Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Terima kasih untuk apresiasi RnR semua di chapter sebelumnya. *ojigi* saya mohon maaf untuk kesalahan di chapter lalu. Semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya. ;) .
So, I will survive~ Dozo, Minna-sama!
.
Disclaimer : Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.
Warning : Alternate Reality, OOCness, OC, absurdity, alur lambat, light shounen-ai, etc.
.
Warning berjaga-jaga maka saya masukkan light shounen-ai, meski sebenarnya masih sangat friendship hanya buddy-buddy complex. ;)
Tidak suka? Mohon jangan memaksakan diri untuk membaca. Terima kasih. ;)
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Kau tidak tahu-menahu tentang pertaruhan yang mereka buat.
Siapa paling kuat?
Siapa sesungguhnya terhebat?
Pemikiran itu menyebabkan inhalasimu terhambat.
Puing-puing dirimu yang kaupunguti untuk menghadapi mereka, bersumpah untuk menang atas yang mereka yang saat itu tak satu entitas kompetitor pun mampu memuaskan dahaga mereka akan rivalitas setimpal dan sportif, itu kaususun kembali jadi rangka puzzle pembaharuan diri.
Kau tidak tahu mereka terakhir kali bertemu semena-mena menginjaki muka lapangan basket.
Kalian mengarungi destinasi untuk berseteru lagi. Gigir takdir belum mencapai nadir. Malah menghunjam perspektif pongah (padamu, yang hanya mengimaji satu opsi dari paparan sulur-sulur pilihan yang mungkin—jika kau tak setraumatik dan kisah kalian tak sedramatik itu—bila kau mau dapat kaugapai) lantaran tengah tertawa satir.
Jadi, apakah esensi dan arti kemenangan yang agungnya konstan digaungkan?
(Kuroko Tetsuya dengan determinasi solid saat itu hanya menjawab, "Aku tidak tahu. Tapi aku akan menjawab dengan permainan basket kami.")
.
#~**~#
A Kuroko no Basket fanfiction,
.
Kiseki no Nakama
.
Chapter 11
"The Climax"
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
"Akashi-kun!" Momoi panik hendak menghampiri kapten timnya. Kelereng fuschia-nya menyiratkan kekhawatiran mendalam. Tapi langkahnya tertahan ketika lengannya dipegang oleh sang pelatih. "Kantoku, Akashi-kun terluka!"
Kagetora konstan menahan manajer tim muda binaannya. Dilihatnya fokus terpecah, bocah-bocah berandal merepotkan tadi yang nyaris menjebol pintu rooftop itu satu per satu keluar seraya mengelilingi sang kapten. Namun melihat sorot mata magenta itu, naluriahnya sebagai pelatih tahu ia tidak bisa menginterupsi sesi pertandingan lebih dari ini. Terkadang melihat dari mata pemain saja, seorang pelatih bisa tahu sebaiknya apa yang dilakukan.
"Biarkan. Kita tidak bisa menginterupsi apa yang tengah terjadi." Sang pelatih berkata perlahan, ia menepuk pelan bahu Momoi yang tampak terguncang mengkhawatirkan kapten timnas junior. Kagetora tahu hal terbaik untuk saat ini adalah membiarkan bocah-bocahnya memutuskan sendiri destinasi terbaik mereka. "Siapkan saja P3K. Cari di tas besar tempat kau mengambil peralatan scouting dan stalking."
"Ta-tapi—" Momoi menatap pada ayahanda Aida Riko tersebut. Menemukan pandangan tajam sang pelatih, ia menggigit bibir dan berlari kecil pada tas besar yang sempat Furihata bawa karena disuruh Kagetora. Ia lekas mencari kotak P3K yang dimaksud oleh pelatihnya.
Di sisi lain, para pemuda lain masih mengerubungi kapten mereka yang terluka.
"Akashi, kau yakin mau melanjutkan—WOY!" Kagami menyemburkan amarahnya karena Akashi malah dengan tenang melenggang pergi.
Pemuda bersurai magenta itu dengan gaya kasual mengelapkan darah di punggung tangan kirinya ke celana hitam dengan panjang tiga perempat yang dikenakannya. Mengabaikan berbagai tatapan cemas dan ngeri baik kawan maupun lawan. Tak sengaja bersitatap dengan manik pupil yang kian mungil ketakutan memandangi tangannya—tangan yang mulai mengucurkan darah lagi. Mendengus geli—terlebih mendengar dengung pertanyaan-pertanyaan yang mengkhawatirkan kondisinya, atensi afektif ini menyebabkan gelenyar absurd mengeliat di dasar perut.
"Sudah kubilang, mati sekalipun, aku tidak akan kalah lagi."
Bahkan seorang Kagetora yang notabene baru sekarang saja mengenal Akashi mengetahui ada sesuatu salah dari ekspresi bocah beraura emperor itu. Tidak menyeringai antagonis. Pandangan mata merahnya melunak, namun afirmatif dengan suara tegas menunjukkan determinasinya agar pertandingan kontinu tanpa interupsi apapun lebih dari semua yang telah terjadi.
"Kau yakin baik-baik saja, Akashi-kun?" Kuroko yang pertama tanggap dengan perkataannya. Tak urung turut mencemaskan kondisi kapten mereka.
"Kau meragukanku?" Akashi bertanya retoris.
Aomine mendecih. Ia menyeringai. "Jangan membenciku karena dengan kondisimu baik-baik saja, aku bahkan bisa mengalahkanmu, Akashi."
"Aku tidak mungkin membenci Aomine." Seringai antagonis terkuva di bibir kapten tim A. Tapi caranya memandang Aomine itu menyebabkan si pemuda dim mengumpat kesal. "Tidak mungkin aku membiarkanmu menang semudah itu."
"Jangan menyesal kalau kalian kalah." Himuro tersenyum, juga dengan matanya yang menyiratkan bahwa ia pun tak menyukai kekalahan.
Takao mengedikkan bahu santai. "Jangan salahkan aku yang saat ini berpikir bahwa Akashi Seijuurou yang terluka adalah keajaiban Tuhan agar tim B bisa menang lebih mudah."
"Kau meremehkan kami, Akashi." Midorima menatap risih pada Akashi yang tampak berupaya menghentikan kucuran darah dari punggung tangannya. "Jangan harap setelah perkataanmu barusan kami akan mengalah dari timmu."
"Kalian pikir di tim ini hanya ada Akashi?" Murasakibara tak menutupi kejengkelannya karena merasa dianggap tak ada. "Bersiaplah untuk kehancuran kalian," desisnya dengan suara rendah.
Kise menghampiri kapten timnya. Meraih punggung tangan yang terluka itu lalu menekan-nekan kulit di sekitar torehan luka, membantu pemuda bersurai magenta itu untuk menghentikan aliran darah dari luka terbuka.
Jika ini Akashi yang bermanik heterokromik, Kise takkan sudi berlaku seperti ini. Tapi karena ini adalah Akashi yang ia tahu sejak bersekolah di Teikou, cengiran Kise melebar tatkala mengetahui Akashi tampak tak keberatan dengan perlakuannya.
"Kalau kalian lupa, biar kuingatkan—aku ini setengah dari kalian semua." Kise menyahut riang. Tapi semua yang beralih memandangnya, mendapati biner sewarna madu itu tajam melirik semuanya.
"Hanya setengah." Kuroko menimpali, sedikit geli. Terlebih ketika Kise merajuk karena responnya itu menyinggung hati sang perfect copy. Ia menghirup napas dalam, meneguhkan tekadnya untuk menatap tim lawan. "Bersiaplah."
Kedua pemuda yang sama-sama berambut coklat dengan mata berbanding terbalik saling berpandangan. Meringis setengah hati—sama-sama saling memahami nasib mereka terlalu sial harus terjebak berada di tengah bersama para pebasket level monster. Sang shooter menepuk-nepuk canggung bahu pemain kesebelas yang tampak tegang, berempati karena tahu benar rekan setimnya itu merasa amat bersalah pada kapten tim mereka.
"Oi, oi, cepat kalian selesaikan pertandingannya." Kagetora menyela dari tepi lapangan. "Kalau kalian sudah lupa, biar kuingatkan bahwa tim yang kalah akan menerima hukuman. "
Beberapa pemain seketika memucat. Terlebih dengan seringai Kagetora yang menjanjikan kepedihan dan menerorkan perasaan tertekan pada semuanya. Apalagi dengan Momoi yang menggeleng-gelengkan kepala, menyilangkan kedua lengan berbentuk X.
"Apa ada hadiah untuk tim yang menang?" tanya Kuroko—satu-satunya yang tetap non-ekspresi tidak gentar karena gertak sambal pelatihnya.
Kagetora mendengus rendah. "Tentu saja ada."
Mendengar afirmasi itu menyulut gairah permainan mereka, sang pelatih mengulum senyum—tentu saja tak semudah itu. Mereka baru menyadari bahwa rooftop itu sudah disulap menjadi lapangan basket. Rooftop itu telah dipola dengan garis-garis ala lapangan basket menggunakan kapur putih sehingga terlihat mencolok. Di dua seberang bidang lapang itu sudah ditaruh ring basket setinggi tiga meter.
