Naruto is belonging to Masashi Kishimoto
Confused is belonging to Ayume Megumi
Don't like don't read, if you don't like but you read it, die first please.
3
2
1
Chapter 11 …
.
.
… is start from now on
.
.
.
.
.
.
"Mau kah kau menjadi kekasihku, Sakura?"
"Eum… e-etto…." Sakura tampak menggenggam erat kedua tangannya. Pandangan matanya tertunduk tanpa berani menatap ke arah mata obsidian milik Sasuke.
"Ya sudah, kalau kau belum bisa menjawabnya sekarang", kata Sasuke hendak beranjak dari ruang UKS.
"B-baiklah, aku mau menjadi kekasihmu, Sasuke-kun", ucap Sakura menghentikan langkah Sasuke yang sudah mencapai pintu UKS. Seulas senyum terpatri di wajah tampan Sasuke Uchiha, 'Bukankah kali ini aku menang?' batinnya.
.
.
.
.
.
Pagi hari pun tiba, menjadi penanda hari kedua orientasi mahasiswa di Universitas Konoha. Seperti biasa para anggota panitia ospek yang berjuluk Akatsuki berkumpul di suatu ruangan khusus kepanitiaan.
"Perhatian semuanya, apakah semua anggota sudah berkumpul hari ini?" ketua Akatsuki, Pein, bertanya pada seluruh manusia yang ada di ruangan panitia.
"Sasuke belum datang", kali ini yang berujar adalah Deidara, si cowok manis berambut pirang.
"Sasori, Itachi, kemana adik kalian?" tanya Pein kembali tapi hanya ditujukan pada kakak-kakak Sasuke.
"Entahlah, aku berbeda asrama dan jurusan, jangan tanyakan padaku," jawab keduanya serempak.
"Hahaha, Itachi dan Sasori melontarkan kata yang sama. Lihatlah, mereka benar-benar saudara", ujar Deidara menahan tawanya.
"Cih!" ujar Itachi dan Sasori secara bersamaan untuk yang kedua kalinya.
"Hahahahaha…." Seisi ruangan kepanitiaan riuh dengan tawa dari anggota yang lainnya.
"Hentikan, kali ini aku tidak ingin bercanda lagi", tegas Pein dengan sedikit membentak.
"Telepon saja Sasuke, Pein", kali ini yang berbicara adalah satu-satunya anggota panitia cewek bernama Konan.
"Baiklah", Pein menuruti perintah Konan. Belum sempat ia menekan tombol call di smartphone miliknya, pintu ruangan kepanitiaan terbuka yang menimbulkan suara berdecit ringan karena bergesekan dengan lantai kemudian menampilkan sesosok pria yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Pemuda berambut raven muncul dengan tangan kirinya yang menggenggam erat seorang gadis berambut bubble gum. Tak pelak hal itu menjadi pusat perhatian seluruh anggota akatsuki yang berkumpul saat ini.
"Apa-apaan kau, Sasuke?" kali ini Sasori yang memulai pembicaraan.
"Tidak ada apa-apa, Nii-san. Aku hanya ingin mengatakan bahwa sekarang Sakura sudah resmi menjadi kekasihku. Itu saja."
"Jangan membual, apa buktinya?" Sasori mulai tersulut emosinya.
'Click'
Sasuke menekan tombol play di handphone androidnya, dan terdengarlah suatu percakapan yang ternyata sudah direkam oleh Sasuke
Mau kah kau menjadi kekasihku, Sakura?
Eum… e-etto….
Ya sudah, kalau kau belum bisa menjawabnya sekarang.
B-baiklah, aku mau menjadi kekasihmu, Sasuke-kun.
Rekaman, antara seorang laki-laki yang diyakini adalah Sasuke dengan seorang perempuan yang kemungkinan adalah Sakura, akhirnya berhenti dengan otomatis.
"Apa sekarang kau sudah percaya, Sasori-nii?", tanya Sasuke dengan seulas senyum terpatri di wajahnya.
"Sasuke-kun, kau… Kenapa kau merekamnya? Aku jadi malu", kali ini Sakura yang angkat bicara.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku hanya ingin memperkenalkanmu kepada yang lain, sekarang cepatlah kembali ke fakultasmu."
