Title : Second Chance
Author : Yukishima
Genre : drama, romance, angst
Rating : T to M

Chapter : 11

Fandom : Super Junior, GS
Pairing : Kyumin; Haehyuk; Sibum ; slight Yewook, Jungmin, Hanchul

Guest Stars : Kai EXO, Jungmo d'trax, Sunny SNSD, Victoria f(x)

Disclaimer : Mereka bukan punya gw, tapi cerita milik gw

Warning : GS, mature content, buat yang dibawah umur tidak disarankan untuk membaca^^
Note Author : Author kembali lagi di chapt yg baru. Maaf udah nunggu lama banget karena kesibukan saya *halah* Chapter 9 & 10 sengaja saya perbaiki dan saya tulis lebih detail lagi karena author tidak puas dengan sebelumnya yg alurnya meloncat-loncat. Jadi yg kemarin udah baca dari chapt 1 sebaiknya baca lagi mulai chapt 9 ^^

No bash or flame please. Kritik, saran, protes boleh tapi dengan sopan karena saya tidak ingin terjadi peperangan *lebay *

Ini hanya fic bukan kenyataan... Keep smile and peace ^_^

Gomawo yang udah pada kasih review. Maaf kalo author nggak bisa memenuhi satu2 permintaan readers. Author akan menulis secara proporsional dan realistis. Ambil hal-hal yang baik disini, jangan ditiru kalo yang buruk ^^ Sekali lagi, ini hanya fic, bukan kenyataan meskipun author menulisnya karena terinspirasi beberapa kejadian nyata dibumbui dengan imajinasi author yang gak jelas juga :D

=0=

Hari pernikahan Kibum pun tiba. Tampaknya apapun cara yang dilakukan Donghae tak membuat gadis ini merubah keputusannya untuk menikah dengan Siwon. Dengan berat hati Donghae datang karena ia ingin memberi ucapan selamat pada sahabat sekaligus gadis yang dicintainya. Ia tak ingin mengecewakan Kibum yang telah mengundangnya. Donghae sebenarnya telah datang sebelum acara pernikahan dimulai. Ia berdiri di tempat yang tak terlihat Kibum dan memandangi dari kejauhan sambil menahan kepedihannya saat gadis yang dicintainya mengikat janji sehidup semati dengan Siwon. Kibum tampak bahagia bersanding dengan laki-laki pilihannya tersebut. Setelah lama berdiri dan hanya memandang Kibum dari kejauhan, akhirnya Donghae pun berjalan mendekati mempelai pengantinnya.

"Selamat Kibum-ah, semoga kau selalu bahagia," ucap Donghae tulus sambil tersenyum lembut pada Kibum.

"Terimakasih, Donghae oppa," Kibum balas tersenyum walaupun terlihat jelas matanya berkaca-kaca saat menatap Donghae, sedangkan laki-laki tampan ini hanya memaksakan senyum tipis ketika beralih pada Siwon untuk memberinya selamat. Segera setelah memberi ucapan selamat pada Kibum dan Siwon, Donghae melangkah menuju meja minuman. Ia meraih segelas white wine lalu menenggaknya dengan cepat.

"Haaah..," Donghae menarik nafas panjang setelah minum gelas kedua.

"Sepertinya itu enak. Sayang aku belum boleh meminumnya," suara seorang gadis yang sepertinya pernah didengar Donghae membuatnya terkejut saat menoleh.

"Kau?," Donghae membelalakkan mata.

"Hehehehehe... Annyeong Donghae ajusshi,kita bertemu lagi," gadis manis itu tersenyum ceria memamerkan gummy smile-nya.

"Bagaimana kau bisa disini? Dan kenapa kau tahu namaku?," tanya Donghae keheranan.

"Tentu saja. Aku kan keponakan dari pengantin perempuan. Kibum eonni sangat cantik bukan? ," Eunhyuk menatap polos Donghae.

"Tidak mungkin. Kalian sama sekali tidak mirip," Donghae mengerjap mata tak percaya. Ia memandang Kibum dari kejauhan lalu beralih ke Eunhyuk. Dalam hati Donghae berpikir mengingat-ingat sosok gadis remaja ini. Ia memang jarang melihat putri Heechul tersebut karena Heechul kadang ikut suaminya ke Cina dan sosok Eunhyuk yang pernah ditemuinya hanya ketika ia masih kecil. "Berarti kau..kau putri Heechul noona yang dulu masih kecil itu? Bahkan kau juga tidak mirip dengan eomma-mu!"

"Ugh...kata-katamu kejam sekali. Apa ajusshi lupa padaku? Kita bertemu juga saat kau datang ke rumah Kibum eonni, tapi waktu itu ajusshi sama sekali tidak memperhatikanku," Eunhyuk mengerucutkan bibir karena kecewa. "Lagipula apa kalau keponakannya aku harus begitu mirip dengan Kibum eonni? Walau sama-sama cantik, wajah eomma dan Kibum eonni juga tidak mirip padahal mereka kakak beradik. Aku ini lebih mirip appa daripada eomma, tapi bibir seksiku ini mirip eomma bukan?," ujar Eunhyuk sambil memajukan bibir dan tanpa sadar telah memasang mimik menggemaskan.

"Oh... maaf," jawab Donghae datar meskipun sebenarnya jantungnya sempat berdetak lebih kencang ketika menatap wajah manis gadis remaja dihadapannya kini.

"Ajusshi, lihat..aku tadi mendapat lemparan buket bunga dari Kibum eonni! Kyaa..berarti setelah ini aku juga akan menjadi pengantin!," teriak Eunhyuk dengan nada kegirangan sambil menunjukkan buket bunga yang dipegangnya.

"Kau ini masih kecil. Sebaiknya pikirkan saja sekolahmu daripada berkhayal yang tidak-tidak!," Donghae menenggak lagi wine tanpa mempedulikan Eunhyuk yang mengekor di belakangnya.

"Ish, ajusshi. Kau jahat sekali sudah membuyarkan impian indahku. Buket ini bukan diberi tapi jatuh dengan sendirinya padaku. Bukankah siapapun yang mendapatkannya akan segera menyusul menjadi pengantin juga?," Eunhyuk menggerutu kesal.

"Hanya anak kecil saja yang masih percaya hal seperti itu. Aku cuma berusaha mengingatkanmu saja agar kembali ke dunia nyata. Untuk anak seusiamu, sebaiknya pikirkan saja sekolah dengan benar, lalu kuliah, bekerja, baru pikirkan pernikahan. Lagipula siapa yang mau menikahi gadis bodoh sepertimu," ujar Donghae dengan sinis sambil menekan telunjuknya pada dahi Eunhyuk.

"Aku tidak bodoh ajusshi," protes Eunhyuk sambil mengusap dahi yang ditekan Donghae tadi. "Meskipun tidak sepintar Kibum eonni, tapi aku tidak pernah mendapatkan nilai merah selama ini. Tentu saja ada yang mau menikahiku," Eunhyuk tersenyum manis.

"Siapa?," cibir Donghae.

"Donghae ajusshi," jawab Eunhyuk polos.

"Apa? Aku tidak mau. Lagipula kau jelek, pendek, tubuhmu saja kurus seperti papan cucian," ejek Donghae sambil meninggalkan Eunhyuk yang melebarkan mata tak percaya dengan perkataannya tadi.