Masih terkesima dengan penampakan baru rooftop itu, atau mungkin dengan impresi baru bahwa kini mereka bermain basket di puncak dunia—karena Tokyo Sky Tree adalah menara tertinggi sedunia, mereka tak menyadari seorang pemain tim B telah memulai aksi untuk merampas balik bola istimewa.
Furihata gelagapan kaget tatkala Takao muncul menepis bola istimewa dari tangannya. "O-oi, curang!"
Takao terkekeh. Nada suaranya menyenandungkan letupan eksitasi. "Kata siapa kita mendapat time-out dan akan terjadi foul bila kalau aku mencoba mendapatkan bola? Kantoku saja sudah bilang kita agar cepat menyelesaikan pertandingan."
Furihata bergidik ngeri karena tatapan tajam mata elang yang bertransformasi jadi mata rajawali itu menindas mentalnya menyebabkan nyalinya seciut.
"Takao no revenge~" Pemuda itu masih sempat-sempatnya menjentikkan jari sembari mendribble bola personal. Ia memutar kedua bola mata. "Kau tadi lebih curang, memojokkanku berduaan dengan Kuroko. Cih."
Furihata menapakkan kakinya keras-keras—sekeras dirinya yang berteguh hati memantapkan tekad—dan langkahnya berdentam menyusul Takao. Sudah cukup orang ini merendahkannya sejak tadi pagi—karenanya ia dilingkup desperasi.
"Kantoku se-sendiri yang memintaku ikut bermain! Aku juga tahu bahwa basket itu dimainkan dengan lima orang, bukan enam," seru pebasket biasa-biasa saja itu di sela tersengal-sengalnya. "Dan basket bukan permainan kesebelasan." Ia meneguk ludah, getir.
Pemain asal tim Seirin itu berkeringat dingin melihat Takao makin dekat dengan bola istimewa yang memantul-mantul nakal menjauh para perebutnya. Ya Tuhan, kenapa kaugabungkan aku ke tim ini?! KENAPA HARUS AKU?! Pertanyaan itu berkelebat di benaknya yang dihimpit panik. Namun di tim manapun ia berada, setidaksenang apapun perasaannya, harga dirinya sebagai lelaki tidak bisa diinjak-injak semena-mena lebih dari semua yang membuatnya merasa terlecehkan.
"HEAAAAAH!"
Maka itu di tengah kungkungan stress dan merasa tidak berdaya, Furihata berteriak absurd menembakkan bola personalnya ke arah Takao. Pikirannya kosong—dan benaknya histeris meneriakkan bahwa ia harus bertanggung-jawab atas perbuatannya lalai menjaga bola dalam genggaman.
Para pemain lain teralih perhatiannya. Mereka tak ayal terkejut karena tahu-tahu bentrokan berlangsung antara kedua pemain tanpa ada pemberitahuan atau aba-aba terlebih dahulu.
Himuro mengerjapkan mata melihat lemparan absurd Furihata. "De— … de javu."
"Astaga, lemparan bodoh itu." Murasakibara berdesis karena memorinya mengilas balik sebuah lemparan bola bodoh yang memecahkan lampu bohlam.
"BAGUS, FURIHATA!" sorak Kagami menyemangati.
Midorima memelototi rekan setimnya. "Oi, Takao yang setim dengan kita!"
Aomine membersihkan jari kelingkingnya yang barusan sempat dipakai mengorek telinga. "Oh, temanmu itu licik juga, Midorima."
"Dia bukan temanku, nanodayo!"
Kise melongo kaget. "Ku-Kurokocchi, te-temanmu—KAU MAU KEMANA?!" Ia masih memegang tangan Akashi yang bergeming mengawasi perseteruan yang tengah berlangsung.
Takao terguncang tatkala sebuah bola dengan manuver lemparan aneh super biasa-biasa saja tanpa akurasi itu muncul di hadapannya, beruntung ia bisa mengerem habis langkahnya—meski sampai jatuh terduduk saking kagetnya. Suara derap langkah dan napas terengah-engah mengonfirmasi asumsinya—bahwa itu semua aksi Furihata, menggeram tak mau kalah ia lekas bangkit bangun berlari sepersekian detik menyeimbangi gerakan pemain tim A tersebut.
Bola nyaris keluar dari garis lapangan, teriakan kedua pebasket itu menyalak langit senja yang menaungi mereka. Takao hampir menyeringai kemenangan karena ia melampaui Furihata dan tangannya berada di posisi atas basket. Tapi pupus seketika, ia menyadari sorot mata berpupil mungil itu bahkan tak terfokus padanya—hanya pada bola basket istimewa.
Tangan itu terbuka dari bawah. Furihata menepis bola itu dengan tangan kanan dari arah bawah ke samping kiri belakang, sebelum karena gerakan terlalu cepat dan beban tubuhnya tak mampu lagi ditopang oleh kakinya yang lututnya ditekuk untuk menjangkau bola. Sekerjap mata Furihata kehilangan keseimbangan dan jatuh berguling-guling ke luar lapangan, tubuhnya membentur keras palang pagar kawat besi yang membatasi tepian rooftop Tokyo Sky Tree. Kepalanya menghantam dinding tanpa tedeng aling-aling.
"O-oi, sejak kapan kau di sana, Kuroko?!" seru Takao stress.
Kuroko sigap menangkap bola yang dioperkan oleh Furihata. Menghunjamkan tatapan tajam pada musuh bebuyutannya itu. "Dari awal."
"Mustahil! Kau tahu aku pasti bisa merebut bola—"
"Benar. Tapi aku percaya Furihata-kun bisa menjauhkan bola setidaknya darimu, Takao-kun." Kuroko mengerling temannya yang pandangannya masih berkunang-kunang dan melihat Momoi berlari-lari kecil menghampirinya. "Aku tidak akan menyia-nyiakan perjuangannya."
Takao mendecih."Tsk. Kalian berdua benar-benar…" Ia menyengatkan tatapan berintensitas sama seperti yang dihunjamkan Kuroko padanya.
"Hee … tidak buruk juga chihuahua itu." Aomine tertawa dengan suara rendah, tak menyangka.
"Namanya Furihata, woy." Kagami mendelik sadis pada makhluk tan di sampingnya.
Momoi yang sudah memeriksa Furihata—pandangannya berkunang-kunang tak sadar, menggelengkan kepala lalu berseru, "Furin tidak bisa main lagi."
"Bingo. Begitu sepertinya yang kaupikirkan, Akashi." Midorima melirik pemuda yang mengucapkan terima kasih pada sang model muda atas bantuannya menghentikan kucuran darah.
"Aku bisa melihat masa depan, dan sudah tahu ini akan terjadi." Akashi tenang menanggapi. Ia memberi sinyal untuk Murasakibara menjaga Kuroko agar tidak ada lagi ofensif tiba-tiba seperti tadi. Jari tengah dan telunjuk tangan kanan terangkat, kode nomor dua, diberikan pada dua pemainnya yang tersisa.
"Oi, mau kemana kau—Kise!" Kagami yang pertama kali menotis Sakurai melesat cepat begitu melihat kode dari sang kapten, tapi ia batal mencegat langkah quick-shooter itu ketika Kise menjadi screen menghalangi langkahnya.
"SATU!" Himuro refleks berseru sembari mengangkat satu jari telunjuk tangan kiri, tangan kanan men-dribble bola personal.
"DEFENSE!" seru kapten bersurai hitam legam itu, membuat kontak mata dengan Aomine yang bergegas menembus area lawan untuk mengasisteni Takao mendapatkan bola istimewa. Ia akan menghalangi usaha Sakurai untuk menembak bola personal ke ring lawan, tatkala seseorang memblokir jalannya. Himuro mendelik tajam. "Akashi. Tsk."
"Sakurai, shoot." Akashi menginstruksikan tanpa melihat rekan setimnya, ia me-marking Himuro yang gigih berusaha menggoceknya. Tangan kanannya mendribble bola personal, lengan kiri yang punggung tangan didecit sakit itu direntangkan untuk menghalau kapten tim B menggagalkan tembakan Sakurai.
Sakurai memekik tatkala menemukan Midorima berdiri tak jauh darinya. Pikirannya kosong, ia tahu takkan mampu menghadapi Midorima sendirian. Karena itulah ia mengeksekusi opsi yang Akashi instruksikan padanya; melompat untuk melempar bola ke ring tim B.
Midorima menganalisis dari kemampuan shooter tim A itu dari form-nya, defensi tidak seimbang—mudah untuk diruntuhkan. Tapi semakin terjepit posisi shooter asal tim Too itu, kecepatan tembakannya makin bertambah. Ia tidak akan sempat menggagalkan tembakannya. Dengan alasan itu, meski terbentang jarak dari half-line sampai inside-line tim A, Midorima sama sekali tak meragu untuk melompat tinggi dan melentikkan jari-jemari tangan kirinya mendorong bola menembus ring basket tim A.