"Tapi…" dengan takut-takut Sakura memandang ke arah Sasori dan Itachi dan yang terlihat oleh ekor mata Sakura adalah kedua mantan kakaknya itu tertunduk serta mengepalkan erat kedua tangannya.
Cupp!
Sebuah kecupan ringan Sasuke daratkan ke puncak kepala Sakura yang membuat gadis itu terpaku sekaligus merona secara bersamaan.
"Sudah, kembalilah sana", ujar Sasuke kembali.
"Hey… hey… Sasuke! Kalau mau bermesraan jangan di sini, aku merasa seperti menonton drama romantis", ungkap Deidara, sedangkan yang lain hanya diam melihat perilaku Sasuke.
Setelah melihat Sakura pergi, Sasuke duduk mengambil tempat yang kosong yakni diantara Itachi dan Sasori.
"Hidan, aku haus. Boleh aku minta minuman kalengmu?" kali ini Itachi yang angkat bicara.
"Ini?" tanya Hidan memastikan sambil menunjuk ke arah minuman kaleng beralkohol kesukaannya.
"Minum ini saja, Itachi", Kisame menyodorkan sebotol air mineral kepada Itachi, namun ditolak oleh sang uchiha.
"Aku menginginkan minuman yang dibawa Hidan, Kisame."
"Ahh… yaa silahkan saja", Hidan memberikan minumannya dan tanpa banyak bicara lagi Itachi menenggak minuman itu sampai tandas isinya.
"Sepertinya kau sangat kehausan, Itachi. Lagi pula sejak kapan kau menyukai minuman beralkohol?"
"Boleh aku minta lagi?", tanpa menjawab pertanyaan Hidan, Itachi menyambar kembali sekaleng minuman sejenis yang ada di meja Hidan dan lagi-lagi langsung menenggaknya sampai habis. Dan ketika ia menyambar minuman untuk ke tiga kalinya, Sasori menghampirinya dan merebut minuman itu dari tangan Itachi.
"Hentikan! Kau itu tidak kuat minum, Itachi", Sasori mulai geram dengan tindakan Itachi. Dan benar saja, tak lama kemudian Itachi terlihat memegang kepalanya. Sepertinya efek minuman beralkohol itu mulai bereaksi.
"Sepertinya Itachi tidak bisa memberikan pengarahan orientasi untuk fakultas kedokteran, ketua. Jadi lebih baik dia beristirahat di sini untuk beberapa waktu." Sasori mengizinkan Itachi yang wajahnya terlihat mulai memerah.
"Apa kau sedang banyak pikiran atau kurang enak badan, Itachi?" tanya Pein pada Itachi.
"Aku tidak apa-apa, jangan terlalu khawatir. Aku masih bias memberikan pengarahan di fakultas manapun selain kedokteran, jadi pindahkan aku ke fakultas lain saja." Jawab Itachi meyakinkan ketuanya.
"Memangnya ada apa? Kenapa tiba-tiba kau ingin pindah memberikan pengarahan ke fakultas lain? Padahal sejak awal kau yang sangat antusias di fakultas kedokteran." Konan mencurigai sesuatu pada Itachi.
"Bukankah tidak relevan? Aku berada di fakultas penerbangan dan harus memberikan pengarahan di kedokteran?" kilah Itachi dengan jawaban yang masih masuk di akal.
"Kami semua tahu kemampuan otakmu, Itachi. Kau bisa diletakkan di fakultas manapun. Lagipula kalau kau memang tidak setuju kenapa baru bilang sekarang? Kita semua sudah memposisikan bagian masing-masing di 12 jurusan yang tersedia. Ada apa denganmu, Itachi?"
"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu, Konan. Pindah saja aku ke fakultas lain selain kedokteran."
"Biar aku saja yang menggantikan Aniki di fakultas kedokteran, dan sebagai gantinya dia yang menggantikanku memberi pengarahan di fakultas teknik, bagaiamana?" Sasuke mulai bersuara.
