Disclaimer: Bleach © Tite Kubo-Sensei


Apa kabar semuanya?

Semoga sehat selalu.

Pertama-tama Author mau minta maaf…

1. Author ga' gitu ngerti dengan peraturan dalam basket, jadi ga' tau deh kalau ternyata itu pelanggaran, lain kali aku akan berguru kepada Hanamichi Sakuragi.

2. Jee-san, terima kasih sudah dikoreksi. Habisnya aku suka ngebayangin gitu sih, ga' kesampe'an jadinya gini deh, tapi sekarang dah ku edit *peyuk-peyuk Jee-san*

Typo itu seperti penyakit menahun yang tidak mudah untuk dihilangkan ya… ada ga' ya obat khusus untuk menghilangkan typo? *itu sih authornya aja yang malas koreksi lagi—timpukin Nakki rame-rame*

Cukup deh cincong-nya, nanti readers jadi sakit mata lagi …nah… Selamat membaca ^_^


Title : To Make You Feel My Love

By : Nakki Desinta

Pairing : Byaruki

Chapter 10 : The Unexpected


Hanya sebaris kalimat itu, dan itu cukup untuk membuat Ukitake terkena serangan jantung, membatu ditempatnya dan menatap Lisa tidak percaya.

"Apa maksudmu?" tanya Ukitake yang merengkuh bahu Lisa agar Lisa menghadap padanya.

Lisa menggeleng lemah, hatinya makin berat, udara disekitarnya seperti menipis dan mengurangi asupan oksigen dalam paru-parunya.

"Rukia bukanlah anak kandungku. Hisana adalah Ibu kandungnya," kata Lisa susah payah.

"Hisana? Mantan model professional itu?" ulang Ukitake untuk memperjelas dugaannya, dan dia mendapatkan anggukan kepala Lisa. Ukitake menekap mulutnya dan tampak berpikir keras, ternyata ada rahasia sebesar ini dalam keluarga mereka. Ukitake menenangkan diri dan mengharapkan penjelasan yang lebih banyak dari Lisa.

"Hisana adalah sahabatku sejak kuliah. Dia mulai meniti karier modelnya sejak kami masuk kuliah, lalu aku menikah saat mencapai tingkat lima, karier Hisana terus menanjak sejak itu, hingga ia kena skandal dengan managernya sendiri, dia bersembunyi, dan enam bulan kemudian muncul di teras rumah kami, menggendong Rukia." Lisa menangis seketika, Ukitake langsung memeluknya erat.

"Bayi itu sangat cantik, matanya teduh, tersenyum padaku. Bayi itu tetap tersenyum sekalipun tau bahwa ia akan dibuang oleh Ibunya. Hisana meminta aku menjaga Rukia, dia bilang tidak bisa merawat Rukia sementara ia harus melakukan banyak kegiatan modelingnya, dia juga bilang tidak bisa membiarkan orang lain tau bahwa ia telah memiliki anak, aku telah jatuh cinta pada Rukia sejak saat itu dan aku tidak bisa membiarkan Hisana mengirim bayi mungil itu ke panti asuhan."

Lisa menghapus air matanya yang mengalir deras.

"Dia perempuan kejam yang bisa mengorbankan apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan," tambah Lisa.

Ukitake mengelus puncak kepala Lisa, merasa bahwa ia memang telah menikahi wanita yang tepat, wanita yang baik hati, wanita yang sangat lembut dan mau merawat seorang bayi sekalipun bayi itu bukan anaknya. Sembilan belas tahun bukanlah waktu yang singkat, merawat seorang Rukia hingga menjadi seorang perempuan secantik ini, menjadikan Rukia perempuan dengan kepribadian teguh seperti ini.

"Aku tidak bisa membiarkan dia datang dan semudah itu mengambil Rukia. Aku yang membesarkannya, aku yang sudah merawarnya. Sekalipun tidak ada darahku yang mengalir dalam dirinya, aku tetap menganggapnya sebagai anakku."

"Aku mengerti, Lisa. Kau sangat menyayanginya, kau tidak akan merawatnya hingga sebesar ini jika tidak menyayanginya," bisik Ukitake.

"Apakah Rukia tau mengenai hal ini?" tanya Ukitake hati-hati.

"Rukia tidak tau apa-apa mengenai hal ini, aku tidak pernah mengatakan rahasia ini padanya. Aku takut ia akan pergi dariku karena membenciku yang telah membohonginya. Apa yang harus aku lakukan? Hisana bilang dia bilang akan mengirim pengacara untuk menuntutku."

"Tenanglah, aku akan membantumu, aku pastikan Rukia tidak akan pergi dari sisimu, dia tidak akan membencimu. Kaulah ibunya, kau yang sudah merawatnya. Rukia sudah cukup dewasa untuk memilih, Lisa. Aku yakin dia tidak akan memilih sesuatu yang akan menyakitimu, dia sangat menyayangimu."

Lisa menumpahkan kegelisahannya, tangisnya, semuanya dalam dekapan Ukitake. Ketenangan itu menjalar hingga membekukan tangis yang seperti tidak ingin berhenti. Rukia, buah hati yang tidak boleh direbut oleh siapapun.

.

.

Rukia baru bangun dari tidurnya yang sangat nyaman, mengucek mata yang masih belum beradaptasi dengan sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah gorden jendela kamarnya. Dia menggeliat sambil menguap, dan tiba-tiba bibirnya perih saat terbuka lebar-lebarnya, luka bekas ciuman Byakuya masih terasa perih.

"Jangan diingat, jangan diingat," katanya pada diri sendiri.

Rukia turun dari tempat tidur, menahan sakit yang amat sangat dari kaki kanannya, dia tidak tau sampai kapan luka ini berhenti membuatnya sakit? Pertandingan nasional tinggal tiga minggu kurang satu hari, dan dia harusnya sudah mulai latihan, tapi dengan kaki seperti ini bagaimana jadinya latihan nanti, bisa-bisa Pelatih Zaraki akan memecut punggungnya karena sudah mengecewakan Pelatih terkejam sekota Karakura itu.

"Kau sudah bangun?"

Rukia menoleh, mendapat Byakuya melongok dari pintu kamarnya yang sedikit terbuka, rambutnya belum kering benar setelah dikeramas. Rukia melongo, jantungnya berdegub kencang, seketika Byakuya terlihat sangat tampan, bahkan tatapan mata Rukia turun ke bibir Byakuya, bibir indah yang sangat lembut, jantungnya kembali berdegub lebih keras dari sebelumnya. Rukia menggeleng keras.

"Jangan dilihat, jangan dilihat," bisiknya dalam hati.

"Kau kenapa?" Byakuya malah masuk dan menghampiri Rukia, Rukia makin tidak bisa mengendalikan detak jantungnya, seperti akan meledak saja.

"Kau pusing?" Byakuya menyentuh dahi Rukia, sontak Rukia mundur untuk menghindari sentuhan tangan halus Byakuya.