Semua orang tercengang. Pemandangan anomali tatkala melihat dua shooter memegang dua bola berbeda warna, saling berhadapan, mata tertuju pada ring basket semata, melompat tinggi untuk melambungkan bola mereka. Tak lama terdengar derit ring basket dan keriyap jaring-jaring yang meloloskan bola. Sesaat disekap senyap, dua bola personal itu terpantul bersamaan membentur lantai rooftop Tokyo Sky Tower. Kedua bola yang memantul-mantul itu bertalu-talu menginvasi ruang pendengaran.
"Sepertinya kata-katamu barusan hanya omong kosong, eh?" Midorima menandaskan tatapan merendahkan pada shooter yang terkesima karena aksinya.
Sakurai tersentak. Perbedaan mereka terlalu kentara. Ia tidak ada apa-apanya dibandingkan Midorima. Betapa bodohnya ia berani menyombongkan diri tidak akan kalah dari shooter Kiseki no Sedai. Kendati demikian, darahnya bergejolak oleh ombak adrenalin. Tangannya terkepal keras. Boleh saja kemampuannya tidak akan bisa menyaingi sang penembak jenius—kalah telak, tapi ia tidak sudi untuk berkubang dalam kekalahan lagi.
"Hmph." Sakurai melengakkan kepala tinggi-tinggi. Ia membalikkan badan, menggulir pandang angkuh pada rekan-rekan setimnya. "OPER BOLANYA PADAKU!"
Midorima tercenung bingung. "A-apa yang terjadi?" Urat di dahinya saling bersilang, berkedut memanas karena perlakuan mendadak arogan Sakurai yang amat menyebalkan.
"Switch-nya tergeser, Midorima!" seru Aomine dari seberang lapangan. "Dia paling mengerikan dalam mode itu. Jangan biarkan dia mendapatkan bola!"
Kuroko memakai misdireksinya kabur ketika atensi Aomine teralih dan lagi-lagi Murasakibara menghadapi pemuda ganguro tersebut dan beralih mendapat tanggung-jawab menjaga bola isstimewa. Ia tidak akan bertahan berada di dekat para pemain Kiseki no sedai yang saling mengonfrontasi satu sama lain.
"Aku tidak akan membiarkanmu lolos!" Takao sigap menghadangnya, menyeringai pada pemuda bersurai lazuardi itu.
Pemain bayangan itu tak gentar. Sudah mematri memori tentang kebiasaan permainan Takao—karena mereka berulangkali bertarung, ia memanfaatkan keuntungan itu untuk mengaktifkan vanishing drive melampaui pemain bermata rajawali itu.
"Tidak mungkin—" Sepasang mata itu terbelalak ngeri. Takap menoleh ke belakang dan menemukan Kuroko berlari menjauh. "Kagami tidak ada di dekatmu! Kau tidak bisa memakai vanishing drive tanpa cahaya yang mengalihkan pemain lain!"
"Kau tidak mengerti, Takao-kun." Kuroko berputar lincah. Angin-angin berputar mengelilinginya, terhempas kemana-mana sementara bola terlayang di udara sepersekian sekon, telapak tangannya terbuka lebar. "Kiseki no Sedai adalah pemain-pemain yang bercahaya."
"Oooh~ karena ada Mine-chin di sini?" Murasakibara menyahut. "Atau aku juga?"
Aomine mendecih karena badan super tinggi Murasakibara menjulang—total menghalanginya. "Tsk, Tetsu. Berani-beraninya memanfaatkan musuhmu untuk keuntunganmu."
Kuroko memberikan gaya dorong keras-keras pada bola itu. Ignite pass full-court yang sebenarnya hanya bisa diterima Kiseki no Sedai. Namun di antara rekan-rekan setimnya, hanya dirinya yang off-guard. Kesempatan ini tidak akan disia-siakannya.
"Shin-chan!" Takao membaca taktiknya, mengalkulasi dalam pikirannya, dia mengoperkan bola personalnya ke Midorima untuk ditembakkan, partner setimnya itu selalu bisa mendapatkan operannya.
Itu terjadi bersamaan dengan Akashi yang pertama menyadari, berniat menginterupsi Kuroko yang merealisasi ignite pass. "Kuroko, jangan! Tsk—Himuro." Ia mendelik tajam Himuro yang membalik posisi me-marking-nya.
Kise yang melihat Midorima berlari menerima operan bola dari rekan setim langsung menjaga ketat pemuda tsundere itu. Dilihatnya Sakurai bergerak menyongsong operan si pemuda bersurai lazuardi. Kelereng topaz-nya terbelalak ngeri. "Sakurai-kun, kau tidak akan bisa—!"
Terlambat.
Kagami yang menempel ketat pada Sakurai memutar tubuhnya dua ratus tujuh puluh derajat, ia yang paling familiar dengan segala pass Kuroko, maka tak mengherankan ialah yang bisa melakukan intercept dengan operan sekaliber dari rekan bayangannya itu. Sensasi benturan permukaan bola putih-merah itu entah kenapa menelusupkan kenyamanan dalam hatinya, sekaligus membebankan perasaan bersalah padanya—karena ini terasa seperti memanfaatkan segala yang diketahuinya tentang Kuroko untuk mendapatkan kemenangannya sendiri.
Ini bukan demi timnya, Kagami tidak bergantung pada timnya.
Sepasang mata biru yang biasanya hampa akan ekspresi itu kini keruh oleh keterkejutan, bersitatap dengan mata krimson yang memendar siratan serupa. Apa ia melakukan hal yang sama lagi? Apa benar barusan yang Kuroko meneguhkan hati untuk membalas kesalahannya saat tadi kembali goyah? Kagami tidak berada satu tim dengannya, dan ini bukan pertama kalinya Kuroko berada di tim yang mendorong kemampuan individu demi menyabet titel juara.
Himuro mendengar Akashi berdecak pelan sekali lagi. Melihat tadi Akashi berteriak memperingatkan Kuroko tapi tak diacuhkan, bisa dimengerti orang ini telah memprediksi semua yang telah terjadi. Apa untungnya mampu menerawang futuristik bila Akashi tak bisa mengubahnya? Himuro tersenyum dingin, ia mendribble bola personal lalu berlari melepaskan marking dari Akashi.
"Taiga!"
Kagami menoleh pada figur kakaknya yang menghunjamkan pandangan tajam padanya. Tersentak, ia harus fokus pada pertandingan. Dilihatnya Kuroko berlari hendak menjangkau bola—Kagami tak tahu apa yang merasuki bayangannya itu, direalisasikannya over head pass pada Himuro.
Ia kaget saat terlambat menyadari Kuroko ternyata menyerah atas opsi merebut kembali bola yang di-intercept, pemuda dengan tinggi seratus enam puluh delapa sentimeter itu mengincar bola personalnya. Terlebih dia baru menyadari Sakurai yang melihat kegigihan Kuroko turut turun tangan mem-back-court Kagami sehingga pebasket alis bercabang itu tak bisa berkelit ke belakang.
Di waktu yang sama, Himuro hendak mengoperkan bola pada Midorima yang ternyata dikeroyok oleh Akashi dan Kise. Duo merah-kuning itu dengan kombinasi double emperor eyes melumpuhkan sang shooter terbaik.
Kise menjadi umpan untuk me-marking Midorima dan berpura-pura tak sengaja bola personalnya ditepis Midorima, selagi itu Akashi muncul dari titik buta Midorima, dengan presisi mengerikan mem-back-tip bola hitam-biru pemuda tsundere itu.
Mata dipercik klorofil itu bergerak nyalang mencari rekan setimnya yang bebas dalam waktu sepersekian detik, dan ia melakukan kontak mata imitasi spesialisasi kemampuan rajawali itu, instan melemparkan bola jarahan dari Kuroko itu ke Takao.
"Kalian mencandaiku, eh?" geram Midorima yang mengingat ia sudah one-on-one dengan kombi merah-kuning tersebut. "Kise, Akashi, payah sekali kalian bertindak seperti ini!"
Kise merengek kekanak-kanakan. "Hidoi-ssu, Midorima-cchi! Kami berdua sama-sama terluka, tahu. Kau, kan, baik-baik saja." Diimbuh kekeh girang karena Midorima terlihat makin mengerikan untuk dilawan. "Serahkan Midorimacchi padaku, Akashicchi! Kau bisa ambil bolanya—"
"Berani-beraninya kalian mengeroyok Shin-chan begitu—" Takao yang semula bersama Aomine hendak merempuk Murasakibara, lekas menggulir atensinya tatkala melihat Akashi melesat membantu Kise menjegal rekan setimnya, "—AOMINEEEE!" raungnya seraya memberikan bounce-pass bola Midorima yang diamankan olehnya.
"AOMINE, SHOOT!" seru Himuro yang bergegas mengasisteni Aomine untuk lolos dari Murasakibara.
Akashi mengerem habis langkahnya, otaknya yang kilat menalar probabilitas sampainya operan Takao pada Aomine adalah tanpa cela. Pemain bermata rajawali itu tidak buruk. Dan ia tahu formless shoot Aomine dari segala macam posisi itu bahkan Murasakibara takkan bisa menandinginya—karena pemuda penggila maiubo itu tidak mempunyai fleksibilitas tubuh selentuk Aomine. Berbalik, ia berseru pada pebasket perfect copy.
