Brother

LeoN

Hakyeon, Taekwoon, Jisoo

Hyuk, Wonshik, Jaehwan

Hongbin, Sojin

Yaoi

M

Romance and Hurt

.

.

.

.

.

.

.

.

Kantor kepolisian tampak masih ramai ditengah malam seperti ini. Mereka beberapa Polisi dan Detektif masih sibuk dengan kasus mereka masing - masing. Begitu pula Detektif Seo yang masih sibuk mengamati rekaman pada komputernya bersama seorang Juniornya yang merupakan detektif pula bernama Lee Minhyuk.

"Kenapa kau ingin lihat semua rekamannya Hyung?"

"Aku mencari seseorang" Inguk mempercepat rekaman hingga menemukan orang yang dia cari. "Nah ini"

Kedua orang itu mengamati bagaimana disana seorang pria paruh baya tidak segaja menumpahkan Sup dijas Taekwoon.

"Ini saat terjadi pembunuhan"

"Sungguh ?"

"Si pelaku tidak jeli mengambil rekamannya. Kita lihat kemana Ahjussi ini akan pergi"

"Jadi, maksud Hyung. Ahjussi ini berkaitan dengan pembunuhan?"

"Aku rasa begitu. Jika Hakyeon berada disini saat waktu pembunuhan, sudah jelas bukan dia pelakunya. Sudah jelas dia akan terbebas"

"Eoh itu" Minhyuk menunjuk ke arah rekaman dimana Ahjussi itu berada di tempat parkir dan menghampiri seorang namja berambut blonde.

"Itu dia. Lihatlah ! Seorang pria lagi mendekatinya" Ucap Inguk saat dua orang itu didatangi seorang pria lagi dengan jaket hitam dan topi hitamnya.

"Si Blonde itu pasti Bos nya"

Inguk memperbesar rekaman sehingga memperlihatkan dengan jelas wajah pria itu. "Cari tau siapa dia, dan berikan surat penangkapan".

"Aku tau itu siapa ?"

Inguk lantas menoleh pada juniornya yang tampak tengah berfikir seraya mengamati lebih jeli wajah orang yang terekam didalam cctv. Minhyuk beranjak menuju mejanya dan menggeledah berkas yang sebelumnya telah disegel beberapa tahun lamanya. Dia menemukan sebuah bekas yang tertumpuk dibawah, dibukanya berkas itu dan langsung dia perlihatkan kepada Detektif Seo.

"Ini, mereka sama kan?" Minhyuk menunjukan sebuah foto yang tersemat di sebuah berkas kasus kejahatan. Difoto itu terlihat seorang pria dengan rambut yang tersisir kebelakang berwarna hitam pekat.

Inguk menganggukan kepalanya yakin ketika membandingkan wajah di foto dengan direkaman. "Lee Jaehwan?" Inguk membaca nama orang itu yang tercetak di keterangan berkas.

"Dia Bos Geng Mavia Hyung, dia pernah dipenjara 3 tahun karena kasus penganiayaan, anak buahnya sangat banyak, dia menguasai seluruh kota Seoul"

"Hwaaahh,, kita berhadapan dengan seorang gangster" Inguk meletakan berkas itu diatas meja, "Langsung buat surat penangkapan, bawa dia kemari segera"

"Sekarang Hyung?"

"Sekarang!"

"Baik!"

.

.

.

.

.

.

.

.

Hongbin terlihat begitu gusar didalam kamarnya, dia terus saja berjalan mondar mandir seraya menggigit ibu jarinya cemas. Dia harus segera memberikan buktinya kepada Kepolisian sebelum sidang dimulai esok hari. Hongbin berjalan menuju lemari pakaian yang terletak tidak jauh dari kasur, didalam lemari itu, Hongbin membuka sebuah kotak kecil yang tersembunyi didalam saku jas yang tergantung pada hanger baju. "Aku harus memberikan salinan ini segera" ucapnya dan kembali menyembunyikan benda itu ditempat semula.

Hongbin berbalik menuju kasur mengambil ponselnya, dia menelepon seseorang. Namun, sejak seharian ini nomer yang hendak dihubungi Hongbin selalu tersambung namun tidak pernah dijawab.

TAP TAP TAP

Hongbin langsung mematikan ponselnya ketika mendengar suara langkah seseorang yang mendekat kearah kamarnya. Dengan segera dia lempar ponselnya ke kasur, dan pura - pura tertidur.

Dibalik pintu, terdengar suara kunci, pintu itu terbuka dan menampakan seorang wanita dengan rambutnya yang terikat. Wanita dengan umur 30th itu mendekati sang Adik yang terlihat tengah tertidur lelap. Diusapnya lembut kepala sang adik seraya mengecup dahinya perlahan. "Maafkan Nuna, ne".

Sojin menemukan ponsel Hongbin yang tergeletak begitu saja di atas kasur, dia membuka ponsel itu dan membuka log panggilan. Senyum sinisnya langsung terbentuk ketika tahu bahwa sang adik seharian ini berusaha menghubungi Jung Taekwoon, dan panggilan terakhir baru terjadi 2 menit yang lalu, namun didepan sekarang adiknya sedang tidur? Itu mustahil baginya, dia tau Hongbin hanya berpura - pura tidur.

"Nuna, akan menyita ini. Hanya beberapa hari, tolong jadilah Dongsaeng penurut, Hongbin-ah" ucap Sojin beranjak dari sana bersama ponsel Hongbin yang tergenggam erat di tangannya.

Pintu kamar itu tertutup dengan suara kunci kembali. Hongbin langsung bangun dari tidur dan melempar bantalnya kearah pintu. Dia mengusak rambutnya kasar, dia tidak bisa menghubungi seseorang jika satu - satunya harapan yang dia miliki juga diambil.

.

.

.

.

.

.

.

Sebuah rumah, lebih tempatnya sebuah markas. Markas yang sangat tersembunyi tersebut begitu penuh berisi para manusia dengan berbagai tipe yang berbeda - beda. Disana mereka ada yang tengah bermain bilyard, bermain kartu, bermain dengan para gadis bayaran, pesta minum dan narkoba bahkan ada yang tengah tertidur karena mabuk.