"Ya! Ajusshi.. Aku ini sama sekali tidak jelek tahu!," Eunhyuk menghentakkan kaki kesal. "Semua orang bilang aku manis. Bahkan di sekolah banyak laki-laki yang menyukaiku hanya saja mereka semua kutolak karena eomma melarang untuk berpacaran. Kau tunggu saja nanti. Beberapa tahun lagi, ah..tidak...satu tahun lagi. Aku akan makan lebih banyak dan melatih tubuhku agar menjadi seseksi eomma dan Kibum eonni. Ajusshi pasti akan menyesal karena telah mengatakan aku jelek, pendek, dan tubuhku seperti papan cucian! Saat itu ajusshi akan memohon-mohon untuk menikahiku, tapi tentu saja aku akan menolakmu!," ucap Eunhyuk berapi-api sambil menunjuk tepat di wajah Donghae.

"Ya..ya..terserah saja," kata Donghae meremehkan. "Sekarang bisakah kau berhenti mengikutiku kemanapun karena aku mau segera pulang?," Donghae mengibaskan tangan memberi isyarat Eunhyuk untuk pergi.

"Ajusshi, mana syalku?," Eunhyuk menengadahkan tangan didepan Donghae.

"Aku tidak membawanya."

"Ajusshi ini bagaimana?," protes Eunhyuk.

"Tentu saja aku tidak membawanya. Bagaimana aku tahu kalau akan bertemu kau disini," Donghae berlalu meninggalkan Eunhyuk menuju mobilnya.

"kalau begitu kita kerumahmu sekarang untuk mengambil syalku," Eunhyuk setengah berlari mengikuti langkah kaki Donghae.

"Tidak boleh! Lain kali saja aku akan mengembalikannya lewat Kibum," tolak Donghae dengan ketus.

"Aku mau syalku sekarang. Itu kan syal kesayanganku!," Eunhyuk memaksa masuk ke mobil Donghae tapi laki-laki itu mencegahnya.

"Sudah kubilang tidak boleh! Sekarang kau masuk saja ke dalam. Nanti kau dicari orangtuamu!," Donghae mendorong tubuh Eunhyuk hingga terjatuh. Sebenarnya Donghae tidak ingin memperlakukan gadis itu dengan kasar. Namun hari ini suasana hatinya sedang amat buruk. Ia hanya ingin segera berlalu dari tempat itu untuk menenangkan diri, tapi tiba-tiba saja Eunhyuk datang dan menurut Donghae perilaku gadis ini sedari tadi mengganggunya sehingga kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun serasa hendak meledak saat itu juga.

"Hiks...ajushhi jahat!," Eunhyuk mulai menangis sambil memegangi lututnya yang berdarah karena terjatuh tadi.

"I-itu salahmu sendiri," Donghae memandang dengan tidak enak hati pada Eunhyuk walau masih bersikap seolah tidak peduli. Namun dalam hati ia semakin merasa tidak tega melihat gadis remaja itu masih saja meneteskan airmata. "Haah... merepotkan sekali," akhirnya Donghae berlutut dan membersihkan luka Eunhyuk dengan sapu tangannya lalu membantunya berdiri.

"Terimakasih ajusshi. Ah, tidak...Hae oppa," Eunhyuk tersenyum cerah karena meskipun bersikap ketus ternyata Donghae masih peduli padanya. "Nanti kutunggu kau mengembalikan sendiri syalnya padaku," dengan cepat Eunhyuk menarik ujung jas Donghae lalu menyentuhkan bibirnya dengan bibir tipis laki-laki yang berusia 10 tahun di atasnya itu. "Eomma biasa melakukannya kalau berterimakasih pada appa," kata Eunhyuk dengan memasang wajah tidak berdosa. Segera setelah melakukan aksi nekatnya itu Eunhyuk lalu berlari meninggalkan Donghae yang masih berdiri mematung di tempatnya karena tiba-tiba mendapat kecupan tersebut. Walapun bukan pertamakali berciuman namun sentuhan lembut bibir Eunhyuk tadi tak urung telah memunculkan semburat merah muda di pipi Donghae saat meraba bibirnya sendiri.

"Gadis bodoh. Berani-beraninya mencium orang seenaknya. Lagipula, seharusnya laki-laki dulu yang memulainya bukan?," umpat Donghae pelan. Ia kemudian meraba bibir yang tadi disentuh oleh Eunhyuk. Sekali lagi Donghae mengutuki dirinya sendiri karena ada sekelebat pikiran bahwa bibir gadis itu terasa lembut dan manis. Bukankah Eunhyuk hanyalah seseorang yang masih dianggapnya gadis kecil dan baru dikenalnya beberapa minggu ini bahkan tadi sempat membuatnya kesal? Apalagi baru saja dirinya merasakan patah hati sekali lagi. Bagaimana mungkin hanya karena seorang gadis kecil bisa membuatnya sejenak melupakan rasa sakit itu begitu saja. Buru-buru ditepisnya pikiran-pikiran yang menurutnya mesum itu. Bagaimanapun Donghae tidak mau dituduh sebagai pedofil.

=o=

"Eomma, aku ingin bertemu Kibum eonni. Pokoknya aku mau kerumah Kibum eonni sekarang!," Eunhyuk memberi tatapan penuh polos penuh harap pada perempuan cantik berusia awal 30-an yang masih terlihat muda dari usianya tersebut. Jangan heran jika di usia 34 tahun perempuan cantik bernama Heechul yang merupakan kakak kandung Kibum ini telah memiliki putri berusia 16 tahun karena selepas SMA ia telah dinikahi oleh laki-laki tampan keturunan Cina bernama Hangeng.

"Hyukkie-ya, berapa kalipun kau memohon tak akan eomma ijinkan," Heechul menatap galak putri sulungnya tersebut sambil mengelus pelan perut besarnya. Ia hanya membatin semoga adik Eunhyuk yang masih dalam kandungan tersebut kelak tak sebandel kakaknya. Apalagi berdasarkan USG, bayi yang dikandungnya kini berjenis kelamin laki-laki bahkan kembar pula. Heechul langsung merasa pusing membayangkannya karena anak laki-laki biasanya lebih nakal dan pemberontak daripada perempuan. Satu anak saja sudah merepotkan apalagi ini kembar. "Eomma sudah mengatakan berkali-kali dari kemarin bukan? Kalau kesana, kita hanya akan mengganggu komo dan komobu-mu. Tunggu besok atau beberapa hari lagi baru kita kerumah Siwon."

"Appa...hiks...eomma jahat!," Eunhyuk menghambur ke pelukan appa tampannya yang bernama Hangeng tersebut.

"Ya! Dasar anak kurangajar. Berani mengatakan eomma-mu yang cantik ini jahat!," Heechul memberi tatapan membunuh pada Eunhyuk yang berlindung dibalik dada bidang sang appa yang masih saja mengelus sayang putrinya.

"Heechullie, kau tidak boleh marah-marah. Ingat kandunganmu. Sebentar lagi kau melahirkan, jadi jangan terlalu terbawa emosi. Itu tidak baik untuk bayi kita bukan? Apa kau mau bayi kita lahir prematur?," ucapan Hangeng pada Heechul membuat rona wajah istri cantiknya yang semula tegang berangsur melembut. "Kau tidak boleh mengatakan eomma-mu jahat sayang. Itu tidak sopan. Apa yang eomma-mu katakan itu benar. Kalau menemui komo-mu sekarang, kita hanya akan mengganggu mereka. Bersabarlah. Besok atau lusa, appa dan eomma akan mengantarkanmu menemuinya," Hangeng beralih pada Eunhyuk yang masih berada dalam pelukannya.

