Kyumin story
Genderswitch (gs)
Romance
.
.
.
sorry for typo(s)
.
Chapter 10
KEESOKAN harinya, pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Biasanya aku paling malas mencuci mobilku dan selalu minta tolong pada Kim ahjusshi. Tapi pagi itu tanpa menunggu Kim ahjusshi, aku langsung membasahi body mobilku dengan selang dan mulai menyapunya dengan busa dan sabun.
Jam delapan pagi, saat aku masih sibuk mencuci mobilku, Audy perak Yoochun memasuki pekarangan rumahku. Aku menimbang-nimbang apakah aku bisa lari masuk ke dalam rumahku tanpa terlihat olehnya. Tapi terlambat, mobil itu sudah berhenti dan Yoochun melangkah keluar.
Dengan agak gugup, kuperhatikan penampilanku pagi itu. Rambut acak-acakan yang hanya diikat asal dengan karet, kaus dan celana pendek yang sudah lusuh. Aku mengembuskan napasku dan berharap Yoochun tidak memperhatikan pakaianku.
Yoochun berjalan ke arahku dengan penuh semangat. Dia terlihat rapi dan supertampan untuk jam delapan pagi hari Minggu. Dia melemparkan senyumnya ke arahku dan duniaku langsung terasa ceria. Keraguan yang kurasakan tadi malam kini sirna dan dalam hari aku berkata, I'll marry him today if he asks me, Junsu and all the world be damn.
Bagaimana mungkin aku bisa membandingkan Yoochun dengan Kyuhyun tadi malam ? Yoochun cinta sejatiku, Kyuhyun... well, aku tidak tahu apa arti Kyuhyun untukku. Aku mengedipkan mataku berkali-kali untuk mencegahnya berkaca-kaca. Akhirnya Tuhan telah mendengar permintaanku dan memberiku jalan.
"Yoochun-ah, kenapa tidak menghubungiku dulu jika ingin datang ?" teriakku dengan suara seceria mungkin.
"Aku sudah meninggalkan Junsu, pertunangan kami batal. Sekarang aku sudah bebas, aku bisa mengejar apa saja yang aku inginkan. Dan aku ingin kau," Yoochun meneriakkan kata-kata itu.
Pertama-tama aku hanya bisa terpaku. Hatiku menyarankan untuk lari ke pelukannya dan menciumnya saat itu juga. Selang air di genggamanku masih menyala dan mengucurkan air ke kakiku, tapi aku tidak menyadarinya.
Ternyata bukan hanya aku yang mendengar pernyataan Yoochun, beberapa tetanggaku yang sedang jogging sempat berhenti untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Perlahan aku berjalan menuju keran air dan mematikannya. Aku melirik ke pintu rumahku untuk memastikan bahwa orangtuaku tidak mendengar teriakan Yoochun tadi. Yoochun menghampiriku.
"Bagaimana, Min ? Aku tahu kau juga menginginkanku," Yoochun memohon.
Hatiku berteriak, aku menginginkanmu dengan sepenuh hatiku. Andaikan aku bisa mengungkapkan kata-kata itu kepada Yoochun. Tapi otak dan hatiku sepertinya tidak bisa bekerja sama.
"Yoochun-ah, kau sedang bingung sekarang. Ayo, kita duduk dulu. Kau harus tenang."
Aku berjalan menuju kursi di teras rumahku.
Kepalaku mulai terasa sedikit pusing. Aku baru sadar beberapa saat kemudian bahwa Yoochun tidak mengikutiku. Ketika aku berbalik menghadapnya, aku harus mundur beberapa langkah dan meletakkan tangan kanan di dadaku. Yoochun sedang berlutut di hadapanku sambil memegang cincin.
"Min... kau ingin kan menikah denganku ?" tanyanya sambil menatap wajahku.
Aku lihat mata Yoochun yang beberapa menit yang lalu terlihat ceria, kini meredup. Aku selalu mengharapkan bahwa kalau seorang laki-laki melamarku, wajahnya tidak akan terlihat sesedih dan sebingung ini. Lalu satu pemahaman terlintas... Yoochun tidak mencintaiku. Dia tidak pernah betul-betul mencintaiku. Dia terlalu bingung dengan perasaannya sendiri sehingga dia tidak tahu apa yang dia mau.
