HEALER

(^_^)

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

And Other

.

ChanBaek (GS)

Romance


Happy Reading :)


"Cha.. Chanie" dengan tangan bergetar Minseok mencoba memegang pundak Chanyeol.

Jongdae dan Tao hanya berdiri mematung di depan pintu, mereka pun tidak tau apa yang harus mereka lakukan saat ini.

Chanyeol merasakan seluruh tulangnya tengah luruh, bahkan laki-laki yang tengah bersimpuh dengan pandangan kosong dan air mata yang tak hentinya menetes dari mata lebarnya sedikitpun tak bisa membuka mulutnya untuk sekedar mengucapkan satu kata.

"Chanyeol.." Minseok hanya bisa menangis dan memanggil nama adiknya lirih.

Chanyeol memejamkan matanya berusaha untuk mengumpulkan kembali kekuatannya.

"temui dia.. mungkin waktu kita tidak banyak lagi Chan" lagi dan lagi Chanyeol hanya bisa memejamkan matanya seiringan dengan air matanya yang semakin deras.

Chanyeol menarik nafas dalam untuk kemudian laki-laki itu bangkit mencoba berdiri meskipun badannya terasa sangat lemas saat ini.

Chanyeol memandang nanar wajah Hyejin dan perlahan kakinya melangkah mendekati tubuh ringkih yang terbaring lemah itu.

Cukup lama laki-laki tinggi itu terdiam, hanya menatap gadis yang begitu dia cintai dulu tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya.

"hh..hay" Chanyeol mencoba tersenyum namun air matanya semakin deras menetes. "kenapa kau kurus sekali? Hum?"

Minseok berlari keluar ruangan dengan satu tangan menutup mulutnya, dia tidak kuat melihat semuanya.

"lihat.. pipi bakpaoku bahkan hilang sekarang" Chanyeol mencoba terus berbicara meskipun dia tau bahwa gadis di depannya tidak akan menjawab semua celotehannya.

"merindukanku?" Chanyeol kembali menutup matanya dengan punggung tangannya, dia ingin terus berbicara pada gadisnya itu selagi masih ada kesempatan, itu yang ada di pikirannya. Namun setiap dia membuka mulutnya sesak di dadanya semakin menyiksa, air matanya semakin gencar berlomba-lomba untuk keluar.

"hey.. kau mendiamkanku? Seharusnya aku yang marah.. kenapa kau begitu lama meninggalkanku? Hum? Hiks hiks.."

Tao yang menyaksikan semuanya hanya bisa menangis di pelukan Jongdae sahabatnya. Mereka semua adalah saksi bagaimana penderitaan Chanyeol selama tujuh tahun.

"Kim Hyejin.. hayolah jangan merajuk seperti ini... kau sudah 27 tahun bukan?" Chanyeol masih setia menggenggam tangan Hyejin, tangan yang selama tujuh tahun tidak ia genggam dan tangan yang selalu dia rindukan kehangatannya.

"Mianhae.. Mianhae hiks, seharusnya aku berusaha lebih keras untuk mencarimu hiks" Chanyeol mengecupi punggung tangan Hyejin, hatinya teriris melihat betapa pucatnya kulit itu, betapa kurusnya tubuh gadis yang terbaring di hadapannya itu.

...

Baekhyun sedikit tersentak ketika dirasakannya ada tangan yang melingkar di pinggang rampingnya.

"Oppa sudah pulang?"

"tetaplah seperti ini B." Baekhyun mengurungkan niatnya untuk membalikkan badan dan memilih untuk mengusap lembut tangan Chanyeol yang ada di perutnya.

Cukup lama keduanya terdiam dalam posisi seperti itu, hingga akhirnya Chanyeol melepas pelukannya dan membawa tubuh Baekhyun untuk berbalik menghadapnya.

Keduanya saling pandang dengan tatapan yang berbeda. Jika Baekhyun menatap Chanyeol dengan penuh tanda tanya, maka Chanyeol menatap lekat pada istrinya itu dengan sebuah tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.