"Sebentar lagi Kibum eonni ikut Siwon ajusshi ke Paris. Kami pasti tidak bisa bertemu dalam waktu yang lama. Appa, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama Kibum eonni sebelum ia pergi," airmata Eunhyuk berlelehan membasahi pipi putihnya. Hidungnya kembang kempis dan mulai berwarna merah, sementara bibir kissable-nya tampak bergetar karena menangis.

"Tapi mereka kan pengantin baru sayang," ujar Hangeng masih dengan nada lembut mencoba memberi pengertian putrinya yang keras kepala itu, kalau sudah menginginkan sesuatu susah untuk dicegah. Sifat yang menurun dari Heechul begitu juga sikap manis dan cerianya . Untung saja sifat galak dan diktator Heechul tidak menurun pada putri mereka karena Eunhyuk juga memiliki kelembutan serta rasa sensitif seperti Hangeng.

Biasanya sikap keras kepala Eunhyuk akan segera luluh begitu dirayu dengan kata-kata lembut dan manis, namun tidak untuk kali ini. Hangeng mengerti perasaan putrinya. Selama ini dirinya sibuk bekerja dan hanya Kibum yang dekat dengan Eunhyuk setelah dirinya dan Heechul. Bukan berarti Heechul tak menyayangi Eunhyuk begitu pula sebaliknya. Heechul sangat menyayangi putrinya lebih dari apapun, namun terkadang sikap keras Heechul membuat Eunhyuk yang sensitif mencari sosok lain yang bisa membuatnya nyaman. Walaupun jarang bertemu dengan Kibum namun Eunhyuk lebih dekat dengan adik dari eomma-nya tersebut karena Kibum selalu memperlakukan Eunhyuk dengan lembut dan selalu membelanya ketika Heechul sedang memarahinya.

"Hiks..memangnya kenapa kalau mereka pengantin baru? Appa dan eomma malahan sudah menikah bertahun-tahun," ucap Eunhyuk dengan polos disela isak tangisnya.

"Ya, tentu saja kita akan mengganggu mereka. Haish...," Hangeng mengacak frustasi rambutnya sendiri sambil memberi tatapan meminta bantuan pada Heechul, namun istrinya itu hanya mengedikkan bahu sambil tersenyum geli dengan tingkah bingung suaminya. Hangeng sendiri merasa bingung bagaimana menjelaskan apa yang dilakukan oleh sepasang pengantin baru pada putrinya yang masih dibawah umur serta kelewat polos ini.

"Ugh..appa sama saja dengan eomma!," Eunhyuk langsung melepaskan pelukannya dari Hangeng kemudian berjalan menuju pintu keluar.

"Hyukkie-ya..kau mau kemana?," panggil Heechul saat melihat putrinya itu hendak keluar.

"Aku mau kerumah Siwon ajusshi menemui Kibum eonni," balas Eunhyuk sebelum menghilang dibalik pintu.

"Ya! Gege! Putrimu sedang kabur kau malah diam saja eoh... Cepat kejar dia!," teriak Heechul pada Hangeng yang masih saja melongo ditempat saking terkejutnya dengan sikap nekat Eunhyuk.

=o=

Gadis remaja berwajah manis itu kini duduk terpekur dengan lesu diatas ayunan taman kota. Lagi-lagi dirinya membuat kebodohan dan berakhir di tempat ini seperti anak hilang saja. Saat kabur dari rumah dengan bermodal nekat tadi Eunhyuk langsung berlari menuju halte dan naik bis kota begitu saja karena khawatir terkejar oleh appanya. Ketika telah berada didalam bis ia baru sadar bahwa di kantung celana selututnya itu hanya ada sedikit uang yang cukup untuk ongkos naik bis saja sementara ponselnya ketinggalan dirumah. Eunhyuk tahu arah jalan ke rumah Kibum yang lama. Tapi saat ini komo-nya itu sudah menikah dan tentu saja telah pindah ke rumah suaminya. Bagaimana Eunhyuk mau menelefon Kibum untuk menanyakan alamat Siwon atau meminta dijemput sementara ia tidak membawa ponsel. Ia bisa saja kembali ke rumah dengan memakai taksi nanti meminta appa-nya untuk membayar ongkos taksinya, namun untuk pulang pun Eunhyuk takut dimarahi Heechul. Dengan wajah yang secantik itu saat marah eomma-nya bisa lebih mengerikan daripada setan manapun.

Matahari mulai berada di penghujung Barat. Semburat keoranyeannya menandakan hari mulai sore dan sebentar lagi tergantikan malam. Sekali lagi bibir mungilnya mengeluh pelan ketika perutnya menyenandungkan bunyi-bunyian pertanda minta diisi karena saat pergi tadi gadis ini belum sempat makan siang. Ia hanya mengelus sayang perut ratanya karena tak punya uang lagi untuk membeli makanan.

"Hei, kau! Apa yang kau lakukan disini gadis kecil?," suara seorang laki-laki membuatnya menengadahkan kepala.

"Hae oppa...," gumam Eunhyuk dengan nada lemas karena terlalu lelah dan lapar.

"Benar, aku Donghae. Baguslah kalau kau mengingatku. Kenapa kau bisa ada disini? Bukankah terlalu ini jauh dari rumahmu? Jangan bilang kau sedang kabur," Donghae berdiri di hadapan Eunhyuk sambil menyedekapkan tangan di depan dada. Sepulang bekerja Donghae tidak langsung kembali ke apartemen tetapi menuju ke taman dekat tempat tinggalnya itu untuk sekedar menenangkan diri. Bagaimanapun baru saja ia sekali kehilangan sekali lagi orang yang dicintainya. Ia tak mengira kan bertemu Eunhyuk disini. Semula Donghae tak ingin menyapa karena teringat insiden ciuman nekat dari Eunhyuk. Namun melihat guratan sedih di wajah gadis manis ini membuat Donghae tak tega juga.

"Kalau Hae oppa mau mengolok-olok lagi, lebih baik tinggalkan aku saja," walau bernada lemah tetap saja terselip kekesalan disana.

"Ya! Kau berani berkata kasar pada orang yang lebih tua darimu eoh? Ck, sungguh tidak sopan," cibir Donghae namun masih belum beranjak dari posisi semula.

"Bukan urusanmu!," Eunhyuk melengos sambil memanyunkan bibir.

"Ish, dasar tidak sopan. Ya sudah, kau yang memintaku pergi," Donghae menatap kesal Eunhyuk lalu membalikkan tubuh bermaksud pergi.

Krrukk..

Suara yang bersumber dari perut Eunhyuk membuat Donghae mengurungkan niatnya untuk pergi dan menatap gadis remaja ini dengan pandangan geli melihat Eunhyuk tertunduk malu dengan semburat merah muda di kedua pipinya.

"Huft, ayo ikut aku!," Donghae menarik tangan kurus Eunhyuk lalu mengajaknya pergi dari tempat tersebut.

Bagaimanapun Donghae tidak mungkin setega itu membiarkan gadis belia seperti Eunhyuk sendirian di taman kota apalagi dalam kondisi kelaparan. Bagaimana jika ada ajusshi mesum yang mengganggunya, atau bagaimana jika gadis ini jatuh pingsan karena kelaparan? Akhirnya Donghae membawa Eunhyuk ke sebuah restoran Cina terdekat. Walaupun bukan restoran berkelas mahal, namun cukup bagus dan nyaman. Kini Donghae hanya menatap takjub pada gadis dihadapannya yang makan dengan lahap. Benar-benar tidak ada keanggunan sama sekali namun justru malah terlihat lucu dimatanya.