Mereka semua bahkan terlihat begitu menyeramkan, dengan badan kekarnya dan tato yang terlukis ditubuh mereka masing - masing, membuat setiap orang yang melihat pasti berlari ketakutan. Namun, mereka hanya bertahta sebagai anak buah serta kaki tangan dari seorang pria yang sekarang sedang duduk angkuh disinggasanannya, disebuah ruangan tersendiri yang berisi begitu banyak gadis cantik serta uang yang bertaburan. Pria dengan rambut blonde yang mencuat kebelakang itu, terus tertawa renyah menggoda manja para gadis yang sudah di cap sebagai miliknya.

Braaaakk

"Hyungnim! Hyungnim!" Seorang anak buah Jaehwan membuka pintu dengan kasar dan mendekatinya dengan raut ketakutan bahkan dirinya sampai terjatuh dihadapan Jaehwan. "Hyungnim!"

"Ada apa ?" Jaehwan mendekati anak buahnya dan membantu berdiri.

"Polisi, polisi mencari Hyungnim" Anak buah Jaehwan terlihat cemas, dia menggenggam tangan Jaehwan dan menangis dihadapannya. "Bagaimana ini Hyungnim~~ Mereka akan menangkap Hyungnim"

Jaehwan mulai terlihat cemas mendengar penuturan anak buahnya itu. "Kalian ulur waktu mereka dulu, ingat! jangan sampai melukai polisi" ucapnya kepada benerapa anak buahnya yang memang sudah berada diruangan tersebut bersamanya. Jaehwan mengambil ponsel didalam saku celananya dan menelepon seseorang.

"Wonshik-ah"

"Ada apa Hyung?"

"Para polisi ada disini, mereka ingin menangkapku?"

"Bagaimana bisa ?! Kita sudah mengambil semua salinan itu bukan ?"

"Aku tidak tau, tidak ku kira mereka malah menemukanku terlebih dahulu"

"Tidak, Hyung kau jangan serahkan diri dulu. Kau, dimana sekarang?"

"Dimana lagi, ya dirumah"

"Kau bisa keluarkan?, jangan sampai polisi menemukanmu. Aku akan jemput di persimpangan depan toko"

"Hah?! Kau suruh aku lari?!"

"Ya! Aku tidak ingin kau dipenjara! Dengarkan aku dan lakukan yang aku suruh! Aku kesana sekarang"

Jaehwan tesentak saat panggilannya terputus begitu saja. Dirinya menatap sebal ponsel itu seraya menunjukan tijuan tangannya. "Memang kau ini Eomma ku! Haiiish!"

"Hyung..Hyungnim" Anak buah yang masih dihadapan Jaehwan itu masih terlihat cemas dan khawatir.

"Sun-ah, bantu Hyung kabur ne" ucapnya seraya menepuk pelan pundak orang didepannya itu.

Orang yang dipanggil Sun itu tampak berpikir, dia memandang kesegala sudut ruangan. "Jendela, Hyung jendela" ucap Sun seraya menunjuk kesebuah jendela dibelakang Jaehwan.

"Jendela ?" ucap Jaehwan mendekati jendela itu. "Hyung pergi lewat sini?"

Sun mengangguk cepat, "Ini, bagian belakang, jika Hyung lewat sini dan berputar ke arah barat, hyung tidak akan bertemu dengan mereka."

"Lalu, kemana jalan itu tembusnya?"

"Kepusat kota"

"Haiisshh, itu terlalu jauh dari toko"

"To..toko? Hyung ingin ke toko?"

"Teman Hyung akan menjemput disana"

"Biar Hoshin saja yang jemput, aku akan menghubunginya. Hyungnim tidak usah khawatir, yang terpenting Hyungnim bisa kabur"

Jaehwan terlihat berfikir sejenak, dan kemudian dia mengangguk. "Oke, bantu Hyung membuka ini, kau tahan ne"

Sun membuka jendela itu, dan Jaehwan langsung masuk kejendela yang membawanya langsung menuju keluar rumah. Disana dia melihat semak - semak dan pohon - phon besar.

"Hyungnim aku tutup ne"

Jaehwan mengangguk, dan beranjak dari sana pergi mengikuti petunjuk arah dimana anak buahnya telah memberitahukan sebelumnya. Dia berjalan memutar kearah barat, melewati beberapa pohon besar dan jalan itu langsung tembus kesebuah jalan raya besar seperti yang telah diketahuinya sebelumnya. Dia menolehkan kepalanya kesana kemari. Namun tiba - tiba sebuah sepeda motor besar berhenti didepannya dan langsung memberikan helm untuk Jaehwan. Dirinya yang mengerti kode itu langsung memakai helm dan naik keatas motor bersama orang yang menjemputnya itu.

Motor itu melaju cepat melewati beberapa mobil besar, namun kedua orang diatas motor nampak terkejut saat suara sirine polisi terdengar di telinga mereka. Jaehwan menoleh kebelakang dan benar dugaannya dua mobil polisi mengejar mereka dengan sirine bising yang terus mengganggu telingannya. "Mereka mendekat"

"Aku mengerti Hyungnim" ucap pengemudi motor itu seraya menaikan kecepatan motornya sehingga dapat mendahului mobil - mobil polisi. Walaupun sudah berkendara cepat ternyata didepan mereka juga telah dihadang tiga mobil polisi yang berhenti dengan beberapa polisi yang sudah berdiri menodongkan pistol. Dengan terpaksa pria itu menghentikan motornya.

"Haiisshh!" Jaehwan turun dari atas motor seraya mengangkat kedua tangannya. Minhyuk, keluar dari mobil polisi yang baru datang mengejar dan langsung memborgol kedua tangan Jaehwan beserta kedua tangan pria yang mengemudikan motor.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Taekwoon membimbing Hakyeon berdiri dari duduknya setelah menyelesaikan sarapannya bersama Hyuk dan Jisoo. Sekretaris Han aka Hyuk juga membantu membawakan tas kerja Hakyeon.