"Kise, pass!"
Kise merentangkan lengan kirinya untuk menahan Midorima yang nyaris menjangkau bola personalnya. Tangan kanannya melambungkan bola personalnya melewati garis bahu, ke belakang tanpa memandang. Ia tahu Akashi pasti mendapatkan operannya.
Murasakibara mendesis karena Aomine menikung pergerakannya, menjebaknya ke hadapan Himuro. Pergerakannya terbatas karena memegang dua bola. Alisnya berkedut kesal melihat Himuro tersenyum yang kelihatan menjentik emosinya.
"Bola istimewa … kau bisa menjaga keduanya?" Himuro melancarkan serangan untuk merebut bola istimewa.
Murasakibara mendengus sebal. "Ini bukan soal menjaga dua bola, kau sudah kalah dariku."
Tersengat harga dirinya karena diingatkan akan kekalahan di check-point, Himuro didera desperasi untuk memposesi bola istimewa itu dari Murasakibara.
Aomine lebih cepat dari Akashi menerima operan Takao.
Murasakibara berputar seperti topan menghempaskan Himuro, lalu dengan satu tangan kanan membebaskan bola personal ke udara, beberapa detik yang tersisa sebelum bola dipantulkan ia berusaha menghalau Aomine.
Sesuai prakiraan kapten timnya, Aomine melentingkan tubuh ke belakang, merilis formless shoot dan mencetak skor untuk timnya. Masih dalam posisi seperti itu dia berteriak.
"Himuro, bolamu!" Aomine membuka telapak tangan kirinya. "Setelah itu, rebut bola istimewa dari Murasakibara!"
Himuro tak ragu barang sedetik pun mengoper bolanya pada Aomine, kemudian bergegas menjegal pemuda bersurai ungu yang ternyata sigap mengamankan kedua bola dari agresi pemuda raven tersebut.
Aomine dengan posisi nyaris kayang melepaskan bola personalnya ke udara sementara menembakkan bola Himuro yang membuat para pemain lain yang sempat melihat aksinya itu mengerang bahkan menyumpahinya—julukan Tensai Scorer pantas disematkan pada pemuda dim ini, dan kembali menegapkan tubuh untuk melompat kecil menangkap bola personalnya lagi.
"Skor kita tertinggal!" Sakurai memekik panik.
"Rebut bolanya Kagami, Sakurai!" Akashi menginstruksi seraya mendribble bola melewati sepasang pemuda bersurai hijau dan kuning yang hari ini sama sekali tak akur, melewati Kagami yang di-double marking, menuju ring musuh lalu melompat untuk menembakkan bola menyamakan skor kedua tim.
Aomine tersengal. Berdecih melihat Akashi yang menapak kembali di lantai rooftop menyamakan skor kedua tim berbalik dari seberang lapang, mereka bertukar tatapan sarat persaingan. Ia menyeringai menemukan Akashi membalas pandangannya dengan intensitas yang sama.
Keduanya membalikkan badan lagi, lalu kembali menyapa halo pada ring basket dengan bola personal masing-masing menyeruak dari jaring-jaring ring. Membuktikan kedua tim tak mau mengalah dan tak ada yang berniat untuk kalah.
"Apa yang kalian lakukan? Defense! Pola 1-4 itu terlalu bodoh!" Kagetora berteriak emosinal. Ia terbawa arus permainan yang kian memanas dan terseret arus terjun bebas adrenalin para pemuda yang bergejolak mengoyak kesabarannya untuk diam saja sampai pertandingan berakhir.
Para pemuda tertegun sesaat, tak menyangka Kagetora akan memberitahukan apa yang harus mereka lakukan. Mungkin tanpa sadar mereka terlalu menikmati permainan mereka sehingga melupakan tujuan mereka yang seharusnya maupun taktik dan pola penyerangan yang sebelumnya telah dicanangkan.
"DEFENSE!" Kedua kapten refleks menyerukan seperti yang diteriakkan pelatih mereka.
Murasakibara di-triple-team marking dengan Aomine, Takao, dan Himuro. Ia meraung seraya mengeluarkan jurus andalannya, Thor's hammer, karena ingat dengan pasti bahwa Takao dan Himuro terbawa arus putarannya hingga terlempar mundur. Bukan masalah besar, Murasakibara merasa ia bisa lolos.
Sayang sekali, Aomine dengan kecepatan mengerikan buas menyosor bola istimewa.
Murasakibara baru akan memproteksi bola istimewa tatkala kerongkongannya tercekat melihat Midorima yang lolos dari Kise—yang tengah merintih karena kakinya kesakitan pasca Midorima berkelit lincah dari marking-nya—melakukan steal pada bola personalnya.
"Mido-chin, Mine-chiiiin—!"
BUK!
"—gotcha! Nice assist, Midorima. " Aomine menyeringai iblis. Rekannya yang bersurai seteduh rimbun hutan itu menepis bola personal Murasakibara.
Midorima mendengus kesal. "Siapa pula mau meng-assist kau, Aomine?"
Di sisi lain, Kagami bisa mengelabui Kuroko dengan pergerakannya—karena ia sendiri tahu persis respons Kuroko terhadap gerak-geriknya. Sakurai yang mem-back-courtnya meringis karena tak kuat menahan kekuatan pemuda bersurai krimson itu.
"Maaf, Kagami-kun. Aku sangat tahu permainanmu." Kuroko memendar determinasi di matanya.
Kagami tertawa dengan suara rendah. "Tidak usah minta maaf. Sebaliknya, aku juga sangat tahu gaya bermainmu. Kaupikir hanya dengan itu kau bisa menang?" Seringai terkembang di wajahnya.
"Sebaliknya juga, apa Kagami-kun pikir bisa menang dariku hanya dengan itu?"
"Kuroko!" Akashi datang dengan sepasang mata merah, dan satu mata sebelah kiri berkerjap-kerjap antara merah dan keemasan.
Kagami mengerang sebal. "Ya Tuhan, jangan kau lagi, Akashi!"
"Sayang kita harus berhadapan lagi," tanggap Akashi, nada suaranya disamar disisip geli. Ia mengangguk pada Kuroko—sepakat tanpa suara mereka akan melupakaan masalah yang barusan demi kemenangan terlebih dahulu. "Semoga kau tidak merasa bosan, Kagami."
Pemuda yang ahli melompat tinggi itu menyumpah-serapa melihat dua pasang mata yang mengaktivasi emperor eyes plus quarsi emperor eyes. Yang satu menganalisis titik buta Kagami, yang satu mencari taktik cerdik menipu Kagami dan berpura-pura membuka celah.
Akashi membuka celah itu—yang Kagami dengan impulsif merespon dengan masuk ke perangkap tersebut karena berasumsi kilat ia dapat lolos dari dua pebasket ini.
Kuroko sadis membanting bola personal hitam-biru rekan setim terbaiknya di Seirin itu ke lantai rooftop, dibubuhi sudut pantul yang ia tahu Sakurai ada di three points lines untuk menangkap bola lalu meloncat untuk menembakkannya ke ring tim A.
Untuk sementara, skor tim B kembali memimpin.
Sakurai berseru senang, ia ingat skor mereka kembali sama. "YOSH!"
"Tembak, Shin-chaaaan!" Takao meninjukan kepalan tangannya ke udara.
Seruan dari sisi lapangan yang satu lagi. Midorima yang berhasil mencuri bola personal Murasakibara penuh kepercayaan diri mengejar skor yang tertinggal dua poin. Saat mendarat kembali di lantai dan memutar badan, dilihatnya airmuka syok tim A yang baru sadar Aomine dengan wajah buncah arogansi menjadikan jari telunjuk sebagai poros putaran bagi bola istimewa.
"Langsung saja tembakkan bola itu ke ring, Aomine!" seru Himuro. Ia menyeringai tipis pada Midorima. "Terima kasih sudah melakukan pekerjaanku." Shooter timnya hanya itu mendengus sembari men-tapping kacamata.
"Cepat shoot, Ahomine!" Midorima berseru gusar.
Aomine terkekeh dengan suara rendah seksinya itu. "Kalian tidak perlu menyuruhku juga aku akan melakukannya." Ia membalikkan badan memunggungi semuanya menghadap ke ring.
"BERANINYA KAU, MINE-CHIN!" teriakan dan derap langkah Murasakibara yang lengan panjangnya terjulur untuk menghentikan Aomine menembakkan bola istimewa. Tapi apa daya, ia terlambat. Bola meluncur dari tangan Aomine.
Hampir semua orang menahan napas melihat bola istimewa melambung dengan mosi seakan perlahan mendramatisir suspense dan hipertensi semuanya, tepat ketika bola mencapai titik lambung tertinggi, derap langkah orang lain berdentam-dentam tak disadari oleh yang lainnya.
"TIDAK AKAN KUBIARKAAAN!" Bulir-bulir basah beresensi kristal garam terpercik tatkala sosoknya meloncat tinggi-tinggi, poni pirangnya berkilau dikibas angin senja. Tangannya menahan keras-keras laju bola tersebut.