"Oppa, kau harus mencoba Kungpao Chicken ini," Eunhyuk meletakkan ayam di atas mangkuk nasi Donghae. Wajah yang semula lesu dan sendu itu kini telah berubah cerah. Bahkan sesekali gadis tersebut mengumbar gummy smile-nya saat memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

"Sepertinya kau lapar sekali eoh? Setelah ini kau harus pulang karena orangtuamu pasti mencari-carimu," ujar Donghae sambil tersenyum melihat tingkah lucu Eunhyuk.

"Aku tidak mau pulang," Eunhyuk langsung menghentikan kegiatan makannya.

"Lalu kau mau kemana?," Donghae menatapnya heran.

"Sebentar lagi Kibum eonni akan dibawa Siwon ajusshi ke Paris. Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan komo-ku karena setelah ini kami akan lama tidak bertemu. Setelah pesta pernikahan Kibum eonni aku ingin tidur ditemani olehnya, tapi eomma dan appa langsung melarangku dengan keras bahkan menyeretku pulang. Kata mereka, aku akan mengganggu Kibum eonni dan suaminya. Hari ini pun aku ingin kerumahnya tetap tidak boleh. Akhirnya aku nekat pergi sendiri saja. Tapi aku lupa arah ke tempat rumah Siwon ajusshi karena aku baru kesana dua kali. Ditambah pula aku juga lupa membawa uang dan ponsel," Eunhyuk menjelaskan apa adanya dengan wajah sendu.

Sebenarmya Donghae merasa sedih lagi ketika mendengar Eunhyuk membahas lagi tentang Kibum. Saat patah hati berpisah dengan Sungmin saja butuh waktu lebih dari dua tahun untuk memulihkan hatinya, entah butuh waktu berapa lama untuk menyembuhkan luka dihatinya yang sekarang. Tapi ucapan polos gadis remaja ini mau tak mau membuat Donghae hampir tersedak saat makan dan memberi tatapan geli pada gadis itu.

"Hae oppa, kenapa menatapku seperti itu? Apa kau baru menyadari bahwa aku ini manis?," Eunhyuk mengerjap-ngerjapkan mata sambil tersenyum imut yang akhirnya malah dihadiahi tatapan tajam oleh Donghae.

"Lebih baik cepat habiskan makanmu," perintah Donghae pada Eunhyuk.

"Huft..," gadis remaja ini hanya menghela nafas dengan reaksi dingin Donghae. Ia pun menyuapkan lagi makanan ke mulutnya. "Hae oppa, memang apa yang dilakukan pengantin baru sampai-sampai eomma dan appa melarangku mengganggunya?," pertanyaan Eunhyuk kali ini sukses membuat Donghae tersedak makanan betulan bahkan sampai terbatuk-batuk. Donghae langsung menyambar minuman dihadapannya dan meminumnya hingga tandas. Setelah itu matanya menatap lebar kearah Eunhyuk yang masih saja berwajah polos menanti jawaban atas pertanyaannya tadi. Bibir tipisnya membuka lalu menutup lagi karena bingung harus berkata apa.

"Eunhyukkie, apa kau benar murid SMA?," akhirnya Donghae bertanya balik dengan nada tak percaya atas apa yang didengarnya dari bibir mungil gadis remaja dihadapannya.

"Tentu saja. Jadi jangan memanggilku gadis kecil lagi," jawab Eunhyuk penuh percaya diri.

Donghae mengambil nafas panjang untuk menata hatinya yang kembali terselip rasa nyeri. Ketika akan menjawab pertanyaan Eunhyuk tadi, otomatis pikirannya melayang pada sosok cantik Kibum. Ia membayangkan apa saja yang telah dilakukan Kibum dengan laki-laki yang kini menjadi suaminya. Hatinya benar-benar tidak rela, namun itulah kenyataan yang harus dihadapinya kini.

"Hae oppa?," panggil Eunhyuk saat melihat Donghae tampak melamun.

"Dengar Hyukkie-ya... saat orang sudah menikah pasti ingin mempunyai keturunan bukan? Ya, sama seperti appa dan eomma-mu yang sekarang memilikimu," Donghae mejelaskan dengan nada enggan.

"Ya, tentu saja. Kau benar. Sebentar lagi aku juga akan memiliki dongsaeng," Eunhyuk mengangguk tanda setuju.

"Begitu pula dengan komo-mu dan eum..suaminya. Mereka juga pasti ingin segera memiliki anak. Kalau kau disana, maka akan mengganggu mereka karena ehm..sangat tidak pantas jika yang mereka lakukan itu dilihat oleh orang lain," Donghae menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Tidak pantas? Apa itu hal yang buruk?," tanya Eunhyuk lagi. Hal itu membuat Donghae semakin menghela nafas lebih panjang lagi karena dilain pihak ia menjadi teringat saat malam pertamanya dengan Sungmin lalu beralih menjadi memikirkan Kibum lagi. Ingin rasanya saat ini pergi dari hadapan Eunhyuk yang ternyata kepolosannya itu tak sengaja mengingatkannya pada luka lama tapi sekaligus juga membuatnya merasa konyol ketika mendengarnya.

"Bukan hal buruk jika itu dilakukan oleh sepasang suami istri Eunhyukkie, hanya saja... Ehm begini saja. Apa kau mau dilihat orang lain saat berganti pakaian atau saat mandi?," Donghae berusaha memberi penjelasan yang bisa mudah dimengerti tapi juga tidak merusak kepolosan Eunhyuk yang nampaknya terlalu dijaga oleh orangtuanya ini.

"Tidak mau. Pastinya aku merasa malu," Eunhyuk tersipu malu saat menjawabnya.

"Nah, kurang lebih seperti itu."

"Apakah mereka berdua juga melepas pakaian?," Eunhyuk memiringkan kepala saat bertanya tanda penasaran.

"Haish..kau ini. Nanti setelah menikah kau akan mengerti," Donghae berkata dengan gusar. "Kau sudah selesai makan bukan? Cepatlah pulang!," ujar Donghae setelah membayar semua makanan yang mereka pesan.

"Hae oppa..kalau tidak boleh menemui Kibum eonni, aku kerumahmu saja ya..," pinta Eunhyuk dengan tampang memelas.

"Ya.. Kau harus pulang. Aku tidak mau dituduh menculik anak orang," tolak Donghae.

"Tapi aku takut dimarahi eomma kalau sampai dirumah. Aku juga tidak punya uang untuk pulang sendiri. Tadi kan aku sudah mengatakan kalau aku lupa membawa ponsel dan dompet. Hae oppa...," rajuk Eunhyuk sambil menarik-narik ujung jas Donghae.

"Jangan seperti ini. Malu dilihat orang!," ujar Donghae sambil menepiskan tangan Eunhyuk. "Baiklah, aku akan mengantarmu pulang."

"Oppa, tapi aku takut dengan eomma."

"Eomma dan appa-mu past sangat khawatir saat ini. Nanti aku akan bicara dengan eomma-mu supaya tidak memarahimu," nampaknya perlu kesabaran tngkat tinggi untuk menghadapi gadis polos seperti Eunhyuk dan hari ini Donghae telah berhasil melakukannya.