Andaikan aku bisa mencekik seseorang saat itu juga, mungkin orang tersebut sudah mati kehabisan napas. Lalu aku sadar bahwa Yoochun-lah orang yang ingin kucekik. Bagaimana mungkin dia berani melamarku padahal dia tidak tahu perasaannya yang sebenarnya terhadapku. Stupid, selfish bastard !
Meskipun hatiku hancur berkeping-keping, aku tahu bahwa aku harus melakukan hal yang benar. Aku berjalan ke arah Yoochun lalu berlutut di hadapannya. Kugenggam tangan kanan Yoochun yang sedang memegang cincin.
"Chun-ah... kau tidak bisa menikah denganku. Kita tidak mengenal satu sama lain. Aku hanya mengingat kau dari memoriku tentangmu, dan setelah lebih dari sepuluh tahun, sejujurnya aku bahkan tidak tahu apa itu memori atau imajinasiku saja. Aku yakin kau sudah banyak berubah semenjak itu, karena aku juga sudah banyak berubah," ucapku pelan.
Mataku terasa panas, dan aku harus mengedipkan mataku beberapa kali untuk mengendalikan air mataku agar tidak mengalir keluar. Aku harus menahannya.
"Orang tidak akan berubah, Min. Aku tetap menginginkanmu," kata Yoochun keras kepala.
"Aku juga menginginkanmu, tapi Junsu lebih membutuhkanmu daripada aku. Dan aku yakin kau juga membutuhkan Junsu."
"Aku tidak ingin Junsu, aku ingin kau."
Tanpa kusangka-sangka Yoochun mencoba menciumku. Untung aku bisa menghindar dan jatuh terduduk di rumput halaman rumahku. Sekarang sudah ada beberapa orang lagi yang berhenti jogging untuk menonton kejadian menarik yang sedang berlangsung di halaman depan rumahku itu. Yoochun terlihat tersinggung ketika aku menolak ciumannya.
"Ayo... kita bicarakan ini baik-baik, Yoochun-ah."
"Tapi kau juga menciumku, Min, kau..."
Aku buru-buru mengangkat tangan untuk memotong kalimatnya, karena aku takut akan arah pembicaraan ini jika kubiarkan.
"Aku tahu... dan aku minta maaf soal malam itu. Itu... kecelakaan," jawabku dengan susah payah.
Sebelum Yoochun bisa membalas, tiba-tiba ada mobil lain masuk ke pekarangan rumahku yang memang tidak berpagar itu. Sebelum sang pengemudi keluar dari kendaraan, aku sudah tahu bahwa duniaku akan jadi lebih rumit lagi dalam beberapa detik. Dua orang keluar dari mobil itu, Kyuhyun dan... Oh my God... Junsu...matilah aku. Aku buru-buru berdiri dan mencoba menarik Yoochun untuk berdiri bersamaku tapi dia menolak dan tetap berlutut di hadapanku.
"Yoochun, bangun, palliwa" ucapku cepat.
"Katakan bahwa kau mencintaiku juga Min," tegas Yoochun.
Garis-garis di wajahnya lagi-lagi menunjukkan kekeraskepalaannya, yang biasanya kuanggap lucu sekali, tapi tidak pagi ini.
"Park Yoochun, bangun !" bentakku.
"YOOCHUN-AH!" teriakan Junsu memecahkan keheningan pagi itu.
Appa buru-buru keluar dari rumah, disusul eomma. Junsu berlari ke arahku, diikuti Kyuhyun. Kemudian Junsu berlutut di samping Yoochun.
"Ming... what's going on ?" tanya Kyuhyun padaku ketika dia tiba di sampingku dengan napas sedikit terengah-engah.
Kyuhyun melambaikan tangannya kepada orangtuaku yang membalasnya dengan antusias.
"Sayang, kau sedang apa ? Aku sudah mengatakan kita bisa menyelesaikan masalah ini. Kita tidak usah menikah buru-buru. Aku tidak memaksa." Junsu memohon pada Yoochun.
Junsu sepertinya tidak menyadari posisi Yoochun yang sedang berlutut di hadapanku sambil memegang cincin. Tapi Kyuhyun sadar.