"Baiklah, Sasuke. Kau pindah memberi pengarahan di fakultas kedokteran, lalu kita ajak para mahasiswa berkeliling kampus kita dan memberi pelatihan outbound pada mereka. Kegiatan kita kali ini akan berakhir pukul 5 Sore, sekarang kalian bisa bubar dan lakukan tugas masing-masing", perintah sang ketua pada anggotanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah semua Akatsuki keluar dari ruangan untuk melaksanakan tugas masing-masing, Sasori menyeret Itachi dan Sasuke menuju ke suatu gudang.
"Lepaskan! Ada apa, Nii-san?" Sasuke tidak terima atas perlakuan salah satu kakaknya itu.
"Jelaskan padaku, apa maksudmu membawa Sakura ke ruang Akatsuki tadi? Kau ingin memberitahu seluruh dunia kalau kau sekarang menang, hah? Tidak ada yang tahu, termasuk Akatsuki, bahwa kita bertiga sedang memperebutkan seorang gadis. Bagaimana jika mereka tahu? Apa tujuanmu sebenarnya, Sasuke? KATAKAN PADAKU!" ujar Sasori penuh amarah.
"Aku tidak bermaksud apa-apa, justru yang membuat mereka curiga adalah Itachi-nii yang tiba-tiba tidak ingin ke fakultas kedokteran. Aku hanya ingin, bukan Nii-san saja yang tak mendekati kekasihku, tapi seluruh anggota Akatsuki. Kita tahu Sakura sangat cantik dan bisa menarik perhatian siapa saja."
"Sudah cukup, Sasuke. Aku tidak ingin mendengarnya lagi." tukas Itachi yang wajahnya terlihat memerah dan sedikit memijit kepalanya yang pening.
"Apakah hatimu sakit, Itachi-nii? Sesakit apa ketika kau melihat gadis yang kau suka ternyata menyukai orang lain yang ternyata adikmu sendiri, hn?"
"Apa maksudmu, Sasuke?", Itachi memandang dalam mata obsidian milik Sasuke, mencoba mencari tahu apa maksud dari perkataan adiknya. Belum sempat menemukan jawabannya, sebuah suara menginterupsi mereka bertiga.
"Kenapa kalian berkumpul disini? Jika ada masalah pribadi, selesaikan setelah masa orientasi", ujar Pein.
"Gomennasai", jawab ketiganya serempak.
.
.
.
.
.
.
.
.
Langit sudah mulai senja, Sasuke terlihat duduk merenung di bawah pohon yang rindang sambil menatap ke arah langit. Pikirannya kembali berputar pada peristiwa yang terjadi antara ia dan kedua saudaranya. Sasuke mengingat kembali perkataan Sasori maupun Itachi yang menanyakan apa tujuan Sasuke mengumumkan pada semua orang perihal ia sudah memiliki Sakura sebagai kekasihnya. Sejujurnya Sasuke hanya ingin membuat Itachi menderita seperti yang ia rasakan dahulu dengan Hinata. Bukan karena Sasuke masih memiliki perasaan kepada Hinata, hanya saja Sasuke ingin sekali membalas dendam atas rasa sakit hatinya karena mantan kekasihnya itu yang ternyata selama ini tidak menyukainya, melainkan menyukai kakaknya. Sebenarnya Itachi pun tidak salah dalam hal ini, karena dia juga tidak tahu menahu perihal Hinata menyukainya. Namun Sasuke tidak bisa dengan mudah memaafkan hal tersebut, dan sampai hatinya puas baru ia akan kembali seperti sedia kala.
"Sasuke-kun", Suara milik Sakura membuyarkan lamunan Sasuke.
"Kenapa kau di sini? Bukankah kau bilang jam 5 sore berkumpul lagi di ruang rapat?"
"Sebentar saja, aku ingin istirahat", ujar Sasuke. "Kemarilah, Sakura. Aku ingin tidur di pangkuanmu", Sasuke menepuk-nepuk rerumputan di sampingnya. Tanpa berkata lagi Sakura duduk disampingnya dan Sasuke pun tidur dengan paha Sakura sebagai bantalnya.
"Kau kelihatan risau, apa kau bertengkar lagi dengan mereka berdua?", tanya Sakura memulai pembicaraan.
