Dude Ranch Bride (Remake)
.
Story By : Madeline Baker
Remake By : Zahra Amelia
.
Rate : T – M
.
Length : Chaptered
.
Cast : Cho Kyuhyun x Lee Sungmin
Other Cast : Zhoumi, Lee Sungjin, Kang Kyeong Suk, Lee Chunhwa, Lee Donghae and others.
.
Genre : Romance/Hurt/Comfrot
.
Disclaimer : KyuMin Is Destiny
.
Warning : Boys Love, Yaoi, OC, OOC, Miss Typo(s), etc
.
Sebuah novel Harlequin straight yang merupakan karya dari 'Madeline Baker' dengan judul 'Dude Ranch Bride' yang saya remake menjadi sebuah fanfiction dengan main pair KyuMin, dengan segala penambahan dan pengurangan seperlunya dari saya, demi menyelaraskan dengan karakter dari Kyuhyun dan Sungmin.
.
Chapter 10
.
Don't Like Don't Read
Happy Reading and enJOY!
.
.
.
Kyuhyun memeluk Sungmin erat-erat, takut dirinya tidak akan mampu melepaskan pemuda manis itu lagi. Dia bisa menghitung saat-saat dimana dia merasa takut atau bahkan sangat ketakutan, tetapi tidak ada yang mampu menyamai ketakutannya saat menunggu Sungmin berbalik untuk menghadapnya. Seandainya pemuda manis itu tidak memedulikannya, meninjunya, menendangnya dengan jurus matrial arts yang dikuasainya, atau mengusirnya jauh-jauh, Kyuhyun tidak bisa menyalahkannya. Sial! Dia memang layak mendapat perlakuan itu, umpatnya dalam hati.
Kyuhyun mengusap lembut punggung Sungmin, membenamkan wajahnya ke leher pemuda manis itu, memeluknya dengan sekuat tenaga. Dia bisa merasakan tubuh Sungmin yang gemetar, merasakan air mata membasahi kausnya, dan lengan pemuda manis itu yang balas memeluknya erat.
"Tidak apa-apa," gumam Kyuhyun lembut. "Semua akan baik-baik saja, sayang. Jangan menangis. Aku di sini."
Sungmin menangis tanpa suara, sejujurnya dia tidak ingin menangis. Dia memang manja, namun dia bukan pria cengeng. Dia benci menangis. Dia benci terlihat lemah. Namun, untuk saat ini, di hadapan Kyuhyun, dia ingin mengeluarkan semuanya; ketakutannya, kegelisahannya, kesedihannya.
Dia menengadah. "Aku tidak percaya kau ada di sini," ujarnya dengan suara parau. Tidak memedulikan jejak air mata yang masih mengotori pipinya.
Tubuh Kyuhyun tiba-tiba mematung. "Kau ingin aku pergi?"
"Tidak!" Sungmin mencengkeram kaus Kyuhyun. "Jangan pergi! Aku takut sekali, Kyuhyun. Aku takut appa akan meninggalkanku. Dia tidak boleh meninggalkanku. Tidak boleh!" ujarnya sembari menggelengkan kepalanya.
Kyuhyun menangkup pipi Sungmin dengan kedua tangannya, dia menatap pemuda manis itu seraya mengusap jejak air mata di pipi Sungmin dengan ibu jarinya. "Tenanglah. Aku tetap di sini. Menemanimu."
Sungmin membalas tatapan Kyuhyun. "Aku menyesal. Sangat menyesal. Kata-kata terakhir yang kami ucapkan satu sama lain diwarnai oleh kemarahan."
Kyuhyun tidak tahu dia harus berkata apa saat mendengar pernyataan itu. Dia hanya bisa kembali menarik Sungmin ke dalam pelukannya. Memeluknya erat-erat.
Sungmin kembali menengadah. "Aku masih tidak percaya kau ada di sini."
"Aku bergegas ke sini setelah kau meneleponku. Tapi, saat aku ke bandara hanya penerbangan untuk jam 9 malam ke atas yang tersisa."
"Kenapa tidak meneleponku? Aku bisa meminta Pak Kim menjemputmu di bandara."
Kyuhyun menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku tidak ingin merepotkanmu. Lagi pula, temanku bersedia menjemputku dan meminjamkan mobilnya untukku."
Pemuda manis itu tersenyum tipis, lalu kembali memeluk Kyuhyun. "Aku senang kau ada di sini."
"Ya. Aku di sini. Untukmu," gumam Kyuhyun lembut.
.
.
.
Kyeong Suk terbangun saat mendengar samar-samar suara orang yang tengah berbincang. Tepat pada saat itu juga Sungjin melangkah ke luar lift, sementara Jung Han dan Minah berjalan membelok di lorong membawa bungkusan makanan dan minuman.
Sungmin tidak tahu berapa lama dia berdiri di sana sambil memeluk Kyuhyun, seandainya pria itu tidak berdehem dan mengendurkan pelukannya.
Ibunya menatap Kyuhyun seolah tengah melihat hantu. Paman Jung Han, bibi Minah dan Sungjin—yang entah mengapa kembali lagi ke sini, mendadak menghentikan langkah mereka saat melihatnya terperangkap dipelukkan seorang pria asing.