"Jisoo-ya" Taekwoon menoleh kepada Jisoo yang tengah menghabiskan air putihnya. "Coba kau hubungi Hongbin, aku tidak bisa menghubunginya lagi. Kita harus mendapatkan bukti itu sebelum hari persidangan"

"Iya aku mengerti" Jisoo beranjak mendekati Hakyeon dan memeluk tubuh yang lebih kecil dari dirinya. "Selamat bekerja Hyung"

Hakyeon tersenyum dan mengusak manja rambut Jisoo. "Hmm~~, Hyung pergi ne"

Mereka melepaskan pelukan dan Hakyeon beranjak pergi keluar dengan tangannya yang masih mengait erat lengan Taekwoon. Hyuk membukakan pintu mobil saat Hakyeon dan Taekwoon sudah tiba. Dibimbing Hakyeon masuk kedalam mobil dengan hati - hati, Taekwoon pun langsung ikut masuk beserta Hyuk yang masuk pula di kursi pengemudi, menyalakan mesin mobil dan langsung pergi menuju Perusahaan.

Drrrt Drrrtt

Hyuk menoleh kearah ponsel Hakyeon yang bergetar disampingnya, seperti biasa sebagai Sekretaris Hyuk lah yang mengambil alih, dan yang berwajib mengangkat telfon milik Sajangnim nya. Dia memasangkan handset ditelinganya dan menekan tombol menerima.

"Yeobosseyo"

"Ne Yeobosseyo, kami dari Kepolisian Seoul"

Hyuk melirik kaca tengah mobil yang menampakan Hakyeon dan Taekwoon yang tengah duduk disana. "Saya Sekretaris Sajangnim, Ada masalah apa ?"

"Kami ingin Tuan Cha Hakyeon datang ke kantor segera, kami menangkap salah satu komplotan pembunuh Dokter Jung"

"Benarkah ?" Hyuk kembali melirik pada kaca menatap Taekwoon yang juga memandang kekaca tengah itu. "Pelakunya tertangkap" ucapnya sumringah.

Taekwoon tersenyum mendengar kabar itu, dia mengeratkan genggaman tangannya pada Hakyeon, menolehkan kepalanya menghadap Hakyeon yang tersenyum menatap kedepan. Dengan perasaan lega, Taekwoon mengecup lembut kepala Hakyeon dan mengalungkan lengannya mendekap pundak Hakyeon agar merapat padanya.

"Kami akan segera kesana"

"Terimakasih kerjasamanya"

Hyuk melepas handset ditelinganya dan langsung memutarkan mobil menuju arah berlawanan, membawa mereka menuju Kantor Kepolisian dengan senyum yang selalu tersemat diwajah tampannya.

Tidak berselang lama, mereka sudah sampai hanya dalam waktu 25 menit saja Taekwoon keluar dari mobil menuntun Hakyeon pula untuk keluar. Hyuk, membuka kaca mobil menatap Taekwoon yang tengah memberikan tongkat jalan pada Hakyeon.

"Aku akan ke Kantor, kabari jika ada apa - apa Hyung"

"Pergilah"

Hyuk hanya memberikan cengiran dan segera membawa pergi dirinya beserta mobil itu untuk ketempat awalnya.

"Ayo" Taekwoon menggenggam tangan Hakyeon dan menuntunnya berjalan masuk ke Kantor Kepolisian didepannya itu. Mereka masuk dan melewati beberapa polisi yang tengah sibuk bekerja. Tampa pertanyaan, Taekwoon sudah tau harus bertemu siapa.

"Eoh, kalian sudah datang" Inguk berlari perlahan menghampiri Hakyeon dan Taekwoon. Mendengar suara Detektif Seo, membuat Hakyeon refleks membungkuk hormat, namun tidak dengan Taekwoon yang malah langsung bertanya mengenai topik permasalahan.

"Dia ada diruang interogasi. Mungkin kalian mengenal orang itu" Inguk mengajak Taekwoon dan Hakyeon masuk kesebuah ruangan yang digunakan untuk mengawasi ruangan interogasi.

"Duduklah Hakyeon-ah" Dengan perlahan Taekwoon menuntun Hakyeon untuk duduk di kursi yang sudah tersedia diruangan itu. Taekwoon menatap kearah kaca yang memperlihatkan Jaehwan yang tengah diinterogasi didalam sana.

"Aku kenal dia"

"Apa hubungan kalian? Dia belum menjawab satu pun pertanyaan yang kami ajukan"

"Dulu, aku berhutang uang padanya"

"Hanya itu?"

Taekwoon terdiam, sebenarnya tidak hanya itu. Dia ingin menceritakan semuanya, tapi jika dia menceritakan semuanya, ada satu orang lagi yang pasti akan tertangkap. Kim Wonshik.

"Hanya itu" ucapnya datar dan masih menatap tepat pada Jaehwan.

"Haaahh,, sudah jelas dia terlibat dalam rencana pembunuhan ini. Jika dia tidak buka mulut, pelakunya tidak akan tertangkap"

"Kita masih memegang bukti. Park Hongbin, aku masih berusaha menghubunginya".

"Aku tidak yakin jika dia akan melaporkan keluarganya sendiri ke Polisi"

Taekwoon menatap Hakyeon yang terdiam. "Kita hanya bisa berharap"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Masih didalam sebuah kamar yang terkunci, Hongbin sekarang tengah sibuk menuliskan sesuatu pada selembar kertas dihadapannya. Dia membaca, berfikir, dan menulis kembali hingga dia rasa apa yang ditulisnya sudah benar - benar membantu. Kini, Hongbin beranjak mendekati jendela kamarnya, dia hanya diam berharap seseorang melewati rumahnya.

Selang beberapa menit, Hongbin mendapati seorang gadis dengan seragam High School itu berjalan santai seraya bermain dengan ponsel ditangannya. Saat gadis itu sudah tepat berada dibawahnya, Hongbin melemparkan bolpoin yang dia pegang tepat dikepala gadis itu.

"Aaauh!" Gadis itu melotot tajam keatas, tepatnya pada Hongbin. "Ya! Ahjussi"

"STTTTTSS!" Hongbin memperlihatkan selipat kertas pada gadis itu, dia memberi tanda agar gadis berseragam dibawahnya menangkap kertasnya.

