Disclaimer: BLEACH punya kusanagi dalam mimpi indah kusa...XD *dicincang Tite Kubo*
Seeking Happiness
Chapter 11
Seorang bocah berambut salju sedang duduk di bangku meja belajar di dekat jendela. Bocah itu sangat serius membaca isi buku tebal di tangannya hingga ia tidak menyadari seorang wanita berkaca mata memanggil namanya. Sang bocah berambut salju tidak akan menyadari keberadaan wanita berkaca mata itu jika saja sang wanita berambut hitam tidak menyentuh pundak kurusnya.
"Toushiro..." panggil Nanao, sang penggurus panti asuhan.
Lalu sang bocah berambut salju itu terpejat dan mengalihkan mata emeraldnya dari buku tebal di atas meja tuanya kepada sang wanita berambut hitam.
"Ada tamu yang ingin bertemu denganmu, Toushiro!" kata Nanao. Ia tersenyum tipis tetapi sorot matanya terlihat sedih.
Mendengar hal itu, mata sang bocah berambut salju terbelalak. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya di atas pahanya dan meremas kain celana pendek hitam lusuhnya, "Baiklah... aku akan segera menemui mereka." jawab sang bocah sambil menundukan kepalanya.
Nanao menganggukan kepalanya, setelah itu ia kembali ke ruang tamu untuk kembali menjamu tamu.
'Tamu'... sebutan itu adalah panggilan hormat untuk mereka yang datang ke panti asuhan ini untuk mengadopsi salah satu anak dari panti asuhan ini.
Beberapa hari yang lalu, sepasang suami istri datang ke panti asuhan ini. Mereka adalah pasangan yang tidak memiliki anak karena sang istri terlalu lemah untuk mengandung dan melahirkan anak. Ketika pasangan itu datang, kebetulan saat itu Toushiro lah yang pertama kali bertemu dengan mereka dan menyambut mereka.
Sejak pertama kali mereka melihat Toushiro, sang istri tertarik dengan sang bocah berambut salju dan mengajaknya untuk datang ke rumah mereka sebagai anak angkat mereka. Diberi ajakan tiba-tiba seperti itu, Toushiro tidak bisa menjawab ajakan kepada mereka. Pasangan suami istri itu kemudian memberikan kesempatan kepada sang bocah berambut salju untuk berpikir tentang ajakan mereka. Mereka mengatakan akan kembali beberapa hari lagi untuk mendengar jawaban sang bocah berambut salju, dan sekaranglah hari itu.
Toushiro menggeretakkan giginya.
Ketika ia menceritakan tentang ajakan itu kepada Rukia dan Renji, mereka memaksanya untuk menerima tawaran pasangan itu. Mereka mengatakan jika ia pergi bersama pasangan itu, maka ia akan hidup bahagia. Ia akan tinggal rumah yang besar dan bisa makan makanan enak.
Pundak kecil Toushiro bergetar karena menahan marah.
Renji dan Rukia tidak mengerti perasaannya. Walaupun panti asuhan ini hanyalah sebuah panti asuhan kecil dan miskin, tetapi baginya panti asuhan ini merupakan rumah yang sangat berharganya. Di sinilah tempat ia tumbuh bersama-sama keluarga yang sudah merawat dan menyayanginya sepenuh hati. Di sinilah kebahagiannya, tempat berbagi suka dan duka. Ia tidak ingin meninggalkan tempat yang sudah membesarkannya... Ia tidak ingin meninggalkan rumah dan keluarga yang sangat di cintainya...
Lagi pula... Ia sudah berjanji kepada Renji dan Rukia untuk terus hidup bersama. Ia tidak ingin mengingkarinya.
Sang bocah berambut putih sudah membulatkan keputusannya. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan datang menemui pasangan yang sudah menanti jawabannya di ruang tamu.
~H~
Dengan gugup Toushiro membuka pintu ruang tamu. Kemudian ia disambut oleh sepasang tangan kurus yang sangat lembut dan hangat di pundaknya.
Sang bocah berambut salju mengangkat wajahnya dan bertatapan dengan seorang wanita bermata violet dan berambut hitam yang tersenyum lembut kepadanya. Ia nampak sangat mirip dengan Rukia. Wanita itu adalah sang istri yang mengajaknya untuk menjadi anak angkatnya.
"Toushiro..." panggilnya. Suaranya terdengar sangat lembut dan tatapan matanya tampak sangat lembut menatap calon anak angkatnya. Tidak diragukan lagi, ia akan sangat menyayangi sang bocah berambut salju.