Andai saja Sungmin sedang tidak mencemaskan kondisi ayahnya, dia pasti sudah tertawa melihat ekspresi di wajah mereka. Ibunya tampak shock. Sungjin terlihat seolah ingin meninju pria asing yang telah lancang memeluknya. Sementara paman dan bibinya tampak sedikit bingung dengan situasi yang tengah terjadi. Lalu, ketika dia mengira suasana tidak mungkin lebih canggung lagi, pintu lift kembali terbuka dan Zhoumi melangkah keluar, terlihat seolah pria itu baru saja menjelma dari sampul depan majalah Vogue.
Kyeong Suk yang pertama kali bicara. Dia melepaskan mantelnya, lalu berdiri. "Sungmin, sebaiknya kau perkenalkan temanmu itu kepada kami, nak."
Zhoumi melangkah ke arah Sungmin. "Ya, Sungmin. Kenapa kau tidak memperkenalkan dia?" ejeknya. "Aku yakin mereka semua ingin mengenal pria yang telah membuatmu meninggalkanku."
Kyuhyun menatap Zhoumi tajam.
Sungmin meremas lengan Kyuhyun. "Dia Cho Kyuhyun. Kyuhyun kau sudah mengenal ibuku, Kyeong Suk. Itu Sungjin adik bungsuku serta Jung Han dan Minah, mereka adalah paman dan bibiku."
Kyuhyun mengangguk.
"Apa yang dia lakukan di sini?" tanya Zhoumi dengan nada meremehkan.
"Aku bisa menanyakan hal yang sama padamu," sahut Kyuhyun dingin.
"Kalian berdua, kumohon." Kyeong Suk beranjak ke arah kedua pria itu. "Ini bukanlah waktu dan tempat yang tepat."
Zhoumi melingkarkan lengannya di bahu Kyeong Suk. "Ajumma benar. Tentu saja," katanya. "Maaf."
"Maaf," ujar Kyuhyun menimpali.
Kyeong Suk mengangguk, lalu meminta mereka semua duduk demi meredakan ketegangan yang semula terjadi. Zhoumi duduk di sebelah Kyeong Suk, sementara Sungjin di sisi lain sebelah ibunya. Sungmin duduk di sebelah Kyuhyun seraya menggenggam erat tangan pria itu seolah tidak akan melepaskannya lagi. Jung Han dan Minah membagikan sandwich dan kopi, lalu duduk setelahnya.
"Sungjin-ah, kenapa kau kembali ke sini?" tanya Sungmin.
"Aku mencemaskan appa dan juga kalian, hyung."
Sungmin mengangguk mengerti. Dia juga akan melakukan hal yang sama jika diposisi Sungjin. Dia tidak mungkin bisa tidur dengan tenang di rumah sementara ayahnya terbaring di rumah sakit dengan kondisi tidak menentu.
.
.
.
Waktu hampir menjelang fajar saat dokter menghampiri mereka. Sungmin tanpa sadar meremas tangan Kyuhyun. Tatapan sang dokter menyusuri mereka semua, lalu berhenti pada ibunya. "Menurut saya masa kritis Tuan Lee sudah lewat. Kami akan lebih yakin lagi dengan kondisinya sebelum besok malam."
Kyeong Suk terjatuh lemas ke tubuh putra bungsunya, matanya berlinang air mata kelegaan.
Sang dokter tersenyum, jelas-jelas merasa senang bisa memberitahukan kabar baik. "Sebaiknya anda sekalian pulang dan beristirahat. Saya akan segera memberikan kabar jika ada perubahan."
Kyeong Suk menggeleng. "Kurasa se—"
Sungmin melepaskan genggamannya pada tangan Kyuhyun, dia menghampiri ibunya, lalu menggenggam tangannya. "Dokter benar, eomma. Kita semua sebaiknya pulang dan beristirahat." Dia mengelus tangan ibunya dengan ibu jarinya. "Eomma tidak mau 'kan, appa melihatmu dengan keadaan yang seperti ini? Aku juga tidak mau jika eomma sampai kelelahan."
Kyeong Suk tersenyum lemah. "Baiklah." Dia berdiri kemudian mengulurkan tangan ke arah sang dokter. "Terima kasih. Tapi, anda akan menghubungi saya jika ada perubahan, bukan? Perubahan sekecil apapun."
"Pasti. Saya yakin yang terburuk sudah lewat. Jadi, lebih baik anda pulang dan cobalah untuk tidak terlalu khawatir."
Kyeong Suk mengangguk.
Sungmin dan bibinya membantu ibunya mengumpulkan barang bawaan mereka, sementara Sungjin menekan tombol lift, Zhoumi tengah berbincang dengan pamannya. Kyuhyun beranjak menjauh, sangat menyadari bahwa dirinya berada di sana bukan atas permintaan Sungmin. Dia bukan bagian dari keluarga pemuda manis itu.
"Hyung kau sudah selesai? Pintu liftnya sudah terbuka," ujar Sungjin.
"Ya," jawab Sungmin. Dia beranjak dari sana bersama ibunya seraya membawa barang bawaan mereka.
Kyuhyun mengikuti di belakang mereka. Dia berdiri di samping Sungmin di dalam lift yang bergerak turun, dan menyadari ekspresi muram mantan tunangan pemuda manis itu.
Di luar, mereka semua berhenti di bawah lampu jalan.
"Mobil kami berada di area parkir di blok sebelah," ujar Jung Han. "Kami akan menemui kalian di rumah."
Kyeong Suk mengangguk lalu berbalik menghadap Zhoumi. "Terima kasih sudah datang ke sini, Zhoumi-ah. Kau juga sebaiknya pulang. Kami akan memberikan kabar jika ada perubahan."
Zhoumi mengangguk dan memeluk Kyeong Suk. Dia menatap Sungmin yang berdiri di sebelah Kyuhyun sekilas, lalu memandang tajam pria yang telah merebut tunangannya itu cukup lama, sebelum melangkah pergi.
"Ayo, eomma, hyung. Sebaiknya kita juga pulang ke rumah. Mobilku di parkir di sebelah sana," ucap Sungjin sembari menunjuk ke arah dimana mobilnya di parkir.
"Ya, kau sebaiknya antarkan eomma pulang. Jangan ngebut! Aku akan pulang bersama Kyuhyun."
"Tunggu dulu, hyung. Menurut—"
Sungmin menatap Sungjin tajam. "Kau sebaiknya cepat antarkan eomma pulang, Sungjin-ah," potongnya.
"Ayo kita pulang, Sungjin-ah. Biarkan Kyuhyun yang mengantar Sungmin pulang ke rumah," ucap Kyeong Suk menengahi, sebagai seorang ibu dia tahu seberapa keras kepala anak-anaknya, terutama Sungmin dan Sungjin, hanya Donghae lah yang tidak menuruni sifat dari suaminya itu.
"Tapi, eom—"
"Lee Sungjin!"
Sungjin mengangguk kalah. "Baiklah. Ayo, eomma." Dia melingkarkan tangannya ke bahu ibunya, seraya berjalan menuju mobilnya.
Sungmin meraih tangan Kyuhyun. "Ayo. Dimana mobilmu?"
Sembari mengangguk, Kyuhyun membimbing Sungmin ke tempat dia memarkirkan mobilnya. Dia membuka pintu mobil, menunggu Sungmin naik, lalu memutarinya menuju sisi pengemudi dan menyelinap dibalik kemudi. Demi keselamatan dirinya, Kyuhyun tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Sungmin memecahkan masalah itu untuknya. "Terima kasih telah datang. Kau tidak tahu betapa aku menginginkanmu berada di sini."
"Sungmin, maafkan reaksiku saat kau menelepon tadi. Aku tidak berhak berbicara seperti itu. Aku seharusnya tahu kalau kau takkan pergi begitu saja tanpa alasan yang tepat. Sepanjang perjalanan ke sini..." Kyuhyun mendesah pelan, "aku tidak tahu apakah kau masih mau berbicara denganku," lanjutnya, nada bicaranya penuh penyesalan.
"Tapi, kau tetap datang." Sungmin tersenyum tipis. "Itu sudah cukup bagiku."
Kyuhyun menghembuskan napas lega. "Kau sedang sedih. Aku tidak tahu apakah aku bisa membantu, tapi aku harus mencoba."
"Terima kasih." Sungmin menjatuhkan diri ke pelukan Kyuhyun dan membenamkan kepalanya ke dada pria itu.
"Aku yang seharusnya berterima kasih, Sungmin." Kyuhyun memeluk Sungmin dengan erat dan saat itulah dia yakin bahwa apapun perbedaan yang ada di antara mereka, mereka pasti bisa mengatasinya.
Sungmin mengangguk dalam pelukan Kyuhyun.
Kyuhyun duduk terdiam, merasa puas bisa memeluk Sungmin, sampai cahaya lampu mobil keamanan rumah sakit menyoroti kaca depan mobilnya. "Sebaiknya kita pergi dari sini," ujarnya. "Benar kata dokter. Kau perlu tidur."
"Ya," jawab Sungmin seraya meringkuk di sisi Kyuhyun sepanjang perjalanan.
Saat Kyuhyun menyusuri jalanan menuju rumah Sungmin, dia diingatkan kembali betapa lebar jurang antara gaya hidup Sungmin dan dirinya. Hanya ada beberapa rumah di blok itu, dan semuanya berdiri di atas halaman rumput yang terawat rapi dibalik gerbang besi tempa atau dinding bata tinggi. Tidak ada anjing liar yang mengorek-orek sampah, tidak ada mobil tua dan berkarat, dan tidak ada pemabuk yang muntah dipinggir jalan. Dia mengumpat lirih. Dia tidak akan pantas berada di sini. Tidak akan pernah pantas.
Kyuhyun menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang rumah Sungmin, menunggu sementara pemuda manis itu menurunkan kaca jendela dan berbicara pada penjaga pintu. Tidak lama kemudian dia mengemudikan mobilnya masuk melewati pintu gerbang itu. Jalan masuknya diterangi cahaya dari deretan lentera kecil hingga di depan pintu rumah berserambi yang terang benderang. Bagian lain rumah itu tampak gelap dan hanya di terangi cahaya lampu dari serambi depan.
