Disclaimer: Tsukiuta by Fujiwara dan jiku

Tidak ada keuntungan yang diambil dari pembuatan fanfiksi ini. Semuanya murni untuk senang-senang saja.

Notes:

- Mafia AU

- Warning for slight implication for human trafficking and prostitution.

- Deskripsi tentang kekerasan dan darah.

DLDR as usual.

Chapter Text


XI

「Danse Macabre」

Mafia AU

Notes:

Famiglia: Keluarga mafia| Don: kepala pimpinan, ketua mafia | Signore: tuan

.

Enjoy Reading


Peluru meluncur tepat mengenai organ vital. Tiga tubuh yang tadinya menghadang mereka jatuh bergelimpangan dengan kepala bersimbah darah sementara mereka terus berlari. Rui di paling depan memimpin jalan, Yoru di belakangnya, melempar magazin kosong dengan sembarang dan memasukkan yang baru. Mengikuti mereka Kakeru dan Haru, kemudian Hajime dan Aoi serta di paling belakang Koi dan Arata.

"Kalian semua, masih baik-baik saja'kan?"

"Ya.. Sebaik yang kami bisa!" Kakeru menjawab pertanyaan Yoru sambil berlari secepat yang ia bisa untuk mengikuti Yoru dan Rui, yang kakinya di luar dugaan cukup cepat.

"Seberapa jauh lagi sampai kita tiba di tempat yang lain disekap?!"

"Uun.. Sebentar lagi."

"Sebentar lagi itu kapan?!"

"Diam saja dan lari!" Hajime menegur. "Kalau kau bisa bicara lebih baik ikuti Pluvia."

"Pluvia, kalian sekarang dimana?"

Suara Albion memanggil diikuti letusan senapan. Rui menjawab sambil melirik sekeliling, sedikit mengeraskan suaranya saat Yoru berlari sedikit lebih cepat ke depan Rui dan kembali menembak musuh.

"Baru di ke arah sayap kanan, kami akan turun lewat tangga di daerah belakang. Albion tahu tadi kalian lewat arah mana?"

"Nn.. Kalau tidak salah dari arah sebaliknya dari kalian—Oh, maaf sebentar ya." Suara Shun terputus digantikan suara tembakan beruntun dan peluru menghantam benda metal. Jeda sejenak, lalu suara benda tumpul beradu, erang sakit, diikuti oleh bunyi pistol lagi diikuti suara Shun. Nada suaranya bermain-main namun ada membuat tengkuk yang mendengarnya terasa dingin. "Tolong diam sebentar ya? Pluvia sedang bicara."

"Pluvia, ada berapa orang lagi yang disekap?" Haru memutuskan untuk bertanya.

"Aku tidak tahu persisnya berapa, tapi sepertinya cukup banyak? Waktu aku mengecek mereka masih menyimpan beberapa di ruangan yang lebih dalam.."

"Haah? Orang-orang ini busuk juga ya." You berkomentar. "Ooi, kalian baik-baik saja hanya berdua, Pluvia, Nox? Kalau banyak tidak mungkin mudah menolong mereka'kan? Pasti ada yang menjaga di sana."

"Nero bilang boleh dibunuh saja."

"...Maa, tetap saja, bisa mengatasi semua?"

"Un," Rui berlari lebih dulu dengan Gravi, melewati Yoru yang melambatkan langkahnya untuk menembaki musuh yang di saat terakhir berhasil menghindar. Yoru mendecak dan kembali membuang magazin kosong, berhenti sejenak untuk memastikan dia membereskan orang itu lebih dulu sebelum mengejar yang lain. Rui sendiri memastikan dia melepaskan pengaman pistol.

"Sol, kau ini lupa ada kami ya?" Haru tertawa pelan. "Kami memang tidak secepat kalian kalau urusan membereskan musuh, tapi begini-begini kami juga masih satu famiglia dengan kalian loh?"

"Ver benar. Jangan remehkan kami."

"B-bukannya mau meremehkan, Initium!" Sol menjawab tergagap. "Tapi anu… Aah, bantu aku menjelaskan, dong!"