"Terimakasih Hae oppa," Eunhyuk pun tersenyum memamerkan gummy smile-nya sambil memeluk Donghae yang hampir saja membuat jantung laki-laki tampan ini hampir terlonjak karena mengira Eunhyuk akan menciumnya lagi seperti sebelumnya. Bagaimanapun saat ini saat ini mereka berdua berada di tempat umum bukan? Lain lagi jika sedang tidak ada orang lain. Tunggu, kenapa tiba-tiba dirinya merasa tidak keberatan dicium Eunhyuk jika tidak ada orang lain? Seketika itu juga Donghae menggelengkan kepala sendiri untuk mengusir pikiran anehnya tersebut.

=o=

Laki-laki bertubuh tegap nan atletis itu menggeliat di atas ranjang. Tangan kekarnya meraba-raba sebelah ranjangnya untuk mencari-cari sosok perempuan cantik yang baru dinikahinya tiga hari yang lalu. Sepasang matanya langsung terbuka lebar dan ia segera terbangun dari posisi tidurnya karena tidak mendapati sosok istrinya itu tidak berada di sebelahnya. Buru-buru disibakkan selimut yang menutupi tubuh polosnya kemudian ia memakai celana boxer yang tergeletak sembarangan di atas lantai. Bibir jokernya mengulas senyum lega setelah membuka pintu kamar ia mendapati sang istri sedang menyibukkan diri di dapur. Matanya langsung menatap mesum kearah tubuh indah Snow White-nya yang mengenakan hotpants sehingga memperlihatkan sepasang kaki jenjang nan mulus. Ditambah pula bagian atas tubuhnya hanya terbalut kemeja kebesaran milik suaminya dengan kancing teratas dibiarkan tidak terkancing sehingga belahan dada sintal yang tertutupi bra berwarna hitam itu tampak mengintip malu-malu terlihat menggoda di matanya. Ia kemudian berjinjit pelan mendekati istrinya agar tidak terdengar.

"Selamat pagi Kibummie...," laki-laki itu memeluk dari belakang tubuh mungil istrinya sambil mengecupi tengkuk putih yang terpampang indah karena rambut panjangnya digelung ke atas.

"Siwonnie.. kau mengejutkanku!," perempuan cantik bernama Kibum ini terlonjak kaget dan hampir saja menjatuhkan piring berisi masakan yang sedang dipegangnya.

"Apa yang kau masak? Dari bau harumnya terlihat lezat," tanya Siwon sambil masih memeluk Kibum dari belakang.

"Beijing Fried Rice. Aku belajar membuatnya dari Hangeng Gege," jawab Kibum. "Mandilah dulu, lalu kita sarapan."

"Jadi gara-gara ini kau tega meninggalanku merana sendirian di atas ranjang?," rajuk Siwon sambil memasang wajah memelas. Ia kemudian mengekor Kibum yang meletakkan masakan di meja makan.

"Dengan tubuh besarmu itu kau sama sekali tidak cocok kalau memasang wajah kekanakan seperti itu Siwonnie. Siapa yang meninggalkanmu? Aku kan hanya membuatkan sarapan," Kibum tersenyum geli melihat perilaku suaminya yang selalu terlihat dewasa tapi menjadi manja begitu berada didekatnya walau tentu saja Siwon lebih sering memanjakan dirinya.

"Tapi aku merasa kedinginan ketika terbangun kau tidak ada disisiku. Seharusnya kau memberiku kehangatan dulu Kibummie."

Siwon menarik tubuh Kibum kedalam dekapannya dan langsung menghujani ciuman di leher jenjang yang semula mulus namun telah terdapat tanda kepemilikan yang diberinya semalam. Dengan terampil, tangan besarnya membuka seluruh kancing kemeja Kibum hingga memperlihatkan bagian atas tubuh istrinya yang masih tertutupi bra. Betapa beruntungnya laki-laki tampan ini karena pengait bra itu berada di depan sehingga mempermudah Siwon untuk membukanya dengan cepat. Jemarinya meraih tonjolan kecil berwarna merah muda pada payudara Kibum, mengusap, memilinnya, lalu meremas gundukan dada bulat itu dengan gemas.

"Aaah...Siwonnie. Sudah kubilang mandilah dulu lalu kita sarapan," desah Kibum disela usahanya untuk melepaskan diri dari cumbuan suaminya.

"Setelah ini Kibummie..," Siwon bersikukuh untuk menyentuh istrinya. Bahkan sekarang sebelah payudara indah itu telah berpindah ke dalam mulutnya. Mengulum lalu menyedotnya dengan kuat seolah bayi yang tengah kelaparan sementara yang sebelah lagi dimanjakan dengan jemari Siwon.

"Semalam dan kemarin-kemarinnya lagi..aaah... kau sudah melakukannya. Apa belum puas juga aaah...," Kibum berusaha menjauhkan Siwon dari dadanya. Tapi Siwon tidak mendengarkan protes dari istrinya.

"Aah! sakit Kibummie...," keluh Siwon sambil memegangi pinggangnya yang dicubit Kibum.

"Kalau tidak begitu kau tidak akan melepaskanku," kata Kibum sambil membenahi pakaiannya yang berantakan karena cumbuan Siwon tadi. "Sakitkah?," tanya Kibum.

"Tentu saja sakit," rengek Siwon dengan manja.

"Maaf...," Kibum mengusap lembut pinggang yang tadi ia cubit. "Mandilah dulu kemudian kita sarapan. Setelah itu kau boleh melakukan apa saja..," bisik Kibum tepat di telinga Siwon.

"Sekarang saja nanti baru aku mandi," pinta Siwon.

"Kau bau yeobo... Aku tidak mau disentuh kalau kau belum mandi," Kibum memanyunkan bibir merahnya. Ia balik merajuk pada Siwon.

"Tapi aku kan tampan," ujar Siwon membanggakan diri.

"Iya. Tampan tapi bau," canda Kibum. Sudah sana mandi dulu!"

"Bagaimana kalau kau menemaniku mandi?," Siwon memasang wajah mesum.

"Ish, dasar mesum! Aku sudah mandi dari tadi. Cepatlah mandi...nanti makanannya dingin!," Kibum tertawa renyah sambil mendorong tubuh tinggi Siwon menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka.

"Baiklah...," sebelum berlalu Siwon mengecup singkat bibir merah istrinya itu.

Setelah Siwon masuk ke kamar mandi, Kibum lalu melangkah menuju lemari besar miliknya kemudian membukanya. Ia meraih bungkusan paket berukuran sedang yang telah diterimanya kemarin tapi belum sempat dibuka. Lee Sungmin, Mokpo. Begitu nama pengirim dan alamat yang tertulis pada bungkusan tersebut. Kibum meletakkan diri diatas lantai yang ditutupi karpet kemudian perlahan membuka kardus paket tersebut. Kibum mengernyitkan dahi ketika melihat isi paket yang telah dibukanya. Pakaian dan selimut bayi serta beberapa perlengkapan bayi lainnya. Ia terkekeh pelan sendiri. Bukankah terlalu cepat memberinya hadiah pernikahan perlengkapan untuk bayi sementara dirinya baru saja menikah?