"Hyung, kau sedang apa ?" tanya Kyuhyun curiga.
"Melamar Minnie," jawab Yoochun singkat tanpa menghiraukan Junsu sama sekali.
Aku mendengar eomma menarik napas kaget dan menutup mulutnya yang menganga dengan tangan kanan.
"Minnie, ada apa ?" tanya eomma.
"Tidak ada apa-apa. Eomma dan Appa masuk saja, nanti aku jelaskan," ucapku, mencoba untuk mengusir mereka dari hadapanku.
Aku tidak bisa berpikir dengan jernih di bawah tatapan keingintahuan mereka. Eomma terlihat ragu, tapi sekali lagi appa menyelamatkanku dan menggiring eomma masuk kembali ke dalam rumah. Tiba-tiba pikiranku terganggu oleh suara Junsu.
"Sayang... tolong... jangan begini... Aku akan berubah, tapi kau tidak bisa meninggalkanku. Jebal..."
Sekarang nada suaranya sudah hampir menangis. Tapi Yoochun masih tidak memperhatikannya. Alhasil Junsu mulai menangis.
"Min?" tanya Yoochun lagi. Aku tidak mampu berkata-kata, aku masih terlalu kaget.
Kesedihan dan kemarahanku telah hilang, digantikan rasa kasihan pada Junsu. Aku sadar tetangga-tetanggaku sudah pergi. Mungkin mereka sudah bosan dengan apa yang mereka saksikan. Tapi aku yakin sore ini eomma akan menerima banyak telepon yang ingin menanyakan kejadian pagi ini. Aku terkejut ketika mendengar Kyuhyun berteriak.
"For the love of God, Junsu, bangun, kenapa kau memohon padanya seperti itu ? Hyung, bangun ! Kau tidak kasihan dengan calon istrimu?"
Yoochun merangkak bangun sambil tetap memegang cincin itu. Berlian solitaire yang terletak di cincin itu bersinar kerlap-kerlip. Itu cincin paling cantik yang pernah kulihat dan cincin itu tidak akan pernah jadi milikku. Damn it all to hell, teriakku dalam hati.
Junsu yang melihat Yoochun bangung langsung berdiri di sampingnya dan mencoba memeluk Yoochun sambil mencoba segala upaya untuk mengontrol air matanya. Kyuhyun menatap berapi-api padaku.
"Su'ie, aku meminta maaf masalah ini," lanjutku.
"Aku tidak tahu tentang ini sama sekali. Yoochun tiba-tiba saja muncul...," aku mencoba menjelaskan situasiku kepada Junsu. Junsu menatapku sedih, tapi kulihat dia mengangguk mengerti. Aku bersyukur dia sepertinya tidak menyalahkanku sama sekali.
"Min... please... kau harus jujur pada dirimu sendiri. Aku mencintaimu. Kau juga bukan ?" teriak Yoochun gemas.
Aku menarik napas panjang dan aku menjawab,
"Junsu yang mencintaimu, bukan aku."
"Kau bohong. Aku tahu kau bohong," teriak Yoochun.
Kini dengan nada marah. Aku menatap Yoochun terkesima. Yoochun marah padaku?
"Sekali lagi, aku bertanya, kau mencintaiku bukan ?" tanya Yoochun lebih keras. Tapi suaranya sudah tidak terlalu yakin. Aku merasakan seperti ada sebongkah es di tenggorokanku.
Kali ini aku menatap mata Yoochun sebelum berkata. "Mianhae."
"Jebal, Minnie, jawab jujur," Yoochun mencoba menggeleng.
Kyuhyun memandangku dengan tatapan menuduh. Ini bukan pertama kali dia menatapku seperti itu. Mungkin sekali lagi dia menuduhku mencari gara-gara dengan Yoochun. Kemudian perhatian Kyuhyun beralih kepada Yoochun.
"Hyung, Sungmin tidak mencintaimu," ucap Kyuhyun tiba-tiba.
Aku terpaku. WHAT ? Kenapa dia ikut mengomentari ? Ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Ini antara aku, Yoochun, dan Junsu.
"Sayang, Sungmin tidak mencintaimu, tapi aku... aku tidak bisa hidup jika tidak denganmu," desah Junsu.