"Kise!" Midorima yang pertama angkat suara. "Bukannya tadi kau—"
Para pebasket yang berada di half-court tim A itu tergetar karena bulu kuduk meremang melihat manik topaz berkilat-kilat brilian di balik serakan helai-helai matahari. Kise berhasil menghentikan bola itu dan mengamankan bola dalam genggamannya dan sosoknya bergelimang cahaya matahari senja.
"PRIIIIIT!"
Lengking nyaring peluit membuat semuanya berhenti memandangi Kise, berganti menatap pelatih mereka yang membunyikan peluit. Mimik wajahnya menyiratkan antusiasme, dipolusi seberkas kekecewaan, sekaligus sesuatu yang lebih tak tertafsir. Suara peluitnya itu membangunkan Furihata yang gelagapan karena begitu bangun, kepalanya dipangku oleh Momoi.
"Ma-ma-maafkan aku—" Furihata menggerung berulangkali, wajah merah-padam, merasa berdosa sekaligus bahagia karena baru pertama kali dalam seumur hidupnya mendapat perlakuan seperti itu dari seorang gadis. Gebetannya terlupakan.
Momoi teralih perhatiannya dari pertarungan yang sedari tadi membuatnya sesak napas dan jantung berdebar-debar keras. Mengulas senyum manis, ia mengibas-ibaskan tangan. "Tidak apa-apa. Kau baik-baik saja?"
Furihata refleks menegapkan tubuhnya. Menyesal karena pening mendesing kepala. Ia refleks memijat kepalanya yang berdenyut, ia meringis kesakitan ketika jarinya tak sengaja menyentuh bagian belakang yang membengkak. Sepertinya benturan tak terlalu keras tapi membuatnya benjol, dan sepertinya ia cukup beruntung—tidak cedera layaknya gegar atau semacamnya.
"Furin!" Momoi menyentuh bahunya, khawatir karena Furihata merintih saat memijat kepalanya.
"A-aku oke." Furihata menyembunyikan rasa sakitnya di balik senyum canggung. "Terima kasih, Momoi-san." Barulah rekam kejadian beberapa jam terakhir ini membanjir di benaknya, impuls ia menoleh ke lapangan, menemukan keheningan mencekam yang menyebabkannya bergidik ngeri. "Pe-pertandingannya? Ba-bagaimana aku—"
"Kau tadi pingsan. Jadi permainan dilanjutkan tanpamu." Momoi menjawab.
Furihata terbeliak. Teringat perkataan seseorang persis sebelum pertandingan di mulai. "Pertandingan … yang sebenarnya." Ia bertanya—rautnya cemas, "Tim ma-mana yang menang?"
"Uhm. Pertandingan lima lawan lima." Momoi mengangguk, agak berat. Kelereng fuschia-nya meredup. "Belum ada pemenang. Tapi Kantoku baru saja mengiterupsi."
Sepasang pemuda-pemudi itu mengikuti arah tuju mata teman-teman mereka, pada sang pelatih yang bersidekap menatap kalkulatif bocah-bocah yang akan segera dipoles bakatnya oleh dirinya. Ia menghela napas panjang—terasa ia menahan napas seperti yang lain. Tanpa sadar para anak-anak berandalan di lapangan itu turut menormalkan sistem respirasi mereka dan mencairlah tensi yang serasa mencekik oksigen dari kehidupan masing-masing individu.
"Sudah lebih rileks?" Kagetora bertanya tenang.
Satu per satu dari mereka yang berlaga di lantai rooftop dijelmakan lapangan basket mengangguk.
"Berikan bola itu padaku, Kise!" perintah sang pelatih.
Kise mengerjap-ngerjapkan mata. "Ke-kenapa?" Tapi toh ia tetap mengoperkan bola itu pada pria berjambang kecoklatan halus di garis rahangnya yang mengeras, sigap menangkap bola.
"Kalian tahu bahwa tip-off untuk memulai suatu pertandingan, bukan?" Kagetora menepuk-nepuk bola istimewa, meraba permukaannya, menekuk jatuh kedut di sudut-sudut bibirnya yang menuntut untuk tersenyum. "Tapi kita juga akan mengakhirinya."
Senyap menyergap mereka.
"Aku tidak mengerti. Ini ironi, nanodayo." Midorima berkacak pinggang, men-tapping kacamatanya yang posisinya mengendur.
"Pertandingan sesungguhnya, Midorima." Kagami menyahut. Mendengus meremehkan. "Begitu saja kau tidak mengerti."
"Aku tidak mau dengar itu dari orang bodoh sepertimu, Kagami!" Midorima menuding kejam rekan setimnya.
Kagami menyalak galak. "Lebih bodoh orang yang bilang orang lain bodoh, padahal dianya begitu bodoh tidak mengerti apa yang dijelaskan Kantoku!"
"Tidak usah sok gaya. Aku tahu kau sebenarnya tidak mengerti, Kagami!"
"Tsk. Kau yang sok tahu, Mido—"
"Aku juga tidak mengerti." Aomine santai menimpali.
"Karena kau Ahomine! Kalian berdua sama bodohnya, Bakagami!"
"APA KATAMU, MIDORIMA?!" Dua pemuda identikal itu memelototi sang pemuja Oha-Asa.
Takao yang terjebak di tengah-tengah perdebatan konyol itu mendesah lelah. "Kalian masih punya tenaga untuk berdebat seperti sekarang? Hebat," ucapnya sinis. Bagaimanapun sebagai seseorang yang bukan bergelar Kiseki no Sedai, ini adalah pertandingan terberat seumur hidup yang dilakukannya selama seharian penuh.
"Berhenti bertengkar!" tegur Himuro tegas. "Tidakkah kalian sebaiknya menyimpan tenaga untuk pertarungan sebenarnya?"
"Dengarkan kata kapten kalian~" Kise tergelak puas. "Bersyukurlah kalian yang dipilih jadi kapten adalah Himuro-kun."
Murasakibara menghela napas panjang-panjang, menyeret langkahnya mendekati kapten timnya yang sedang terbungkuk menyeka peluh dengan punggung lengan. "Aku capek." Ia memandangi Sakurai yang sudah kelihatan mau pingsan. "Kau terlihat menyedihkan."
Sakurai berjengit, ia menaik-turunkan kepala berulang kali. "Su-sumimasen!" Ia terdiam sesaat, lalu mengaku. "Sumimasen … a-aku memang lelah, sumimasen."
"Heee~ dia sudah kembali seperti semula. Lihat, lihat, Kuro-chin~"
Kuroko melirik Sakurai. "Setidaknya kondisinya lebih baik dariku maupun—" Ia memandang ke seberang, berjalan perlahan menghampiri Kise yang tertawa-tawa diomeli oleh ketiga pemuda yang diinterupsi perdebatannya, "—Kise-kun."
"Kuroko—" Ketiga pemuda yang berdebat mengucapkan nama sang bayangan serentak, Takao terkekeh geli melihat kekompakan di antara perseteruan mereka.
"Kau baik-baik saja, Kise-kun?"
"Aaaaah~" Kise berpretensi tersipu-sipu. "Kurokocchi mengkhawatirkanku!" serunya riang.
"Kise-kun." Tajam suara monotonis Kuroko itu membungkam reaksi konyol Kise. Matanya menyiratkan ia tidak suka Kise berpura-pura di hadapannya.
Kise menghembuskan napas panjang. Menyisir helai-helai anak surai ke belakang, wajah tampannya terekspos oleh sorot cahaya matahari senja. Tersenyum dengan cara yang jika dilihat oleh gadis-gadis pasti langsung tergelimpang pingsan saking memesonanya sang model.
"Bukan masalah besar." Kise mengedikkan bahu secara kasual. Biner madunya cemerlang dilelehi redupan cahaya mentari di saat senja. "Selama kita tidak kalah, aku akan baik-baik saja."
Kuroko memerhatikan sepasang kaki jenjang yang dirayap tremor. Samar, tapi bagi matanya yang observan amat kentara. Ia tahu Kise sudah jauh melampaui limitnya sendiri, memforsir dirinya—seperti semua pemain yang energi mereka sudah terdegradasi maksimal. Jika dikomparasi dengan dirinya, yang lain terlihat lebih berstamina dibanding Kuroko sendiri. Memerhatikan dari cara Kise yang balas memandangnya—pendar semangat tak terpugar di biner yang terlihat sewarna madu itu, Kuroko tersenyum kecil.
"Sayangnya kau akan kalah, Kise." Midorima menyulut lagi peperangan adu mulut.
"Aku baru saja mengalahkan Aominecchi." Kise merespon, kembali ke mode kekanak-kanakan.
Aomine menggeram sebal. "Yang tadi itu tidak bisa disebut kekalahan, Idiot."
"Kurasa lebih hebat Kagamicchi daripada kau, Aominecchi. Kalaupun Midorimacchi menembak three-points-nya itu berkali-kali, ia bisa turun dan melompat lagi." Kise menyangkal, ia mengerling Kagami yang melongo karena perkataannya. "Meskipun dia tidak bisa menghentikanku."