Sepasang mata indahnya teralih pada sepucuk amplop warna pink yang terselip disana. Jemari Kibum kemudian membuka amplop itu. Terdapat surat dan selembar foto. Kibum membuka surat itu lalu membacanya. Tak terasa butiran bening mengalir dari sudut mata jernihnya. Di surat tersebut Sungmin meminta maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan sahabatnya. Sungmin mengucapkan selamat atas pernikahan Kibum dan mendoakan agar mereka selalu bahagia, tidak terpisahkan selamanya serta cepat mendapatkan anak. Karena itu Sungmin menghadiahi perlengkapan bayi sebagai doa agar harapan itu segera terkabul. Selanjutnya Sungmin menuliskan bahwa keadaan dirinya baik-baik saja selama di Mokpo. Ia telah dikaruniai seorang putri cantik bernama Lee Sunkyu yang sekarang berusia 2 tahun. Sahabatnya bernama Sungmin itu meminta Kibum agar tetap merahasiakan keadaan dan keberadaannya dari siapapun seperti yang selama ini telah Kibum lakukan.

"Eonni, bogoshippo.. Semoga kau dan putrimu baik-baik saja seperti yang kau katakan," gumam Kibum pelan saat melihat foto Sungmin sedang menggendong putri kecilnya.

=o=

Sementara itu di tempat lain yang berjarak cukup jauh dari Seoul tepatnya berada di Mokpo, tampak tiga orang atau lebih tepatnya dua orang dewasa dengan satu orang anak kecil sedang berada di sebuah pantai. Matahari belum terlalu tinggi sehingga udara di pantai tersebut belum terlalu panas. Si perempuan cantik sekaligus manis bernama Sungmin nampak asyik berjalan hingga menuju bibir pantai sambil menggendong putrinya dengan bertelanjang kaki. Perlahan kemudian Sungmin menurunkan putrinya dari gendongannya. Gadis kecil yang dipanggil Sunny ini berjingkat ketika sepasang kaki mungilnya menyentuh air laut yang dingin ketika angin membawa gulungan riak ke bibir pantai. Sunny memekik kencang lalu mengeratkan pelukannya pada sang eomma. Ia merasa ketakutan karena ketika ombak itu kembali ke tengah laut, tubuh kecilnya serasa ikut terbawa juga.

"Hahaha..kau takut sayang? Tidak apa-apa, ada eomma disini yang menjagamu," Sungmin tertawa kecil sambil berusaha menenangkan Sunny yang masih saja ketakutan. Perlahan Sungmin yang masih berjongkok mensejajarkan dengan tinggi tubuh putrinya itu melepas pelukan Sunny padanya. "Lihat, tidak apa-apa bukan? Eomma akan tetap memegangimu. Sungmin lalu memegang sepasang tangan mungil putrinya. "Wah, ombaknya datang lagi sayang. Sangat indah bukan?," Sungmin mengarahkan pandangan putrinya pada ombak kecil yang menghampiri mereka lagi.

"Mma...," bibir mungil Sunny berteriak kencang ketika riak itu menyentuh sepasang kaki mungilnya sekali lagi. Semula ia masih merasa takut namun lama-kelamaan mulai menikmatinya. Bahkan kini bibir mungil itu berteriak kegirangan dan mulai berceloteh dengan nada riang.

"Sudah eomma katakan kalau kau pasti akan menyukainya sayang. Anak eoma yag paling cantik memang pintar dan pemberani," Sungmin mencium gemas pipi bulat Sunny yang bersemu merah muda.

Sementara itu tak jauh dari situ, laki-laki bernama Jungmo yang menemani acara berlibur Sungmin dan putrinya itu menyunggingkan senyum saat menatap keduanya. Ia bisa melihat kegembiraan yang terpancar di wajah polos gadis mungil kesayangannya benama Sunny. Lalu beralih pada wajah cantik Sungmin yang memancarkan kasih sayang tulus pada sang putri. Dengan sabar Sungmin telah membuat Sunny yang semula takut dengan air laut kini tampak menikmatinya. Mereka berdua kelihatan sangat senang dan sesekali tertawa gembira. Sungmin melepaskan sebelah gandengan tangannya dari Sunny lalu mengajaknya berjalan perlahan di sepanjang bibir pantai sambil sesekali berjongkok mencari kerang.

Tak terasa kebersamaan Jungmo bersama Sungmin dan putrinya telah berjalan lebih dari dua tahun. Mereka bahkan sudah seperti keluarga utuh meskipun tidak ada ikatan pernikahan antara dirinya dengan Sungmin bahkan mereka pun tinggal terpisah. Namun Jungmo sering datang kerumah Sungmin untuk membantunya merawat Sunny. Kadang Sungmin juga mengunjungi rumah Jungmo untuk membantu membersihkan rumah dan memasak sementara Sunny bermain bersama Jungmo.

Sepasang mata Jungmo menatap lekat pada sosok Sungmin. Cantik dan sempurna. Begitulah sosok Sungmin yang yang terpikirkan dibenak Jungmo. Semula Jungmo hanya menganggap Sungmin sebagai adiknya dan awalnya ia hanya ingin menolong saja ketika perempuan ini dalam kesulitan. Tapi lama-kelamaan kebersamaan mereka itu telah menumbuhkan perasaan khusus dihati Jungmo. Ia tak peduli dengan status Sungmin yang pernah menikah dengan sepupunya Donghae dan juga masa lalu Sungmin bersama laki-laki lain yang membuatnya kini memiliki putri diluar pernikahannya karena Sungmin yang selama ini bersamanya adalah perempuan yan baik dan lembut. Jungmo bahkan terlanjur menyayangi Sunny dan memperlakukan gadis kecil ini seperti putrinya sendiri. Ia ingin selalu melindungi dan membahagiakan Sungmin dan Sunny. Tak akan membiarkan senyum dan tawa itu menghilang dari wajah keduanya.

Jungmo tahu bahwa dibalik senyum manis dan sikap tegar Sungmin itu tersimpan kepahitan. Apalagi ketika sepasang mata bulat nan indah milik Sungmin menatap putrinya. Dari situ Jungmo bisa menangkap bahwa didalam hati Sungmin masih menyimpan sebuah nama yaitu laki-laki yang menjadi ayah biologis dari Sunny. Walau Sungmin tak pernah membahas ayah kandung Sunny bahkan menyebutkan namanya, namun justru sikap diam perempuan cantik ini semakin memperjelas bagaimana suasana hatinya. Jungmo juga tahu bahwa Sungmin kadang meneteskan airmata diam-diam. Entah apa yang terjadi di masa lalu antara Sungmin dengan laki-laki itu hingga mampu merubah sosok periang dan manis itu menjadi pendiam dan melankolis karena Sungmin pun tak pernah menceritakan dengan detail padanya dan Jungmo sendiri tak ingin mengorek luka lama perempuan itu lebih dalam lagi.

Perlahan ulasan senyum di wajah Jungmo karena memikirkan Sungmin dan putrinya pun memudar. Pikirannya melayang pada hal lain. Tak terasa buliran bening mengalir dari sudut mata Jungmo. Sebulan yang lalu ia memeriksakan diri ke rumah sakit karena telah beberapa waktu Jungmo merasakan sesuatu yang lain di tubuhnya. Ketika dokter menyatakan hasil dari pemeriksaan medis, seketika itu juga seluruh harapannya menguap begitu saja. Secarik kertas itu telah memvonis hidupnya tidak akan lama lagi. Entah berapa lama lagi dirinya bisa bertahan dan bersama dengan mereka. Sebuah penyakit bernama Leukimia yang membuatnya harus memupus keinginan untuk selalu bersama kedua malaikatnya dan menjadikannya seorang pesakitan untuk beberapa waktu yang ia sendiri tak tahu kapan akan berakhir. Dokter mengatakan ada pasien dengan penyakit serupa bisa bertahan hingga 5 tahun namun ada juga yang hanya beberapa bulan tergantung dengan kondisi dan ketahanan fisik pasien. Satu-satunya cara untuk memperpanjang hidupnya adalah cangkok sumsum tulang belakang dan biasanya yang cocok hanyalah orang yang mempunyai hubungan darah. Hal ini tak mungkin dilakukan karena orangtuanya sudah tiada dan adik kandungnya yang berada di luar negeri pun kini tak pernah pulang lagi ke kampung halamannya bahkan telah lama mereka tidak pernah bertukar kabar. Jungmo menghela nafas panjang memikirkan hal itu. Entah bagaimana nasib Sungmin juga putrinya jika suatu saat ia meninggalkan mereka untuk selamanya karena selama ini dirinyalah yang menjaga keduanya.

"Oppa... Kemarilah, bermain bersama kami!," teriakan Sungmin dari bibir pantai membuat Jungmo tersadar dari lamunan. Ia mengusap lelehan airmata yang membasahi kedua pipinya lalu menyunggingkan senyum manis ketika melangkahkan kaki menuju tempat Sungmin dan Sunny berada. Bagaimanapun Jungmo bertekad akan bertahan selama mungkin demi menjaga mereka berdua. Jungmo juga tak ingin terlihat lemah dan sakit di hadapan Sungmin maupun Sunny.

=o=

Sore itu Kyuhyun asyik bergelut dengan buku tebal di kamarnya dengan pintunya sengaja dibiarkan terbuka. Sungguh suatu yang langka karena dulu dirinya paling malas jika harus membaca apapun. Meskipun jarang belajar, namun otak encernya yang diatas rata-rata itu mampu membuatya selalu mendapat nilai yang memuaskan. Tapi entah sejak kapan Kyuhyun mulai suka membaca seperti yag dilakukannya saat ini. Kalimat demi kalimat yang tertulis di dalam buku itu berusaha diresapinya. Walaupun sedang tidak ada ujian semester, namun Kyuhyun tetap berusaha menambah pengetahuan diluar mata kuliah yang diambilnya. Ia ingin mendapat hasil yang terbaik dan segera menyelesaikan kuliahnya.

"Kyu, aku bisa minta tolong padamu?," Ryeowook menghampiri Kyuhyun yang masih serius membaca di atas ranjang.

"Ada apa noona?," Kyuhyun mendongakkan kepala.

"Sepertinya kau sibuk."

"Tidak juga. Kau mau minta tolong apa noona?," Kyuhyun menutup bukunya lalu duduk di tepi ranjang.

"Aku ada janji untuk bertemu dengan Kibum. Sebentar lagi dia akan ikut suaminya ke Paris. Jadi aku mau memberikan sesuatu padanya. Vic sedang pergi dengan temannya. Bisakah kau mengantarku ke rumah sakit tempat Kibum bekerja?," tanya Ryeowook.

"Baiklah noona. Aku akan mengantarmu. Kau tunggu saja dibawah, aku ganti pakaian dulu," Kyuhyun menyanggupinya.

"Terimakasih Kyu. Aku tunggu diluar ya," Ryeowook pun keluar dari kamar Kyuhyun.

Tak lama kemudian Kyuhyun telah selesai berganti pakaian dan segera mengantarkan Ryeowook menggunakan mobil kesayangannya. Ryeowook duduk disamping Kyuhyun sambil memangku putranya yang tertidur.

"Kyu, tadi sebelum kita berangkat Kibum menelepon kalau dia sudah pulang dari rumah sakit. Dia mengajak bertemu di cafe dekat rumah sakit. Kau tahu kan tempatnya?"

"Aku tahu noona. Waktu kau melahirkan Kai, aku sering mampir kesana," ujar Kyuhyun sambil tetap fokus pada kemudinya.

"Baik. Kita kesana sekarang."

Kyuhyun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat yang diberitahukan oleh Ryeowook. Dua puluh menit kemudian mereka pun sampai di tempat yang dituju.

"Biar aku saja yang menggendongnya," Kyuhyun mengambil Kai dari pangkuan Ryeowook karena bagaimana pun ia tak akan membiarkan kakak iparnya menggendong sendiri anaknya apalagi dalam kondisi mengandung besar. Setelah itu mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam cafe.

"Bummie, maaf kau menunggu lama," kata Ryeowook setelah duduk di hadapan Kibum. Ia merasa tidak enak hati karena telah membuat Kibum harus menunggu hampir setengah jam.

"Tidak apa-apa eonni," Kibum tersenyum manis menenangkan Ryeowook.

"Kau ini rajin sekali Bummie. Masih pengantin baru tapi sudah masuk kerja."

"Ah, ini hari terakhirku bekerja karena mulai besok aku harus menyiapkan diri untuk berangkat ke Paris bersama Siwonnie. Karena itu aku harus membereskan semua pekerjaan yang tersisa sekaligus menyerahkannya pada penggantiku. Lagipula tadi aku harus berpamitan pada semua rekan kerjaku disana," ujar Kibum.

"Oiya, ini Kyuhyun adik iparku," Ryeowook memperkenalkan Kyuhyun yang duduk disampingnya.

"Ah, kami pernah bertemu waktu kau melahirkan eonni. Annyeong Kyuhyun-ssi," sapa Kibum ramah yang dibalas dengan anggukan sopan dari Kyuhyun. "Kau membawa putramu juga?," Kibum melihat Kai yang tertidur pulas di pangkuan Kyuhyun.

"Aku tidak mempunyai pengasuh anak. Vic sedang pergi berkencan dan Kyuhyun mengantarku kesini, jadi kubawa saja dia."

"Putramu sangat tampan eonni," puji Kibum tulus.

"Terimakasih Bummie," Ryeowook tersenyum mendengar pujian Kibum pada putranya. "Daripada mengagumi putraku, lebih baik kau segera menyusul saja. Aku bisa membayangkan kalau anak-anakmu nanti pasti sangat tampan dan cantik karena suamimu itu sangat tampan dan kau juga sangat cantik," goda Ryeowook.

"Wookie eonni, kami kan baru saja menikah bahkan baru satu minggu," semburat merah menghiasi pipi putih Kibum.

"Apa kamu tidak ingin segera punya anak Bummie?"

"Tentu saja...," balas Kibum malu-malu.

"Kalau begitu, kudoakan kau cepat hamil Bummie," Ryeowook tersenyum manis.

"Terimakasih eonni," Kibum balas tersenyum.

"Ah, ini buatmu," Ryeowook memberikan sebuah bungkusan besar berwarna ungu pada Kibum.

"Apa ini eonni?," tanya Kibum keheranan.

"Kenang-kenangan untukmu supaya tidak melupakanku selama di Paris. Bukalah sesampainya di rumah," kata Ryeowook.

"Terimakasih. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot begini."

"Aku tidak merasa direpotkan. Lalu bagaimana dengan keponakanmu kalau kau pergi ke Paris?"

"Tidak masalah kerena orangtuanya sekarang tinggal di Seoul. Lagipula sepertinya aku sudah mendapatkan orang yang tepat untuk kutitipi Eunhyuk," Kibum tersenyum penuh arti.