"Aaah…" Iku ikut menggumam. "Aku mengerti yang ingin Sol bilang tapi aku juga bingung bagaimana menjelaskannya! Maaf!"

"P-pokoknya bukan aku mau meremehkan Gravi tapi—"

"Sol, tenang dulu. Initium, kedengaran?"

Hajime menggumam. "Hm. Jelaskan padaku kalau begitu."

"Huum… Mudahnya sih… Harga diri ya."

"Ha?"

Suara Shun terdengar kalem walau langkah kaki cepat juga terdengar. "Bagian seperti ini keahlian kami. Procella dibentuk memang untuk ini, jadi kalau sampai Gravi harus membantu ketika Nero mempercayakan kami untuk membantu kalian, rasanya sedikit mengesalkan."

"...Alasan konyol apa itu?" Hajime memprotes. "Kita satu famiglia."

"Un, tapi kami juga punya harga diri sebagai grup asasinasi famiglia kita, Initium." Albion tertawa renyah. "Maa, tapi benar. Untuk hal ini mau tidak mau kami akan minta bantuan kalian nanti. Gravi, aku titip Nox dan Pluvia ya. Aku masih belum selesai di sini."

"Aku dan yang lain akan secepatnya menyusul begitu kami selesai!"

"Roger. Kalian cepatlah menyusul."

Empat suara terdengar bersamaan. "Si, Signore!"

.


.

Setelah dibawa berkelak-kelok melewati tangga dan lorong, Rui akhirnya berhenti berlari. Ia mengisyaratkan Gravi dan Yoru untuk bersembunyi, kemudian menunjuk lorong yang penuh oleh musuh yang berjaga.

"Cerasus, Ver. Mohon bantuannya."

Arata dan Haru mengangguk. Keduanya memasang suppressor pada senjata mereka, lalu bersamaan dengan Yoru, ketiganya menarik pelatuk.

Dua tembakan dengan telak mengenai dua penjaga dan merobohkan mereka seketika. Haru mendecih ketika tembakannya hanya melukai pundak salah satunya, namun targetnya kemudian segera dirobohkan oleh Yoru yang kembali menembak. Arata di sisi lain mengincar kaki atau tangan mereka, melumpuhkan mereka sejenak sebelum dihabisi oleh Yoru. Ketika jumlah orang semakin sedikit, Yoru dan Rui segera berlari mendekati pintu, Yoru tanpa segan menghabisi musuh lain yang menghadang sementara Rui mulai mengutak-atik kunci pintu yang dikunci.

Tidak butuh waktu lama sampai pintu terbuka. Gravi bersama Yoru dan Rui menemukan gadis-gadis muda dalam keadaan terikat di dalam. Haru, Aoi, dan Yoru mengecek keadaan mereka sementara yang lain berjaga.

"Albion? Yang lain? Kami sudah menemukan tahanannya. Nox dan Cerasus juga sudah menghabisi yang lain. Di sana bagaimana?"

"Ooh, kerja bagus! Maaf kami lama, mereka memanggil bantuan."

"Tsk, tidak ada habisnya." You mendecak sebal.

"Huh? Tunggu, Athletic, Sol, coba lihat mereka—"

"Eh—w-wah!"

"Apa-apaan—" suara You terdengar lebih mendesak. "Albion! Oi, kau dimana?"

"Hum? Masih di tengah jalan. Maaf ya? Tadi aku terhalang beberapa orang. Ada apa?"

"..Ah!"

Pekik terkejut Rui membuat yang lain menoleh. Rui setengah berlutut, mengetik secepat yang ia bisa dalam tabletnya.

"Pluvia, kenapa?"

"Albion, dimana?" Suara Rui terdengar sama mendesak seperti You. "Musuh mendekat ke arahmu!"

"...ah. Pantas saja.. Mungkin itu kenapa aku mendengar langkah kaki kemari."

"Bodoh, lalu kenapa kau diam saja?!" Hajime menjawab sebal. "Segera pergi!"

"...Initium… Kau lupa ya aku siapa?"

"Ini bukan masalah kau siapa! Kau sendiri sementara mereka berbanyak orang!"