"Apaaa?! Kau membandingkanku dengan orang bodoh ini yang terakhir kali aku one on one dengannya dia kalah telak?!" Aomine turut menuding Kagami yang sudah dituding oleh Midorima. "Kau juga tidak bisa mengalahkanku dalam one on one, Sialan!"
"Tapi barusan jelas-jelas aku menghentikanmu, dan kau tidak jadi menang!"
"Itu bukan berarti mengalahkan! Hal begitu saja tidak mengerti, Dasar Bodoh!"
Kise menunjuk sang objek yang semena-mena diperdebatkan mereka. "Dan kau juga kalah dari orang sebodoh Kagamicchi, kau lebih bodoh darinya, Ahominecchi!"
Kagami menampar kedua telunjuk laknat yang teracung padanya. "Tidak sopan kalian! Dan itu tahun lalu, terakhir bertanding dengan kalian." Ia melotot tajam pada Kise. "Yang bodoh itu kalian berdua karena berani-beraninya bilang aku bodoh berkali-kali padahal kalian tidak menang dariku, tahu!"
"Kagami-kun tidak menang sendiri dari kalian, aku bersamanya." Kuroko menyahut tiba-tiba. "Jangan memujinya terlalu tinggi."
"Jangan besar kepala, Kuroko Teme!" Kagami berseru sebal padanya.
"Sumimasen … tidak bisakah kita segera mulai?"
"Lupakan, Sakurai. Kita dilupakan oleh Shin-chan dan yang lainnya."
"Tenaga kita manusiawi, tidak seperti mereka—Kiseki no Sedai."
"Tapi aku capek, Muro-chin."
"Itu karena kau malas, Atsushi."
Kagetora yang diabaikan merasakan pembuluh darahnya bersilang, berkedut panas di dahinya. Ia merogoh saku pakaian, mengambil senjata saktinya dan lekas mengokang pistol—mengabaikan pekik ketakutan asisten dan manajer timnas junior.
"Bocah-bocah berandal!"
Mereka yang mengabaikan pelatihnya menengok pada suara dramatis kokangan pistol. Histeris melihat sang pelatih dilingkup aura-aura kegelapan diiringi siku-siku perempatan jalan imajiner tercetak di dahinya, mengacungkan pistol yang moncong bolongnya seakan menghisap diri mereka dengan peluru akan segera ditembakkan melubangi tempurung kepala masing-masing.
Akashi berdeham keras. Berdiri tegak menatap dengan jenis pandangan menjustifikasi kalkulatif, kentara tak menyukai perilaku teman-temannya yang berdebat tapi sekaligus mendapat manfaat memulihkan energi masing-masing. Mereka tidak ingat bahwa jika Kagetora sudah marah, semua akan dihukum. Dan hukuman berlaku dua kali lipat untuk kapten—ini dia hal paling krusial.
"Diam, dengarkan Kantoku bicara." Suara dingin membekukan atmosfer yang dihembus beratnya tubrukan aura rivalitas.
"…hai'."Disusul umpatan riuh-rendah terdengar, Akashi mengabaikan, menoleh sepenuhnya pada Kagetora yang kelihatan makin menyeramkan.
Bisa dimengerti kenapa pelatihnya malah semakin marah. Kenapa bisa mereka lebih menurut pada kapten ketimbang pelatihnya? Kagetora mendengus sebal. Setidaknya Akashi menggunakan wewenangnya dengan baik, serta bisa memahami apa yang pelatihnya mau.
"Kalian benar-benar—" Kagetora mendengus keras. "—sudahlah. Kalian pasang posisi seperti bermain basket biasa. Ingat, ini yang terakhir."
Gelimang iris coklat tajam menusuk-nusuk ketegaran para muridnya. Pria yang merupakan mantan pemain tim nasional Jepang itu melangkah masuk ke arena sembari mengantungi lagi pistolnya. Berdiri di tengah lingkaran half-court, meraih peluitnya seraya menanti untuk sesaat para pebasket terbaik itu bergegas menyebar di posisi masing-masing tanpa ada bahasa verbal terucap. Murasakibara mewakili tim A dan Kagami dari tim B berdiri berhadapan, siap bertarung memperebutkan bola yang akan dilemparkan olehnya.
"Tip-off, one last play."
Kagetora kini mengeluarkan peluitnya, menjepit di antara gigi. Matanya menyipit tajam, tengkuknya meradang diteror tremor akibat tabrakan aura mengerikan dan mental high-pressure yang dikuarkan bocah-bocah berandalannya. Ia menarik napas, dilihatnya berpasang-pasang mata memijar cahaya berkilat-kilat, belum peluit dibunyikan pun mereka sudah berkonsentrasi penuh—dan tanpa sadar memasuki Zone.
Momoi menyatukan kedua telapak tangannya yang berkeringat dingin dalam genggaman. Matanya turut terfokus pada sang primadona lapangan basket yang berada di telapak tangan sang pelatih. Bibirnya terbuka-terkatup melirihkan hal-hal koherensif. Apapun yang terjadi, tim mana pun yang menang, semoga akan jadi hasil yang terbaik bagi kedua belah pihak—semuanya. Sepahit apapun, seindah bagaimanapun, semoga setelah ini mereka bisa membaur menjadi satu tim utuh yang tak terpecah-belah.
Furihata tak sadar dirinya ternganga bodoh. Aura mereka yang berlaga di lapangan itu menghempas seluruh energi dari satuan ekosistem di puncak Tokyo Sky Tree menjadi sinergi berbenturan menguar-nguar garang ke angkasa.
Sementara para pebasket di lapangan hanya memfokuskan pandangan pada bola bundar oranye yang menjadi bagian utama dari hidup mereka.
Kagetora menarik napas dalam. Menghempas napas. Bola dilempar ke atas keras-keras.
"PRIIIIT!"
Baik Kagami maupun Murasakibara bergegas melompat dengan menekankan telapak kaki hingga sepatu sol berdecit demi mencapai titik klimaks si bola yang berhenti sepersekian detik di udara—posisi di mana energi potensial dan energi kinetik sama rata di angka nol.
Semua orang terkesiap ketika keduanya menyentuh bola bersamaan. Terjadi dorongan yang bertabrakan dan telapak tangan keduanya sama-sama mencengkeram bola basket, tak satu pun mendegradasi kekuatan dorongan mereka.
"AAARGHH!"
Teriakan keduanya membungkam ceracau cicit burung yang terbang hendak pulang ke sarang menembus langit merona merah muda penuh pesona. Gaya dorong yang tak henti itu menyebabkan bola mencelat menjauhi keduanya.
Bendar bundar oranye yang digilai para pemuda itu jatuh mendarat ke tangan terbuka seseorang yang berdiri di sisi tepi lapangan masih di area half-line. Tim A hampir hancur moril diri ketika melihat sang point-guard bermata rajawali mendapat bola lekas mengoper dengan shooter tim B yang sudah dalam form-shooting, bergegas melompat untuk menembakkannya. Menembak dari area half-line itu bukanlah resiko besar baginya untuk menyarangkan bola ini menembus jaring-jaring ring.
"Semuanya akan berakhir, nanodayo!" Bola dilesatkan ke telapak tangan kiri sang penembak jenius tiga angka.
"TIDAK AKAN KUBIARKAN!"
CTAAAAS!
Andaikan warna pelangi terbalik atau tiba-tiba aurora muncul menjajah jilatan jingga pada senja, dibuang ke lubang hitam sekalipun, Midorima tidak akan sudi mengaku getar bermarathon di sepanjang tulang punggung terbalut kulitnya yang bersimbah keringat. Seseorang muncul melompat—dan otaknya meregistrasi bahwa harusnya hanya Kagami yang bisa melakukan super-jump menyaingi lompatan monster di kisah dongeng serupa mitos—lantas menampar keras-keras bola dari pegangan tangannya.
"KISE!"
Kise menyeringai—tak menghiraukan nyeri di kaki. "Halo, Midorimacchi. Senang bermain denganmu lagi."
"Cih." Midorima garang menghunjam pandang pada sang model.
Bola terbanting ke tanah. Beberapa orang mendesis ketika seseorang dengan switch persona terganti, kepalanya terlengak angkuh bahkan kendati ia berlari sprint untuk menjangkau si benda bundar dalam tangannya.
"SESEORANG, HENTIKAN RYO!" teriak Aomine, ia lebih kenal teman setimnya ketimbang yang lain—dan karena itu ia tahu lagi-lagi persona Sakurai sedang berada dalam mode paling berbahaya.
Bola tidak bertahan lama di tangan shooter tim A yang nekat hendak melompat merealisasikan tembakan tiga poin sekilatnya. Pebasket lain lihai menyusupkan tangannya di antara lekukan kosong lengan yang terbentang saat tengah memegang bola dan tubuh, jari-jemari itu tajam menepis jatuh bola dari tangan si pemuda yang terkejut karena diagresi dari belakang.
"Nice, Tatsuya!" Kagami bersorak.
Himuro tahu bahwa jika ia sampai ceroboh dan bola teristimewa ini jatuh ke tangan lawan, maka arus permainan akan berbalik. Siapapun tim yang memegang bola berati mengendalikan arus permainan memiliki persentase lima puluh persen untuk memenangkan pertandingan.