"Kakiku hanya agak sakit," bisik Rukia pelan, kepala terbenam cukup dalam hingga tidak mampu dilihat Byakuya, dia tidak ingin Byakuya melihat wajahnya yang memerah, betapa kehadiran Byakuya membuatnya canggung setelah insiden itu.

Semua sangat berbeda, apakah bisa bersikap seperti biasa lagi?

"Aku antar kau ke toilet," kata Byakuya.

"Tidak u.. uwaaah.. turunkan aku! Turunkan aku!"

Rukia berusaha meronta-ronta karena Byakuya tiba-tiba saja menggendongnya, seperti pengantin baru yang menggendong istrinya yang baru bangun. Mengingat hal itu membuat wajah Rukia makin panas.

"Kakimu masih sakit kan?" kata Byakuya seraya melangkah, dia berjalan mendekati lemari baju Rukia.

"Ambil handukmu!" suruhnya santai. Byakuya tidak merasa canggung sama sekali, sekalipun wajah Rukia sangat dekat dengan wajahnya, merasakan tangan Rukia yang mengalung dilehernya.

Rukia mengulurkan satu tangannya dan meraih handuk yang menggantung dibagian depan lemari. Dia kembali pegangan erat pada Byakuya, mereka keluar kamar dan Byakuya membawa Rukia ke toilet bawah.

Ukitake sempat melihat Byakuya yang menggendong Rukia melintas sebelum menghilang di pintu toilet. Alisnya terangkat tinggi, Byakuya dan Rukia seperti sepasang suami istri saja, namun ia merasa sedikit senang karena Byakuya diterima dengan baik oleh Rukia, tidak seperti dirinya.

"Apakah luka Rukia parah?" tanyanya pada Lisa yang sedang menata meja untuk sarapan.

"Menurut dokter hanya perlu istirahat beberapa hari. Kenapa?"

Lisa mendongakkan wajahnya dari meja makan, mendapati Ukitake tersenyum.

"Aku rasa aku tau kenapa Byakuya begitu gelisah," bisik Ukitake dengan senyum jail. Ini baru teori yang ia rumuskan, dan ia butuh pembuktian, tapi ia yakin bahwa dugaannya tidak meleset. Byakuya mengkhususkan Rukia, Byakuya sangat memperhatikan Rukia, dan Byakuya pernah mempertanyakan mengenai cinta terlarang yang ingin ia hapus, Ukitake sudah menemukan jawaban yang tepat, namun ia akan menunggu waktu yang tepat untuk mengkonfirmasinya pada Byakuya. Sekarang yang terpenting adalah memastikan masalah Rukia selesai, dan bagaimana menjelaskannya pada Rukia agar Rukia tidak terluka dan tidak merasa dibohongi selama sembilan belas tahun ini.

"Kau bicara apa?" tanya Lisa tidak mengerti.

"Tidak…"

Byakuya menurunkan Rukia di depan washtafel, mengalungkan satu tangan Rukia ke pinggangnya, memastikan Rukia tetap tegak berdiri.

"Aku bisa berdiri sendiri," kata Rukia yang berkeras menjauh dari Byakuya, karena jika tidak ia akan pingsan.

"Jangan sok kuat," ucap Byakuya seraya melirik kaki Rukia yang tidak terluka sedang berjinjit.

Rukia heran, kenapa Byakuya sangat peka terhadap dirinya, padahal ia sudah berusaha menyembunyikan dari Byakuya, kakinya memang sakit jika dijejakkan keseluruhan ke lantai, tumitnya akan nyeri. Apakah ini akibat jika mencintai seseorang selama sepuluh tahun? Melihat apapun pada dirinya seperti buku yang terbuka, dengan mudah membaca keanehan yang disembunyikan.

Rukia membasuh wajahnya dengan tangan sebelah, benar-benar menyiksa, kapan selesainya.

"Sebentar," bisik Byakuya yang bergerak kebelakang Rukia, tangan besar Byakuya melingkar di pinggang Rukia, menahan beban tubuh Rukia.

Terlalu dekat, bisik Rukia yang merasakan tekanan tubuh Byakuya, memang dengan begini kedua tangannya bisa bebas tapi tubuhnya malah terasa kaku karena terlalu kontak dengan Byakuya. Akhirnya Rukia menepis perasaannya dulu, membasuh wajahnya berkali-kali, melupakan kontak tubuh, melupakan detak jantungnya yang seperti terus berdentum bedug lebaran, melupakan wajahnya yang tadi masih terasa panas.

Rukia mengeringkan wajahnya, merasa jauh lebih segar saat wajahnya sudah kembali berwarna normal, dia tersenyum pada dirinya yang ada di pantulan cermin, tapi saat matanya beranjak keatas dia melihat Byakuya yang menatap dirinya, sorot mata lembut yang menghangatkan hati.

"A.. aku sudah selesai." Rukia merusak kebahagiaan Byakuya yang tengah menikmati dan memandang wajahnya.

"Ok, kita sarapan."

Byakuya kembali menggendong Rukia, mereka menuju meja makan. Ayah dan Ibu sudah menunggu, Byakuya mengeryitkan alis melihat ayahnya tersenyum padanya.

"Kenapa?" tanya Byakuya.

"Tidak, kalian sangat akur, ayah suka melihatnya," desis Ukitake senang, dia tidak keberatan jika ternyata Byakuya mencintai Rukia, karena mereka sangat serasi.

"A.. apa maksud anda?" sahut Rukia kikuk.

Ukitake mengendikkan bahu untuk menjawab Rukia, senyum masih mengembang di bibirnya.

"Sudah, sudah, makan dulu. Rukia, setelah ini Ibu ingin bicara denganmu," kata ibu dengan sorot mata dalam. Seketika Rukia memiliki firasat bahwa ini bukanlah hal yang baik, karena wajah Ibu terlihat sangat sedih.

Mereka makan dalam keheningan yang tidak biasa, Rukia menunggu-nunggu hal yang akan dibicarakan oleh Ibu, karena itu ia makan lebih cepat dari biasanya, meneguk susunya dalam satu gerakan tangan.

"Hal apa yang ingin ibu bicarakan?" tanya Rukia saat meletakkan gelas susunya.

Byakuya menyusul Rukia, menyelesaikan makan pagi dengan cepat.

"Aku akan kembali ke kamar," kata Byakuya seraya beranjak dari kursinya.

"Kau boleh tinggal, Byakuya. Ini semua berhubungan dengan seluruh anggota keluarga," gumam Ibu yang menggeser garpunya.

Byakuya membaca ketegangan yang tiba-tiba terasa diantara mereka.

Ukitake mengangguk dalam dan menggenggam tangan Lisa untuk menguatkannya.

"Kemarin memang ada tamu yang datang ke rumah," bisik Ibu ragu.

"Mobil mewah itu?" ucap Byakuya memastikan, dan ibu memberinya satu anggukan dalam.

"Lalu kenapa?" tanya Rukia masih tidak mengerti inti pembicaraan ini.