Toushiro memperhatikan sekelilingnya. Renji, Rukia, Nanao dan beberapa anak lainnya yang yang berada di ruangan itu tersenyum kepadanya.
'Kenapa? Kenapa mereka tersenyum? ' tanya sang bocah berambut salju dalam hati. Ia tidak mengerti kenapa mereka bisa tersenyum seperti itu pada hal bisa jadi hari ini adalah hari terakhir mereka melihatnya, 'Apakah mereka membenciku? Atau... karena mereka merasa bahagia karena akhirnya aku akan memiliki keluarga baru dan mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik?'
"Toushiro... apakah kau sudah memikirkan ajakan kami?" tanya sang wanita bermata violet memecah lamunan sang bocah berambut salju. Ia tersenyum sangat lembut kepada sang bocah bermata emerald di hadapannya.
Toushiro mengepalkan tanganya. Ia sudah yakin dengan keputusan yang dipilihnya, "Aku..." kemudian ia terdiam sejenak dan menelan ludahnya.
'Maaf... Ren-nii... Ruki-nee... tetapi inilah keputusan yang aku pilih.' Pikir sang bocah berambut salju.
Kemudian Toushiro mundur menjauhi sang wanita bermata violet dan menundukan kepalanya dalam, "MAAF..." teriak sang bocah berambut salju, " Tetapi aku tidak ingin meninggalkan tempat ini... Maaf!"
Semua orang yang berada ditempat itu terkejut mendengar jawaban Toushiro. Mereka tidak menyangka bahwa sang bocah berambut salju akan menolak ajakan yang sangat langka ini.
"Ke-kenapa?" tanya sang wanita bermata violet di hadapannya sedih, "Apakah kau membenci kami, Toushiro?"
"Bu-bukan begitu..." jawab sang bocah berambut salju. Tetapi belum sempat ia menjelaskan alasannya, tiba-tiba Renji menariknya keluar dari ruangan itu dengan kasar.
Sebelum sang remaja berambut merah menutup pintu di belakangnya, sang bocah berambut salju melihat Rukia berlari mendekati sang wanita bermata violet dan mengatakan sesuatu kepadanya dengan panik.
Renji mendorong tubuh kecil Toushiro ke tembok dan menghantam tembok di kedua sisi wajah sang bocah berambut salju dengan telapak tangannya. Matanya terlihat sangat marah, "Apa yang kau katakan, Touhiro? Apa kau sadar dengan apa yang telah kau katakan?"
Mendengar pertanyaan Renji, Toushiro mengerutkan dahinya, "Bukan urusanmu, Ren-nii!" jawab Toushiro dengan keras kepala sambil mengalihkan matanya dari tatapan marah Renji.
Mata emerald sang bocah berambut salju nampak tidak kalah marah dengan sang remaja berambut merah, tetapi di dalam hatinya ia merasa sangat sedih, 'Sebegitunya kah Ren-nii menginginkanku pergi dari tempat ini?'
"Apa maksudmu, Toushiro?" bentak Renji.
Toushiro terpejat. Baru kali ini Renji membentaknya seperti itu, ia pasti sangat marah kepadanya. Badan dan tangan Toushiro sedikit bergetar ketakutan, tetapi kemudian sang bocah berambut putih melipat kedua tangannya di depan dadanya untuk menutupinya.
"Apa kau tahu, mereka berasal dari keluarga yang sangat kaya di Seireitei. Mereka juga tampak sangat baik dan menyayangimu." Tambah Renji, "Semua anak di tempat ini berharap bisa mendapatkan keluarga yang baik seperti itu dan berharap bisa hidup lebih baik. Kau mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan apa yang mereka harapkan, tetapi kau malah menolaknya. Dengar Toushiro! Kesempatan seperti ini tidak pasti akan datang lagi!"
Toushiro menggeretakkan giginya kesal. Kemudian ia mendorong tubuh Renji dari hadapannya dan berlari menuju kamarnya, "Ren-nii tidak mengerti... kau tidak mengerti apa yang aku rasakan!" teriak Toushiro frustasi.
"Toushiro... kembali kesini!" panggil Renji. Tetapi sang bocah berambut salju tidak mau mendengarnya dan terus berlari.
Renji meletakkan telapak tangan kanannya di wajahnya, "'Tidak mengerti' katanya?" desis Renji pelan. Ia mengepalkan tangannya sangat keras dan mengeretakkan giginya dengan marah.