Wajah gadis itu tampak ragu namun tangannya tetap dia arahkan keatas bersiap - siap menerima kertas dari Hongbin.

Kertas yang berhasil ditangkap, dibuka sang gadis dengan penasaran. Ternyata disana terdapat beberapa lembar uang yang jumlahnya cukup banyak. Gadis itu menatap keatas seraya meminta penjelasan terhadap sejumlah uang yang berada didalam kertas.

Hongbin hanya memberi kode agar gadis itu membaca isi suratnya.

Tanpa berfikir panjang, dibuka surat itu dan dibacanya.

"Aku sedang dihukum. Tolong hubungi nomer ini. Katakan padanya untuk menolongku, agar aku bisa keluar dari sini. Gadis itu membawa buktinya, namun aku punya salinannya. Tolong bantu aku, uang ini silahkan diambil. Terimakasih"

Sang gadis menatap keatas, disana Hongbin tengah menggosokan tanganya sebagai kode memohon. Gadis dengan seragam High School itu langsung memasukan uang kedalam saku rok nya dan memberi tanda ok dengan tangannya.

Hongbin tersenyum lega ketika gadis itu pergi menjauh seraya mengetikan sesuatu pada ponselnya sebelum ponsel itu menempel ditelinga sang gadis.

.

.

.

"Sebaiknya Hakyeon tetap disini dulu, sampai sidang besok" ucap Inguk saat mereka keluar bersama dari ruang pengawasan.

"Aku bisa menemaninya kan?"

Inguk tersenyum geli mendengar pertanyaan Taekwoon. "Haiiisshh, kalian ini seperti pengantin baru"

Hakyeon terkikih pelan, "Aku tidak apa - apa.."

"Tidak apa - apa" Inguk menyela ucapan Hakyeon. "Kau boleh menemani kekasihmu ini, sampai sidang besok. Kalian bisa tidur di kamar belakang, ada didekat ruanganku. Aku juga akan berjaga disini sampai sidang besok"

Hakyeon menggigit lidahnya lucu, sebelum dia membungkuk mengucapkan terimakasih. Kepalanya menatap keatas pada Taekwoon yang juga menatapnya.

Hakyeon mengulas senyum kemudian menjulurkan lidahnya pada kekasihnya itu, Taekwoon hanya berdecak seraya mengecup pelan pipi Hakyeon. "Ayo kita makan" ucapnya pada Hakyeon dan dibalas dengan pelukan erat dilengannya.

Taekwoon menuntun Hakyeon duduk di ruang tunggu Kantor Kepolisian itu, "Aku akan membeli makanan diluar dulu. Tunggu disini"

Hakyeon mengangguk semangat, dia duduk dengan tangannya yang menggengam erat tongkatnya.

Hanya duduk menunggu Taekwoon selama 10 menit saja, kekasihnya itu sudah kembali seraya membawa sekantong plastik dan duduk disamping Hakyeon.

Taekwoon meletakan dua mangkuk dimeja, dan membuka dua botol minuman.

"Hwoaaahh Jajangmyeon" ucap Hakyeon riang ketika aroma makanan merasuk kedalam hidupnya.

"Ini" Taekwoon meletakan sumpit ditangan Hakyeon. "Tepat didepanmu" Tangan Hakyeon meraba dan menemukan mangkok yang berisi jajangmyeon, dengan semangat Hakyeon langsung memakan makanan dihadapannya.

Taekwoon yang hendak ikut makan terhenti saat ponselnya terasa bergetar disaku, dia mengambil dan menerima panggilan dari nomer asing itu.

"Yeobosseyo, ini Jung Taekwoon?"

"Ini siapa ?"

"Saya Cho Sarang, ada seorang Ahjussi yang menyuruh saya menyampaikan pesan pada Anda. Dia sedang di kurung didalam kamarnya, dia butuh bantuan karena bukti dibawa seorang gadis tapi dia punya salinannya. Saya kurang mengerti, tapi inti pesannya seperti itu"

"Aku mengerti, terimakasih"

"Ne"

Taekwoon mematikan panggilannya namun dia tidak memasukan ponselnya, dia menghubungi seseorang lagi.

"Jisoo-ya. Pergilah kerumah Hongbin, bantu dia kabur darisana"

"Ada apa Taekwoon-ah?" Hakyeon bertanya khawatir saat Taekwoon membawa nama adik semata wayangnya itu.

"Ada sedikit masalah, tidak apa - apa" Taekwoon menutup teleponnya saat Jisoo sudah menjawab dan menyelesaikan pembicaraan mereka.

"Masalah apa ? Kenapa kau menyuruh Jisoo kesana sendirian?"

"Mereka kan sahabat, Jisoo lebih mengerti.."

"Pergi, temani Jisoo" Hakyeon meletakan sumpitnya. Dia menatap keatas pada Taekwoon. "Perasaanku tidak tenang jika dia kesana sendirian"

"Tapi aku disini menjagamu"

"Ada Detektif Seo, masih banyak polisi juga disini"

Taekwoon menghembuskan nafasnya lelah, "Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian"

"Pergilah, aku mohon"

Taekwoon memejamkan matanya erat menahan nafas sebelum dia hembuskan dengan keras. "Baik. Aku akan panggil Detektif Seo dulu, kau lanjutkan makannya"

Hakyeon tersenyum manis dan berhasil membuat Taekwoon mengusak rambutnya pelan. Dirinya kembali mengambil sumpit yang diletakannya tadi untuk melanjutkan makannya.

Hakyeon tersentak saat sebuah tangan menempel di kepalannya. "Aku pergi, kau disini hati - hati" ucap Taekwoon yang ternyata sudah kembali dengan Detektif Seo.

"Iya Woon-ie~"

"Ckk" Taekwoon berdecak gemas melihat tingkah Hakyeon yang selalu membuatnya bertekuk lutut, dia hanya mampu menuruti semua keinginan orang tersayangnya itu. Apa pun yang membuat Hakyeon bahagia.