"Tsk, tsk, baiklah, karena Initium yang sudah memin—aaah.. Terlambat."

"Albion?!"

"...Oi, Albion!?"

.


.

Shun menatap sekeliling, dalam koridor, dari bagian dan depan musuh-musuh sudah mengelilinginya. Shun menghela napas kecil, berusaha mengingat-ingat berapa magazin yang sudah ia gunakan dan berapa peluru yang tersisa.

"Wah, wah… Ini sepertinya buruk untukku ya."

Moncong pistol terarah padanya. Shun menghela napas kecil, menjatuhkan pistolnya dan meraih ke dalam kantung tersembunyi dalam jas dan menarik belati. Dari alat komunikasinya rekan-rekannya masih sibuk memanggil.

"Oi, Albion?! Bodoh, cepat lari!"

"T-Tunggu sebentar aku akan mencarikan rute keluar—"

"Uwa, kenapa jadi ke sana semua—"

"Mou, kalian. Daripada ribut begitu lebih baik yang di bawah cepat menyusul kemari?" Shun mengucap santai, tangannya memainkan belati dengan lincah. "Aku beri sepuluh menit."

"Haaa?"

"Oi, yang benar saja—"

"Habis yang di sana sudah berkurang'kan?" Shun menjawab santai dan tersenyum. "Ayo, ayo, kemari."

"...argh, caporegime kita ini!" You mendesis sebal. Helaan napas Kai juga kemudian terdengar.

"Aah, baiklah, baiklah. Athletic, Sol, ayo. Nox dan Pluvia fokus membantu Gravi."

"B-Baiklah…"

"Ingat ya, sepuluh menit." Shun tersenyum kecil. Matanya berkilat berbahaya. "Sementara itu ayo bermain—!"

.


.

Kai menghela napas panjang sambil menyayat leher orang yang ia tahan. Ia kemudian melepaskan orang itu, menusuknya sekali di jantung, sebelum kembali berpindah menyerang yang lain. Gerakannya ringkas, tidak sedikitpun ada yang bergerak percuma dalam menyerang. Begitu pun Iku dan You, setiap tembakan dan tikaman langsung mengarah pada titik vital, menjatuhkan musuh dengan mudah. Ketiga orang itu malah terlihat lebih sedang berdansa daripada membunuhi musuh mereka.

Tapi Kai juga tahu bila daripada mereka, ada seseorang yang lebih membuat pembantaian ini tampak seperti dansa yang indah. Sesosok pucat yang sudah sering dia kejar-kejar karena sangat suka kabur dari pekerjaan dan sekalinya kembali dari pekerjaan selalu membuat pakaiannya kotor luar biasa, tapi setidaknya dengan hasil pekerjaan yang begitu rapi. Kadang-kadang.

Iku menghela napas ketika ia selesai menusuk satu orang lagi dan targetnya jatuh berdebam ke lantai, lemas tak bernyawa. Ia menoleh pada You dan Kai yang juga mengibaskan belati mereka dan mengganti magazin yang sudah kosong.

"Sudah semua'kan ya?"

"Yep." Kai mengangguk. "Sekarang ayo susul Albion?"

You mengangguk dan menghela napas. "Ugh, benar-benar deh caporegime yang satu itu…"

"Maa, maa." Kai terkekeh. "Tapi setidaknya dia bekerja lho? Tumben kan."

"...Iya sih.."

"Ya sudahlah, ayo kita hampiri dia dulu." Kai menghela napas. "...Haa.. Aku tidak ingin mengingat repotnya mencuci pakaian kita nanti."

"...tenang saja. Nero sudah bilang kita boleh langsung membuangnya kalau ternyata tidak bisa dibersihkan kok."

"Tentu saja ya." Iku terkekeh. "Um, Rui, Albion dimana? Kami baru saja selesai."

"Kalian lambat." Rui memprotes. "...Cepatlah.. Albion bilang sepuluh menit.. Ini sudah tujuh menit.."

"EH?"

"Un. Makanya cepatlah."

"W-Wah, Mare, Sol! Kita cuma punya waktu tiga menit lagi!"