Pria itu mematikan lampu dan mesin mobilnya. "Kita akan bertemu lagi besok."
"Tentu saja." Sungmin menguap dari balik tangannya. "Ayo masuk. Aku sangat lelah."
Kyuhyun menatap Sungmin, bertanya-tanya apakah dia tidak salah dengar. "Apa?"
"Ayolah." Sungmin menarik tangan Kyuhyun.
"Menurutku ini bukan ide yang bagus. Lebih baik aku pulang ke rumahku."
"Well, menurutku ini ide bagus. Ayolah, kau lebih baik menginap di sini, lagi pula kau juga butuh tidur, Kyuhyun."
"Menurutku ibumu tidak..."
"Dia tidak akan keberatan."
"Tapi, adikmu keberatan."
"Sayang sekali. Akulah yang tinggal di sini. Sungjin lebih memilih tinggal sendiri di apartmentnya dibanding rumah." Sungmin menarik tangan Kyuhyun lagi, kali ini lebih kuat. "Ayolah, aku terlalu lelah untuk berdebat tentang masalah ini."
"Baiklah." Dengan enggan Kyuhyun meraih tasnya dari kursi belakang dan mengikuti Sungmin turun dari mobil. Mereka menaiki undakan yang lebar, sebelum pemuda manis itu membuka pintu kaca buram yang elegan dan terbuat dari kayu ek berukir. Kyuhyun mengikuti Sungmin melewati foyer luas dan berubin motif kotak-kotak hitam-putih, menuju ruangan luas berlangit-langit tinggi dengan perabotan yang begitu elegan sehingga membuatnya penasaran apakah perabotan itu pernah digunakan atau tidak.
"Kamar tidur tamu terletak di lantai atas," ujar Sungmin dengan suara pelan. "Ayo."
Kyuhyun mengikuti Sungmin menaiki tangga ulir. Karpet berwarna hijau yang tebal meredam suara langkah kakinya.
Sungmin berhenti di depan pintu di ujung lorong. "Kuharap kau merasa nyaman di sini. Anggap saja rumah sendiri. Kalau kau ingin mandi, ada handuk bersih di kamar mandi." Dia menunjuk pintu di seberang lorong. "Dan itu kamarku."
Kyuhyun berdiri terpaku, merasa bagaikan bocah ingusan yang baru pertama kali berkencan, bertanya-tanya apakah dia berani memberi ciuman selamat malam di sini. Di rumah Sungmin.
"Selamat malam, Kyuhyun," bisik Sungmin.
"Malam."
Seraya berjinjit, Sungmin menyelipkan sebelah tangannya ke belakang kepala Kyuhyun dan mencium bibir pria itu. "Sekali lagi terima kasih karena telah datang. Sampai jumpa besok pagi," gumamnya setelah melepaskan ciumannya.
Kyuhyun mengangguk, mengamati ayuanan pinggul Sungmin saat pemuda manis itu melintasi lorong dan membuka pintu kamarnya. Pemuda manis itu mengenakan jins ketat yang menempel erat bak lapisan cat dan membuat kerongkongannya terasa kering.
Sungmin melangkah masuk, tersenyum ke arah Kyuhyun dari balik bahunya, lalu menutup pintu kamarnya.
Menahan desakan untuk mengikuti Sungmin, Kyuhyun berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamar yang besarnya bisa menampung seluruh isi rumahnya di Seoul.
Kyuhyun menjatuhkan tasnya ke lantai di samping tempat tidur. "Ini yang mereka sebut sebuah kamar!" gumamnya seraya melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
Dinding kamar itu bernuansa beige, karpetnya berwarna cokelat gelap, sementara bedcover tempat tidur berukuran king size itu berwarna cokelat dan putih. Ada sebuah sofa berbentuk setengah lingkaran yang menghadap ke sebuah LCD TV, lemari kayu berwarna cokelat mengkilap, meja rias, serta lampu di meja nakas. Pintu di seberang tempat tidur mengarah ke kamar mandi dengan bathtub untuk berendam.
Kyuhyun mengamati bathtub itu. Sungmin tadi berkata kepadanya untuk menganggap ini sebagai rumahnya sendiri, dan karena dia tidak punya rumah seperti ini dan sepertinya tidak akan pernah punya, dia memutuskan untuk menuruti perkataan Sungmin. Seraya membungkuk, dia memutar kerannya.
.
.
.
Sungmin telah mengenakan baju tidur dan melipat bedcovernya saat mendengar bunyi air mengalir. Dia sejenak tertegun, imajenasinya terbangun memikirkan Kyuhyun yang sedang mandi tepat di seberang lorong. Dia berharap senadainya dia bisa bergabung dengan pria itu di dalam bak mandi, menyabuni punggung pria itu, berbagi tempat tidur dengan pria itu.