Lisa menarik napas dalam-dalam, menghitung perlahan dalam hati sambil menghembuskan napas.

"Rukia, taukah kau kenapa kamu tidak sama sekali mirip dengan ibu?"

"Karena aku mirip dengan nenek, iya kan?" jawab Rukia, karena ibunya selalu menjawab dengan jawaban itu setiap kali ada orang yang bertanya.

Lisa menggeleng pelan. "Ibu berbohong."

Rukia mencondongkan badan dan meneliti wajah ibunya, apakah sedang bercanda atau tidak. Byakuya menyentuh bahunya dan membawanya kembali tegak ke posisi semula.

"Aku bukanlah ibu kandungmu, maafkan ibu, Rukia. Ibu sudah berbohong selama ini."

Rukia menekap mulutnya dengan kedua tangan, serangan jantung itu kembali datang, ini kenyataan ataukah mimpi? Ia tidak mampu bertanya lagi pada dirinya, semua seperti petir menyambar bertubi-tubi, kemarin Byakuya dan sekarang ibu.

"Jangan bercanda, Bu. Ini tidak lucu sama sekali," bisik Rukia dengan mata terbelalak.

Air mata Lisa kembali menetes, Ukitake mengeratkan genggaman tangannya diatas tangan Lisa.

"Kemarin ia datang. Hisana, ibu kandungmu dan ingin mengambilmu kembali."

"Memangnya aku barang?" seru Rukia dengan emosi berapi-api, tangannya menggebrak meja makan keras. Kenyataan ini terlalu mengangetkannya, dan dia berkata ingin 'mengambil', seperti tempat penitipan barang saja.

Byakuya mengelus punggung Rukia, namun tubuh Rukia masih condong penuh kemarahan pada ibunya.

"Rukia, kendalikan dirimu," bisik Byakuya seraya menggeser kursinya dan merangkul bahu Rukia erat.

"Bagaimana bisa aku mengendalikan diri?" teriak Rukia.

"Rukia, maafkan ibu. Aku membesarkanmu karena dia telah membuangmu, dan sekarang ia muncul tiba-tiba setelah sembilan belas tahun ini, berkata ingin membawamu kembali sebagai ibu kandungnya. Ibu sudah bilang ini tidak adil untukmu, selama ini kau tidak pernah melihatnya, tidak pernah tau dialah ibu kandungmu, karena dia tidak pernah sekalipun peduli padamu." Ibu menangis sejadi-jadinya.

"Ibu bersumpah, Rukia. Ibu menyayangimu dengan segenap hati ini, Ayahmu juga. Ibu tidak ingin kau membenci karena Ibu telah menutupi kenyataan ini, maafkan Ibu, maaf…"

Rukia terdiam, melihat air mata itu mengalir, air mata yang telah ia janjikan pada pusara ayah untuk tidak membiarkan air mata itu mengalir lagi. Hatinya sedih, dan ikut merutuki diri yang sudah membuat Ibu menangis. Namun kembali lagi pada semua kenyataan ini, terlalu besar dan membuatnya tidak bisa berpikir dengan logis, marah, dia merasa marah, tapi dia tidak tau marah terhadap apa, semua masih terlalu abu-abu untuknya. Haruskah bahagia atau sebaliknya karena bertemu dengan ibu kandungnya? Karena pada akhirnya ibunya mau menemuinya?

"Dia akan membawa pengacaranya untuk menuntut ibu, dia akan membawamu dengan cara apapun," bisik Ibu dengan tubuh gemetaran, seketika ayah memeluknya erat.

Rukia tidak menjawab lagi, dia tau ini salah, tapi dia tidak tau apa yang harus ia katakan.

"Byakuya, tolong antar aku ke kamar," gumam Rukia dengan kepala tertunduk dalam.

Byakuya melirik ibu yang mendongakkan wajah dari pelukan ayah, menatapnya dengan sorot mata memohon yang amat sangat, seketika ia yakin bahwa ini semua memang beban berat bagi ibu dan Rukia, tidak ada yang bisa menyangkal hal itu.

Byakuya beranjak dari kursinya, dan tanpa canggung lagi Rukia mengalungkan tangannya dileher Byakuya, menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Byakuya saat Byakuya menggendongnya, dan membawanya ke kamar.

Byakuya merasakan napas hangat Rukia di lehernya, memburu dan tidak tenang. Detik kemudian Byakuya mendengar isak tangis Rukia, waktu seperti berputar kembali membawa Rukia dalam masa-masa sulit, menguji kesabarannya lagi, membuatnya kembali meneteskan air mata.

"Menangislah, jangan kau tahan," bisik Byakuya yang mempererat lengkungan tangannya, membuat Rukia bersandar sepenuhnya padanya.

"Kenapa? Kenapa semua jadi seperti ini?" Rukia berbisik diantara isak tangisnya.

Byakuya mendudukkan Rukia di atas tempat tidur, dan Rukia melepaskan lengkungan tangannya dari leher Byakuya, terduduk lesu karena air matanya tidak mau berhenti menetes.

Byakuya duduk di sebelah Rukia meraih tangan Rukia dan menggenggamnya erat.

"Kenapa dia harus muncul? Jika dia memang sudah membuangku, untuk apa ia kembali ke kehidupanku? Bukankah dia seorang artis yang sudah memiliki segalanya dalam hidupnya?" desis Rukia yang tengah berusaha keras menenangkan diri.

"Apakah kau membencinya atau sebaliknya?" tanya Byakuya.

Rukia menggeleng pelan, dia tidak tau apakah membencinya atau tidak.

"Sembilan belas tahun ini kau hidup dengan seorang ibu sebaik Lisa, dia menyayangimu, merawat dan membesarkanmu. Lalu apa masalahnya jika ternyata kau bukan anak kandungnya? Apakah kau ingin pergi meninggalkannya? Apakah kau ingin kembali pada ibu kandung yang telah menelantarkanmu? Apakah kau ingin seperti itu?"

Rukia menggeleng, ia menyayangi ibunya, Lisa. Ibu kandung atau bukan memang bukan hal penting, karena pada kenyataannya Lisa-lah yang telah membesarkannya, menjaganya dengan segenap hati. Dimana ibu kandungnya saat Rukia terpuruk karena harus pindah rumah karena di sita oleh bank? Dimana ibu kandungnya saat Rukia tidak bisa makan dengan kenyang karena tidak memiliki uang cukup untuk membeli makanan?

Hanya ada Lisa yang selalu setia menjaganya, berusaha sekuat tenaga membesarkannya.

"Aku tidak ingin ibu menangis. Bagiku …ibu kandung atau bukan, aku akan tetap menyayanginya," bisik Rukia dengan suara purau.

Byakuya memeluk Rukia erat, dia tidak ingin melihat air mata Rukia. Saat ini adalah masa sulit bagi Rukia, Byakuya ingin berada disampingnya untuk memberikan semangat pada Rukia, menjadi tempat Rukia untuk bernaung, membagi beban, walaupun hanya sebagai kakak dia sama sekali tidak peduli, karena bagaimanapun dia menyayangi Rukia, seperti Rukia menyayangi ibu.