Aku betul-betul tidak tega. Rasanya aku mau menampar Junsu agar dia sadar. Untuk apa dia mengemis cinta dari laki-laki plin-plan seperti Yoochun ? Ini Junsu, wanita paling cantik yang pernah kukenal. Walaupun memang pagi ini dia tidak kelihatan cantik sama sekali. Tanpa make-up dan rambut yang kelihatannya tidak disisir, untuk pertama kalinya Junsu terlihat... biasa.
"Junsu-ah, sadar. Jika kau menginginkan cinta Yoochun, bukan begini caranya," aku memohon kepada Junsu. Kemudian beralih ke Yoochun,
"Dan kau, Junsu cinta padamu, apa kau tidak bisa melihatnya ?" Aku tarik Yoochun dan Junsu lalu menggeret mereka masuk ke rumah.
Selama hampir sepuluh tahun jadi psikolog, tidak pernah-pernahnya aku mau menyingsingkan lengan bajuku untuk menjadi marriage counselor, karena aku tidak mau pusing gara-gara memikirkan urusan cinta orang lain. Urusan cintaku saja berantakan, bagaimana mau mengurusi orang lain ?
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa bersandiwara bagaikan aku tidak peduli bahwa aku akan membantu laki-laki yang kucintai untuk bisa bersama lagi dengan tunangannya, meskipun hatiku hancur berkeping-keping. Aku mempersilakan mereka duduk di ruang makan. Setelah menuangkan minum dan menghidangkan roti untuk mereka, aku lalu memulai sesi konseling pro-bono-ku. Orangtuaku dengan rela menghabiskan pagi itu di taman belakang.
"Sekarang kalian berdua katakan, apa masalah kalian?" tanyaku dengan nada setenang mungkin.
Yoochun memandangiku, tapi aku tidak menghiraukannya karena Junsu sedang memandangi Yoochun dengan tatapan penuh cinta yang sangat familier, karena itulah tatapan yang kuberikan kepada Yoochun selama beberapa bulan ini.
"Aku tidak suka caramu mengatur hidupku," jawab Yoochun sambil tetap menghadapku.
"Chun-ah, coba kau katakan langsung pada Junsu , jangan kepadaku. Dan kau tatap dia sewaktu kau sedang berbicara." Yoochun menarik napas sebelum berbicara.
"Aku tidak suka caramu mengatur segala sesuatu tentang hidupku." Menuruti saranku, Yoochun memandangi Junsu sewaktu berbicara padanya.
"Aku bukannya mengatur, Sayang, aku hanya ingin kamu menjadi orang yang lebih baik lagi," ucap Junsu yang juga mengikuti instruksiku dan menatap Yoochun.
"Apa aku masih kurang baik untukmu?"
"Bukan, bukan begitu... Maksudku... daripada kita membuang uang untuk membayar sewa rumah, lebih baik kita tinggal bersama orangtuaku. Setidak-tidaknya sampai ada cukup uang untuk membeli rumah." Junsu menarik napas sebelum melanjutkan,
"Keadaan keuangan kita sekarang tidak akan cukup untuk bisa hidup di Seoul."
"Itu yang aku tidak mengerti denganmu. Jika kau memang sudah memilihku sebagai suamimu, kau harus terima aku apa adanya. Jika memang kita hanya memiliki uang untuk membeli rumah yang sederhana di daerah pinggir Seoul, kau harus mencoba untuk terima itu." Yoochun melirik ke arahku yang hanya mengangguk ke arahnya sambil mendengarkan.
Dari sudut mataku, kulihat Kyuhyun sedang berdiri sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Ya Tuhan... aku lupa soal Kyuhyun. Aku pikir dia sudah pulang.
"Apa perlu kau setiap minggu membeli baju baru ? Apa perlu kau setiap tiga hari sekali pergi ke salon untuk menata rambutmu ? Kita bisa hidup sederhana, tapi kau harus menyesuaikan diri. Aku menerimamu apa adanya, tapi kenapa kau tidak bisa?" lanjut Yoochun.
Dan pecah sudah bendungan air mata Junsu. Dia yang tadinya hanya terisak-isak, sekarang sudah menangis tersedu-sedu. Aku menyodorkan tisu yang ada di sudut meja makan. Setelah sedikit lebih tenang Junsu baru bisa menjawab.
"Aku... hiks hiks... memang sudah memilihmu... hiks... hiks... dan aku bangga dengan pilihanku itu. Hanya eomma dan appa kan sudah tua... hiks... hiks... aku anak satu-satunya... aku tidak ingin meninggalkan mereka sendirian. Lagipula jika aku harus tinggal di pinggir Seoul... hiks... hiks... sedikit sulit jika aku merindukan mereka. Jaraknya terlalu jauh dari pusat kota," akhirnya Junsu bisa menyelesaikan argumentasinya dengan cukup mulus.
"Ya tapi eommamu juga selalu memaksa segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan pernikahan kita. Itu membuat biaya-nya menjadi besar, Su'ie." Suara Yoochun yang tadinya memusuhi kini terdengar lebih tenang.
"Tapi bukankah hiks hiks... eomma ingin membantu kita, Sayang... hiks... dia sudah mentransfer dua puluh juta ke tabunganku untuk menambah biaya pernikahan kita."
Pada saat itu aku sadar betul bahwa Junsu baru saja menginjak-injak harga diri Yoochun. Tidak heran jika Yoochun mengambil langkah seribu. Kebanyakan laki-laki mungkin akan senang kalau calon istrinya kaya agar mereka tidak perlu mengeluarkan uang untuk menghidupi sang istri. Tapi tidak Yoochun. Dia salah satu laki-laki paling arogan yang kukenal. Dia tidak akan mau menerima sumbangan dalam bentuk apa pun, meskipun sumbangan itu bermaksud untuk membantu.
"Itu dia yang membuat aku tidak ingin menikah denganmu. Pikiran kita tidak sejalan."
"Tapi kau tidak pernah mengatakan keberatan. Mana aku tahu ?" Kulihat Junsu menelan ludah untuk menahan tangisnya agar tidak banjir lagi.
"Kau kan tahu aku tidak menyukai hal yang terlalu mewah. Lebih baik daripada menghabiskan uang untuk pesta pernikahan, uangnya disimpan untuk membeli rumah."
"Kau bisa mengatakan itu padaku. Hanya masalah ini kenapa kau sampai ingin meninggalkan aku ? Apa cintamu padaku hanya sampai disitu saja?"
"Aku mencintaimu, Su, tapi jika aku harus hidup bersamamu dengan gaya hidupmu yang sekarang, aku tidak bisa. Kau harus memilih, kau ingin aku, atau gaya hidupmu?"
Saat Yoochun mengatakan kata-kata itu, aku bisa merasakan mukaku langsung memerah dan udara langsung terasa panas. Mataku pun lagi-lagi terasa panas. Ternyata dugaanku benar. Yoochun memang mencintai Junsu, dan aku... aku hanya sekedar iseng. Sialan, laki-laki memang bejat.
Aku bisa melihat tatapan Kyuhyun kepadaku. Dari matanya kurasa dia bisa membaca apa yang ada di pikiranku. Ya Tuhan, janganlah sampai dia tahu bahwa aku ini cinta mati pada sahabatnya.
"Maksudmu ?" tanya Junsu bingung.
"Jika kau memilihku, resepsi pernikahan kita harus di bawah dua puluh juta. Aku tidak ingin merima sumbangan dari orangtuamu, karena aku juga tidak menerima apa-apa dari eommaku."
"Di bawah dua puluh juta ? Mana bisa ? Tamu kita banyak sekali. Belum jas dan gaun pengantin , gedung, semuanya..."
Aku lihat Junsu sudah siap menangis lagi. Aku sebetulnya sedikit kaget, karena ternyata permasalahan Junsu dan Yoochun sangat simple. Hanya masalah uang dan harga diri. Jelas-jelas sebagai seorang laki-laki, Yoochun ingin dihargai sebagai provider untuk keluarganya. Aku juga tidak pernah tahu bahwa Junsu ternyata tipe perempuan yang mudah menangis dan materialistis.
"Kita kurangi jumlah tamunya. Yang jelas harus di bawah dua puluh juta. planning-nya tetap aku serahkan padamu. Itu penawaran dari aku. Kau bisa menerimanya ?"
"Kalau aku terima... hiks... apa berarti kau masih ingin menikah denganku?"
"Tentu saja," jawab Yoochun tidak sabaran.
"Tapi...," Junsu mencoba untuk mencari sela-sela yang masih bisa dikompromi.
Tapi Yoochun rupanya sedang tidak mood untuk kompromi.
"Jika kau masih berfikir lagi, hari ini juga kita benar-benar putus dan aku mau mulai berkencan dengan Sungmin," ucap Yoochun geram.
Hah?! Kenapa aku masih dibawa-bawa , cari mati rupanya orang ini. Aku baru saja ingin membuka mulut untuk protes. Ternyata Kyuhyun juga baru akan melakukan hal yang sama. Tapi kami berdua dipotong oleh Junsu.
"Tidak, tidak... aku setuju," ucap Junsu.
"Tapi aku minta kau untuk tidak bertemu dengan Sungmin lagi sampai kita menikah," tegas Junsu.
"Min, aku minta maaf soal ini, tapi tolong kau jangan mau dihubungi Yoochun lagi setelah hari ini? Please, Min, " lanjut Junsu memohon kepadaku.
Aku terpaku mendengar komentar Junsu, tapi aku lebih kaget lagi atas permintaannya. Yoochun terlihat sedikit kaget atas permintaan itu. Dia tidak sadar bahwa ternyata persyaratannya bisa jadi senjata makan tuan. Yoochun memandangku beberapa saat.
"Ini semua karenamu, jika kau menghubungiku sebelumnya, urusannya tidak akan seperti ini." Yoochun mengomeliku.
Junsu langsung memandangku bingung. Aku juga bingung, maksud dia apa sih ? Lalu aku ingat kedua e-mail yang dikirimnya. Yoochun menatapku tidak sabaran.
"Min... yes or no ?" tegas Yoochun akhirnya padaku.
Aku memandang mata Yoochun sedalam-dalamnya, mencoba untuk telepati.
Park Yoochun , aku mencintaimu, selalu akan mencintaimu, kau sudah menjadi bagian hidupku sejak aku berumur lima belas tahun. Tapi kau mencintai Junsu, dan dia lebih mencintaimu dibanding aku.
Aku tidak tahu apa pesan itu sampai ke Yoochun, tapi dari tatapan matanya sepertinya sampai.
"Oke," akhirnya Yoochun berkata.
Aku mendengar Kyuhyun mengembuskan napasnya. Aku berpaling padanya, yang sedang mengacungkan kedua jempolnya kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum lemas.
.
.
.
Junsu memelukku erat-erat dan mengucapkan kata thank you berkali-kali sebelum pulang. Begitu mobil Yoochun menghilang dari pandangan, aku langsung masuk rumah dan buru-buru menuju kamarku. Topeng yang kukenakan bisa kulepaskan sekarang, aku bisa menangis sesuka hatiku. Sudah lima jam aku menahan diri agar tidak menangis di depan semua orang. Tapi sekarang aku sudah tidak sanggup lagi untuk menahan.
Aku HARUS mengeluarkan kesedihanku, melampiaskan patah hatiku, rasa kesalku pada diri sendiri, yang lagi-lagi kalah jika sudah urusan cinta, dan karena aku sudah dibesarkan dengan norma-norma hidup yang bertentangan dengan kemauanku sehingga aku tidak pernah bisa mendapatkan yang kuinginkan.
"Ming...," panggil Kyuhyun sambil memegang bahuku.
Aku tidak menghiraukannya dan tetap berjalan menuju kamarku di lantai atas.
"Ming," sekali lagi Kyuhyun mencoba mendapatkan perhatianku.
Kali ini dia menggapai tanganku. Aku mengentakkan tangan Kyuhyun dari pergelanganku.
"Just give me a minute, will you?" ucapku pelan tanpa menghadap Kyuhyun dan langsung masuk ke kamarku dan menutup pintu.
Aku bergegas masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower dengan air dingin lalu duduk di bawahnya sampai semua bajuku basah. Aku mencoba menangis dengan mengeluarkan air mata, tapi tidak ada setetes pun yang keluar. Dan itu semakin membuatku sengsara. Dadaku sudah ingin meledak.