"Detektif, tolong jaga Hakyeon"

"Tentu saja, jangan terlalu cemas. Aku bersamanya 24 jam" Inguk menepuk pundak Taekwoon berusaha meyakinkan.

"Makananku belum aku sentuh, Anda bisa memakannya. Saya permisi" Taekwoon menundukan kepalanya.

"Kau tidak butuh polisi bersamamu?"

"Tidak perlu" Dia menundukan kepalanya lagi dan beralih berjongkok didepan Hakyeon. "Aku pergi, jika ada apa - apa hubungi aku"

"Ne Yeobo~~ Sudah sana pergi"

Taekwoon kembali menghembuskan nafasnya, dia benar - benar tidak ingin meninggalkan Hakyeon-nya disini. Dia ingin selalu berada didekat Hakyeon, perasaannya selalu buruk jika dia berada jauh dari Hakyeon. "Iya, aku pergi" Taekwoon menangkup wajah tan kekasihnya agar menghadap padanya.

Cuuup

Tanpa malu Taekwoon mengecup bibir Hakyeon didepan Inguk yang langsung terbatuk melihat adegan dibawah umur itu. Walaupun tidak lama, namun kecupan itu mampu membuat semua pasang mata disana memandang mereka.

Taekwoon mengusap pelan pipi Hakyeon yang merona. Dirinya berdiri dan menunduk hormat pada Inguk yang hanya tersenyum sebal menatap mereka. Inguk bahkan memberikan kode tangan agar Taekwoon segera pergi darisana. Karena sebenarnya dia juga tau, orang itu tidak mau pergi meninggalkan Hakyeon.

"Mari lanjutkan makanmu" ucap Inguk saat Taekwoon sudah pergi darisana, dan dirinya sekarang duduk disamping Hakyeon hendak memakan makanan yang sebelumnya milik Taekwoon. "Eoh, wajahmu merah"

Hakyeon menangkup malu wajahnya yang merona. "Ak..aku tidak"

"Dicium seperti itu kau merah? Jangan - jangan dia belum pernah memasukimu eoh?"

"Uuhukk uhhuk"

"Astaga, kalian belum pernah tidur bersama?"

Hakyeon memukul dadanya yang terasa sesak karena tersedak. Bahkan Inguk bukannya membantu Hakyeon malah semakin menggoda namja tan itu hingga membuatnya semakin merona.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sebuah mobil berhenti tidak jauh dari rumah Hongbin. Didalam mobil itu, Jisoo tengah memantau seseorang. Namun, sedari tadi tidak ada orang yang keluar dari dalam rumah.

TOK TOK

Jisoo tersentak saat Taekwoon mengetuk kaca mobil, dia berdecak sebal dan keluar dari dalam. "Kenapa kau kemari?" ucapnya masih angkuh.

"Hyung-mu yang menyuruhku. Kenapa kau hanya diam disini?"

"Aku sedang menunggu Sojin Nuna keluar rumah" Jisoo bersandar pada mobil seraya melipat kedua tangannya.

"Ini" Taekwoon memperlihatkan sebuah alat yang terlihat tipis namun terdapat beberapa lapis.

"Untuk apa itu ?"

"Membuka pintu. Ayo"

Jisoo mengerutkan dahinya ketika Taekwoon hanya berjalan santai hendak menuju rumah itu. "Kau ingin membobol rumah? Gila, itu kejahatan"

"Ini bukan membobol" Taekwoon membuka gerbang yang memang tidak terkunci itu, dan lanjut berjalan menuju pintu masuk rumah dan diikuti Jisoo dibelakangnya. "Ini namanya membuka secara halus" Taekwoon memasukan alat itu kelubang kunci dan tanpa Jisoo pikirkan pintu itupun terbuka begitu saja.

"Hwaah, ckck brandalan" Sindir Jisoo pada Taekwoon yang hanya memberikan senyum tipisnya.

Mereka berdua masuk secara perlahan kedalam rumah itu. "Kamarnya disana" Jisoo berjalan mendahului Taekwoon karena dia yang paling hafal seluk beluk rumah Hongbin ini.

Jisoo mencoba membuka pintu kamar Hongbin namun terkunci juga. Dia menoleh pada Taekwoon yang sudah hadir disampingnya.

Taekwoon kembali tersenyum angkuh dan membuka pintu itu dengan alat yang sama. Tidak usah ditanya, pintu itu jelas langsung terbuka. Dan dengan segera mereka masuk kedalam tepat dimana Hongbin tengah berdiri terkejut.

"Jisoo-ya" Hongbin berlari menghampiri Jisoo.

"Ayo pergi" Ajaknya pada sang Sahabat. Hongbin tersenyum seraya mengucapkan terimakasih kepada Taekwoon yang sekali lagi mengukir senyum tipisnya.

Mereka bertiga segera keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil yang dibawa Jisoo.

"Kita langsung ke Kantor Polisi." usul Taekwoon yang tengah memasangkan sabuk pengaman.

"Okay" Dengan semangat 45, Jisoo segera menghidupkan mesin mobilnya dan melaju menuju ketempat dimana sang kakak berada.

.

.

.

.

"Hyung" Jisoo berlari menghampiri Hakyeon yang tengah duduk santai bersebelahan dengan Detektif Seo.

"Jisoo-ya"

Tanpa peduli Jisoo langsung duduk diantara Detektif Seo dan Hakyeon sehingga membuat Inguk tergeser jauh bahkan hampir terjatuh. Inguk hanya mencibir Jisoo dan berdiri dari duduknya karena dia melihat Taekwoon bersama seorang namja.

"Dia Park Hongbin"

Hongbin membungkukan badannya pada Inguk, dan mengatakan bahwa dia memiliki semua bukti percakapan kejahatan kakaknya.

"Kau kenal Lee Jaehwan ?"

Agak terkejut mendengar nama itu, Hongbin hanya menganggukan kepalanya.

"Dia sudah kami tangkap, tapi dia tetap bungkam. Mungkin kau mau bicara dengannya agar dia bisa dipancing bicara"

"Aku akan mencobanya"

"Baiklah kemari" Inguk membawa Hongbin diikuti dengan Taekwoon yang meninggalkan Jisoo dan Hakyeon sendirian disana. Inguk mempersilahkan Hongbin masuk keruangan yang sama dengan Jaehwan, sedangkan dirinya dan Taekwoon berada diruang pengawasan.