Byakuya terkesiap saat merasakan tangan Rukia yang membalas pelukannya, untuk pertama kalinya Rukia membalas pelukannya, dia merasakan kebahagiaan mengembang dengan indah dalam hatinya. Rukia telah menerimanya, membuat Rukia meluapkan kesedihan dalam pelukannya, bersandar padanya, sekalipun hanya untuk sejenak, itu adalah kebahagiaan yang sangat berarti untuknya.

Rukia menyandarkan kepalanya di dada Byakuya, mendengarkan detak jantung Byakuya yang teratur, memberikan ketenangan jauh dalam dirinya, dia ingin selamanya berada dalam dekapan Byakuya, melupakan segala beban, segala kenyataan yang baru saja hadir ke hadapannya.

.

.

Hari berikutnya mereka kedatangan tamu yang sudah mereka duga sejak kemarin pagi, tamu yang membawa mimpi buruk dan kegelisahan pada seisi rumah. Hari masih belum siang saat sebuah mobil mewah berwarna silver itu parkir di depan rumah, dari mobil itu turun seorang perempuan berpakaian serba hitam dengan aksen bulu putih di bagian leher, sebuah kacamata cokelat membingkai wajahnya, perhiasan mahalnya berdenting saat ia berjalan melintas, dibelakangnya mengikuti seorang berjas rapi necis dengan sebuah tas tangan.

Lisa membukakan pintu untuk kedua orang itu, memberi isyarat pada mereka untuk masuk. Awalnya Lisa kaget dengan kedatangan tanpa konfirmasi ini, tapi Lisa sudah menyiapkan diri, karena kemarin sore Rukia sudah bicara dengannya, dan meyakinkannya untuk tidak mengkhawatirkan apapun.

"Ibu jangan menangis lagi, maaf tadi aku berteriak pada Ibu." Rukia menunduk dalam. "Ibu tidak usah cemas, aku tidak akan pergi dari rumah ini, aku… walau bagaimanapun aku akan tetap tinggal di rumah ini, dia tidak akan bisa memaksaku, karena aku menyayangi ibu, dalam ingatanku aku hanya memiliki satu ibu dan itu adalah kau."

Hisana membuka kacamatanya saat duduk di sofa yang tidak selembut sofa di rumahnya, dia meletakkan kacamatanya diatas meja tamu yang terbuat dari kaca tempered berwarna abu-abu itu. Lisa masih tidak percaya bahwa Hisana masih mampu bersikap seangkuh ini sekalipun mereka adalah teman baik dulu.

"Aku ambilkan minum," kata Lisa seraya beranjak dari sofa.

"Tidak perlu, aku tidak bisa minum air selain air pegunungan asli. Aku datang hanya ingin memastikan status Rukia. Dan dia adalah…" Hisana menunjuk seseorang yang tadi mengikutinya, dia mengenakan kacamata dengan rambut berwarna perak, "Ishida Ryuken, pengacaraku," lanjut Hisana santai.

"Apakah kau sudah memikirkan semuanya baik-baik?" tanya Hisana dengan sorot mata tajam.

"Aku tetap tidak akan menyerahkan Rukia padamu, dia tidak akan bahagia bila bersamamu!" teriak Lisa marah.

"Tidak perlu berdebat, Lisa. Aku bisa membuat ini semua jauh lebih mudah, aku akan mendaftarkan kasus penculikan Rukia, membuatmu di penjara seumur hidup, dan Rukia tetap akan kembali padaku. Jangan membuat semuanya jauh lebih rumit, Lisa."

Hisana mengucapkan ancamannya dengan suara manis dan licik, Lisa sudah hampir meledak melihat sikap Hisana. Sungguh Lisa tidak pernah menyangka Hisana memiliki tabiat seburuk ini, tidak berterima kasih sedikitpun karena telah membesarkan Rukia, malah berusaha memasukkannya dalam penjara.

"Rukia tidak akan menerimamu, kau ibu yang telah mencampakkannya. KAU YANG MENCAMPAKKANNYA!"

Rukia tengah membaca bukunya, dia langsung beranjak dari kursi saat mendengar teriakan ibu. Ada apa hingga ibu teriak sekeras itu?

"Lisa.. Lisa... kau masih lugu seperti dulu ya," kata Hisana sambil menyibakkan poninya.

Lisa sadar sepenuhnya, dia tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan Hisana, dia hanya memiliki keyakinan bahwa Rukia akan tetap tinggal disisinya. Hisana dapat menjebloskannya ke penjara hanya dengan satu jentikan jari, Lisa tau hal itu, tapi dia juga tidak ingin Rukia berada di dekat wanita sekejam Hisana, terlebih lagi meninggalkannya.

"Aku akan melakukan apapun untuk mempertahankan anakku!" kata Lisa, dan air matanya tidak mampu ia tahan lagi.

"Anakmu?" Hisana mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

"Baiklah, aku akan membuatmu membusuk di penjara. Ryuken pastikan kau mendaftarkan kasus ini hari ini juga," kata Hisana tanpa perasaan.

"Jangan!"

Ketiga orang yang berada di ruang tamu langsung mendongak kearah tangga, arah datangnya suara purau penuh luka itu.

Rukia menuruni tangga dengan susah payah, nyeri masih menyerang kakinya setiap kali menahan beban tubuhnya. Waktu berputar lambat dalam benaknya, melihat sosok wanita yang sangat mirip dengannya, hanya seperti versi tua dirinya, ia tidak pernah menyangka akan ada hal seperti ini terjadi dalam hidupnya.

Wanita itu memang mirip dengan dirinya, namun jauh berbeda dengan dirinya. Wanita itu angkuh, tanpa melihat gayanya bicara, tanpa mengenalnya lebih jauh, Rukia bisa membaca kesombongan yang terpancar kuat dari wanita itu. Rukia tidak pernah berpikir bahwa ibu kandungnya adalah orang seperti ini, dalam dia dia bersyukur karena telah dibesarkan oleh Lisa, wanita lembah lembut dan menjadikannya pribadi seperti ini, entah apa jadinya jika dirinya tumbuh besar dalam lingkungan wanita dalam pandangannya ini.

"Jangan masukkan Ibuku ke penjara. Anda hanya ingin aku kembali pada Anda, iya kan?" tanya Rukia yang menahan nyeri di kakinya.

Wanita itu tidak menjawab, matanya masih meneliti wajah Rukia, kerinduan yang amat sangat terpancar dari mata yang tadi masih menguarkan ancaman pada ibunya.

Hisana tidak pernah melihat Rukia secara langsung, namun sekarang melihat Rukia, anak yang sudah sembilan belas tahun tidak pernah ia temui, rasa sayang dalam dirinya tiba-tiba muncul dan berubah jadi posesif, dia ingin memiliki Rukia hanya untuknya, dan membahagiakan Rukia, mempercantik Rukia, karena Rukia jauh lebih cantik dari dirinya semasa muda dulu, Rukia jauh lebih bercahaya.