"Hah?! Cih, ya sudahlah, ayo pergi kalau begitu!"

"Iya. Rui, tolong arahkan kami!"

"Roger."

Ketiganya segera berlari begitu Rui mulai menyampaikan arahan, meninggalkan ruangan penuh tubuh tak bernyawa bergelimpangan dan lantai bersimbah darah.

.


.

Shun ingat dulu orang tuanya pernah mengajarinya berdansa. Saat itu Shun kecil tidak sengaja memergoki orang tuanya bergandengan tangan, bergerak berputar mengikuti irama dari piringan hitam kuno. Keduanya bergerak seirama tanpa kehilangan tempo, dan dansa mereka diakhiri dengan ayahnya menopang tubuh sang ibu sementara sang ibu setengah melengkungkan punggungnya ke belakang. Keduanya saling tatap dengan mesra, penuh rasa sayang.

Ketika keduanya melihat Shun, mereka mengajaknya berdansa. Langkah Shun kecil masihlah kaku. Ia tidak fasih mengikuti langkah-langkah dansanya, mungkin berkali-kali menginjak kaki sang ayah. Tapi orang tuanya hanya tertawa dan memaklumi, mengajaknya berputar dan melangkahkan kaki sesuai irama, memandunya berdansa hingga akhir. Ketika mereka selesai berdansa, Shun tahu dia menikmati berdansa dan tak akan keberatan melakukannya lagi.

Shun masih sering berdansa walaupun sekarang tidak lagi bersama pasangan. Kadang-kadang Shun berdansa sendirian, diiringi irama piano yang dimainkan Rui. Baginya dansa sudah menjadi sebuah kebiasaan alih-alih hobi. Sekarang pun begitu.

Belati menggores leher dan menikam. Shun berputar di tempat, menarik belati yang tertanam dalam dada dan kembali menggores leher yang lain. Darah menyembur dari sayatan dalam, tubuh yang sudah lemas roboh dengan mudah ketika kaki panjang menendang abdomen. Shun berkelit dan meliukkan tubuh, sesekali melemparkan belati di tangannya pada target lain, kembali menendang sebelum menikam sekali lagi dengan belati baru yang dia ambil dari sela lengan kemeja.

Satu demi satu tubuh berjatuhan meregang nyawa. Lantai beton kotor karena darah menggenang, cipratannya mewarnai sepatu dan kaki celana Shun dengan warna merah yang mulai menghitam. Shun tertawa ketika musuhnya semakin sedikit, membuat beberapa orang semakin kewalahan. Ia menjilat bibirnya ketika tembakan yang mereka lancarkan semakin mudah dihindari, akurasi berkurang karena tangan yang gemetar karena rasa takut.

Shun memutar belatinya sebelum menariknya dari tubuh musuh. Ia mendorong tubuh yang sudah tak bernyawa itu jatuh sebelum berputar dan melihat satu orang terakhir. Shun tertawa kembali ketika orang itu kembali menembak, untuk menemukan Berettanya kehabisan peluru. Ia berjalan semakin mundur, sebelum lari ketakutan. Shun mendecak sebelum melempar belatinya tepat mengenai paha orang itu, membuat langkahnya terhenti dan terjatuh sambil mengerang kesakitan.

Ia menunduk mengambil salah satu pistol yang masih berpeluru. Kecipak genangan darah terdengar setiap ia melangkah, sampai Shun berhenti di depan orang itu. Ia menginjak belati yang menancap, mendorongnya lebih dalam menembus paha dan membidik kepala si pemuda.

"A-aa… M-monster… Kau monster!"

"Non, non. Bukan monster, anak manis." Shun tersenyum kecil, manis bak seorang malaikat. "...Il mio nome è Albion, Shun Shimotsuki."

'Namaku Albion, Shun Shimotsuki.'

"S-Shimotsuki?!" Orang di bawahnya semakin ketakutan, seakan nama itu membawa mimpi buruk. "A-A— l-lepaskan! Ampuni aku!"

Shun menyeringai ketika ia menarik pelatuk.

