*~ THANK YOU ~ *
Cast : -Cho Kyuhyun, - Lee Sungmin, - Eric Moon ( Shinhwa ), - Kim Ryeowook, -Kim Jong Woon/Yesung, - And Other..
Rate: T to M
Genre : Hurt/Comfort, Romance
- WARNING! YAOI, Crack Pair(Eric-Sungmin), OOC, Abal, GAJE, EYD amburadul dan Typo dimana-mana
-REVIEW DI TUNGGU-
Don't Like? Don't Read…!
DON'T COPAS!
Happy Reading…. ^^
.
.
Part 10
.
.
Kepala cantik itu hanya menunduk. Jemari lentiknya sibuk mengaduk-aduk just yang sudah tak dingin lagi sejak beberapa menit yang lalu.
Sementara namja tinggi di hadapannya hanya dapat melihat kegiatan yang di lakukan lawan bicaranya. Yang bahkan belum mengeluarkan sepatah katapun semenjak 15 menit yang lalu mereka bertemu dan duduk di salah satu meja kosong di café tersebut.
"Hyung…" akhirnya bibir tipis berbentuk shap-m itu mengeluarkan suara meskipun sangat pelan.
"Ne? Bicaralah Sungmin-ah.."
Sungmin, kini mengangkat kepala dan menatap lawan bicara yang di anggurkannya sejak tadi.
"Mianhae Eric hyung.."
Eric membetulkan posisi duduknya. Ada sedikit perasaan perih yang mampir di hatinya kala menatap foxy indah di hadapannya yang kini berkaca-kaca. "Apa yang harus ku maafkan Sungmin-ah?"
Jujur. Eric ingin sekali memeluk dan menenangkan tubuh mungil yang sedikit bergetar itu. Namun dia tahu, ini bukan saatnya dia melakukan hal tersebut. Dia sudah mempresdiksikan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Selama ini aku selalu membuatmu bingung dengan perasaanku. Dan jujur, aku juga sempat bingung dengan perasaanku sendiri.." Sungmin mengambil jeda sebentar, kedua tangannya di remas kuat. Dengan sekali tarikan nafas, dia menguatkan hatinya. Dan akan membuat semuanya jelas.
"Aku… Aku tak bisa menerima hatimu hyung. Mianhae.."
Eric diam. Tak salah dengan perkiraannya. Dan dia sudah siap dengan apapun yang akan keluar dari bibir mungil yang sedikit pias tersebut.
"Jujur, aku juga merasa nyaman berada di dekatmu hyung. Selama ini kau memberikan kenyamanan seseorang yang selama ini aku impikan. Aku sempat berpikir kau bisa membuatku nyaman dan bahagia. Aku juga sempat berpikir akan menerima hatimu. Tapi…" perkataan Sungmin kembali berjeda. Kali ini dia menggingit bibir bawahnya kuat. "Aku sadar, hatiku tak bisa jauh darinya hyung.."
Yah. Eric tahu maksudnya. Dan Eric bisa melihat betapa Sungmin mencintai Kyuhyun. Dia begitu bodoh, dia bodoh selama ini di butakan oleh cinta yang salah. Bahkan dia dengan teganya sempat berpikir akan merebut Sungmin dari adiknya sendiri. Kini, dia merasa jijik pada dirinya sendiri. Dia telah membuat Sungmin, namja polos yang baik hati terluka seperti saat ini.
"Jeongmal mianhae hyung.." Dan suara lembut Sungmin menyadarkannya. Dia kini tertegun menatap namja manis di hadapannya yang kembali tertunduk. Dan dia bisa melihat dengan jelas, bulir kristal menghiasi pipi chubbynya.
"Mianhae.. Selama ini aku selalu memberikan harapan yang tak pasti. Aku memang jahat. Dan aku tak pantas mendapatkan cinta dari siapapun."