"Berhentilah membuat Ibuku menangis!" seru Rukia dengan nada suara meninggi.

Hisana terluka mendengar bagaimana Rukia menyebut Lisa, dia tidak terima, seharusnya dirinyalah yang dipanggil ibu oleh Rukia, karena dia yang telah melahirkan Rukia, bukan Lisa.

"Seharusnya Anda sadar, Anda tidak memiliki hak apa-apa terhadap saya, Anda membuang saya."

Ishida Ryuken mengernyitkan alisnya, sebagai seorang pengacara dia tidak pernah melihat seorang anak yang dalam posisi perebutan status bisa setegas ini, bahkan cenderung membela bukan ibu kandungnya. Biasanya sang anak akan melupakan ibu yang sudah membesarkannya dan memilih ibu kandung yang sesungguhnya. Terlebih seorang ibu seperti Hisana.

Ishida Ryuken memang bukan pertama kalinya melihat Rukia, dia pernah melihat Rukia dalam foto kegiatan mahasiswa anaknya, Ishida Uryuu, tapi dia tidak pernah tau bahwa mata sekelam dan sesedih itu menyimpan keberanian serta keteguhan hati seperti ini.

"Saya akan ikut anda," kata Rukia seraya melihat Lisa, dan wajah Lisa semakin gelap, air matanya menetes lebih deras mendengar kalimatnya.

"Beri saya waktu dua minggu, dan saya akan berusaha untuk menerima anda, tapi satu hal yang harus Anda tau, dua minggu lagi saya akan berumur 20. Itupun jika anda ingat kapan Anda melahirkan saya," ujar Rukia dengan raut wajah merendahkan, membuat Hisana semakin mengernyit kesakitan.

"Saat umur saya 20 tahun, saya bisa memutuskan dengan siapa saya akan tinggal, pengadilanpun tidak bisa memaksa saya," jelas Rukia.

Hisana menoleh pada Ryuken, dia berusaha mengkonfirmasi ucapan Rukia, dan Ryuken mengangguk padanya. Ryuken tidak pernah menyangka bahwa Rukia mengetahui mengenai peraturan ini, di mata hukum memang anak usai 20 tahun bisa memutuskan untuk mandiri. Ryuken sendiri jadi menyesali kenapa Hisana mengajukan peralihan hak asuh setelah Rukia sebesar ini, namun dia tidak heran karena Hisana memiliki jalan pikiran yang sangat berbeda dengan orang pada umumnya. Apa alasan sebenarnya Hisana menginginkan Rukia pun dia belum jelas benar, padahal saat ini kehidupan Hisana sudah sangat berkecukupan dan tidak memiliki kekurangan sedikitpun, mungkinkah ada penyesalan dan kasih sayang yang tiba-tiba muncul untuk anak yang telah lama ia lupakan?

Lisa merasa sedikit lega mendapati kenyataan ini, pantas saja Rukia meyakinkannya untuk tetap tenang.

Rukia mengambil dua langkah hingga dia berada cukup dekat dengan Hisana, dia menatap langsung mata yang hampir sama bulatnya dengan bola matanya.

"Sekali lagi Anda membuat Ibu saya menangis, Anda akan menyesal karena telah melahirkan saya," bisik Rukia dengan suara mengancam yang paling ia andalkan.

Hisana tersenyum, walau bagaimanapun Rukia masih mewarisi kekejaman tatapan miliknya, sekalipun Rukia tidak ia besarkan, darahnya memang mengalir dalam diri Rukia.

"Kita berangkat sekarang?" tanya Hisana penuh kemenangan.

Rukia menoleh pada Lisa, mengangguk dalam untuk memberi hormat sebelum langkahnya memimpin Hisana, dia memutuskan untuk tinggal bersama Hisana hari ini juga, jika diundur lagi maka semakin lama masalah ini akan selesai.

"Aku akan menyuruh pengurus rumah untuk mengambil barang-barang Rukia."

Hisana beranjak pergi, Ryuken menyusulnya, sekarang tinggal Lisa dalam ruang tamu, dia menghapus air matanyay ang masih ingin menetes.

"Rukia hanya pergi sebentar, dia akan kembali."

Lisa menyatukan tangannya di dada, menahan sesak melihat kepergian Rukia yang dibawa mobil mewah berwarna silver itu. Lisa melangkah menuju kamar Rukia, merasa kosong karena tidak ada kehadiran Rukia dalam ruangan ini.

Lisa meraih tas diatas lemari, memasukkan baju Rukia untuk keperluan dua minggu. Air matanya tidak mau berhenti, sambil melipat baju air matanya menetes dan membasahi permukaan baju. Dia takut.. sangat takut Rukia tidak akan kembali padanya, takut Rukia akan lebih memilih kehidupan glamour bersama Hisana, takut karena ikatan batinnya kalah kuat dengan ikatan batin Rukia dan ibu kandungnya.

"Kau harus kembali Rukia, harus…"

Lisa merapikan buku-buku kuliah milik Rukia, menumpuknya dalam satu tas khusus, laptop Rukia, bahkan menyisipkan dua foto keluarga yang terpajang di meja belajar Rukia. Satu foto yang berwarna usang karena sudah berumur, dan satu lagi adalah foto keluarga baru dengan kehadiran Ukitake dan Byakuya.

Poster TVXQ, manga yang belum sempat Rukia baca, semua ia masukkan dalam tas.

"Kenapa aku memasukkan barang sebanyak ini? Rukia tidak pergi untuk selamanya."

Lisa menekap wajahnya, menahan air matanya untuk tidak menetes, tapi hatinya sakit, resah, bagaimana ia bisa menenangkan diri jika Rukia benar-benar pergi? Jika Rukia benar-benar menerima Hisana?

"Ibu? Apa yang ibu lakukan?"

Lisa mendongakkan wajah dan mendapat Byakuya berdiri di ambang pintu. Byakuya bertanya lewat sorot matanya.

"Byakuya, Rukia.. Rukia…"

"Kenapa dia?" desak Byakuya yang sudah bersiap untuk menerima kenyataan paling buruk.

"Demi melindungi ibu ia memutuskan untuk tinggal di rumah Hisana selama dua minggu, dia meyakinkan Ibu untuk menunggu hingga waktunya tiba, dia bilang akan kembali ke rumah ini. Tapi bagaimana jika ia tidak kembali?" rengek Lisa putus asa.

Byakuya menghampiri ibunya dan memeluknya erat, dia juga tidak menyangka jika Rukia akan mengambil keputusan seperti ini. Anak itu selalu bertindak sendiri, tidak pernah mau melibatkan orang lain, apalagi dalam permasalahan serumit ini.

"Dia akan kembali, pasti, dia pasti kembali," bisik Byakuya meyakinkan ibunya.

.

.

Sebuah rumah besar dengan halaman seluas lapangan bola memenuhi jarak pandang Rukia, mobil yang ia tumpangi sedikit demi sedikit mendekati area parkir rumah itu.