"Terlambat."

.


.

Kai, You, dan Iku datang menemukan koridor kotor berdebu terciprati darah di mana-mana. Tubuh berjas hitam bergelimpangan, senjata bergeletakan di tengah genangan darah. Di tengah-tengahnya sosok pucat berjas putih dengan noda darah yang di beberapa tempat mulai menghitam sudah menunggu.

"Kalian terlambat~"

"..Ahaha, maaf." Kai meringis saat melihat tubuh yang bergeletakan. "...Uuh… Kau ini tidak bisa rapi kalau sudah bekerja sendiri ya."

"...Memangnya penting?" Shun tersenyum kecil. "Yang penting semuanya dibereskan, benar?"

"...Benar sih."

Shun menepukkan tangannya dan tersenyum. "Nah, lalu di tempat kalian bagaimana? Kalian sudah berhasil singkirkan semua?"

"Ya. Ada beberapa yang berhasil melarikan diri sih, tapi kalau semuanya sudah terbunuh aku ragu mereka akan selamat. Tadi Pluvia bilang Solids dan Soara sudah dikirim untuk membereskan yang kabur. Quell dan Growth akan kemari membantu mengamankan tawanan."

"Baguslah kalau begitu." Shun terkikik. "Fides dan Ala tidak akan melepaskan mereka mau mereka kabur kemanapun."

"Aku heran kadang bagaimana mereka bisa menghadapi tingkahmu tiap hari." Kai menggelengkan kepala. "Oh ya sudahlah. Pluvia? Nox? Initium? Kalian dengar?"

"Dengar, dengar." Suara Arata terdengar. "Sudah beres, Mare?"

"Ya, sudah beres. Albion… Benar-benar membereskan mereka semua." Kai tertawa pahit. "Apa ada yang harus kami bereskan lagi?"

"Nn.. Tidak ada. Kita tinggal menunggu yang lain membantu membawa orang-orang ini dan kembali saja. Olivastro dan Nero sudah pergi bersama don ke pertemuan para don. Katanya baru saja menemukan bukti kuat kalau famiglia ini membuat rencana untuk menghancurkan famiglia kita."

Koi mendengus sebal. "Hmph, mereka meremehkan kita."

"Iya… Tapi ada bagusnya juga. Dengan mereka meremehkan kita, kita bisa membuat mereka terkejut." Suara Haru terdengar lagi.

"Mm-hm."

"Kalian kalau sudah selesai cepatlah susul kami." Hajime terdengar menggerutu. "Ada banyak yang harus diurus, semakin banyak yang membantu, kita akan cepat selesai. Aku yakin kalian berempat sudah berlumuran darah."

Keempat anggota Procellarum itu saling lirik. Keempatnya terkekeh saat mendapati bila benar yang diucapkan Hajime. Jas putih mereka terkena cipratan darah, bahkan hingga ke topeng mereka.

"Ah, maaf, maaf." Kai tertawa lagi. "Baiklah, kami akan segera ke sana. Tunggu dulu ya."

"Cepatlah. Jangan buat kami menunggu lebih lama."

"Iya, iya."

Hubungan komunikasi dimatikan. Kai menoleh pada Shun. "Jadi bagaimana, caporegime? Ada yang harus kita bereskan lagi atau langsung menyusul ke tempat Gravi?"

"...Hmm.. Tidak ada." Shun mengangguk. "Kita bisa segera ke sana."

"Baiklah. Procella, waktunya kembali kalau begitu."

"Kerja bagus~" Shun tertawa. "Tapi lain kali harus lebih cepat. Sekarang ayo kita kembali dulu. Ayo semuanya, ke tempat keluarga kita."

"Si, Signore!"

Sementara Kai, You dan Iku mulai beranjak menuju arah yang diucapkan Rui. Shun berhenti sejenak. Ia menatap ke belakangnya, ke arah genangan darah dan mayat yang bergelimpangan. Shun terkekeh pelan, kemudian berbalik sebelum menyusul yang lain.

.

.

.

"Addio. Buonanotte e sogni d'oro."

Goodbye. Goodnight and sweet dreams.