Jaehwan menampakan raut terkejut ketika melihat Hongbin masuk dan duduk dihadapannya. "Kau ditangkap juga ?"

Hongbin menggelengkan kepalanya, dia menunjukan sebuah Flashdick pada Jaehwan.

Mata Jaehwan langsung melotot melihat benda itu. Dia tau apa maksudnya dan dia paham, mengapa Hongbin berada disini sekarang. Senyum sinis Jaehwan langsung tersemat diwajahnya. "Kau, menghianati Nuna-mu sendiri? Bocah tengik!"

"Kalian sudah kelewatan batas, membunuh, itu bukan rencana awal kita"

Jaehwan kembali tersenyum sinis, dia menatap sebuah kaca besar dibelakang Hongbin. Dan kembali menatap Hongbin. "Kau tau apa yang menarik disini" Kedua tangan Jaehwan yang terborgol diletakannya diatas meja. "Seorang sahabat bahkan tidak berani melaporkan sahabatnya sendiri, sedangkan kau, bagaimana bisa Seorang Dongsaeng melaporkan Nuna-nya" Senyum Jaehwan tampak semakin lebar, mata itu kembali menatap kearah kaca. "Benarkan, Jung Taekwoon-ssi?"

Hongbin tercekat mendengar penuturan Jaehwan, begitu pun kedua orang yang berada dibalik kaca besar itu.

"Apa yang dia maksud?" Inguk menatap Taekwoon meminta penjelasan.

Sedangkan Taekwoon hanya menatap tajam tepat dikedua mata Jaehwan walaupun Jaehwan tidak dapat melihat Taekwoon darisana.

"Kau kenal pelaku lainnya?"

Taekwoon masih berusaha bungkam dari pertanyaan Inguk. Dia bahkan keluar dari ruangan itu meninggalkan Inguk yang kesal karena bingung dengan ucapan Jaehwan yang tampaknya sangat penting untuk penyelidikan.

"Hongbin-ssi, keluarlah dari sana" Pinta Inguk seraya menekan sebuah tombol microfon yang akan terhubung dengan ruangan didepannya itu.

Hongbin yang mendengar suara Inguk langsung keluar meninggalkan Jaehwan yang terus menatapnya benci.

Inguk pergi keluar dari ruangannya dan bertemu dengan Hongbin disana. "Aku akan membawa buktinya" Inguk mengulurkan tangannya meminta benda yang dia maksud. Dengan segera Hongbin memberikan Flashdisk itu padanya. "Kau tetap disini saja, Sidang akan dilaksanakan pukul 9 pagi, kau juga harus ikut kesana sebagai saksi. Kita akan berangkat bersama besok"

"Saya mengerti"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pagi hari, 08.30 a.m

Zrrrrrrrhhhhhhhhh

Sojin berjalan keluar dari kamarnya dengan handuk yang dia usapkan untuk mengeringkan rambutnya. Dia berjalan santai menuju dapur mengambil nampan yang sudah berisi sepiring makanan dan segelas susu. Dia membawa menaiki tangga menuji keatas, kamar Hongbin.

Mulutnya terbuka syok ketika melihat kamar sang adik terbuka lebar, dirinya langsung berlari masuk kedalam. Dan benar saja, Hongbin tidak ada didalam kamarnya. Nampan itu dia letakan dikasur begitu saja dan Sojin langsung berlari turun, menuju kamarnya. Disana dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Wonshik-ah"

.

.

.

Dilain tempat, Wonshik yang tengah berada dimarkas Jaehwan bersama seluruh pasukan anak buah itu tengah bersiap - siap bersama mobil - mobil dan motor besar lainnya. Anak buah Jaehwan mengenakan penutup wajah yang hanya memperlihatkan kedua mata dan mulut mereka. Begitu pula Wonshik yang hendak memakai itu namun tertunda karena telepon dari Sojin.

"Ada apa ?"

"Hongbin, dia, Hongbin menghilang?" ucap Sojin begitu cemas.

"Menghilang bagaimana?"

"Aku tidak tau, pintu kamarnya sudah terbuka lebar. Pasti ada yang membantunya kabur, bagaimana ini ? Bagaiman jika Hongbin ke Kantor Polisi?"

"Ck, Brengsek! Kau itu yang bagaimana! Hanya mengurusi Dongsaengmu saja tidak becus!"

"Hyung, semua sudah siap" Ucap salah satu anak buah Jaehwan yang langsung membukakan pintu mobil untuk Wonshik. Wonshik langsung masuk kedalam mobil.

"Kita kesana" ucapnya pada anak buah Jaehwan, dan orang itu langsung memberi kode pada yang lainnya, dengan segera mereka menghidupkan mesin kendaraan masing - masing. "Aku akan Ke Kantor Polisi menyelamatkan Jaehwan Hyung, biar aku yang urus sekalian"

"Jaehwan ? Kenapa? apa dia ditangkap?"

"Kau duduk saja dan lihat hasil kerjaku" ucapnya dan langsung mematikan panggilan Sojin. "Jalan" perintah Wonshik pada anak buah Jaehwan yang mengemudikan disamping Wonshik.

Sekelompok gangster itu pergi bergerombolan menuju Kantor Polisi untuk menyelamatkan Bos mereka.

.

.

.

Kantor Polisi Seoul, 08.50 a.m

"Hyung, sudah siap semua" ucap Minhyuk pada Inguk yang tengah memasukan semua berkas yang dibutuhkan dalam sidang ke Kardus.

"Kita akan berangkat" Inguk berjalan diikuti Minhyuk dari belakang. Dia tidak langsung keluar, tapi menuju ketempat dimana Hakyeon cs sedang menunggu. "Oh ya, Jaehwan kau yang bawa"

"Baik" Minhyuk langsung pergi menuju tempat dimana Jaehwan di kurung.

Inguk meletakan kardur itu diatas meja dia sudah berhadapan dengan Taekwoon, Hakyeon, Jisoo dan Hongbin yang tengah menunggu.

"Hakyeon dan Hongbin akan berada di mobil yang sama dengan ku dan petugas Polisi, Taekwoon dan Jisoo bisa mengikuti dari belakang"

Mereka mengangguk mengerti.

"Hakyeon-ah" Seperti biasa Taekwoon terlihat khawatir jika dipisah dengan kekasihnya. Dia berjongkok dihadapan Hakyeon yang tengah terduduk dikursi. "Kau tidak apa - apa?"

Hakyeon menganggukan kepalanya. "Aku siap Taekwoon-ah, tenang saja" Tangannya meraba dan menemukan tangan milik Taekwoon, diusapnya lembut dan dia genggam tangan yang ukurannya jauh lebih besar dari miliknya.

"Ayo berangkat" ucap Inguk yang mulai mengangkat kardusnya kembali.

BRAAAAAKKKKK

Brrmmmmm BRMMMM

"Hwuhuuuuu"

Segerombolan orang dengan penutup kepala masuk menerobos kedalam Kantor Polisi, dengan tidak aturanya mereka merusak semua barang dan menghancurkan komputer dan menghamburkan berkas - berkas. Para polisi segera menangkap dan berusaha menghentikan mereka, namun mereka menyerang dengan alat yang bisa mereka gunakan untuk melawan.

"Hyuuungg!" Inguk menoleh kearah belakang dimana Juniornya tengah dipukul oleh seorang dari mereka. Orang dengan topeng itu menarik Jaehwan dan membawanya lari.

"Sialan!" Inguk hendak mengejar namun Taekwoon menghentikannya.

"Aku saja, ini sudah hampir pukul sembilan. Sebaiknya kalian segera kesana. Aku akan membawa Jaehwan ke persidangan" Taekwoon langsung berlari mengejar kedua orang yang sudah keluar Kantor Polisi menaiki mobil. Taekwoon menerobos segerombolan orang dengan susah payah dan berhasil sampai keluar. Dia asal naik motor besar milik salah satu pengacau didalam. Dia nyalakan mesin dengan cepat dan mengejar mobil yang sudah pergi terlebih dahulu.

Didalam, Inguk membimbing beberapa orang itu untuk keluar melalui jalur belakang. Mereka keluar tanpa hambatan apapun. Namun didalam kantor polisi masih riuh dan kacau, para polisi bahkan sulit mengatasi mereka.

"Minhyuk-ah, kau urus yang disini saja. Salah satu dari mereka tidak boleh kabur. Mengerti?!"

"Mengerti hyung"

"Ayo" Inguk masuk kedalam mobil bersama petugas polisi yang bertugas mengemudikan. Dibelakang Jisoo membantu kakaknya masuk.

"Hyung, aku akan mengikuti dari belakang"

Hakyeon tersenyum seraya menganggukan kepalanya.

"Hongbin-ah, jaga Hyungku" ucapnya pada Hongbin yang hendak masuk kedalam mobil disamping Hakyeon. Hongbin tersenyum dan mengangguk mengerti, dia langsung masuk dan menutup pintu.

Melihat mobil itu pergi, Jisoo segera masuk kedalam mobilnya sendirian dan mengikuti dari belakang.

"Lebih cepat, sudah pukul sembilan" Inguk mengamati jam ditangannya. "Kita terlambat"

"Baik" petugas polisi itu segera menaikan kecepatannya. Mereka menyalip beberapa mobil yang berada didepan. Waktu semakin berjalan, mereka tidak boleh melewatkan sidang penting itu.

Petugas polisi yang mengemudikan mobil begitu focus pada jalanan. Tepat ketika lampu lalulintas menunjukan warna merah. Kakinya secara refleks menginjak rem. Namun, rem itu tidak mau bergerak turun.

"Oi oi, berhenti, didepan ada mobil" ucap Inguk yang mulai khawatir karena petugas itu tidak segera menginjak rem.

"Remnya tidak bisa." kaki itu berusaha menginjak, namun alat itu tidak mau bergerak turun. Mereka tidak tau bahwa dibawah rem itu sudah diganjali sebotol kaleng minuman bekas. Sekuat apapun kaki petugas polisi mendorongnya. Tidak akan berhasil.

Kedua tangan Hakyeon bergetar takut, mata itu memancarkan ketakutan yang amat sangat. Disaat seperti ini ingatan mengenai kecelakaan masa lalu terulang kembali. Walaupun kedua matanya tidak bisa melihat namun dia tau bahwa mereka sedang dalam bahaya.

Mobil itu terus melaju kencang hingga mendekati beberapa mobil yang tengah berhenti karena lampu merah. Untuk menghindari tabrakan, petugas polisi membanting stir ke sisi kiri, kejalan yang berlawan arah. Namun sayang, ternyata mereka dihantam sebuah mobil berwarna hitam.

Hongbin berusaha mendekap Hakyeon untuk melindunginya. Mereka berteriak karena mobil yang mereka tumpangi berputar dijalan akibat tabrakan.

Mobil itu terus berputar hingga menabrak beberapa mobil yang melintas. Tepat saat putaran perlahan, Inguk melihat sebuah truk besar melaju tepat disampingnya.

Disisi lain Jisoo menghentikan mobilnya segera saat melihat kejadian aneh pada mobil yang ditumpangi kakaknya. Mobil itu berputar menabraki beberapa mobil yang tengah melaju. Saat putaran itu hampir berhenti, sebuah truk besar datang dan menghantam mobil yang ditumpangi Hakyeon hingga terdorong dan terlempar begitu jauh. Mobil itu berguling beberapa kali sebelum berhenti terbalik.

"Tidak" Jisoo segera keluar dari dalam mobil dan berlari sangat cepat menghampiri sebuah kobil yang sudah rusak terbalik dengan asap mengepul.

"Andwae, Hyung!" Kakinya semakin berlari sangat cepat, semua orang memandang mobil yang rusak mengenaskan itu, bahkan semua mobil berhenti karena tidak dapat melalui jalan.

Jisoo berjalan perlahan saat dirinya sudah hampir dekat dengan mobil. Matanya menatap syok pada salah satu penumpang dibelakang dengan darah yang membanjiri tangan dan kepala itu.