'Aku sangat mengerti perasaanmu Toushiro... Sangat mengerti. Aku pun tidak ingin kau pergi, tetapi semua ini demi kebaikanmu...'
~H~
"Aku sudah menjelaskannya kepada pasangan suami istri itu. Aku sangat bersyukur mereka mau mengerti dan penawaran itu masih berlaku. Dua hari lagi mereka akan datang untuk mendengar keputusan Toushiro lagi." jelas Rukia kepada Renji juga Toushiro yang bersembunyi di bawah selimutnya di atas kasurnya.
Mata Rukia dan Renji menatap ke arah Toushiro, "Dengar Toushiro! kali ini kau harus menerima tawaran mereka!" kata Renji dengan nada dingin. Setelah itu Rukia dan Renji keluar dari kamar meninggalkan sang bocah berambut salju sendirian untuk berpikir.
"Renji... kau tidak perlu mengatakannya sedingin itu kan?" kata Rukia merasa tidak tega kepada Toushiro.
Renji menyandarkan pundaknya di pintu yang tertutup dan kemudian meletakkan tangannya di wajahnya, "Aku tidak ingin ia pergi... aku tidak ingin ia pergi..." gumam Renji sangat pelan berkali-kali.
Rukia meletakkan tangannya di pundak Renji yang bergetar dan tersenyum sedih, "Kau sudah melakukan hal yang benar, Renji! Ini semua... demi kebaikannya." Kata Rukia pelan. Tanpa ia sadari air matanya mengalir di pipinya.
Sementara itu, di dalam kamar Toushiro meringkuk di bawah selimutnya dan memeluk tubuh kecilnya yang bergetar, 'Kenapa? Kenapa mereka begitu menginginkanku pergi? Padahal kita sudah berjanji untuk selalu bersama-sama.' tanya Toushiro dalam hati. Ia menangis di bawah selimutnya.
'Aku tidak ingin pergi... aku tidak ingin pergi... tapi...'
~H~
Dua hari pun berlalu dengan cepat...
Toushiro menatap keluar jendela kamarnya di lantai dua dan melihat Rukia menyambut pasangan suami istri yang datang untuk menjemputnya. Kemudian dengan langkah berat ia turun ke bawah untuk menemui mereka.
'Ini yang Ren-nii dan Ruki-nee inginkan... apa boleh buat...' kata Toushiro dalam hati.
Ketika Toushiro hendak membuka pintu ruang tamu, ia mendengar percakapan Rukia dan sang istri, "Neh... Rukia, jika Toushiro menolak ikut bersama kami... maukah kau ikut bersama kami?" tanya sang wanita bermata violet.
"Aku..." terdengar suara Rukia.
Toushiro menarik tangannya dari gagang pintu. Dalam kepalanya teringat kembali perkataan Renji, 'Semua anak di tempat ini berharap bisa mendapatkan keluarga yang baik seperti itu dan berharap bisa hidup lebih baik.'
'Apakah... Ruki-nee juga menginginkan hal itu?' pikir Toushiro.
"Jika boleh... aku mau." Jawab Rukia.
Deg... Toushiro merasa nafasnya terhenti.
Ya... semua anak di tempat ini menginginkan kebahagiaan, begitu juga dengan Ruki-nee...
"Maaf Kuchiki-san... tapi aku tidak bisa ikut denganmu..." kata Toushiro tiba-tiba membuka pintu ruang tamu dan membuat semua orang yang berada di ruang itu terpejat.
'Ah... apa yang aku katakan? Kenapa mulutku bergerak sendiri?' tanya Toushiro dalam hati. Ia bahkan tidak mengerti kenapa ia bisa mengatakan hal itu. Tetapi ia tahu pasti akibat ucapannya.
"Aku rasa ada orang yang lebih pantas menjadi anak anda... aku... aku... maaf!"
Setelah itu, tanpa bisa mengatakan sampai selesai apa yang ingin ia katakan, Toushiro berlari meninggalkan tempat itu. Ia tidak tahu kenapa ia berlari dan kemana ia berlari, tetapi ia terus berlari kemanapun kaki kecilnya membawanya.
Air matanya mengalir di pipinya, ia merasa dadanya sangat sesak dan sakit. Ia tidak ingin Rukia pergi meninggalkannya, tetapi demi kebahagian Rukia... rasa sakit itu tidak seberapa...
Sekarang... Ia mulai mengerti apa yang Renji dan Rukia rasakan...
~H~
Mind to review?
-kusanagi-