Dan tak satu pun dari mereka akan sudi terkubang dalam kekalahan termengenaskan. Di tempat terbaik yang berlokasi di jantung Negara bersimbolkan bunga Sakura, dalam cuaca penghujung sore yang hampir lekang usia, setelah puluhan lemparan bola ke dinding, pertarungan termengerikan dan terbrutal yang bahkan membuat semuanya tersaput gelembung emosional.
Siapa berani bertekuk lutut dengan lapang dada seluas bandara untuk bertabah menerima takdir bila kalah?
Tak ada.
"AKH!"
Kuroko menghantam bola itu ke sisi seberang lain lapangan dari Himuro yang hendak mengoperkan bola itu ke Aomine yang bebas dari marking siapapun. Bola terlambung lepas dari tangan sang faker terbaik itu. Tidak sampai di situ, si pemain bayangan menapakkan kaki sekuat-kuatnya mengejar bola agar tak keluar lapangan. Dilihatnya dari arah berbeda Takao berlari—hampir terlihat seperti elang jantan terbang menyaingi deru angin akan menyeruduk rivalnya di sektor kekuasaannya untuk memangsa targetnya.
"AAARRGHH!"
Dua pebasket musuh bebuyutan itu membiarkan pita suara mereka menguraikan kode-kode stressor yang tak biarkan tersensor otak mereka. Fokus benak mereka hanya pada kemenangan dan bola basket. Maka tak mengherankan tatkala keduanya sampai jatuh tergelincir dan menggelinding tak henti pun, keduanya mengulurkan lengan seraya membuka telapak tangan untuk mendapatkan bola.
Tangan Takao berada di tangan Kuroko, ujung jari-jarinya menyelamatkan bola sebelum menyentuh garis tepi lapangan. Sentuhannnya cukup keras untuk melentingkan bola ke udara, jauh ke belakang—yang merupakan titik buta arah pandangnya. Kemudian ia menahan desis kesakitan karena tubuh bagian depannya bergesekan keras dengan lantai semen rooftop Tokyo Sky Tree.
Aomine tahu Kuroko tidak akan cukup cepat melampaui Takao perihal kecepatan terlebih dengan degradasi energi, begitu pula bila dikonsiderasi dari sisi emosi. Tapi meski Takao telah menyelamatkan bola dari pelanggaran, arah jari-jemarinya itu benar-benar mematikan. Bukan pada teman-teman setim—yang di-marking, malah ke arah Akashi yang si kapten timnas junior sialan itu pasti sudah memprediksi lemparan karena itulah ia menyongsong si bola.
"Oh, saa suga Emperor Eyes." Aomine mencegat Akashi yang berada di zona low-post tim A. Jika bisa merenggut balik bola istimewa, tidak sulit baginya memerawani lagi si keranjang ring dengan tembakan gaya bebasnya yang tak terbatas. Tapi perkara sebenarnya adalah terletak pada caranya untuk merampas bola dari tangan sang kapten timnas A. Menyusahkan saja.
Terlebih seringai angkuh itu yang membuat darah Aomine mendidih dan menyumpahi bola itu terhantam saja ke wajah sang pemuda berbiner magenta kalkulatif—memusnahkan seringai laknat tersebut yang jika kasta wanita melihatnya mereka akan histeris tujuh keliling.
"Ini kali pertama kita one on one." Tanpa mata emperor pun, Akashi bisa mengetahui dari mata azura yang berintensi melibasnya tanpa menyisakan energi bahkan kendati hanya seujung jari.
Aomine membalas seringai setimpal antagonisnya. Baginya, Akashi sudah cukup menyebalkan berkompetisi meloloskan bola-bola melalui jaring-jaring basket dengannya tadi. Ia tergoda menguji potensi mantan kaptennya untuk membenturkan kekuatan mereka.
Tidak sedikit dari mereka semua meneguk ludah. Suspense yang menggelelora ke arakan awan bersemu keemasan itu mengukuhkan bahwa kedua pebasket tersebut benar-benar terfokus berkonsentrasi menyusun strategi dalam hitungan detik-detik mencekik napas.
Aomine mundur selangkah dan mengganti pivot kakinya ke kaki kiri ketika dilihatnya gerak-gerik Akashi akan melancarkan ankle-break dengan melemahkan pivot di kaki kanannya.
Akashi refleks mundur selangkah juga dengan tangan kiri mengoper dari belakang punggungnya ke tangan kanan. Emperor-eyes memindai sekeliling. Satu lapangan dalam mode zone press dengan man to man marking personal. Jika ia mengandalkan kecepatan melawan akselarasi permainan tempo Aomine dengan cara berlari ke belakang, berputar ke samping kanan dan kiri untuk melampuai pemuda dim tersebut, maka tidak perlu mempertaruhkan nyawanya pun, ia yakin Aomine keburu memanfaatkan pergerakannya itu untuk mendistraksi atensinya.
Maka satu-satunya cara adalah mempenetrasi defensi Aomine—yang terbukti sulit untuk memerangkap sang pemuda dim dalam desain permainannya karena Aomine dalam zone berarti memfungsikan otaknya untuk menalar maksimal.
Sepasang mata berpendar biru gelap elektris itu terbelalak, tak menyangka netra merah elektris maju tanpa ragu menyongsongnya. Akashi jelas punya nyali dan kepercayaan diri—dan Aomine akan memanfaatkan hal ini untuk menjatuhkannya. Tangan kiri berkulit lebih gelap terbuka lebar hendak menyambar bola bundar oranye di tangan kanan kapten tim A tersebut.
Akashi memunggungi Aomine, melampauinya dengan kecepatan kilat, tapi Aomine berputar—tak tertipu dengan crossover semudah itu. Aomine merebut bola istimewa dan memalsukan gerakan hendak mengopernya, Akashi tidak tertipu semua itu dan merampas balik bola dari tangan sang mantan ace Kiseki no Sedai dengan back-tip, ketika Aomine terkejut dan impuls mengerikannya membuatnya memutar tubuh sehingga jarak mereka terpangkas, ia menggunakan ankle break karena posisi Aomine akhirnya begitu dekat dengannya.
Aomine terjatuh duduk. Secepat deru jet yang mengudara menerjang Akashi yang men-dribble tanpa ada yang menghalangi, dari belakang ia hampir menghunus jatuh si bola di tangan kanan Akashi, gerakan triple threat saat Akashi memosi pass pada entah siapapun rekan setimnya, Aomine tak terjebak pemalsuannya itu dan berputar seratus delapan puluh derajat ke kanan—kini membelakangi Akashi dan lengan kanannya memanjang untuk menjangkau bola istimewa.
Kapten timnas junior itu terbelalak dengan kebrilianan Aomine mengantisipasi fake yang dilakukannya. Tangan kanannya memantulkan bola dengan turnover—dipantulkan dari celah kedua kaki sementara Akashi mundur teratur, bola memantu di belakang punggung Akashi dan teroper ke tangan kiri. Aomine sekerjap mata menghadangnya, beringas hendak merebut bola.
Kecepatan keduanya yang saling tanding-menandingi, balap-membalap, menyerang, bertahan, mencuri bola satu sama lain itu tak tertangkap kasat mata. Pemain yang tak bisa menandingi menepi tanpa disuruh, sementara pemain lain yang masuk ke dalam zona terbuas para pemain bertalenta sempurna itu dapat mengikuti.
Bosan melihat rekan setimnya tidak juga mengalami kemajuan dalam pencegatan si kapten tim A, Kagami meloloskan diri dari marking Murasakibara, ia bergegas men-double-team marking Akashi dengan Aomine—bertukar lirikan afirmatif untuk bekerja sama menjegal musuh.
Semua orang yang melihatnya pias.
Bahkan Akashi meningkatkan kewaspadaan lebih dari yang dirinya sadari. Dalam zone sekalipun, ia tahu ia tidak akan bisa melewati kedua pemain dengan cahaya kemampuan paling terang-benderang. Maka ia yang—sayangnya—sudah berada dalam half-court tim B terpaksa mundur ke garis tengah lapangan zona timnya.
"Akashi-kun!"
Tepat ketika Aomine dan Kagami maju berintensi meringkus sang emperor, panggilan itu mengimpuls Akashi untuk mengoper pada siluet biru muda yang membanting ke sayap kiri lapangan dari sudut pandang tim A. Kuroko muncul tepat waktu.
Midorima nyaris menarik baju Kise, tapi Murasakibara muncul menjadi screen, meloloskan sang pebasket tersebut yang mengaktivasi agility Aomine untuk menangkap operan bola misdireksi dari Kuroko—membelokkan rute pass dari Akashi. Lantas Kise berlari seperti kerasukan Lucifer men-dribble bola menjebol pertahanan tim B.
Himuro muncul sepersekian detik di sekitar garis tembakan tiga poin sebelum Kise sempat menembakkan bola. Tahu ia tidak akan bisa menembak tiga poin karena Himuro mendistraksi atensinya, Kise memutuskan untuk mentriple crossover sampai si faker handal itu jatuh terjengkang karena agility Aomine dikombinasi dengan ankle-break Akashi.