"Sungmin-ah.." Eric tergerak untuk menggenggam tangan mungil di hadapannya. Dengan sedikit meremas dan mengelus permukaan putih tersebut, Eric berharap dapat menenangkan namja yang sangat di sayanginya itu. Yah, sayang. Sayang sebagai seorang adik. Kini Eric sadar, hanya perasaan itu yang boleh di milikinya. Tak lebih.
"Kau tak usah menyalahkan dirimu sendiri. Aku yang salah telah membuatmu seperti ini. Dan aku juga yang salah telah membuat hubunganmu dan Kyuhyun memburuk. Aku memang bukan kakak yang baik untuknya."
"Hyung, kau juga jangan menyalahkan dirimu. Aku yang salah. Mianhae.." Sungmin mengangkat kepala dan memandang Eric dengan air mata yang masih menggenangi foxy indahnya.
"Sstttt… jangan terus-terusan meminta maaf. Baiklah kita berdua yang salah. Dan aku ingin memperbaiki semuanya. Emm?" Dengan sayang, Eric menghapus aliran yang terus menghiasi pipi chubby tersebut.
"Semuanya sudah berakhir hyung. Kyuhyun sangat marah dan membenciku."
"Aku yakin semuanya bisa di perbaiki Sungmin-ah.."
"Tidak hyung. Semuanya sudah berakhir. Aku tak pantas di cintai oleh Kyuhyun. Dia pantas mendapatkan orang yang tulus. Dan aku tidak bisa memberikan ketulusan untuknya. Aku harus pergi dari hidupnya hyung."
"Sungmin! Apa yang kau katakan?"
"Aku sudah memutuskannya hyung. Aku akan pergi dari sisinya. Aku merasa kotor, aku merasa malu pada diriku sendiri. Aku tak pantas untuknya."
"Tidak Sungmin-ah, ini juga salahku. Aku akan membantumu. Kau harus berusaha bertahan."
Sungmin menghapus jejak air mata yang kini sudah tak mengaliri pipi chubbynya. Dia menggeleng lemah.
"Tidak hyung. Terima kasih untuk niat baikmu. Tapi aku harus pergi." Finisnya.
"Jangan mengambil keputusan saat hatimu sedang panas Sungmin-ah. Atau kau akan menyesalinya." Eric berusaha meyakinkan namja cantik di hadapannya. Dia ikut andil dalam masalah mereka. Ani. Bahkan dia yang mengakibatkan masalah itu terjadi, namun gelengan cantik dari kepala Sungmin lagi-lagi menjawab semuanya.
"Tidak ada harapan hyung. Aku harus pergi."
"Kau akan pergi kemana?"
"Aku merindukan orang tuaku hyung" Sungmin berusaha tersenyum di hadapan Eric. Meskipun itu sangat jelas sekali di paksakannya.
"Baiklah. Untuk saat ini tenangkan dulu pikiranmu. Aku harap setelah pikiranmu tenang, kau dapat memikirkan keputusanmu kembali."
"Ne. Aku pamit hyung" Sungmin berdiri dari tempat duduknya. Sedikit membungkukan badan kearah Eric sebagai salam perpisahan.
Sungmin membalikan tubuh hendak pergi, langkahnya terhambat kala mendengar ucapan lirih Eric.
"Mianhae Sungmin-ah. Jeongmal mianhae…" Sungmin kembali menatap Eric dan memberikan senyum terbaiknya, seolah berkata. 'Gwaenchanna. Ini bukan salahmu.' lalu benar-benar pergi meninggalkan Eric yang hanya bisa menatap punggungnya dengan tatapan penuh penyesalan.
Eric tertegun di tempatnya, kejadian ini seperti dejavu untuknya. dia pernah mengalami hal seperti ini.
.
.
.
Sreettt…
Suara sobekan kertas menggema di ruangan yang sepi itu. Kyuhyun menatap tajam sobekan kertas tersebut, matanya memerah menahan amarah, kedua tangannya terkepal kuat.