"Ada apa oppa?"

"Aniya.. aku merindukanmu" Chanyeol kembali memeluk Baekhyun, sangat erat, dan hal itu semakin meyakinkan Baekhyun jika sesuatu pasti sudah terjadi.

"mau kusiapkan air hangat?"

"aku bisa menyiapkannya sendiri, sebaiknya istriku yang cantik ini istirahat, duduk manis dan setelah aku mandi kita makan malam, hum?"

Baekhyun mengangguk dan Chanyeol segera berlalu menaiki tangga menuju kamar mereka sesaat setelah mengecup bibir mungil sang istri.

"aku mencintaimu oppa" Baekhyun bergumam sembari menatap punggung Chanyeol yang sesaat kemudian sudah mesuk ke dalam kamarnya.

.

"Chagi.."

"Hum?" Baekhyun memiringkan tubuhnya sehingga kini dia sudah menghadap suaminya.

Mereka sudah menyelesaikan makan malam dan keduanya kini tengah berbaring di ranjang mereka. Baekhyun sedari tadi hanya bisa berdiam diri, memikirkan hal yang ia sendiri tidak tau itu.

"saranghae.."

Baekhyun tersenyum dan segera merapatkan tubuhnya untuk memeluk Chanyeol. "Nado Saranghaeo oppa"

"apa terjadi sesuatu oppa?"

Chanyeol sedikit tercekat dengan pertanyaan Baekhyun, haruskah dia mengatakan semuanya? Entah mengapa Chanyeol merasa ragu untuk menceritakan tentang Hyejin pada Baekhyun.

"tidak, oppa hanya sedikit stres karena pekerjaan" Chanyeol mengecup puncak kepala Baekhyun berulang kali. Dia merasa bersalah karena telah menyembunyikan hal tentang ditemukannya Hyejin, tetapi dia juga merasa tidak bisa menceritakan hal itu pada Baekhyun.

"B.."

"Hum?"

"jika aku membuat kesalahan lagi apa kau masih akan tetap mencintaiku? Apa kau akan tetap setia seperti yang kau lakukan selama tiga tahun ini?"

"kenapa oppa bertanya seperti itu?" Baekhyun melepas pelukannya dan kini matanya kembali menatap wajah tampan suaminya.

"tidak.. oppa hanya takut kehilanganmu jika suatu saat oppa tidak sadar melakukan sebuah kesalahan lagi"

Baekhyun tersenyum, tangannya terulur untuk mengusap lembut pipi Chanyeol. "oppa.. tepat saat aku mengucapkan sumpahku di hari pernikahan kita, maka sejak itulah aku juga menyanggupi jika aku akan tetap mencintaimu hingga akhir"

Baekhyun meraba setiap inci wajah Chanyeol mulai dari alis tebalnya, mata indahnya dan Chanyeol hanya memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh istrinya.

"percayalah oppa, jikapun tubuhku tidak bisa bersamamu kau harus yakin bahwa cintaku masih tetap menjadi milik oppa"

Chanyeol membuka matanya dan satu tetes cairan bening jatuh dari sudut mata indah itu.

"aku tidak tau apa yang telah aku lakukan di kehidupanku sebelumnya hingga Tuhan memberikan malaikatnya padaku, terimakasih Baekhyunie.."

Chanyeol mencium bibir Baekhyun dengan sangat lembut, sangaat lembut.

...

Kyungsoo dan Jongin sedang duduk berdua di depan televisi di rumah Jongin.

"Jongin.." Jongin menoleh dan segera merengkuh tubuh kekasihnya itu, menyandarkan kepala Kyungsoo di dada bidangnya.

"aku ingin bertanya sesuatu" Kyungsoo masih ragu untuk menanyakan sesuatu hal yang sejak beberapa hari ini mengganggunya.