"KISEEE!"
Kauman sebuas hewan liar yang batas teritorinya diinvasi semena-mena. Kise yang nyaris merealisasi slam-dunk tak mengantisipasi agresi dari belakang. Kagami dengan satu tangan menepis bola Kise ke samping lapangan. Bola mencelat dari tangan Kise—amat disayangkan karena bola bundar oranye itu bahkan sudah mencium wangi derit ring basket.
Kise mendarat turun dan mengejar bola. Melirik dengan emperor eyes yang di-copy, empunya tengah di-marking ketat oleh Aomine. Oh, pantas Kagami bisa berlari menjegalnya di sini.
Himuro ternyata sigap berdiri dan melebarkan telapak tangan, menyambutnya dalam tangkupan. Tak buang waktu, tak pikir panjang karena naluri bermainnya terasah intuitif karena bermain dengan insting-insting natural yang lain, ia mengirimkan long-pass pada rekan setimnya yang bebas dari marking.
Takao memegang bola (lagi) operan dari Himuro. Mengetahui nihil kesempatan bagi Midorima yang tengah dijaga oleh Murasakibara untuk melancarkan three points dan menuntaskan permainan, maka ia mempivot kaki kanan dan memutar badan ke arah kiri—terbeliak kaget karena tak menyadari presensi three pointer yang telah begitu kurang ajar mematenkan dirinya sebagai rival bebuyutan Midorima.
Sakurai menghempaskan bola dari cengkeraman Takao, kerjapan mata berikutnya, ia tahu resikonya namun tetap menembakkan three point-nya agak ceroboh dengan tujuan menjauhkan bola dari tangan pemuda bersurai hitam legam itu.
Bola itu melambung ke half-line lagi. Semua pemain dengan surai warna-warni berlarian menyongsong bola itu.
Yang pertama tiba adalah Aomine dan Akashi yang memang berada di seputar garis tengah lapangan. Aomine melompat lebih cepat dengan tangan kiri terjulur menyentuh bola bundar oranye—berniat membuang bola ke luar lapangan ketimbang harus dirampas Akashi lagi. Tapi Akashi menggunakan tangan kirinya yang terluka, berdenyut dengan sakit mengerikan, memblok aksi Aomine.
Tentu dari segi kekuatan dan prima, Aomine pasti akan memenangkan pertarungan itu dan mereka harus memulai segala serangan lagi dari samping lapangan.
Sebelum sempat Akashi terhempas jatuh, Murasakibara melepas marking dari Midorima dan meloncat untuk menumpu telapak tangannya di dekat tangan Akashi, balas mendorong Aomine yang membelalak horror karena kemunculan pemuda jakung bersurai violet lepek oleh keringat itu.
"JANGAN KALAAH, AOMINEEE!"
Teriakan Midorima menyentak pemuda dim itu, terlebih ketika ia baru sadar Midorima sudah ada di dekatnya dan mendorong telapak tangannya untuk membalas gaya dorong dari kombo Akashi serta Murasakibara.
Jarak dengan daratan terpangkas inci demi inci ke bumi yang berupa semen di rooftop Tokyo Sky Tree. kekuatan berimbang dan gaya dorong setimpal menyebabkan bola mencelat dari keempat tangan itu dan melenting lebih tinggi sedikit bergeser ke arah kiri, hampir keluar dari lapangan.
Keempat pemuda itu terkejut ketika ada dua pemuda lain menyeruak dari keduanya, beringas melepas jeritan dari stressor yang disebabkan oleh stressor kaki masing-masing dengan melompat setinggi-tingginya hingga ubun-ubun krimson serta keemasan mencapai kaki sinar solar di langit bersemburat jingga.
"GUARRGHHH!"
"HEAAAAH!"
Kagami dulu lebih sampai dan bola tergapai dalam genggaman. Belum ia menepis bola kembali ke lapangan, Kise lagi-lagi muncul meng-copy lompatan diruncingkan dengan kecepatan ace tim Too yang sungguh serba guna itu. Tangan mereka berbenturan dengan serat pola ukiran unik khas basket, seakan rangka pola rumit itu akan tercetak di tangan kedua pemuda itu saking kerasnya konfrontasi bola mereka.
Sengit.
Rambut mereka terkibas sengatan angin senja yang menghantarkan dingin, seperti spektrum pelangi terbias merembas seluruh penjuru bermanifestasi pada siluet-siluet yang bercahaya karena dideru simbahan radiasi matahari membutakan.
Derap langkah. Seseorang yang paling pantang menyerah.
Tangan-tangan masih di udara, empat dari mereka baru menapak tanah lagi, dua yang masih berseteru dengan bola kecintaan semuanya itu sudah bertaruh mereka akan menebas bola ini jauh dari musuh supaya rekan setim yang bebas bisa mendapat bola untuk mematri kronologi semua pada hari ini bahwa timnya jadi pemenang, tepat ketika mata mereka memberkas bayang-bayang seseorang yang melesat.
Melompat melampaui semuanya, tangannya melesak tinggi di antara tangan-tangan yang masih melolong pada udara kosong, siluetnya jadi bayangan memanjang yang menaungi mereka dari redupan surya yang tinggal ajal di cakrawala.
Telapak tangan kanan selaras lengan mulanya tersiku jauh ke belakang melewati garis punggung, lebih cepat dari ekshalasi-inhalasi eratik yang kini membuat dunia mati suri dalam tensi tingkat tinggi, dimajukan cepat, kilat, dan penuh kekuatan untuk mendorong bola basket. Begitu kuatnya hingga lolos dari tangan-tangan yang mencengkeramnya.
Bola basket terhempas keras-keras. Semua mata tertuju padanya, mendapati benda bundar oranye itu menutupi lingkaran matahari terbenam. Bola itu bercahaya dalam sembilu senja, terlempar dengan kurva indah laksana menjeritkan selamat tinggal dan kebahagiaan sekaligus kepiluan karena telah memeras emosi mereka yang memainkannya dengan sepenuh hati.
Bola basket bukan hanya keluar lapangan. Berkat sang pemain bayangan, bola teristimewa hari itu mencelat jauh bukan main—bahkan melebihi batas palang keamanan di rooftop Tokyo Sky Tree.
Semua masih tak sadarkan diri ketika bola itu menghilang ditelan garis tepi horizontal rooftop gedung tertinggi di dunia itu. Jatuh bebas. Entah akan mendarat di mana.
Kuroko menapak lagi di tanah. Terengah-engah.
Sunyi membedaki keterkejutan mereka semua dengan dramatisasi aksi ekstrim tadi.
Sang pelatih bahkan tak bisa mengendalikan diri untuk meniup peluit.
Baik sang manajer maupun asisten tim itu bahkan terlalu syok terlalu larut dalam deru badai pertarungan.
Apalagi yang di tengah lapangan, mereka lebih dari sekedar linglung, lunglai, tercengang, pula tak ada rangkaian silabel yang dapat amat tepat mendeskripsikan definisi dari keterkejutan yang mereka rasakan saat ini.
Sedetik lalu bola oranye itu bersolek ke sana ke mari dipermainkan oleh tangan-tangan kapalan dan kekar dan kokoh. Sedetik kemudian melebur dalam senja yang telah belur. Sedetik berikutnya lenyap ketika semua masih disekap senyap.
Sedetik setelah detik-detik dramatis tersebut pemahaman dan kesadaran berkolaborasi menghantam mereka—
"—KUROKOOO(-cchi/Tetsu)!"
.
To be continue
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Ah, sudah terlalu lama sejak fic ini terakhir kali update. Saya mohon maaf karena lama banget update-nya. *ojigi dalem-dalem*
Karena itu, saya akan update satu chapter lagi dalam waktu dekat—isi 10k juga. Untuk yang merikues agar tiap chapter nggak panjang-panjang, ini sudah saya berikan. Maafkan karena chapters sebelum-sebelumnya terlalu panjang. Orz
Saya sendiri yang nulis juga pusing karena battle scenes-nya banyak pemain dengan banyak bola, terlebih saya sempet bikin kesalahan fatal karena ada posisi bola personal nyangsang pada orang yang nggak seharusnya dan posisi bola istimewa kelupaan. Pula saya pengen mereka berinteraksi seru meski pointless tapi rame, ego fangirl ini. *gegulingan*
Setelah ini, saya nggak niat nulis battle scenes basket lagi, sepertinya. SYUSYAH BANGET! *dikemplang* X"D
dan chapter depan udah cooling down, kok. Chapter berikutnya intermezzo lagi yang hints-nya udah saya jejelin sejak Kisedai dkk reunian lagi dan momen terakhir mereka di Arc 1.
Oh, iya! Saya ucapkan terima kasih … dan saya nggak tahu lagi harus mengucapkan apa selain terima kasih setulus hati, untuk teman-teman RnR setia fic Kiseki no Nakama yang telah memberikan votes-nya sehingga fanfiksi ini menang IFA 2014 CANON MC. *nangis bahagia* Saya terharu banget. Sungguh saya berterimakasih sekali. *ojigi lagi dalem-dalem* 8"D
.
And see you latte~
. Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan
