Title: MURDER CASE IN BANGTAN ESTATE
Cast: Namjoon, Jin, Yoongi, Hoseok, Jimin, Taehyung, Jungkook - #VMin #TaeGi
Lenght: Chapter
Rating: 15+
Author: Tae-V [Line KTH_V95, Twitter KTH_V95]
CHAPTER 11
.
DESEMBER 2016
Jimin mengunjungi Taehyung lagi di penjara sore itu.
"Ada apa, Kim Taehyung-sshi? Mengapa kau memintaku menemuimu?" tanya Jimin ketika ia sudah berada dalam ruangan itu, hanya berdua dengan Taehyung.
Taehyung menatap Jimin beberapa saat lamanya, lalu berkata, "Aku... Sepertinya mulai mengingat sesuatu yang lain..."
Jimin melebarkan kedua matanya yang kecil itu. "Maksudmu? Ingatanmu mulai kembali?"
Taehyung mengerutkan keningnya. "Tidak sepenuhnya kembali... Justru menurutku, hanya sangat sedikit yang kuingat..."
"Apapun itu, sekecil apapun ingatanmu yang kembali, akan menjadi petunjuk dalam kasusmu ini... Ceritakan padaku apa yang kau ingat, Taehyung-sshi..." sahut Jimin.
"Aku... Semalam adegan ini melintas begitu saja dalam benakku ketika aku tertidur dalam klinik..." sahut Taehyung.
Jimin memperhatikan Taehyung dengan seksama, bersiap mendengarkan cerita Taehyung.
"Jin hyeong... Terduduk di lantai lantai tiga rumah kami... Di ruang tengah lantai tiga tepatnya, karena aku melihat ada televisi dan home theater di belakang Jin hyeong.. Wajahnya terlihat sangat ketakutan... Ia terus bertanya, apa yang akan kau lakukan dengan tongkat golf itu... Ekspresi wajahnya begitu ketakutan... Dan tak lama kemudian tongkat golf itu mengenai kepala Jin hyeong.. Jin hyeong berteriak dan darah mulai mengalir dari kepalanya membasahi wajah dan pakaiannya..." sahut Taehyung.
"Jinjja? Hal itu melintas dalam benakmu?" tanya Jimin dengan penuh keterkejutan.
Taehyung menganggukan kepalanya.
"Lalu... Siapa... Yang memukul Jin-sshi dengan tongkat golf itu?" tanya Jimin. "Apa kau mengingatnya?"
Taehyung menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak mengingat siapa yang memukul Jin hyeong..."
Jimin mulai berpikir.
"Bisa jadi... Aku yang memukul Jin hyeong..." sahut Taehyung sambil menundukkan kepalanya.
Jimin menatap Taehyung.
"Mengapa kau berkata begitu?" tanya Jimin.
"Entahlah... Aku hanya... Benar-benar tidak mengerti... Apa yang sebenarnya terjadi malam itu... Mengapa Jin hyeong terbunuh dengan mengenaskan... Mengapa aku lompat dari lantai tiga... Mengapa aku tak ingat apapun... Siapa yang membunuh Jin hyeong sebenarnya? Apa benar.. Aku pelakunya..." sahut Taehyung dengan nada lirih.
Jimin menatap Taehyung. Jimin bisa melihat dengan sangat jelas, betapa depresinya Taehyung saat itu.
"Coba perlahan kau ingat-ingat lagi.. Siapa yang membunuh Jin-sshi... Apa kau yakin... Kau yang membunuhnya? Atau.. Ada orang lain disana ketika kejadian itu terjadi?" tanya Jimin.
Taehyung menatap Jimin. "Aku akan berusaha mengingatnya..."
"Kau bisa langsung hubungi aku jika kau mengingat hal lainnya..." sahut Jimin.
Taehyung menganggukan kepalanya.
"Waktu kita tidak banyak, Taehyung-sshi... Tinggal empat hari lagi..." sahut Jimin.
"Araseo..." sahut Taehyung.
.
.
.
Jungkook terus merenung sambil duduk di meja kerjanya.
Namjoon berkali-kali memanggil namanya namun Jungkook tidak merespon.