"aku siap menjawab semua pertanyaanmu sayang"

"emmm.. apa Chanyeol belakangan ini bercerita padamu tentang suatu hal?"
"huh?" Jongin sedikit tidak mengerti dengan apa yang coba Kyungsoo tanyakan.

"maksudku.. apa kau tau sesuatu tentang Chanyeol, eeerr aku juga sedikit bingung, tapi kau ingat saat kita makan malam di tempat Baekhyun empat hari yang lalu?"

Jongin hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Kyungsoo, "eem di hari itu aku melihat Minseok eonni menangis saat melihat Baekhyun dan Chanyeol"

"mungkin dia hanya terharu karena setelah sekian lama hubungan Chanyeol Hyung dan Noona membaik sayang.."

"tidak.. Jongin, aku yakin bukan karena itu, aku benar-benar melihat ekspresi Minseok eonni saat itu, atau mungkin Jongdae menceritakan sesuatu padamu?"

Kyungsoo masih sangat yakin dengan apa yang ia lihat kala itu, bagaimana cara Minseok memandang Chanyeol dan Baekhyun. Entah mengapa tetapi gadis bermata bulat itu yakin jika sesuatu pasti terjadi.

"Chanyeol maupun Jongdae Hyung tidak ada cerita apapun padaku, sudah lah Chagi.. sebaiknya kita berfikir positif dan jangan lupa selalu doakan kebahagiaan mereka"

Kyungsoo hanya mengangguk dan kembali menyandarkan kepalanya pada dada Jongin.

"sayang.."

"heemm?" Kyungsoo hanya berdehem menyahuti Jongin.

"Besok kita makan malam di rumahmu ya? Aku merindukan masakan bibi"

"huh?"

"ayolah sayaang.. aku sudah cukup lama tidak berkunjung ke rumahmu, apa yang dikatakan orang tuamu nanti saat calon menantunya tidak pernah berkunjung?"

...

"hay.." Chanyeol duduk memfokuskan pandangannya ke depan, tepatnya pada tubuh kurus seoarang gadis yang terbaring lemah di hadapannya.

"masih tidak mau berbicara padaku?" digenggamnya jemari lentik itu. "Noona.." Chanyeol berdecih lalu terkekeh sendiri setelah memanggil Hyejin seperti itu.

"aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku memanggilmu seperti itu..ck, apakah itu saat kita masih di bangku sekolah dasar dulu? aku sungguh kurang ajar bukan?"

Chanyeol terus mengajak bicara tubuh Hyejin yang ia tau bahwa kekasihnya itu tidak akan menjawabnya.

"Hyejin-ah.. aku masih kekasihmu kan? Karena itu aku masih akan tetap memanggil namamu seperti biasa, sangat lucu jika bahkan kita masih sepasang kekasih tapi aku memanggilmu noona haha"

Siapapun yang melihat keadaan laki-laki jangkung ini pasti akan berfikir jika laki-laki dengan wajah amat tampan itu sudah gila.

Tertawa sendiri, berbicara sendiri dan juga menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan sendiri atau bahkan menangis sendirian, di samping tubuh kecil kekasihnya yang tengah tidak sadarkan diri selama tujuh tahun.

Hal itulah yang dilakukan Chanyeol selama satu minggu ini, sejak ia tahu bahwa Hyejin masih ada di dunia ini dan saat ini sedang berada di hadapannya.

"Chagi.. eemm, jika aku melakukan kesalahan besar apa kau akan semakin mendiamkanku?"

Chanyeol kembali menatap wajah cantik Hyejin, kekasihnya.. meskipun wajah itu kini berubah warna menjadi pucat pasi, bahkan rona di wajah tirus Hyejin benar-benar hilang, tetapi Hyejinnya tetap cantik.

"hei.. lihat, kau masih memakai cincin pertunangan kita?"

Chanyeol semakin erat menggenggam telapak tangan kecil itu.

"kau pasti mendiamkanku karena itu bukan? Karena cincin ini?" Chanyeol mengelus cincinnya sendiri, cincin pernikahannya dengan Baekhyun.

"itulah yang ingin aku bicarakan padamu hari ini, Hyejin-ah.. maafkan aku karena melakukan ini.."

Air mata Chanyeol sudah menggenang di mata lebarnya. Chanyeol lemah? Iyaa.. bayangkan saja, bagaimana ketika kau tengah menghabiskan waktu selama tujuh tahun untuk menunggu kekasihmu yang bahkan semua orang tengah mengatakan bahwa seseorang yang kau tunggu tengah pergi dari dunia ini dan ketika kau benar-benar menemukannya saat itu juga kau harus benar-benar melepasnya.

"Hyejin-ah.. maaf karena aku tak menepati janjiku untuk menunggumu, maaf karena aku tak menepati janjiku untuk tidak membiarkan orang lain bersemayam disana, maaf karena aku tak menepati janjiku untuk membawamu ke altar pernikahan kita, maaf karena.. hiks.."

Pertahanan yang Chanyeol buat hari ini kembali runtuh, air matanya kembali membanjiri wajah tegasnya, tangannya gemetar memegang jemari-jemari ringkih kekasihnya, Kim Hyejin.

"Noona.. bolehkah aku memanggilmu seperti ini? Noona.. maafkan aku, maafkan aku yang tidak bisa menjaga hubungan kita, maafkan aku karena membiarkan seseorang bersemayam indah di hatiku saat ini.."

Chanyeol dengan perlahan kembali memegang cincin yang melingkar di jari manis Hyejin.

"Noona.. bangunlah dan maki aku sepuasku, jika perlu kau boleh mengambil nyawaku.. aku mencintainya noona, maafkan aku.. aku mencintainya"

Ruangan itu kembali hening, hanya ada suara isak tangis Chanyeol yang mendominasi udara. Oh tunggu sepertinya bukan hanya suara isak Chanyeo, ada suara isak tangis lain, sangat lirih.. tepatnya berasal dari seoarang gadis cantik yang berdiri menyandarkan tubuhnya pada tembok di luar ruangan sembari memegang dadanya yang sesak.

"Noona.. aku tengah menikahinya, kau sebenarnya sudah tau bukan? Maka dari itu kau mendiamkanku seperti ini?"

Suara Chanyeol kembali terdengar, semakin Chanyeol mengeluarkan suaranya maka semakin keras juga suara tangis seseorang di luar sana.

"Noona.. kumohon... jawab aku meskipun sekali, keluarkan sumpah serapahmu padaku, aku sudah menyakitimu, aku menghianatimu, kenapa kau hanya diam saja? Kenapaa? Jawab.! Kim Hyejin, aku memintamu menjawabku!" Chanyeol megguncang tubuh Hyejin dengan suara tangis yang sangat menyayat hati siapapun yang menedengarnya.

"Kim Hyejin..!"

"Park Chanyeol.!" Chanyeol tidak menghiraukan suara yang kini tengah meneriaki namanya, dia terus mengguncang tubuh ringkih Hyejin berharap tangan gadis itu akan menamparnya.

"Chanyeol hentikan! Noona mohon hentikan Chan" Minseok memeluk erat tubuh Chanyeol dari belakang, dengan sekuat tenaga dia mendekap tubuh besar adiknya karena Chanyeol terus berusaha melepaskan diri.

Tao dengan tergesa berlari ke ruangan Hyejin karena mendengar suara keributan itu, dan kini gadis keturunan Cina itu sedang berusaha untuk mengalihkan perhatian beberapa orang yaitu staf rumah sakit yang akan memasuki ruangan Hyejin. Gadis itu hanya bisa memohon pada beberapa staf rumah sakit untuk membiarkan Chanyeol dan Minseok di dalam.

Minseok sedikit terhempas saat Jongdae menarik tubuhnya dan melayangkan satu pukulan di wajah Chanyeol. Minseok dan Tao yang melihatnya hanya bisa menangis, meratapi takdir yang begitu mempermainkan Chanyeol.

"kau gila? HAH? Apa dengan kau membuat keributan seperti ini dia akan bangun?"

Jongdae mencengkram kerah baju Chanyeol, bukan maksudnya untuk berlaku buruk pada Chanyeol, dia hanya berusaha untuk menyadarkan sahabatnya itu.

Chanyeol masih tetap menangis tanpa menghiraukan ucapan Jongdae, bahkan pukulan keras yang di layangkan Jongdae yang bahkan membuat sudut bibirnya berdarah tidak terasa sakit sedikitpun bagi laki-laki bertubuh tinggi itu, karena sakit di bibirnya tidak sebanding dengan sakit yang ia rasakan di dalam dadanya.

"kau seorang dokter disini Chanyeol, kau masih di lingkungan kerjamu dan sekarang kau membuat keributan disini? Hah? Dimana letak kewarasanmu?"

"Hyejin.." Chanyeol masih tidak menggubris sedikitpun perkataan Jongdae dan bahkan kini laki-laki bermarga Park itu kembali berusaha menghempas tangan sahabatnya untuk kembali menggapai tubuh Hyejin.

"Brengsek..!" Buaagh.. Jongdae kembali melayangkan pukulan keras di wajah Chanyeol hingga sahabatnya tersungkur di sebelah ranjang rawat Hyejin.

"Cukuuup..! ku mohon hentikan, jangan sakiti adikku" Minseok merangkak kembali merengkuh tubuh Chanyeol dalam dekapannya.

"bawa dia pergi dari sini sebelum aku benar-benar menghabisi adikmu itu" Jongdae benar-benar merasa emosinya tersulut, asal kalian semua tau.. Jongdae bukan hanya sahabat Chanyeol, dia juga sudah lama mengenal Hyejin, ikut menjaga Hyejin saat masa-masa sulit gadis itu dulu, dan dia juga sudah menganggap Hyejin bagian dari keluarganya.

Minseok dan Tao segera membantu Chanyeol berdiri dan membawa laki-laki itu menuju ruang kerja Tao. Saat mereka keluar dari ruang rawat Hyejin tentu saja banyak pasang pata yang melihat mereka dengan sorot mata penuh tanya.

...

"Oppa pulaang..." Chanyeol menampilkan senyumannya menatap Baekhyun yang kini tengah terduduk di sofa di depan televisi yang juga sedang mentapnya dengan senyum bulan sabit indah milik istrinya itu.

Baekhyun beranjak menghampiri Chanyeol yang tersenyum memandangnya dan tengah menunjukkan dua kantong belanjaan di tangannya.

Gadis manis itu tersenyum menyambut kedatangan suaminya, namun dalam sekejap senyuman itu hilang berganti dengan raut kecemasan saat melihat bekas luka dan lebam pada sudut bibir suaminya.

"apa yang terjadi?" Baekhyun segera memegang pipi Chanyeol, terlihat jelas raut kecemasan pada wajah cantinya.

"hum? Ini?" Chanyeol menunjuk sudut bibirnya "oppa tidak hati-hati saat berlari menaiki tangga darurat menuju ruang oprasi tadi jadi oppa terjatuh"

Baekhyun menautkan kedua alisnya, merasa alasan Chanyeol mendapatkan luka itu sedikit tidak biasa,

"lift rumah sakit sangat penuh tadi sayang, maka dari itu oppa terburu-buru lewat tangga darurat karena keadaan pasien oppa yang kritis dan membutuhkan pertolongan oppa segera"

Chanyeol menyadari raut keraguan dari wajah Baekhyun. "ohh kau belum memasak makan malam bukan? Chaa.. oppa sudah membeli banyak bahan untuk kita hari ini" Lanjutnya mengalihkan pembicaraan.

"luka oppa harus di obati terlebih dahulu" Baekhyun mengambil alih kantok plastik belanjaan dari tangan Chanyeol dan segera menghalau lelakinya untuk mengikutinya.