"Kita sampai, Rukia. Barang-barangmu akan tiba setengah jam lagi."

Hisana turun dari mobil setelah supir membukakan pintu untuknya, gaun yang ia kenakan jatuh dengan sangat indah saat ia berdiri tegak di dekat pintu mobil yang terbuka, sangat berbalik dengan Rukia yang hanya mengenakan kaos putih oblong dengan kerah sudah melar tak karuan, ditambah celana pendek selutut yang warna birunya sudah luntur.

Rukia tertatih-tatih mengikuti Hisana yang masuk dalam rumah besar itu, Rukia melihat sekeliling rumah yang kelewat megah itu, atapnya tinggi sekalipun rumah ini hanya terdiri dari dua lantai, ada banyak kamar dan ruangan dalam rumah ini, mewah, megah namun terasa kosong.

"Apakah kakimu terluka parah?" tanya Hisana seraya meletkkan kacamatanya di meja ruang tengah yang tidak menyerupai ruang tengah, terlalu besar untuk ukuran ruang tengah pada umumnya.

"Aku hanya jatuh," jawab Rukia yang tetap berdiri sementara Hisana sudah duduk santai di sofa kulit.

"Duduklah," kata Hisana sambil menunjuk tempat di sampingnya.

Rukia memasang wajah kaku, dia tidak ingin duduk di samping wanita ini.

"Kalian sudah sampai?"

Rukia menoleh ke sampingnya, dan dari anak tangga dengan bahan paquet mahal itu turun dua orang laki-laki, yang satu sudah berumur, dan Rukia menyimpulkannya sebagai suami Hisana. Seorang dengan rambut dan warna rambut yang senada, cokelat, senyumnya manis, tampan namun disaat yang sama kesan licik terasa darinya, suami yang cocok untuk Hisana, pikir Rukia.

Satu lagi ada seorang pria yang sepertinya seumuran dengannya, rambutnya hitam legam dan lurus, tersisir rapi dengan panjang hampir sebahu, matanya sendu dan berwarna hijau emerald, kesedihan yang amat sangat seperti menaunginya tanpa henti, dingin dan kaku.

"Kau sudah pulang, Aizen? Ulquiorra juga?" ucap Hisana dengan suara manis.

Rukia melihat gerakan tubuh Hisana yang gemulai berlari pada pria berambur cokelat itu, memeluknya erat dan mendaratkan ciuman mesra di bibir pria itu. Setelah itu Hisana beralih pada orang bermata hijau emerald itu, mengecup pipinya penuh kasih.

"Ulquiorra, anakku, apakah kuliahmu hari ini baik?"

Rukia mendesis jijik, ternyata orang itu anak Hisana, sungguh bertolak belakang dengan kepribadiannya.

"Ya," jawab orang itu singkat. Dia melirik Rukia, seolah menilai penampilan Rukia karena dia melihat Rukia dari ujung kepala hingga ujung kaki, mau tidak mau Rukia merasa risih dilihat seperti itu.

"Ulqui, ini Rukia, putriku yang telah lama hilang."

Rukia tersenyum kecut mendengar istilah Hisana. Apanya 'putri yang telah lama hilang'? Seharusnya putri yang telah lama dibuang.

Orang bernama Aizen itu melangkah mendekat pada Rukia, tersenyum pada Rukia.

"Selamat datang, Rukia. Aku Aizen, suami Hisana, kau bisa memanggilku dengan sebutan ayah jika kau mau," ucap Aizen tetap dengan senyum liciknya.

"Aku hanya memiliki satu orang ayah, dan dia sudah meninggal," jawab Rukia dengan suara dingin.

Hisana terperanjat mendengar kalimat Rukia, dia berusaha mencairkan ketegangan yang telah Rukia ciptakan, dia menarik Ulquiorra agar mendekat pada Rukia, membuat Rukia dan Ulquiorra saling bertukar sorot mata.

"Apakah dia anak kandungmu atau anak bawaan suamimu?" tanya Rukia tidak sopan.

"Rukia." Hisana memberinya peringatan lewat matanya yang mendelik.

"Aku hanya ingin memastikan jika aku memiliki saudara satu ibu," jawab Rukia enteng.

Aizen tersenyum mendapati wajah Rukia yang tetap menunjukkan ekspresi yang sama.

"Tidak apa, Hisana. Aku suka sikapnya yang terang-terangan. Ulquiorra adalah anakku dari istriku yang sebelumnya, kami bercerai lima tahun lalu," sahut Aizen yang menerima anggukan kepala Hisana.

Rukia menaikkan alisnya sesaat, Rukia tidak akan heran jika kenyataannya Aizen bercerai karena Hisana. Wanita seperti Hisana tidak akan ragu untuk menggunakan segala pesonanya untuk memikat seorang pria seperti Aizen.

Rukia berbalik dengan kaki terpincang, mencari ruangan yang mungkin adalah calon kamarnya. Tindakan Rukia kali ini tidak luput dari perhatian Aizen, sedangkan Ulquiorra sudah melihat perban di kaki Rukia sejak tadi, dan sadar bahwa Rukia berusaha keras untuk tetap berdiri tegak diatas kakinya.

"Ulquiorra akan mengantarmu ke kamarmu," kata Aizen.

Ulquiorra mengulurkan tangannya agar Rukia bisa berpegangan padanya, mengingat luka di kaki Rukia sepertinya tidak ringan.

"Aku bisa sendiri," jawab Rukia ketus. "Kau tunjukkan saja jalannya," lanjutnya yang mulai melangkah.

Ulquiorra tidak pernah melihat seseorang yang keras kepala seperti Rukia, biasanya perempuan manapun akan menerima uluran tangannya, tanpa syarat, sepertinya perempuan ini beda sama sekali dari yang lain.

Egois, sekaligus sombong. Persis Hisana, namun cara mereka menyombongkan diri sangat bertolak belakang.

Kamar Rukia ada di bawah, untunglah sehingga dia tidak perlu menaiki tangga dengan kaki seperti ini. Ulquiorra membukakan pintu untuk Rukia, dan sebuah kamar dengan tempat tidur extra king size bed tersaji dalam jarak pandangnya.

"Berapa umurmu?" tanya Rukia seraya melangkah masuk dan cepat-cepat menuju tempat tidur, dia tidak bisa menahan kakinya lebih lama lagi. Rasanya seluruh darah mengalir ke kaki dan berhenti disana, sampai berdenyut sakit.

Ulquiorra menggeleng melihat tingkah Rukia, tidak habis pikir, Rukia lebih memilih menahan sakit dari pada menerima uluran tangannya.

"Dua bulan lalu aku berumur 20 tahun," jawab Ulquiorra yang melihat Rukia duduk dengan membanting tubuh, seketika kelegaan yang amat sangat memenuhi wajahnya.