"Apa kau benar-benar menyukaiku?" tanya Sasuke tanpa menjawab pertanyaan Sakura.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Tidak, aku hanya ingin memastikan saja. Mungkin kau memiliki perasaan pada Itachi-nii atau Sasori-nii?"
"Jujur saja aku juga memikirkan hal itu tapi setelah aku pikir-pikir lagi, aku rasa aku memang menyukaimu Sasuke-kun. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau dulu adalah mantan dari Hinata. Memikirkanya saja sudah membuatku jengkel."
"Hn, jadi kau benar-benar menyukaiku? Kalau memang seperti itu, aku ingin mendengar ungkapan cintamu Sakura", ujar Sasuke sembari salah satu tangannya menarik tengkuk Sakura mencoba untuk mendekatkan wajah sang gadis dengan wajah tampan miliknya.
"E-ehh! A-apa yang kau lakukan?", Sakura berkata dengan raut wajah penuh kepanikan.
"Katakan aishiteru atau kalau tidak aku akan menciummu. Bagaimana, Nona Haruno? Tawaran yang menggiurkan bukan?" perkataan Sasuke diikuti seringaian yang terpatri di wajah tampannya.
"Sasu, hentikan! Kita masih di lingkungan kampus. Kau mau kita kena hukuman, hei?" wajah Sakura semakin panik, bukannya menurut tapi Sasuke justru menarik tengkuk Sakura semakin dalam sehinga batang hidung mereka dapat bersentuhan dengan mudahnnya.
"Hukuman kau bilang? Masa bodoh, aku tidak peduli. Aku memiliki saham yang besar di kampus ini. Dan tidak ada seorangpun yang dapat menghukumku, Sakura sayang. Ayo katakan aishiteru atau sebentar lagi bibirku ini akan mencium bibir merah mudamu itu", sontak wajah Sakura memerah seketika layaknya buah tomat kesukaan Sasuke dan itu justru membuat Sasuke semakin gemas dibuatnya, dan membuat tangan Sasuke yang berada di tengkuk Sakura semakin menarik gadis itu ke bawah menghadapnya sehingga dapat dirasakan oleh keduanya hangat nafas masing-masing.
"Ehemm! Maaf menggangu, tapi Sasuke kau disuruh Pein untuk ke ruang rapat." suara seseorang yang oleh keduanya begitu familiar, baik Sasuke maupun Sakura sempat membeku di tempat karena keterkejutan yang mereka alami. Namun sedetik kemudian Sasuke memasang seringainya kembali. "Baiklah, aku akan segera kesana, Aniki. Kau duluan saja", jawab Sasuke atas perintah kakaknya yang memiliki iris mata onix yang sama dengan miliknya.
"Tentu, Otouto", ujar Itachi langsung berbalik arah tanpa ada niatan untuk melihat kembali apa yang kedua sejoli itu lakukan sampai Sasuke masih saja ingin menunda kepergiaannya ke ruang rapat.
Sebagai orang yang sudah dewasa tentu saja itachi mengerti apa yang ingin dilakukan adiknya terhadap gadis yang selama ini ia sukai. Ciuman bukanlah hal yang tabu lagi bagi insan yang sedang dilanda kasmaran dan hal itulah yan sedang menggelayut manja dibenak Itachi bahwa adiknya itu ingin melanjutkan ciuman yang sempat terganggu oleh kehadirannya hingga tanpa sadar tangan Itachi menggantung di depan dada berharap rasa sakit itu sedikit menghilang. Namun bukannya menghilang, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi hinggga ia memutuskan untuk membeli minuman kaleng beralkohol yang selama ini dikonsumsi oleh Hidan.
.
.
.
Kling! Kling!
Suara uang koin yang jatuh di mesin minuman membuat pemiliknya memencet tombol di mesin itu hingga menggelindinglah minuman yang telah ia pilih. Tidak lebih dari lima botol shochu berada di tangan Itachi. Minuman yang memiliki kadar alkohol lebih tinggi dari sake namun masih rendah dibandingkan whiskey. Namun meskipun begitu cukup membuat Itachi tumbang mengingat ia adalah peminum yang buruk dibandingkan Sasuke dan Sasori. Setelah lima kaleng shochu berada di tangan, Itachi memutuskan untuk duduk disalah satu bangku yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian salah satu tangannya mengambil smartphone miliknya dan menuliskan beberapa baris sms yang ia tujukan kepada kakak tertuanya, Sasori.