"Minseok noona sudah mengobatinya sayang, ini hanya luka kecil" Chanyeol mendudukkan dirinya di kursi meja makan, memperhatikan Baekhyun yang kini berjalan ke arahnya setelah meletakkan belanjaannya di pantri dapur.

"bagaimana oppa bisa menjaga dan merawat pasien oppa jika oppa tidak bisa menjaga diri oppa sendiri?" Baekhyun memegang dagu Chanyeol dan mengamati luka yang ada di sudut bibir suaminya itu.

"ini hanya luka kecil sayang" Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun dan menyandarkan kepalanya di perut sang istri.

Entah mengapa, aroma tubuh Baekhyun seakan benar-benar menjadi obat penghilang penatnya, aroma yang selalu memberikan ketenangan untuk leki-laki tampan ini.

"baiklah.. oppa segera mandi, aku akan memasakkan makan malam untuk kita.."

"tidak tidak, khusus hari ini aku yang akan memasak untukmu, kau tinggal duduk manis sambil memakan es krim yang sudah ku belikan untukmu, hemm?"

"kenapa seperti itu?"

"karena aku ingin? Tunggu sebentar, aku akan mandi dengan cepat lalu segera memasakkan makan malam spesial untuk istri cantikku"

Selalu seperti ini, setiap kata yang terlontar dari bibir Chanyeol selalu membawa hawa panas untuk pipinya, terbukti dari semburat merah yang kembali muncul di pipi gadis cantik itu.

Tida butuh waktu lama untuk Chanyeol membersihkan dirinya, kini laki-laki yang tak lain adalah suami sah dari Byun Baekhyun itu sudah menyibukkan diri di pantri dapur dengan apron melekat di tubuh atletisnya.

Seperti apa yang Chanyeol bilang, Baekhyun benar-benar tengah duduk manis di meja dapur sambil memakan es krim berukuran jumbo. Sebenarnya gadis itu ingin membantu Chanyeol, tetapi lagi-lagi setiap Baekhyun menghampiri suaminya, tubuhnya kembali berakhir di gendongan Chanyeol dan setelah itu kembali terduduk di meja dapur.

"finally.." Chanyeol melepas apronnya dan mulai membawa satu per satu masakan yang di buatnya untuk di sajikan di meja makan.

Kali ini Baekhyun kembali turun tangan dan membantu Chanyeol membawa beberapa masakan yang Chanyeol buat.

Entah hari ini hari apa sehingga Chanyeol menciptakan suasana seromantis ini, setelah semua menu tersaji di meja makan Chanyeol pergi menuju garasi, dan saat tiba di meja makan Baekhyun di buat tercengang karena lelakinya itu tiba-tiba berjongkok dan memberikan satu buket mawar putih, bungan kesukaan Baekhyun.

"Oppa.." Baekhyun kembali merasakan panas di pipinya, setelah gadis itu menerima bunga darinya, Chanyeol bangkit untuk kemudia mengecup kening istrinya.

"Aku mencintaimu Park Baekhyun"

"Aku juga mencintaimu Park Chanyeol"

...

"eemmhh.." Baekhyun kembali melengguh untuk mengalihkan sengatan-sengatan yang menjalar di tubuhnya akibat perbuatan Chanyeol. Desahan dari kedua insan itu saling bersahutan. Chanyeol terus menumbuk bagian selakangan Baekhyun dengan kecepatan yang membabi buta, sedangkan sang wanita hanya bisa terus mendesahkan nama sang suami.

"oohh.. oppa.. aahh" peluh sudah bercucuran dari tubuh keduanya, terlebih Chanyeol yang kini harus menyeimbangkan tenaganya antara menopang tubuh Baekhyun dan menghajar lubang kenikmatan istrinya itu.

"aahh Baek.. ohhh" Chanyeol terus menggerakkan pinggulnya untuk menusuk Baekhyun semakin dalam.