"Kyu, apa yang terjadi?" Yesung yang baru saja tiba di ruangan sang CEO merasa kaget melihat keadaan Kyuhyun yang tidak bisa di bilang baik-baik saja. Dan Yesung semakin di buat tak mengerti dengan semua buku dan berkas yang tadinya tersusun rapi di meja kerja Kyuhyun kini telah berserakan di lantai.
Dengan penasaran, Yesung mengambil secarik kertas yang di sodorkan Kyuhyun. Sebuah note singkat dari Sungmin.
"Ini…" Yesung menatap tak percaya beberapa deretan huruf yang di tulis Sungmin, pandangannya kembali pada Kyuhyun yang kini terduduk di kursi kerjanya dengan obsidian kelamnya menatap tajam sembarang arah.
Yesung mengambil sobekan kertas yang tadi di sobek Kyuhyun. Dan dengan melihat sebagian kertas yang sobek saja dia sudah tahu itu sebuah surat pengunduran diri.
'Kyuhyun dan Sungmin mencapai puncak permasalahan mereka' pikirnya.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan Kyu?" Yesung menatap Kyuhyun dan pesan di kertas dari Sungmin bergantian.
Beberapa detik, bahkan menit, Yesung menunggu. Kyuhyun masih belum bergeming dari tempatnya. Tangan yang terkepal kuat menandakan sang CEO tengah dalam amarah yang luar biasa besar.
Braaakkk..
Kyuhyun menggebrak meja kerjanya dan mengakibatkan namja berkepala besar yang masih setia menunggu jawabannya sedikit terlonjak kaget.
"Aku akan mencarinya!" Geram Kyuhyun hendak berjalan melewati Yesung.
Dengan sigap Yesung mencegah langkah Kyuhyun dengan mencengkram pergelangan tangannya.
"Lepas hyung! Aku akan mencari Lee Sungmin!"
Yesung menguatkan cengkramannya. "Tidak Kyu. Sekarang kau sedang emosi. Jangan sekarang"
"Haiiiisshh…." Sebelah tangan Kyuhyun yang bebas mengacak rambutnya brutal.
Merasa Kyuhyun mendengarkan ucapannya, namja pecinta kura-kura itu melepaskan cengkramannya.
"Semuanya akan semakin rumit kalau kau mengejarnya sekarang Kyu."
Kyuhyun menghempaskan tubuhnya dengan kasar pada sofa di ruangan tersebut. Kedua sikutnya tertumpu pada masing-masing lutut jenjangnya. Sementara kesepuluh jemari panjangnya meremas rambut ikal miliknya dengan kesal.
Yesung ikut mendudukan diri di sofa yang berhadapan dengan Kyuhyun.
"Mungkin sekarang lebih baik kalian seperti ini dulu. Tak ada salahnya kalian berpisah untuk sementara waktu. Dan saling intropeksi diri. Setelah pikiran kalian berdua tenang, kalian baru selesikan masalahnya dengan baik-baik." Ucap Yesung bijak. Melihat Kyuhyun tetap diam, dia kembali berucap.
"Aku yakin kau lebih mengerti dariku Kyuhyun-ah. Bukankah mengambil keputusan saat emosi itu hal yang sakat buruk? Bahkan dalam pekerjaanpun kau selalu berkata seperti itu. Jangan mengambil keputusan saat emosi. Ambil keputusan dengan kepala dingin. Dan itu berlaku juga dalam sebuah hubungan Kyuhyun-ah. Saat ini kau dan juga Sungmin sedang dalam keadaan emosi yang tidak stabil. Ku rasa keputusannya untuk pergi ada benarnya juga. Yah meskipun, aku juga tidak membenarkannya kalau dia ingin pergi selamanya dari hidupmu. Yang aku lihat, kalian masih saling mencintai. Gunakanlah waktu sekarang ini untuk berpikir dan menenagkan hati kalian."
Kyuhyun diam. Dia membenarkan ucapan Yesung.