Aku tidak tahu kapan Kyuhyun masuk ke kamarku, tapi tahu-tahu dia sudah duduk di sampingku. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dia juga tidak mencoba untuk menyentuhku sama sekali. Aku tidak tahu berapa lama kami duduk seperti itu, tapi akhirnya aku bersuara,
"Kenapa Junsu bisa datang bersamamu?" tanyaku tanpa menatap Kyuhyun.
Beberapa jam yang lalu karena terlalu panik ketika melihat Junsu, aku tidak memikirkan adanya kejanggalan bahwa Junsu bisa muncul bersama-sama dengan Kyuhyun, tapi setelah semuanya lebih tenang, aku menyadari hal ini.
Kyuhyun mengembuskan napasnya, seakan-akan lega bahwa akhirnya aku mengeluarkan suara juga, sebelum menjawab,
"Pagi-pagi jam tujuh Junsu meneleponku untuk menanyakan apa Yoochun ada bersamaku. Waktu aku mengatakan tidak, dia lantas bertanya apa aku tahu alamat rumahmu. Aku tentunya bertanya apa hubungannya sampai Yoochun perlu pergi ke rumahmu. Junsu langsung histeris di telepon, intinya dia mengatakan jika mereka telah bertengkar besar tadi malam dan Yoochun memutuskan pertunangan mereka. Aku tidak tahu pasti persisnya bagaimana, Junsu berkesimpulan Yoochun akan langsung menemuimu. Aku tahu perasaan kalian berdua satu sama lain, jadi aku langsung meminta dia untuk bertemu denganku di jalan agar kita bisa pergi bersama ke sini."
Aku hanya mendengarkan ini semua sambil menyandarkan kepalaku ke dinding dan menutup mataku. Kyuhyun mungkin tidak tahu apa yang sudah terjadi di antara aku dan Yoochun, tapi sepertinya tidak begitu halnya dengan Junsu. Satu-satunya penjelasan yang bisa keluar dari kepalaku bagaimana Junsu bisa berkesimpulan seperti itu adalah Yoochun sudah menceritakan kejadian tempo hari kepada Junsu. Dan lain dari pikiranku, sepertinya Kyuhyun tahu betul tentang perasaanku kepada Yoochun, sehingga dia bisa menyambungkan titik-titik yang untuk orang lain mungkin hanya terlihat berantakan.
Aku tidak tahu apa yang harus aku rasakan ketika mendengar ini semua. Aku tidak bisa menangis, apa aku harus tertawa saja dan menganggap bahwa ini semua hanyalah suatu hiburan? Kuletakkan kedua tanganku untuk menutupi mataku. Tidak, ini bukan hiburan.
"Ming, kau menangis ?" tanya Kyuhyun pelan.
Dan entah karena suaranya atau nadanya, aku langsung menangis tersedu-sedu. Semua kekecewaanku bisa kutumpahkan. Kyuhyun hanya memelukku dengan sabar.
"It's okay, it's okay... I'm here... I'm here..."
Itu saja yang perlu dia katakan dan aku menangis semakin keras.
Selama beberapa menit dia hanya terdiam dan tetap memelukku. Aku juga tidak mampu melepaskan cengkeramanku di bahunya. Untuk pertama kalinya aku merasa terlindungi oleh Kyuhyun. Kyuhyun yang sempat membuatku menangis tersedu-sedu kemarin malam.
"Aku matikan shower-nya, ya," bisik Kyuhyun padaku setelah tangisku agak reda.
Aku mengangguk. Dia mematikan shower yang gagangnya memang berada persis di atas kepalaku.
"Kau bisa berdiri?" tanyanya lagi.
Aku lagi-lagi mengangguk. Tapi ketika aku mencoba bangun, rasa sakit menjalar ke sekujur tubuhku yang ternyata berasal dari kram di kaki kananku.
"Kenapa, Ming?" tanyanya panik.