Namjoon berjalan menuju tempat Jungkook terduduk.
BUK!
"Yaishhh, imma! Kupingmu sudah tidak berfungsi lagi?" tanya Namjoon sambil memukul kepala Jungkook dengan beberapa kertas berkas kasus di tangannya.
"Ouchh!" gerutu Jungkook sambil menatap Namjoon dan memegang kepalanya yang dipukul Namjoon barusan.
"Apa yang kau pikirkan? Daritadi aku terus memanggilmu namun kau tak menyahut juga..." sahut Namjoon.
"Uh? Mian, hyeong..." sahut Jungkook dengan ekspresi polos di wajahnya.
"Aigoo! Kau bertengkar lagi dengan kekasihmu?" tanya Namjoon.
Jungkook menggelengkan kepalanya. "Aniya~ Geunyang.. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak kemarin..."
"Kau bantu aku urus kasus ini, aku ada keperluan sebentar.. Dua jam lagi aku kembali.. Aku pergi dulu ya!" sahut Namjoon sambil meletakkan beberapa berkasi di atas meja Jungkook.
"Uh? Ahhh.. Ne... Araseo, hyeong.. Kau mau kemana?" tanya Jungkook.
"Ke tempat temanku.." sahut Namjoon sambil berjalan keluar dari ruang kerja mereka itu.
"Hati-hati, hyeong..." sahut Jungkook.
Namjoon mengangkat tangan kanannya, menandakan ia mengiyakan ucapan Jungkook, sambil terus berjalan tanpa menoleh ke arah Jungkook.
Jungkook terus memperhatikan sosok Namjoon yang mulai menghilang dari hadapannya itu.
Beberapa saat lamanya Jungkook menatap ke arah Namjoon itu, lalu memejamkan kedua bola matanya sambil memijat pelan keningnya.
"Apa yang harus kulakukan?" gumam Jungkook.
.
.
.
"Waktu kita tidak banyak, Taehyung-sshi... Tinggal empat hari lagi..."
Ucapan Jimin terus terngiang di benak Taehyung.
"Tinggal empat hari lagi..." gumam Taehyung.
"Waeyo, Taehyung ah?" tanya Yoongi, yang sudah sedari tadi diam-diam memperhatikan Taehyung yang tengah merenung dalam sel itu.
Taehyung mengangkat kepalanya, menatap Yoongi. "Gwenchana, hyeong..."
"Himnae, Kim Taehyung! Sidangmu akan digelar.. Empat hari lagi kan?" tanya Yoongi.
Taehyung menganggukan kepalanya.
"Apa kau bisa menang? Kau bahkan masing kehilangan ingatanmu..." sahut Yoongi.
"Molla, hyeong..." sahut Taehyung dengan nada lemah.
Yoongi mendekati Taehyung, lalu kedua tangan Yoongi menggenggam kedua tangan Taehyung. Tatapan Yoongi terkunci ke kedua bola mata Taehyung.
"Aku berharap... Di persidangan nanti, semua berjalan dengan sebaik mungkin, Kim Taehyung.. Jangan sampai... Kau menjadi tahanan tak bersalah sepertiku..." sahut Yoongi.
"Uh?" Taehyung menatap Yoongi.
"Entah mengapa, aku merasa sangat yakin.. Bukan kau yang membunuh hyeongmu itu..." sahut Yoongi.
Taehyung dan Yoongi saling bertatapan.
Dan tiba-tiba saja.
CUP!
Sebuah kecupan lembut yang singkat itu mendarat di bibir Taehyung.
"Kuharap, ini bisa menjadi penyemangatmu... Kim Taehyung..." sahut Yoongi.
Taehyung masih membelalakan kedua bola matanya karena terkejut.
"Kurasa.. Aku jatuh cinta padamu, Taehyung ah... Padahal aku... Begitu membenci hyeongmu itu..." sahut Yoongi. Kedua pipinya mulai memerah.
Yoongi segera melepaskan genggamannya di tangan Taehyung, lalu segera berjalan cepat menuju matrasnya dan segera berbaring disana, membelakangi Taehyung.
Ia tiba-tiba saja merasa malu atas kenekatannya barusan.
Yoongi menarik selimutnya sampai menutupi seluruh wajahnya.
Sementara Taehyung tetap terdiam di tempatnya terduduk, masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja Yoongi katakan dan lakukan kepadanya.
.
.
.
"Apa yang Taehyung katakan padamu, hyeong?" tanya Jungkook.
Malam itu, Jungkook menyempatkan dirinya menjemput Jimin di kantornya untuk makan malam bersama.
Jimin menatap Jungkook. "Mengapa kau begitu terlihat penasaran, chagi? Tidak biasanya kau ikut campur sejauh ini dalam kasus yang kutangani..."
Jungkook terdiam beberapa saat.
Jimin mengerutkan keningnya sambil menatap Jungkook.
"Aniya... Geunyang..." sahut Jungkook.
"Waeyo?" tanya Jimin.
"Aku... Mencemaskan karirmu, hyeong... Kau maju menjadi jaksa pembela Kim Taehyung saja sudah banyak yang menghujatmu, apalagi kalau kau benar-benar kalah telak dalam persidangan nanti..." sahut Jungkook.
Jimin memiringkan kepalanya. Tidak biasanya kekasihnya bersikap sedikit berlebihan seperti ini.
"Jeon Jungkook.. Ada apa denganmu?" tanya Jimin.
"Jinjja, hyeong... Aku benar-benar mencemaskanmu kali ini..." sahut Jungkook.
Jungkook benci, paling benci, setiap Jimin memanggil namanya. Karena itu berarti mood Jimin sedang tidak baik, atau tanda-tanda bahwa mereka akan segera bertengkar.
Jimin terus menatap Jungkook dengan penuh tanda tanya.
"Jinjja, hyeong..." sahut Jungkook dengan wajah memelas,berusaha meyakinkan Jimin.
Tangan kanannya menggenggam tangan kiri Jimin yang duduk dihadapannya itu.
Jimin menganggukan pelan kepalanya, lalu kembali menyendok makanan di piringnya.
Setelah suasana menjadi hening beberapa saat lamanya, Jimin menatap Jungkook.
"Bagaimana kasus yang tengah kau tangani, chagi?" tanya Jimin.
Jungkook kembali merasa lega dengan pertanyaan Jimin. Jimin sudah tidak lagi memanggil namanya. Itu tandanya, Jimin sudah tidak marah lagi padanya.
"Seperti biasa, hyeong... Melelahkan..." sahut Jungkook sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Himnae! Hehehe~" sahut Jimin sambil tersenyum, berusaha menyemangati kekasihnya yang tampan itu.
Jungkook ikut tersenyum, menampilkan sederetan gigi kelincinya, sambil menganggukan pelan kepalanya.
"Kau juga, hyeong.. Hwaiting!" sahut Jungkook sambil mengusap pelan poni Jimin.
.
.
.
Sejak kejadian Yoongi mencium Taehyung sore tadi, suasana dalam sel itu jadi agak canggung.
Bahkan, ketika makan malam tadi pun, mereka saling terdiam.
Setelah kejadian itu, Yoongi terus berbaring dan tidak berani bergerak dari matrasnya, kecuali jika ia ingin ke toilet, dan ketika makan malam tadi.
Sementara Taehyung terus terduduk di pojok ruangan sambil memeluk kedua lututnya yang ditekuk ke atas itu.
Berbagai pikiran melintas dalam benak Taehyung. Sementara berbagai rutukan terus terngiang dalam benak Yoongi, merutuki dirinya yang terlalu nekat mengutarakan perasaannya tadi kepada Taehyung.
"Min Yoongi, kau sudah kehilangan akal sehatmu rupanya?" gerutu batin Yoongi.
"Apa yang kau sukai darinya? Bukankah kau begitu membenci hyeongnya itu?" gerutu batin Yoongi lagi.
Yoongi terus menutupi tubuhnya dengan selimut sambil bergelut dengan batinnya.
Tiba-tiba saja ucapan Taehyung memecah kesunyian malam itu.
"Hyeong... Sampai kapan kau akan terus bersembunyi disana?" tanya Taehyung.
"Uh?" Yoongi terkejut, tidak menyangka Taehyung akan menegurnya terlebih dulu.
"Kau bisa kehabisan nafas kalau terus bersembunyi di bawah selimutmu itu, hyeong.." sahut Taehyung.
Yoongi segera duduk di atas matrasnya sambil menatap Taehyung.
"Mian, Taehyung ah... Aku tadi entah sedang berpikir apa..." sahut Yoongi dengan wajah merasa bersalah.
Taehyung tersenyum simpul, senyuman yang membuat detak jantung Yoongi kembali berdebar tidak karuan.
"Aku... Ada sangat banyak hal yang membebaniku, hyeong.. Jadi maaf kalau aku bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana menanggapi ucapanmu tadi..." sahut Taehyung.
"Ne... Aku mengerti, Taehyung ah... Maafkan kebodohanku tadi..." sahut Yoongi sambil memajukan bibirnya sedikit ke depan.
Taehyung tersenyum. Ia bangun dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Namun, langkahnya terhenti sejenak tepat disamping tempat Yoongi terduduk.
Taehyung mengusap pelan kepala Yoongi sambil tersenyum, kemudian berjalan masuk ke dalam toilet.
"Mwoyaaaaaa~~~~~~~~~" gumam Yoongi sambil memekik pelan, kegirangan. Padahal hanya sentuhan kecil Taehyung di kepalanya, namun entah mengapa ia merasa begitu senang.
"Whoaaaaa... Min Yoongi... Kau sudah gila rupanya?" gumam Yoongi sambil menepuk-nepuk pelan kedua pipinya.
.
.
.
Yoongi terbangun dari mimpinya setelah tertidur beberapa saat lamanya.
Yoongi memimpikan Taehyung dalam mimpinya, dan ia segera terbangun dengan detak jantung yang begitu tidak karuan.
Yoongi membalikkan tubuhnya dan menatap Taehyung yang sudah tertidur lelap di matrasnya yang berada di sebelah matras Yoongi.
Wajah Taehyung terlihat begitu sempurna di mata Yoongi.
Tanpa sadar sebuah lagu seolah terputar di benak Yoongi ketika ia tengah asik menatap Taehyung yang tertidur lelap disampingnya itu.
"Suran – Heartbeat (Ost. Strong Woman Do Bong Soon)
I'm dreaming
With a fluttering heart
I'm looking at you
With a pounding heart, without knowing
Like today
A white star came down into my heart
It's floating and shining in your eyes
I'm drawing you out
Blankly, on the colored sky
I'm turning around
Because of chance
Like today
A white star came down into my heart
I'm floating and shining in your eyes
Like each day
If only you could come to me
Like the warm night sky
Heartbeat heartbeat
Speeding Up
Heartbeat heartbeat
In My Mind
Heartbeat heartbeat
It's slowly getting louder
Heartbeat heartbeat
On And On
Heartbeat heartbeat
In My Mind
Heartbeat heartbeat
I feel like you can hear it
I'm dreaming
With a fluttering heart
I'm looking at you
With a pounding heart, without knowing
Like today
A white star came down into my heart
It's floating and shining in your eyes
Like each day
If only you could come to me
Like the warm night sky
Heartbeat heartbeat
Speeding Up
Heartbeat heartbeat
In My Mind
Heartbeat heartbeat
It's slowly getting louder
Heartbeat heartbeat
On And On
Heartbeat heartbeat
In My Mind
Heartbeat heartbeat
I feel like you can hear it
I'm dreaming
With a fluttering heart
I'm looking at you
With a pounding heart, without knowing"
Tanpa sadar, sebuah senyuman terbentuk di wajah Yoongi.
"Kim Taehyung... Apa yang membuatku bisa jadi begitu tergila-gila padamu begini? Padahal aku... Sangat sangat... Membenci hyeongmu itu..." gumam Yoongi sambil mengusap pelan rambut Taehyung.
Yoongi terus menatap wajah Taehyung yang tertidur lelap di hadapannya itu.
"Aku benar-benar berharap... Persidanganmu dapat berjalan lancar..." gumam Yoongi.
.
.
.
Tiga hari lagi sidang Taehyung mengenai kasus pembunuhan Jin akan digelar, namun ingatan Taehyung tetap belum mengalami kemajuan.
Jimin juga sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari dan meneliti semua dokumen mengenai kasus pembunuhan itu, namun Jimin belum juga menemukan titik cerah. Semua bukti benar-benar mengarah kepada Taehyung!
"Apa lagi cara yang bisa kulakukan?" gumam Jimin di meja kerjanya. Seperti hari-hari kemarin, wajahnya dan rambutnya terlihat sangat kusut pagi itu.
"Ini masih jam sepuluh, namun kau sudah terlihat sekusut itu.. Kau baik-baik saja, Jimin ah?" tanya Hyungsik.
Jimin menganggukan kepalanya pelan sambil menggaruk kepalanya.
"Aigoo... Lagipula, siapa suruh kau mengambil kasus itu?" sahut Jinyoung.
"Kudengar atasan kita langsung yang memohon Jimin menangani kasus ini..." bisik Hyungsik kepada Jinyoung.
"Ah.. Majjayo..." bisik Jinyoung.
Tak lama kemudian, Minseok masuk ke dalam ruangan.
"Jimin ah... Kau disuruh menghadap ke ruangannya..." sahut Minseok.
"Ne, hyeong..." sahut Jimin dengan nada lemah.
Jimin segera berjalan menuju ruangan atasannya yang bernama Lee Dongwook.
TOK! TOK!
Jimin mengetuk pintu ruang kerja Dongwook.
"Masuk..." sahut Dongwook.
Jimin berjalan masuk ke dalam ruangan itu.
"Silakan duduk..." sahut Dongwook, mempersilakan Jimin duduk di kursi yang ada dihadapan kursi yang diduduki Dongwook.
"Ada apa, Sir?" tanya Jimin.
"Kau.. Bagaimana kemajuan yang kau peroleh mengenai kasus Kim Taehyung?" tanya Dongwook.
Jimin menundukkan kepalanya.
"Aku bisa melihat dari wajahmu yang lemas itu... Kau sudah berusaha sebisa mungkin, namun hasilnya sama saja?" tanya Dongwook.
Jimin menganggukan pelan kepalanya.
"Himnae, Park Jimin!" sahut Dongwook.
"Tinggal tiga hari lagi, Sir..." sahut Jimin.
"Taehyung... Ingatannya belum kembali?" tanya Dongwook.
Jimin menatap Dongwook. "Sedikit... Hanya sedikit..."
"Dan tetap saja pelakunya belum dapat dipastikan?" tanya Dongwook.
Jimin menganggukan kepalanya.
Dongwook menghela nafas. "Entah mengapa, feelingku merasa bukan Taehyung pelakunya... Namun, hanya ingatan Taehyung lah satu-satunya bukti mengenai siapa pelaku sebenarnya... Dan ia kehilangan ingatannya yang sangat berharga itu..."
"Majjayo..." sahut Jimin.
"Kau juga... Mulai yakin bukan Taehyung pelakunya?" tanya Dongwook sambil menatap Jimin.
Jimin menatap Dongwook sejenak, lalu berkata, "Entah mengapa, aku juga merasa.. Feelingku kali ini tidak salah.. Bahwa Taehyung, bukan pelakunya..."
"Karena itu... Katakan pada dirimu, bukan tinggal tiga hari lagi waktu yang tersisa, tapi masih ada tiga hari lagi waktu yang kau miliki untuk mencari bukti-bukti lainnya..." sahut Dongwook.
Jimin tercengang mendengar ucapan Dongwook.
"Majjayo... Bukan tinggal tiga hari, tapi masih ada tiga hari lagi..." sahut Jimin. Dirinya kembali termotivasi oleh ucapan atasannya yang sangat bijaksana itu.
Dongwook menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Kalau begitu, silakan lanjutkan pekerjaanmu, Park Jimin.. Semoga sukses..." sahut Dongwook.
Jimin kembali menuju ruangannya, dan semangatnya yang nyaris hilang itu kembali muncul ke permukaan.
.
.
.
SEPTEMBER 2016 (Satu Hari Sebelum Pembunuhan Jin Terjadi)
"Besok kau ada sidang lagi, hyeong?" tanya Hoseok setelah ia dan Jin selesai makan siang bersama.
"Majjayo.. Jam sembilan pagi..." sahut Jin.
"Kudengar pengacaranya Park Jimin..." sahut Hoseok.
Jin menganggukan kepalanya.
"Kau pasti menang.. Sudah berapa kali kau membuatnya kalah telak di persidangan... Hahaha..." sahut Hoseok.
Jin terdiam sejenak.
"Waeyo, hyeong?" tanya Hoseok.
"Sebenarnya.. Park Jimin adalah orang yang baik..." sahut Jin. "Ia juga cerdas... Sayangnya, ia terlalu mempercayai kliennya... Makanya aku selalu menang.. Karena selama ini, semua yang dibelanya di pengadilan memiliki terlalu banyak bukti yang mengarah padanya..."
"Harusnya ia menolak klien-klien yang memang terbukti jelas-jelas bersalah? Itu maksudmu, hyeong?" sahut Hoseok.
Jin menganggukan kepalanya. "Semua klien yang diterimanya selama ini adalah orang-orang yang beresiko tinggi sebagai pelaku sesungguhnya.. Makanya ia selalu kalah telak..."
Hoseok menatap Jin. "Aigoo~"
Mereka pun segera berjalan masuk ke dalam ruang kerja mereka.
.
.
.
"Hyeong... Ayo makan siang, kepalaku pusing sekali... Aku kelaparan sepertinya.." sahut Hoseok.
"Aigoo... Kau pasti tidak sarapan lagi?" tanya Jin.
Hoseok menganggukan kepalanya. "Aku bangun kesiangan... Makanya terburu-buru berangkat dan tidak sempat makan tadi pagi..."
Jin menatap Hoseok. "Makanya, epat-cepat menikah.. Supaya ada yang memasakkan makanan untukmu setiap pagi..."
Hoseok menatap Jin sambil memajukkan bibirnya. "Kalau kau kuajak menikah, kau pasti tidak bersedia kan?"
"Yaishhh... Memangnya harus aku?" sahut Jin sambil menimpuk Hoseok dengan gumpalan kertas.
Hoseok menatap Jin, kali ini tatapannya sangat serius.
"Hyeong... Kalau bukan denganmu... Aku tidak mau menikah dengan siapapun... Aku serius..." sahut Hoseok.
Jin tercengang. Jarang sekali Hoseok terlihat seserius ini dihadapannya.
"Hoseok ah..." sahut Jin pelan. "Mianhae..."
Hoseok menghela nafasnya, dari ekspresi wajahnya terlihat jelas betapa ia kecewa dengan jawaban Jin itu.
"Ayo kita ke kantin, Jung Hoseok~" sahut Jin sambil bangun dari mejanya.
Hoseok masih terdiam di kursinya.
Jin menatap Hoseok. "Ayo~ Katamu tadi kau lapar..."
"Ne..." sahut Hoseok sambil berjalan dengan malas-malasan ke tempat Jin berdiri.
Jin dan Hoseok berjalan berdua menuju kantin.
"Hoseok ah.. Sore nanti sepulang bekerja nanti, bagaimana kalau kita bermain golf lagi? Sudah cukup lama kita tidak main golf berdua~" sahut Jin sambil merangkul bahu Hoseok.
"Ide bagus, hyeong... Kau.. Sedang berusaha menghiburku kan?" tanya Hoseok sambil menatap Jin.
Jin tersenyum, sangat manis. "Aku juga butuh melepaskan stresku karena Kim Taehyung..."
"Araseo... Ayo kita bermain golf sore ini, hyeong..." sahut Hoseok sambil merangkul pundak Jin.
.