"Benarkah? Siapa itu?," tanya Ryeowook penasaran.

"Nanti kau juga akan tahu eonni."

"Ish, kau ini membuatku penasaran saja. Ya sudah aku mau ke toilet sebentar," Ryeowook berusaha berdiri dengan susah payah.

"Aku akan mengantarmu."

"Tidak perlu. Hanya sebentar saja, aku tidak akan apa-apa Bummie," larang Ryeowook ketika Kibum hendak mengantarnya ke toilet.

"Tapi.."

"Kau tenang saja... Kyu, titip Kai ya...," kata Ryeowook sebelum berlalu.

"Hati-hati noona," jawab Kyuhyun.

Ryeowook pun meninggalkan Kyuhyun berdua dengan Kibum.

"Bagaimana kuliahmu? Kudengar kau mengambil jurusan kedokteran," tanya Kibum sambil menyesap latte-nya.

"Cukup baik noona," jawab Kyuhyun.

"Syukurlah," Kibum tersenyum tipis. "Kelihatannya kau sangat menyayangi keponakanmu."

"Begitulah," sahut Kyuhyun singkat.

"Minnie eonni. Jika dia sudah melahirkan, anaknya mungkin usianya hampir sama dengan Kai," gumam Kibum.

"Apa? Maksudmu apa noona?," Kyuhyun memang mendengar dengan jelas gumaman Kibum tapi ia seolah tak percaya dan berusaha memastikan lagi.

"Mau kuberitahu sebuah rahasia? Aku belum pernah mengatakan ini pada siapapun," ujar Kibum dengan tatapan penuh arti pada pemuda dihadapannya.

"A-apa itu?," Kyuhyun sedikit gugup.

"Dua tahun yang lalu..ah..tidak..sepertinya lebih," Kibum nampak berpikir," Benar, lebih dari dua tahun yang lalu sewaktu pergi meninggalkan Seoul, Minnie eonni juga sedang mengandung," wajah Kibum terlihat tenang ketika mengucapkannya.

"Sungmin noona hamil?," sepasang mata Kyuhyun melebar. "La-lalu, kenapa dia malah bercerai dari suaminya? Kenapa dia tidak memberitahukannya juga pada...," Kyuhyun menghentikan perkataannya. Dalam benaknya langsung terlintas sebuah pemikiran lain. Entah itu salah atau benar, Kyuhyun hanya menyimpannya dalam hati saja.

'Karena itu bukan anak Lee Donghae, Kyuhyun-ssi,' Kibum berkata sendiri dalam hati.

'Ming, apa kau mengandung anakku?,' batin Kyunhyun. Dalam otaknya telah dipenuhi berbagai pertanyaan dan ia ingin segera mendapat kepastiannya sendiri. "Noona, apa kau tahu dimana Sungmin noona sekarang berada?," tanya Kyuhyun. Ia berharap Kibum tahu keberadaan Sungmin.

Kibum berpikir dalam hati. Selama ini dirinya yang mengetahui keadaan serta keberadaan Sungmin. Namun sahabatnya itu meminta Kibum untuk merahasiakan semuanya dari siapapun karena Sungmin ingin memulai hidup baru tanpa berhubungan lagi dengan masa lalunya. Kibum pun tetap menjaga rahasia ini termasuk dari Donghae meskipun kadang ia tak sampai hati melihat penderitaan Donghae yang merindukan Sungmin,namun bagaimanapun dirinya telah berjanji dan Kibum menghargai permintaan Sungmin.

Sebenarnya Kibum kini juga merasa bersalah pada Sungmin karena telah memberitahu keadaan sahabatnya yang pernah mengandung dan kini memiliki putri pada Kyuhyun, orang yang paling tidak ingin Sungmin harapkan untuk mengetahui keadaannya. Namun Kibum berpikir bahwa bagaimanapun pemuda di hadapannya itu adalah ayah biologis dari putri Sungmin. Ia berhak tahu keadaan Sungmin dan berharap agar Kyuhyun pun memikirkan Sungmin dan anaknya. Walau begitu Kibum tidak akan mengatakan dimana keberadaan Sungmin karena janjinya. Semoga takdir akan menuntun jalan Sungmin menuju kebahagiaannya. Begitu yang terpikir dibenak Kibum.

"Noona..," panggil Kyuhyun yang membuat Kibum tersadar dari lamunan.

"Maaf, aku tidak tahu dimana dia sekarang," jawab Kibum dengan tenang sambil tersenyum tipis.

TBC

Oiya, ada yg bertanya karena bingung masalah perbedaan umur masing2 karakter. OK deh, akan saya jelaskan:

Sungmin : di chapt ini umur Sungmin sekarang 26 tahun karena sudah hampir 3 th berlalu sejak pisah dengan Donghae (23 th saat pertamakali berhubungan dengan Kyuhyun).

Kyuhyun : sekarang 20 th (17 th saat pertamakali kenal Sungmin)

Donghae : sekarang 26 tahun (disini Donghae lebih tua beberapa bulan dari Sungmin)

Kibum : 25 tahun (sahabat Donghae & Sungmin sejak SMA)

Siwon : 26 th (dijodohkan dengan Kibum sejak 3 th yang lalu, sekarang jadi suami Kibum)

Ryeowook : 25 th (sepupu Sungmin)

Yesung : 28 th, suami Ryeowook (jaraknya jauh dengan Kyuhyun karena ia anak pertama, sedangkan Kyuhyun magnae)

Heechul : 34 th (kakak kandung Kibum. Jarak mereka memang jauh. Kalau ditanya kenapa bisa begitu? Tanya aja ma ortu mereka kenapa bikinnya bisa begitu *plaaak * )

Hangeng: suami Heechul, berasal dari Cina, berusia 36 th (anggap aja disini lebih tua 2 th dari Heechul :D). Saat kuliah di Korea, Hangeng bertemu dengan Heechul dan langsung jatuh cinta, lalu melamarnya setelah Heechul lulus SMA)

Eunhyuk : 16 th (putri Hanchul. Donghae baru mengenali Eunhyuk karena selama ini Heechul dan putrinya beberapa tahun ini tinggal di Cina. Waktu masih tinggal di Korea Donghae pernah melihat Eunhyuk tapi waktu masih kecil & kemudian Donghae kuliah di Amerika. Tapi sekarang tinggal di Korea)

Ada yang mau ditanyakan lagi? ^^ *senyum sejuta watt*

Jangan lupa..baca lagi dari chapt 9 ^_^

Thanx banget buat semua yg sudi membaca ff saya terutama mau memberi komen. saya sangat menghargai kritik dan saran kalian *deep bow*

Special thanx to :

Fadhillah Umar Paboelo Pamatte

kimjulia220799

sparkyu

Choikyuhae

danhobak98

Malidaminne

.7

mink

sitara1083

AmaterasuUchih1

Cha2LoveKorean

ck mendokusei

kim kyuna

Rilianda Abelira

Stepanhie Choi

SparkSomnia

Anonymouss

audrey musaena

SooHyun137

Minnie Seongmin

nam sung rin

reaRelf

Melani KyuminElfSha137

MinnieGalz

Heeyeon

mrs. Kim

Lee Ji Min

Rima KyuMin Elf

MINGswife

ELgyuMin

rainy hearT

Para guest yg gak nyebutin namanya

para silent reader juga

Gomawo ne...*cipok satu2*