Dia buru-buru menyingkirkan khayalan itu. Tidak aman mengembara melewati jalan itu, atau membawa harapannya melambung tinggi, tetapi dia tidak kuasa menahan diri. Kyuhyun telah meninggalkan peternakan untuk menyusulnya. Sungmin masih tidak bisa memercayai hal itu, atau tidak bisa melupakan saat jantungnya berdegup dengan kencang hanya dengan memandang pria itu. Dia juga tidak pernah menyadari betapa dia membutuhkan Kyuhyun sampai saat dia melihat pria itu berada di sana. Tidak ada pria lain yang sanggup menghiburnya seperti yang pria itu lakukan. Dan sekarang, pria itu berada di sini, di rumahnya. Apakah pria itu ingat saat pertama kali dia datang ke rumah ini? Saat itu, Kyuhyun terlihat sangat tidak nyaman. Lalu, bagaimana perasaan pria itu sekarang? Bisakah pria itu mengabaikan perbedaan diantara mereka? Apakah pria itu kembali menjauh setelah melihat dengan lebih jelas dimana dan bagaimana tempatnya tinggal? Tiba-tiba saja dia terbayang rumah tempat tinggal Kyuhyun di peternakan. Bagaimana jika pria itu memintanya menikah dengannya dan memintanya tinggal di sana? Bisakah dia melakukannya?
Sungmin memandang ke sekeliling kamar tidurnya. Kamar ini didominasi warna merah muda, dan putih. Dia punya kasur yang lembut dan selimut yang hangat. Tirainya berwarna putih dengan corak merah muda yang senada dengan warna pelapis dinding. Di lantai terbentang karpet tebal. Sebuah sofa putih susu yang mengahadap sebuah LCD TV. Kamar tidurnya juga dilengkapi penghangat saat musim dingin dan AC saat musim panas. Dia memiliki lima puluh pasang sepatu dan dua buah lemari pakaian berukuran sangat besar yang penuh dengan pakaian miliknya, serta sebuah mobil baru setiap tahun. Dia terbiasa dilayani oleh seorang pelayan, seorang juru masak yang menyediakan hidangan sesuai dengan permintaannya, dan orangtua yang menyayanginya. Bisakah dia melepaskan semua ini demi Kyuhyun?
Sungmin menghela napas dalam, tidak ada gunanya memikirkan hal-hal seperti itu saat ini. Dia mencintai Kyuhyun. Dan jika pria itu memang berniat untuk menikahinya kelak, maka dia harus siap dengan segala konsekuensinya. Dia menarik selimutnya hingga dada, memejamkan mata dan membiarkan rasa kantuk menguasainya. Bahkan dalam mimpinya Sungmin bisa merasakan imajenasinya meliar, membayangkan seorang pria tampan dengan rambut ikal kecokelatan yang tengah berendam di dalam bathtub, tepat di kamar di seberang lorong.
.
.
.
Kyuhyun bangun saat fajar menyingsing. Seraya berbaring dengan lengan terlipat di belakang kepala, dia menyadari hal pertama yang terlintas dibenaknya adalah Sungmin. Dia menghabiskan beberapa menit yang menyenangkan dengan membayangkan Sungmin yang tengah terlelap di balik selimut, dengan wajah polos khas miliknya, serta kulit hangat beraroma lembut dan manis.
Dia membiarkan dirinya membayangkan seperti apa rasanya menyelinap ke kamar tidur Sungmin dan memeluk pemuda manis itu. Untuk melampiaskan gairahnya pada tubuh menggiurkan pemuda manis itu. Apakah Sungmin akan menyambutnya? Atau malah meninjunya karena berlaku tidak sopan? Saat tubuhnya yang tegang nyaris tidak mampu untuk menahan keinginan yang sudah tidak tertahankan lagi, Kyuhyun buru-buru menyingkirkan Sungmin dari benaknya dan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Kyuhyun mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna merah dan celana jins, mematut dirinya di depan cermin seraya merapikan penampilannya. Selama beberapa waktu dia berjalan mondar-mandir, bertanya-tanya berapa lama lagi Sungmin dan anggota keluarga lainnya bangun. Dia merasa tidak diterima dan nyaman di rumah ini. Jika, ya, dia pasti sudah turun ke bawah dan membuat secangkir kopi, tetapi menurutnya itu bukan ide yang bagus. Dia tidak ingin ibu Sungmin menuduhnya melewati batas, dan tidak ingin menjelaskan keberadaan dirinya di rumah ini kepada adik bungsu pemuda manis itu.
Merasa seperti seorang tawanan, Kyuhyun menatap ke luar jendela. Dari tempat yang menguntungkan ini, dia bisa melihat sebuah kolam renang, halaman yang terlihat laksana beledu berwarna hijau, kebun bunga yang terawat baik, beberapa pohon buah-buahan dan sebuah pendopo.
Sembari berbalik dari jendela, dia bergumam. "Ini semua di luar kemampuanmu, Cho Kyuhyun."
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
Sial! Bathin Kyuhyun. Dia pasti sudah kehilangan ketajamannya sehingga Sungmin bisa menyelinap mendekatinya seperti itu. Pemuda manis itu mengenakan kaus berwarna putih yang dilapisi sweter merah muda dan celana jins yang senada dengan warna kausnya. Sungmin tampak sesegar bunga di halaman rumah pemuda manis itu.