Dan akankah metode itu berlaku dalam hubungannya? Akankah pikirannya tenang? Dan jujur, hati kecilnya sekarang bertanya. 'kemana Sungmin pergi? Apakah dia pergi bersama Eric?'
.
.
.
Sungmin memarkirkan mobilnya di halaman rumah asri yang sudah lama tak di kunjunginya. Dengan langkah bergetar dia mendekati pintu rumah tersebut. Dia memang selalu ingin berkunjung kemari, tapi bukan dengan keadaanya yang sekarang, dia ingin ke tempat itu dalam keadaan hati yang baik dan bahagia.
.
Setelah menekan bel rumah beberapa kali, dia bisa merasakan knop pintu sedikit berputar dan siap terbuka.
"Ommo! Siapa ini yang datang? Yeobooo…" seorang yeoja yang telah berkepala 5 namun masih terlihat sangat cantik membulatkan matanya tak percya kala pintu jati kokoh itu terbuka.
"Eomma…" Sungmin tak kuasa untuk menahan titik-titik air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya. Dengan cepat, dia menyambar tubuh langsing yeoja yang di panggilnya eomma tersebut kedalam pelukannya.
Hangat..
Itulah yang namja cantik itu rasakan. Sudah lama dia tak merasakan pelukan hangat sang eomma. Dia memang sangat jarang mengunjungi rumahnya di Ilsan.
"Apa kau libur chagii? Kau datang sendiri? Mana Kyuhyun?" Yeoja paruh baya itu mengelus punggung anaknya sayang dengan matanya yang bergelirya di belakang punggung Sungmin mencari sosok tampan yang selalu menemani purtanya kala berkunjung.
Sungmin makin menyusupkan kepalanya di bahu sang eomma. Hatinya sakit mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir yeoja yang telah melahirkan dan membesarkannya tersebut.
"Aku datang sendiri eomma. Aku merindukanmu."
Leeteuk, yeoja paruh baya yang merupakan eomma Sungmin itu perlahan melepaskan pelukan anak semata wayangnya. Tangannya terangkat untuk membelai surai hitam anaknya yang sedikit memanjang.
"Apa kau sedang ada masalah? Emm?" Benar apa kata pepatah, perasaan seorang ibu sangat peka. Dan itu terbukti. Leeteuk seolah bisa merasakan apa yang sedang di rasakan putra tersayangnya.
"Anio eomma. Aku hanya merindukan eomma. Kyuhyun sedang ada urusan ke luar. Makanya aku kemari." Bohongnya.
'Mianhae eomma..' sungguh. Sungmin tak ingin berbohong pada yeoja cantik yang kini menatapnya intens. Tapi dia juga tak ingin membuat sang eomma merasa sedih bila harus mengetahui kebenarannya. Dan dia sudah mengecewakan yeoja yang melahirkannya tersebut.
"Apakah hanya eommamu yang kau rindukan. Eoh?" Seorang namja paruh baya yang masih terlihat sangat tampan dengan kaos santainya menginterupsi kegiatan temu kangen ibu dan anak tersebut.
"Appaaa.. Bogoshipoo…" Sungmin beralih memeluk tubuh berisi sang appa dengan erat.
"Yya! Lee Sungmin! Ingat umur. Kau sudah dalam usia menikah, tapi kenapa masih merengek seperti balita. Eoh?"
"Appa!"
"Sudahlah, kalian itu setiap bertemu pasti bertengkar. Kau pasti cape chagi, istirahatlah. Eomma akan menyiapkan makanan untukmu."
Leeteuk mengelus surai hitam Sungmin, kemudian meninggalkan ayah dan anak yang masih berpelukan tersebut.
.
.
.
"Yeobo.. Ku mohon buka matamu." Lirih yeoja cantik yang kini terduduk lemas menatap wajah pias sang suami yang masih setia menutup matanya di atas ranjang rumah sakit. Kedua tangannya menggenggam erat tangan kiri sang suami yang terpasang jarum infuse.
"Engh.." Mendengar suara dan melihat pergerakan di jari sang suami, dia membetulkan posisi duduknya. Dengan was-was dia menunggu sang suami membuka mata seutuhnya.
"Chullie-ya, aku di mana?" Tanyanya serak.
"Kau di rumah sakit. Kemarin kau jatuh pingsan. Aku sangat takut Siwon-ah. hikz.. Kenapa.. Kenapa kau tak memberitahuku?"
Heechul yeoja yang sedari tadi meremas tangan suaminya kini telah sukses menumpahkan air mata di hadapan sang suami.
"Apa kau sudah mengetahuinya? Jeongmal mianhae Heechul-ah.." Siwon mengangkat tangannya dengan lemah berusaha untuk menghapus air mata yang meluncur deras di pipi istri tersayangnya.
"Aku.. Aku sebenarnya belum siap mengatakan semuanya padamu. Tapi.."
Heechul menggenggam tangan Siwon yang masih berada di pipinya. "Sudahlah. Sekarang aku sudah tahu semuanya. Dan kau harus segera melakukan operasi. Yeobo."
Siwon mengangguk. Dia memang akan memberitahukan tentang penyakitnya pada Heechul dan Eric beserta Kyuhyun. Tapi ternyata keadaan malah membuat Heechul tahu kebenaran itu bukan dari mulutnya sendiri.
.
.
Malam itu, Siwon di temukan pingsan di ruang kerjanya. Heechul dengan panic membawa Siwon ke rumah sakit.
"Heechul noona, Siwon hyung harus segera di operasi" ujar Zoumi dokter tampan yang merupakan adik sepupunya.
Heechul membulatkan mata tak mengerti. "Operasi? Apa maksudmu Zoumi-ya?"
"Jadi Siwon hyung belum memberitahumu?"
Heechul makin tak mengerti dengan pertanyaan Zoumi. Dengan kalut dia meminta Zoumi untuk menjelakan semuanya.
"Siwon hyung terkena kanker otak. Namun noona tak perlu khawatir, ini baru stadium awal. Siwon hyung harus segera di operasi supaya kami dapat mengangkat kanker tersebut."
"Tapi.. Apakah dia akan baik-baik saja Zoumi-ya?" Tanya Heechul dengan tangan bergetar. Dia tak tahu selama ini suaminya mengidap penyakit yang sangat serius.
"Tenang saja noona. Ini masih stadium awal. Tidak akan ada efek samping yang berat seperti kehilangan memorynya. Setelah tumornya di angkat, Siwon hyung akan kembali sehat seperti sebelumnya."
.
.
"Heechul-ah, apa yang kau pikirkan?" Siwon menatap istrinya khawatir. Pasalnya sejak tadi Heechul hanya melamun seperti tengah memikirkan sesuatu d sampingnya.
"Siwon-ah, kau harus segera di operasi." Heechul menggenggam tangan Siwon kuat.
"Arra. Tapi aku ingin anak-anak mengetahuinya. Dan aku ingin mereka berada di sini saat aku di operasi. Dan aku tak ingin melakukan operasi kalau salah satu dari mereka tak menginginkannya."
"Baiklah, aku akan menelepon mereka sekarang juga." Siwon tersenyum melihat semangat istrinya. Inilah yang membuat Siwon sangat menyayangi Heechul, meskipun hati Heechul tak bisa dimilikinya, namun Heechul sangat sayang dan peduli padanya.
.
.
Mendapat panggilan telepon dari Heechul, baik Kyuhyun ataupun Eric. Keduanya langsung melesat kerumah sakit.
Eric yang pertama datang dan mengetahui keadaan ayahnya langsung tertunduk sedih dan menyarankan sang ayah segera melakukan operasi.
Namun berbeda dengan namja tinggi yang baru saja datang di ruang inap rumah sakit tersebut. Dengan tatapan dinginnya, dia berkata.
"Aku kira eomma yang sakit. Makanya aku buru-buru datang kemari."
"Bukankah dia juga ayahmu Kyuhyun-ah?" Heechul mendekati Kyuhyun dan berusaha menghadapi sang putra setenang mungkin.
"Sampai kapanpun ayahku hanya satu. Cho Hangeng!"
"Kyuhyun! ayahmu sedang sakit, dia harus segera di operasi."
"Aku tak peduli!"
Brakk..
Kyuhyun keluar ruangan dengan sedikit membanting pintu rumah sakit itu kasar.
"Kau.." Heechul telah siap untuk mengejar Kyuhyun. Namun tangan Siwon dengan cepat mencegahnya.
"Biarkan dulu dia."
"Tapi.."
"Biar aku yang berbicara padanya." Eric menyentuh bahu ibu tirinya halus. Dan Heechul hanya bisa diam kemudian tersenyum kearah Eric.
"Baiklah. Seperti biasa, kau yang selalu bisa menenangkannya dari dulu Eric. Tolonglah, kali inipun bujuk dia"
"Ne eomma.."
.
.
"Kyuhyun! Tunggu!" Eric sedikit berlari menyusul langkah Kyuhyun yang sudah siap menuju mobilnya di parkiran gedung rumah sakit.
Kyuhyun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Eric.
"Untuk apa kau mengikutiku? Apa kau ingin aku mengasihani ayahmu yang sekarat? Cih.. Kalian sama saja. Bisanya merebut milik orang lain!"
Bukk..
Satu pukulan telak mengenai rahang Kyuhyun.
Kyuhyun sedikit tersungkur karena kerasnya pukulan tersebut, dengan sigap kedua tangan Eric mencengkram kerah baju Kyuhyun.
"Dengar Cho Kyuhyun! Kau boleh marah padaku masalah Sungmin. Tapi jangan bawa-bawa ayahku. Sudah cukup selama ini kau bersikap buruk padanya. Sekarang di saat dia membutuhkan dukungan dari keluarganya. Kau tak pantas berbuat seperti itu.! Oke! Aku akui aku salah, bahkan sangat salah terhadapmu dan juga Sungmin. Tapi tolong, jangan libatkan ayahku dalam kemarahanmu. Dia tak akan bersedia di operasi kalau kau tetap seperti ini."
"Hentikan omong kosongmu yang tak berguna itu! Aku muak!" Dengan nyalang Kyuhyun menatap Eric penuh kebencian.
Bukk…
Satu lagi pukulan Kyuhyun terima. Bahkan saat ini sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Cukup Cho Kyuhyun! Kau itu sedang diliputi emosi! Asal kau tahu. Sungmin tak pernah membalas hatiku. Yang ada dihatinya hanya kau. Tapi kau sangat bodoh untuk mengetahui itu!"
Setelah puas dengan apa yang ingin di katakannya, Eric bersiap untuk kembali ke rumah sakit, namun langkahnya kembali terhenti dan berbalik memandang Kyuhyun yang kini terduduk di lantai gedung parkir tersebut.
"Aku salah telah berpikir bisa mendapatkan Sungmin. karena hatinya hanya untukmu! Dan satu hal lagi, tolong ayahku kali ini." Ucapnya kemudian pergi meninggalkan Kyuhyun.
Kyuhyun menyeka bibirnya yang berdarah, apa yang harus dia lakukan sekarang?
.
.
.
Dua minggu setelah kejadian itu, Kyuhyun mendatangi rumah sakit dan berbicara dengan Siwon. Heechul sangat terharu dengan kedatangan anaknya yang meminta Siwon untuk di operasi.
Yah, Kyuhyun sadar. Selama ini Siwon yang selalu menemani ibunya kala ibunya rapuh. Dan Kyuhyun tahu, hati ibunya tetap untuk ayahnya seorang.
.
Dan kini, satu bulan berlalu…
Selama satu bulan ini Kyuhyun menyibukan dirinya dengan pekerjaan. Dia hampir tak pernah beranjak dari tempat kerjanya selama 24 jam penuh. Dia selalu menginap di kantor. Tak jarang dia mengabaikan perut kosongnya seperti saat ini. Yang ada di benaknya hanya kerja, kerja dan kerja. Karena hanya itulah yang bisa membuat perhatiannya teralihkan. Hanya pekerjaan lah yang bisa membuatnya sedikit melupakan semua masalah peliknya dengan Sungmin. Namja cantik yang masih berstatus kekasihnya, karena tak ada kata putus dari keduanya meskipun selama sebulan ini mereka tak pernah bertemu. Dan Kyuhyun, sesuai nasihat Yesung dia tak pernah mencari Sungmin. Meskipun tak dapat di pungkiri hati terdalamnya ingin sekali mengetahui keadaan namja yang selama ini telah mengunci hatinya hanya untuk dia.
"Apa kau akan selalu bekerja dengan perut kosong. tuan Cho?"
"Aahh Hyesungie hyung.."
Dan hanya Hyesung yang selalu menemani dan mengingatkannya selama sebulan ini. Namja manis itu berjalan mendekati meja kerja Kyuhyun.
Sreett…
Dengan gerakan cepat, dia telah berhasil menarik Kyuhyun berdiri dari singgasananya.
"Ayo kita makan siang dulu."
"Aku tak lapar hyung." Kyuhyun berusaha melepaskan cengkraman Hyesung di pergelangannya. Namun gagal, namja manis itu ternyata memiliki tenaga yang tak kalah kuat darinya.
Dan akhirnya, Kyuhyun hanya bisa selalu pasrah kalau Hyesung sudah memaksanya seperti itu.
.
.
"Makanlah Kyunnie, kau tahu? Kau seperti mayat hidup sekarang. Tubuhmu kurus sekali. Aaaaa.." Hyesung menyodorkan garpu yang telah penuh oleh spaghetti dan memaksa Kyuhyun untuk membuka mulutnya.
Dengan malas Kyuhyun membuka sedikit mulutnya dan menerima suapan dari Hyesung.
"Anak baik.." Hyesung berusaha bercanda dan mengelus rambut ikal Kyuhyun yang terlihat acak-acakan.
"Kau pikir aku anak TK. Eoh?"
"Kau memang seperti anak TK. Kyunnie."
Dengan terus memaksa, Hyesung berusaha membuat Kyuhyun menghabiskan makanannya. Kalau tidak seperti itu, Kyuhyun tak akan pernah memasukan makanan itu ke dalam mulutnya.
.
Lama mereka terdiam. Kini di hadapan mereka hanya ada 2 cangkir coffe panas.
"Kyu, apa kau tak berniat mencari Sungmin?" Hyesung membuka percakapan. Dia tahu apa yang sedang di alami Kyuhyun. Bohong kalau dia meyakini Kyuhyun baik-baik saja. Dia tahu Kyuhyun tersiksa.
"Aku tak ingin kalian mengalami hal yang sama denganku" ucapnya kemudian.
"Hyung.." Kyuhyun memandang Hyesung. Raut muka di hadapannya berubah sendu. Kyuhyun mengerti apa yang Hyesung maksud barusan.
"Kau tahu Kyu? Karena kelakuan bodohku dulu. Sampai saat ini aku hidup dalam penyesalan. Setiap melihatnya aku selalu merasa kotor, aku selalu merasa jijik pada diriku sendiri, ingin rasanya aku menangis bersujud di hadapannya. Tapi bukan itu yang harus ku lakukan."
"Apa Eric hyung belum memaafkanmu?" Kyuhyun kini menggenggam tangan halus Hyesung.
"Sepertinya tak akan pernah. Dan aku juga sudah pasrah kalau dia tak memaafkanku. Karena aku memang tak pantas untuk di maafkan." Hyesung menundukan kepala berusaha sekuat mungkin agar air mata tak jatuh dari pelupuk matanya.
"Aku yakin dia akan memaafkanmu hyung.." Kyuhyun mengelus punggung Hyesung yang sedikit bergetar.
Hyesung menegakan tubuhnya, dan menghapus kasar air mata yang sudah terlanjur jatuh. Dia menatap Kyuhyun dengan sedikit menyunggingkan senyum mengejek.
"Kau bilang begitu. Apa kau juga seperti itu? Apa kau juga akan memaafkan Sungmin?"
"Eh? Itu beda lagi hyung."
"Beda apanya Kyuhyun-ah? Kau tahu? Ini sangat lucu memang, tapi sepertinya kasus kita sama. Aku berselingkuh dari Eric. Dan kau di selingkuhi Sungmin."
Mendengar ucapan terakhir Hyesung, kedua obsidian itu menatap Hyesung kesal.
"Baiklah.. Baiklah.. Mianhae Kyunnie" Hyesung mengambil nafas dalam, dia kembali menatap Kyuhyun.
"Tapi Kyu, aku rasa Sungmin tak pernah berselingkuh. Bukankah kau bilang Eric mengatakan padamu kalau Sungmin tak pernah menerima hatinya?"
"Bisa saja itu akal-akalan Eric untuk menolong ayahnya."
"Bukannya aku ingin membela Eric. Tapi aku yakin dia serius Kyu. Dan untuk Sungmin sendiri, meskipun aku baru beberapa kali bertemu dengannya, aku lihat Sungmin itu baik, dan aku bisa melihat dia benar-benar mencintaimu. Dia tak mungkin mengkhianatimu."
Kyuhyun menyenderkan punggungnya pada kursi café. "Kau berpikir seperti itu hyung?"
"Jangan membuat keputusan yang akan kau sesali. Sudah cukup aku yang merasakannya Kyu. "
Mereka kembali diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing, Kyuhyun kembali mengingat namja cantiknya yang tak pernah terlihat selama sebulan ini. Apakah masih ada kata maaf untuk Sungmin?
.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain…
Hooeeekkk…
Sungmin kembali membasuh mulutnya. Tak ada makanan yang dia muntahkan, tapi perutnya terasa sakit, mual dan pusing di kepalanya selalu menyerangnya beberapa hari terakhir.
Hoeeeekk..
Dia kembali berusaha memuntahkan isi perutnya, tapi tak ada. Hanya cairan liurnya yang terus menerus dia ludahkan.
Tangan mungilnya beralih mengelus perut ratanya.
"Jangan katakan… "
Tidak! Ini bukan waktu yang tepat!
.
.
.
_T.B.C_
.
.
.
Halaaahh… #TendangTBC
TBC mengganggu ya?
sayyah rasa Chapter ini paling GAJE bgt.. coz sayyah nulisnya di tengah-tengah idung yang meler dan tisyu yang bertebaran di mana-mana(Flu). #Abaikan.
*Siapa Hyesung? Siapa Hyesung? okke banyak yang bertanya siapa dia. noh sayyah udah kasih tahu d atas kan siapa dia? #Senyum
*Pemirsaaaaaahhh… Jeongmal mianhae, sayyah gx bisa tulis siapa z yang udah review. di karenakan ffn sekarang sering error. yang udah review kadang sering gx masuk. jadi sayyah takut ada yg gx kesebut siapa z yang udah review. sering loh kasusu seperti itu. dan sayyah benar2 minta maaf.
So, untuk menghindari hal itu kembali terjadi. begini lebih baik.
Pokoknya, buat semua yang udah review di Chapter kemarin jeongmal gomawooooooo…
saranghaeeeeeeeeeeeeeeeeeee… #KissHugSatu2
dan jangan lupa untuk Review lagi di chapter ini ya. biar sayyah semangat lanjutnya.. ^^
*Mian For Typo. Karena sayyah Miss Typo. Kkkkk,,,
Akhir kata
Kamsahamnidaaaaaa….. ^^
*Lambai-Lambai Bareng Kyumin
_ Princess Kyumin137 _