Sebuah desis tawa lolos dari mulut Ulquiorra, dia hanya merasa sangat lucu melihat tingkah Rukia, apalagi penampilan Rukia, dia tidak akan percaya jika tidak diceritakan Hisana sebelumnya, melihat postur tubuh Rukia yang kecil bahkan caranya berpakaian, dia akan mengira bahwa Rukia masih kelas satu tingkat menengah.

"Apa yang lucu?" Rukia membelalak padanya.

"Tidak." Ulquiorra menggeleng sekali.

"Katakan!" Rukia tidak terima ada orang yang tertawa dibelakangnya.

"Istirahatlah, sepertinya lukamu cukup parah."

Rukia hanya mampu melihat Ulquiorra undur diri dari kamarnya, menutup pintu dengan sangat perlahan hingga tidak terdengar suara apapun, hanya pintu yang tertutup perlahan.

Kamar yang ia tempati sungguh mewah, bahkan toiletnya berada dalam kamar, tidak seperti rumah, satu kamar mandir untuk bersama. Catnya berwarna biru lembut, memberi ketenangan yang lebih karena gorden yang berwarna kontra namun mendukung warna cat dinding, meja belajar dan kursinya adalah satu set furniture dengan bahan kayu ebony, permukaannya berwarna highgloss menggambarkan betapa mahalnya harga furniture ini.

"Wuah... mereka benar-benar menghabiskan uang hanya untuk hal seperti ini? Sungguh otak mereka sudah terbalik," gumam Rukia seraya mengalihkan pandangannya pada lemari pakaian yang tingginya hampir dua kali tinggi badannya.

"Apa pula yang mereka simpan dalam lemari sebesar ini? Untuk sembunyi orang serumah juga bisa."

.

Langit berwarna jingga terang, mengirimkan udara sore yang segar melalui jendela yang terbuka dan menerbangkan gorden yang menghalangi silaunya cahaya matahari sore. Rukia menikmati hembusan angin di wajahnya, duduk di lantai sambil membongkar tas yang dikirimkan pengurus rumah padanya.

Dia tersenyum saat mendapati barang-barang yang ibu masukkan dalam tasnya, ibu sangat mengerti apa yang ia butuhkan, bahkan poster TVXQ juga ibu bawakan.

"Rukia, boleh aku masuk?"

Rukia belum sempat menjawab, orang itu sudah masuk dan dalam beberapa langkah sudah berjongkok dihadapannya, memperhatikan barang-barang yang baru saja ia keluarkan dari tas.

"Kau suka baca yang seperti ini?" tanya orang bermata hijau emerald itu sambil mengangkat manga Pandora Hearts milik Rukia.

"Iya, kenapa? Mengganggumu?" ucap Rukia seraya merebut buku itu dari tangan Ulquiorra.

"Aku hanya bertanya." Ulquiorra menegakkan badan dan berdiri melihat sekeliling kamar Rukia yang tatanan furniturenya sudah berubah, meja sudut yang seharusnya ada disamping tempat tidur sekarang ada di sebelah meja belajar, menjadi tempat tumpukan buku-buku besar dan tebal. Lampu yang seharusnya ada di atas meja sudut sekarang tergeletak di samping wardrobe.

Dua buah foto berbingkai tergeletak diatas meja belajar, bahkan di sudutnya sudah teronggok sebuah tas cokelat dengan warna kusam yang memiliki tempelan pin lebih dari lima, semuanya selogan-selogan yang biasa ia baca di sesi acara motivasi kepribadian.

"Kenapa melihat barang-barangku seperti itu?"

Rukia selalu memperhatikan gerak gerik orang dengan baik, Ulquiorra merasa harus lebih hati-hati pada perempuan ini, dia selalu membaca keanehan pada ekspresi seseorang.

"Makan malam segera siap, cepatlah kau mandi, kami menunggu di ruang makan."

Rukia mengangguk, membiarkan Ulquiorra melangkah pergi, tapi ada yang aneh…

"Tunggu," panggil Rukia sambil berusaha berdiri dengan susah payah, luka ini sungguh merepotkan.

"Dimana ruang makannya?"

Ulquiorra menarik napas dalam-dalam, dia lupa bahwa Rukia orang baru di rumah ini.

"Aku akan menjemputmu, berapa lama kau bisa siap?"

"Lima belas menit," jawab Rukia setelah mengingat durasi yang biasa ia butuhkan untuk mandi.

"Hanya lima belas menit?" ulang Ulquiorra kaget, dia tidak pernah menyangka ada yang bisa selesai berdandan hanya dalam lima belas menit, apalagi perempuan, apa yang akan ia kenakan dalam waktu lima belas menit?

"Baiklah, lima belas menit lagi aku kembali," kata Ulquiorra, dia tidak ingin bertanya lebih banyak dari pada seharusnya, atau perempuan ini akan kembali berteriak-teriak padanya, membuat telinganya berdenging sakit.

Rukia menempel poster TVXQ sebagai sentuhan terakhir dari kamarnya, dan kamarnya sudah berubah tampilan, setidaknya menjadi tempat yang nyaman untuk ia tiduri selama dua minggu ke depan. Dia menyambar handuk dan pakaian dalam miliknya, meletakkan baju gantinya diatas tempat tidur, sepotong kaos chappy dan rok sebetis dengan rimple gelembung kesukaannya.

Masuk ke kamar mandi, hal yang pertama harus ia lakukan bukanlah membuka baju, tapi membuka perban di kakinya, membuatnya membutuhkan waktu lebih dari yang ia perkirakan.

Hisana dan Aizen duduk manis di meja makan, Ulquiorra datang, sudah mengganti bajunya dengan jas, seperti yang Hisana minta, karena ini adalah makan malam pertama dengan kehadiran anggota keluarga baru.

Ulquiorra sendiri tidak terlalu mempersoalkan kehadiran Rukia, karena dirinya tidak pernah mengikat hati ataupun pikirannya pada Hisana, Hisana adalah sosok ibu yang terlalu manis hingga membuatnya terlihat seperti dibuat-buat, bukan kasih sayang yang sesungguhnya, karena itu Ulquiorra tidak terlalu menganggap perhatian yang Hisana berikan, seperti sekarang Hisana memperhatikan Rukia, dia tidak cemburu sama sekali, toh Hisana hanya ibu baru baginya, baru empat tahun.

"Rukia masih di kamarnya?" tanya Aizen dengan senyum mengembang lebar.

Ulquiorra adalah anak kandung Aizen tapi Ulquiorra justru kebalikan dari Aizen, dia tidak memiliki senyum yang akan dia berikan dengan murah pada orang lain. Dia menghemat suara dan ekspresi wajahnya, tidak banyak membantah apapun yang ayahnya perintahkan, namun ia juga bukan boneka bagi seorang berpengaruh seperti Aizen, dia akan menolak jika apa yang diminta tidak sesuai dengan prinsip dan logikanya.

"Dia akan siap…" Ulquiorra melirik jam tangannya "lima menit lagi, aku akan menjemputnya."

