Naruto belongs to Masashi Kishimoto

...

Thick Bundle

by daffodila

Eleven: Alteration

...

Masih hangat dalam ingatan Sasuke bagaimana orangtua Sakura terus membeberkan betapa tak acuhnya gadis itu ketika sudah menginjakkan kaki ke dalam rumah. Barang jatuh yang diabaikan, keran air yang dibiarkan menyala meski tampungannya sudah penuh, lupa mengangkat jemuran hingga diingatkan oleh tetangga, menaruh sepatu di mana saja, dan banyak lagi ketidakpekaan lainnya. Mereka mengatakannya dengan ringan sebagai objek candaan, seolah-oleh tidak adanya eksistensi Sakura. Padahal, gadis itu duduk berseberangan dengan mereka, tepat di samping Sasuke. Kepalanya tertunduk dalam. Penasaran memaksa Sasuke untuk melirik, dan warna merahlah yang didapatinya ketika wajah Sakura terekam penglihatannya. Entah karena malu atau menahan marah.

Sasuke terkejut dengan semua fakta yang diutarakan orangtua Sakura. Pasalnya, selama dalam misi dan bertugas di rumah sakit, Sakura adalah gadis yang telaten. Dia bisa menilai gadis itu termasuk ke dalam kategori gadis rajin—calon istri yang baik. Namun, ternyata sikapnya berbeda 180 derajat ketika sudah berada di rumah. Entahlah, mungkin karena dia lelah bersikap telaten di luar, sehingga sifat cerobohnya dia lampiaskan ketika pulang.

Sampai akhirnya Sasuke dan Sakura—juga Sarada—kembali dari pengembaraan bersama, Sasuke menebak-nebak manakah sikap sang istri yang akan muncul. Selama berkelana, Sakura memang telaten. Tapi, dia belum tahu apakah akan sama jika sudah menginjak rumah. Bisa saja sifat istrinya pada masa gadis masih menempel hingga sekarang. Dan kali ini, mereka sudah punya tempat tinggal sendiri. Memang awalnya wanita itu ceroboh, tak acuh akan beberapa hal, dan bersikap persis seperti apa yang orangtuanya katakan, sampai-sampai Sasuke—yang dasarnya memang disiplin dan rapi—sering melepaskan teguran.

Namun, seiring berjalannya waktu, dia menyadari adanya beberapa perubahan. Telapak tangan Sakura yang setiap kali dia cium terasa lembut, lama-kelamaan mulai terasa kasar. Juga yang tadinya putih—sewarna dengan sekujur tubuhnya—mulai menggelap dan berbeda warna sendiri. Tubuh yang biasanya selalu harum, menjadi tercampur bebauan hambar dari air susu atau aroma lain yang sejujurnya membuat hidung mengernyit. Tak jarang Sakura mengeluhkan sakit punggung atau pinggang, dan hal tersebut membuat kegiatan perpaduan kasih di antara mereka tidak seintens sebelumnya.

Bagi Sasuke, perubahan yang sekilas terlihat mengarah pada hal buruk itu bukanlah masalah. Dia mengerti tangan Sakura menjadi kasar dan menggelap karena terlalu sering berinteraksi dengan sabun atau detergen saat mencuci. Harum yang mengabur disebabkan oleh telatennya Sakura dalam mengurus Sarada, sampai-sampai aroma air susu, bekas Sarada buang air, peluh yang menumpuk, dan lainnya menempel pada tubuhnya. Dia mengerti punggung atau pinggang Sakura sakit karena harus mencuci seluruh pakaian yang digunakan ketiganya (meski untuk yang satu ini dia membutuhkan waktu cukup lama sampai mengerti, karena efek yang timbul adalah hal yang paling membuatnya jengkel, lantaran harus menahan hasrat).

Kemudian Sasuke sadari, bahwa yang berubah di antara mereka bukanlah dirinya saja. Bukan hanya Sasuke yang berubah dari lelaki berdarah dingin yang sanggup melakukan apa saja tanpa pandang bulu, menjadi seseorang yang lebih manusiawi. Sakura pun berubah. Yang tadinya selalu bertransformasi menjadi wanita tak acuh dan ceroboh setiap kali menginjakkan kaki di rumah, kini menjadi wanita yang telaten di mana pun posisinya. Dia berubah untuk Sakura, dan Sakura berubah untuk dirinya. Kadang-kadang bibirnya tertekuk tipis setiap kali mengingat bahwa pernikahan mereka membawa masing-masing pada skala lebih baik.

Sampai akhirnya telapak tangan Sakura terasa semakin kasar dan gelap, penampilannya pun sekacau aroma tubuhnya, punggung atau pinggang yang sakit sampai dia meringis setiap kali melangkah, Sasuke tahu bahwa ini adalah saatnya untuk membantu. Bukan berarti dia tak mau membantu sebelumnya, dia beberapa kali menawarkan bantuan namun selalu ditolak secara halus. Dia tak pernah memaksakan kehendak soal ini karena akan membawa istrinya pada pribadi yang jauh lebih baik.

Namun, ini waktunya dia memaksa. Sakura hampir mencapai batasnya dan Sasuke yang akan menggagalkan hal tersebut. Dikuranginya intensitas telapak tangan Sakura menyentuh sabun atau detergen dengan cara dia yang mengambil alih. Dia pun mengurus Sarada sebisanya, asalkan waktu yang Sakura siapkan untuk ini berkurang. Dan tentu saja dia membantu Sakura mencuci pakaian dan menjemurnya. Yang satu ini dia lakukan dengan penuh semangat, karena hal yang paling, paliiiing membuatnya jengkel pasti akan ikut menghilang. Kemudian, intensitas percintaan mereka akan kembali pada sedia kala, dan ... Sasuke melepas seringai karenanya.

...

a/n:

Belum bisa balas review karena masih hemat kuota ;_; kalo dibalas di sini ntar takutnya balasan review malah melebihi konten cerita. Heheu. Tapi saya baca semua, kok. Makasiiiih banget atas apresiasinya :"")

Btw di sini ada readers fic MC saya—yang mana pun itu—nggak? Kalo ada, maaf belum bisa lanjut. Nulis MC itu banyak tekanan. Serius. Apalagi Trust, ya ampun itu berat pula temanya. Tapi bakal lanjut kok. Ntah kapan sih hehe. Mungkin ada yang mau saya discontinue, tapi BUKAN Trust. Semoga mengerti ya :"")

Makasih udah baca sampai sini! :)

daffodila.