Sungmin menatap Kyuhyun lekat. "Jadi?"
"Aku tidak pantas berada di sini."
"Itu lagi." Dengusnya sebal. Di masa lalu, hal ini menjadi perdebatan terus-menerus diantara mereka. Kyuhyun yang keras kepala selalu berkeyakinan jika perbedaan latar belakang akan selalu memisahkan mereka.
Kyuhyun menggeleng, senyum masam membuat salah satu sudut bibirnya terangkat. "Kau benar-benar tidak mengerti. Iya, kan?"
Sungmin menghapus jarak diantara mereka dan menyelipkan lengannya di leher Kyuhyun. "Apa kau belum pernah mendengarnya, jika cinta bisa menaklukkan segalanya?"
Kyuhyun mengerang tak percaya dengan nada rendah. "Tentu saja jika ini sebuah dongeng. Kau bukan seorang Cinderella." Dia mengelus lembut helaian pemuda manis itu.
"Aku percaya pada akhir yang bahagia," ujar Sungmin seraya tersenyum. "Kau tidak?"
Kyuhyun mencium Sungmin karena tidak kuasa menahan godaan bibir pemuda manis itu seperti halnya dia yang tidak mampu menolak helaan napas berikutnya. Sungmin berjinjit, lengannya melingkar erat di lehernya. Detak jantungnya beradu dengan detak jantung pemuda manis itu, dan aroma alami Sungmin memenuhi indra penciumannya. Dia menarik Sungmin lebih dekat lagi, satu tangannya menangkup bokong pemuda manis itu, menempelkan tubuh mereka. Dia mencium Sungmin sampai dia menginginkan lebih dari sekedar ciuman, lalu menjauhkan diri.
"Cinderella takkan mengalami akhir yang bahagia seandainya dia menikah dengan pria miskin dan bukan seorang pangeran," gumam Kyuhyun, setelah melepaskan ciumannya.
Sungmin meninju lengan Kyuhyun. "Kau bukan pria miskin!"
Kyuhyun membuat isyarat yang menunjuk rumah dan pekarangan di hadapannya. "Ya, bila dibandingkan dengan semua ini."
Sungmin menghembuskan napas jengkel. "Ayolah, pria miskin, kita sarapan. Aku kelaparan."
Kyuhyun menatap pemuda manis itu dengan sorot mata heran. "Kau yang memasak?"
Sungmin menyeringai ke arah Kyuhyun. "Tentu saja bukan," sahutnya seraya menggandeng tangan pria itu. "Ayo."
Mereka tidak makan di dapur atau ruang makan, tetapi disuatu ruangan yang Sungmin sebut sebagai ruang sarapan. Ruangan itu terletak di sisi rumah bagian timur. Perabotannya berwarna gelap, kain pelapis kursinya berbahan beludru berwarna burgandi. Satu dindingnya dipenuhi jendela, menawarkan pemandangan yang jelas akan cahaya matahari dan pekarangan. Ada sebuah lukisan abstrak di dinding di seberangnya.
Pelayan yang melayani mereka mengenakan seragam berwarna abu-abu. Sepertinya wanita itu berumur pertengahan lima puluhan, membuat Kyuhyun menduga wanita itu pasti sudah melayani keluarga ini selama bertahun-tahun. Wanita itu menatap dirinya dengan keterkejutan yang nyaris tidak bisa disembunyikan, terkejut mendapati seorang pria asing di meja sarapan. Tetapi, rasa keterkejutan itu menghilang dengan cepat dan wanita itu menyajikan sarapan untuk mereka, menanyakan jika mereka membutuhkan sesuatu yang lain, dan meninggalkan ruangan itu.
Kyuhyun memandangi makanan yang tersaji di hadapannya. Sungmin telah mengatakan kepada pelayan untuk membawakan 'Menu seperti biasanya'. Dia menatap pemuda manis itu. "Kau sarapan seperti ini setiap harinya?"
"Well... tidak juga. Tapi, eomma dan appa tidak pernah akur dalam menentukan menu sarapan, jadi bibi Kim membuat sedikit dari berbagai macam hidangan dan para pelayan akan membantu menghabiskan hidangan yang tersisa."
Sarapan itu hampir-hampir seperti makan yang terdiri atas tujuh bagian. Jus jeruk, kopi, susu, telur; direbus, diorak-arik, digoreng matang bahkan setengah matang, roti tawar, roti panggang, sandwich, dan salad. Di atas meja terdapat piring berwarna keperakan yang berkilauan dengan hiasan bunga-bunga di tepiannya serta gelas yang terbuat dari kristal.
"Dimana anggota keluargamu yang lain?" tanya Kyuhyun.
"Mungkin masih tidur. Sekarang bahkan belum pukul delapan."
"Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini?"
"Aku tahu kau terbiasa bangun pagi dan kupikir kau mungkin lapar, atau setidaknya membutuhkan kafein."
Sembari menatap dari atas bibir cangkir kopinya, Kyuhyun mengangguk. "Keputusan yang tepat. Apa yang akan ibumu katakan kalau dia tahu aku menginap di sini?"