Ulquiorra duduk dihadapan Aizen, sementara Aizen duduk disamping Hisana. Pasangan dihadapannya sunguh memberikan kesan sempurna yang tak dapat diingkari, yang satu cantik dan model, yang satu tampan dan merupakan pemilik perusahaan trading internasional, dan yayasan Hueco Mundo.

Hisana terus memasang senyum terbaikanya untuk Aizen, apalagi jika bukan karena sikap terbuka Aizen untuk menerima Rukia, sekalipun Rukia adalah anak yang tidak pernah ia tau keberadaannya, namun Aizen telah melapangkan dada dan mendengarkan tiap kata dalam kisah Hisana, dan memutuskan untuk menerima apapun keputusan Hisana tentang Rukia.

Ulquiorra menyeruput minumnya dari gelas kristal, gerakannya anggun khas seorang yang berasal dari kelas atas, dia memperhatikan jam tangannya yang perlahan bergerak, sesekali meneguk minumnya, menikmati kesunyiannya sendiri.

Lima menit sudah berlalu, dan Ulquiorra pamit untuk menjemput Rukia.

"Rukia? Kau sudah siap?"

Ulquiorra mengulanginya lagi, dia masuk tanpa menunggu jawaban dari dalam. Dia melihat sekeliling kamar, tidak ada orang yang terdengar malah suara kucuran air dari dalam kamar mandi. Perhatiannya bukan malah berpusat pada kamar mandi, malah melihat sepasang baju yang tergeletak di tempat tidur.

Seketika dia menggeleng penuh sesal.

"Dia bermaksud mengenakan baju ini? Benar-benar…"

Ulquiorra meraih ponselnya, memanggil pengurus rumah untuk mengambil baju yang menurutnya sangat tidak pantas itu.

"Bawa itu dan ambilkan gaun di ruang baju Hisana, ambil yang mana saja asal jangan terlalu terbuka," kata Ulquiorra saat pengurus rumah dengan jas berwarna hitam itu tiba di kamar Rukia. Pengurus hanya mengangguk dan mengambil baju yang di tunjuk Ulquiorra.

"Baju ini harus saya letakkan dimana?" tanya si pengurus.

"Letakkan di gudang saja."

Pengurus mengangguk dalam, meninggalkan Ulquiorra dengan baju Rukia berada di tangannya.

Ulquiorra kembali memperhatikan kamar Rukia, sungguh hilang semua kesan mewah dari kamar ini. Perhatiannya tertuju pada poster TVXQ yang terpampang dekat meja belajar.

"Apa dia benar berumur 19 tahun?" gumam Ulquiorra.

Ponsel Rukia bergetar. Ulquiorra melihat ponsel yang tergeletak di atas meja belajar itu, nama penelepon adalah Ichigo, ponsel terus bergetar dan Rukia sepertinya tidak ingin keluar cepat-cepat. Ulquiorra mengacuhkan ponsel itu, namun terus saja si penelepon seperti tidak ingin berhenti memanggil.

"Ya?" akhirnya Ulquiorra menjawab telepon tersebut.

"Rukia? Bukankah ini ponsel Rukia?" ucap Ichigo balik bingung.

"Ya, ini ponsel Rukia," jawab Ulquiorra sekenanya.

"Kau siapa? Dimana Rukia?" tanya Ichigo yang mengenali suara diseberangnya bukanlah suara Byakuya, bukan pula suara ayahnya Rukia.

Ulquiorra diam sejenak, dia tengah berpikir dan menerka siapa Ichigo ini, karena dari nada suara dia seperti tidak terima ponsel Rukia diangkat olehnya. Mungkinkah dia pacar Rukia?, pikirnya.

"Aku Ulquiorra, dan Rukia sedang mandi," jawab Ulquiorra.

"A..apa?"

Ichigo serasa mau pingsan mendengar jawaban orang bernama Ulquiorra ini. Bagaimana bisa dia memegang ponsel Rukia, dan Rukia sendiri mandi, apa yang tengah mereka lakukan?

"Rukia, kau sudah selesai?"

Ichigo kembali mendengar suara pintu yang di ketuk, dan suara air yang mengalir dari pancuran.

"Sebentar lagi," jawab Rukia .

Ichigo makin tidak mengerti dengan situasi ini.

"Ada pesan? Nanti aku sampaikan pada Rukia."

Ichigo tidak menjawab pertanyaan suara yang terdengar dingin itu, kepalanya yang sudah cukup sakit beberapa hari belakangan ini karena terus teringat Byakuya yang mencium Rukia, membuatnya tersiksa karena beberapa hari tidak melihat bahkan mendengar suara Rukia. Jantungnya seperti mau meledak karena merindukan Rukia, tapi disaat ia memutuskan untuk menelepon Rukia malah mendapati hal seperti ini.

Rukia keluar dari kamar mandi, jubah mandinya membalut tubuhnya, rambutnya yang masih basah menteskan air sisa keramasnya.

Ulquiorra menurunkan ponsel dari telinganya dengan reflek, seketika dia merasa tidak enak karena telah mengangkat telepon tanpa izin, tapi dia membiarkan sambungan telepon terus menyala.

"Kau.. Kemana bajuku?" teriak Rukia yang melihat tempat tidurnya kosong melompong.

"Aku membawanya, kurasa kau tidak membutuhkannya sekarang," jawab Ulquiorra.

"Celanaku juga?" tanya Rukia masih tidak terima.

"Semua pakaianmu," kata Ulquiorra santai.

Rukia melangkah penuh emosi menghampiri Ulquiorra, tapi dia lupa kalau kakinya belum bisa diajak kompromi, seketika tubuhnya limbung.

"Pelan-pelan, Rukia!"

Ulquiorra menangkap tubuh Rukai dengan satu langkah kakinya, hanya menggunakan sebelah tangan ia bisa menahan beban tubuh Rukia.

"Jangan memelukku sembarangan!" seru Rukia yang kelabakan menghindar dari tangan Ulquiorra.

"Mau tidak mau aku harus melakukannya kan?" Ulquiorra menjawab tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Ichigo menggeram, menahan amarah dalam dirinya. Dia sudah mendengar semuanya, Rukia sedang bersama seseorang, mendengar bagaimana mereka meributkan pakaian yang tidak ada, bahkan Rukia baru mandi, mereka berpelukan, mereka...

Ichigo memukul tembok kamarnya kuat-kuat, dia tidak bisa melanjutkan pikiran yang bergelantung dalam benaknya, dia tidak bisa membayangkan apa yang Rukia dan Ulquiorra lakukan. Siapa Ulquiorra? Dia tidak pernah mendengar nama itu sekalipun.

.

.

To Be Continue

.


A/N :

Mina-san! *teriak pakai toa*

Gomen, aku salah setting usia …..

Menurut UU di Indonesia, seorang anak bisa lepas dari pemangkuan orang tuanya (tanggungjawab) saat anak itu berumur 21 tahun atau sudah menikah, tapi umur Rukia malah baru 20, jadi ga' pa' pa' ya … *ngarep dimaafin*

Nah kita lanjut di chap depan …

Don't mind to review…

Keep The Spirit On ^o^