-TBC-
NOTE: AKHIRNYA SAYA KAMBEK/? #gadayangnyariinjuga XD
MAAF LAHIR BATIN YA SEMUA, MAAF KALO SAYA ADA BANYAK SALAH /sungkem satu2/ :)
reply for review:
ichikawa haru : jiminnya ada kan disini? kok nyumput? /cengo/ 3J keren ya? :) kerenan 4 o'clock tp wkwkw XD
Maria Felicia : udah ada notif masuk tp belum ada waktu baca yg A Mask itu :( iya So Far Away yg feta JJK KSJ keren njer hmmm bang agus jago bgt emang dah :) yg feat suran saya jg suka, saya suka suara suran :) yoi 4 o'clock by kembaran saya/? XD jarang bgt nonton film barat saya fel, kurang suka masa wkwkw XD dokter itu euisa, cm kalo dokter tetep dipanggil-ssaem biasanya disana mah... hayoooo siapa pelakunya wkwkw XD
PSB : WADUH SIAPA HAYO XD
Vizah HD : wkwkw XD hayo siapa coba pelakunya hmmm? :) harus diingat satu hal, jin juga suka main golf kan makanya di rumahnya pasti juga ada tongkat golf :) cuma ngasihtau aja sih wkwkw XD wkwkw gpp zah bacotanmu selalu jd moodbosetr saya kok :) silakan ngebacot sebanyak mungkin, saya baca kok pasti :) yukdah kita sungkem2an :) minal aidin wal faidzin ya :)
taniaarmy19 : jimin emang kecil dan itu WAJIB diperjelas wkwkw XD btw, cuma mau ngingetin ya, jin juga suka ngegolf, jd di rumahnya pasti ada tongkat golf juga :) cuma ngasihtau aja sih wkwkw XD lah kok jd laper XD
khaliza19 : HAYO SIAPA PELAKUNYA? wkwkw XD tenang aja, abis ff ini end, ff baru yg bakal saya post tentang sweet2an dan daily life kok, istirahat dulu saya jd genre misteri (read: lg keabisan ide setelah bikin Bangtan Fear Street, Bangtan Bloody School, dan Murder Case In Bangtan Estate) wkwkw XD jd ff saya setelah ini bakal nyantai kok kaga pake mikir :) paling siap2 senyum2 bacanya/? XD
Habibahjeon : sejujurnya... saya itu... alay akut XD jgn begitu ani, kalau kau kupertemukan dengannya nati kau mati/? XD HAYO SIAPA HAYOOO :)
GestiPark : jgn goyah nak, teguhkan imanmu/? XD
YoonSeokBase : wkwkw iya saya kaget kok bs gitu ya mana saya jg ngikutin suspicious kan jd berasa kok kayak saya sama si writernya itu drama sepikiran/? XD WAKS DIA MANA NGERTI BAHASA INDONESIA XD mungkin saya sama writernya jodoh/? XD CIYE YG CURIGA SAMA SUNGJAE WKWKW XD here lanjutannya :) minal aidin juga ya :)
Indriyasinta212 : saya aja mudik juga makanya hiatus kmrn XD maaf lahir batin ya ndri :) wah sungjae dicurigai hmmmm :) rumus matematika? wkwkw XD thx a lot readers tercinta :*
iPSyuu : ciye yg deg2an wkwkw XD sini saya aja yg bilang saranghae ke kamu :) sungjae mulai dicurigai hmmm :) remahnya emang enak, asin2 gmn gt :) maaf lahir batin juga ya yuu maafin saya klo byk salah :)
ParkYoonji : maaf lahir batin juga nji :) here next chapter :)
AdeJungHobie : wkwkw jd tersangka utama ciye ehem/? XD NAH ITU DIA DE, SAYA AJA BINGUNG, INI FF PERASAAN SAYA BIKIN KEINSPIRASI DARI DRAMA DEFENDANT, KENAPA MALAH JD MIRIP SUSPICIOUS PARTNER YA XD saya sama SP writer jodoh kayaknya/? XD SAYA JG CINTA KAMYU :* maaf lahir batin ya de :)
Avijunhobie : saya kan hiatus semingguan vi wkwkw XD panggil abang hensem aja kaga papa XD iya taegi lumayan ada beberapa kok :) ah, jhope lovers toh :) hayoooo siapa pelakunya hayoooo? :) avi, maaf lahir batin ya btw :)