Sungmin menggeleng. "Entahlah. Aku tahu Sungjin takkan menyukainya, tapi menurutku ibuku takkan peduli. Dia selalu menyukaimu."
Kyuhyun menaikan sebelah alisnya.
"Well, mungkin tidak pada awalnya," ujar Sungmin. "Berapa lama kau bisa tinggal?"
Kyuhyun mengangkat bahu. "Selama yang kau butuhkan."
Sungmin tersenyum ke arah Kyuhyun. "Kalau begitu kau takkan pernah pulang."
Senyum Sungmin langsung menyentuh hati Kyuhyun. Dia baru saja akan meraih tangan pemuda manis itu, lalu menarik tangannya kembali saat pelayan memasuki ruangan. "Ada yang diperlukan lagi, Tuan Muda? Anda mungkin membutuhkan kopi lagi atau yang lainnya?"
"Kopi lagi kedengarannya bagus. Kau ingin sesuatu yang lain, Kyuhyun?"
Kyuhyun menggeleng.
"Kalau begitu kopi saja."
Pelayan itu mengangguk dan meninggalkan ruangan.
Beberapa saat kemudian Sungjin memasuki ruangan. Pemuda itu tiba-tiba menghentikan langkahnya, matanya menyipit begitu melihat Kyuhyun di meja makan. "Apa yang dia lakukan di sini?" Dia berbicara kepada Sungmin meski tatapannya tetap tertuju ke arah Kyuhyun.
"Sepertinya kau perlu belajar lagi tentang sopan santun, Lee Sungjin," sahut Sungmin dengan nada dingin. "Kyuhyun ada di sini atas undanganku."
Sungjin mendengus. "Apa eomma tahu?"
"Tentu saja eomma tahu," jawab Kyeong Suk.
Baik Sungmin maupun Sungjin serentak menoleh ketika ibu mereka melangkah memasuki ruangan.
Kyuhyun baru akan berdiri, tetapi Kyeong Suk mengibaskan tangan dan mengambil tempat duduk di sebelah Sungmin. "Duduklah, Sungjin-ah. Dan berhenti bertingkah seperti orang yang tidak tahu sopan santun."
Sungjin melakukan apa yang disuruh ibunya, meski dengan ekspresi jengkel.
"Bagaimana perasaanmu, eomma?" tanya Sungmin.
"Lebih baik. Rumah sakit baru saja menelepon. Mereka akan memindahkan appa kalian ke kamar rawat inap pagi ini."
"Itu bagus." Sungmin tersenyum lega. "Sudah kubilang appa pasti akan baik-baik saja."
"Ya, syukurlah." Kyeong Suk menatap Kyuhyun yang duduk di seberang meja. "Sudah cukup lama," ujarnya.
Kyuhyun mengangguk. "Ya."
Kyeong Suk menatap Kyuhyun lekat-lekat dengan mata yang sangat mirip dengan mata milik Sungmin. "Kau tampak baik-baik saja."
"Pasti karena sarapan porsi besar yang baru saja saya santap," ucap Kyuhyun.
Kyeong Suk tersenyum. "Ya. Bibi Kim memang jagoan di dapur." Dia menatap piring yang tertutup di tengah meja makan. "Kalian menyisakan sesuatu untuk kami?"
Kyuhyun melirik Sungmin sebelum menjawab. "Tidak banyak. Kami jarang mendapatkan hidangan semacam ini di peternakan."
Kyeong Suk tertawa pelan sementara Sungjin melotot ke arah Kyuhyun.
"Berapa lama kau akan berada di sini, Kyuhyun?" tanya Kyeong Suk.
"Selama yang Sungmin butuhkan."
Tatapan Kyeong Suk singgah sejenak ke arah putra sulungnya. "Oh, begitu."
"Anda tidak perlu khawatir. Saya akan tinggal di kediaman orangtua saya."
"Tenang saja, kau boleh tinggal di sini," ujar Kyeong Suk, lalu menambahkan, "setidaknya sampai suamiku diizinkan pulang."
Kyuhyun menatap adik Sungmin. "Terima kasih, Nyonya Lee. Tapi, menurut saya itu bukan ide yang bagus."
"Baiklah. Tapi, undangan itu tetap berlaku seandainya kau berubah pikiran."
Pada saat itu pelayan kembali masuk dengan membawa senampan penuh piring-piring yang tertutup.
Sungmin menatap Kyuhyun. "Kau sudah selesai?"
Kyuhyun mengangguk.
"Eomma, aku akan mengajak Kyuhyun melihat-lihat pekarangan. Jam berapa kau akan pergi ke rumah sakit?"
"Dokter bilang kita boleh menjenguk appamu pukul sepuluh."
"Baiklah, kami akan siap," ujar Sungmin sebelum pergi seraya menggandeng tangan Kyuhyun.
Begitu mereka berada di luar, Sungmin melingkarkan lengannya di tubuh Kyuhyun. Dia menyeringai jahil. "Aku merindukan ciumanmu."
Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. "Benarkah?"
"Ya. Aku rasa aku bisa mati saat ini juga kalau kau tidak menciumku. Kau tidak ingin hal itu mengusik hati nuranimu. Iya, kan?"