Aku tidak bisa menjawab karena kakiku masih kram. Seolah berat tubuhku hanya satu kilogram, bukannya lima puluh, Kyuhyun langsung menggendongku keluar dari kamar mandi dan mendudukkanku di atas tempat tidur. Aku tahu bedcover-ku jadi basah karenanya, tapi aku tidak peduli. Kyuhyun menghilang sebentar dan kembali dengan membawa dua handuk besar. Dia memintaku berdiri dengan menggunakan tubuhnya sebagai penyangga sebelum menyingkapkan bedcover di satu sisi tempat tidurku dan mengalasi tempat tidurku dengan satu handuk sebelum memintaku untuk duduk kembali di atas handuk yang telah ditebarkannya di atas seprai.
Kemudian Kyuhyun mulai mengeringkan sekujur tubuhku. Bermula dari kepala hingga kaki dengan handuk yang satu lagi. Setelah semua cukup kering dia langsung menyelimuti bahuku dengan bathrobe yang tadinya tergantung di pintu kamar mandi. Dia kemudian mematikan AC kamarku dan membuka jendela besar yang menghadap ke balkon.
"Kau harus mengganti bajumu, kalau tidak nanti bisa masuk angin."
Tiba-tiba dia sudah menyodorkan satu set kaus dan celana training, juga pakaian dalam kering yang diambilnya dari lemariku.
Kyuhyun langsung menyibukkan diri dengan menarik bedcover-ku dan membawanya keluar untuk dijemur di balkon. Walaupun sulit, aku mencoba melepas kausku yang basah, juga pakaian dalamku. Setelah selesai berpakaian, aku meringkuk di tempat tidur. Kyuhyun masuk dan buru-buru menyelimutiku dengan selimut. Aku lihat Kyuhyun membereskan baju-baju basahku dan menaruhnya di keranjang di kamar mandi. Kemudian dia keluar dari kamarku sambil menggumam,
"I'll be right back."
Aku baru sadar beberapa saat kemudian bahwa Kyuhyun juga pasti basah kuyup. OMONA.. kasihan sekali dia. Beberapa lama kemudian dia masuk kembali ke kamarku dan sudah mengenakan baju yang kering. Aku tahu dia selalu membawa pakaian ganti di bagasi mobilnya untuk keadaan darurat. Kyuhyun adalah salah satu orang paling efisien yang kukenal. Dia selalu siap untuk menghadapi situasi apa pun.
"Kyu...," panggilku di antara bantal-bantal dan selimut yang menutupi tubuhku yang masih kedinginan.
"Ya, Ming?" tanya Kyuhyun yang berjalan ke arahku, lalu berlutut di sampingku.
"Gomawo," ucapku pelan.
Kyuhyun hanya tersenyum dan membelai rambutku yang masih agak basah.
"Could you..." Aku menghentikan diriku sebelum mengatakan kata-kata itu.
Could you stay for a while ? Karena takut terdengar terlalu memaksa.
Tapi seperti membaca pikiranku Kyuhyun mengangguk. Dia menarik kursi ke samping tempat tidurku dan mencoba menghangatkan tanganku yang memang masih terasa dingin dengan menggenggamnya di antara kedua telapak tangannya dan mulai menggosoknya. Aku baru sadar bahwa tangan Kyuhyun terasa sangat hangat. Tak lama aku pun tertidur.
Ketika terbangun beberapa jam kemudian, Kyuhyun sudah hilang dari kamarku. Aku masih bisa mencium baunya. Aku mengembuskan napas, merasa kehilangan. Saat itu aku sadar bahwa aku melihat sisi lain dari Kyuhyun. Sisi yang membuat semua perempuan tergila-gila padanya, ternyata bukan hanya karena wajah Dewa Yunaninya, tapi karena pada dasarnya, Kyuhyun adalah orang baik.
TBC
Cha~~ chapt 10 dataaang~~
Yang minta Kyumin moment mana suaranyaaa ? *ditimpukddangko
Yang belum puas momentnya , tenang, tenang chapter depan bakal banyak ko momentnya, jadi ditunggu aja ne ? *evillaugh
Jangan marah lagi yaa, kan Yoochunnya udah mau nikah tuh sama Junsu jadi ga ada yang menghalangi uri epil lagi buat deketin bunnyMing :D
Gomawo buat kamyu yang udah review, yang belum review boleh dooong minta reviewnya biar cemungudh :3
Last, RnR juseyooo~~~
