familiar dengannya. Saat Kaien-dono mendengar cerita tentangku dari Shiba Kuukaku, kakaknya, ia memutuskan untuk pindah ke sekolah yang sama denganku. Ia melakukannya agar aku tidak kesepian, juga untuk melindungiku dari ejekan anak-anak lain. Lambat-laun, entah karena takut pada Kaien-dono atau apa, murid-murid di SD itu mulai mau berteman denganku."

Mata Ichigo sekarang telah melihat dengan jelas wanita di depannya. Kuchiki Rukia, adik dari kepala klan Kuchiki yang ke-28. Seorang wanita yang memang tidak bisa menyembunyikan kelasnya, tidak bisa tidak menunjukkan keanggunannya.

"Lalu?"

"Saat SMP, barulah aku bersekolah di Seireitei. Tentu aku tidak mengalami kesulitan seperti saat aku duduk di bangku SD, mengingat nyaris semua murid di sana, aku mengenalnya atau setidaknya pernah bertegur sapa. Selepas SD, Kaien-dono sebetulnya juga kembali ke Seireitei. Saat aku masuk, dia sudah SMA. Seireitei adalah kompleks sekolah yang sangat besar dan luas. Akibatnya, kami memang satu lokasi tapi sangat jarang bertemu. Aku dan Kaien-dono tetap berkomunikasi, pasti. Bagiku, dia sudah menjadi semacam pahlawan. Aku diterima di lingkungan yang baru karena Kaien-dono, mana mungkin aku melupakannya begitu saja?"

Kenapa kata-kata Rukia tadi membuat hati Ichigo agak sakit?

"Saat aku lulus SMA dan sedang mempersiapkan keberangkatanku ke Perancis, aku mendengar kabar itu. Ternyata Ojii-sama dan kakek Kaien-dono sudah menjodohkan kami berdua."

"Apa? Sejak kapan?" seru Ichigo.

"Sejak Kaien-dono masuk SMP. Ini semua merupakan inisiatif dari Ojii-sama. Beliau melihat aku sangat mengagumi Kaien-dono dan betapa aku berhutang padanya, jika bisa dibilang."

Ichigo menundukkan kepala. "Lalu bagaimana kau bereaksi atas kabar perjodohan itu?"

Rukia terdiam sejenak. "Aku senang."

Yang Ichigo inginkan sekarang hanyalah mandi lalu tidur dan tidak bangun lagi sampai esok pagi.

"Kalau begitu tidak perlu repot-repot lari, kan?" Ichigo berkata pelan. Ia mengalihkan pandangannya dari Rukia; menatap apapun kecuali wajah cantik itu.

"Dia adalah orang yang meninggalkan kesan mendalam saat aku kecil—sejak aku kecil. Ini seperti menikahi idolamu. Gadis mana yang tidak mau?"

Ichigo mengerti. Tanyakan saja pada Karin. Jika Lionel Messi ingin menikahinya, tidak mungkin kan si tomboy itu menolak? Tapi tetap saja...

"Sepulangnya aku dari Perancis, upacara pertunangan dilaksanakan. Semuanya baik-baik saja, sampai saat aku melihat Kaien-dono mencium seorang wanita."

Dengan cepat Ichigo memutar kepalanya. "Dia apa?"

Anehnya, Rukia malah memamerkan senyumnya yang membuat napas Ichigo tertahan itu. "Tak lama setelah itu aku tahu bahwa Miyako-dono—nama wanita itu—adalah kekasih Kaien-dono sejak SMA dan aku tahu dia pacar pertama Kaien-dono juga. Saat itulah aku menyadari, Kaien-dono sudah menemukan cinta sejatinya."

"Dia tidak menghargai pertunanganmu, Rukia!"

Rukia menggeleng lembut. "Justru sebaliknya. Kaien-dono melakukannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Miyako-dono karena ia akan memulai sesuatu yang baru denganku. Bagaimana aku harus menyikapi itu, Ichigo? Aku menjauhkan seseorang dari wanita yang dikasihinya hanya karena perjodohan yang disusun saat aku masih kecil."

"Jadi... untuk melindunginya dari situasi yang tidak diinginkannya, kau pergi, begitu?"

Rukia mengangguk. "Jika aku tetap di sana, Kaien-dono akan memaksa dirinya untuk mengikuti perjodohan itu. Karena memang orang seperti itulah dia; mengabaikan kepentingan pribadinya demi sesuatu yang lebih besar."

Penghormatan Ichigo untuk Rukia, jika masih mungkin, meningkat ratusan kali lipat. "Tapi kau tidak mengindahkan perasaanmu sendiri."

Saat mengatakan itu, hari Ichigo merasa nyeri.

Rukia memiringkan kepalanya, tersenyum. "Begitukah? Aku tidak ingat pernah mengatakan padamu bahwa aku menyukai Kaien-dono."

Mata Ichigo terbelalak. "Eeh?"

Rukia tertawa dan suaranya sangat melodik. Ichigo berpikir, ia tak keberatan mendengarkan suara itu sampai ia mati nanti.

Tiba-tiba Rukia menangkupkan kedua tangan mungilnya yang halus di kedua sisi wajah Ichigo. "Bukan Kaien-dono, Ichigo."

Kemudian dengan lembut, sangat lembut, kedua tangan itu menarik wajah Ichigo mendekat, dan menempelkan bibirnya di kening Ichigo. Lama.

"Aku tahu kau menciumku saat aku tidur." Rukia mengedipkan satu matanya. Wajah Ichigo kontan memerah. "Ayo, sekarang kita makan."

Ichigo memperhatikan tangan Rukia yang kembali menggenggam tangannya, menariknya lembut menuju meja makan.

Sekarang Ichigo tahu cara tersingkat menjelaskan perasaan yang memenuhi rongga dadanya.

Ia telah jatuh cinta.


A/N: Astaghfirullah! Beneran saya yang nulis itu? *mati* Kok yang deg-degan jadi saya sendiri, siiiiih? *guling-guling* Nah, sebagai balasan untuk IchiRuki goodness di chapter ini, saya minta kalian joget untuk saya! Mhuahahahaha!

meyrin kyuchan: lah, kok kaget? kan Rukia keren. jelas dong banyak cowo ganteng yang mengelilingi :D

yuuaja: masih penasaran sama Kaien?

Mi-chan gabisa login: Gimana? semoga sudah bisa terjawab sedikit-sedikit, ya? :)

Piyocco: manggilnya Nesa aja :)

can-can: ini nih! *jitak* kan saya cuma bercanda. ga mungkin saya minta 60 review beneran.

Yulia: gimana gimana gimana? masih penasaran kah? :)

Chadeschan: sebetulnya di rencana awal, Inouenya saya bikin lebih ganggu lagi. tapi ga usah, deh. Ini aja udah ruwet, yes? :)

Finna: betuuul! *tepok-tepok kepala Finna* anak pintar. and no, I'm not offended. Selain dari situ, di chapter kemaren juga hasil begadang baca2 wikipedia, kasus2 di internet, dan overdosis nonton House dan ER.

ichirukiloverssss: kan saya bercanda -"

Fullmoon: maksudnya mungkin gitu, tapi di Kamus Besar kata itu ga ada :)

Riri26: semoga puas sama chapter ini :D

lolaDony: secara Rukia cakep dan keren, wajar cowonya banyak :D