"Tentu saja tidak," gumam Kyuhyun, seraya melingkarkan lengannya ke pinggang Sungmin, lalu mencium pemuda manis itu hingga nyaris kehabisan napas.
"Aku mungkin akan tetap mati," candanya dengan napas tersengal. "Tapi, sungguh cara mati yang menyenangkan."
Sungmin terasa menyenangkan di pelukkannya, terasa hangat dan lembut. Tubuhnya bereaksi seperti yang selalu dia rasakan setiap kali memeluk pemuda manis itu, dan dia menarik Sungmin semakin dekat. "Lihat apa yang telah kau lakukan terhadapku?" ucapnya dengan nada parau. "Akulah yang sekarat sekarang."
"Apa kau mengeluh?"
"Kesakitan," sahut Kyuhyun. "Kesakitan karena sangat mendambakanmu."
Sungmin mendongak menatap Kyuhyun. "Aku bisa menghentikan rasa sakit itu."
Mata Sungmin berpendar akan cinta yang melimpah untuknya, sehingga membuat hatinya merasakan sakit. "Sungmin..." Kyuhyun membenamkan kepalanya di ceruk leher pemuda manis itu, sejenak tergoda untuk menerima apa yang pemuda manis itu tawarkan, meski menyadari dia akan membenci dirinya sendiri seandainya dia melakukan hal itu.
"Aku tergila-gila padamu, kau tahu itu," bisik Sungmin. "Kurasa aku selalu tergila-gila padamu."
Kyuhyun mengerang pelan. "Sungmin, sayang..."
"Jangan mulai!" Sungmin memperingatkan. "Aku tidak mau mendengar tentang betapa tidak pantasnya dirimu bagiku, atau semua omong kosong apapun yang terlontar dari mulutmu setiap kali segala sesuatu mulai terasa serius diantara kita."
Kyuhyun menengadah, menatap lekat-lekat mata Sungmin. "Aku takut mengecewakanmu. Aku tidak ingin kau meninggalkan semua yang kau miliki di sini agar bisa bersamaku. Aku tidak ingin kau menyesal hidup bersamaku dan membenciku karena tidak mampu memberikan kehidupan yang biasanya kau nikmati."
"Kyuhyun—"
"Dengarkan aku baik-baik. Peternakan itu memang akan menjadi miliku suatu saat nanti, tetapi itu tidak akan membuatku sesukses ayahmu. Aku tidak akan mampu mengajakmu berlibur ke Eropa dan membelikanmu mobil baru setiap tahun—"
"Itu tidak penting."
"Benarkah?" Kyuhyun melihat ke arah rumah dan pekarangan luas yang mengelilinginya, kolam renang, dan garasi yang memuat lebih dari lima mobil. "Apa kau yakin? Kau sudah melihat tempat aku tinggal, sebuah pondok dengan empat kamar. Bisakah kau mengatakan yang sejujurnya kepadaku, bahwa kau akan bahagia tinggal di sana? Bahkan tempatku tidak cukup besar untuk menampung setengah koleksi pakaianmu."
Sungmin tertawa pelan. "Menurutku justru pertanyaannya sekarang adalah apakah kau tahan hidup bersamaku?"
Itu pertanyaan bagus, tetapi Kyuhyun tidak memiliki jawabannya. Ditambah mereka berdua selalu berhati-hati menghindari kata cinta.
"Entah bagaimana kita akan mengatasinya," jawab Kyuhyun. Dia tersenyum ke arah Sungmin. "Kalau kau bisa tahan menikah dengan pria yang tidak memiliki apa-apa, kurasa aku harus mencari cara untuk menyesuaikan diri dengan pria yang memiliki segalanya."
Kyuhyun berharap dia bisa, karena dia tidak yakin mampu melepaskan Sungmin sekarang setelah menemukan pemuda manis itu kembali.
.
.
.
TBC
Semoga chapter ini bisa dinikmati oleh teman-teman sekalian. Terutama yang sedang menggalau karena tidak bisa menonton SS6. Saya juga sama ko, senasib. Sejujurnya saya sendiri tidak bisa membayangkan sebuah panggung tanpa seorang Lee Sungmin, bagaimanapun dia bias saya TT.
Jika teman-teman merasakan dampaknya, saya juga ko. Teman-teman kehilangan beberapa author dan ff KyuMin, saya juga banyak kehilangan readers, meski saya bersyukur nama-nama yang setia menggentayangi kotak review saya tidak sepenuhnya menghilang. Saya hapal dan selalu menunggu tanggapan kalian loh. ^^
Saya belum tahu ff ini sampai di chapter berapa, bisa jadi chapter depan endingnya atau sekitar 2 chapter lagi. Dan saya luar biasa merasa lega karena bagian yang saya buat bisa menyatu dengan ceritanya, well... saya takut sekali saat mempost chapter kemarin ORZ.
Sekali-kali saya buat ff Kyuhyun jadi miskin, bosen kan kalau Sungmin terus-terusan yang dibuat miskin LOL.
Terima kasih bagi teman-teman yang masih mereview ff ini, maaf untuk segala kekurangannya. Selamat datang bagi readers baru. ^^
Sorry for Typo(S).
RnR?