Jisoo menagis terisak dan segera berlari, dia langsung terduduk menggenggam tangan orang itu.

"Andwae, Hyung! Hiks andwae.. Tolooongg!" Teriaknya pada orang - orang yang memandang mereka, beberapa dari orang itu menghubungi rumah sakit dan polisi. Beberapanya mendekati Jisoo dan berusaha menghentikannya yang tengah menangis dan berusaha membuka pintu mobil untuk mengeluarkan kakaknya.

"Hiks Andwae andwae hiks.. Hakyeon-ah Andwae! Hakyeoonn! Hiks Hakyeon Hyung!"

Disebuah Rumah Sakit, di ruang UGD, Jisoo tengah duduk menangis sesenggukan dengan menutupi wajahnya, disampingnya Hyuk berusaha menenangkanya walaupun dia sendiri juga tengah menangis. Dan Taekwoon tampak sangat khawatir, dia terus berjalan mondar mandir didepan ruangan itu.

Seorang wanita dengan raut wajah khawatirnya berlari mendekati mereka. Wanita itu, Sojin. Dia mendapat kabar bahwa adiknya terlibat kecelakaan dan dengan segera dia berlari ke Rumah Sakit. Namun, apa yang dia lihat? Dia bertemu dengan sekawanan musuh.

Jisoo yang melihat Sojin langsung berdiri dan mencekik leher wanita itu. Dia melotot penuh benci wanita dihadapanya.

"Brengsek! Akan kubunuh kau jika Hyung-ku mati! Yeoja Murahan!"

Hyuk dan Taekwoon segera menghentikan Jisoo yang berusaha membunuh Sojin. Wanita yang dicekik bahkan sudah hampir kehabisan nafas jika Taekwoon tidak segera menarik keras kedua tangan Jisoo.

"Brengsek kau Hiks hiks Dasar setan!" Jisoo menangis terduduk, isakannya semakin keras ketika dia teringat bagaimana kejadian yang baru saja dialami Kakaknya, bagaimana dia melihat dengan kedua matanya, sang kakak terkapar penuh darah ditubuhnya.

Pintu UGD itu terbuka. Dua orang Dokter keluar dari sana. Jisoo, Hyuk, Taekwoon bahkan Sojin langsung menghampiri sang dokter yang menampakan raut kesedihan.

"Bag..bagaimana?" ucap Taekwoon semakin cemas saat Dokter itu langsung membuka maskernya dengan lemas.

"Dua korban dalam keadaan kritis"

"Dua?"

"Kami turut berduka"

"Ap..apa maksudnya, dimana Hyung-ku?!"

"Dokter" Taekwoon menggenggam pundak dokter itu untuk melanjutkan ucapannya.

"Dua korban lainnya meninggal"

Tbc

.

.

.

.

Hiks Hiks aku ngetik ini sambil nangis masa T.T Entah kenapa kaya ngerasain apa yang dialami si Jisoo T.T ngetiknya juga sambil gemeteran T.T

okee next review aja yah,,

[HMYgrey] Sidangnya bersambung T.T mereka terlibat kejadian yang mengerikan X( nggak bisa berkata apa - apa, di tunggu yah next chapternya T.T

[Kim Eun Seob] Iya eon, dari awal RaKen emang jahanam.. eh jahat.. Loh Hyuk kan emang udah keluar dari episode 1, eh chapter 1.. wahh eonni butuh aqua nih :v

[GaemGyu92] Iya Hongbin uda pinter kok, tuh buktinya dia bikin salinannya. hehe,, Ya emang uda ketangkep, tapi kabur lagi, T.T

[Hakyeon Jung] Loh kok tidur satu ranjang eon, kata nya suami eonni si Mas Hakyeon itu lagi kerja di korengan :v eh Korea..Waahh tipu tipu nih XD Hahahaha Hakyeon mah uda identik jiwa perempuannya XD nggak bisa dipungkirin itu, tapi kalau aku gk pernah bisa bayangin mereka dalam charakter cewe eon, tapi jiwa mereka cewe :v Iya Park YuChun JYJ itu juga bias ku wkwkw.. Kan si ortunya Hakyeon itu Yunho sama Jaejoong karena si Sojin marganya Park, maka suami pertama Jaejoong adalah Park Yu Chun wkwkwkw jadi deh TVXQ XD buat Park Yu shin adiknya si YuChun itu aku ngarang eon, wkwkw asal mikir aja namanya.. Lagian juga gk akan keluar lagi ,, nam joo Hyun lagi maen drama eon, jangan dibawa bawa ntar kalau dia gabung di FF ini payah XD Waaahh Si eonni emang labil nih payahh huuuu.. katanya Suaminya Hakyeon, lah malah minta dikawinin sama Hyuk, wah gk beres nih menduakan nih, waaahh waahhh payah nih :v pilih Hyuk apa Hakyeon T_T wkwkw oke, tunggu next chap yah eonni kasih cium dulu ahh :* muaaach

[aiiuukirei] Hehe bagi Taekwoon masalah tidak akan mengalahkan hasrat cintanya wkwkw. okee makasih reviewnya, tunggu chapter selanjutnya yah ^^

[Dinda455] He he he makasih Dinda sayang :* Hakyeon bisa lihat lagi nggak yah ? :3 ikutin terus aja yah ceritanya.

[TJungN] Iyaa ini kamu Reader setiaku, ngilang sejak kemari T.T ,, Tapi makasih yah sudah sempetin review lagi :* nggak kok, si RaKen blm dipenjara kok,, mungkin masih nanti.. Ikutin terus yah ceritanya ^^

Okee,, ini mungkin detik - detik episode eehh chapter terakhir T.T mungkin akan tamat beberapa chapter lagi T.T karena uda sampai penghujung cerita.. Tinggal bikin alur menuju klimax T.T

Terimakasih yang sudah mampir, jalan lupa tinggalin jejak, Review yah review T.T reviewnya semakin sedikit padahal viewnya banyak XD

Sampai jumpa chapter selanjutnya ^^

N-nyeeoooongg~~