Ketika dinding kewanitaan Baekhyun semakin menyempit dan rematan tangan istrinya itu semakin kencang pada surai lembutnya, Chanyeol semakin mempercepat gerakannya membantu sang istri menjemput kembali kenikmatannya.

Sudah tiga kali Baekhyun mencapai orgasme namun tidak dengan Chanyeol, laki-laki itu kini kembali mengangkat tubuh sang istri tanpa memutuskan persatuan mereka di bawah sana.

Chanyeol membaringkan Baekhyun di ranjang king size itu dan setelah memberi waktu Baekhyun menetralkan sisa-sisa orgasmenya, laki-lai itu kembali menggerakkan pinggulnya menyalurkan kenikmatan kembali pada istrinya.

Desahan mereka teredam oleh ciuman panas antara sepasang suami istri itu.

Baekhyun kembali melengguh, tubuhnya melengkung menikmati lidah Chanyeol yang terus mengeksplor payudaranya.

"aahh.. ahhh.. oppa.. oohh, terus oppa,, lebih cepat.. aahh"

Chanyeol menggerakkan pinggulnya kesetanan, menghajar lubang kewanitaan Baekhyun. Sungguh laki-laki itu di buat kelimbungan dengan kenikmatan yang di berikan oleh istrinya. Bagaimana batang kejantannya diremas oleh dinding kewanitaan Baekhyun, suara desahan Baekhyun yang semakin membangunkan libidonya.

"aahh Baekhyun.. Baekhyun" Chanyeol semakin cepat menumbuk lubang Baekhyun dan itu tepat pada G-spot sang istri.

"aahh.. oppa, akuh.. ahh akuuuhh" Baekhyun menggelengkan kepalanya menghalau kenikmatan yang tidak bisa ia tahan, Badannya benar-benar menegang dan gemetar seiring dengan kepala kejantanan Chanyeol yang mengenai titik kenikmatannya di dalam sana.

"aahhh..." Chanyeol semakin mempercepat gerakannya seperti tengah kesetanan, dia tidak akan membiarkan Baekhyun kembali mencapai puncaknya sendiri karena dirinya juga sudah hampir sampai saat ini.

"aaahh oppaaahh/ Baekk..." dan cairan kental itu menyembur hebat di dalam tubuh Baekhyun, bahkan ada yang mengalir keluar dari lubang kewanitaan Baekhyun.

Keduanya terengah masih dengan posisi Chanyeol yang berada di atas tubuh Baekhyun dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri.

Masih dapat dia rasakan bagaimana kewanitaan Baekhyun dan kejantanannya masih berkedut.

Baekhyun mengelus surai lembut Chanyeol dan mengecupi puncak kepala sang suami.

"terimakasih sayang, tidurlah.. kau pasti lelah kan?"

Chanyeol merebahkan tubuhnya di samping tubuh Baekhyun, menarik selimut dan menyelimuti tubuh telanjang keduanya.

"tentu saja, oppa terlalu kuat.." Chanyeol terkekeh mendengarnya.

"kau suka?"

"always.."

Chanyeol tidak tahan untuk tidak melumat bibir mungil itu, betapa menggemaskannya seorang Byun Baekhyun.

.

.

.

TBC

.

.

.

hay hay..

lama yaaa? Mianhae.. saya kembali mendapat sedikit hambatan saat akan mengupdate Healer sehingga harus tertunda hingga hari ini.

terimakasih untuk kalian yang sudah review yaah.. maaf tdak bisa membalas satu persatu, tetapi saya baca semua reviw dari kalian kook.

.

pliis yang masih jadi silent reader segera tinggalkan jenjak yaahh :*

sudah dulu cuap-cuapnya, masih ada When It's You yang menunggu untuk saya ketik :D

semoga kalian tidak bosan dan menikmati chapter ini..

maaf jika sedikit tidak jelas yaah saya sudah bilang kan, saya menemukan sedikit hambatan hehe

Review Jusseyoowwww :*

Salam Chanbaek Real

babayyyy

muuahhh :*