To : Sasori-nii
Nii-san aku sudah menyuruh Sasuke segera ke tempat rapat ketika ku bertemu dengannya, namun tiba-tiba aku merasa kurang enak badan sehingga aku memutuskan kembali ke asrama. Sampaikan permintaan maafku kepada ketua dan jangan terlalu mengkhawatirkanku.
Send!
Segera setelah menekan tombol kirim di handphone miliknya itachi membuka kaleng-kaleng shochu yang berada ditangannya. Tiga kaleng shochu telah tandas diminum olehnya hingga ia membuka kaleng ke empat dan kelima dan ia habiskan tanpa tersisa sedikitpun. Rasa pening segera menyambutnya seketika ketika cairan pahit memabukkan itu sampai di lambungnya. Mata Itachi berkunang-kunang melihat lingkungan sekitarnya, pemuda itu berulang kali memijat pangkal hidungnya berharap pening yan ia rasakan sedikit menghilang, namun kenyataannnya tidak. Kemudian di ujung ekor matanya ia melihat seorang gadis menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"S-senpai kau kenapa?", seorang gadis berambut indigo menghampirinya, mengguncang-guncangkan bahu tegap miliknya. Namun tetap saja tidak direspon oleh kakak dari uchiha Sasuke dan adik dari Akasuna no Sasori ini.
"A-apa yang harus kulakukan? Senpai, sadarlah. Kumohon", Hinata yang melihat kesadaran Itachi yang terus menurun, dan kelopak matanya yang setengah terbuka. Memaksa gadis itu untuk terus-menerus mengguncang-guncangkan bahu pemuda di depannya, berharap pemilik uchiha airlines itu sadar kembali.
"Ya Tuhan… Bagaimana ini?" ujar Hinata putus asa ketika melihat kedua kelopak mata Itachi tertutup sempurna
.
.
.
.
.
.
-Ruang rapat Akatsuki-
Kurang lebih dua jam telah berlalu semenjak Pein memulai rapat untuk para anggota akatsuki. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 7 malam hari, semua anggota menggerak-nggerakkan badan mereka karena rasa pegal yang menyerang.
"Ayolah ketua kita tutup saja rapat ini", gerutu Deidara yang sudah mulai bosan dengan hal-hal yang berbau dengan celotehan-celotehan sang ketua.
"Deidara benar, kita tutup saja rapatnya. Toh ospek kita sukses kali ini. Masalah kapan dan dimana kita merayakan kesuksesan ospek tahun ini, kita bicarakan nanti. Aku sudah pegal dan ingin kembali tidur di asrama", ujar Hidan menyetujui usulan anggota yang berambut pirang panjang itu.
"Baiklah baiklah, rapat kali ini aku nyatakan selesai."
"Haahh akhirnya…..", ungkapan kelegaan dari seluruh anggota Akatsuki.
.
.
.
.
.
Sasuke dan Sasori berjalan beriringan menuju asrama masing-masing. Dikarenakan mereka memilih jurusan yang berbeda-beda maka asrama keduanya pun berbeda. Sasuke di fakultas teknik dan Sasori di fakultas ekonomi bisnis. Keduanya berjalan tanpa sepatah katapun terlontar dari mereka sehingga Sasuke yang merasa jengah dengan kebisuan ini memutuskan untuk memecah keheningan di antara keduanya.
"Sasori-nii?"
"Hn."
"Memangnya Itachi-nii sakit apa hingga tidak menghadiri rapat?"
"Entahlah." jawab Sasori singkat.
"Tadi sore aku bertemu dengannya dan nampaknya dia baik-baik saja."
"Aku juga tidak tahu, Sasuke. Dan sekarang aku mau lihat keadaannya."
"Aku ikut", ujar Sasuke
"Terserah", jawab Sasori dengan perasaan sebal yang masih menggelayut dalam dadanya. Dibenaknya masih teringat jelas bagaimana Sasuke mengumumkan kepada semua orang bahwa Sakura telah ia klaim sebagai miliknya
Tidak lebih dari 15 menit kedua kakak beradik itu telah sampai di asrama fakultas penerbangan, jurusan yang Itachi pilih. Namun ketika keduanya telah sampai di depan sebuah kamar yang mereka yakini adalah milik saudara mereka, Sasori langsung saja mengetuk pintu kayu itu dengan keras namun karena tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar maka ia berinisiatif membuka pintu tersebut. Dan beruntung ternyata pintu kamar tersebut tidak dikunci oleh pemiliknya. Lalu masuklah keduanya ke dalam ruangan yang didominasi oleh warna putih itu dengan berbagai barang milik Itachi yang tertata rapi disana. Namun setelah masuk pun keduanya tidak menemukan saudara yang mereka cari, baik di tempat tidur maupun di dalam toilet, tidak ada tanda-tanda Itachi disana.
"Sial, dimana Itachi?" gerutu Sasori.
"Biar aku yang menghubunginya", usul Sasuke. Namun bukan suara Itachi yang muncul melainkan suara operator yang mengatakan berulangkali bahwa nomer yang dituju sedang tidak aktif.
"Bagaimana?" tanya Sasori.
"Nomornya tidak aktif", jawab Sasuke seadanya.
"Baiklah kita cari dia, ayo!" perintah Sasori diikuti langkah kakinya yang semakin cepat. Ia berlari dengan Sasuke dibelangkangnya.
Setelah kurang lebih dua puluh menit berlari, keduanya masih belum juga menemukan seseorang yang mereka cari. Hingga suara beberapa gadis yang mereka kenal menyambangi telinga keduanya.
"Hinata! Kau di mana?"
"Hyuuga Hinata!"
Suara yang mereka yakini adalah milik Ino dan Sakura segera manyambangi telinga Sasori maupun Sasuke yang membuat kedua pemuda itu beranjak dari tempat mereka berdiri dan menghampiri asal suara tersebut.
Dan ketika keempat orang berbeda iris mata dan rambut itu bertemu, keempatnya merasa kaget dan tidak mengira akan bertemu seperti ini.
"Apa yang kalian lakukan malam-malam begini?" Sasori memulai pembicaraan di antara mereka.
"Kami sedang mencari Hinata", jawab Ino.
"Memangnya kemana Hinata?", kini Sasuke yang bertanya.
"Entahlah, tadi Hinata pamit istirahat di asrama, tapi ketika kami sampai di asrama kami tidak menemukannaya. Bahkan banyak orang di fakultas kedokteran mengatakan bahwa mereka belum melihat Hinata. Jadi aku dan Ino memutuskan untuk mencarinya", jawab Sakura.
"Lalu kalian sendiri apa yang kalian lakukan disini?" kini si gadis berambut pirang yang bertanya pada kedua pemuda di hadapannya perihal kemunculan mereka.
"Kami sedang mencari Itachi", jelas Sasori.
"Jadi Itachi-senpai juga menghilang?" kini giliran ino yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Begitulah, tapi sebelum mencari mereka berdua kembali, aku ingin minum. Aku haus," ujar Sasori dengan menyeka peluh yang ada di dahinya.
"Mari ikut aku sasori-senpai, aku mengetahui mesin minuman yang terdekat dari sini," saran Ino dan mereka berempat pun berjalan beriringan namun ketika sampai di tempat yang dituju bola mata mereka membulat sempurna tatkala melihat orang yang mereka cari ada di depan mata mereka.
"Hiks… hiks… Ku… kumohon ja..jangan Ita..chi-kunn.." rintih seorang gadis berambut indigo yang kini sedang dalam posisi di bawah seorang pemuda berambut hitam panjang beriris onix dan dapat dilihat oleh keempatnya bahwa baju Hinata telah terbuka di bagian dadanya hingga nampak sedikit dalaman yang Hinata pakai.
.
.
.
.
.
.
.
To be continue
